Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: crack pair, non-consensual sex/lemon, age gap marriage, AU, OOC. DLDR.

Forbidden Lover

"Yang Mulia Fugaku dan Selir Hinata memasuki ruangan."

Pengumuman itu disambut oleh para pejabat kerajaan dengan berdiri serentak, kemudian setelah Fugaku duduk di singgasananya, diikuti oleh Hinata yang duduk di kursi di sebelahnya, mereka pun duduk kembali.

"Selamat atas pernikahan Anda, Yang Mulia."

Seorang pejabat bernama Danzou menunduk sedikit sembari tersenyum miring. Fugaku hanya membalasnya dengan anggukan. "Nona Hinata beruntung sekali bisa menjadi selir Yang Mulia," lanjutnya sembari melirik Hinata yang duduk dengan ekspresi gelisah. "Seorang gadis bangsawan keturunan Hyuuga yang terpaksa hidup sederhana dan diasingkan karena ayahnya terbukti melakukan percobaan pemberontakan dan dieksekusi ... kini hidupnya terangkat kembali berkat menikah dengan Yang Mulia."

Ekspresi Hinata menegang mendengar hal itu.

"Hal itu tidak perlu dibahas, Danzou," ujar Fugaku. "Kita sudah sepakat melupakan hal itu. Lagipula Hinata sama sekali tidak terlibat dengan pemberontakan itu. Dia masih berumur tiga tahun ketika hal itu terjadi. Dia bahkan tidak terlalu mengenal ayahnya karena hidup hanya dengan kakak sepupunya."

"Maafkan saya, Yang Mulia," ujar Danzou lagi, namun senyum miringnya masih tak lepas dari bibirnya.

Fugaku tak menjawab. Pria itu mengedarkan pandangannya kepada seluruh pejabat kerajaan yang hadir di sana.

"Kalian semua mungkin masih belum mengenal Hinata seperti Danzou, yang sudah jauh lebih lama menjabat," ujarnya. "Maka dari itu, selain membahas situasi ekonomi kerajaan, pada kesempatan ini aku ingin dengan resmi memperkenalkan selirku pada kalian semua. Dia adalah Hinata Hyuuga, putri Hiashi Hyuuga, seorang bangsawan yang pasti sudah kalian kenal dalam buku-buku sejarah atau cerita dari mulut ke mulut."

Ya, siapa di ruangan itu yang tak mengenal Hiashi Hyuuga? Seorang pria ambisius yang ingin melebarkan kekuasaannya hingga berani merencanakan gerakan pemberontakan untuk menggulingkan Fugaku dari tahta. Rencana itu berlangsung dalam skala besar namun tetap tersembunyi, karena banyak juga bangsawan lain yang tidak menyukai kepemimpinan Fugaku Uchiha, hanya saja rencana itu gagal karena adanya seorang mata-mata yang berhasil mencuri informasi dan melaporkannya. Fugaku pun berhasil menumpas para pemberontak dan pemimpinnya hingga ke akar-akarnya. Kecuali Hinata, yang pada saat itu masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, dan tak pantas dibunuh. Maka ia pun diasingkan dengan kakak sepupunya, Neji, satu-satunya pemberontak yang berhasil selamat dari pembantaian massal keluarga Hyuuga. Neji dibebaskan untuk merawat Hinata dengan syarat kalau ia tak akan pernah lagi mencoba menggerakkan pemberontakan.

Nama Hiashi Hyuuga masih diingat dengan lekat oleh rakyat Kerajaan Konoha, termasuk para pejabat kerajaan di ruangan itu, hanya saja nama Hinata dan Neji memudar dalam sejarah dan akhirnya menghilang sama sekali.

"Dengan ini, aku memerintahkan kalian untuk melupakan sejarah yang kelam itu dan memberikan penghormatan penuh untuk Hinata yang sudah menjadi selirku," ujar Fugaku dengan berwibawa.

