Sehun duduk di sofanya, begelung dengan buku, dan sekali lagi membuka halaman tanpa membaca satu huruf pun. Tapi kali ini, bukan perutnya yang tegang karena cemas ia malah mendapati dirinya tersenyum seperti orang idiot yang hanya bisa diartikan sebagai mabuk kepayang. Malamnya dengan Jongin sangat bergelora, begitu menggairahkan, yang membuatnya bergairah seks sepanjang hari terlama seumur hidupnya.

Ketika Sehun bangun pagi ini Jongin sudah memulai latihan peregangannya. Sehun sudah ketakutan akan ada rasa canggung diantara mereka, bahwa dengan terangnya cahaya Jongin akan menyesali kesalahannya dan berharap Sehun dapat mengembalikan kondisi menjadi seperti semula. Rencananya untuk menghindari Jongin sampai Sehun sendiri siap, untuk memadamkan emosi bodohnya yang membuat dirinya tak bisa menyesali satu malam pun bersama Jongin. Membungkus dirinya dengan selimut lembut dan menyelipkan di bawah lengannya, Sehun menahan nafas dan melakukan gerakan terbaiknya seolah Invisible Man saat ia melewati ruang latihan.

"Sudah waktunya kau bangun, tukang tidur."

Sehun membeku dalam keadaan setengah berjinjit saat lengan kuat Jongin memeluknya dari belakang. Ia tahu Jongin tanpa pakaian saat dadanya menghangatkan punggung Sehun yang tidak tertutupi selimut.

"kenapa kau sepertinya bersembunyi dariku?" Jongin bertanya dari samping dengan dagu jadi Jongin dapat memberi ciuman basah di sepanjang leher Sehun.

"Aku...um..." Apa yang ditanyakan Jongin? Sialan.

Tiba-tiba tubuh Jongin menegang. "Kau menyesali semalam, Hun?"

Sebelum bicara Sehun berdoa agar kegugupannya hilang dari suaranya. "Kau?"

Jongin membalikkan tubuh Sehun dan mendongakkan dagu Sehun ke atas. Matanya lebih coklat berkilau di pagi yang cerah. "Aku tak akan bohong. Seksnya sangat luar biasa, dan aku tak pernah menyesali seks yang luar biasa bersama orang yang luar biasa." Jongin agak menghela nafas saat Sehun memperhatikan wajahnya. "tapi aku juga tak akan menodai pertemanan kita sama sekali."

"Tidak, tentu saja tidak." Sehun membersihkan tenggorokannya dan mencoba menahan tatapan Jongin berkeliling saat kebohongan terungkap. "Maksudku, sebaiknya kita membuat hal ini terjadi satu kali."

"Benar." Mata Jongin tertuju ke bibir Sehun. Jongin menjilat bibirnya dengan lidahnya. "Kita tidak mau membuat kecanggungan diantara kita. Bagaimanapun juga, kau sedang dalam proses untuk berkencan dengan doktermu itu dan aku akan segera pulang ke Vegas."

Kilauan di bibir Jongin membuat perhatian Sehun terpaku dan ritme jantungnya terus meningkat dengan setiap detik berlalu sebelum ia ingat sekarang gilirannya untuk menyangkal gagasan affair seks yang fenomenal tanpa ikatan dengan salah satu pria terseksi di dunia olahraga, belum lagi rasa naksirnya di masa kanak-kanaknya. Tapi Sehun tidak bisa berpikir satu pun kalimat yang akan diucapkannya.

"Sehun," dengan serak, Jongin menempatkan tangan di pinggul Sehun, matanya tak pernah meninggalkan bibir Sehun. "Kita tidak seharusnya...kan?"

Sehun mencoba merespon, mulutnya terbuka setiap kali untuk mengatakan sesuatu, apapun. Akhirnya Sehun menyerah dan merengkuh belakang kepala Jongin di satu tangan dan menciumnya tanpa ampun.

