Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning: crack pair, age gap marriage, reversed harem, AU, OOC. DLDR.
Tanda # # # dan tulisan italic di dalamnya berarti flashback.
.
Forbidden Lover
Suasana di kamar Hinata pagi itu terasa lebih suram dibandingkan biasanya. Pelayan yang masuk bisa merasakan itu dari betapa gelapnya kamar itu karena gorden tebal yang diatur untuk menutupi seluruh jendela. Di tempat tidur, sang pelayan bisa melihat Hinata yang berbaring memunggunginya.
"Nona, bangunlah. Anda harus sarapan."
Untuk pertama kalinya ucapan pelayan itu tak ditanggapi apapun oleh Hinata. Gadis itu tetap pada posisinya, memunggungi sang pelayan.
"Nona?"
Tak mendapat jawaban apapun, akhirnya pelayan tersebut berjalan mengitari tempat tidur, sampai ia bisa melihat wajah Hinata. Ia terkesiap saat melihat mata Hinata yang membengkak. Tapi bukan itu saja yang membuatnya terkejut. Tatapan kosong Hinatalah yang membuatnya melangkah mundur. Dia merasa melihat seseorang yang sudah mati, hanya saja orang itu terperangkap dalam raga yang masih hidup. Tatapan Hinata benar-benar kosong, seakan dia sedang melihat dunia lain tak bisa dilihatnya.
"Nona, Anda baik-baik saja?"
'Hina-chan, kau baik-baik saja?'
"Apa perlu saya panggilkan tabib, Nona?"
'Kau demam. Kakak akan meracikkan obat untukmu.'
"Nona ... Anda ... menakuti saya ..."
'Cepatlah sembuh, Hina-chan. Kakak merindukan senyumanmu.'
"Kakak ... aku juga merindukanmu."
Pelayan itu membelalakkan matanya. Suara yang keluar dari mulut Hinata terdengar sangat parau, dan gadis itu mengucapkan sesuatu yang tak dia mengerti. Siapa Kakak yang disebutnya? Kenapa jawaban Hinata sangat bertentangan dengan ucapannya?
"Kakak ... seandainya aku bisa mengatakannya ... aku ... mencintaimu ..."
Detik itu juga pelayan itu bergegas keluar untuk memanggilkan tabib istana. Wajahnya pucat, dan dia tak peduli saat dia bertubrukan dengan pelayan lain yang sedang membawa baki makanan. Keadaan Hinata terlihat sangat mengkhawatirkan dan itulah yang menjadi fokusnya saat ini.
Tak berapa lama, seorang pria muda berkacamata bulat dengan rambut yang diikat di belakang memasuki kamar Hinata. Dia membawa sejumlah ramuan obat yang menurutnya diperlukan ketika dia mendengar kondisi Hinata dari sang pelayan.
"Nona, izinkan saya memeriksa kondisi Anda," ucap pria tersebut. Ia meraih pergelangan tangan Hinata untuk memeriksa denyut nadinya. Kerutan kecil muncul di dahinya ketika ia merasakan denyut nadi itu lebih lemah dari yang seharusnya.
"Nona, apa Anda mendengarku?"
Setetes air mata merespon pertanyaan tabib muda itu.
"Nona sepertinya menangis semalaman, lihat betapa bengkak matanya. Dan dia tidak mau bicara pada saya, satu-satunya yang dia katakan adalah tentang kakaknya," ujar sang pelayan yang berdiri di belakang tabib itu. "Tuan Kabuto, saya khawatir Yang Mulia akan mengaitkan hal ini dengan saya karena selama ini sayalah yang sering melayani Nona Hinata. Bagaimana kalau saya dipecat?"
"Nona Hinata sedang dalam kondisi seperti ini dan yang kau khawatirkan adalah pekerjaanmu? Sepertinya kau memang layak dipecat," ujar Kabuto. Pelayan itu menunduk malu dan tak berkata apa-apa lagi.
"Kurasa dia hanya mengalami guncangan psikologis. Kondisi tubuhnya memang melemah, namun tak ada yang serius. Kapan terakhir kali dia makan dan seberapa banyak yang dimakannya?"
"Nona terakhir makan tadi malam, tapi dia hanya makan sedikit ... setiap tiba waktu makan dia selalu makan sedikit," ujar pelayan tersebut.
"Pantas saja dia pucat begini. Siapkan sup yang mudah untuk dicerna, dan pastikan dia meminum obat ini tiga kali sehari sampai nafsu makannya pulih," kata Kabuto sembari menyerahkan kantung kecil berisi pil obat. Dia membuka satu kantung lain dan mengeluarkan satu pil hitam berbentuk bulat. Kemudian Kabuto menepuk pelan pipi Hinata dan berkata dengan nada lembut, "Nona, saya tahu Anda mendengar saya. Anda harus kuat, Nona. Demi Yang Mulia ... ah, tidak. Maksud saya demi kakak Anda. Saya tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, tapi pikirkanlah orang-orang yang berharga dalam kehidupan Anda. Siapapun itu. Jika Anda tidak bisa pulih demi diri Anda sendiri, setidaknya pulihlah demi orang-orang yang menyayangi Anda. Mereka pasti akan sedih jika mengetahui kondisimu sekarang."
