Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: crack pair, age gap marriage, reversed harem, AU, OOC. DLDR.

.

Forbidden Lover

"Bagaimana keadaan gadis itu?"

Naruto menghentikan langkahnya saat ia baru saja berbelok setelah menyusuri lorong panjang tempat kamar Hinata terletak. Sasuke bersandar di salah satu tembok, tangannya bersedekap, dan tatapan matanya sulit diartikan. Dia seolah sedang marah untuk alasan yang tak Naruto ketahui, dan Naruto merasa tak nyaman dengan hal itu.

"Maksudmu Nona Hinata?" tanya Naruto memastikan.

"Tentu saja. Gadis mana lagi yang baru kau temui selain dia?"

"Oh ... dia sudah baikan. Tadi dia sudah memakan supnya—sampai habis—dan dia juga sudah minum obatnya," ujar Naruto sembari tersenyum. "Dia kelihatan lebih lega sekarang."

"Tentu saja. Wanita mana yang tak lega kalau bisa menangis di dadamu dan dipeluk seerat itu olehmu?" Sasuke tersenyum masam. "Ayah tak akan suka jika dia mengetahui hal ini."

Seketika Naruto menyadari kesalahannya, dan dia pun menunduk. "Jadi ... kau melihatnya, ya?"

"Ya, sayang sekali, aku harus melihat sahabatku berpelukan dengan selir ayahku," Sasuke berujar dengan nada mencemooh. "Kerja bagus, Naruto. Kau baru saja membahayakan nyawamu sendiri. Kau tahu seperti apa ayahku jika dia sudah terikat dengan wanita. Cinta atau tidak cinta, dia posesif terhadap apa yang menjadi miliknya."

"Sasuke, aku tidak bermaksud—"

"Cukup, Naruto," potong Sasuke. Nada dinginnya lebih menusuk dari biasanya. "Aku tidak akan memberitahukan perihal ini pada ayahku, hanya karena kau sahabatku, dan aku tidak ingin nyawamu berakhir di usia semuda ini. Kau masih harus menepati janjimu untuk menjadi tangan kananku yang setia ketika aku diangkat menjadi raja."

"Bisakah kau mendengarkanku sebentar saja, Teme?!" Nada Naruto kini meninggi. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Sasuke. "Aku tidak berniat menjalin hubungan yang tak pantas dengan Nona Hinata! Aku hanya ingin menghiburnya! Kupikir gadis seperti dia perlu dilindungi karena keadaannya saat ini sangat jauh dari kata 'bahagia'! Aku hanya tidak ingin dia lebih menderita lagi! Kau tidak tahu kisah hidupnya sepedih apa! Pangeran sepertimu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang seperti kami!"

Ketika Naruto sudah menyelesaikan kalimatnya, napasnya tersengal. Tapi dia masih belum selesai.

"Setidaknya kau pernah merasakan seperti apa rasanya punya keluarga! Kau tahu seperti apa rasanya mendapatkan belaian sayang dari tangan ibumu sendiri, kau tahu seperti apa rasanya dipuji oleh ayahmu saat kau berhasil melakuan sesuatu sesederhana mengambil balon dari ranting pohon. Kau bahkan tahu seperti apa rasanya memiliki seorang kakak yang selalu berusaha melindungimu ... sedangkan kami—aku dan Nona Hinata ..." suara Naruto berubah lirih, "aku sudah kehilangan segalanya sejak aku masih kecil, dan Nona Hinata juga harus merelakan kebebasannya terrenggut demi kakaknya—yang sekarang tak bisa dia temui. Apa kau tahu bagaimana rasanya tak memiliki seseorang yang bisa menghiburmu saat kau membutuhkannya?"

Sasuke terdiam mendengarkan ledakan emosi Naruto. Meski di luar wajahnya tak menunjukkan perubahan ekspresi yang signifikan, namun hatinya seakan tertusuk belati ketika dia menyadari bahwa dia sudah berkata terlalu jauh. Mungkin Naruto memang hanya ingin menghiburnya. Mungkin sahabatnya itu memang tak berniat menjalin hubungan istimewa apapun dengan Hinata. Mungkin dia yang berpikir terlalu jauh disebabkan kemarahan menguasai hatinya untuk sesaat.

Tapi ... marah untuk apa?

Apakah Sasuke marah karena mengetahui bahwa ada kemungkinan Hinata mengkhianati ayahnya? Atau marah karena hal lain? Mungkinkah ia marah karena seharusnya dialah yang memeluk Hinata dan mendengarkan kisah hidupnya yang penuh kepahitan itu?