Jongin balas merespon, dengan menyentakkan tubuh Sehun kearahnya dan memegang kendali atas ciumannya dengan menyesuaikan posisi dan memasuki lidahnya. Itu adalah serangan yang terkoordinir dengan baik yang Jongin tak bisa tahan, bahkan jika ia mau sekalipun.

Jongin mendorong punggung Sehun ke tembok, menggesekkan tubuhnya, dengan membuat selimutnya menjadi onggokan berantakan diantara mereka. Jongin, menjadi gentlemen seperti biasa,membantu dengan kreatif pada pakaian malangnya dengan mendorongnya ke lantai. Masalah terpecahkan.

Melepaskan ciumannya Jongin berpindah ke garis rahangnya, sampai ke belakang titik sensitif dibalik telinganya. Satu tangan berada didada Sehun, yang lain meremas pantatnya seakan memegangnya agar dirinya tidak terjatuh. Ereksinya yang besar menggesek penis Sehun melalui celana pendek yang dipakainya menciptakan gesekan nikmat dan membuat Sehun hilang akal.

"Ya, Tuhan, Jongin," Sehun terengah. "Apa yang kita lakukan? Ini gila."

"Tidak," bantah Jongin, menggigiti daun telinganya dan membuat Sehun terkesiap karena kenikmatan/nyeri tak dikenal yang baru ia pelajari.

"Ini namanya foreplay." Jongin menghisap daun telinga Sehun ke dalam mulutnya dalam momen singkat yang panas, dan berkata, "Faktanya bahwa tanganku tak tahan untuk menyentuhmu itu baru gila."

"Itu juga." Sesaat mereka hampir kehilangan akal mereka, ponsel Sehun memainkan lagu yang menampilkan ID Nama sang penelpon 'Suho'. "Sial! itu kakakku."

Jongin menarik diri dan memberinya tatapan kau-pasti-bercanda padaku, tapi Sehun mengambil selimut dari lantai dan menyelipkannya saat ia mengangkat ponsel. Kakaknya lebih parah dari induk ayam dan jika Sehun tidak menjawabnya, ia akan memanggil nenek-nenek tetangga untuk datang dan memeriksa Sehun. Membuka ponsel Sehun berkata," Hei, Suho. Apa kabar?"

"Sejak kapan sesuatu seperti terserah padaku untuk menelpon adik manisku ini? Dan kenapa kau terdengar buru-buru di telpon?"

"Eh, karena memang begitu. Aku lupa meninggalkannya di kamarku jadi aku berlari untuk mengambilnya karena aku tahu kau seperti apa. Aku tidak mau kau memanggil pasukan kavaleri tanpa alasan yang jelas."

"Aku tak akan menyebut Mrs. Egan seorang pasukan kavaleri," jawab Suho masam. "Selain itu terakhir kali aku memintanya untuk memeriksamu dia membawakanmu kue brownies lezat. Aku bisa lihat itu bisa jadi beban berat yang harus ditanggung demi ketenangan kakakmu."

"Baiklah, kurasa kau benar—ah!" Tangan besar Jongin benar-benar mengejutkan Sehun ketika mencapai bawah selimut ke perutnya, dan sekarang menjalar kedadanya.

"Kau baik-baik saja?"

Sehun menampar tangan Jongin dan menyingkirkannya. Ketika Jongin terkekeh terhibur Sehun melotot memperingatkan, tapi itu tidak menyurutkan Jongin sama sekali. "Tidak ada apa-apa,Hyung, aku hanya um.." berpikir, Sehun, berpikir. "... kakiku menyandung meja ruang tamu."

Senyum Suho terdengar dari ponsel. "Tetap kikuk seperti biasanya, hah? Senang mendengar beberapa hal tidak berubah."

Tiba-tiba terasa mulut panas memanggang leher Sehun dengan ciuman-ciuman basah dan sesekali menggigit. Denyut pada penisnya mengirim gelombang kejut menggelenyar ke seluruh tubuh disetiap detak jantungnya. Kaki Sehun melemah. Tangannya tidak mau memegang ponsel ke telinganya dan kakinya tidak bisa membuatnya tegak sama sekali. Dan apa yang Sehun katakan? Ceroboh! Itu dia. "Ya, well, akan menyenangkan...kau tahu...ah, sesuatu...bisa berubah, eh...terserah."