Mata Hinata berkedip sekali, kemudian ia pun berangsur-angsur menatap Kabuto.
"Kau ... bukan Kakak ..." lirihnya parau.
Kabuto tersenyum menenangkan. "Saya memang bukan kakak Anda, tetapi saya ingin Anda sembuh. Saya yakin kakak Anda akan mengharapkan hal yang sama jika dia berada di sini."
Kabuto menyorongkan pil hitam itu di depan bibir Hinata, kemudian melanjutkan, "Maukah Anda menelan pil ini? Demi kakak Anda."
Hinata pun akhirnya mengangguk dan membuka mulutnya. Kabuto mengambil segelas air kemudian membantu Hinata duduk untuk meminum pil tersebut. Ia menyadari kalau tubuh Hinata masih hanya terbalut oleh selimut putih, namun tak berkata apapun.
"Sekarang istirahatlah,"katanya.
Hinata mengangguk kemudian kembali berbaring dan menutup matanya. Tak berapa lama dia terlihat sudah tenang dan tertidur dengan napas teratur.
Kabuto memperhatikan beberapa tanda merah yang menodai leher dan bahu Hinata, dan otak cerdasnya bisa memastikan jika keadaan Hinata pasti berhubungan dengan Fugaku. Ia menghela napas pendek. Jika dia mempunyai adik perempuan seperti Hinata, dia pasti akan sangat marah jika adiknya itu harus tidur dengan lelaki yang tidak dia cintai. Namun dalam hati dia mengakui kalau dia pun bersalah, karena sudah membuatkan ramuan yang mempengaruhi gairah Hinata tadi malam. Mungkin lain kali dia harus mengurangi dosis obat perangsang dalam ramuan penambah kesuburannya.
"Katakan pada Yang Mulia, Selir Hinata tidak dapat melayaninya malam ini karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Aku akan membuat surat keterangan sakit jika perlu," ujar Kabuto pada pelayan.
"Baik, Tuan."
"Obat tidur yang kuberikan padanya hanya akan membuatnya tertidur selama lima jam. Setelah dia bangun, pastikan dia makan sesuatu dan berikan obatnya."
Pelayan itu mengangguk. Kabuto pun akhirnya pergi. Dia menyadari kehadiran Naruto yang berdiri tidak jauh dari kamar Hinata. Wajah pemuda itu terlihat khawatir.
"Bagaimana keadaannya?"
"Tidak ada yang serius dengan tubuhnya, hanya sedikit malnutrisi dan kurang tidur. Dia akan sembuh jika cukup beristirahat serta makan lebih banyak dan teratur."
"Begitukah? Dia menangis semalaman, pantas saja jika dia kurang tidur ..."
"Mengenai hal itu," Kabuto membetulkan posisi kacamata dengan telunjuknya sebelum melanjutkan, "kurasa masalah Nona Hinata terletak pada kondisi psikologisnya, dan bukan pada jasmaninya."
"Kondisi psikologis?"
"Ya. Menurut pelayan, dia sebelumnya bicara tentang kakaknya. Kurasa itulah masalahnya. Akan lebih baik jika Nona Hinata dapat bertemu dengan kakaknya sebelum situasinya lebih buruk lagi."
"Tapi ..." Naruto mengerutkan keningnya, "Nona butuh izin dari Yang Mulia untuk mengunjungi kakaknya."
"Dan jika perkiraanku benar, Yang Mulia tak akan mengizinkan hal semacam itu, benar?" Kabuto melayangkan ingatannya pada masa lalu. "Menjadi wanita Yang Mulia berarti hidupnya otomatis terkurung di istana, dan tak dapat menginjakkan kaki ke sembarang tempat tanpa seizinnya. Dulu Permaisuri Mikoto juga begitu, hanya saja dia beruntung karena Raja Fugaku mencintainya dan dia pun pada akhirnya mencintai Yang Mulia. Kurasa Permaisuri Mikoto tak akan keberatan jika harus menukar kebebasannya asalkan dapat terus bersama Yang Mulia dan anak-anaknya."
"Betul ... Mendiang Bibi Mikoto memang sangat mencintai keluarga kecilnya. Tapi Nona Hinata ... kasihan sekali hidupnya, jika dia harus terus di sini hingga akhir hayatnya tanpa bisa menemui orang yang disayanginya. Apalagi kakaknya adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa."
Kabuto tersenyum simpatik dan menepuk pundak Naruto. "Kadang nasib tragis seperti itu memang bisa terjadi. Kau pasti memahami itu lebih dariku karena kau sendiri sudah tak memiliki keluarga sejak kau masih kecil."