Sasuke tidak tahu.

Yang dia tahu, sesaat kemudian dia sudah mengulurkan tangannya pada Naruto, tanpa berkata apapun.

Naruto tertegun, namun akhirnya dia menerima uluran tangan Sasuke dan menjabatnya, sembari mendengus. "Aku memaafkanmu, Teme."

Sasuke mengangguk kemudian dia menepuk pundak pemuda bermata biru itu.

"Istirahatlah sebelum kau berubah menjadi zombie. Aku akan menyuruh pengawal lain menjaga kamar gadis itu."

"Aku memang tadinya berniat begitu," Naruto tersenyum lemah. Bukan hanya Hinata yang kurang tidur, dia sendiri mengalaminya, dan dia tahu jika dia bercermin dia akan menemukan kantung mata setebal setengah inci menggelayuti wajahnya.

"Tapi sebelum itu, bisakah kau memastikan sesuatu?" tanya Naruto.

"Memastikan apa?"

"Memastikan ayahmu tak mendatangi kamar Nona Hinata malam ini. Dia perlu beristirahat—jiwa maupun raga. Kau pasti mengerti maksudku."

Sasuke mengangguk singkat. "Tentu saja aku paham. Aku tidak bodoh sepertimu, Dobe."

"Ha!" Naruto mengangkat salah satu sudut bibirnya ke atas, memperlihatkan seringaian mengejek. "Baiklah, Pangeran Jenius, aku mau tidur dulu. Sampai besok."

Naruto berjalan menjauhi lorong itu setelah menepuk pundak Sasuke. Sementara Sasuke melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan, menuju ke depan kamar gadis itu. Dia tak melihat ada seorang pun di sana, dan pintu kamar itu tertutup.

Mengabaikan perasaan aneh yang menghinggapi hatinya karena berniat menyusup ke kamar selir ayahnya, dia membuka pintu kamar itu. Pemuda itu melangkah lagi hingga ia berdiri tepat di samping ranjang Hinata. Gadis berambut panjang itu tengah tertidur lelap. Sedikit senyuman kecil tersemat di wajahnya—mungkin dia sedang bermimipi indah. Sasuke merasa terkejut melihat senyuman itu. Selama ini dia tidak pernah melihat gadis itu tersenyum sedikitpun, hanya ada kemuraman dan kemarahan terpendam yang diperlihatkannya pada dunia. Sasuke mengernyitkan dahinya. Untuk bisa tersenyum kecil hanya ketika dia sedang bermimpi, gadis itu pasti merasakan kepedihan yang menghimpitnya begitu nyata di dunia sadarnya.

Sasuke mengusap poni Hinata yang sedikit menutupi wajahnya. Kemudian, setelah membungkukkan badannya, dia membisikkan kalimat yang sejak tadi ingin diucapkannya, tepat di depan telinga Hinata.

"Maafkan aku."

Maafkan aku sudah bersikap kasar padamu. Maafkan aku sudah menyebutmu "pelacur". Maafkan aku karena tidak bisa melihat bahwa kau menderita karena pernikahan ini. Maafkan aku untuk semuanya.

Sasuke tak bisa mengucapkan semua itu. Dia tak terbiasa meminta maaf seperti ini. Maka yang bisa ia katakan hanyalah 'Maafkan aku'. Sebuah permintaan maaf sederhana yang sejujurnya menghabiskan sebagian besar harga diri pangeran itu untuk mengatakannya.

Sasuke mendengar sebuah ucapan lirih keluar dari bibir Hinata, ucapan itu hampir tak terdengar, namun telinga tajam Sasuke bisa mendengarnya.

"Ya ... Kak Neji ... Aku memaafkanmu."

Sasuke membulatkan matanya. Dia tak menyangka, sama sekali tak menyangka, kalau permintaan maafnya akan dibalas oleh kalimat seperti itu. Dia bahkan memilih untuk meminta maaf pada Hinata saat dia tertidur, karena merasa tak sanggup mengatakannya saat gadis itu tersadar. Sasuke tadinya tak mengharapkan jawaban apapun, namun jawaban Hinata justru lebih menghancurkan hatinya dibandingkan jika gadis itu tak mengigaukan apapun.

'Kak Neji'? Aku yang meminta maaf padamu, dan yang kaumaafkan adalah Neji?

