Sebelumnya, ketika Sehun sedang menunggu Jongin pulang ke rumah dengan gelisah, Sehun sudah membuat keputusan. Tak akan lagi ia mengabaikan apa yang ada didepannya hanya karena teori kecocokan yang menggelikan yang didasarkan oleh hubungan yang gagal. Itu adalah saat untuk jujur dengan dirinya sendiri—jujur pada Jongin—dan memeluk perasaan yang sebenarnya untuk pria yang mengenalnya lebih dari pria lain.
Dan waktunya adalah sekarang. Jongin memperhatikan Sehun dengan intensitas yang tak pernah Sehun sadari. Mata Jongin, lingkaran berwarna cokelat terang dengan campuran warna hitam, menatap ke dalam mata Sehun. Insting Sehun begitu kuat untuk mengalihkan pandangannya, untuk melindungi dirinya sendiri bukan hanya untuk melawan Jongin, tapi untuk melawan apa yang ia rasakan pada pria itu. Itu semua karena insting yang dia pegang teguh...dan membiarkan Jongin masuk.
Sehun bergetar pelan saat ia berbaring di sana, jantung dan jiwanya terekspos pada seorang pria dengan kekuatan yang dapat menghancurkan keduanya. Tak pernah ada keraguan bahwa Sehun mencintainya, tidak saat ia merasa begitu peka, begitu takut. Kulit tebal di ujung jemari Jongin mengelus pipi Sehun sebelum masuk ke dalam rimbunan rambutnya. Wajah tampannya hanya beberapa inchi jauhnya dari wajah Sehun namun rasanya seperti bermil-mil jaraknya.
"Sayang, kau gemetar," Jongin berbisik.
"Tidak, aku tidak gemetar."
Jongin tersenyum sembari menyundul pipi Sehun dengan hidungnya dan mengecup rahangnya. "Yeah, kau gemetar. Jangan khawatir...Aku akan mengurusmu."
Sebelum otak Sehun bingung akan yang di maksud oleh Jongin tentang mengurusnya selama enam puluh menit atau enam puluh tahun dari saat itu, Jongin sudah mengklaim bibir Sehun dalam ciuman yang sangat sensual abad itu dan menghancurkan segala harapan aktifitas otaknya selama beberapa saat ke depan.
Bibir Jongin bergerak di atas bibir Sehun, mengeksplor lekukan dan kontur, giginya mengigit lembut, merasakan penuhnya bibir bawah Sehun, dan lidahnya menelusuri lekukan dalam bibir atas Sehun. Setiap kali lidah Sehun bergerak maju, Jongin mundur, tak membiarkan Sehun berpartisipasi dengannya. Berkali-kali Sehun mencoba untuk membalas ciuman Jongin, tapi dengan ahli Jongin menghindari usaha Sehun sambil melanjutkan eksplorasinya.
Frustasi dan gairah seksual meningkat di dalam intiya. Tangan Sehun memegangi kepala Jongin untuk menahannya di tempat dan Sehun menghadiahkannya dengan ciuman yang begitu dalam. Sehun mengerang, merasakan dirinya sendiri di lidah Jongin. Sebelum Jongin, Sehun tak pernah tahu betapa nikmat yang seorang pria dapat berikan pada ereksi nya. Dan Sehun tak pernah berimajinasi betapa ia sangat suka mencium Jongin setelah ia melakukan hal itu. Kemenangan kecil Sehun tak bertahan lama. Setelah beberapa saat, Jongin memegang kedua pergelangan tangan Sehun dan menahannya di matras di atas kepalanya sembari Jongin bergerak ke atas Sehun.
Pinggul Jongin ditempatkan di tengah paha Sehun, ereksinya yang besar meringkuk di antara lipatannya bertabrakan dengan milik Sehun. Jongin merundukkan kepalanya untuk mengecup leher Sehun dan membuat jalur dengan jilatan menuju telinganya. Jongin mengigit lembut telinga Sehun dan menghisapnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan. Melepaskannya, kemudian Jongin berbicara, napasnya yang hangat menyapu kulit Sehun.