"Hei, apa kau baik-baik saja?" Suho bertanya. "Kau terdengar aneh."

Jongin menjilat tulang di telinga Sehun dan berbisik, " Putuskan teleponnya, atau aku yang akan menutupnya."

Gagasan bermain-main sementara mendengar suara kakaknya seperti berdiri di bawah seember air dingin yang di seimbangkan dipinggiran dengan tali yang bertuliskan Tarik Di sini. Tidaaaaaak terima kasih.

"Sebenarnya, Suho Hyung, bisakah aku balik menelponmu nanti? Aku benar-benar harus mengurus kakiku dan aku butuh es dan yang lainnya." Sehun memberi jeda dan bersuara "uh-huh" saat ia mendengar saran kakaknya bagaimana merawat kaki yang terkilir dan bagaimana mengetahui kalau patah, bla bla bla. Akhirnya, Suho mengakhirinya, dan ia menarik ponsel dari telinganya sebelum ia selesai dengan cepat, "okeakujugamenyayangimu."

Baru saja menyelesaikan ocehan tak jelasnya dan menaruh ponsel di sofanya, tangan Jongin menyelip dipenisnya. Tanpa jeda Jongin memainkan penisnya sementara tangan satunya yang bebas bermain dengan putingnya. Banyak sensasi berhamburan menjadi satu dalam dirinya. Telapak tangannya yang kasar menggores putingnya yang tegang dan jarinya membuat ujung kakinya melengkung bergairah dalam dirinya saat mereka mendorong lagi dan lagi ke tubuhnya.

Kepalanya menekan dada Jongin saat ia melengkungkan punggungnya dan meletakkan tangan ke kepalanya untuk menancapkan kukunya ke bahu Jongin. Nafas Jongin mendesis di telinganya. Sehun tahu Jongin menyukai sengatan dari kuku dan giginya dan ia tidak lagi malu memberikannya pada Jongin. Jongin membalas dengan mencubit dan menarik putingnya, sensasinya seperti kembang api di dadanya.

"Ah, ya!"

"Begitu sayang. Ya Tuhan, kau terasa panas. Klimaks lah untukku."

Kata-kata Jongin adalah pemicu api gairah yang membakar dirinya, membuatnya cepat terbakar. Dengan satu gesekan cepat tangan Jongin dan giginya yang menusuk di bagian lehernya yang mengencang, Sehun terbelah, benar-benar hancur sampai ia tak dapat berdiri normal dalam eksistensinya di dunia.

Saat Sehun akhirnya berbalik, ia dengan rakus menggesek milik Jongin melalui celana pendeknya, tapi dengan cepat Jongin merenggut pinggul dan menyingkirkan tangannya.

"Tahan."

"Kenapa?"

"Aku sebenarnya sangat senang menyelesaikan ini, tapi jika aku membawamu di ranjang—atau sofa, lantai, meja dapur, atau yang lainnya—aku akan menahan kita berdua disana sepanjang hari dan kita tidak akan mengerjakan apapun."

Sehun merasa dirinya menganguk-angguk meskipun tubuhnya menyuruhnya menerjang. "Kau benar, kita punya...uh, sesuatu, seperti..."

Sudut mulut Jongin terangkat. "Olahraga, latihan, hal-hal yang membosankan seperti itu."

"Benar, terima kasih."

"Sama-sama. Kenapa kau tidak pergi melakukan apapun yang biasa kau lakukan setiap pagi dan kau bisa menemuiku di ruang latihan saat kau siap."

Sehun tidak yakin dengan semua yang Jongin katakan. Sehun masih merasakan seperti turun dari kondisi mabuk yang menakjubkan, tapi ia tahu mungkin aman untuk menyetujui apapun yang disarankannya.

"Ide cemerlang. Aku akan melakukan...itu."

