Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning: crack pair, age gap marriage, AU, OOC. DLDR.
Forbidden Lover
Pagi itu, setelah membersihkan dirinya sebersih yang ia bisa dan mengenakan gaun yang sudah disiapkan pelayannya, Hinata dipandu untuk melangkah menuju ruang makan kerajaan. Ia diberitahu bahwa Fugaku tidak akan makan bersamanya karena ia sudah memiliki jadwal lain untuk jam itu. Namun gadis bermata lavender itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika ia menginjakkan kaki di ruangan luas itu.
Di sana, dengan tatapan mata setajam elang, Sasuke Uchiha yang sedang duduk di salah satu kursi makan berukiran mewah menatapnya seakan ia adalah gadis yang baru saja dipungut dari tempat sampah, dan bukannya seorang gadis cantik yang tubuh langsingnya dibalut oleh sepotong gaun anggun nan mahal. Ditatap seperti itu, Hinata merasa seolah tak lebih berharga dibandingkan debu di bawah sepatu Sang Pangeran. Dan dilihat dari posisinya saat ini, mungkin itu memang benar.
Pemuda normal macam apa yang senang melihat istri baru ayahnya yang bahkan lebih muda dibanding dia sendiri?
Hinata bisa merasakan pelayan yang mengantarnya ke ruangan itu bergetar ketakutan, meski Hinatalah yang menjadi korban tatapan maut sang Uchiha.
"Kenapa kau membawa dia ke sini? Kau mau merusak nafsu makanku?"
Suara yang bahkan lebih dingin dari es itu menggema, menghancurkan selubung keheningan yang mencekam di ruangan itu sebelumnya.
Pelayan yang malang itu menjawab dengan terbata-bata, "Ma-maafkan saya, Tuan Muda."
Hinata mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan panas yang menjalar dari pipinya ke matanya. Akibat rasa malu atau marah, Hinata tidak tahu. Mungkin keduanya.
"Singkirkan dia dari sini. Aku tidak ingin makan bersama seorang pelacur."
Hinata terkesiap. 'Pelacur', katanya?
Pelacur?
Gadis itu tak tahu kekuatan apa yang menggerakkannya, yang ia tahu, detik selanjutnya ia sudah melangkahkan kakinya dan menggenggam gelas berisi jus tomat kesukaan sang Pangeran untuk kemudian ia siramkan pada pemuda kurang ajar itu.
Cairan merah itu membasahi kain putih yang menyelubungi tubuh Sasuke, belum termasuk rambut hitamnya dan kulit wajahnya. Untuk sesaat Hinata merasakan kepuasan yang tak bisa didefinisikan ketika ia melihat ekspresi terkejut dan tak percaya dari pemuda yang lebih tua setahun darinya itu. Anak dari suaminya.
Namun kepuasan itu hanya bertahan sesaaat, karena detik selanjutnya tangan Hinata terlalu gemetar untuk menggenggam gelas kaca itu, hingga akhirnya benda itu terjatuh ke lantai dan menimbulkan kekacauan yang berbahaya, dengan pecahan dan serpihan beling yang tajam dan siap mengoyak kulit siapa saja yang tak berhati-hati.
Namun tak lebih berbahaya dari aura gelap Sasuke yang menguar ke seluruh ruangan.
Hinata tak yakin apakah dia harus menyesali perbuatan yang baru saja dilakukannya. Di satu sisi, ia yakin kalau Sasuke pantas menerimanya, di sisi lain, ia tahu ia baru saja menyiramkan minyak ke dalam api.
"Kau begitu ingin mati?"
Hinata menelan ludah sebelum menjawab.
"A-aku ... bu-bukan pelacur ..."
Hinata merutuki dirinya yang terbata-bata di saat seperti ini. Harusnya dia mengucapkannya dengan suara yang lebih tegas dan keras.
Tapi kebiasaan lama sulit dihilangkan.