Sasuke hampir akan mencekik leher gadis itu, namun dia mengurungkan niatnya. Tak ada gunanya membunuh gadis itu, dia bahkan tidak sadar mengenai apa yang diucapkannya. Dia hanya sedang bermimpi. Memimpikan orang lain ... pemuda lain ... dan Sasuke tak mengerti dari mana datangnya kemarahan itu. Kemarahan yang sama yang dia rasakan saat dia melihat Hinata membiarkan dirinya dipeluk oleh Naruto.

Dengan kedua tinju mengepal erat, Sasuke pun meninggalkan ruangan itu, membiarkan Hinata terlelap dan bernapas lebih lama ... sampai tiba saatnya dia bisa memahami perasaannya sendiri.

.

.

.

"Aku tidak bisa ke kamar Hinata malam ini?"

Fugaku meremas kertas di tangannya sampai kertas itu tak berbentuk lagi.

"Benar, Yang Mulia. Tuan Kabuto mengatakan Nona Hinata perlu beristirahat total sampai dia bisa melayani Anda kembali."

Bibir Fugaku membentuk garis tipis, pertanda dia tidak menyukai apa yang dia dengar. Sebenarnya hal itu sudah tertera jelas dalam surat keterangan yang dituliskan Kabuto untuknya, namun dia masih tak percaya.

'Kenapa dia bisa sakit? Apakah aku terlalu keras pada gadis muda itu? Apakah dia terluka? Mungkin aku terlalu kasar padanya?' batin Fugaku gamang. Namun jika ingatannya tidak salah, Hinata justru tampak menikmati apa yang Fugaku lakukan pada tubuhnya. Meskipun dia terus memejamkan matanya, namun desahan dan erangannya tidak bisa berbohong. Hinata pasti menyukai setiap sentuhan Fugaku, jadi kenapa gadis itu bisa jatuh sakit?

"Kau, siapa namamu?" tanya Fugaku pada pelayan wanita yang menunduk di depannya.

"Nama saya Ayame, Yang Mulia," jawab pelayan tersebut, sedikit senang karena Fugaku ingin mengetahui namanya.

"Ayame, apakah Hinata mengatakan sesuatu padamu? Sesuatu yang berhubungan dengan sakitnya?" tanya Fugaku dengan nada tegas.

"Nona Hinata tidak—" Ayame berhenti sebentar, mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan Hinata padanya, kemudian dia teringat sesuatu, sebuah kalimat yang pasti akan membuat raja di depannya murka.

'Kakak ... seandainya aku bisa mengatakannya ... aku ... mencintaimu ...'

"No-Nona tidak mengatakan apapun, Yang Mulia," lanjut Ayame gugup. Keringat dingin meluncur di dahinya. Dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Fugaku. Raja yang biasanya dingin itu bisa menjadi 'monster' saat dia marah, dan Ayame tak yakin dia bisa bertahan hidup untuk menceritakan pada orang-orang seperti apa bentuk kemarahan Fugaku.

"Jangan berbohong di depanku, Ayame. Aku bisa dengan mudah memenggal kepalamu saat ini juga," ujar Fugaku dingin.

"Sungguh, Yang Mulia! Nona Hinata tidak mengatakan apapun. Mungkin dia hanya sedang lelah karena harus beradaptasi di lingkungan yang baru," kata Ayame dengan suara gemetaran. Dia tidak tahu yang mana yang lebih buruk, memberitahu sang raja sekarang bahwa Hinata sebenarnya mencintai kakaknya sendiri atau membiarkan pria paling berkuasa di negerinya itu tak mengetahui apapun mengenai perasaan selirnya sampai semuanya terbongkar.

Dua-duanya sepertinya memiliki konsekuensi yang buruk.

"Begitukah?" Fugaku menatap Ayame penuh selidik hingga pelayan malang itu merasa kepalanya bisa terlepas dari lehernya kapan saja.

"Betul, Yang Mulia," Ayame mencoba meyakinkan.

"Aku akan tetap ke kamarnya."

"A-apa?" Ayame terhenyak. Sebernafsu itukah sang raja pada selirnya? Ayame tak tahu jika seorang pria paruh baya bisa memiliki gairah sebanyak itu. Pipi Ayame sampai memerah saat memikirkannya.

"Aku hanya ingin bicara dengannya," ujar Fugaku, mengoreksi pikiran Ayame tentang 'gairah masa tua'nya.