Naruto tersenyum pahit. "Ya, entah bagaimana aku bisa menghubungkan nasibku dengan Nona Hinata. Jika dia tidak bisa menemui kakaknya, sama saja dia sebatang kara di dunia ini. Sama sepertiku. Hanya saja aku masih memiliki seseorang yang kuanggap sebagai saudara—Sasuke—dan aku bebas melangkahkan kaki ke mana pun aku mau selama aku sedang tidak bertugas menjaganya. Gadis itu ... nasibnya lebih malang dariku."
"Kenapa kau tidak masuk dan menemuinya? Kau bisa mengecek sendiri keadaannya dan mungkin bisa menjadi teman bicaranya saat dia sudah bangun."
Naruto menatap mata Kabuto. "Semalaman tadi aku sudah mempertimbangkan untuk masuk. Aku bisa masuk jika aku mau. Tapi itu berarti aku akan melanggar perintah Paman Fugaku. Dia sudah memperingatkanku bahwa tugasku hanya menjadi bodyguard-nya, bukan babysitter-nya, yang berarti tugasku hanyalah melindunginya saat ada orang yang ingin menyerangnya, dan bukannya menghiburnya saat dia sedang menangis. Kau tahu ... aku banyak berhutang budi pada Paman Fugaku. Jika beliau tidak menyelamatkanku dulu, mungkin aku akan mati kelaparan di jalanan, atau lebih buruknya lagi, hidup dengan menjadi seorang kriminal untuk bertahan hidup. Aku hanya ... tidak bisa mengkhianati Paman Fugaku."
Kabuto mengangguk paham. Akhirnya dia pun menyampaikan pendapat terakhirnya, "Kalau begitu, setidaknya masuklah jika dia sudah bangun. Tanyakan bagaimana keadaannya dan apa kau bisa membantunya untuk apapun. Aku tahu kau pasti masih memiliki rasa kemanusiaan untuk setidaknya melakukan hal itu."
Naruto mengangguk. "Akan kulakukan."
"Kalau begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa, Naruto."
"Ya, sampai jumpa."
Naruto memperhatikan sampai Kabuto berbelok di ujung lorong, kemudian dia menjatuhkan dirinya di lantai dan bersila di sana. Dia melirik ke belakang, ke pintu yang memisahkannya dengan Hinata, kemudian melipat tangannya.
Aku ingin melindunginya, dan mengembalikan senyum di wajahnya jika aku bisa...
.
.
.
Sasuke terbangun dengan kerjapan mata yang tiba-tiba. Dia segera mendudukkan diri, kemudian memijat pelipisnya.
'Mimpi macam apa itu? Kenapa aku harus merangkul gadis itu? Dan kenapa aku ... merasa hangat ketika dia tersenyum padaku di dalam mimpi?' batin Sasuke. Dia tak percaya dia baru saja memimpikan gadis itu—gadis yang baru kemarin menghinanya dengan menyiramkan jus tomat di wajahnya. Gadis yang bernyali tinggi di pagi hari, sekaligus gadis yang menangis tersedu-sedu pada malam harinya. Sasuke masih ingat jelas seperti apa suara isakan itu. Seumur hidupnya dia jarang berhadapan dengan para gadis secara pribadi. Biasanya, dia hanya harus menghadapi gadis-gadis jelata yang mengaguminya dari kejauhan sambil berteriak-teriak 'Pangeran Sasukeeee!' atau dalam kasus lebih ekstrim, gadis-gadis bangsawan yang mencoba memasukkan obat aneh ke dalam minumannya saat pesta hanya agar mereka dapat tidur dengan pangeran muda itu—yang tentu saja gagal karena Sasuke bukan orang bodoh yang akan tertipu oleh trik murahan begitu. Sasuke tidak pernah menyangka, bagaimana tangisan seorang gadis bisa mempengaruhi alam bawah sadarnya hingga dia bermimpi seperti itu.
"Lupakan tentang gadis itu," gumam Sasuke. "Dia merebut Ayah dari Ibu. Dia menggodanya dengan dada besarnya yang menjijikkan itu dan membuat Ayah datang ke kamarnya dua malam berturut-turut. Yah, apa yang bisa kuharapkan dari gadis pelacur seperti dia?"
Tapi itu tidak menjelaskan alasan Hinata menangis tersedu-sedu setelah ayahnya pergi.
"Tentu saja dia menangis. Dia masih ingin tidur dengan Ayahku sampai pagi dan keinginannya tidak dituruti," Sasuke menjawab sendiri pertanyaan yang muncul di pikirannya. "Gadis menjijikkan."