"Sehun, kau membuatku gila, kau tahu itu? Kau tak tahu seberapa berat aku mengontrol diriku sendiri agar tidak menyetubuhimu dengan kasar layaknya pria gila."
Sehun melentingkan tubuhnya, mendukung Jongin. "Tak perlu menahan diri. Setubuhi aku," Sehun memohon.
Menaikkan tubuhnya ke atas untuk melihat ke dalam mata Sehun, Jongin berkata, "Oh, tentu aku akan melakukannya. Tapi kali ini aku akan menikmati tiap momen yang terjadi. Aku akan menikmati waktuku dalam menyayangimu malam ini."
Sehun membuka mulutnya untuk berargumen saat Jongin memposisikan pinggulnya, memasukkan ereksinya hingga menyentuh dan menggosok hole Sehun, dan argumen Sehun berubah menjadi erangan nada tinggi.
"Tak boleh bicara. Hanya merasakan." Jongin mengulangi gerakan itu, membuat Sehun melihat bintang-bintang. "Mengerti?"
Sehun mengangguk. Dia akan menyetujui apapun selama Jongin tetap melakukan gerakan itu padanya. Jongin mencium ke bawah tubuh Sehun, meninggalkan jejak basah di atas dadanya, turun ke bawah, dan melewati perutnya. Tangan Jongin membuka paha Sehun lebar, membuka selebar-lebarnya. Sehun melirik tubuhnya saat Jongin meletakkan kepalanya tepat di atas ereksi nya, napasnya berhembus di atas kulitnya yang basah dan mengirimkan sensasi getar kenikmatan yang membuat putingnya mengeras. Saat ini Jongin membuka matanya, menaikan tingkat keintiman ke dalam setiap aksinya di mulai dengan memberikan jilatan panjang di inti Sehun.
"Salah satu hal yang kusukai adalah membawamu ke batas orgasme," kata Jongin, suaranya rendah dan kasar. "Ekspresimu sesaat sebelum kau orgasme adalah pesona yang murni." Jilatan lain dari lidah Jongin dengan jentikkan di atas penis Sehun.
"Oh!"
"Benar begitu, sayang. Lihatlah aku. Lihat aku bercinta denganmu menggunakan mulutku." Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Jongin sebelum melakukan apa yang ia maksud dengan baik. Jongin menjilat dan menghisap layaknya ia sedang mencium bibir Sehun, menggumamkan apresiasi pada rasa Sehun.
Sehun terengah-engah dan mengepalkan tangannya di atas selimut. Pinggulnya mulai menghentak secara insting melawan lidah Jongin, membutuhkan gerakan yang konsisten dipenisnya untuk menyamai denyut di dalam yang semakin cepat.
"Oh, Tuhan, aku butuh kau di dalam tubuhku," Sehun berteriak. "Jongin, please!"
"Belum," kata Jongin dengan suara yang sama tersiksanya dengan Sehun. "Batas. Kau belum sampai disana."
Apa Jongin bercanda? Sehun sangat merasakan dia sudah dalam batas. Jika Sehun tak mendapatkan sesuatu di dalam tubuhnya dalam beberapa detik, Sehun akan lepas kendali.
Jongin menggantikan lidahnya dengan dua jari, dengan cepat menggosok bola kembar milik Sehun dan menggigit paha bagian dalamnya. Kilauan keringat kini melapisi tubuh Sehun dan aroma gairah Sehun tercium di udara mengkonfirmasi keahlian oral Jongin. Jongin membuat Sehun hampir gila dan menikmati tiap detiknya.
Sehun melepaskan selimut untuk menstimulasi putingnya dan meramas dadanya sendiri. Sehun terlalu minder untuk bermain dengan bagian tubuhnya sendiri sebelumnya, tapi keinginan untuk menyentuh bagian-bagian itu terlalu besar. Puntiran yang Sehun berikan pada putingnya langsung berdampak pada pusatnya, dan ketegangan diperutnya mengencang lagi dan lagi.
Pandangan Sehun mulai tidak fokus, tapi ia mendengar Jongin meraung, "Luar biasa indah" sambil bergerak ke atas dan memasuki tubuhnya saat Sehun mencapai batas yang ia maksud dan melewatinya.
