Oke ga usah pake lama, karena aku juga sadar kalo aku sudah terlalu lama menunda untuk posting ff novel remake ini. Aku benar-benar minta maaf.
Heung~ persetan dengan tugas kampus yang gak ada habisnya. Lebih baik kalian langsung ke cerita.
~oOOo~
Jongin duduk di atas sofa yang empuk, berbaring ke samping untuk merenggangkan kakinya dan bersandar ke bantal yang ia sisipkan dibelakang. Jongin baru saja selesai mandi setelah melewati hari yang panjang dan yang ia inginkan sekarang adalah berbaring dan meminum bir dingin yang ia izinkan untuk ia minum malam itu.
Satu minggu sudah terlewati sejak malam menonton yang santai dengan Sehun, tapi bukan hal-hal menyenangkan dan permainan yang mereka mainkan seperti minggu sebelumnya, tujuh hari belakangan sangat membuat stres. Ketika mereka berdua sedang tidak menyembuhkan bahu Jongin dan latihan, Jongin melakukan publicity junkets (promosi pekerjaan sambil bersenang-senang), dan Sehun di panggil bekerja untuk menangani kasus yang memerlukan bantuan khusus.
Titik terang yang mereka dapatkan hanyalah seks cepat di waktu yang tak tentu. Tapi jika mereka kekurangan durasi, maka sesi latihan digunakan sebagai pembakar gairah. Kapanpun Jongin dan Sehun merasa panas dan ingin, hal itu seperti reaksi kimia yang berakhir dengan ledakan yang tak terelakkan yang mengguncang mereka hingga kepusatnya.
Di satu waktu mereka menyadari kehabisan kondom, kemudian mendiskusikan secara terbuka—meskipun terburu-buru—mengenai proteksi. Sejak mereka berdua bersih dalam catatan medis. Kenangan tentang masuk ke dalam tubuh Sehun untuk pertama kalinya tanpa menggunakan apapun di antara mereka membuat kejantanan Jongin nyeri. Hole Sehun yang licin dan panas membuat Jongin membara, menyalakan setiap sel di tubuh pria itu ketika terusan dalam tubuh Sehun meremas kejantanannya yang telanjang hingga ia menyembur keluar jauh di dalam tubuh Sehun. Membutuhkan waktu lebih lama daripada biasanya bagi mereka berdua untuk mereda dari persetubuhan itu, tapi ketika mereka berhasil mengendalikan diri, kegembiraan yang dirasakan Jongin juga terpancar dari mata Sehun.
Sayangnya, waktu istirahat di siang hari adalah satu-satunya kesempatan yang mereka miliki sepanjang minggu. Ketika mereka berdua sampai rumah di malam hari mereka hanya memiliki energi untuk mandi dan kemudian pergi tidur. Jongin memiliki kecurigaan bahwa Chanyeol meminta Sehun untuk masuk kerja hanya agar ia dapat melihat Sehun. Mungkin Chanyeol ingin memastikan bahwa transformasi Sehun tidak hanya pada satu malam di restoran itu. Mungkin dia hanya menginginkan sebuah alasan untuk melihat Sehun dan memperhatikan senyum manis malu-malu Sehun, siapa yang tahu?
Apa yang Jongin tahu adalah bahwa Jongin tak bisa melakukan apapun pada hal itu. Setelah UFC mengetahui dari Butch bahwa Jongin sedang di Reno untuk mendapatkan pelatihan khusus dan terapi untuk cedera yang ia alami, mereka menyiapkan konferensi pers dan penandatanganan kontrak di depan publik, dan Jongin tak memiliki pilihan lain selain melakukan semua itu. Itu adalah bagian dari kontraknya. Sulit bagi Jongin untuk fokus, meskipun ia baru menyadarinya ketika Sehun menjawab pertanyaan yang sama yang sudah Sehun jawab lusinan kali, Sehun sedang di goda oleh Ahli Bedah itu. Mungkin dia juga meraba-raba jika Chanyeol memiliki kesempatan. Sialan, Jongin tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Apakah Chanyeol sudah mencium Sehun? Kemudian, itu benar-benar bukan masalah.
Sehun sedang bersiap untuk berangkat kencan dengan pria itu saat Jongin sedang berbaring di sana, jadi Sehun pasti siap di cium pada akhir malam ini. Tangan Jongin mengencang di botol bir yang sedang ia genggam dan rahangnya mengeras. Sebuah dentuman dan gemerincing terdengar dari kamar mandi di ujung lorong.
"Sialan!"
Jongin memutar kepalanya ke arah keributan itu. "Apakah semua baik-baik saja disana?"
"Yeah," kata Sehun kesal. "Dengkulku baru saja terantuk di meja ketika terburu-buru memakai bajuku."
"Kau mau aku pergi ke toko di ujung jalan?" Dan kemudian mungkin Jongin tidak sengaja salah berbelok ketika kembali ke apartemen, membuat Sehun terlambat dan Chanyeol akan berpikir bahwa Sehun membuatnya kecewa dan kehilangan ketertarikan karena egonya yang rapuh.
