"Terima kasih, Fritz. Bisakah kau membukakan bon untukku (pending bill)?"

Pria itu mengerlingkan matanya sebagai balasan sebelum menemui pelanggan bar lainnya saat Sehun mengambil segelas besar bir dan membawanya ke ujung ruangan. Kyungsoo sedang berbicara ditelepon,berdebat dengan seseorang seperti biasanya.

"Tentu saja tidak. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka tawarkan, kita belum memutuskan apapun. Dengar, aku sedang berada di rapat penting sekarang jadi aku akan menghubungimu nanti. Uh-huh, buh-bye." Kyungsoo menjambak rambutnya sesaat lalu ia menaruh ponselnya kedalam tasnya, dia mendesah dramatis tanda kelegaan saat mereka melakukan ritual yang biasa mereka lakukan saat menyatukan gelas mereka dan bersulang untuk kesehatan mereka.

"Jadi,apa yang terjadi? Kau tidak pernah meminta RMD, terakhir kali kau memintanya adalah saat kau sedang stress saat kau menghadapi tugas akhir semester."

Benar. Biasanya Kyungsoo lah yang selalu mengadakan Rapat Minum Darurat sesuai dengan drama terakhir yang di alaminya,entah itu masalah pribadi atau masalah pekerjaan. Kyungsoo mempunyai bakat dalam melodrama, bakat yang bisa membuatnya terlihat luar biasa saat berada di ruang sidang, tapi itu juga bisa berarti ia sedang berada di puncak kesuksesannya atau sedang tenggelam dalam kesedihan. Sehun lah yang selalu menjadi penyeimbang. Sehingga mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.

Sehun menenggak kembali minumannya untuk menambah keberanian dirinya dan akhirnya untuk pertamakalinya dia mempunyai cukup kekuatan untuk mengatakan apa yang selama ini bergelut di kepalanya.

"Aku rasa aku jatuh cinta pada Jongin."

Temannya mengeluarkan oops yang menjengkelkan seperti ia baru memenangkan hadiah undian beberapa ratus dollar yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Aku pikir kau bilang ada masalah, tapi ini luar biasa! Selamat, sayang, dia adalah salah satu spesies pasangan yang baik. Mm-mm-mm. Seperti apa dia saat di ranjang? Aku bertaruh dia pasti fantastiskan? Sial! Aku mau setiap detailnya, termasuk panjang, besarnya, dan apakah bentuknya agak bengkok kesamping?"

"Demi Tuhan, bisakah kau menurunkan volume suaramu?" Sehun berbisik. "Aku tidak akan memberikan detail anatomi tubuhnya padamu."

Mimik wajah yang hebat, memohon dengan mata owl-nya. "Jangan membuatku memohon Sehun. Pria di kota ini bahkan tidak sepadan dengan usaha untuk merobek foil kondom, belum lagi kekecewaan yang kita dapat setelah itu. Kau harus mengatakan padaku seperti apa rasanya menunggangi kuda jantan seperti dia."

Sehun menggosok hidung dan mulutnya sampai sampai ia bisa dengan mudah menelan birnya tanpa tersedak."Apa yang membuatmu berpikir kalau kami telah berhubungan seks?"

"Sekarang kau menghina kepandaianku."

Sehun mendengus. "Lebih kepada indra keenammu yang aneh."

Kyungsoo mengangkat bahu. "Tomat, tomat. Ayolah katakan sesuatu."

Sehun melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar lalu ia berkata. "Ya, oke. Kami sudah..."

"Bersetubuh seperti kelinci?"

"Berhubungan intim," Sehun menatap dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Dan itu..."

"Fenomenal, Lain dari pada yang lain, cukup untuk membuatmu dengan cepat membungkuk dan membuka kedua kakimu setiap kali dia menatapmu?"

Sehun menatap dengan mulut menganga dan matanya melebar. "Itu cukup keterlaluan, bahkan untukmu, Kyung."

"Maaf, aku terbawa suasana. Lanjutkan."

"Itu indah."

Kyungsoo memasang wajah seperti ia sedang menelan bir basi. "Indah? Kau tidak bisa mengatakan kata sifat yang lebih baik lagi dari indah?"

Sehun menatap langit-langit untuk sesaat fikirannya melayang, lalu kembali pada pria yang kecewa di hadapannya. "Tidak ada. Itu sangat indah,dalam arti yang sebenarnya."

"Oke, baiklah, aku mengerti. Aku harus menunggu sampai kau mabuk sebelum aku bisa memperoleh informasi lebih darimu." Sehun tertawa dan berterima kasih pada anak perempuan Fritz saat ia membawakan minuman tepat di saat mereka telah menenggak habis minuman mereka.

"Jadi kenapa kenapa kau berfikir jatuh cinta pada Jongin adalah hal yang buruk? Aku pasti telah melewatkan sesuatu karena aku tidak menemukan sesuatu untuk mendukung teori tersebut."

"Apa maksudmu?"

"Well, aku memang baru berkencan beberapa orang pria, tapi kau dan aku tahu bahwa aku sangat ahli dalam menilai karakter seseorang. Jongin adalah pasangan yang sempurna." Kyungsoo mengangkat tangan kirinya dan mulai membuka satu persatu jarinya sesuai dengan karakter yang ia ucapkan. "Sangat Menarik, lucu, mempesona,kaya, sangat menarik, sukses, berteman dengan kakakmu, dan dia jelas telah membakar dirimu. Apakah aku sudah mengatakan dia sangat menarik?"

"Tidak, kupikir tidak," kata Sehun masam. "dan apa maksudmu membakar? Itu terdengar seperti sesuatu yang akan di ucapkan oleh nenekku."

Kyungsoo memutar matanya. "Baiklah aku mungkin tadi terdengar agak vulgar,sekarang aku akan membuatnya menjadi menjadi lebih sopan. Pria itu jelas telah membuatmu terangsang. Apa itu terdengar jauh lebih baik?"