"Baik, Yang Mulia," ujar Ayame. Dia tak berniat membantah ucapan Fugaku meski Kabuto sudah memberitahunya bahwa akan lebih baik bagi Hinata kalau tak bertemu dengan Fugaku untuk sementara. Baginya, ucapan seorang raja jauh lebih berpengaruh dibandingkan ucapan seorang tabib.

"Saya akan mempersiapkan Nona Hinata untuk bertemu dengan Yang Mulia. Kalau begitu saya mohon diri," kata Ayame sembari menundukkan kepalanya lebih dalam. Fugaku memberi isyarat jika dia boleh pergi, maka pelayan itu pun melangkah cepat meninggalkan ruangan sang raja.

Fugaku berdiri diam di sana sambil berpikir mengenai apa gerangan yang menyebabkan Hinata sampai jatuh sakit. Tentu, dia sudah mengatakan hal yang cukup kejam pada selirnya itu, namun itu bukan penyebab utama gadis itu menjadi sakit, kan?

Benar, kan?

Belum selesai Fugaku berpikir, sudah ada suara seseorang yang menginterupsinya.

"Ayah, jangan pergi ke kamarnya."

Fugaku menatap Sasuke yang baru saja berjalan masuk ke ruangannya dengan cepat, tak memberikan waktu bagi pengawal di luar untuk mengumumkan kedatangannya.

"Oh, ya? Aku tak boleh pergi ke kamar selirku sendiri?" Fugaku menaikkan sebelah alisnya.

"Dia butuh istirahat," balas Sasuke. "Kau pergi ke kamarnya malam ini pun tak ada gunanya."

Dia tidak mencintaimu, Ayah. Tidak bisakah kau melihatnya? Satu-satunya orang yang dia pedulikan saat ini hanyalah pemuda bernama Neji itu. Pemuda yang namanya dia sebutkan dalam mimpinya. Pemuda yang bisa membuatnya tersenyum.

"Sejak kapan kau jadi peduli padanya?" tanya Fugaku heran. "Baru kemarin kau tak suka aku ke kamarnya karena kau berpikir aku melupakan ibumu, dan sekarang kau melarangku ke kamar Hinata karena gadis itu perlu istirahat?"

"Itu kenyataannya, Ayah," ucap Sasuke tajam. "Sebenarnya tadi aku sudah pergi ke kamarnya untuk mengecek sendiri keadaannya, dan tampaknya dia jauh lebih bahagia jika kau tidak berada di dekatnya."

Fugaku menggebrak meja di hadapannya. Ekspresi wajahnya penuh dengan kemurkaan.

"Untuk apa kau pergi ke kamarnya, Sasuke?"

"Apa? Kau cemburu pada putramu sendiri?" Sasuke berkata dengan nada menantang.

Fugaku semakin naik pitam mendengar ucapan Sasuke.

"Untuk apa aku cemburu pada bocah ingusan sepertimu? Apa kau tidak peduli pada reputasimu? Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau mereka tahu kau pergi ke kamar istriku? Apa kau melakukannya untuk membangkang? Demi Tuhan, Sasuke. Kau itu calon raja! Dewasalah sedikit, teladani Itachi! Dia tak akan melakukan hal bodoh seperti itu!" geram Fugaku.

Mendengar nama Itachi disebut, kemarahan Sasuke ikut terpantik.

"Itachi begini, Itachi begitu. Kenapa kau tidak menyeretnya kembali kalau kau begitu menginginkan putra seperti Itachi?! Untuk apa aku berada di sini? Aku bukan boneka yang bisa selalu menuruti perintahmu!"

Pengawal di luar sudah bersiap-siap seandainya terjadi replika perang dunia di dalam ruangan tersebut. Mereka tahu hubungan Fugaku dan Sasuke sudah berubah ke arah yang kurang baik semenjak Mikoto meninggal dan Itachi pergi, namun baru kali ini mereka saling berteriak seperti itu. Para pengawal sebenarnya merasa serba salah, karena mereka tahu tugas mereka adalah membawa Sasuke keluar—bila perlu menyeretnya—seandainya perang verbal di antara ayah dan anak itu memuncak, namun dalam hati mereka tahu jika mereka melakukan hal itu, mereka sendiri akan berurusan dengan Sasuke setelahnya. Berurusan dengan pangeran yang kuat seperti Sasuke adalah hal terakhir yang ingin mereka lakukan.