"Tidak, terima kasih, tak ada waktu. Aku akan pergi."
"Mengapa kau tidak menggunakan pantsuit saja?"
Jongin mendengar suara keletak dari sepatu di lantai kayu dan Sehun muncul dari pojok ruang dimana Jongin bisa melihatnya. Seketika mulut Jongin mulai berliur seperti halnya stroberi paling masak yang pernah ia lihat tergantung tepat di depan wajahnya. Sehun membuatnya ingat akan hal itu.
Sehun mengesankan dalam balutan kemeja yang sederhana namun nampak mewah dipakainya. Rasa ketertarikan diantara mereka sebelum Sehun pergi kencan dengan pria lain terasa keliru dan Jongin menyadari bahwa lebih baik untuk menghindari perasaan itu dibandingkan menganalisanya, jadi dia berencana untuk membuat perasaan itu menjadi perasaan sayang pada saudara untuk malam ini.
Tapi gambaran dari bibir Sehun yang merekah dan terbungkus di sekitar bagian tertentu dari tubuh Jongin meledakan sebuah lubang sebesar RPG tepat di Bendungan Kewajaran yang sudah ia bangun diotaknya.
"Aku ini Pria, Kim Jongin. Kau ini bodoh atau apa?"
Tentu Jongin hanya sedang bercanda tadi. Pria mana yang mau mengenakan pantsuit?
"Apakah ini terlihat bagus? Tidak kah terlalu berlebihan?" Sehun bertanya ketika sedang memandangi tubuhnya dengan cara memutar tubuhnya ke segala arah. Kemudian interkomnya berdengung, terdengar seperti klakson di apartemen yang sepi. "Oh, Tuhan, aku benar-benar gugup. Aku tak bisa melakukannya. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku tak bisa pergi. Mengatakan bahwa aku keracunan makanan atau mendapat pancreatitis secara tiba-tiba."
Jongin hampir saja setuju pada Sehun. Benar-benar hampir menyetujuinya. Tapi akhirnya, Jongin tak bisa melakukan itu. Hanya karena Jongin mengalami kecemburuan yang aneh dan kekanakkanakan pada Sehun, tak berarti bahwa Jongin memiliki hak untuk menyabotase kebahagiaan yang akan segera mendatangi Sehun dengan Dr. Happy Virus. Menendang pria goa kembali ke dalam goa-nya, Jongin berdiri dan berjalan ke arah Sehun.
"Ini," kata Jongin sembari menyodorkan botol yang ia genggam pada Sehun. "Minum ini dan tenanglah. Kau tak akan membatalkan kencan ini dan membuang semua usaha yang sudah kulakukan dengan menjadi ibu peri-mu."
Sehun meletakkan sebelah tangannya di atas perutnya seakan mencoba untuk menenangkan rasa gugup yang berputar-putar didalamnya sementara tangannya yang lain menerima bir dan menghabiskannya dalam waktu kurang dari lima detik. Begitu cepat untuk ukuran sebotol bir.
Sembari menyerahkan botol kosong pada Jongin, Sehun berkata, "Terima kasih, aku perlu mendengar itu."
"Karena kau suka membayangkan aku dengan sayap dan sebuah tongkat sihir?" Jongin berkata dengan seringaian.
Sehun tertawa, terlihat lebih santai kali ini. "Tidak, kau bodoh, karena aku perlu dorongan untuk melakukan semua ini."
Dorongan? Jongin berpikir dan mempelajari wajah Sehun, mencoba untuk melihat apakah ada sesuatu—apapun itu—yang mungkin ia lewati. Interkom berdengung lagi dan meskipun suaranya terdengar mirip dengan dengungan yang pertama, Jongin bersumpah bahwa ketidaksabaran pria yang berada dua lantai di bawah itu mulai memuncak.
Jengkel dengan interupsi itu, Jongin mengambil dua langkah besar ke arah pintu, menekan tombol interkom dan menghardik, "Kami mendengarmu, tunggulah," sebelum kembali ke arah Sehun. Ketika Jongin berbicara, suasana hening, tenang. "Kau tak memerlukan dorongan,Sehun, karena inilah yang kau inginkan selama ini. Semua yang kau lakukan untuk hal ini... benar kan?"
Sehun membalas tatapan Jongin, matanya mencari di antara kedua mata Jongin, bibirnya terbuka perlahan seakan siap merespon secepat otaknya bisa membungkus jawaban yang ada. Rendahnya tensi dari keberanian Sehun dan ke-masa-bodoh-an Jongin dengan perlahan mulai naik hingga mencekik jarak di antara mereka berdua.
Dengan tangannya yang kosong, Jongin merengkuh pipi Sehun. Pandangan mata Sehun terjatuh ke bibir Jongin; itu adalah isyarat yang tidak Jongin lewati. Jongin mulai berpikir serius bahwa perannya sebagai seorang gentleman terlalu berlebihan. Tapi jika Jongin akan melangkah lebih jauh, ia harus lebih dulu meyakinkan diri.