Jongin terkekeh rendah di dalam dada Sehun—ketelanjangannya yang menakjubkan, kekar dengan otot-otot dada—dan menuntun Sehun kearah kamar tidurnya. Lalu dengan sedikit tamparan di pantatnya,Jongin menyuruhnya pergi. Entah bagaimana mereka mampu untuk tidak meraba satu sama lain ketika Jongin selesai latihan PT dan olahraga reguler mereka.

Kemudian mereka seharian memikirkan bagaimana caranya mengubah latihan keras yang biasa dia lakukan untuk mengakomodasi penyembuhan cedera sehingga Jongin bisa tetap dalam kondisi siap bertarung.

Setelah Sehun mandi, lalu duduk di sofa menunggu Jongin menyelesaikan latihannya jadi mereka bisa santai bersama dan menonton film sepanjang hari. Sehun menfokuskan diri dengan membaca, tapi yang ada dalam benaknya saat itu adalah Kim Jongin telanjang yang mempesona dengan air yang membasahi seluruh tubuhnya. Saat tubuhnya mendorong rasa panas dari atas, Sehun menaruh bukunya kesamping dan menyalakan kipas angin. Setidaknya aku menggunakannya untuk sesuatu.

Saat Sehun mendengar pintu kamar mandi terbuka ia cepat-cepat mengambil bukunya kembali ke depan wajahnya dan berpura-pura melihat seolah-olah ia tidak sedikitpun membayangkan melakukan hal nakal pada Jongin di bawah air panas: Tidak, tidak ada yang kotor dengan benaknya. Ia hanya membaca sesuatu yang ringan. Sepenuhnya. Polos.

"Wow. Buku itu pasti ada beberapa adegan panasnya."

Mata Sehun menatap Jongin saat ia duduk di sofa sebelahnya. "Apa yang membuatmu berkata begitu?"

"Karena pipimu bersemu merah dan bibir bawahmu mengerut karena kau gigit." Jongin menangkup pipi Sehun dengan tangan dan menggunakan ibu jarinya untuk menelusuri bibir Sehun yang bengkak.

"Yang sekarang aku tahu adalah sesuatu yang kau lakukan saat kau terangsang. Apakah kau terangsang, Sehun?"

Benar-benar susah berpura-pura polos.

~oOOo~

"Aku sudah menunggu untuk menonton Warrior."

Jongin melepaskan tangannya dan tersenyum dengan perubahan topiknya. Ia tidak bisa menahan. Satu malam dari hubungan seks yang menakjubkan dan satu orgasme di ruang tamunya berikutnya dan Sehun masih malu kepadanya.

Jongin meletakkan bukunya di ujung meja dan bergerak-gerak gelisah dengan bantal sofa. "Ini tentang dua orang saudara yang masuk kompetisi MMA yang sama dan harus bertarung satu sama lain."

"Aku tahu. Aku sudah melihatnya."

"Oh." Kata Jongin, merengut. "Tapi aku ingin menontonnya lagi. Aku melihatnya dengan beberapa teman di gym dan mereka cukup menjengkelkan, jadi aku tidak melihat semuanya." Itu tidak semuanya benar, tapi sedikit kebohongan untuk meringankan kerutan di dahinya adalah sepadan. Senyum Sehun adalah bonus bagi Jongin.

"Baguslah. Oke, kau menyiapkannya dan aku akan membuat popcorn." Sehun bangkit dari sofa dengan rasa senang. Satu detik ia melewati Jongin saat berjalan ke dapur, dan selanjutnya Jongin mendengar gedebuk dan ooh saat Sehun terjerembab di lantai dibawahnya.

"Woa, Sehun." Jongin menarik Sehun dan mendudukkan di sampingnya dengan kaki Sehun berada diatas pangkuannya. "kau tidak memperhatikan meja tamu, atau apa?"

Sehun menatap Jongin saat ia menelan udara melalui rahangnya yang menegang dan mengepalkan tangannya ke depan. "oh, man, kenapa tersandung di ujung jarimu sungguh menyakitkan? Aw, aw, aw."

