Petir bergemuruh di kejauhan, terdengar lebih keras di jalan-jalan kosong dan membuatnya bergema.

"Jongin, awan-awan badai itu berada di depan kita. Kemana kita akan pergi?" Sehun sudah menanyakan pertanyaan yang sama tidak kurang dari sepuluh kali dalam setengah jam terakhir dan ia tidak mendapatkan apapun yang tampak seperti jawaban. Jongin benar-benar bungkam tentang tujuan kepergian mereka dan tetap akan seperti itu meskipun kegembiraannya terlihat jelas. Jongin membawa Sehun ke belakang, menuruni trotoar di sisi kota yang berseni, Jongin terus tersenyum rahasia pada Sehun, senyuman kekanak-kanakan yang mempesona dan membuat pria manis itu tertawa selalu.

Sudah beberapa hari sejak Sehun berkencan dengan Chanyeol, dan Jongin hanya mendapatkan sedikit waktu bersama Sehun kecuali selama pelatihan. Kemudian Chanyeol tiba-tiba membawa Sehun untuk makan malam dan kemudian melihat sesuatu. Sehun pikir mungkin Jongin akan membawanya pergi melihat sejenis pertunjukan, mengingat bagian kota yang sudah mereka lewati, tetapi ketika akhirnya mereka meninggalkan restoran, itu sudah pukul 11, jadi ia mulai merasa buntu.

"Badai musim panas tidak pernah menyakiti siapapun. Hampir sampai, ayolah." Kata Jongin sambil menarik Sehun ke dalam sebuah gang.

Sehun menghentikan langkahnya, menyebabkan Jongin sedikit mundur. "Hal apa yang mungkin akan kau perlihatkan di lorong gelap seperti ini?"

Jongin mendekati tubuh Sehun dan merengkuh sisi wajahnya dengan tangannya yang bebas. Ibu jarinya menelusuri goresan pendek di sisi pipinya. "Apakah kau tidak percaya padaku, Hun?"

Sehun menatap mata cokelat itu, dan meleleh di perutnya dengan panas yang berputar-putar di pusatnya, lalu ia berbisik. "Tentu saja aku percaya padamu."

Bibir Jongin yang penuh membentuk sebuh senyuman. "Kalau begitu tutuplah matamu."

Sehun hampir saja menolak untuk melakukan hal semacam itu, tetapi cara Jongin menatapnya meluluhkan hatinya, dan Sehun menurunkan kelopak matanya tanpa ragu-ragu. Sebuah ciuman ringan menyentuh di setiap kelopak matanya sebagai hadiah.

Jongin menuntun Sehun menelusuri lorong dua puluh meter atau lebih, kemudian berhenti. Sehun mendengar semacam suara gemerincing kunci yang dan suara derit pintu berat yang terbuka. Sekali lagi pria itu membawanya ke depan. Sehun benar-benar ingin membuka matanya, tapi ia tidak ingin merusak kejutan Jongin.

Sehun menggigit bibir bawahnya ketika mengunggu Jongin menutup pintu dan bergerak ke sekitar ruangan, melakukan hal-hal yang tidak bisa di bacanya dengan suara sementara ia terus memastikan Sehun tetap menutup matanya.

Akhirnya, Jongin mendekati Sehun dari belakang, melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Sehun dan menutup mata Sehun dengan tangannya yang lain. "Sial, aku seharusnya memikirkan dua kali tentang hal ini."

Sehun bisa mendengarkan kecemasan dari suara Jongin. "Mengapa kau harus memikirkannya lagi?"

"Karena aku tidak tahu apa yang akan kau pikirkan. Aku takut kau akan membencinya."

Sehun memiringkan kepalanya kesamping dan mengulangi pertanyaan Jongin sebelumnya. "Tidakkah kau percaya padaku?"

~oOOo~

Ruangan itu gelap gulita dengan hanya satu cahaya dari sebuah lampu sorot yang terpasang di atas sebuah balok penopang, dan diatas balok itu terdapat sebuah papan gabus besar yang menampilkan sebuah gambar pensil arang Sehun…telanjang.