Para pejabat pun serentak berdiri lagi dan memberikan penghormatannya, kali ini penghormatan itu tertuju sepenuhnya untuk Hinata, sembari mengatakan, "Kami siap melayani Anda, Nona Hinata."

Hinata dengan gugup membalas penghormatan itu dengan berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Yang Mulia," suara yang familiar kembali terdengar. Itu Danzo. "Saya percaya kalau Yang Mulia masih sangat berpotensi dan mampu untuk memberikan anak untuk Nona Hinata. Saya rasa Kerajaan Konoha membutuhkan pangeran baru untuk mempertahankan situasi politik yang stabil. Semenjak Pangeran Itachi pergi, hanya ada Pangeran Sasuke yang siap untuk meneruskan tahta. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Pangeran Sasuke, hanya saja jika situasi terburuk muncul, akan bagus jika ada anak yang menambah garis keturunan Yang Mulia. Kita semua tahu kita tidak bisa mengharapkan Pangeran Itachi untuk kembali. Maaf jika perkataan saya sungguh lancang."

Wajah Hinata pucat pasi mendengar semua itu. Anak, katanya? Mereka baru menikah dua hari dan dia sudah diperintahkan untuk memberikan anak bagi Fugaku? Sungguh konyol. Hinata ingin sekali menjahit mulut Danzo.

"Kau benar," Fugaku menjawab setelah berpikir sejenak, dan wajah Hinata menjadi jauh lebih pucat, jika itu memang bisa. "Aku percaya Itachi sedang menjaga kerajaan kita dari luar dengan caranya sendiri, tapi aku tidak bisa mengharapkan anak itu untuk kembali. Dia terlalu ... tidak stabil sejak kematian ibunya." Wajah Fugaku berubah muram ketika ia mengingat mendiang istrinya. "Sasuke adalah anak yang kuat. Aku yakin dia tidak akan mati semudah itu. Namun pangeran baru mungkin memang dibutuhkan."

"Saya senang Yang Mulia menerima saran saya. Saya akan memerintahkan tabib istana membuat ramuan penambah kesuburan untuk Yang Mulia dan Selir. Dan melihat betapa cantiknya Selir Hinata, sepertinya tidak akan sulit untuk mewujudkan harapan kita semua."

Para pejabat tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan Danzou, sementara Hinata? Gadis malang itu mencengkeram gaunnya erat-erat, menahan luapan emosi yang menyerangnya bertubi-tubi. Dia tidak boleh menangis, dia tidak boleh menunjukkan kemarahannya, karena tugasnya sebagai selir hanyalah melayani sang raja dan memastikan dia tidak melakukan tindakan yang mencoreng reputasi rajanya itu. Mencakar, memukul, dan menendang Danzou sudah pasti termasuk dalam daftar hal yang tidak boleh ia lakukan.

Pembicaraan selanjutnya hanya masuk kuping kiri dan keluar di kuping kanan bagi Hinata. Ia terlalu sibuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi jika ia benar-benar mengandung anak Fugaku. Dia pasti akan semakin terikat pada tempat itu, dan tidak bisa keluar lagi. Bahkan jika ia berhasil kabur pun, dia tidak yakin dia bisa menemui orang yang paling ingin ditemuinya. Rasanya terlalu memalukan, dan menyesakkan, untuk mengandung benih dari orang yang telah secara tak langsung membunuh ayahnya dan memisahkannya dari orang yang paling dicintainya. Jika bisa memilih, dia ingin sekali kembali pada Neji, kakaknya, dan hidup bebas seperti dulu. Tapi itu semua tidak mungkin. Hidup Neji kini tergantung padanya dan dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Neji terluka karena tindakan bodohnya.

Di sisi lain, dia tidak ingin mengandung anak Fugaku.

Apa yang harus dia lakukan?

"Hinata."

Panggilan dari Fugaku mengejutkan Hinata yang terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sudah berapa lama waktu berlalu?

"Kau terlihat pucat. Kembalilah ke kamarmu dan tunggu sampai aku kembali."