"Sehun? Apakah kau ingin pergi berkencan dengannya?"
"Aku—"
Sehun terhenti karena mendengar theme song Rocky yang datang dari arah dapur. Memerlukan waktu satu detik bagi Jongin untuk menyadari bahwa suara itu berasal dari telepon genggamnya. Sehun bersikeras untuk memberikan semua kontak di speed dial Jongin nada dering personal dan mereka tertawa terbahak dan bercanda ketika memilihkan lagu yang tepat untuk masing-masing dari mereka. Sehun memilihkan theme song Rocky untuk Butch juga. Jongin merasakan otot dirahangnya mulai bekerja. Waktu yang tepat, orang tua. Apakah seluruh jagat raya melakukan suatu konspirasiuntuk melawan mereka berdua?
Kemudian hal itu menerjang Jongin seperti halnya sebuah pukulan hook mendarat dipelipisnya: yeah, tentu saja. Jagat raya berusaha mengingatkan Jongin bahwa ia tak punya hak untuk mengikatnya dengan suatu fantasi dari sesuatu hal yang tak mungkin jadi kenyataan. Jongin berprilaku layaknya bajingan yang egois. Ingin memiliki Sehun di sepanjang waktunya untuk dirinya sendiri. Hingga saat Jongin pergi dari Sehun.
Jongin merasa ia perlu ditendang di bagian bokong. "Kau sebaiknya berangkat," katanya ketika ia beranjak dari pusaran pikirannya sendiri. Bergerak ke arah dapur dan teleponnya, Jongin melirik dari bahunya ke arah Sehun. "Bersenang-senanglah pada kencanmu, Oh Sehun. Jangan lupa untuk sedikit genit pada pelayannya."
Ketika Jongin menekan tombol untuk menelpon kembali Butch, dia mendengar pintu terbuka dan kembali menutup dan tiba-tiba dia merasa sakit di bagian perutnya.
"Harusnya lebih tahu bahwa tidak baik meminum bir ketika sedang berusaha menurunkan berat badan." Jongin memposisikan telepon ketelinganya dan mengejek. Jongin pikir dengan mengatakannya dengan lantang akan terdengar lebih meyakinkan dibandingkan dengan hanya sekedar memikirkannya. "Itulah yang kau dapatkan karena berpikir, bodoh."
"Jongin?" Suara Butch yang serak terdengar melalui telepon menurunkan suhu tubuhnya ke angka satu derajat. Pria ini lebih dari sekedar ayah baginya daripada ayah yang sebenarnya. Ironis, mengingat bahwa pelatihnya dan ayahnya bisa secara esensial berganti peran dalam hidupnya dan lebih akurat dibandingkan dengan peran mereka yang sebenarnya.
"Hey, Butch. Maaf aku tak mengangkat teleponnya lebih awal. Ada apa? Bagaimana keadaan yang lain?"
"Yang lain masih sama seperti biasanya. Tapi aku tak meneleponmu untuk berbincang tentang yang lain. Aku memiliki beberapa berita baik."
Jongin mengambil sebotol air dari kulkas dan kembali berjalan ke arah ruang tamu untuk melanjutkan posisi santainya di sofa. "Bagus, karena aku hanya bisa mendengar berita baik sekarang."
"Scotty akan kembali. Beberapa urusan untuk bisa kembali ke rumah lebih cepat daripada yang kita antisipasi dan dia akan sampai di Vegas dalam waktu satu minggu."
Jongin bersandar di sofa. Dia tak memiliki petunjuk apapun mengenai kabar baik yang akan disampaikan oleh Butch, tapi bisa kembali ke rumah sebulan lebih cepat daripada yang mereka antisipasi tak pernah terlintas dalam pikirannya sedikitpun.
"Jadi kau bisa pergi dari sana dan kembali ke rumah. Berlatih dengan rekan satu timmu dan bersiap untuk pertandingan perebutan gelarmu di-gym-mu sendiri. Tuhan, jika aku tahu dirimu, kau mungkin akan menjadi gila jika terlalu lama di sana."
Butch tak sepenuhnya salah. Jongin sudah beristirahat akhir-akhir ini. Benar-benar beristirahat. Tapi ia tak berpikir hal itu terjadi karena ia sedang tidak berada dilingkungannya sendiri dan sedang mendapatkan kebebasan untuk melakukan apa yang ia senangi sebanyak mendapatkan waktu berkualitas dengan Sehun.
Dalam waktu singkat mereka berdua sudah bersama dan Jongin mulai berpikir ke depan untuk hidup bersama Sehun. Apakah itu duduk bersama dimeja di pagi hari ketika ia meminum protein shake-nya dan Sehun menyesap kopinya, ataukah berargumen mengenai siapa yang berhak memegang remote berdasarkan siapa pemiliknya versus siapa yang lebih tua.
"Nak, apakah kau mendengar apa yang baru saja aku katakan?"
Jongin membersihkan tenggorokannya dan menyapu wajah dengan tangannya. "Yeah, Butch, aku mendengarmu. Bagus sekali Scotty akan segera kembali. Aku yakin beberapa pria lain bisa menggunakannya juga."