Tidakkah kau percaya padaku?

Apakah Sehun percaya? Seni itu sangat personal dan sesuatu yang sangat intim seperti ini – seperti pandangan yang ia berikan pada Jongin ketika mereka bercinta – bahkan lebih. Sehun memiliki hak untuk merasa tersinggung, meskipun mungkin hanya mereka berdua yang pernah melihat gambar ini. Namun Jongin sudah menggambarnya tanpa seizinnya.

Jongin ingin mengatakan bahwa ia tidak tau apa yang sudah merasukinya hingga melakukan hal segila ini, seperti membuat sketsa telanjang tubuh Sehun, tapi ia akan berbohong pada dirinya sendiri. Sesuatu tentang diri Sehun – tentang perasaan yang ia rasakan ketika dengan Sehun – telah membangkitkan sisi kreatif yang selama ini telah tertidur. Cukup bangkit hingga Jongin menemukan sebuah pria yang mengizinkannya menggunakan beberapa ruang dan persediannya untuk beberapa hari di tempat yang di sebut sebagai studio seni dengan pertukaran beberapa tiket untuk pertarungan yang akan datang. Dan ini adalah hal yang menginspirasi Jongin.

Jadi kepeduliaan Jongin pada Sehun akan menerimanya sebagai hadiah atau tidak, tidaklah terlalu penting baginya, karena menyembunyikan hak ini darinya seperti rahasia kecil yang kotor di luar pertanyaan itu. Jongin tidak bisa mundur sekarang. Tanpa nyali, tak ada kemenangan.

Jongin menghela nafas dalam-dalam, dadanya melebar seperti bahunya, kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan. "Oke," kata Jongin sambil menurunkan tangannya. "Buka matamu."

Sehun tersentak pelan sebelum menutup mulutnya dengan jari-jarinya dan berbisik, "Ya Tuhan."

Apakah itu hal yang baik 'Ya Tuhan' atau sesuatu yang buruk, Jongin masih belum bisa memastikan. Ia benar-benar mengharapkan pilihan pertama.

Meskipun Jongin tahu setiap goresannya dengan baik, ia tetap mempelajari gambar itu dan mencoba untuk melihatnya melalui mata Sehun disampingnya. Garis arang dan lengkungan itu menggambarkan diri Sehun yang tengah di penuhi gejolak gairah di atas sofa,punggungnya melengkung, wajahnya menoleh ke samping dengan rambut yang berantakan. Kaki kanannya tergantung di sisi sofa, telapak kakinya menekan lantai sebagai penahan. Lututnya yang lain tertekuk tajam, jari-jari kakinya menunjuk dan naik beberapa inci. Bagian favoritnya adalah wajah Sehun. Dengan mata tertutup, bulu matanya terlihat elegan di atas pipinya yang memerah karena lonjakan kecil. Mulutnya tampak penuh, ciumannya – bibirnya yang tipis penuh tampak terpisah seakan-akan baru saja terpatahkan dari segelnya. Dan bintik tahi lalat dileher dan dadanya, sebuah detail kecil yang mungkin tidak akan di sadari orang lain jika itu hilang, tapi bagi Jongin itu adalah pembeda antara Sehun dengan yang lainnya.

Jongin kembali pada dirinya ketika Sehun melangkah maju pada kanvas itu dengan pandangan seakan-akan terpesona. Seakan-akan Sehun tengah menikmati gambar di sebuah museum seni, Jongin sendiri masih berdiri dipinggir cahaya dengan tangannya di dalam saku celana jinsnnya dan melakukan hal yang sama dengan pria manis itu.

"Jongin, aku…" Sehun berhenti, dan Jongin benar-benar takut akan hal terburuk.

"Bagaimana menurutmu? Apa ini tidak apa-apa; kau bisa mengatakan yang sebenarnya padaku."

Sehun menoleh dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini luar biasa. Kau sangat berbakat." Kata Sehun, sambil kembali menatap gambar itu. "Kau membuatku…" menghirup nafas dalam-dalam dan membebaskannya dengan gemetar. "….indah."