Hinata menganggukkan kepalanya. Ia berjalan ke pintu keluar, menutup pintu ruang pertemuan, dan menghela napas panjang. Naruto masih berdiri di sana dan membungkuk saat melihat Hinata. Tampaknya dia menyadari ekspresi muram Hinata namun tak berkata apapun. Hanya berkata, "Aku akan mengantarmu kembali ke kamar untuk beristirahat, Nona."

Sikapnya yang menjadi lebih formal sedikit menganggu Hinata, tapi dia tidak tahu kenapa. Yang jelas, ia mengerti kenapa Naruto bersikap seperti itu. Tentu saja pemuda itu tidak ingin mencari gara-gara dengan Fugaku lagi.

Hinata berjalan ke kamarnya dengan hati yang berat. Dia tahu dia akan terkurung di situ hanya untuk menunggu Fugaku kembali dan membuahinya, hingga ia melahirkan seorang anak untuknya. Hidup seperti ini benar-benar tak berarti, tapi Hinata tahu dia harus tegar. Tidak ada gunanya merengek dan menangisi keadaan. Tak akan ada yang berubah.

Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Naruto kembali membungkuk dan mengucapkan, "Selamat beristirahat, Nona."

Hinata berdiri lebih lama di sana. Ia butuh lebih banyak udara luar, karena udara di kamarnya pasti akan sangat menyesakkan. Tidak peduli berapa luas kamar itu, tetap saja itu adalah penjara baginya.

"Nona," ujar Naruto tiba-tiba. "Aku tahu aku tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan bebanmu, tapi kalau kau butuh teman bicara, aku siap mendengarkan ceritamu." Naruto memecah topeng formalnya, ia mengeluarkan senyumannya yang biasa.

"Terima kasih," Hinata membalas senyuman itu, tapi dia tahu senyumannya hanyalah senyuman kosong. Tak ada nyawa dalam senyuman itu, seakan itu adalah senyum sebuah boneka yang memang terpaksa tersenyum karena mulutnya diukir seperti itu oleh pembuatnya.

Hinata akhirnya masuk ke kamarnya, sementara Naruto berjaga di luar. Ekspresi Naruto menggelap. Dia tahu betapa tertekannya Hinata dari bagaimana gadis itu bersikap dan berekspresi.

Ini menyesakkan.

.

.

.

Hinata dikirimkan makan siang dan malam oleh pelayan, yang hanya ia habiskan kurang dari setengahnya. Dia tak memiliki nafsu makan sama sekali, tapi pelayannya memaksanya untuk makan karena jika dia tidak makan sedikitpun, akan ada hukuman bagi koki istana dan pelayan yang mengantarkan makanan tersebut. Hinata tidak ingin membebani orang lain hanya karena dia tidak mau makan, maka dia pun menelan makanannya dengan enggan. Selezat apapun makanan itu, tetap saja hambar di lidahnya.

Setelah makan malam, seorang pelayan lain datang ke kamarnya dengan membawa baki berisi mangkuk porselen kecil dan botol obat.

"Nona, ini obat penyubur kandungan dari tabib istana. Nona harus meminumnya, ini perintah dari Yang Mulia," ujar pelayan tersebut.

" ... Aku akan meminumnya nanti," ujar Hinata.

"Nona, saya harus melihat Anda meminum obat ini," ujar pelayan itu dengan nada sopan namun tegas. Ia kembali menyodorkan mangkuk porselen yang sudah dituangi obat itu pada Hinata.

Hinata mengerutkan keningnya, meraih mangkuk itu dan menenggak isinya sampai habis. Rasanya pahit, tapi Hinata tahu dia tidak boleh memuntahkannya.

"Yang Mulia akan datang sebentar lagi, sebaiknya Anda mandi dan berganti baju sekarang, Nona."

Tangan Hinata otomatis gemetaran dan dia tahu suaranya ikut bergetar saat ia menjawab, "A-aku sebenarnya sedang 'berhalangan' ... Baru saja."