"Lalu apa? Penghangat ranjang ayahku?" Uchiha muda itu tersenyum mengejek.
Hinata tahu jika ada satu gelas lagi jus tomat di sana, ia akan dengan senang hati menyiramkannya kembali ke muka Sasuke.
"Aku Hinata Hyuuga," ujar Hinata dengan suara lebih mantap. "Aku istri resmi Yang Mulia Fugaku." Hinata ingin menambahkan 'Kau harus menghormatiku', tapi ia tidak ingin mempertaruhkan keberuntungannya.
"Jangan bercanda. Kau cuma selir. Istri Ayah hanyalah ibuku."
Hinata tidak ingin berdebat dengan hal itu, karena sesungguhnya bukan kemauannya juga untuk mendapatkan posisi terkutuk ini. Tapi dia harus memilihnya. Demi Kakak...
"Selir bukan berarti pelacur, Pangeran," Hinata menekankan kata 'Pangeran', berharap nada sarkastisnya tersampaikan. "Aku tidak pernah tidur dengan sembarang pria."
"Oh ya? Tapi sepertinya banyak pria yang ingin tidur denganmu," Sasuke melirik belahan dada Hinata yang terlihat akibat garis leher pakaiannya yang rendah, dan gadis itu otomatis menutupinya dengan kedua tangan. "Siapa yang tahu berapa banyak pria yang sudah kau goda dengan asetmu itu."
Pada titik ini Hinata benar-benar geram. Dia ingin sekali mencekik Sasuke dengan kedua tangannya, tapi dia menahan diri. Tidak ada gunanya mencari permusuhan dengan seorang Sasuke Uchiha, meski ia tahu permusuhan itu sudah ada bahkan sebelum dia membanjiri wajah dan pakaian Sasuke dengan cairan merah jus tomat.
"Nona Hinata!"
Hinata menengokkan kepalanya, dan dia melihat seorang pemuda berambut pirang dengan kulit tan berlari ke arah mereka. Hinata tidak mengenali pemuda bermata biru itu.
"Maaf aku terlambat. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan," pemuda tak dikenal itu tersenyum ramah padanya. Sedikit terlalu ramah, sebenarnya. "Ah, perkenalkan, aku Naruto Uzumaki. Mulai hari ini aku akan menjadi bodyguard pribadimu, Nona Hinata." Pemuda itu membungkukkan tubuhnya sedikit untuk memberi hormat.
Saat ia selesai membungkuk, ia kembali tersenyum riang, seolah tidak menyadari atmosfer gelap yang sebelumnya ada di ruangan itu. Ah, tidak, lebih tepatnya dia menyingkirkan atmosfer gelap itu dengan senyum riangnya.
Saat Hinata tidak menjawab sepatah katapun, barulah pemuda itu menyadari pecahan gelas di lantai, percikan jus tomat di pakaian Sasuke, dan akhirnya wajah memberengut pemuda itu.
Mereka bertiga saling berpandangan.
"Apa ada seseorang yang baru saja bertengkar?"
.
.
.
Hinata memakan hidangan di piringnya dengan wajah datar. Sebenarnya ia tidak bernafsu makan, tapi perutnya tidak bisa berbohong. Kegiatan semalam bersama Fugaku menguras energinya, bahkan walaupun saat itu dia tidak melakukan apa-apa dan hanya berbaring seperti orang lumpuh. Hanya saja, gerakan Fugaku yang berapi-api mau tidak mau membakar cadangan kalori di tubuhnya.
Hinata mengernyit. Dia tidak mau mengingat kejadian semalam. Itu membuat perutnya mual.
"Nona Hinata?"
Hinata mendongak. Di hadapannya Naruto sedang duduk dengan sikap formal namun santai. Sasuke sudah pergi sebelumnya, diikuti sang pelayan, untuk membersihkan dirinya dan sangat besar kemungkinan dia tidak akan kembali. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia pergi begitu saja saat Naruto datang. Tentu saja dengan rengutan yang masih membekas di wajahnya.