Langkah Jongin bergetar ketika ia berjalan mendekati Sehun dan membalikkan tubuhnya, memeluknya dengan erat. Satu tangannya menyentuh wajah Sehun dan menyeka air matanya yang menetes di tulang pipinya. "Di situlah kekeliruanmu sayang. Aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencoba sebelum aku bisa menangkap keindahan dirimu."

Sehun tersenyum lemah. "Kata-katamu sangat manis, tapi dalam sejuta tahun pun aku tidak akan terlihat seperti itu."

Kilat menyambar di luar ruangan itu disertai sambaran Guntur, dan hujan mulai menetesi jendela belakang bagai lagu sumbang. Badai tampaknya semakin membesar bersamaan dengan rasa frustasinya.

Jongin selalu tersedak setiap kali ada orang-orang yang membuat pria manis dihadapannya ini merasa kurang percaya diri. Tidak hanya satu titik dalam dirinya yang terlihat indah dalam gambar pria itu, tetapi semua tentangnya – humor, kecanggungan, kasih sayang, dedikasi – semua itu, membuatnya begitu jauh lebih unggul dari setiap orang yang ia kenal.

Baru saja Jongin akan menjelaskan hal yang sebenarnya kepadanya, sebelum Sehun kembali memotong dan menambahkan. "Maksudku, ayolah Jongin. Jika aku terlihat seperti itu, seharusnya sedari dulu Chanyeol sudah melilitkan sebuah cincin dijari ku."

~oOOo~

Kegilaan sementara. Itulah yang terpikirkan oleh Sehun ketika ia memikirkan mengapa ia harus mengatakan hal yang sensitif kepada Jongin. Tidak peduli jika sebagian dari situasi itu adalah misinya untuk berakhir dengan seorang pria lain, dan kenyataan bahwa pria itu tidak memiliki perasaan apapun terhadap hubungan ganjil mereka.

Jongin sudah memberinya sebagian dari dirinya sendiri dengan menciptakan karya seni yang mengagumkan ini untuk Sehun–tentang dirinya- dan Sehun baru saja menampar pria itu dengan membawa Chanyeol dalam malam mereka dengan menyebutkan namanya.

Sehun melihat kilatan kemarahan di mata Jongin, otot-otot di rahangnya melentur beberapa kali seakan ia tengah berusaha menahan dirinya agar tidak membuat hal-hal yang akan membuat Sehun ketakutan, dan yang belum layak ia dapatkan.

"Jongin, aku minta maaf, aku—"

Jongin tidak menunggu untuk sisanya, tetapi segera memutar tubuhnya dan berjalan membanting pintu ketika ia keluar menerjang badai. Sehun mengejarnya, namun berhenti tepat di luar studio ketika melihatnya berjalan di trotoar menuju jalanan, kemeja dan jasnya sudah setengah basah.

"Jongin, tunggu, kembali!"

Jongin menghentikan langkahnya, namun tidak berbalik. Dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya dan bahu lebarnya yang naik turun, ia tampak liar dan berbahaya, dan Tuhan menyelamatkan Sehun, seksi. Tulang punggungnya bergetar dan ia mulai merasa tubuhnya menggigil, namun itu bukan dari dinginnya hujan yang membasahi kulit dan rambutnya. Bahkan kemarahan pria itu mampu mempengaruhinya di tingkat yang paling dasar, dan hal itu membuatnya senang sekaligus frustasi.

Ketika Jongin berbalik dan berjalan kearahnya dengan sinar mengancam di matanya, Sehun bertanya-tanya apakah ia seharusnya tidak membiarkan pria itu pergi dan meminta maaf ketika Jongin memundurkan tubuhnya hingga ke batu bata di belakangnya. Sehun tahu ia harus meminta maaf lagi, ia harus mengatakan sesuatu, apapun itu, tetapi kata-katanya lenyap ketika ia melihat sisi lain dari sosok Jongin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sikapnya itu tampak seperti binatang, dan tentu saja itu bukanlah sejenis hal yang lucu dan bisa di peluk.