Tak bisa menahan dirinya sendiri, Sehun berteriak dan melenting ke arah Jongin saat penisnya meledak dan melesakkan ereksi besar Jongin yang kini memenuhi lubang kosong dalam tubuh Sehun. Jongin mengerang di leher Sehun dan mengencangkan lengannya di sekitar tubuh Sehun saat terusan tubuh Sehun mengejang dan bergetar yang mengirimkan gelombang ke seluruh tubuhnya dari ujung kakinya hingga akar rambutnya.
"Sialan, kau terasa luar biasa."
Sehun menyetujuinya, tapi bahkan kata paling simple tampak sulit diucapkan baginya. Saat Sehun sadarkan diri, terbungkus dalam euforia yang tak pernah ia tahu ada, mulut Jongin menangkap mulutnya dalam ciuman yang manis dan lemah. Hilang dalam paska klimaks yang berkabut dan tarian sensual lidah mereka, tubuh Sehun mengejang merespon ketika Jongin mulai menarik, ereksinya yang besar menggosok dinding sensitif kemaluannya.
Setelah Jongin hampir keluar dari dalam tubuhnya, ia kembali masuk, pelan dan hati-hati, hingga Sehun menerima seluruh kejantanannya lagi. Sehun terkesiap dan mendongakkan kepalanya, menyudahi ciuman mereka. Sensasinya terlalu berlebihan, terlalu cepat. Sehun tak kan pernah selamat.
Sehun meletakkan tangannya di bahu Jongin dan mendorong dengan kekuatan yang setara dengan bayi burung, matanya memohon. "Jongin, aku tak bisa..."
"Shh," kata Jongin di bibir Sehun. "Ya, kau bisa." Jongin melepaskan tangan Sehun, mengaitkan jemari mereka, dan menaruhnya di atas kepala Sehun saat ia mulai menarik tubuhnya lagi. Menahan dirinya sendiri di pintu masuk tubuh Sehun, Jongin berbisik, "Percaya padaku." Itu bukanlah pernyataan arogan.
Menatap ke dalam mata Jongin, Sehun menyadari itu adalah permohonan. Sama halnya Jongin mengatakan, Percaya padaku untuk memberimu kepuasan. Percaya padaku untuk menjagamu. Dan Sehun berharap, Percaya padaku untuk mencintaimu.
"Aku percaya padamu."
Bibir Jongin menghantam bibir Sehun dalam ciuman yang memabukkan saat Jongin memasukkan tubuh sepenuhnya. Sehun berpikir cepat bahwa ini pasti merupakan definisi dari nikmat yang sakit, ingin mendorong Jongin menjauh dan menariknya mendekat pada saat bersamaan.
Tapi hanya perlu beberapa saat sebelum kenikmatan mencengkramnya dan yang ia pikirkan adalah rasa dari tubuh Jognin bergerak dalam tubuhnya, melengkapi Sehun seperti tak ada hal lain yang bisa melakukannya.
Waktu berhenti, putaran dunia berhenti dalam dunia mereka sendiri ketika mereka bercinta selamanya. Tubuh mereka, keringat licin, bergerak menjadi satu, sama carinya dengan ombak lautan yang bergulung.
Gerakan tubuh Jongin yang perlahan dan menyiksa akhirnya musnah, pinggulnya bergerak lebih cepat, napas mereka menjadi lebih pendek. Akhirnya ketegangan yang familiar mulai terkumpul dalam tubuh Sehun, membesar dan menyebar dengan tiap hentakan kejantanan Jongin hingga gairahnya menghabisi Sehun, memilikinya.
Tak dapat di percaya, Sehun datang lagi, nama Jongin terkuak dari bibirnya. Tapi mengingat yang terakhir membawa Sehun dengan intensitas yang kejam, orgasme kali ini membawa Sehun ke dalam ketidaksadaran yang sempurna yang tampak tak kan berakhir.