"Yah, itu sempurna. Seperti apa yang ku inginkan dari seorang pria hanyalah sekedar seks."

"Bukan itu maksudku," Ucap Kyungsoo mata bulat besarnya melembut."Aku melihat bagaimana ia menatap mu. Dia terpesona padamu. Seperti, benar-benar terpesona , aku tidak akan terkejut jika dia telah—"

Sehun mengangkat tangannya. "Jangan. Jangan katakan karena dia tidak tidak seperti itu."

"Bagaimana kau tahu?" Kyungsoo menyandarkan punggungnya di sandaran kursi menatap temannya dengan tatapan tajam.

"Ayolah, Kyung, kau bukan ibuku. Kau tidak perlu menenangkan egoku. Laki-laki seperti Kim Jongin tidak akan jatuh cinta pada orang sepertiku."

"Kenapa sangat sulit bagimu untuk percaya bahwa kau pantas untuk dicintai oleh pria yang baik? Kau adalah orang yang sangat mempesona yang aku tahu, luar dan dalam. Dia bodoh jika dia tidak jatuh cinta padamu,"

Sehun mengambil gelasnya dan menenggak beberapa tegukan. Apakah Kyungsoo benar? Apakah Jongin benar-benar mempunyai perasaan padanya? Ia memikirkan kembali apa yang telah terjadi selama beberapa minggu terakhir ini, benaknya menyusun katalog dalam kolom-kolom. Hal yang akan dilakukan teman versus hal yang akan dilakukan kekasih.

Kolom kekasih dengan cepat terisi sedangkan kolom teman tak beranjak dengan statistik rendah yang menyedihkan. Kupu-kupu menyebar di dasar perutnya saat ia mendongak menemukan senyum sombong di wajah Kyungsoo. Ia menggelengkan kepalanya.

"Bahkan jika kau benar, bagaimana itu bisa terjadi? Kami benar-benar bertolak belakang. Aku sudah melakukannya dulu, ingat?"

"Tidak," kata Kyungsoo mencondongkan badannya kedepan untuk menekankan, "apa yang kau lakukan adalah terjebak dengan pengecut yang tidak benar-benar menyukai siapapun selain dirinya sendiri. Hubungan itu gagal karena pengecut itu tidak dapat menyimpan kemaluannya di didalam celananya,Sehun, bukan karena dia bisa menyimpan sapi dan kau suka memakannya."

"Amin, Red!" Fritz mengantarkan bir baru dan menaruhnya dengan keras dan menahan tangan di meja.

"Aku tidak tahan dengan banci dan orang yang hanya memikirkan kepuasannya sendiri." Ia menggoyangkan jari yang rapuh saat dia berbicara kepada Kyungsoo dan Sehun. "Jangan pernah percaya pada pria yang tidak minum bir. Seorang pria yang hanya meminum minuman yang hanya akan membuat dirinya berakhir menjadi manja bukanlah seorang lelaki. Dia mungkin seperti memberitahu ukuran buah zakarnya saat dia sedang memesan minuman,jka kalian mengerti maksudku."

Kyungsoo dan Sehun tertawa dan berterima kasih padanya untuk menyuarakan nasihatnya, meyakinkannya bahwa mereka akan memegang kebijakan itu untuk tiap pria mulai sekarang.

"Well, baiklah. Yang satu ini aku yang traktir asalkan kalian memberikanku sesuatu manis." Pria tua itu membungkuk membuat mereka tertawa, mereka lalu memberi ciuman di pipinya yang tertutupi janggut pendek putih. Frizt lalu berdiri dan berkata, "Itu adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri malam ini. Aku akan naik keatas dan membiarkan michelle berjaga sampai tutup malam ini. Kalian harus berlaku baik, kalian dengar?"

Setelah mereka berjanji dan mengucapkan selamat malam, Sehun berpaling pada Kyungsoo dengan kegembiraan yang sama, ketakutan juga tekad."Oke, katakan padaku apa yang harus kulakukan."

Mata bulat Kyungsoo terlihat benar-benar berbinar dengan nakal dan seringai di mulutnya. "Dia sudah memberikanmu pelajaran menggoda, benar?"

"Ya," jawab Sehun waspada.

"Mudah saja." Kyungsoo meletakkan lengannya dimeja di depannya dan bersandar. " Kau pulang ke rumah, gunakan pelajaran itu dengan baik, dan tunjukkan pada guru bagaimana kau telah menjadi murid yang baik."

~oOOo~

Jongin membuka pintu gym lamanya dan berjalan pelan. Emosi yang campur aduk dari bau yang familiar dan suara yang membawanya ke masa lalu. Masa ketika ia masih muda dan berada dalam kuasa ayahnya.

"Ada masalah apa denganmu? Untuk terakhir kalinya kukatakan, angkat tanganmu!"

Gema suara ayahnya di ruangan besar dan terbuka seperti asam laktat yang memenuhi otot-ototnya, membuatnya tegang dan nyeri. Jongin mengikuti suara yang keluar dari anak SMA di atas ring, sedang berlatih dengan seorang pria yang sudah menjadi angota tim football di kampusnya.

"Perhatikan cara menjatuhkannya! Dia akan me—" pria yang lebih besar melempar tubuh bagian bawah anak itu, membelitkan tangannya diseputar pinggulnya, dan mentakelnya sampai jatuh. Ricky Kim menyuarakan waktu habis dan para petarung memisahkan diri, yang satu menghirup nafas dengan susah payah, yang lain tampak bosan. "demi Tuhan Peterson, kenapa aku bahkan harus repot-repot denganmu?"

"Maaf, Pelatih," katanya, merendahkan tatapannya ke bawah.

"Masih menggertak anak-anak kulihat," Jongin berkata dengan rahang kaku.

Kepala pria tua itu tidak bergerak banyak, tapi matanya menatap dan menyipit pada anak lelaki satu-satunya seperti sedang mengukur musuhnya sebelum akhirnya ia tegak dan menyilangkan tangannya di dada. "Well,well, jika itu bukan anak yang hilang."