"Ada apa dengan bajingan itu hingga membuatmu tidak bisa lepas darinya?" teriak Jongin. "Aku serius, tolong katakan, karena aku sudah berusaha untuk mencari tahu dan aku tetap tidak bisa menemukannya!"

Tertarik? Jika ada yang telah membuatnya tertarik itu adalah Jongin. Itu seharusnya menjadi sebuah hal yang biasa, tidak ada yang lebih dari pada pelajaran untuk menjadi seseorang pria yang bisa menarik hati ahli bedah ortopedi tertentu sehingga mereka bisa hidup bahagia selamanya dalam hubungan yang memungkinkan dan didasarkan pada kepentingan bersama dan rasa toleransi.

Seperti sekarang, Sehun tidak yakin dengan apa yang ia inginkan saat ini. Sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan. Otaknya mengatakan bahwa ia menginginkan Chanyeol. Tetapi tubuhnya – dan Sehun takut jika hati itu juga - meneriaki nama Jongin.

Sehun menggelengkan kepala. Air mata yang panas tumpah di pipinya, dan ia berdoa agar mereka akan membaur dengan tetesan hujan, hingga ia tidak terlihat sesedih sebagaimana yang ia rasakan. "Aku tidak tau apa yang ingin kau dengar dariku."

Puncak dari rambut elang Jongin turun sedikit diatas dahinya, terasa berat dengan air yang mengalir dari ujungnya. Kemejanya yang berwarna abu-abu pucat dengan garis-garis perak yang sudah terbuka di bagian krah dan manset yang di gulung di atas otot-otot Jongin, sekarang sudah basah kuyup dan menempel di tubuhnya.

Jongin meletakan tangannya di dinding di antara kepala Sehun, dan masuk ke dalam privasinya lebih dalam lagi. Jongin memenjarakan pria manis itu dengan tatapannya yang begitu kuat dan Sehun tampak tidak berdaya untuk berpaling, dan ketika ia berbicara dengan kata-katanya yang tajam. "Apakah kau juga memikirkan Chanyeol ketika aku berada di dalam tubuhmu, Sehun? Apakah kau mengharapkan miliknya lah yang berada di dalam tubuhmu bukan milikku?"

Sehun sudah melukai Jongin. Terutama sisi lembut Jongin. Sisi yang membuatnya menjadi teman yang bijaksana dan penuh perhatian seperti seorang kekasih. Sisi yang menyentuh tubuh Sehun seakan jari-jarinya memuja setiap lekukan tubuhnya, kemudian memindahkannya ke dalam kanvas yang sangat berharga itu. Dan sekarang sisi petarungnya sudah mengambil alih, memperkuat pertahanannya dengan pertanyaan yang keras dan kasar untuk menyamarkan luka-lukanya. Tapi meskipun kata-kata kejam itu mengalir dari mulutnya, itu hanyalah kata-kata sosok lain di belakangnya. Dan untuk pertama kalinya Sehun benar-benar mengerti dengan dualitas alami yang di miliki Jongin.

Sehun mendorong semua pikiran tentang apa yang ia butuhkan dan memfokuskan pada apa yang Jongin butuhkan. Ia sudah memiliki keyakinan itu ketika tangannya merengkuh wajah Jongin. "Tidak pernah." Kedipan terkejut sesaat terlihat sebelum topengnya kembali terpasang di tempatnya. "Saat kau menyentuhku, aku menyerahkan diriku padamu Jongin," Sehun meregangkan jari-jarinya dan mencium bibir Jongin. " ."

Guntur kembali menggelegar di atas kepala mereka seperti lampu sorot dari kilat yang tampak sesuai dengan sosok animalisnya dalam bayangan dan cahaya yang mengungkapkan niatnya. Sehun hanya memiliki beberapa saat untuk mempersiapkan dirinya sebelum mulut Jongin turun dan menyentuhnya dalam serangan yang mematikan.