"Ya Tuhan...Sehun," erang Jongin, ototnya menegang dan gemetar bersamaan dengan ejakulasinya. Dan saat Jongin menebarkan benih di dalam tubuh pria manis itu, Sehun membayangkan Jongin juga menyebarkan cinta dihatinya.
~oOOo~
Jongin merengkuh tubuh Sehun yang tertidur dan membiarkan dirinya mengingat setiap detail dari semua ini. Bagaimana tubuh Sehun terasa pas di lekuk bahunya. Bagaimana, ketika malam hari, pria manis itu menaikan kedua kakinya ke atas pinggulnya, seakan-akan ia takut Jongin akan melarikan diri apabila ia tidak melakukannya. Bagaimana rambut Sehun menutupi lengannya, serta tangan pria manis itu yang bersandar di atas dadanya.
Mereka bercinta dan mengobrol selama berjam-jam tadi malam, menjajaki satu sama lain dengan cara yang tak pernah dilakukan dengan siapapun sebelumnya. Bahkan meski akhirnya Jongin sadar jika ia mencintai pria manis itu, ia tahu waktunya sangat terbatas, tapi ia memutuskan untuk membiarkan fantasinya bermain dalam bayang-bayang malam. Ia ingin terus terjaga, untuk memanfaatkan setiap detik waktunya bersama Sehun, tapi akhirnya mereka tertidur ketika jam menunjukan dini hari. Dan saat ini, cahaya matahari pagi menerobos melalui jendela kamar tidur, mengusir jauh-jauh fantasinya, dan kembali menyadarkannya pada kenyataan yang menyakitkan.
"Hai."
Suara serak Sehun di pagi hari membuat jantung Jongin berdetak lebih kencang. Namun ketika pria manis itu mengangkat kepalanya dari dada Jongin dengan senyuman nakal, jantungnya mungkin sudah berhenti sepenuhnya.
Sehun menyandarkan dagunya diatas tangannya dan tampak puas memperhatikan sosok Jongin. Bulu mata indahnya tampak menutup setengah dan bibirnya sedikit bengkak karena tidur, atau mungkin karena ciuman dan gigitan Jongin beberapa jam yang lalu. Rambut hitamnya berantakan, dan bahkan tampak kusut di beberapa bagian, namun tetap membingkai wajahnya dengan indah.
"Hai juga. Apa kau tidur nyenyak?"
Senyuman nakal Sehun berubah menjadi senyuman lebar layaknya kucing Cheshire. "Sangat nyenyak." Ia bergerak sedikit dan memberikan sebuah ciuman lembut di bibir Jongin sebelum kembali meringkuk di sisi Jongin dan mengerang. "Bisakah kita mengambil hari libur dan tetap berada di tempat tidur?"
Sehun tidak memiliki pertanyaan yang lebih baik untuk menyadarkan sebuah kenyataan bahwa Jongin tidak hidup dengan standar normal yang mana sesekali membolos bukanlah masalah besar. Jongin memejamkan matanya dan mencium ujung kepala Sehun, memberikan satu remasan terakhir sebelum berajak dari tempat tidur. Meraih jeansnya dan menghentaknya sambil berkata, "Maaf sayang, tapi aku tidak bisa mengambil hari libur, dan kita tidur terlalu larut."
"Ugh, kurasa kau benar. Oke, ini rencananya," kata Sehun sambil berlalu ke kamar mandi. "Kau bisa lari pagi dan saat kau kembali aku sudah selesai dengan yogaku, meminum kafein yang kuperlukan untuk hari ini, dan melakukan beberapa panggilan telepon."
Jongin meraih kemejanya dan menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka ketika ia mendengar air dari westafel mengalir. "Panggilan telepon apa?"
Sehun muncul dari kamar mandi dengan jubah mandi yang pendek, menyikat gigi dan tersenyum. Berhenti cukup lama untuk bicara dengan mulut penuh pasta gigi, "Aku harus membatalkan kencanku malam ini dengan Chanyeol sebelum aku lupa. Kau bisa bayangkan bagaimana jika dia datang lalu aku membatalkannya?" kemudian Sehun menambahkan dengan nada bernyanyi yang lucu.