"Boleh saya mengeceknya?" tanya pelayan itu tanpa malu-malu.

"A-apa?!" Hinata memundurkan tubuhnya. Pelayan itu tidak akan benar-benar mengeceknya, kan?

"Mulai sekarang siklus haid Anda akan dicatat, Nona. Dan kami harus tahu pasti apakah Anda memang sedang berhalangan atau tidak, karena hal itu diperlukan untuk menjadwalkan kedatangan Yang Mulia ke kamar Anda."

"A-aku ..." Hinata berkeringat. Kalau begini kebohongannya bisa terbongkar. Ya, dia memang tidak sedang berhalangan, dia hanya tidak ingin melayani Fugaku malam itu. Batinnya terlalu kacau untuk hal itu.

"Izinkan saya," ucap pelayan itu sembari berlutut dan menggenggam ujung rok Hinata. Gadis itu terlonjak dan menyingkirkan tangan si pelayan dengan paksa.

"Ba-baiklah, aku mengaku! Aku memang se-sedang tidak berhalangan ..." Hinata menundukkan kepalanya.

Si pelayan terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Senyum kemenangan.

"Lain kali Anda tidak boleh berbohong seperti itu, Nona."

Hinata tidak menjawab.

"Mari saya antar ke ruang mandi."

Hinata menurut, ia mengikuti pelayan tersebut yang masih saja mengoceh. "Anda tahu, Nona? Penjahit kerajaan sangat senang membuatkan baju tidur untuk Nona. Dia berpikir ukuran tubuh Nona sangat ideal. Yang Mulia pasti senang melihat Anda malam ini. Para pelayan sudah menyiapkan sabun mandi paling harum untuk Anda, dan baju tidur yang indah pun sudah disiapkan. Jika Anda berhasil melahirkan anak untuk Yang Mulia, ada kemungkinan Anda bisa diangkat dari selir menjadi ratu. Itu pasti bukan hal yang sulit bagi Nona. Nona benar-benar beruntung."

Hinata muak mendengar betapa beruntungnya hidupnya, terutama ketika dia betul-betul jauh dari kata 'beruntung' dengan berada di tempat ini.

.

.

.

Hinata menunggu kedatangan Fugaku dalam diam. Para pelayan sangat bersemangat saat merias wajahnya dan menata rambutnya agar dia tampak lebih cantik lagi, tapi Hinata tidak merasakan secuil semangat pun. Sebaliknya, dia ingin menghapus riasan itu dan memberantakkan rambutnya yang sudah ditata dengan susah payah oleh pelayan. Mungkin dengan berpenampilan jelek Fugaku akan meninggalkannya malam itu.

"Yang Mulia sudah datang." Suara Naruto tiba-tiba terdengar dari balik pintu.

Para pelayan itu segera membereskan segala peralatan mereka dan meninggalkan ruangan. Dan sebelum Hinata sempat menghapus riasannya ataupun mengacak-acak rambutnya, Fugaku sudah ada di ruangan itu. Tatapannya menelusuri penampilan Hinata.

Wajah Hinata bersemu merah muda, bibirnya yang lembut terlihat menggoda dalam pulasan lipstik berwarna pink berkilau, dan bulu matanya terlihat lebih lentik dari biasanya. Rambutnya yang malam kemarin dibiarkan polos tergerai, kali ini terlihat berombak dengan beberapa kepangan yang diikat oleh seutas pita di belakang kepalanya, sukses mempercantik penampilannya. Tubuhnya kini tak lagi dibalut oleh gaun tidur berwarna putih, namun sebuah gaun mini berwarna hitam yang kontras dengan kulit saljunya. Gaun itu hanya disangga oleh seutas tali mungil yang melintasi bahu Hinata. Di bawah roknya terdapat aksen brukat. Rok itu hanya menutupi sebagian paha mulus Hinata, sementara bagian lainnya dibiarkan terbuka begitu saja.