Sasuke bangkit dari tempat tidurnya untuk kemudian mandi. Tidak makan waktu lama baginya untuk menyelesaikan rutinitas paginya itu, hingga ia memakai pakaian kerajaan yang dijahit oleh penjahit istana yang merupakan penjahit terbaik di seluruh negeri. Pakaian itu memperlihatkan dengan baik postur tubuh Sasuke yang ideal untuk pria seumurannya. Bahu yang tegap, dada yang bidang, otot tangan yang sedikit menonjol, pinggang yang ramping, dan sepasang kaki yang panjang. Kombinasi mematikan itu mampu membuat para gadis bermimpi dapat bercumbu rayu dengan Sasuke—sebuah impian konyol yang akan mati dalam sekejap jika mereka bisa melihat betapa bencinya Sasuke pada wanita lain yang bukan ibunya. Anggap Sasuke memiliki kecenderungan Oedipus complex, tapi memang begitulah kenyataannya. Sasuke tidak tahan dengan teriakan melengking para gadis atau tatapan menggoda yang mereka lontarkan padanya.
Setelah selesai berpakaian, ia menuju ke ruang makan untuk sarapan. Hidangan yang mengepul dan menguarkan aroma lezat sudah tersaji di sana, lengkap dengan jus tomat favoritnya—minuman yang tidak bisa ia lewatkan setiap harinya. Sayang kemarin minuman itu tidak berakhir di kerongkongannya dan malah berakhir di wajahnya.
Sasuke mendengus ketika menyadari ia masih saja memikirkan insiden kemarin dengan Hinata. Ia mendudukkan dirinya dan mulai memakan sarapannya dengan tata krama yang sempurna. Dia sudah dididik sedari kecil oleh Mikoto untuk menjadi pangeran yang sempurna, mengikuti teladan kakaknya, Itachi, yang sekarang justru menghilang entah kemana. Sasuke kadang merasa miris, karena pangeran yang dianggap semua orang begitu sempurna, jenius, kuat, dan loyal pada kerajaan itu justru pergi dengan mudahnya tanpa meninggalkan catatan apapun.
Suatu hari Sasuke bangun dari tidurnya dan tahu-tahu Itachi sudah pergi. Semudah itu. Dan Itachi masih belum kembali sampai sekarang meskipun saat itu pasukan investigasi dan pelacak sudah dikerahkan ke berbagai penjuru selama berbulan-bulan untuk mencari keberadaan Itachi. Fugaku menghentikan pencarian saat ia tahu kalau Itachi memang tak ingin ditemukan. Dia tahu seberapa baik kemampuan Itachi dalam menyembunyikan diri dan menghilangkan hawa keberadaannya, dan dia memutuskan kalau Itachi ingin kembali, dia akan kembali dengan sendirinya. Sampai saat ini, ayah Sasuke itu percaya kalau Itachi masih menjaga kedamaian Kerajaan Konoha dengan caranya sendiri. Sesuatu yang membuat Sasuke mendengus geli.
Jika dia ingin Konoha damai, seharusnya dia tetap tinggal di sini dan menjadi pewaris tahta, bukannya meninggalkan tanggungjawabnya di pundakku dan membiarkan ayah menikah lagi demi lahirnya satu orang pewaris lagi dari rahim seorang wanita buangan.
Sasuke sudah setengah jalan menghabiskan sarapannya ketika dia menyadari kalau 'wanita buangan' dalam pikirannya pagi ini tidak menunjukkan batang hidungnya. Mungkin dia terlalu takut menghadapi Sasuke sekarang sehingga dia memilih untuk makan di kamarnya? Atau malah dia masih berleha-leha di ranjangnya dan hanya akan makan di ruangan itu jika Sasuke sudah selesai makan?
Sasuke memutuskan kalau menanyakan keberadaan Hinata tidak akan menyakitinya. Dia hanya ingin tahu.
"Wanita jalang itu, apa dia tidak akan makan di ruangan ini lagi? Dia terlalu pengecut untuk menghadapiku setelah kejadian kemarin?" tanya Sasuke pada salah satu pelayan yang berdiri di sisi ruangan untuk menungguinya sarapan.
"Wa-wanita jalang?" Pelayan itu mengernyit tak yakin.
"Ya, selir sialan itu. Dia memutuskan untuk menghindariku setelah kemarin menyiramiku dengan jus tomat?"
"Oh, maksud Anda Nona Hinata," ujar pelayan itu, dan dia menunduk takut saat Sasuke memelototinya ketika dia menambahkan kata 'Nona' di depan nama Hinata. "Ga-gadis itu sedang sakit. Tadi pelayannya sempat menubruk pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke ruangan ini, katanya No—maksud saya, gadis itu, sedang sakit, tapi Tuan Kabuto sudah memeriksa keadaannya, dan sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya."
Sakit, huh?
Sasuke melanjutkan sarapannya dengan tampang tidak peduli. Namun dalam hatinya dia membatin, 'Sakit itu pasti hanya alasan saja. Dia hanya takut bertemu denganku. Biar kuperiksa langsung ke kamarnya nanti setelah urusanku selesai, dan jika dia ternyata sehat-sehat saja, akan kubuat perhitungan dengannya.'