"Kaaccaauu." Kata Sehun sambil kembali ke kamar mandi.
Jongin tertegun mendengar kata-kata Sehun tentang pembatalan kencannya dengan pria itu…tapi hanya bajingan egois yang tak ingin melihat orang yang dicintainya terlihat bahagia, meskipun itu berarti ia tidak bisa bersama wanita itu. Sial.
Jongin membersihkan tenggorokannya untuk mengucapkan tiga kata tersulit yang tidak pernah diucapkannya. "Kau tidak harus membatalkannya."
Sehun menjulurkan kepalanya dari pintu yang setengah terbuka, kedua alisnya berkerut. Ia menarik sikat gigi dari mulutnya lagi.
"Apa maksudmu aku—" busa biru menetes dari dagu Sehun. "—Ih, tunggu." Ketika Sehun kembali menunduk untuk meludah dan membilas mulusnya, Jongin melirik sekilas bayangan dirinya di cermin rias, dan hampir saja ia memberikan sebuah pukulan untuk menghancurkan bayangannya.
"Apa maksudmu, aku seharusnya tidak membatalkannya?"
Jongin berbalik untuk melihat Sehun yang berdiri beberapa kaki jauhnya, melingkarkan kedua tangan kedadanya seolah-olah memberikan sebuah pelukan dukungan pada dirinya sendiri. Sehun sudah bersiap-siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jongin, yang ia pikir akan sama seperti yang dikatakan oleh mantannya yang pecundang itu. bersiap-siap untuk terluka sekali lagi.
Jongin bersumpah ia bisa merasakan sebuah pisau panas menghujam ke dalam perutnya ketika ia melihat mata lemah lembut cokelat hazel milik Sehun. Ia tidak bisa melakukannya. Ia belum bisa mendiskusikan ini. Sialnya, ia bahkan tak yakin diskusi macam yang harus dilakukan. Ia harus keluar dan menjernihkan pikirannya, secepat mungkin.
Jongin menghampiri Sehun dengan hanya beberapa langkah, memberikan sebuah kecupan di keningnya dan berusaha terdengar seceria mungkin. "Aku hanya merasa tidak enak dengan pria ini. Maksudku, hanya satu kali kencan, dan kemudian dicampakkan di hari kedua?" Jongin menaruh tangan di atas jantungnya. "Sebagai sesama pria, biarkan aku mengatakan, 'Ouch.' Makan malam dengan seorang pria untuk kedua kalinya tampak seperti sebuah harga yang harus dibayar untuk menghindari kemungkinan bunuh diri yang mengerikan."
Sehun tertawa lebar sambil mendengus yang membuat jantung Jongin serasa nyeri, dan kemudian mendorong dadanya dengan main-main. "Kau berlebihan. Cepat Lari, dan kita akan bicara lagi ketika kau kembali." Kata Sehun sebelum berlalu ke dapur.
Jongin menghembuskan nafas berat. Bencana dapat dihindari…untuk saat ini. Ia berganti dengan pakaian olah raganya dan dalam waktu singkat sudah berada di trotoar. Cahaya panas menjelang siang itu membakar tubuhnya lebih parah dari pada biasanya. Ritme sepatunya yang menginjak tanah tidak membuatnya tenang kali ini, malah terasa seperti hitung mundur pada bom waktu. Terus menghitung mundur hingga ia harus menerima Sehun dengan keputusannya.
Pemikiran bahwa ia harus meninggalkan pria manis itu membuat perut Jongin mual, dan otot-ototnya menegang. Sebelum ia pergi untuk bertemu ayahnya, ia secara iseng memikirkan untuk mengajak Sehun kembali bersamanya ke Vegas. Dan meskipun ia tahu ayahnya hanyalah seorang pria tua pesimis dengan sudut pandang yang sempit, ia tetap tidak bisa mendiskreditkan apapun yang ayahnya katakan.