"Sudah lama sejak kau membaca Alkitab, Pop. Anak yang hilang kembali ke rumah setelah tersesat dalam hidupnya dan meminta pengampunan ayahnya. Aku tidak kembali. Hanya berkunjung. Dan semua yang sudah kulakukan adalah untuk menjalani hidup yang sudah kau ajarkan kepadaku jadi tidak ada alasan untuk meminta maaf."

"Oh, kau tidak, begitu? Bagaimana dengan meminta maaf atas apa yang telah kuberikan padamu—semua pengetahuan, semua latihan, semua dedikasi—dan meninggalkanku diam-diam saat kau hidup di kehidupan mewahmu di liga besar."

"Aku tidak meninggalkanmu," bentak Jongin. Aku menawarimu untuk keluar bersamaku. Aku punya rumah besar yang bisa kau gunakan untuk dirimu sendiri. Kau menolaknya."

Ricky mendengus. "hidup disana menjadi apa? Seorang mantan petarung yang hidup dengan kemurahan hati anaknya? Tidak terima kasih. Aku seharusnya menjadi manajermu."

Jongin menggeretakkan rahangnya dan mengulang mantra di kepalanya beberapa kali sebelum bebas berbicara lagi. "Dengar, aku tidak datang kesini untuk berdebat. Aku sedang disekitar sini dan kupikir akan menyapa—bicara—tapi jika kau terlalu sibuk tidak apa-apa."

Setelah beberapa saat saling menatap, ayahnya akhirnya mememecah kebisuan. "Perteson. Grady. Pukul karung dulu. Dan kau," katanya lalu menunjuk Jongin, "Ikut denganku."

Jongin mengikuti ayahnya masuk ke kantor kecil yang terdiri dari meja besi usang dan beberapa meja lipat di depannya. Ricky duduk di balik meja di kursi vinyl penyok dengan beberapa lakban perak untuk menambal pinggirannya yang sudah robek. Jongin memutar salah satu kursi dan menungganginya, menyandarkan tangannya ke belakang. Dirinya mengatakan pada diri sendiri untuk bangkit dan pergi. Ia tahu ia tidak akan mendapatkan kehangatan dan kelembutan dari ayahnya. Setidaknya, itulah yang terjadi beberapa tahun silam.

Mungkin ayahnya akan melembut setelah bertahun-tahun. Yah, dan mungkin ibunya akan melewati pintu dan berkata seharusnya ia tidak meninggalkan mereka seperti sepasang sepatu yang sudah tidak ia pedulikan lagi.

Salah satu hal yang ayahnya ajarkan pada Jongin adalah untuk membaca bahasa tubuh orang. Jika kau memperhatikannya—apakah di pertarungan atau diluar—kau nyaris bisa mengantisipasi gerakan lawan atau reaksi mereka padamu.

Pria tua itu bersandar di belakang kursinya dan menyilangkan tangannya di dadanya yang rata. Ia waspada dan tidak senang dengan kejutan kunjungan anaknya. "Jadi kenapa kau kesini? Aku yakin kau tidak menginginkan petunjuk dengan semua pelatih fantastis yang kau miliki di Vegas. Kau datang untuk memamerkan kesuksesanmu?"

"Astaga, Pop, tidak bisakah kau menyingkirkan kebencianmu satu menit saja?" Ketika yang dilakukannya oleh ayahnya hanya mendengus, Jongin bernafas dalam dan mencoba untuk sopan. "Aku akan ada pertarungan. Itu adalah pertarungan untuk memenangkan kembali sabukku dari Diaz."

"Yah, aku tahu itu semua." Ricky menunjuk lengan Jongin. "Bahumu sudah sembuh?"

Kenyataan bahwa ayahnya tahu tentang pertarungannya dan lukanya tidak seharusnya mengejutkannya. Apabila ia menjadi pelatih yang aktif itu masuk akal bahwa ia tetap mengikuti berita olahraga. Tapi jika sialan anak kecil di dalam Jongin tidak membumbung karena bangga mengetahui ayahnya tahu tentang kehidupannya. Anak bodoh.

"Yah, hampir seratus persen. Aku sudah bekerja dengan PT yang terbaik. Ia mengerjakan di setiap otot. Sebenarnya, kau tahu siapa dia. Sehun, adik Oh Suho. Kau ingat?"

Jongin sengaja membawa nama keluarga Oh pada ayahnya untuk sebuah alasan. Saat Jongin meluangkan waktu ia berada di rumah Suho, hubungan antara orang tua sudah menegang.

Ayahnya menggosok rahangnya dengan satu tangan mencoba mengingat kembali. Lalu mendengus. "Sedikit. Agak kurus dan canggung kalau ingatanku benar."

"Tidak lagi," kata Jongin dengan senyum simpul. "Dia sangat mempesona, tidak perlu disebutkan bahwa dia luar biasa. Tapi, yah, salah satunya."

Ricky membungkuk, matanya menyipit, "Kau mencintainya atau semacam itu?"

"Tidak, bukan seperti itu. Maksudku, yah, aku sangat peduli padanya —" Jongin mengumpat saat menghembuskan nafasnya. "Aku berpikir tentang kemungkinan mencoba untuk memulai sebuah hubungan. Lihat saja kemana arahnya."

Ricky menunjuk dengan jarinya. "Sekarang dengarkan aku, anak muda. Kau mungkin sedang berada di puncak karirmu, tapi aku akan dikutuk jika kau tidak bisa menjamin untuk tetap berada di atas selama yang kau bisa dengan usia yang kau miliki. Kau bodoh sekali untuk membuang semuanya hanya untuk seorang yang kau cintai itu."

Jongin menatap pria tua di hadapannya dan menggertakkan rahangnya untuk mencegah dirinya berteriak dan membuat drama. "Aku tidak membuang apapun. Banyak yang tetap berada diatas dan mempunyai hubungan sementara berkarir di UFC. Beberapa malah ada yang menikah."