Sasuke mengabaikan suara hatinya yang bertanya dengan khawatir.
Apakah kau sakit karena aku? Atau karena ayahku? Apakah kau masih menangis?
.
.
.
Naruto mendongak ketika dia mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia tak menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Sasukelah yang ada di sana, dengan tampang dingin seperti biasanya.
"Teme, mau apa kau di sini?" tanyanya sambil bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk debu yang melekat di celananya kemudian bertanya lagi. "Apa kau ingin berlatih tanding denganku? Maaf, saat ini aku tidak bisa. Sudah lima jam berlalu dan sebentar lagi Nona Hinata pasti bangun. Aku ingin memeriksa keadaannya saat dia bangun."
"Jadi dia benar-benar sakit?" Sasuke menangkat satu alisnya.
"Tentu saja dia benar-benar sakit, Teme! Untuk apa berpura-pura? Ngomong-ngomong kenapa dengan wajahmu? Kau habis menemui Orochimaru ya?" Seringaian jahil muncul di wajah Naruto. "Dia berbicara yang aneh-aneh lagi?"
"Kau tahu dia seperti apa. Tapi aku harus tetap menemuinya demi menyempurnakan kekebalan tubuhku terhadap racun."
"Ada yang berusaha meracunimu lagi?" Naruto menyipitkan matanya. "Bedebah-bedebah itu tidak ada kapok-kapoknya. Untunglah kau kuat."
"Kejadian itu sudah seminggu yang lalu, Dobe. Kurasa mereka menggunakan racun jenis baru, makanya segera setelah aku benar-benar sehat, aku membuat janji bertemu dengan Muka Ular itu."
"Oh, begitu. Dia memang sangat berguna meskipun wajahnya aneh dan tatapannya pada tubuhmu lebih aneh lagi. Tidak kusangka tabib ahli seperti Kabuto adalah muridnya, padahal Orochimaru lebih suka mempelajari racun daripada obat." Naruto menelisik Sasuke dengan matanya. "Kau benar-benar sudah sehat, kan? Kenapa kau tidak memberitahuku soal ini sebelumnya?"
"Dobe, jangan memperlakukanku seperti aku ini nenek-nenek. Tentu saja aku baik-baik saja. Dan aku tidak memberitahumu karena aku tahu kau akan mengamuk dan mencari bedebah yang dengan lihainya memasukkan racun itu ke makananku. Kau mengerikan saat sedang mengamuk."
Naruto membalas ucapan Sasuke dengan senyuman kecil. "Tidak lebih mengerikan daripada kau saat sedang mengamuk. Diam berdiri saja kau sudah mengerikan." Naruto terkekeh dengan leluconnya sendiri. Kemudian saat dia menyadari sesuatu, dia pun menghentikan kekehannya. "Tunggu, kau tidak datang ke sini untuk mengajakku latih tanding. Lalu untuk apa? Kau mau menengok Nona Hinata?"
Keheningan sesaat menyelimuti kedua pemuda itu.
"Jangan bodoh. Untuk apa aku menengoknya? Aku hanya ingin memastikan dia tidak sedang berpura-pura sakit untuk menghindariku."
"Teme, dia menangis semalaman." Naruto menatap Sasuke tajam. "Kau mendengar suara tangisannya dengan telingamu sendiri. Dia juga kurang nutrisi karena dia tidak bernafsu makan. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi ini ada hubungannya dengan ... ayahmu."
Sasuke merespon dengan diam.
"Kalau kau juga datang ke sini hanya untuk menyakiti perasaannya, kusarankan kau untuk pergi. Nona Hinata tidak butuh cemoohanmu yang kejam itu. Biar kuberitahu, dia juga tidak bahagia dengan pernikahannya dan dia pasti tidak berniat sedikit pun untuk merebut Paman Fugaku dari mendiang Bibi Mikoto. Justru dia terpaksa datang ke sini sebagai selir. Jadi kau tidak berhak memperlakukannya dengan buruk." Naruto merapatkan bibirnya. "Jika kau menyebutnya 'Pelacur' lagi, aku tidak akan tinggal diam. Kau bisa memanggilku 'Dobe' atau 'Usuratonkachi' sesuka hatimu, tapi jangan lakukan itu padanya. Hidupnya sekarang saja sudah sulit."
Sasuke memejamkan matanya, kilasan kejadian kemarin pagi mampir lagi ke kepalanya, untuk kesekian kalinya di hari itu.
"Kalau itu permintaanmu, baiklah. Aku tidak akan berkata kasar lagi padanya, tapi jangan harapkan aku untuk bersikap baik padanya. Aku tidak akan memperlakukannya seperti itu selama dia masih menjadi selir ayahku."
Naruto tersenyum tipis. "Itu saja sudah cukup. Lagipula kau memang dingin pada semua orang. Hanya saja, kau perlu menjauhkan mulut berbisamu dari Nona Hinata."