"Well, yeah, tapi dia masih memiliki waktu terbesarnya di jadwal untuk bekerja bersamamu. Dia tahu apa arti dari pertandingan itu untuk karirmu."
"Dan aku sangat menghargai hal itu, tapi kau tahu, Sehun sudah menggunakan waktu liburannya untuk membantuku—"
"Sehun? Siapa dia? Apa yang terjadi dengan Tuan Oh?"
"Dialah yang sedang kubicarakan. Namanya Sehun. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku rasa akan menjadi tidak professional jika aku mencabut kesediaannya dan kepercayaannya lebih cepat daripada apa yang direncanakan."
Keadaan menjadi hening. Sial. Butch adalah seorang pria yang memiliki sopan santun...hingga kau mengatakan atau melakukan sesuatu yang melawan keinginan melatihnya, dan keheningan itu adalah ketenangan yang terjadi sebelum badai. Ini adalah satu-satunya kesamaan Butch dengan Ayah Jongin, tapi bahkan Butch tak bisa menyamai kekejaman dari seorang Ricky Kim.
"Apakah kau sedang bercanda denganku! Apakah aku sedang dikerjai atau semacamnya? Karena aku sedang mengalami waktu yang sulit untuk memahami mengapa bintang petarung-ku menolak bantuan dari pelatih professionalnya dan dokter professionalnya untuk membantunya mempersiapkan pertandingan terbesar dalam karirnya!"
Jongin membeku di ruangan kecil layaknya seekor singa di depan pria yang memegang cambuk. "Sialan, Butch, jangan membentakku seperti itu, oke? Aku hanya bilang—"
"Aku dengar apa yang kau katakan. Yang aku khawatirkan adalah, boy, yang tidak kau katakan."
"Apa maksud dari kalimat itu?"
"Itu berarti bahwa Jongin yang aku kenal akan mengambil setiap kesempatan yang ada untuk kembali ke camp dan fokus untuk merebut kembali sabuknya. Itu berarti aku berpikir bahwa kemungkinan kau sedang berpikir dengan kemaluanmu bukan dengan kepalamu."
Jongin membeku. Pelatih menebak hampir tepat seperti apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Hanya karena aku tak ingin menjadi seorang bajingan yang tak punya hati, bukan berarti aku memiliki maksud di balik semua itu, pria tua."
"Bagus. Senang mendengarnya." Desahan berat terdengar dari ujung sambungan telepon. "Dengar, nak, kau tahu aku tak ingin iri akan kebahagiaanmu. Tapi inilah saatnya. Kau sudah semakin tua. Jika kau kalah pada pertarungan ini, bukan berarti ini akhir dari karirmu. Tapi hal itu bisa berarti adalah awal dari kehancuranmu. Dan anak baru akan lebih muda dan lebih buas daripada dirimu. Kemudian ketika kau mendapat beberapa kelemahan di bawah sabukmu, mereka akan berhenti bertarung melawanmu."
"Aku tahu." Jongin terjatuh kembali ke sofa dan membiarkan kepalanya bersandar. Apa yang membuatnya khawatir adalah bahwa ide dari akhir karirnya tak lagi membuatnya takut seperti sebelumnya.
"Maka tetaplah seperti ini minggu depan. Tapi kemudian kau harus kembali ke camp dan kita akan pastikan bahwa kau siap melakukan pertandingan itu."
Jongin masih benci akan ide mengakhiri waktunya dengan Sehun, tapi semakin ia memikirkan tentang hal ini semakin ia menyadari bahwa akan lebih baik seperti ini. Sehun sudah mencapai tujuannya, dan dengan bantuan itu Sehun hampir mencapai tujuannya. Sehun membuat keajaiban pada bahunya; hampir sembuh seratus persen. Dan jika Jongin merasa sedekat ini dengan Sehun setelah hampir dua minggu, ikatan ini akan menjadi lebih buruk lima atau enam minggu ke depan. Yeah. Ini adalah saatnya untuk pergi.
"Sampai bertemu satu minggu lagi."
~oOOo~
"Sejujurnya, aku tidak seharusnya memberi tip pada pria itu," Chanyeol menggerutu. "Dia sibuk memperhatikanmu hingga ia sulit melakukan pekerjaannya dengan benar di sepanjang malam ini."
Sehun melangkah melewati pintu yang dibukakan oleh Chanyeol, senang merasakan hangatnya udara malam yang menyelimutinya dan menghapuskan rasa dingin dari air-conditioner. Tak perduli berapa kalipun dia membeku dalam restaurant, Sehun tak pernah ingat untuk membawa jaket.
"Aku rasa kau terlalu keras padanya. Aku yakin pria itu adalah pelayan baru dan masih kikuk pada pekerjaannya. Hal itu benar-benar tak ada hubungannya denganku."
"Well, sudahlah. Meskipun makan malamnya kurang menyenangkan, tapi yang menemaniku makan malam patut mendapatkan bintang lima," kata Chanyeol sembari mengangkat tangan Sehun untuk menanamkan kecupan di buku jarinya.