Sehun tentu tidak cocok dengan deskripsi seorang pria yang menyukai gaya hidup seorang petarung. Ibu Jongin adalah salah satu yang masuk ke dalam kategori itu, tapi tidak dengan Sehun. Pria manis itu menyukai kota kecilnya dan menjadi salah satu dari segelintir fisioterapis di daerahnya, yang dengan begitu akan memberikannya kesempatan untuk benar-benar mengenal pasiennya.
Dan meskipun Sehun adalah salah satu orang yang paling tidak terorganisir yang pernah ditemuinya selama ini, ia tahu pria manis itu juga menyukai rutinitas. Sehun senang mengetahui apa yang dilakukan dan kapan harus melakukannya. Mencoba hal baru dan spontanitas—dua hal yang Jongin luar biasa banggakan—namun bagi Sehun sendiri tidaklah mudah.
Membawanya ke Vegas akan menjadi sebuah gegar budaya yang besar baginya. Tentu dia akan bisa kembali melakukan rutinitas yang selama ini ia lakukan di sini, tapi rutinitas Sehun tidak akan mencakup kebersamaan mereka ketika ia sibuk mempersiapkan pertarungan. Jongin menghabiskan hampir semua waktunya untuk berlatih, mengidealkan berat badan, dan mempelajari bagaimana untuk mengalahkan lawan yang berikutnya. Hanya akan ada sedikit waktu yang tersisa dalam rutinitas sehari-harinya selain jatuh ke tempat tidur, hanya untuk bangun keesokan harinya, dan melakukan semua itu lagi.
Belum lagi melakukan perjalanan, untuk publisitas. Cerita omong kosong yang dicetak oleh tabloid-tabloid. Semua itu adalah penghalang dalam hubungannya. Jongin sudah sering melihat itu terjadi pada beberapa orang. Stress yang muncul akan menyebabkan pertengkaran dan pihak pasangan berubah menjadi getir, membenci olah raga yang di lakukan oleh pasangan mereka, dan akhirnya, membenci pasangannya sendiri.
Hal itu akan membunuhnya jika ia melihat sosok manis Sehun akan berubah menjadi sosok lain yang tampak letih dan kesal, semua itu hanya karena ia tidak tahan hidup tanpa Sehun. Hanya karena pria manis itu sempurna untuknya, bukan berarti dia harus selalu berada di sampingnya.
Sehun pantas mendapatkan jauh lebih baik dari itu. Ia pantas berada tak hanya di dalam hati seorang pria, tapi juga dalam kehidupannya. Seseorang yang sesekali bisa membolos hanya untuk berbaring di tempat tidur dengannya, yang memiliki karir yang sukses dan tidak melibatkan resiko kemungkinan terkena gegar otak atau tercekik.
Seseorang yang bukan dirinya.
Saat Jongin mengitari tikungan terakhir menuju ke apartemen, ia memperlambat langkahnya, mengulur waktu sebanyak mungkin. Ia meletakkan tangannya di pinggang dan menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah bisa membebaskannya rasa perih yang memilin perutnya. Tapi seiring dengan setiap langkah yang diambilnya, semua itu hanya terasa makin buruk. Ia akan sangat beruntung jika bisa mandi tanpa harus menyentuh toilet. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Jongin merasa takut untuk bertarung.
~oOOo~
Sehun duduk di meja dapur, kepalanya bertumpu pada satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja, mengikuti irama lagu tema The Lone Ranger sambil menunggu Jongin muncul dari kamar tidurnya.
Setelah jogging Jongin memberikan lambaian setengah hati sambil berjalan ke kamar mandi, dan saat ini ia sudah berada di kamarnya selama setidaknya dua puluh menit, yang artinya 18 menit lebih lama dari biasanya hanya untuk mengganti sebuah celana pendek dan t-shirt. Dan jadi beginilah Sehun sekarang, merasa ketakutan, tentu saja. Tampaknya jatuh cinta bisa mengubahnya menjadi seorang remaja neurotik. Yippee.
Akhirnya Sehun mendengar pintu di ujung lorong terbuka. Ia meraih pena dan berpura-pura berkonsentrasi pada teka-teki Sudoku di depannya dan menulis nomor secara acak. Syukurlah mereka tidak pernah membicarakan tentang teka-teki matematika, atau pria itu akan tahu jika ia hanya berpura-pura. Sehun tidak bisa mengerjakan satupun dengan benar meskipun seandainya hidupnya bergantung pada hal itu.