"Begini saja, Sasuke," Fugaku memijat pangkal hidungnya, mencoba meredam teriakan yang hampir meluncur keluar dari tenggorokannya, "Kau adalah seseorang yang penting bagiku. Kau memang bukan Itachi, tapi kau penting bagiku. Kau penting bagi Kerajaan Konoha. Kau adalah pewaris resmi tahta Konoha, seseorang yang akan melanjutkan kepemimpinanku jika aku wafat. Maka dari itu aku peduli pada reputasimu. Kau harus bisa menjaganya baik-baik, kau tak boleh menghancurkannya hanya karena seorang wanita. Apa kau mengerti?"

Sasuke hanya mendecih, seolah apa yang dikatakan ayahnya hanyalah omong kosong.

Fugaku menarik napas dalam-dalam. Dia harus banyak-banyak bersabar menghadapi putra bungsunya yang keras kepala ini.

"Dengar, topik pembicaraan kita sebelum ini adalah tentang Hinata, benar? Jika kau tidak ingin aku pergi ke kamarnya karena dia perlu beristirahat, maka kau tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Aku tidak akan melakukan hal apapun di luar itu. Aku berjanji atas nama leluhur kita, Madara Uchiha."

Sasuke akhirnya memasang wajah datarnya lagi. Fugaku tak akan mengingkari janjinya jika dia sudah berjanji atas nama leluhur mereka. Sasuke tahu betul hal itu. Fugaku terlalu memuja leluhurnya yang menjadi Raja Uchiha pertama itu sampai-sampai dia membangunkan sebuah patung raksasa Madara untuk mengenang sang leluhur di area air terjun yang dekat dengan istana.

"Baiklah," sahut Sasuke. Menurutnya ini adalah kesepakatan terbaik yang bisa dia ambil. Dia tidak perlu khawatir ayahnya akan menggauli Hinata malam itu—meskipun dia tak tahu kenapa dia harus khawatir—dan ayahnya juga akan berhenti menganggapnya membangkang karena sudah berani melarang-larang ayah sekaligus rajanya sendiri.

Ini yang terbaik yang bisa dia lakukan.

Maafkan aku, Naruto. Aku tidak bisa menepati janjiku sepenuhnya.

.

.

.

Hinata hampir tidak terkejut saat dia mendengar Fugaku akan datang kembali ke kamarnya, dan dia terpaksa memakai gaun yang sudah disiapkan oleh Ayame dan membiarkan wajahnya dirias lagi oleh pelayan lainnya. Tubuhnya terasa lemas dan dia tidak memiliki kekuatan bahkan hanya untuk berpura-pura tertarik saat pelayannya yang cerewet berceloteh tiada henti.

"Nona, pakaian seperti apapun memang terlihat cantik jika kau yang memakai. Warna indigo ini sesuai sekali untuk membuat kulitmu tampak lebih bersinar," celoteh Ayame untuk kesekian kalinya. Hinata yang masih tampak sedikit pucat hanya merespon dengan diam.

"Nona, apa yang harus kulakukan untuk menyamarkan matamu yang bengkak ini? Duh!" Pelayan lain sedikit menggerutu sembari sibuk menyapukan kuas riasnya di atas kanvas berupa wajah Hinata.

"Ayolah, Ino! Keluarkan semua kemampuanmu! Kau perias terbaik yang bisa kutemukan!" Ayame mengomeli Ino yang dilihat dari penampilannya sebenarnya lebih cocok menjadi tuan putri dibandingkan pelayan—sayang takdirnya kurang beruntung.

"Aku sedang berusaha di sini!" Ino balas mengomel.

"Ino, boleh aku meminta tolong?" Hinata bertanya lirih setelah terdiam bermenit-menit.

Gadis cantik berambut pirang panjang itu menoleh, kemudian tersenyum lebar, "Tentu saja boleh, Nona. Kau mau minta tolong apa? Haruskah saya menempelkan bulu mata palsu dibandingkan memakaikan maskara? Sepertinya itu bisa membantu menyamarkan matamu yang bengkak!"

"Bu-bukan itu ..." Hinata menunduk sembari memainkan gaunnya. "Bisakah kau berdandan dan berpura-pura menjadi aku?"

Kedua gadis muda di hadapannya melongo. Mereka menatap Hinata seolah Hinata sudah tidak waras.

"Nona, apa kau mau membuat kepala kami dipenggal? Aku tidak bisa melakukan itu! Aku seorang perias, bukan ninja," tolak Ino.

"Begitukah?" Hinata menggigit bibirnya. "Permintaanku memang tidak masuk akal. Ma-maafkan aku ..."

Aku hanya tidak ingin disentuh oleh Yang Mulia malam ini. Aku tidak ingin menghancurkan harga diriku sekali lagi dengan mendesah di bawah sentuhannya seperti seorang pelacur.