"Sini, biar aku tahan untukmu," dengan hati-hati Jongin taruh ujung kaki kanan Sehun diantara telapak tangan dan menekannya untuk memberikan sedikit tekanan pada kakinya. Ketika Jongin sadar mereka duduk pada posisi itu beberapa saat, ia mendongak lalu melihat Sehun sedang memperhatikan tangannya, mata berkaca-kaca.

"Hei," kata Jongin lembut, menangkup pipi Sehun. "Sangat sakitkah? Mungkin kau mematahkan sesuatu."

Sehun memberikan gelengan yang hampir tak terlihat. "Itu yang selalu mamaku katakan saat kami meningkatkan diri kami. 'Tahan.' Aku selalu berpikir itu hal konyol untuk dikatakan, tapi selalu membantu."

"Kau bercanda? Itu adalah hal yang cemerlang untuk dikatakan. Kau tahu berapa kali aku 'tahan' setelah dihajar saat latihan bergulat? Ratusan, kalau tidak ribuan. Dan itu selalu membantu." Dengan setengah menyeringai Jongin menambahkan, "semacam itu atau kompres air es. Susah dikatakan mana yang lebih baik, sungguh. Mengingat berapa lama waktu yang kupunya."

Sehun mendengus pada pernyataan yang aneh dan tertawa gugup dan tangannya menutupi wajahnya. Jongin sendiri menarik tangan Sehun. "Aku suka saat kau mendengus."

"Oh, diamlah," kata Sehun sambil memberi dorongan main-main sebelum mengayunkan kakinya ke lantai. "Aku tidak bermaksud melakukannya, kau tahu."

"Aku tahu, itulah kenapa kau sangat menggemaskan."

Berhenti di pinggiran sofa Sehun berbalik dan menyipitkan mata mungilnya kearah Jongin. "Tak ada orang yang berpikir dengusan seorang pria itu menggemaskan."

Jongin mengangkat bahu dan meyandarkan tangannya di belakang sofa. "Aku akan setuju dengan pernyataan itu sampai aku mendengarmu melakukannya seminggu yang lalu."

Sehun mengelangkan kepalanya dan tertawa sambil berjalan ke dapur, jelas tidak percaya padanya, tapi tak apalah. Ia akan mempercayainya suatu hari nanti. Suatu hari nanti yang segera akan Sehun ketahui ketidak sia-siaannya dan nyaman dengan semua hal tentang dirinya, termasuk kecenderungannya mendengus dan menabrak benda-benda mati.

Saat Sehun membuat popcorn dan membawakan minuman mereka Jongin menyalakan film, memilih Warrior, dan menghentikan saat akan mulai. "Hei,Sehun," panggil Jongin. "kau tahu sebutan untuk orang yang kakinya tersandung?"

"Sebutan yang sama saat aku melakukan sesuatu semacam itu: kecanggungan."

"Bukan, kali ini namanya karma. Ketika kau berbohong pada kakakmu soal kakimu yang tersandung."

Sehun menjulurkan kepalanya di pintu masuk, mata melebar. "Ya ampun, kau benar! Well, benar-benar menjengkelkan." Menghilang kembali ke dapur, Sehun melanjutkan, "Ingatkan aku untuk tidak berbohong dengan alasan melukai tubuhku kedepannya."

Jongin masih tertawa saat Sehun berjalan kembali membawa semangkuk besar popcorn dan dua botol air. "Kau hanya perlu menyesuaikan kebohonganmu sedemikian rupa jadi ketika karma datang padamu, saat mengatakannya, itu adalah sesuatu yang kau nikmati."

Sehun menaruh mangkuk di meja di depannya dan duduk di sofa tanpa mengalami kemalangan lebih lanjut. Saat sudah nyaman Sehun berkata, "Oh, ya? Seperti apa?"

Menghadap pada Sehun, Jongin mendekat. "seperti misalnya, Maaf, aku tak bisa bicara sekarang karena Jongin sedang menjilat tubuhku seperti sedang menjilati ice cream cone miliknya sendiri."