Fugaku tersenyum tipis melihat Hinata.

"Kau lebih cantik dari kemarin," pujinya. Hinata tak merespon. Salah satu tangannya menggenggam lengannya yang lain, bentuk pertahanan diri terbaik yang bisa ia lakukan saat itu.

"Kau sudah meminum obat dari tabib istana?"

Hinata mengangguk pelan. Mata lavendernya menatap lantai, seolah lantai itu jauh lebih menarik dari Fugaku yang berdiri di hadapannya.

"Tabib juga memberikannya padaku, tentu saja ramuannya berbeda, tapi fungsinya sama." Fugaku berjalan mendekat pada Hinata, kedua tangannya meraih bahu gadis itu.

"Kau mengingatkanku pada Mikoto ..." gumam Fugaku. Ia mengangkat dagu Hinata hingga sekarang mau tidak mau gadis itu menatap matanya. "Jika saja warna matamu hitam, kau akan menjadi sangat mirip dengannya. Walaupun kepribadian kalian sama sekali berbeda ..." Fugaku mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman di bibir Hinata.

Hinata menutup rapat bibirnya, namun lidah Fugaku yang memaksa masuk membuat ia menyerah dan akhirnya dia membiarkan lidah itu bergerilya di dalam mulutnya. Hinata hampir kehabisan napas ketika Fugaku tak berhenti menciumnya selama dua menit, namun akhirnya Fugaku berhenti juga.

"Malam ini, jadilah milikku seutuhnya. Aku tidak akan membiarkanmu diam seperti kemarin. Kau harus merespon setiap sentuhanku. Kau akan mendesah saat aku menciummu, melenguh saat aku memainkan buah dadamu, dan berteriak nikmat saat aku memasukimu." Fugaku menatap Hinata dengan tajam. "Aku tidak ingin melihatmu menjadi pasif lagi. Kau mengerti?"

Hinata tersedak oleh liurnya sendiri. Sebuah suara dari dalam tenggorokannya mengindikasikan sebuah isakan. Dan air mata merebak di matanya saat Fugaku meremas pipinya dengan satu tangannya.

"Mengerti?"

Hinata bahkan belum sempat menjawab saat Fugaku kembali menciuminya dengan beringas. Sepertinya obat yang diberikan oleh tabib istana sangat berpengaruh dalam meningkatkan libido sang raja. Ia tidak menunggu waktu lama untuk mendorong Hinata ke tempat tidur dan menindihnya. Tanpa mempedulikan air mata yang jatuh di pipi gadis itu, ia menyelipkan tangannya ke balik gaun tipis itu dan meremas benda kenyal yang berada di sana.

Hinata bisa merasakan dengan jelas bagian tubuh Fugaku yang mengeras di pahanya. Ia menggigit bibirnya saat kedua buah dadanya diremas sementara lehernya ditandai oleh Fugaku. Ketika Fugaku mendongak, Hinata bisa melihat jika mata kelam itu sudah diliputi oleh nafsu.

"Mendesahlah," perintahnya.

Hinata masih menggigit bibirnya, ketakutan terpeta jelas di wajahnya.

"Kau tidak mau? Kalau begitu akan kubuat kau mendesah."

Dengan itu Fugaku menggerakkan tangannya ke bawah hingga ia menyentuh bagian sensitif Hinata. Gadis itu mengerang pendek tanpa sadar, dan rona merah dengan segera menyebar di pipinya, kali ini bukan efek make up, tapi memang asli respon dari aliran darahnya yang berkumpul di sana.

Fugaku menyeringai. "Teruslah seperti itu."

Fugaku menyingkirkan gaun yang kini menurutnya mengganggu itu dan melemparkannya ke sembarang arah, meninggalkan Hinata yang tergolek di sana tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

Pria itu kembali memainkan titik sensitif Hinata dengan tangannya, membuat gadis itu tak mampu menahan desahannya. Baru kali ini dia disentuh seperti itu. Malam kemarin segalanya berlangsung terlalu cepat dan ia sama sekali tidak bisa menikmatinya. Tapi kini, Hinata bisa merasakan bagian bawahnya basah oleh cairan alami tubuhnya.