"A-ada apa?" Hinata menjawab dengan suara pelan. Gadis itu meletakkan peralatan makannya dan membersihkan sudut mulutnya dengan serbet yang tersedia. Ia memutuskan tak melanjutkan sarapannya. Bayang-bayang Fugaku menghilangkan rasa laparnya.
"Aku sudah mendengar desas-desus kecantikan selir Yang Mulia Fugaku, tapi aku tidak menyangka kau ternyata lebih cantik dari yang kubayangkan. Saat upacara pernikahan, wajahmu tertutup oleh tudung sih," ujar Naruto sambil menyeringai lucu.
Hinata tidak tahu harus menjawab apa. Apa yang seharusnya dia katakan ketika mendapat pujian semacam itu dari pemuda yang baru saja dikenalnya?
"Dan aku juga tidak menyangka kau memiliki selera berpakaian yang ... sangat berkelas."
Pujian itu lebih terasa seperti sindiran, mengingat gaun yang dipakai Hinata sesungguhnya sedikit terlalu terbuka untuk dibilang 'berkelas'. Memang anggun, tapi garis lehernya yang rendah membuatnya risih.
"Pe-pelayan yang memilihkannya untukku," aku Hinata, masih dengan suara pelan. Dia sebenarnya ingin protes saat melihat gaun itu, namun tak berani berkomentar. Dia ingat siapa dirinya di tempat itu. Bisa saja sebenarnya Fugaku yang memilihkan gaun itu untuknya, dan menyuruh pelayan untuk membawakannya ke kamar Hinata.
"Oh ya? Sudah kuduga. Kau lebih cocok memakai gaun yang lebih tertutup," jawab Naruto.
Hinata tidak menjawab lagi, namun ia setuju. Mungkin lain kali dia harus memberanikan diri untuk memprotes pakaian yang tidak diinginkannya. Setidaknya dialah yang memakainya, bukan orang lain.
"Jadi, Nona Hinata, apakah kau memiliki penjelasan kenapa kau sampai berani menyiram muka Sasuke dengan jus tomat? Melihat dari sikap malu-malumu ini, aku tidak tahu dari mana nyalimu itu berasal," Naruto berujar lagi. Sepertinya dia selalu ingin mengajak Hinata berbicara meskipun sejak tadi Hinata jelas-jelas hanya menjawab dengan jawaban pendek atau diam.
"Ke-kenapa kau menyebut Pangeran Sasuke hanya dengan 'Sasuke'?" tanya Hinata, mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin menyebutkan awal-mula perkara pertengkaran itu. Terlalu memalukan.
"Ha! 'Sasuke' itu sudah sopan, Nona Hinata. Aku biasa menyebutnya 'Teme' kalau kami hanya sedang berdua atau bersama teman-teman dekat kami."
Hinata mengernyitkan dahinya. 'Teme'? Bukankah itu artinya 'Brengsek'?
"Sebenarnya, aku adalah teman sejak kecil Sasuke," jelas Naruto saat melihat ekspresi bingung Hinata. "Biar kutebak, Teme satu itu pasti menyebutmu dengan julukan yang tidak-tidak, kan? Makanya kau marah dan menyiraminya jus tomat?"
"I-itu ..."
"Benar, kan?"
Hinata akhirnya mengangguk.
"Bagaimana dia menyebutmu?"
Hinata merasa ada sebentuk batu besar yang mengganjal tenggorokannya saat dia menjawab, "'Pelacur' dan 'penghangat ranjang ayahku'."
Naruto tertegun sesaat. Dia menatap Hinata dengan tatapan iba selama beberapa lama, kemudian berdehem.
"Aku mengerti kalau kau ingin menyirami wajahnya. Kau bahkan mungkin ingin mencekiknya. Kata-katanya memang sedikit keterlaluan, bahkan untuk ukuran dia."