Sehun mengerang dan membuka mulutnya pada Jongin, menikmati pusaran panas lidahnya ketika tangan Jongin menyentuh pantatnya dan mendorongnya terhadap bagian yang kaku dan tegang di balik resletingnya. Sehun melengkungkan tubuhnya untuk melenyapkan setiap molekul udara yang memisahkan mereka, membuat kontak sebanyak mungkin dengannya, seakan-akan ia akan mati tanpa hal itu.

Jongin menyelipkan tangannya di antara mereka, menurunkan celana Sehun lalu menggeserkan celana dalam Sehun ke bawah, dan menorong dua jarinya lebih dalam Holenya. Sehun memecahkan ciuman mereka, tidak bisa menahan teriakannya seperti badai di atas mereka ketika dorongan tiba-tiba yang mengguncang intinya.

"Fuck,Sehun," kata Jongin dengan kasar. "Aku senang karena kau selalu siap untukku. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sepanas dan seketat ini. Aku ingin hidup di dalam dirimu, dan tidak pernah meninggalkanmu."

Sehun tidak mungkin membalas kata-kata Jongin, jadi ia hanya merengek memohon dengan menggerak-gerakan pinggulnya dan membuatnya bergerak. Dan itu berhasil, tapi tidak sesuai dengan apa yang ia maksudkan. Bukannya meraba tubuhnya seperti yang Sehun pikir akan di lakukannya, Jongin malah menariknya keluar dan meninggalkannya dalam keadaan kosong begitu saja.

"Jongin please…"

"Jangan khawatir sayang, itu hanya untuk sesaat." Sehun melihat Jongin merobek celana jinsnya hingga terbuka dan mendorong mereka hingga membuat ereksinya terlepas. Panjang dan tebal, berpuncak runcing dengan urat dan di tutup dengan kepala yang halus bulat, tiba-tiba Sehun memiliki keinginan untuk membawanya ke dalam mulutnya, namun Jongin sama sekali tidak memberikan kesempatan. Jongin menekan jari-jarinya ke pipi Sehun, dan mengangkat tubuhnya, dengan cekatan memindahkan pakaiannya ke samping, dan membawa dirinya sendiri ke pangkal Sehun.

Sehun membenamkan wajahnya di leher Jongin dan menjepit bibir bawahnya ketika sensasi kenikmatan itu menyentuh intinya. Dengan cepat Jongin mundur dan mendorongnya ke depan, mengatur kecepatan yang di rasa perlu untuk kelangsungan hidup mereka.

Aroma mineral batu basah bercampur dengan aroma mint rambut basah kuyup Sehun, dan parfum tajam dari kemeja Jongin. Suara gemuruh badai dan hujan menyertai mereka dan membungkus mereka, seakan-akan hanya mereka yang berada di atas bumi ini.

Mulut Jongin mencium keras bibir Sehun, rahangnya, tenggorokannya, bahunya. Ujung-ujung jarinya mencengkram bagian samping di tempat ia menembusnya, tangannya yang besar menyebabkan dirinya terpisah dan memungkinkannya untuk masuk lebih dalam lagi.

Sehun menekan kukunya di tengkuk Jongin, meniru sengatan batu bata di punggungnya. Hujan membasahi wajah mereka, namun mereka sama sekali tidak berkedip ketika mereka saling menatap satu sama lain, menghubungkan jiwa mereka yang kini terhubung melalui tubuh mereka. Bahkan dalam sejuta tahun ia tidak akan pernah bisa memikirkan pria lain ketika ia sedang bersama Jongin. Sehun sama sekali tidak mampu berpikir hal lain ketika berada di dalam pelukan pria itu.

Semuanya terasa mencair kecuali saat ini, pria ini yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi Sehun hingga tidak ada lagi hal yang terpenting kecuali caranya mengisinya, merenggangkannya, dan … melengkapinya.

Semuanya terasa terlalu cepat ketika Sehun merasakan klimaksnya datang tanpa Jongin melakukan apapun pada penisnya. Sehun tidak ingin ini berakhir. Sehun ingin hal ini terus berjalan selamanya. Menggertakan giginya, mencoba menahannya, tapi hal itu terus bangun dan bangun.