Itu adalah kalimat membosankan dengan gesture yang membosankan bergaya lama dan semua hal itu membuat Sehun tertawa terbahak-bahak. Dan mendengus.
Mata Chanyeol melebar dan membeku untuk melepaskan tangan Sehun seperti halnya ia tak yakin apa yang ia dengar itu benar terjadi. Sehun merasakan warna mulai naik kepipinya hingga ia yakin wajahnya kini benar-benar seperti tomat.
"Maaf, aku, uh," Berpikir, Sehun, berpikir! "Aku mengalami sinus akhir-akhir ini."
Akhirnya Chanyeol bergerak, melepaskan tangan Sehun dan memberi isyarat bagi Sehun untuk mulai berjalan kembali keapartemennya. Ketika Sehun mulai melangkah, Chanyeol berkata, "Kau harus segera memeriksanya. Kau tak akan mau hal itu berubah menjadi sinusitis."
Sehun tak yakin bagaimana harus merespon hal itu, jadi dia memilih untuk merubah subjeknya. "Setelah beberapa tahun bekerja bersama secara profesional, senang akhirnya aku bisa menghabiskan beberapa waktu denganmu dalam level yang lebih pribadi, Chanyeol."
"Aku sangat setuju denganmu. Meskipun kita tak banyak melakukan hal 'personal' ketika makan malam, benarkan? Kita terus membicarakan pekerjaan sepanjang waktu."
Sehun menyeringai, senang dia sudah berhasil mengarahkan pembicaraan ke arah yang ia inginkan. "Ya, aku rasa kita melakukannya."
"Jadi, ceritakan padaku soal Sehun. Apa tujuan jangka pendek dan jangka panjangmu, Tuan Oh?" Chanyeol menyingkirkan gelas slushie kosong dengan kakinya ke dekat tempat sampah dan lanjut berjalan.
Berhenti cukup lama untuk mengambil benda itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah, Sehun mengambil beberapa langkah cepat untuk menyamai posisi Chanyeol karena tak menyadari bahwa Sehun tertinggal dibelakangnya.
"Um, well, aku rasa tujuan jangka pendekku adalah beberapa hal seperti mendapat peralatan baru untuk ruang terapi, mengambil beberapa kelas untuk beberapa teknik baru, dan melakukan beberapa usaha untuk keluar lebih sering lagi."
Chanyeol melihat ke arah Sehun. "Keluar lebih sering?"
"Yeah, kau tahu, keluar." Ketika semua yang Chanyeol lakukan adalah mengangkat alisnya dalam gerakan tubuh bertanya, Sehun melihat ke trotoar dan mencoba untuk menyembunyikan senyum malu-malunya. "Seperti berkencan."
Mengaitkan kedua tangannya ke belakang, Chanyeol berkata, "Ah, aku mengerti. Well, aku harap kau akan memberiku kesempatan untuk mengecek tujuan khusus itu keluar dari daftarmu."
Sehun melirik cepat pada Chanyeol dari bawah bulu matanya sebelum kembali fokus ke jalan yang sedang ia lalui. "Aku suka itu."
"Bagus. Okay, lalu bagaimana dengan tujuan jangka panjangmu? Dimana kau membayangkan dirimu sendiri, katakanlah, dalam lima tahun lagi?"
Sehun merasa seperti sedang melakukan wawancara, meskipun ia merasa itu lah yang harus dilakukan pada kencan pertama. Mengingat ia tak pernah benar-benar melakukan kencan-dengan satu-satunya hubungan serius yang pernah ia lalui adalah kencan stereotip yaitu berkumpul dengan teman-teman dari pacarnya-Sehun tak bisa memutuskan apakah itu normal atau aneh.
"Secara professional aku tak melihat diriku melakukan hal yang berbeda. Aku senang dengan keberadaanku sekarang."
"Benarkah, kau tak punya keinginan untuk naik pangkat? Bagaimana dengan menjadi direktur klinik daripada sekedar menjadi seorang terapis?"
"Maksudmu dengan menyingkirkan Kyungsoo?" Sehun tertawa ketika membayangkan skenario itu. "Kyungsoo menjalankan kapal dengan lebih ketat dibandingkan dengan kapten angkatan laut kebanyakan. Kau sudah melihat bagaimana kantorku. Jika aku mengambil posisinya, maka kita akan tenggelam lebih cepat daripada Titanic."
Chanyeol tertawa kecil bersama Sehun untuk beberapa detik, tapi kemudian dia berkata, "Seriuslah, mengapa kau tak ingin lebih maju daripada posisimu sekarang? Aku tak bisa membayangkan puas hingga aku dapat melaju sejauh yang aku bisa dibidangku. Maksudku, mengapa kau berpikir aku menghabiskan begitu banyak malam untuk memecahkan kasus? Itu bukanlah untuk rasa hangat dan halus yang aku dapatkan karena menolong pasien."
Sehun menggedikkan kepalanya ke samping. "Kau tak mengatakan padaku bahwa kau tak begitu peduli pada pasienmu, kan?"