Hinata tidak ingin mengakuinya, tapi dia terangsang oleh sentuhan Fugaku. Tubuhnya mengkhianati pikirannya, dan jauh di sudut benaknya Hinata berpikir mungkin ini adalah efek obat yang diminumnya tadi. Dalam keadaan normal dia tidak akan sebasah ini.

Fugaku tidak membiarkan mulutnya menganggur begitu saja. Dia menghisap puting gadis di bawahnya seperti bayi yang kehausan. Kombinasi tangan dan mulut yang memainkan tubuhnya membuat Hinata mendesah lebih keras, dan dalam satu detik dia dibanjiri sensasi aneh yang menerjang tubuhnya—sensasi yang menyebabkan jari-jari kakinya melengkung dan punggungnya tersentak ke atas.

Melihat ekspresi Hinata yang begitu sensual saat ia 'keluar', Fugaku segera mengarahkan kejantanannya untuk memasuki liang Hinata yang basah dan hangat. Dia bisa merasakan tangan Hinata yang mencakari punggungnya saat dia bergerak di dalam tubuh gadis itu, namun cakaran itu justru membuat nafsunya semakin berkobar. Mulutnya mencari bibir Hinata untuk diciuminya. Kadang ia berhasil mencium bibir ranum itu, tapi tak jarang ia hanya membiarkan dirinya dan Hinata saling bertukar napas panas yang menerpa wajah masing-masing. Hinata memejamkan matanya, dia tidak ingin menampakkan matanya. Ia tidak berani. Jika ia membuka mata, Fugaku pasti akan melihat bahwa Hinata menikmati sesi bercinta ini. Hal itu sangat memalukan bagi Hinata, dan ia lebih memilih mati dibandingkan harus memperlihatkan sisi dirinya yang seperti itu pada Fugaku.

Hinata kembali mendesah panjang saat ia merasakan gerakan Fugaku yang semakin tak terkontrol—tangannya berhenti mencakari punggung Fugaku dan lebih memilih untuk meremas seprai di bawahnya. Fugaku pun mengeluarkan geraman rendah saat dia mencapai klimaksnya dan menumpahkan benihnya di dalam tubuh Hinata.

Kedua insan itu terengah-engah. Fugaku membelai wajah Hinata, kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.

"Kerja bagus," bisiknya di depan telinga Hinata.

Saat itu juga Hinata seolah tersedot ke alam nyata dan ia membuka kedua matanya.

"Lebih baik kau segera hamil supaya aku bisa menyingkirkan rasa bersalahku pada Mikoto karena sudah memperlakukan wanita lain seperti ini."

Hinata kembali menggigit bibirnya saat Fugaku mengeluarkan dirinya yang sudah lemas dan meraih jubahnya.

"Yang Mulia ... apakah aku hanya mesin pembuat anak bagimu?" tanya Hinata dengan suara bergetar.

"Baguslah kalau kau mengerti," jawab Fugaku dingin.

Setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk mata Hinata dan gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya.

Diperlakukan seperti ini oleh orang yang bahkan tidak dia cintai ...

"Lebih baik aku mati ..." ujar Hinata dengan isakan keras yang mengguncang tubuhnya. "Lebih baik aku mati ... cari saja wanita lain yang bersedia diperlakukan seperti ini ... tapi bukan aku ..." Gadis itu terisak lagi, dan di saat seperti ini dia benar-benar merindukan pelukan Neji, kakaknya, yang pasti akan menenangkan dirinya dan mengusap rambutnya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Sepertinya kau lupa. Kau tak boleh mati," kata Fugaku. "Kalau kau mati, Neji juga akan mati."

Hinata mengepalkan tangannya. "Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya dengan mata basah. "Apa salahku padamu, Yang Mulia?"