"Mulut berbisa? Katakan itu pada Orochimaru."
Naruto tertawa pelan dan Sasuke menyeringai.
Suasana di antara dua sahabat itu terusik saat pintu kamar terbuka dan pelayan yang bertugas menjaga Hinata muncul. "Tuan Naruto, Selir Hinata sudah bang—oh, Pangeran Sasuke juga di sini?" Pelayan itu tampak terkejut, tapi dia menundukkan diri dengan hormat pada Sasuke kemudian melanjutkan ucapannya yang terpotong. "Selir Hinata sudah bangun. Saya akan segera kembali untuk membawakannya sup hangat dan obat. Permisi."
Pelayan itu pun pergi setelah memberikan tanda hormat pada Sasuke sekali lagi.
Naruto menoleh pada pintu kamar yang terbuka, lalu Sasuke.
"Dia sudah bangun. Kau mau masuk?"
"Untuk apa?" Sasuke menaikkan alisnya.
"Tentu saja untuk meminta maaf, Teme. Kau sudah berkata jahat padanya."
"Aku tidak ingat pernah bilang akan meminta maaf pada gadis itu. Aku hanya bilang aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk lagi."
Tentu saja seorang Sasuke Uchiha tidak mengenal kata 'maafkan aku'. Seumur hidupnya dia tidak pernah meminta maaf—yah, mungkin sekali-dua kali saat dia masih kecil dan bertingkah nakal hingga ibunya kesal dan kakaknya, yang waktu itu masih ada, tidak mau mengajaknya bermain—tapi setelah itu dia tak pernah meminta maaf pada siapapun.
Tak pernah.
Bahkan tidak pada ayahnya.
"Harga dirimu yang setinggi langit ketujuh itu mungkin harus kau turunkan sedikit levelnya, Teme," Naruto berkata sambil menghela napas.
"Permintaanmu kali ini mustahil. Aku seorang Uchiha. Tak pantas meminta maaf pada gadis yang kelasnya jauh di bawahku," ujar Sasuke.
"Terserah kau sajalah." Naruto mengangkat bahu. Ia sudah terlalu hapal sifat sahabatnya itu. "Kalau begitu aku akan masuk. Kau selesaikanlah apapun urusanmu hari ini. Sampai jumpa."
Naruto menepuk pundak Sasuke sebelum masuk ke kamar. Ia membiarkan pintunya terbuka karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman dari sahabatnya ataupun para pelayan yang suka bergosip.
Sasuke melangkahkan kakinya untuk menjauh dari tempat itu. Rasa ingin tahunya sudah terpuaskan, gadis itu memang sakit. Lalu apa? Dia tak akan menghambur masuk dan menanyakan keadaannya, kan? Dia tak akan meminta maaf ataupun merangkul gadis itu seperti yang dilakukannya dalam mimpinya, kan? Bagaimanapun, gadis itu adalah istri ayahnya, kan?
Sasuke melirik pintu yang terbuka, kemudian mendengus sekali lagi sebelum menghilang dari tempat itu.
.
.
.
"Nona Hinata, bagaimana keadaanmu?" Naruto bertanya setelah duduk di bangku di sebelah ranjang Hinata. "Apa ada sesuatu yang kau butuhkan? Aku akan mengambilkannya jika kau mau."
Hinata menengokkan wajahnya dan pandangan matanya bertubrukan dengan pemuda pirang itu. Dengan cepat dia menolehkan kembali wajahnya hingga ia menatap selimut. Dia sudah dipakaikan kembali sebuah gaun tidur berlengan panjang dengan ujung rok yang mencapai pergelangan kakinya. Seorang pelayan wanita memakaikannya saat Hinata tertidur. Hinata sangat bersyukur karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika seorang pemuda seperti Naruto masuk saat keadaannya masih telanjang bulat dan hanya tertutup selimut. Kabuto adalah pengecualian karena dia adalah tabib istana yang bertugas memeriksa keadaannya, dan lagi, Hinata sedang dalam kondisi yang terlalu sedih untuk merasa malu saat Kabuto datang.
"Aku tidak membutuhkan apapun," ujar Hinata. Suaranya masih parau. "Tapi terima kasih atas perhatianmu."
"Anda yakin?"
Hinata menganggukkan kepalanya. Naruto pun berkata, "Pelayan sedang mengambilkan sup hangat untuk Anda. Habiskanlah sebisanya, Nona. Setelah itu minumlah obat dari Tuan Kabuto. Obatnya selalu manjur. Aku membuktikannya sendiri saat dia mengobati luka-luka yang kudapat setelah latih tanding dengan Sasuke, atau setelah aku harus bertarung dengan orang yang mencoba melukai Sasuke. Yah, kau mungkin memang tidak memiliki luka yang sama dengan luka-lukaku itu, tapi tetap saja ..." Naruto merepet kemudian terdiam. "Maaf, aku malah mengoceh. Haha."