"Tentu saja tidak," kata Chanyeol, menaruh tangannya ke dalam kantong.
"Aku peduli pada mereka. Tapi aku peduli pada mereka ketika waktu bekerjaku tanpa perlu bekerja lembur. Aku melakukan hal itu karena aku ingin maju, ingin dipromosikan. Dan jika aku mendapat kasus spesial, aku bisa menuliskannya dan mempublikasikannya ke salah satu jurnal medis.
"Aku peduli pada orang-orang yang aku tangani. Aku dengan tulus ingin membantu mereka atau aku tak akan pernah menjadi seorang ahli bedah. Tapi aku tak merasa bahwa suatu kejahatan untuk perduli pada diriku sendiri dan masa depanku juga."
Sehun membeku saat ia mengalihkan perhatiannya pada retak disemen yang ia lalui. Dia selalu tahu bahwa Chanyeol tidak bekerja hingga larut malam dengannya karena ingin berduaan dengannya, tapi dia berpikir bahwa itu adalah bentuk dedikasi Chanyeol kepada pasien mereka.
Lagipula, seperti yang Chanyeol katakan, itu bukan berarti dia tak perduli pada pasien. Dia hanya bersungguh-sungguh pada karirnya. Dia memiliki tujuan, yang mana terakhir kali Sehun periksa, adalah sesuatu yang Sehun kagumi.
Memberi Chanyeol senyum, Sehun berkata, "Aku mengerti. Dan aku pikir sungguh hebat kau memiliki aspirasi yang tinggi."
Ketika mereka berdua berhenti di depan gedung apartemen, Chanyeol berbalik ke arah Sehun dan melangkahkan satu kaki ke anak tangga yang paling bawah.
"Kita melakukan itu lagi."
Sehun tiba-tiba merasa sangat gugup akan apa yang mungkin terjadi beberapa menit terakhir dari kencan mereka, Sehun tak bisa mengikuti jalan pikiran Chanyeol.
"Apa yang kita lakukan?"
Senyum Chanyeol melebar. "Kita membawa pembicaraan kembali kesekitar pekerjaan."
"Oh, tak apa, aku tak keberatan. Itu adalah sesuatu yang biasa untuk kita, jadi begitu alami jika percakapan antara kita berdua mengarah kesana. Aku pikir kecocokan itu penting."
Chanyeol mengambil satu langkah ke arah Sehun dan perutnya terasa seperti ingin jatuh. Fisik Chanyeol yang lebih kurus dari Jongin entah mengapa tidak membuat Sehun merasa seperti sedang terintimidasi akan keberadaannya, tapi fakta bahwa mata Chanyeol yang mengarah pada bibirnya cukup membuat Sehun ingin kabur masuk ke dalam pintu.
Itu tidak benar, kan? Seharusnya Sehun menginginkan Chanyeol menciumnya. Selama bertahun-tahun Sehun memimpikan momen ini. Momen dimana Chanyeol melingkarkan lengannya di tubuh Sehun dan seluruh dunia akan berhenti berputar ketika akhirnya bibir Chanyeol menyentuh bibirnya.
Aku hanya gugup. Sehun sudah membangun momen ini dalam pikirannya sejak lama hingga ia sulit menerima bahwa momen ini akan segera terjadi.
"Well, jika ini bukanlah waktu yang tepat."
Sehun berbalik dan melihat Jongin berjalan ke arah mereka layaknya iklan berjalan untuk kampanye 'Just Do It' dari Nike, tidak mengenakan apapun kecuali celana atletik berwarna hitam dan sepatu lari biru neon, tangannya bertumpu di pinggang dan bernapas dengan keras pasca berlari. Ketika Jongin berhenti sekitar dua kaki jaraknya, lampu jalan diatasnya menyinari cucuran keringat yang mengalir di atas bukit ditubuhnya sebelum menghilang ke balik karet celananya yang terpasang rendah dipinggulnya.
Jongin menjulurkan tangannya ke sisi kanan tubuh Sehun untuk berjabat tangan dengan kencannya,Chanyeol. "Senang bertemu lagi denganmu,Chanyeol."
Sehun tidak bergerak sedikitpun ketika mendengar Chanyeol menggenggam tangan Jongin dan melihat tangan mereka bergerak naik dan turun beberapa kali dalam gerakan berulang. "Begitu juga denganku, Jongin. Aku minta maaf kita tidak mendapat kesempatan berbincang di pesta malam itu, tapi aku sedikit sibuk dalam pekerjaan."
"Bisa dimengerti." Mereka saling melepas, tapi Jongin tiba-tiba menunjuk pada kaki Chanyeol. "Hati-hati, sepertinya kau menginjak sesuatu di sana." Dalam waktu dua detik untuk mengalihkan perhatian Chanyeol, kemudian Jongin merunduk dan berbisik di telinga Sehun, "Kau akan kemasukkan lalat jika membuka mulutmu seperti itu, Hun."
Sehun menutup mulutnya dengan keras hingga ia bersumpah setidaknya tiga dari molarnya retak.