"Tanyakan itu pada ayahmu yang sudah berani mengkhianatiku," jawab Fugaku dengan ekspresi yang tak terdefinisikan. "Yang jelas, kau tak boleh hidup atau mati ... tanpa seizinku."

Fugaku yang sudah selesai menyimpulkan jubahnya beranjak pada Hinata dan memegang bahu gadis itu. "Selama kau menjadi gadis yang baik dan tidak membantahku, aku menjamin keselamatan Neji."

Fugaku mencium bibir Hinata untuk terakhir kalinya, namun yang ada di benaknya adalah Mikoto. Ia pun melepaskan ciuman itu dan pergi dari ruangan tersebut, berniat untuk tidur di kamar utama miliknya. Ia meninggalkan Hinata yang masih menangis dengan suara isakan paling menyedihkan yang pernah ia dengar.

Sang Raja mengabaikan tatapan garang Naruto yang berdiri di luar kamar. Dia memang ditugaskan berjaga di situ malam itu, dan Naruto yakin Fugaku memiliki maksud terselubung di balik perintah itu. Dia mengerti sekarang. Fugaku ingin Naruto mengerti siapa yang memiliki Hinata. Suara-suara mereka pasti terdengar ke luar dan Naruto merasakan perasaan yang berkecamuk saat telinganya menangkap suara tersebut. Di satu sisi, dia ingin menyelamatkan Hinata, tapi di sisi lain, mendengar bagaimana suara desahan gadis itu, dia tak yakin apakah gadis itu memang perlu diselamatkan. Namun mendengar isakan yang kini terdengar jelas dari dalam kamar, Naruto yakin kalau Hinata sebenarnya tidak bahagia dengan apa yang terjadi di dalam kamar beberapa waktu yang lalu.

"Kau tidak ingin mengucapkan apapun sebelum aku pergi, Naruto? Di mana tata kramamu?"

Naruto mengeraskan rahangnya sebelum memberi tanda hormat dan mengatakan, "Selamat malam, Yang Mulia."

Fugaku tak membalas dan berjalan dengan angkuh ke kamarnya. Tepat sebelum dia membuka pintu kamarnya, sebuah suara berkata, "Menikmati malammu, Ayah?"

Sasuke yang berdiri sembari bersedekap berujar dengan dingin. Fugaku tak merasakan hawa keberadaan Sasuke sebelumnya, dan dalam hati ia mengapresiasi kemampuan putranya itu.

"Apa yang kau lakukan di sini malam-malam?" Fugaku bertanya balik.

"Kau habis menikmati tubuh gadis menjijikkan itu dan melupakan Ibu, kan?" Sasuke mendecih. Tampak jelas kalau dia tak suka dengan sikap ayahnya.

"Aku tak pernah melupakan ibumu, Sasuke."

"Kalau begitu untuk apa kau pergi ke kamarnya?!" bentak Sasuke.

"Kau tahu kondisi politik kita seperti apa. Aku perlu setidaknya satu anak lagi untuk mengamankan tahta dari pihak lain selain Uchiha."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri! Untuk apa kau butuh satu anak lagi?!"

"Oh ya? Katakan padaku sudah berapa percobaan pembunuhan yang kau terima bulan ini?" Fugaku berkata tenang.

"Itu tidak penting. Aku selamat dan aku baik-baik saja," Sasuke memberengut. "Seandainya kakak tak berguna itu ada di sini, ini pasti tak akan terjadi," umpatnya.

"Sasuke, sudah berapa kali kubilang kau tak boleh membicarakan kakakmu seperti itu?"

Ekspresi Fugaku kini mengeras. Ia paling tak suka kalau putra sulungnya dijelek-jelekkan, bahkan jika itu oleh adiknya sendiri.

"Itachi ... kalau dia kembali aku akan membunuhnya," ucap Sasuke tak peduli.

"Kau tahu kau tak akan bisa melakukan itu. Kemampuanmu jauh di bawahnya."