Hinata tak menjawab. Naruto mencoba bicara lagi.
"Aku dengar kau mengatakan sesuatu tentang kakakmu. Boleh aku tahu apa yang terjadi padanya sebelum kau datang ke istana?"
Air mata yang membayangi pandangan Hinata tertahan di sana, kemudian Hinata menghapusnya sebelum air mata itu sempat jatuh. Dia sudah terlalu banyak menangis. Bahkan dia terkejut matanya masih mampu mengeluarkan air mata.
"Dia ..." Hinata menggigit bibirnya. "Dia melakukan sesuatu yang tak boleh dilakukan."
Naruto mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
"Dia membunuh seseorang."
Naruto terkesiap. Jadi, kakak Hinata yang membuat Hinata begitu merindukannya itu justru adalah seorang pembunuh?
"Bagaimana bisa?" tanya Naruto dengan wajah tegang.
Hinata mengingat kembali detik-detik sebelum dia dipaksa pergi ke istana, serta percakapan-percakapan yang dilaluinya dengan pasukan polisi dan seorang petinggi kerajaan bernama Danzou di rumah kecil yang ditinggalinya bersama kakaknya.
# # #
Hinata masih ingat betapa terkejutnya ia saat mendapati serombongan lelaki berbadan tegap memasuki rumahnya hanya untuk melaporkan hal yang masih tak ingin ia percayai hingga kini.
"Neji Hyuuga terbukti melakukan pembunuhan terhadap seorang wanita."
"A-apa? Tidak mungkin! Kak Neji tidak mungkin membunuh! Dia orang yang baik!"
"Kau mungkin tidak percaya, tapi seluruh bukti mengarah ke sana. Kami bahkan memiliki seorang saksi mata yang menyaksikan pembunuhan itu."
"Kalian berbohong! Kak Neji ... dia orang terlembut yang pernah kutemui seumur hidupku ... Tak mungkin dia ... melakukan perbuatan sekejam itu ..."
"Tapi itulah kenyataannya. Kami sama sekali tidak berbohong. Dia sudah kami tangkap dan saat ini mendekam di penjara. Keluarga korban menginginkan dia dieksekusi mati."
"Kak ... Neji ... akan dieksekusi?"
Hinata ingat saat itu rasanya kakinya hampir tak dapat menopang tubuhnya sendiri.
"Ya, begitulah rencananya. Tetapi Tuan Danzou memiliki penawaran lain yang lebih baik untukmu, Nona Hyuuga."
Seorang pria tua yang memiliki bekas luka di dagunya pun maju. Dia meneliti Hinata dari ujung kaki ke ujung kepala kemudian tersenyum puas.
"Sudah lama tak bertemu, putri Hiashi. Kau benar-benar tumbuh menjadi gadis cantik. Kalau kau orangnya, Yang Mulia Fugaku pasti setuju. Akan kubuat dia setuju. Aku tidak perlu repot-repot mencarikannya wanita lain untuk dijadikan selir lagi."
"Se-selir? Apa maksud Anda?"
"Ikutlah kami ke istana untuk menjadi selir Yang Mulia. Jika kau setuju, kami akan melepaskan Neji dan membiarkannya hidup. Jika tidak, tak lama lagi hidupnya akan tamat. Bagaimana, Hyuuga? Aku tak akan memberikanmu waktu yang lama untuk berpikir. Jawablah sekarang juga."
Hinata mempertimbangkannya dengan hati tak menentu. Tetapi saat ia memikirkan wajah Neji, senyuman lembutnya, dan semua perlakuan baiknya pada Hinata—dan yang lebih penting lagi—perasaannya untuk Neji, ia tak ragu untuk memilih. Hidup Neji adalah segalanya bagi Hinata. Dia tidak akan membiarkan kakaknya dieksekusi begitu saja. Dia tahu kakaknya hanya melakukan satu kesalahan di antara sekian banyak hal baik yang dilakukannya. Neji berhak hidup. Neji berhak memperbaiki kesalahannya. Dan jika dia harus menukar hidupnya untuk itu, Hinata bersedia.
"Berjanjilah kau akan melepaskan Kak Neji," ucap Hinata dengan suara bergetar.
"Kuanggap kau setuju?" tanya Danzou memastikan.
"Berjanjilah!"
"Huh. Berani juga kau membentakku, putri pengkhianat. Baiklah, aku berjanji. Kau puas? Sekarang ikutlah kami ke istana."
Hinata tak sempat membawa apapun barang pribadinya karena kedua lengannya sudah ditangkap oleh dua orang pasukan polisi. Dan dia digiring keluar dari rumahnya sendiri untuk kemudian dinaikkan ke kereta kuda yang mengantarkannya ke istana.
Dari sanalah mimpi buruk Hinata dimulai.
# # #
"Jadi ... dia membunuh seorang wanita?" Naruto membulatkan matanya.