Sedikit keterlaluan? Itu lebih dari 'sedikit' keterlaluan! Hinata ingin berteriak.
"Dia memanggilku 'Dobe'," ujar Naruto lagi. "Panggilan yang buruk, kan? Tapi lama-lama aku terbiasa."
Lalu apa? Kau ingin aku juga terbiasa dipanggil 'Pelacur'?
"Aku tahu itu hinaan yang sangat besar untukmu, Nona Hinata," Naruto melanjutkan. "Tapi Sasuke sedang mengalami masa yang berat juga. Dia sangat menyayangi ibunya, Bibi Mikoto. Dia yakin Paman Fugaku tidak akan menikah lagi karena beliau menyayangi dan menghormati mendiang istrinya, tapi mendapati ayahnya pada akhirnya menikah lagi pasti sulit untuk diterima. Apalagi beliau menikahi gadis muda sepertimu."
Hinata mengerutkan alisnya. Mungkin Sasuke memang tidak senang dengan adanya pernikahan ini, tapi bukan berarti dia bisa memanggilnya sebagai 'Pelacur' seenaknya. Sampai malam tadi, Hinata masih seorang perawan. Bagian mana dari diri Hinata yang layak dipanggil dengan sebutan hina itu?
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kau menerima posisi selir ini, Nona Hinata? Kulihat kau juga tidak senang berada di sini."
Sekelebat wajah yang familiar melintas di benak Hinata. Ya, pemuda itu. Pemuda yang tidak bisa ia benci meskipun dialah alasan Hinata berada di sini. Sebaliknya, Hinata sangat menyayangi pemuda itu dan bersedia melakukan apa saja untuk menjamin keselamatannya. Bahkan meskipun itu berarti dia harus hidup di tempat yang penuh dengan orang-orang yang dibencinya.
"Aku melakukannya demi seseorang," lirih Hinata. "Seseorang yang sangat berharga bagiku."
Naruto terdiam melihat ekspresi wajah Hinata. Gadis itu terlihat begitu menderita. Tidak seharusnya seseorang memasang wajah semenderita itu saat menceritakan mengenai seseorang yang berharga baginya. Seharusnya wajah cantik itu dihiasi oleh senyuman lebar dan rona bahagia, dan bukannya garis-garis kesedihan.
"Nona Hinata ..." Naruto mengikuti instingnya, ia meletakkan tangannya di atas tangan Hinata yang lebih mungil. Gadis itu tidak bergerak. Ia memang membutuhkan ini. Dia membutuhkan kehangatan seseorang yang mampu meredakan dukanya.
Naruto menggenggam tangan itu lebih erat, mencoba menyalurkan rasa simpatinya melalui gestur sederhana itu. Dia memang tidak pandai berkata-kata, apalagi menghibur seorang gadis yang berada dalam situasi seperti Hinata. Dalam hati dia tahu tindakannya ini mungkin menimbulkan kesalahpahaman jika ada orang yang melihat, namun dia tidak peduli. Baginya, memberikan sedikit penghiburan bagi gadis berambut hitam panjang itu lebih penting.
Tak ada yang berkata-kata.
Mereka seolah larut dalam suasana, dan Naruto bahkan tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Seseorang yang sesungguhnya lebih berhak untuk menyentuh dan bahkan memeluk gadis itu saat dia sedang bersedih.
"Naruto."
Pemuda pirang itu tersentak. Suara berat itu tak lain dan tak bukan adalah milik Fugaku. Naruto melepaskan tangan Hinata dan gadis itu menariknya seolah tersengat listrik. Dengan gerakan cepat Naruto berdiri dan memberikan gerakan hormat bagi pria paruh baya itu.