Lagi-lagi dia dibandingkan dengan Itachi oleh ayahnya. Bahkan walaupun sosoknya tak ada di sini, tetap saja dia selalu berada di bawah bayang-bayang Itachi ...

"Oh ya? Kalau begitu aku akan membunuh gadis itu saja," ucap Sasuke akhirnya. "Kau tak peduli kan, Ayah? Lagipula kau tak mencintainya. Dan gadis itu seharusnya sudah mati belasan tahun yang lalu bersama ayahnya yang pengkhianat itu."

"Kalau begitu kau harus berhadapan dengan Naruto."

Sasuke terdiam. Naruto adalah sahabat baiknya, satu-satunya orang yang bisa dia sebut sebagai sahabat.

"Dia sudah kutugaskan untuk menjaga Hinata bahkan jika dia harus mempertaruhkan nyawanya. Dan kau tahu betapa dia patuh padaku karena aku menyelamatkannya ketika dia masih kecil dan hanyalah seorang yatim-piatu. Kau bahkan sudah menganggapnya sebagai saudaramu sendiri, kan? Apa kau yakin kau bisa menghunuskan pedangmu padanya?"

"... Aku membencimu, Ayah."

"Terima kasih. Sebaiknya kau gunakan kebencianmu itu untuk sesuatu yang lebih berguna," Fugaku mengakhiri pembicaraan dengan membuka pintu kamarnya dan masuk, lalu menutup pintu itu dengan rapat.

Sasuke ber'tch' kemudian membalikkan badannya.

Ketika ia melewati kamar Hinata, Naruto masih berada di sana. Mereka berdua bertatapan dengan tajam tanpa kata-kata.

Kemudian suara isakan itu terdengar lagi, dan Sasuke mengernyitkan dahinya. Suara itu ... sangat menyayat hati. Bahkan dirinya yang biasanya tak terpengaruh pun merasakan sedikit perasaan kasihan ketika mendengarnya. Naruto bereaksi lebih jelas. Dia menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya erat, seakan dia sendiri ingin ikut menangis.

"Dobe, untuk apa kau menunjukkan reaksi seperti itu untuk gadis pelacur itu?"

"Teme, kau tidak tahu seperti apa rasanya terus berdiri di sini dan mendengarkan tangisannya tanpa bisa melakukan apapun. Aku turut bersedih untuk gadis itu."

"Heh," Sasuke mendengus. "Seperti biasa, kau terlalu sensitif."

Tanpa menunggu jawaban Naruto, Sasuke melanjutkan berjalan pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutup matanya. Rasa frustasi yang muncul karena percakapan intensnya dengan ayahnya sedikit terlupakan karena suara tangisan itu. Padahal jarak kamar mereka cukup jauh, namun telinganya seolah mendengungkan suara tangisan gadis itu, berulang-ulang, sampai akhirnya dia tertidur.

.

.

.

Malam itu, Sasuke bermimpi dia merangkul dan menenangkan gadis itu, yang menangis di dadanya seolah hidupnya telah berakhir, hingga gadis itu berhenti menangis dan akhirnya tersenyum kecil padanya.

... Senyum itu terlihat lebih menyilaukan dibandingkan cahaya apapun yang ada di dunia ini.

to be continued-

.

.

.

A/N: hai, semuanya. Saya kembali dengan chapter 3 Forbidden Lover. Chapter ini cukup panjang, saya sendiri sampai kaget. Biasanya saya tidak bisa menulis panjang-panjang, tapi jari ini seolah tidak mau berhenti. Saya rasa ini berkat review dari kalian semua. Terima kasih banyak ya, untuk kalian yang silent reader juga. :)

Special thanks to: mianaav av, chika kyuchan, geek, anita indah 777, Hinata Centric, Cahya Uchiha, Love, nunu, Vanila Latte, hiru nesaan, Ashura Darkname, siiuchild, ailla-ansory.

P.s: untuk yang bertanya pair akhirnya siapa, let it flow saja ya. :)