"Itulah yang mereka katakan ..." lirih Hinata. "Sebenarnya aku tidak ingin memercayainya, tetapi ... aku tahu mereka serius. Aku bahkan merasakan firasat buruk sebelum mereka datang. Kak Neji pun bersikap aneh beberapa hari sebelumnya. Dia tampak gelisah dan melonjak kaget walaupun aku hanya menepuk pundaknya dengan lembut. Aku tahu ada sesuatu yang salah sedang terjadi ... dan hari itu, setelah Kak Neji pergi dari rumah dan tak kembali, kemudian para polisi itu merangsek masuk dan memberitahuku apa yang terjadi, barulah aku tahu alasan Kak Neji bersikap seperti itu ..." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku masih tidak mengerti ... kenapa Kak Neji melakukan hal seperti itu ..."
"Kau masih belum sempat menemuinya?" tanya Naruto lagi.
"Tidak—dan mungkin tak akan pernah lagi." Gadis itu meremas kain yang membalut tubuhnya. Dadanya terasa sangat sakit sekarang.
"Aku tidak tahu dia berada di mana sekarang. Mungkin dia sudah dibuang ke tempat yang lebih jauh lagi ..." ujar Hinata. "Dan aku pun sudah menjadi selir Yang Mulia. Aku tidak bisa menemuinya lagi. Dia akan jijik padaku. Aku ... aku sudah tidur dengan orang yang bertanggungjawab atas kematian ayahnya, juga ayahku. Dia pasti membenciku sekarang ..."
Naruto meraih pundak Hinata dan meremasnya, sehingga perhatian Hinata tertuju padanya.
"Kau sudah menyelamatkan hidupnya, Nona Hinata. Dia tak akan pernah jijik padamu. Justru harusnya dia berterimakasih, karena kehidupan sebagai selir yang kau jalani saat ini adalah harga mahal yang harus kaubayar untuk menyelamatkan nyawanya," ucap Naruto tegas.
Hinata tak kuat lagi menahan tangisannya—ia menundukkan wajahnya hingga air mata yang jatuh di pipinya menetes ke dagunya dan tanpa Naruto sadari, dia sudah memeluk gadis itu dan membiarkannya menangis di dadanya. Tangannya yang kasar akibat sering kontak dengan senjata kini mengelus lembut rambut Hinata, dan bibirnya yang biasanya tersenyum cerah kini membusur ke bawah karena ikut merasakan kesedihan gadis dalam pelukannya.
Pelayan yang berniat masuk untuk membawakan sup dan obat sampai menghentikan langkahnya saat dia menyaksikan kedua orang itu. Dan dengan berjingkat-jingkat, dia pergi meninggalkan kamar itu untuk memberikan privasi bagi Hinata dan Naruto. Dalam hati, dia tahu jika yang paling Hinata butuhkan saat ini bukanlah makanan ataupun obat, namun seseorang yang bisa diajaknya untuk berbicara dan menyampaikan keluh kesahnya. Kabuto pun pasti akan menyetujui hal ini, karena dia sudah berkata bahwa masalah Hinata terletak pada psikologisnya.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya Hinata merasakan rasa aman semenjak dia menginjakkan kaki ke istana. Naruto seakan menjadi pengganti Neji baginya—meskipun tentu saja perasaannya bagi Neji tak akan hilang hanya karena hal ini. Tapi setidaknya, Hinata merasakan kedamaian ... meski hanya untuk sesaat.
.
.
.
Tak ada seorang pun yang tahu bahwa hari itu, Sasuke yang berniat kembali untuk—akhirnya—'meminta maaf' (setelah melewati pertentangan batin yang rumit), justru menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya bergolak tak menentu.
Mengapa ia harus bermimpi merangkul dan menenangkan Hinata jika pada akhirnya, justru sahabatnyalah yang melakukannya?
to be continued—
.
.
.
A/N: saya kembali lagi dengan chapter 4 Forbidden Lover. Saya senang sekali karena fanfic ini mendapatkan respon yang positif dari para pembaca. Membaca review kalian semua benar-benar membangkitkan semangat saya untuk meng-update cerita ini. Kisah ini mungkin akan menjadi sedikit lebih kompleks dari yang saya rencanakan, tetapi semoga kalian bersedia mengikutinya sampai akhir. :)
Special thanks to: mianaav av, uzuuchi007, chika kyuchan, Vampire Uchiha, geek, yamanakavidi, yama-yuuri, chibi beary, gogo-kun, Cahya Uchiha, Tera, seman99i, siiuchild, hiru nesaan, Hikari, anita indah 777, Vanila Latte, Yuna Fu, enchep cheptie, dan Hime Hyuga.
P.s: Fugaku tidak muncul secara eksplisit di chapter ini, tapi dia akan kembali di chapter selanjutnya. Apakah ada yang merindukan kemunculan Fugaku? Haha. Just kidding.