"Dan berapa dari"—Ricky berhenti untuk membuat catatan di setiap kata berikutnya—"hubungan mereka yang bisa bertahan? Aku akan memberitahumu sekarang, disana hanya ada dua macam pasangan. Tipe yang menyukai gaya hidup, ketenaran, dan suka berpergian. Itu yang mereka bangun dan itu sesuai dengan semua hal yang mereka inginkan untuk memilikinya. Tapi segera setelah semuanya yang kau miliki mengilang, mereka pun akan pergi meninggalkanmu."

"Jadi kau memiliki pasangan yang yang tidak menginginkan kehidupan itu. Mulanya mereka mungkin memang tidak menginkannya, namun kemudian mereka akan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa keadaan akan membaik dan hubungan itu membutuhkan kemudian mereka meyadari mereka pantas memiliki lebih dari pada apa yang yang bisa kita berikan, dan kemudian mereka pergi, juga."

Jongin berdiri dan mendorong kursi menjauh. "Dengar, hanya karena istrimu meninggalkanmu, bukan berarti seluruh dunia dihukum dengan takdir yang sama. Sehun bukan orang seperti itu."

Ricky menggebrak mejanya saat beranjak, membabi buta, dan berdiri tepat di wajah Jongin. "Itu yang kau pikir! Kau berfikir kau mengenalnya. Mencintainya dengan seluruh yang kau punya dan kemudian mereka memutuskan bahwa mereka lebih baik tanpamu dan mereka pergi. Itu kenyataan, Nak! Jadi jangan berpikir kau spesial dan aturan itu tidak berlaku untukmu."

Kemarahan Jongin tersulut dan ia menaikkan suaranya menyamai. "Berpikir aku spesial? Darimana aku pernah memiliki ide seperti itu? Tentu saja bukan darimu. Kau tidak pernah membuatku melupakan aku hanya sebaik kemenanganku selanjutnya."

"Karena itu benar! Kita petarung, Jongin! Itulah kita, yang membedakan kita dengan yang lain."

Jongin kalah dalam pertarungan untuk mengendalikan dirinya dan membiarkan emosinya tak terkontrol. Berteriak, seperti saat ia masih muda, katanya, "Aku menyukai bertarung, tapi aku bukan hanya menjadi petarung! Bukan hanya itu yang bisa aku lakukan!"

"Oh benarkah?" Suara Ricky akhirnya datar, tapi hanya karena dia tidak berteriak bukan berarti tanggapannya tidak tajam. "Aku duga maksudmu adalah sketsa dan patung konyolmu. Seperti yang diinginkan wanita hanyalah seorang pria yang bermain dengan tanah liat setiap bisa di percaya."

Perasaan lama yang terpendam seakan ingin naik ke permukaan, mengancam untuk mencekik nafas dari tubuhnya. Jongin tahu ia sudah melupakan kata-kata ayahnya bertahun-tahun yang lalu, tapi untuk alasan apapun, ketika dia harus berurusan dengan pria tua ini, Jongin merasa ia kembali lagi menjadi anak kecil yang ketakutan.

Ayahnya mengumpat, tenggelam dalam kursi vynil lagi, dan menyeret kedua tangannya pada wajahnya yang lelah. "Kau lakukan apa yang kau mau. Itu hidupmu. Tapi jika kau datang untuk mendapatkan nasihat dariku, ini yang bisa kukatakan: kau memiliki kehidupan dari nyalimu, Nak. Kau mendapat ketenaran, keberuntungan, dan kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan tanpa embel-embel. Tetaplah seperti itu...jauhkan dirimu dari sakit hati."

Jongin mendengus dan membuka pintu kantor, menggelengkan kepalanya. Ia tahu kunjungannya tidak akan berjalan baik, tapi hati nuraninya tidak ingin melupakan ayahnya. Kadang ia berharap hati nuraninya seperti belalang di dalam cerita Pinocchio. Dengan begitu ketika hati nuraninya melakukan hal yang bodoh seperti ini, ia bisa menginjaknya dengan sepatunya.

"Terima kasih untuk waktumu, Pop," ia menegakkan bahunya untuk pergi keluar."Seperti biasa,selalu menyenangkan bicara denganmu."

~oOOo~

Jongin masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke arah kulkas. Dia mengambil dua botol bir, menandaskan botol pertama dalam beberapa detik, dan kemudian membuka yang kedua sembari melangkahkan kakinya ke arah balkon.

Karena apartemen itu gelap, Jongin berpikir Sehun masih berada di bar bersama Kyungsoo, yang mana merupakan hal bagus karena pikiran Jongin sedang kacau dan perlu waktu sendiri untuk dibereskan semuanya.

Jongin meneguk cairan dingin itu dan berharap hal itu dapat mendinginkan emosinya dari dalam. Mungkin Jongin akan mengacaukan dietnya untuk malam ini dan mabuk. Membuat dirinya sendiri kebas dalam beberapa jam jadi dia tak harus memikirkan tentang pertandingannya yang akan segera di gelar atau fakta bahwa ia harus segera meninggalkan Sehun dalam beberapa hari.

Sialan, Jongin bahkan belum memberitahu Sehun. Setiap kali ia mencoba memberanikan diri, semua berakhir dengan dirinya yang mencium Sehun bukan memberitahu pria itu. Dan jelas sekali bahwa hal itu tak akan berujung pada percakapan. Tak satu katapun.

Oh Sehun.

Apa yang akan Jongin lakukan padanya? Jongin tak pernah merasakan apa yang ia rasakan pada Sehun dengan orang manapun, walau hanya sedikit. Jongin bahagia bersama dengan Sehun, dan jelas sekali bahwa ia menyayangi Sehun...meskipun ia merasakan hal yang sama pada Butch, namun apa yang sekarang Jongin rasakan jauh lebih kuat dari rasa sayangnya pada pelatihnya sendiri.