Ketika ia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Jongin di ambang pintu dapur—ia lebih baik mati daripada membiarkan pria itu tahu betapa hadirannya membuatnya gila—ia berdeham.
Sehun mendongak dari korannya dengan sebuah senyuman…yang langsung menghilang ketika ia melihat tas di tangan Jongin, serta raut wajahnya. "Apa yang terjadi?"
"Aku mendapat telepon dari Butch. Scotty sudah kembali, jadi ia ingin aku kembali ke kamp untuk menyelesaikan pelatihanku sebelum pertarungan melawan Diaz."
"Oh." Sehun mengabaikan sengatan yang sedikit menghancurkan harga dirinya atas sindiran bahwa ia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik seperti orang lain, dan memandang situasi itu secara logis. "Well, itu bagus. Sangat penting bagimu untuk kembali ke rutinitas dan lingkungan normalmu."
"Ini tidak ada hubungannya dengan kemampuanmu,Hun. Kau adalah fisioterapis yang sangat sempurna. Kau sudah menciptakan sebuah keajaiban dengan bahuku. Aku tak mungkin sembuh secepat ini dengan orang lain. Aku sungguh-sungguh."
"Terima kasih." Menenangkan harga dirinya. Sehun tersenyum hangat. "Aku mengerti, sungguh. Dan karena karena aku masih punya waktu liburan, aku akhirnya bisa melihat Vegas!"
"Aku rasa itu bukan ide yang bagus. Aku tak akan punya waktu untuk bersama denganmu seperti di sini. Semuanya akan sangat berbeda di sana. Aku tak akan bisa membawamu bepergian. Kau akan terjebak di tempatku sepanjang hari, setiap hari."
Ada sesuatu yang salah. Apakah Jongin benar-benar khawatir bahwa dirinya akan membuat Sehun marah jika ia tidak memiliki waktu untuk menghiburnya?
"Tidak apa-apa. Aku bisa pergi berkeliling sendiri di siang hari."
Jongin mengusapkan tangannya ke bagian depan rambutnya dan menyeretnya hingga ke wajahnya. "Aku akan menjadi sangat lelah di malam hari untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu, Sehun. Ini seakan kau tidak melihatku sama sekali." No. no, no, no. Jongin tidak sedang melakukan apa yang pria manis itu pikirkan.
Sehun berdiri dan bersidekap, menyipitkan matanya penuh peringatan. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini Jongin? Kau berusaha sangat keras untuk membuatku tetap berada di rumah. Dengan alasan yang benar-benar konyol, jika boleh kutambahkan."
"Dengar, kumohon jangan membuat ini jadi lebih sulit. Kau tahu aku sangat peduli padamu, tapi ini,"—Jongin menunjuk bolak-balik diri mereka berdua beberapa kali—"hanya sementara. Ingat?"
"Ingat? Ya Jongin, aku ingat. Aku juga masih ingat ketika tadi malam semuanya berubah. Kau tidak akan berdiri di sana dan menyangkal semua itu, kan?"
Jongin tidak mengatakan apapun untuk beberapa menit—atau detik? Sial, mungkin sudah satu jam, Sehun tak tahu—dengan tidak ada gerakan apapun darinya selain gerakan otot-otot di rahangnya. Dan itu hanya memperburuk keadaan. Urusan yang sangat besar. Dan Sehun akan segera meledak.
Akhirnya Jongin memecah keheningan dengan kata-kata setajam samurai. "Semalam sangatlah menyenangkan. Sama seperti semua malam-malam lainnya. Tapi kesepakatan itu berakhir sekarang. Kau menginginkan perhatian dari Chanyeol dan membuatnya tertarik padamu—yang mana semua berhasil—aku sudah memenuhi bagian kesepakatan itu. Bagianmu adalah membantuku sembuh pada waktunya untuk kembali bertarung memperebutkan sabuk juara, dan itu juga sudah terpenuhi. Jadi sudah selesai."