Jongin tak pernah melihat pipi seseorang demikian cepat meronanya. Menggoda Sehun adalah menjadi salah satu kesukaannya akhir-akhir ini dan ia tidak kuasa untuk meneruskannya. "Walaupun, aku tak yakin kalau itu termasuk dalam karma karena tidak memberi kontribusi dalam kotak saran alam semesta." Jongin menunduk ke titik di kedua paha yang tersembunyi oleh celana pendek hitam piyama milik Sehun. "Bicara soal kotak—"

Itulah yang bisa dikatakannya sebelum Sehun mendiamkannya dengan tangannya yang menutupi mulut Jongin. Sehun melakukan yang terbaik saat terlihat ragu, ia sulit menahan senyumnya. "KIM JONGIN! Apa yang merasukimu,huh?!"

Jongin menarik tangan Sehun lalu tertawa. "Pastinya karenamu, sebab aku tak pernah segembira ini dengan seorang dalam waktu yang sangat lama."

Sehun memiringkan kepalanya pura-pura malu-malu dan menatapnya dengan pandangan seksi. "Lalu, secara teknis, kurasa milikmu yang merasuk ke dalam diriku." Jongin tidak sadar bahwa mulutnya ternganga sampai Sehun menutupnya dengan ujung jarinya dan berkata, "kau terus buka mulutmu seperti itu dan kau akan menangkap seekor lalat." Kemudian dengan seringai seperti kucingbaru- saja–makan-burung-kenari (tersenyum puas) Sehun menarik mangkuk popcorn ke pangkuannya.

Jongin tertawa terbahak-bahak cukup lama, tawa keras saat ia merangkul Sehun dan menempel padanya. Jongin menyalakan filmnya dan mereka diam dengan nyaman, makan popcorn dan bersantai satu sama lain. Perhatiannya lebih fokus pada Sehun daripada drama di layar. Jongin perhatikan saat adegan bertarung tubuh Sehun menegang.

Jika sesuatu mengejutkannya Sehun sedikit melenguh. Dan saat melihat adegan ciuman di layar, ujung jarinya menyentuh bibirnya sendiri seperti ia bisa merasakan ciuman itu sama seperti tokoh di dalam film.

Sehun pada dasarnya adalah pria pendiam. Sehun hidup dengan mandiri, membiarkan orang-orang disekitarnya berada atas di panggung utama. Tapi bukan berarti Sehun tidak punya gairah dari pada yang berada di panggung utama. Sehun mencintai pekerjaan dan teman-temannya, yang tulus berdedikasi dan setia, dan mempunyai jiwa romantis.

Jongin tahu ia tidak bisa menetap dan memiliki keluarga. Ia tidak memiliki "gen pria berkeluarga" seperti kebanyakan orang, selain itu, ia tidak menjalani gaya hidup seperti keluarga umumnya kembangkan.

Ayahnya adalah Ricky Kim, satu dari petinju top profesional saat itu. Ia bertarung dengan banyak petinju besar bahkan mengalahkan beberapa dari mereka. Ibunya adalah salah satu ring bunnies yang sering berada disekitar gym, berada di semua pertarungan dan dan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan seorang petarung.

Orang tua Jongin selalu bahagia sampai umurnya lima tahun. Hingga suatu ketika Ricky Kim yang hebat mendapatkan pukulan terlalu banyak di kepalanya, dan itu adalah akhir dari karirnya. Setelah itu ia mulai minum, istrinya jijik hidup dengan mantan petarung yang tak berguna sebagai suaminya. Sensasi untuk berada di sisi ring dan memberi semangat untuknya sudah hilang. Lalu ibunya pergi.

Ibunya meninggalkan anaknya dengan pria yang tak tahu apa-apa soal merawat anak. Nyatanya, ayahnya tak tahu bagaimana melakukan apapun kecuali minum dan bertarung. Bukannya merawat anaknya, ia malah mendidiknya menjadi petarung. Jongin tak dapat membenci pelatihan yang ayahnya berikan padanya.

Jongin menjadi kuat, kadang menjadi terlalu ekstrem, tapi akhirnya itu semua terbayar. Ia menjadi salah satu petarung terbaik kelas berat–ringan MMA di dunia dan mendapat ketenaran dan kekayaan. Ia hidup dengan sangat nyaman di Vegas, melakukan salah satu hal yang dicintainya.