Tapi apakah ini berarti Jongin jatuh cinta pada Sehun? Jongin tak tahu bagaimana ia bisa memastikan hal tersebut. Jongin mengernyit dan meneguk bir-nya lagi. Mabuk sepertinya terdengar semakin bagus.

"Kau terlihat terlalu serius untuk malam yang indah seperti ini."

Terkejut, pria itu berbalik, siap untuk memarahi Sehun karena sudah mengendap-endap dibelakangnya...hingga akhirnya Jongin melihat makhluk paling seksi yang pernah ia lihat. Sehun berdiri di pintu yang terbuka menuju balkon, kedua tangannya memegangi kedua sisi dari kusen pintu, dan satu kakinya di tekuk.

Hingga saat itu, jika di tanya apa yang Jongin pikirkan tentang hal terseksi yang orang bisa kenakan, Jongin akan menjawab lingerie transparan. Tapi Sehun tidak menggunakan lingerie, namun salah satu kemeja Jongin yang menutupi dirinya dari bahu sampai menutupi setengah pahanya mengenyahkan semua pakaian yang mungkin ia pilih dari Victoria's Secret.

Rambut Sehun dibiarkan acak-acakan layaknya Jongin sudah menyusupkan jemarinya ke dalam rambut pria itu dan Sehun memiliki binar cemerlang di mata cokelatnya yang menyatakan dengan jelas tanpa harus berkata-kata.

"Omong-omong soal indah," Jongin berkata serak.

Sehun mulai melangkah mundur dengan perlahan, tapi memberi isyarat pada Jongin untuk mengikutinya dengan gerakan satu jarinya. Menghabiskan sisa bir-nya, Jongin kembali masuk ke dalam apartemen dan menggeser pintu kaca hingga menutup tanpa mengalihkan pandangannya dari Sehun. Ketika Sehun menghilang ke arah kamar tidur, Jongin meletakkan botol bir-nya yang kosong di meja, membuang sandalnya dan berjalan menyusuri lorong hingga Jongin menemukan Sehun berdiri di depan tempat tidurnya.

Tepat sesaat sebelum Jongin melangkah masuk ke dalam kamar, Sehun mengangkat tangan dan memberi isyarat berhenti padanya, "Tunggu," yang secara efektif menghentikan langkah Jongin. "Kau bisa datang ke sini dengan satu syarat."

Jongin menegang dan mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol insting memukulnya. "Dan apa itu?"

"Kau harus melakukan apa yang kukatakan. Jika kau melanggar peraturanku, semuanya akan berhenti dengan segera."

Perlahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Jongin. Sehun mencoba untuk menggodanya. Pria itu menundukkan kepalanya.

"Aku setuju." Untuk saat ini, tambah Jongin dalam pikirannya.

"Kalau begitu kemarilah dan cium aku."

Tiap langkah yang dengan sengaja Jongin buat perlahan ketika menghampiri Sehun, mencoba untuk melihat apakah ia bisa mengambil alih kendali dengan intimidasi seperti itu. Jongin tak bermaksud untuk mengacaukan usaha pertama Sehun dalam memegang kendali. Jongin ingin menguji Sehun. Memaksanya. Melihat apakah Sehun bisa membuat Jongin tetap mengikuti peraturannya. Oh yeah, Jongin pikir ketika ia tiba dihadapan Sehun, semuanya akan jadi menyenangkan.

Jongin menyusupkan satu tangannya ke tengkuk dan melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Sehun tepat sebelum mencium bibir pria manis itu. Dan ia melakukannya dengan jantan. Merengkuh rambut Sehun, Jongin mengarahkan kepalanya dan mendorong lidahnya masuk untuk menikmatinya. Tubuh Sehun meleleh dalam pelukan Jongin dan ia berpikir apakah usaha Sehun untuk menggodanya belum benar-benar berakhir.

Tak lama pikiran itu terbang menghilang ketika Sehun mendorong dada Jongin untuk melepaskan pelukan Jongin darinya. Mereka saling menatap satu sama lain, dada naik turun karena napas yang berat. Bibir merah delimanya, sedikit bengkak karena ciuman dari Jongin, mengundang. Sehun hanya beberapa inchi jaraknya dari Jongin dan ia sangat menginginkan Sehun. Petarung dalam tubuhnya menyentakkan rantai yang menahannya dalam perjanjian yang sudah Jongin setujui sebelumnya, ingin mengambil alih, kembali memegang kendali.

Namun Jongin menunggu. Menunggu hingga bibir tipis yang kini bengkak itu menguak senyuman nakal yang paling seksi. Penantian yang menjanjikan hadiah yang paling menggairahkan, yang mana menjadi kesukaannya. Mungkin kesabaran merupakan sesuatu yang bagus.

Sehun menuntun Jongin hingga punggung Jongin berada di tempat tidur. Menarik keliman dari T-shirt yang Jongin kenakan, perlahan Sehun menariknya ke atas. Buku jari Sehun hanya sedikit menyentuh kulit Jongin namun sensasi yang terasa seperti listrik yang menyengat langsung ke bolanya.

Setelah Sehun membebaskan Jongin dari kaosnya, Sehun meletakkan tangannya di bahu Jongin dan menyapukannya ke tiap inchi dari tubuhnya, jemari Sehun bergerak mengikuti tekstur otot Jongin seperti halnya ia berusaha menyimpan itu ke dalam memorinya.

Selanjutnya kedua tangan itu bergerak menuju sabuk dan kancing celana jeans Jongin. Jongin sudah setengah ereksi hanya dengan melihat Sehun mengenakan kemejanya dan menciumnya membabi-buta, tapi dengan tangan Sehun berada begitu dekat dan rasa antisipasi dari hal yang akan terjadi, kini kejantanannya sudah siap dan menggeliat ingin keluar.

Saat Sehun menurunkan jeans Jongin, ia bersimpuh di lantai mengirimkan gambaran erotis ke otak pria itu dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan Sehun berada di posisi seperti itu. Setelah jeans terlepas tangan Sehun kembali ke paha Jongin dan tatapan matanya mencari mata Jongin. Bibir Sehun begitu dekat dengan ereksi Jongin hingga ia bisa merasakan kehangatan dari napasnya melewati kain celana dalamnya, membuat Jongin semakin keras, lebih keras dari apa yang mungkin ia pernah pikirkan.