"Lepaskan sayang. Aku ingin merasakan kau meremas kejantananku. Datanglah untukku." Geram Jongin.

Dalam setengah lusin pukulan lainnya, gigi Jongin turun ke leher Sehun, dan kebahunya hingga akhirnya Sehun kehilangan kontrol terakhirnya. Mereka datang secara bersamaan dalam sebuah ledakan dahsyat. Jongin menggeram seperti binatang buas yang muncul di lorong gelap ketika ia menumpahkan benihnya di dalam bagian tubuh Sehun yang menegang.

Sehun hancur berkeping-keping, menari dengan gemuruh awan di atas mereka sebelum kembali jatuh ke bumi dengan hujan…kembali kepada Jongin. Ketika mereka bisa kembali bernafas, dengan lembut Jongin menurunkan Sehun ke tanah, meletakan tangannya di bahunya hingga Sehun bisa menahannya.

Jongin menangkup pipi Sehun, mencium bibirnya dan berkata. "Ayo pulang dan berteduh dari hujan ini, hmm?"

Sehun tersenyum kecil dan mengangguk. "Bagaimana dengan gambarnya? Ini akan hancur di tengah hujan."

"Kita bisa meninggalkannya di sini dan mengambilnya di hari yang lain. Ayo, aku akan membawamu untuk mandi air panas dan lalu ke ketempat tidur."

Sehun mengangkat sebelah alisnya pada Jongin. "Kau belum merasa puas?"

Jongin menyeringai dan berkata, "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan merasa puas dengan dirimu, Sehun, tapi tidak, bukan itu maksudku. Aku ingin membawamu pulang, merawatmu, dan menempatkanmu ke dalam ranjang hangatmu hingga aku bisa terus bersamamu sampai matahari terbit."

"Oh." Sebuah jawaban sarkastis dari Sehun, dengan garis menyimpang. Sebuah lelucon buruk, tapi hal itu adalah respon yang selalu Jongin harapkan darinya. Tetapi tidak dengan sesuatu yang akan membuatnya seperti orang bodoh.

Jongin mengunci studio, mencium puncak kepala Sehun setelah semuanya telah mereka bereskan, dan merangkulnya saat mereka berjalan kembali ke mobil. Apakah mungkin secara fisik bisa merasakan keadaan dimana kau kehilangan hatimu untuk seseorang? Karena Sehun cukup yakin ia baru saja kehilangan miliknya, dan seharusnya bagian itu terasa sakit secara harfiah.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Haha pendeknya? Sengaja, wkwk

Pengakuan KaiHun akhirnya~~ hahaha

Bahagia kah? Wkwk trus Chanyeol gimana? Biar Chanyeol sama ane aja yaa. Wkwk

Okeyy~ ini kembali aku cicil update setelah hibernasi yang sepertinya cukup lama gegara sibuk dengan kegiatan yang tahu sendiri kan pada kalo kuliah udah mendekati UAS tugasnya pasti seabrek. Wkwk

Jadi bagaimana kelanjutan hubungan Kai,SeHun dan ChanYeol? Tunggu di next chapter selanjutnya~ wkwk

Ah ada ff remake KaiHun baru lagi, tapi rate nya T ya~ wkwk sekali-kali bikin rate T. Haha judulnya 'Hujan Punya Cerita Tentang Kita' monggo yang mau baca silahkan dibaca, jangan lupa reviewnyaa juga. Wkwk

Dan thanks buat semangatnya ya~ entah itu semangat kuliah ataupun semangat move on. Wkwk *Big Hug Readers*

.

.

.

Thanks to review Ch 8 :

Ilysmkji , AlexandraLexa , avs1105 , , Rima19exo , KaiHunyehet , kaihunlicious , YunYuliHun , Sekar Amalia , Icha , RaeMii off , bibblebubblebloop , dia luhane , fitry sukma 39 , hanhyewon357, ParkJitta ,utsukushii02, VampireDPS, vitangeflower, KimKS 'ke-Naru, Kim Jonghee, BraveKim94 ,Zelobysehuna, fyodult.