"Aku tak melihat apapun," Chanyeol berkata saat ia menegakkan tubuhnya setelah melakukan inspeksi.
"Salahku. Itu pasti bayangan atau sesuatu." Jongin memberikan Sehun senyuman licik dan menyilangkan tangan berototnya di depan dadanya. "Jadi, apakah kalian bersenang-senang?"
"Kami melewati waktu yang menyenangkan bersama-sama, seperti biasanya," Chanyeol menjawab dari belakang Sehun "Benarkan, Sehun?"
"Oh, uh, tentu saja," kata Sehun, mengangguk layaknya sebuah bobble head di bagian depan sebuah kendaraan off-road. "Waktu yang menyenangkan."
Demi Tuhan, Jongin harus mendesak Sehun! Mengapa otak Sehun memutuskan untuk absen di saat seperti ini? Chanyeol mungkin berpikir bahwa Sehun imbisil. Atau lebih buruk lagi, tak meyakinkan. Ini terlalu berlebihan, Sehun harus segera pergi dari tempat ini dan masuk ke dalam apartemennya yang nyaman dan aman. Sehun memutar tubuhnya seperempat putaran untuk mengawasi ancaman yang akan mendatanginya.
"Oh sial! Aku lupa aku harus memberi makan Remy, ferret milik Mrs. Egan, karena dia sedang... uh... mengunjungi saudara perempuannya."
"Ferret?" Chanyeol merasakan kekecewaan yang terlihat jelas pada raut wajahnya. Jongin menaikkan sebelah alisnya seakan menunggu sisa dari cerita yang Sehun karang.
"Ya, ferret," kata Sehun. "Kau tahu, mereka kecil, sejenis musang. Aku tak terlalu menyukai mereka, tapi Mrs. Egan memuja makhluk kecil itu."
"Aku tahu apa itu ferret, Sehun, dan aku yakin makhluk itu tak kan keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi."
Sebelum Sehun bisa mengatakan kebohongan lainnya, Jongin masuk dengan mulus skema mereka sudah merancang keadaan itu.
"Sebenarnya, tidak. Remy mengidap diabetes jadi dia harus makan dan mendapatkan insulin di waktu yang seharusnya. Aku ingin melakukannya untuk Sehun, tapi aku mempunyai alergi."
"Ya!" kata Sehun dengan antusias. "Um, maksudku, Jongin benar, aku benar-benar harus pergi. Tapi aku mengalami waktu yang menyenangkan, Chanyeol. Terima kasih banyak."
Senyuman yang Chanyeol berikan pada Sehun terlihat tegang dimatanya, tapi Chanyeol bersyukur dia mengalah pada kondisi ini jadi dia bisa mengajak Sehun pergi keluar lagi jadi mereka bisa mendiskusikan hal yang lebih personal di waktu lain. Setelah setuju dan mendapat pelukan canggung dari Chanyeol seperti yang Jongin lihat, Sehun akhirnya kembali ke tempat perlindungannya yang aman untuk bershower dan berbaring di tempat tidurnya sembari memikirkan ribuan hal dalam otaknya.
Jongin tak mengikuti Sehun, tapi Sehun mendengar Jongin masuk beberapa jam kemudian. Mengetahui bahwa Jongin berada di rumah dan mendengarkan suara Jongin yang sedang mandi di ujung loronglah yang membuat otak Sehun akhirnya bisa beristirahat, dan Sehun terjatuh ke dalam tidur yang tak bermimpi.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Iya aku tahu ini ngaret banget, tapi serius ini kuliah lagi banyak sekali tugas dari dosen. Padahal udah mau UAS masih aja dosennya tega ngasih tugas seabrek, sedih T~T
Mana gitu lagi proses move on juga, wkwk udah lah ya, pokoknya lagi banyak banget yang ga bisa aku sebutin disini.
Aku minta maaf, bener-bener minta maaf jika seandainya part ini benar-benar mengecewakan, typo's bertebaran atau apapun itu.
Untuk kelanjutan cerita, ya aku usahain update cepet juga. Tapi ga bisa janji kapan. Yang jelas iya minggu depan tapi ya itu, ga bisa janji kapan.