Mata Sehun tak pernah melepaskan tatapan pada Jongin ketika ia mengarahkan bibirnya ke atas kejantanan Jongin dan menggunakan giginya untuk menyentuh di bagian kepalanya. Terdengar erangan dari dalam tenggorokan Jongin dan kejantanannya bergerak merespon.

"Ah sialan. Kau membunuhku," teriak Jongin.

Sehun tersenyum ke arah Jongin, jelas begitu bangga pada dirinya sendiri, memang sudah seharusnya. Entah karena Sehun merupakan seorang yang natural yang baru saja keluar dari dalam cangkangnya, atau Jongin merupakan guru yang lebih baik daripada yang Sehun pikirkan.

Jemari Sehun mengait di celana dalam Jongin dan sedetik kemudian Jongin berdiri menjulang, benar-benar telanjang, ereksinya mencuat dari tubuhnya menunjuk ke arah yang seharusnya. Mata cokelat Sehun terlihat seperti perak cair, membakar Jongin saat mata itu menatap ereksinya.

Dengan perlahan Sehun menggunakan ujung jemarinya untuk mengeksplorasi konturnya dari pangkal hingga ke ujung. Gesekan dari kulit Sehun dan goresan lembut kukunya ketika jemari itu di gerakkan melewati kepala kejantanan Jongin yang membengkak membuat pria itu hampir gila. Secara naluriah tangan Jongin membungkus kepala Sehun, menyentuh rambutnya, siap untuk memandu bibir manis Sehun ke arah kejantanannya.

"Tidak," kata Sehun tegas. "Berpeganglah pada tiang ranjang."

Jongin memberikan Sehun senyuman masam sembari mengikuti perintahnya. Jongin sudah lupa akan siapa yang seharusnya memegang kendali. Sudah kebiasaaan.

"Letakkan tanganmu di sana. Jika kau menggerakkannya sedikit saja, aku akan menghentikan apapun yang kulakukan."

Ketika Sehun menaikkan alisnya untuk menanyakan apakah Jongin mengerti konsekuensi dari pelanggaran, Jongin mengangguk. Kemudian berharap bahwa Jongin tidak meledak seketika saat bibir Sehun menyentuh kejantanan Jongin untuk pertama kalinya. Kembali berlutut, Sehun melingkarkan satu tangan lembutnya di pangkal ereksi Jongin, memposisikannya ke mulut. Setetes precum muncul dari ujungnya.

Jika selama ini Jongin pikir Sehun ragu atau malu tentang sesuatu yang begitu mendalam, dia salah. Malah, kilatan lapar terlihat dari mata abu-abunya ketika Sehun menyapu ujung ereksinya dengan satu jilatan panjang. Jongin mendesis, rasa dari lidahnya yang lembut dan dikombinasikan dengan melihat Sehun melakukan itu-bukan orang sembarangan, tapi cintanya— berlutut didepannya, dikategorikan sebagai hal yang paling erotis yang pernah Jongin alami.

Akhirnya Sehun membuka bibirnya yang manis dan membungkus ereksi Jongin sejauh yang bisa ia masukkan, lidahnya menyapu dan memijat lembut, pipinya cekung karena hisapan yang ia buat dengan bibir merah delimanya dengan segenap tenaga sebelum menelan Jongin lagi.

Menit selanjutnya terpecah menjadi fragmen keabadian ketika Sehun menyiksa Jongin dengan siksaan yang manis. Mulutnya yang panas dan lidah yang penuh dosa membuat enam ratus empat puluh ototnya tegang seperti busur. Pada satu saat, Jongin takut akan mematahkan tiang ranjang Sehun, tapi ia tak bisa melepaskan pegangannya karena takut Sehun akan berhenti dan ia akan kehilangan sedikit kewarasan yang masih tersisa.

Kegembiraan yang meluap yang Sehun berikan pada Jongin terasa seperti seseorang telah menjatuhkan korek api ke dalam ruang yang penuh dengan kembang api. Di mulai dengan satu atau dua percikan, tapi percikan itu segera merambat ke samping, dan sampingnya lagi dan lagi, hingga tubuhnya terasa seperti perayaan Empat Juli.

Klimaks menghantamnya begitu cepat dan keras hingga Jongin tak punya kesempatan untuk memperingatkan Sehun. Jongin mencoba untuk melakukan hal yang seharusnya pria jantan lakukan dan menarik diri, namun Sehun memegangi pantatnya dan menancapkan jemarinya sembari menelan Jongin dalam-dalam. Semua kehendak sopan yang ingin Jongin lakukan berubah menjadi asap bersamaan dengan sengatan kuku Sehun didagingnya dan, mendongakkan kepalanya ke belakang dan pinggulnya ke depan, Jongin meraung ketika ia klimaks hingga Sehun menelan setiap tetesan yang Jongin berikan.

Saat bintang mulai menghilang dari pandangannya, Sehun berdiri dan mundur perlahan, menelusuri jemarinya ke atas kerah kemeja yang terbuka yang ia kenakan.

"Apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku sedang mengurusmu." Sehun duduk dengan eskpresi wajah serius di atas kursi untuk meja rias yang berada di depan tempat tidur. "Sekarang aku akan mengurus diriku sendiri."

"Aku yakin itu adalah hakku," kata Jongin, melepaskan tiang ranjang.

Sebelum Jongin maju, Sehun menggerakkan jemarinya ke kiri dan ke kanan. "Ah-ah-ah. Jadilah anak baik dan tetap diam di tempatmu berada."

"Anak baik?" Jongin mendengus. "Biarkan aku datang kesana dan aku akan menunjukkan padamu seberapa dewasanya diriku, sweetheart."