Tapi bagian dari dirinya yang bukan petarung—bagian dari dirinya yang ingin menjadi pematung, yang ingin menjadi seorang anak—itu adalah bagian yang di benci ayahnya dan semua yang telah ia bangun. Hanya bagian itu tidak memberikan kebaikan untuk memberontak. Jongin sudah belajar sejak kecil bahwa meminta untuk apapun lebih dari hubungannya sebagai seorang petarung/pelatih dengan ayahnya tidak ada harapan. Dan sebagai remaja Jongin belajar bahwa mengejar hobby apapun yang mengambil waktu jadwal latihannya tidaklah penting.

Jadi, tidak,Jongin tak punya kesempatan sebagai seorang yang bisa menjalin hubungan asmara, apalagi menjalin hubungan keluarga. Ia hanya melihat masa depan sama jauhnya dengan pertarungan berikutnya. Sampai tangan seseorang terangkat di ring, ia makan, tidur, menghirup semua yang ia butuhkan untuk mempersiapkannya menghadapi lawannya. Dan setelah itu, ia mulai lagi untuk pertarungannya selanjutnya. Selalu menjadi petarung. Tak pernah menjadi penonton.

Ketika Sehun tersentak dan dengan terengah melihat pukulan yang berdarah, Jongin menempatkan mangkuk popcorn kesamping dan menyesuaikan posisi duduknya sampai ia duduk di sisi sofa dan Sehun bergelung di sisinya di antara kaki Jongin dengan kepala didadanya. Jongin mencoba sangat keras untuk tidak memperhatikan betapa sukanya dia dengan cara Sehun merapat pada tubuhnya, menggesekkan pipi ke T-shirtnya untuk mendapatkan kenyamanan yang ia inginkan.

Tersenyum, Jongin memainkan rambut Sehun, mengusak dan mengelus rambutnya, menyukai kelembutannya dan wangi mint vanilla yang sekarang hanya ada padanya.

Jongin tidak yakin berapa lama waktu berlalu, tapi sebelum film berakhir nafas Sehun menjadi dalam bahkan tertidur. Mengambil selimut yang ada di belakang sofa Jongin bungkus di sekeliling tubuh Sehun dan menempatkan di ujungnya supaya lebih nyaman.

"Mimpi indah, Hun." Jongin mencium ubun-ubun Sehun dan bahkan tak ingat sudah menutup matanya.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

How be so sweet?!

Gyaaaaa~ hahaha *ane heboh sendiri*

Gimana habis dikasih yang panas terus jadi manis gini? Update cepet kan? Haha

Kalo ada yang bilang, 'Aku ga bisa bayangin Sehun jadi orang yang manis banget,kak Monmon' duuhhh~ sedih rasanya, Sehun itu kalo udah manja-manjaan ke Chanyeol,atau ke Hyungnya lah pokoknya please itu duuhhh~ minta diculik pokoknya gemesinnya. Wkwk

Thanks buat doi yang dari kemaren bikin mood up, jadi ga ada beban males buat ngelanjutin story,meski kadang suka dibikin kesel juga sih. Haha tapi ya namanya cinta yaa~ haha *ane curcol*

Jadi gimana kelanjutan hubungan mereka?

Review please~ ^^ XOXO

.

.

Thanks to review CH 6 :

Icha , KaiHunyehet , dialuhane , kau , noname , hyorara17 , Rima19exo , YunYuliHun , Namekaihun , luna , KaiHunnieEXO , jjongin , anak udik , Sekar Amalia , YunYuliHun , esazame , Ilysmkji , Calum'sNoona , hanhyewon357 , izzsweetcity , Hayoung708 , mamasehun1214 , Rilakkuma8894 , fitrysukma39 , Keteknyakai , vitangeflower , utsukushii02 , AlexandraLexa , VampireDPS , rhenaaakifa , bibblebubblebloop , ParkJitta , cloudspolaroid , fyodult , Zelobysehuna .