"Tidak, ini belum selesai! Kau kabur seperti pengecut terkutuk, itulah yang terjadi. Jangan ada alasan omong kosong bahwa kau mengikuti aturan pada apa yang kau sebut sebagai kesepakatan kita."
Adrenalin berdengung melalui pembuluh darah Jongin, membuatnya sedikit pusing, tapi ia hanya sedikit bersandar ke kursi kayu untuk mempertahankan keseimbangannya dan menekankan kata-katanya.
"Ada banyak hal yang berubah di antara kita, Jongin. Kau tahu itu, dan aku juga tahu."
"Kuakui semuanya berubah dari urusan klinis menjadi urusan personal, tapi memang akan sangat sulit untuk menghindarinya. Bercinta dengan seseorang yang kau pedulikan adalah hal yang personal. Tapi itu tidak cukup untuk mendasari sebuah hubungan jangka panjang, kau tahu itu."
Suara mereka meninggi, dan di suatu sudut di pikirannya, ada sebuah peringatan yang cukup keras seandainya Mrs. Egan akan mengetuk pintunya. Atau lebih buruk lagi, memanggil kakaknya. Tapi Sehun tak peduli.
"Bagaimana dengan cinta, Brengsek? Bukankah itu cukup? Karena aku benar-benar jatuh cinta padamu!"
Dunia terdiam. Bahkan detak jam di dinding pun tidak berani membuat suara ketika mereka berdua saling bersitatap. Mungkin waktu sudah berhenti. Mungkin inilah saatnya di mana malaikat akan muncul tiba-tiba untuk memberikannya nasihat bijak atau memberinya kesempatan untuk memutar balikan waktu ke beberapa menit yang lalu hingga ia bisa menarik semua kata-kata yang membuatnya merasa begitu rapuh di sepanjang hidupnya.
Mata Jongin tampak membeku, mirip seperti apa yang Sehun bayangkan selama ini ketika Jongin menatap lawannya sebelum wasit menyerukan tanda pertarungan dimulai. Ia tak pernah melihat matanya seperti itu sebelumnya, dan itu membunuhnya. Kemudian Jongin bicara, dan Sehun sadar bahwa ia salah…
"Kau mencintai mantan pasanganmu juga, Sehun. Lihatlah apa yang kau dapatkan." Bukan hanya matanya yang membunuhnya, tapi kata-kata Jongin juga.
"Keluar," Sehun berhasil menyingkirkan gumpalan di tenggorokannya dan berkedip, berusaha menahan air matanya. "Aku tak ingin melihatmu lagi."
Tanpa permintaan maaf. Tanpa keraguan. Jongin berbalik dan enam langkah selanjutnya, ia sudah keluar dari hidup pria manis itu.
Selamanya...
~oOOo~
To. Be. Continued
Or
END
~oOOo~
Wkwkwk TBC or END nih? Wkwk
Ane lagi bete dikit liat foto Kai kissscene bertebaran ditimeline sebenarnya,makanya aku lampiasin disini. wkwk
Sesek napas asli liatnya tulunggg~ hahaha
KaiHun juga jadinya pisahan yeheeeyyy~ *digebukin readers*
Sampe sini atau gimana nih? Soalnya liat review sama yang baca,follow,sama favorites FF ini bikin sedih sih. Yang baca sampe 1500+ tiap chapter tapi yang reviews Cuma seperkian persen. Wkwk padahal anenya lagi semangat-semangatnya,tapi liat readersnya juga gitu ya apa daya~ kkk~
Reviewnya jangan lupa~ kkkk~ *hug*
.
.
Thanks to review CH 10 :
Guest , Rumah Kepompong , Sekar Amalia , Nearo O'nealy , YunYuliHun , Kaikaikai , KaiHunnieEXO , sehun-chanbaek , PinkuDeer , Kim Jonghee , fitry sukma 39 , hanhyewon357 , Ilysmkji , ParkJitta , utsukushii02 , fyodult , rhenaaakifa , BabyKaihunnie , dia luhane , Zelobysehuna , vitangeflower .