Maaf ya, aku kebanyakan ngaret *bow*
Thanks to review CH 7 :
fvckmechankai: hehe ga usah dibanyakin fluff liat skinship mereka aja kayanya udah bikin tambah megap-megap dek, wkwk
BraveKim94 : Sehun mencintai Chanyeol, tapi Jongin mencintai Sehun. Dan Sehun sendiri kini bimbang akan perasaannya,lalu terjadilah perebutan si manis Sehun *nah lho? Wkwk
KaiHunyehet: aw~ makasih udah selalu mau nungguin ff remake ini update *hug* , udah diusahain buat cepet update dan sayangnya lagi kepentok banyak kerjaan jadi maaf kalo ngaret lagi *bow*
DAFUKRIS : bukan ff translate, but novel ^^
Cherry : dohh ini anak napsu bener , wkwk nah iya kan? Sehun manis kan kalo udah manja-manja'an. Duuhh gimana ya? Ditunggu aja deh ya dikelanjutan ceritanya lagi. But thanks udah review~ *hug*
RaeMii : Hallo~ thanks ya udah mau review *hug* sebenarnya sih Chanyeol gak begitu, dan kalo kamu bisa artiin percakapan Chanyeol ke Sehun pas lagi ngedate tadi, ada alasan deh kenapa Chanyeol sekarang mati-matian ngajak Sehun ngedate. Wkwk. Oke, ini udah dilanjut ya~ ditunggu juga review kamu selanjutnya ^^
Rima19exo : haish, jangan bingung-bingung dong. Tinggal tulis apapun, lagian aku ga bakal gigit kok kamu review apa. Hehehe. Oke ini udah dilanjut, keep review ya ^^
Icha : mwehehe ini udah dilanjut kok, keep review yaa~
YunYuliHun : Karena Sehun segalanya bagi Jongin *eaaa~ wkwk nah sama kan, susah si ya kalo udah feel Sehun gitu. Wkwk
Echi : aigooo~ kkk~ udah dari dulu kok Sehun itu manis, wkwk
izz sweetcity : Oh my~ wkwk Sehun lupain Cy? Okeh diliat aja ya nanti gimana Sehun bisa apa engga buat lupain Cy, kkk~
Sekar Amalia : Doohh~ gak kuku juga aku bacain reviewmu,wkwk hyaaa~ malu lah, tau aja nih tiap hari ane galau mulu. Wkwk ini udah dilanjut kok. Sorry ya ngaret~ *bow
shixunaa : panas ya? Sini sini mau ane kipasin? Haha okeyy ini udah dilanjut kok, keep review ya ^^
Ilysmkji : Nah kalo penasaran dibaca terus yaa~ jangan lupa buat tetep review. Hihi ^^b
VampireDPS : Cieee yang ngarep NC ciee~ wkwk XD
hanhyewon357 : Sehun mesum kan diajarin sama Jongin. Wkwk oke ini udah dilanjut kok, keep review yaa ^^
AlexandraLexa : DONE! ^^
dia luhane : sehun menikmati buaian Jongen, wkwk ini udah dilanjut kok, keep review ya ^^
utsukushii02 : karma everywhere and everywhen. Wkwk ini udah dilanjut kok, keep review ya ^^
bibblebubblebloop : Hyaaaa~ jangan mimisan *sumpelin idungnya pake sempak Sehun* wkwk udah ga mimisan kan? Haha oke ini udah dilanjut kok, thanks buat reviewnya and keep review yaa ^^
Rilakkuma8894 : panas ya? Perlu diguyur pake air gak? Biar segeerrr~ wkwk iya ini udah dilanjut kok dek, thanks udah review yaa~ keep review yaa ^^
Kim Jonghee : iyaaa tapi ini mulai ngaret deh keknya, wkwk doohh kipas ya? Entar deh ane suruh Sehun aja buat niupin gimana? Kalo kopi pahit keknya bisa deh nyuruh Chanyeol buat bikin kopi nya. Wkwk iya lah, Sehun mau gayanya cool tetep aja dah manisnyaaaa ga bisa diilangin. Wkwk kurang panjang itu maahh, besok yang panjang lagi yaaa~ wkwk but thanks udah review. Keep review yaa^^
fitry sukma 39 : semua karma itu menyakitkan, ga ada karma yang indah. Wkwk ddoohh please jangan culik Sehun, itu anak masih banyak kerjaan cucian dirumah aku. entar kalo diculik siapa yang gantiin buat bersih-bersih rumah? *nahlho? Wkwk ini udah dilanjut kok, keep review yaa ^^
mamasehun1214 : kaihun dari dulu emang manis kok, wkwk anak? Sejak kapan Sehun jadi anak kamu? Wkwk iyaa habis muka-muka bapaknya taeoh ga terlalu aneh lah buat jadi bapaknya Kai disini. kan badannya bapaknya taeoh juga cucok gitu,wkwk ini udah dilanjut yaa~ keep review ya ^^
KaiHunnieEXO : Kyaaaaa~ *ikutan teriak ceritanya* wkwk doohh kasihan abang Cy ditendang-tendang sini lah buat aku aja, wkwk bisa bisa, tergantung story dari novelnya aja sih, wkwk ini udah dilanjut dan i dunno ini udah termasuk panjang apa belum,wkwk but keep review yaa^^ thankyou~
fyodult: wkwk karena kaihun ga disweet-in juga udah sweet. Lol. duuuhh aing mah ga mau ikutan teriak, takut ganggu KaiHun nanti,wkwk
ParkJitta : segera ya? Oke segeraa~ wkwkwk
SeoulG : Slow dude~~ dooh mainnya golok. Kan jadi takut ane, wkwk
Zelobysehuna : uwoooo~ *ikutan ceritanya* wkwk gakuat emang lagi diapain sama KaiHun? Wkwk aigooo~ ditunggu aja ya asem manis paitnya pokoknya. wkwk