Sehun melepaskan kancing paling bawah dari kemeja yang ia kenakan. Kemudian selanjutnya menunjukkan celana dalamnya yang berwarna biru. Sehun memberikan Jongin senyuman licik dan berkata, "Jika kau ingin membuktikan padaku seberapa dewasanya dirimu, maka kau akan melawan insting yang menggerogotimu dan tetap diam. Dimana. Kau. Berada."

Pintar. Sekarang jika Jongin bergerak dia akan mendapat sebutan perempuan. Dan semua karena Jongin begitu menginginkan Sehun lebih daripada ia menginginkan udara saat itu. Saat semua ini sudah berakhir ia akan memberi tahu Sehun bahwa dalam keadaan apapun ia akan menggoda mulai sekarang. Sepanas menonton Sehun memainkan permainannya, Jongin adalah seseorang yang gila kontrol dalam seks. Setelah ini, dia akan mencari minuman di waktu istirahat mereka. Jongin tak sabar menunggu.

Kemudian hal itu menyadarkannya. Tak banyak waktu yang tersisa untuk bercinta dengan Sehun. Berdasarkan jadwal mereka, Sehun dan Jongin hanya memiliki beberapa waktu lagi untuk bersama, maksimal. Kenyataan itu menghantam Jongin layaknya pukulan ke solar plexus, hampir membuat Jongin pingsan.

Jangan pikirkan hal itu sekarang. Jongin tak ingin apapun mengganggu waktu berharga yang ia miliki dengan Sehun. Jongin akan membuat tiap detiknya berharga hingga bel terakhir dibunyikan.

"Sesuai keinginan anda, tuan muda."

Satu kancing lainnya terbuka, bersamaan dengan tawa hangat Sehun. "Aku suka film itu. Jadi sekarang kau adalah farm boy-ku, begitu kah?"

Jongin menaik-naikan satu alisnya sebagai jawaban membuat Sehun terkikih lagi, tapi kemudian Sehun menggerakkan kepalanya ke samping dan berekspresi tenang kembali.

"Kau tahu, semanis dan seheroik Wesley, aku tak bisa membuat diriku sendiri berpura-pura kau adalah orang lain." Kancing terakhir yang menyatukan kemeja itu, tergelincir dari lubangnya dan kemeja itu terbuka menunjukkan dada Sehun yang mulus. "Kau, Kim Jongin, adalah yang kuinginkan."

Meskipun otaknya mencoba untuk berkata bahwa yang Sehun maksud adalah disini dan saat ini-karena bukanlah rahasia siapa yang Sehun inginkan sebenarnya selama ini-Jongin tak bisa menghentikan jantungnya berdetak kencang seakan melompat dari dadanya.

"Itu bagus, Sehun. Karena kau adalah yang kuinginkan juga." Sekarang dan setiap hari setelahnya. Sialan, Jongin harus berhenti berpikir seperti itu. Jongin harus berhenti berpikir panjang dan membiarkan dirinya bebas untuk saat itu. Untuk pasangan yang ia miliki saat itu.

"Mmm," Sehun mengerang saat ia memainkan puting di antara jempol dan jari telunjuknya. "Seberapa besar?"

Mata Jongin melekat pada dada Sehun saat pria manis itu melanjutkan memainkan dan memanjakan putingnya. "Seberapa besar apanya?" kata Jongin serak.

Sehun bersender di dinding. Satu tangan turun keperutnya yang rata menuju kemaluannya dan mengelus kain biru nan tipis disana. "Seberapa besar kau menginginkanku?"

Seluruh tubuh Jongin bergetar karena menahan tubuhnya tetap berada di tempat. Tangannya mengepal karena rasa gatal untuk menyentuh kulit Sehun yang lembut. Mulut Jongin berair karena memikirkan menghisap tonjolan di dada Sehun dan menjilati cairan di antara kakinya.

Menarik celana dalam itu ke samping Sehun menggunakan tangannya yang lain untuk mengelus bibir lembut kemaluannya, menyisipkan satu jari diantaranya untuk menyentuh pusat basah. Sehun terlihat seperti keluar dari mimpi basah Jongin. Pantat yang bertengger di pinggir kuris dan bersandar dengan bahu yang menekan dinding. Kemejanya terbuka dan tergantung dibahunya dengan rambut yang acak-acakan. Dan kaki kurus Sehun terbuka lebar, tertumpu pada tumitnya, sementara jemarinya mengeksplor surga dunia bagi Jongin.

"Sangat ingin." Suara Jongin lebih rendah dari biasanya dan Jongin menyadari suara itu lebih terdengar seperti geraman. Pria manis itu mengeluarkan sisi binatang Jongin lebih dari yang lainnya.

Jari tengah Sehun dimasukkan ke dalam holenya, matanya menutup dan punggungnya melenting bersamaan dengan gerakan memutar yang jarinya lakukan. Saat Sehun mengeluarkan jarinya, tubuhnya kembali rileks dan matanya berkedip terbuka. Kemudian Sehun menatap Jongin dengan pandangan genit sembari membawa jari itu kemulutnya dan melumasi bibir bawahnya dengan cairannya sendiri. Jongin mendengar raungan keras dan membutuhkan waktu satu detik baginya untuk menyadari bahwa raungan itu berasal dari dalam dirinya sendiri.

"Seberapa ingin?" Sehun bertanya sebelum menjilat bibirnya dengan ujung dari lidahnya.

"Sangat ingin hingga terasa menyakitkan." Jongin melirik kejantanannya yang sudah tegang lagi dengan begitu cepat setelah Sehun membuatnya orgasme dengan mulutnya, kemudian kembali melihat pada Sehun. "Secara harafiah."

Senyuman menggoda terkuak di wajah Sehun. "Kalau begitu kemarilah dan tangkap aku, tampan."