"Kulihat kau menjalankan tugasmu dengan sedikit terlalu bersemangat. Kau harus ingat posisimu adalah bodyguard Hinata, bukan babysitter yang harus menghiburnya setiap kali dia murung." Suara Fugaku diliputi oleh amarah yang terpendam. Naruto tahu nada itu, nada yang biasa Fugaku gunakan pada Sasuke saat putranya itu melakukan hal yang menurutnya tak masuk akal, seperti melontarkan hinaan soal kakaknya, Itachi, yang pergi mengembara entah kemana tepat setahun sejak kematian Mikoto. Naruto tidak menyangka akan datang saatnya suara itu tertuju padanya dan bukan pada Sasuke.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Ini tidak akan terjadi lagi." Naruto berlutut dengan satu kakinya, kepalanya menunduk dalam. Ia tahu ia memang bersalah. Tak sepantasnya dia menyentuh Hinata seperti itu.
"Y-Yang Mulia, sa-saya juga minta maaf," Hinata yang ikut berdiri membungkukkan dirinya dengan tangan gemetar. Kilasan memori akan tadi malam kembali membanjiri kepalanya. Suara Fugaku sudah cukup untuk membuatnya mengingat kembali hal itu. Usahanya untuk melupakan semua itu tergilas hanya dalam beberapa detik.
"Hinata," Fugaku melirik Hinata dengan tatapan yang sama persis dengan tatapan Sasuke pagi tadi padanya, benar-benar ayah dan anak yang mirip. "Sebagai selirku, kau harus bisa menjaga kehormatanku. Sikapmu akan berpengaruh pada imejku, baik secara langsung maupun tidak langsung."
"Se-sekali lagi saya minta maaf, Yang Mulia." Hinata membungkukkan dirinya lebih dalam lagi.
"Ikut denganku. Aku akan memperkenalkanmu secara resmi pada para pejabat kerajaan." Fugaku meraih tangan Hinata dengan tidak terlalu lembut, kemudian mulai berjalan dengan langkah cepat, diikuti oleh beberapa pengawalnya yang sejak tadi berdiri di belakangnya sembari menyaksikan kejadian itu.
Naruto masih dalam posisi berlutut, sebelum akhirnya Fugaku berhenti melangkah dan kembali bersuara.
"Naruto, kau boleh berdiri sekarang. Ikut denganku dan tunggu di luar ruangan pertemuan sampai aku selesai. Kemudian kau akan mengawal Hinata kembali ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar dari sana sampai aku sendiri yang masuk ke kamarnya."
Jeda sesaat sebelum Naruto menjawab.
"Mengerti, Yang Mulia."
Fugaku kembali melangkah. Ekspresinya tidak bisa ditebak, tapi Hinata tahu bahwa pria itu pasti tidak senang mendapati selirnya berada dalam situasi seperti tadi dengan pria lain. Hinata tidak ingin membesarkan hatinya dengan menduga bahwa Fugaku mulai mencintainya. Tidak, itu tidak mungkin. Lebih besar kemungkinan bahwa pria itu hanya posesif terhadap apa yang menjadi miliknya. Tidak masalah apakah Fugaku mencintainya atau tidak. Hinata adalah miliknya. Dan apa yang menjadi miliknya tidak boleh disentuh oleh orang lain.
.
.
.
Lagipula, Hinata tak akan lebih bahagia jika Fugaku benar-benar mencintainya. Hinata hanya akan bahagia jika 'orang itu'lah yang mencintainya, dengan cara ia mencintai 'orang itu'.
to be continued-
.
.
.
A/N: Terima kasih sudah membaca fanfic ini. Jika ada saran untuk plot, silakan tuliskan di kotak review. Saya menerima saran apapun selama hal itu tidak terlalu berbenturan dengan plot yang sudah saya rancang. Oh iya, sedikit hint untuk ke depannya, Hinata akan bertransformasi menjadi dark!Hinata. Dan, sudah ada yang bisa menebak siapa 'Kakak' yang Hinata maksud?
Special thanks for: Cahya Uchiha, gogo-kun, Guest, Hinata Centric, .777, Vampire Uchiha, ailla ansory, dan geek. :)
Moon Extract,
out.