Jongin bergerak secepat yang ia lakukan di octagon, membuat jarak beberapa kaki di antara mereka terasa seperti hanya beberapa inchi. Tangan Jongin menyusup ke dalam rambut Sehun di sisi lain wajahnya dan ia membungkuk untuk menaklukkan bibir Sehun dan menghisap sisa-sisa yang Sehun tinggalkan dibibirnya. Ciuman mereka tidaklah pelan ataupun lembut, tapi dalam dan dahsyat, secara konstan merubah posisi saat mereka menikmati satu sama lain.

Akhirnya Jongin melepaskan mulutnya dari mulut Sehun untuk bersimpuh di antara kakinya. Jongin menarik tangannya ke bawah tubuh Sehun hingga mereka mencapai kedua putingnya dimana kedua tangan itu mulai mencubit putingnya yang membengkak, membuat Sehun menggeliat di kursi dan napasnya semakin cepat.

"Kau sangat indah," kata Jongin, sesaat sebelum ia menutup mulutnya di sekitar puting yang mengeras dan menghisapnya keras.

Sehun merintih dan memegangi kepala Jongin, kukunya yang sedikit agak panjang menggores kulit kepalanya melewati rambut Jongin yang pendek, mencoba untuk menariknya lebih dekat. Jongin meletakan tangannya di punggung Sehun, memeganginya agar tak terjatuh. Bergantian satu dengan lainnya, Jongin mencium bagian itu sama seperti ketika ia mencium mulut Sehun, dengan lidah menjilat, gigi yang menyentuh kulit, bibir menghisap.

"Oh, Tuhan, Jongin..."

Perut Sehun menekan dada Jongin dengan kakinya yang mengait di punggung Jongin tepat di bawah tangan Jongin. Dan diantaranya, pinggul Sehun menempelkan ereksinya yang panas di otot Jongin,menggesekkannya,mencari-cari orgasme.

Jongin mencium jalannya ke atas tubuh Sehun, menguak suara erotis dari dalam tenggorokan pria manis dihadapannya. Menyematkan satu ciuman terakhir tepat di atas jantung Sehun, Jongin mengangkat kepalanya dan menemukan Sehun sedang menatapnya dengan Tatapan Itu-tatapan yang memberi isyarat pada seorang pria ketika seorang pasangannya meninggalkan Kota Mari Bersenang-Senang dan berjalan lurus menuju Mari Pilih China Town-tertulis di seluruh wajahnya yang cantik.

Normalnya, Tatapan itu membuat Jongin melupakan keperluan yang mendesak dan berlari ke arah sebaliknya. Jongin memperlajari ekspresi Sehun untuk beberapa saat, menunggu untuk respon familiar untuk melaju lebih jauh. Tapi semua yang Jongin rasakan adalah keinginan untuk memeluknya erat. Kebutuhan untuk bercinta dengan Sehun hingga otot terasa lelah dan memaksa mereka beristirahat.

Itu adalah saat yang Jongin maksud,Jongin tahu bahwa meskipun ia memiliki janji sungguhan, ia akan mengabaikannya hanya untuk tetap tinggal bersama Sehun. Itu adalah saat dimana ia tahu bahwa ia mencintai Sehun.

"Jongin?" kata Sehun lembut. "Kau menatapku dengan aneh."

"Benarkah?"

Lucie mengangguk.

Jongin melepas kaosnya, kemudian mengangkat Sehun dengan tangannya saat ia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah Sehun diletakkan di tengah tempat tidur, Jongin memanjat ke atas ke samping Sehun dan meletakkan satu tangan ke bawah kepalanya sementara tangannya yang lain menggambar pola sederhana di atas tubuh Sehun. "Aneh bagaimana?"

"Aku tak yakin. Aku bahkan belum pernah melihat tatapan itu sebelumnya." Napas Sehun menjadi lebih dalam dan putingnya mencuat saat Jongin memainkan jemarinya di sekitar dada Sehun.

"Aku tak yakin ada sembarang orang yang pernah melihat tatapanku itu...tapi kau bukan sembarang orang, benar kan?" Jongin mengecup bahu Sehun dan mengangkat kepalanya untuk melihat alis mata Sehun yang membeku dan bibir bawahnya yang terpenjara di antara giginya. "Kau spesial. Kau tahu itu kan,Hun?"

Sehun tersenyum dan mengangguk. Sehun berbohong. Senyumannya adalah salah satu senyuman yang paling sedih yang pernah Jongin lihat dan itu membunuhnya karena ia tahu Sehun masih merasakan ketidakamanan. Ketidakamanan yang tidak ada urusan dengan seorang yang luar biasa seperti Sehun. Jongin menganggap itu sebagai hinaan pribadi. Satu hinaan yang akan ia benahi.

~oOOo~

To. Be. Continued.

~oOOo~

Mwahahaha gimana? Udah panas belom? Gemes kan ya liat KaiHun mereka gini mulu.

Dan sepertinya tinggal 2-3 chapter lagi kita akan berpisah dengan story satu ini. Huhu sedih yaaa~ tapi senangnya utang ff remake ane berkurang satu. Wkwk

Jadi bagaimana kelanjutan ceritanya?

Well~ ditunggu dinext chapter berikutnya yaa~

Buat yang udah baca jangan lupa review ^^;

Thank you~

Ah ya dan sedikit mau tanya juga, disini ada yang nonton EXO Luxion tanggal 27 feb nanti? Ada yang mau bareng? Mwehehehe

Team Blue nih. Hehehe

Kalo mau bareng yuk~ bukan lagi mau promo yaaa~ tapi emang yaa siapa tahu ada yang mau bareng gitu. Atau mau saling sharing aja juga boleh kok. Add line (0420_cha) hehehe

Ps : sebelumnya pernah salah ngasih ID di ff sebelah,wkwk *peace*

.

.

Thanks to review CH 9 :

VampireDPS , izz sweetcity , BraveKim94 , yeon1411 , Ilysmkji , Sekar Amalia , YunYuliHun , Icha , fyodult , overflakkie , kaihunlicious , mamasehun1214 , hanhyewon357, Zelobysehuna , Kim Jonghee , KaiHunyehet , Keteknyakai , utsukushii02 , dia luhane , ParkJitta.