Ayame yang melihat ekspresi muram Hinata mencoba menghibur nonanya itu.

"Ayolah, Nona. Tersenyumlah sedikit. Yang Mulia bilang dia hanya ingin berbicara malam ini."

Mendengar itu, kepala Hinata mendongak.

"Hanya ingin berbicara?" ulangnya.

"Betul. Yah, tapi kami tetap harus mendandani Nona secantik mungkin, untuk jaga-jaga," ucap Ayame.

Hinata memainkan pita di gaunnya dengan telunjuknya. "Kuharap Yang Mulia memang hanya ingin berbicara."

Dengan mulutnya dan bukan dengan tubuhnya, tambah Hinata dalam hati.

Tak lama setelah itu, terdengar pengumuman dari luar kamar bahwa Fugaku sudah datang, dan jika ditilik dari suaranya, suara itu bukanlah milik Naruto. Hinata berpikir mungkin pemuda itu sedang beristirahat.

Ino pun buru-buru menyelesaikan riasannya, dia menambahkan sedikit lagi perona pipi di wajah Hinata dan setelah itu terburu-buru keluar bersama dengan Ayame.

"Kudengar kau sakit."

Suara yang penuh dengan wibawa itu muncul setelah Fugaku menginjakkan kaki di hadapannya. Pria itu meraih dagu Hinata yang masih terduduk di sebuah kursi dan meneliti wajah selirnya itu. Dia menyadari jika rona sehat di wajah Hinata memang memudar, tak peduli meskipun Ino sudah menyapukan perona pipi yang cukup tebal. Ia juga menyadari mata bengkak Hinata, serta bibirnya yang terlihat sedikit kering.

"Kenapa kau sampai jatuh sakit?" tanya Fugaku.

Hinata tak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah, seolah tak ingin melakukan kontak mata dengan Fugaku.

"Jawab aku," perintah pria itu.

"Jika ada wanita yang sehat-sehat saja setelah dipisahkan dari keluarganya satu-satunya dan diperlakukan tak ubahnya seperti mesin pembuat anak oleh pria yang tidak dicintainya, saya akan memberikan pujian tak terkira untuk wanita itu," balas Hinata. "Namun saya juga akan prihatin padanya, karena sepertinya hati wanita itu terbuat dari batu."

Fugaku menyipitkan matanya. Apakah Hinata tengah menyindirnya? Berani sekali gadis itu.

"Jadi itu penyebabnya?" Fugaku bertanya lagi. "Kau sakit karena ucapanku kemarin? Tentang kau yang dianggap sebagai mesin pembuat anak?"

"Bukan hanya itu, Yang Mulia," Hinata semakin berani, dia menepis tangan Fugaku dari dagunya. "Lebih dari ucapan Yang Mulia yang menyakiti hati dan harga diri saya, saya merindukan kakak saya. Kak Neji ... saya ingin bertemu dengannya—"

Hinata sama sekali tak siap ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Gadis itu menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh Fugaku, terasa perih dan berdenyut-denyut. Ia yakin tamparan itu akan meninggalkan jejak di pipinya.

"Kau berani meminta sesuatu dariku? Kau ingin menemui pemuda lain?" Fugaku meraih sejumput rambut Hinata untuk membuat gadis itu berdiri. Ia tidak memedulikan erangan kesakitan Hinata.

"Kak Neji adalah kakakku!" erang Hinata.

"Hanya karena dia kakakmu, bukan berarti kau boleh menemuinya. Lagipula dia itu seorang pembunuh. Jika dia cukup keji untuk membunuh seorang wanita, siapa yang tahu apa yang bisa dilakukannya padamu?"

Mata Fugaku menelusuri jejak kemerahan yang menodai leher Hinata, sesuatu yang tak bisa disamarkan oleh riasan sekalipun. Tiba-tiba suatu gagasan menghampiri otaknya.

"Kalian ... benar-benar berhubungan layaknya kakak-adik, kan? Mengapa kau begitu putus asa hanya karena tidak bisa menemuinya?" tanyanya curiga.

Di situ Hinata ingin sekali menjeritkan jika dia mencintai kakaknya. Dia mencintai Neji seperti seorang wanita mencintai seorang pria. Namun Hinata tahu, perasaannya itu tidak berbalas dan dia hanya bisa memendamnya di dalam hati. Dia tak memiliki hak apapun untuk berkata bahwa dia dan Neji memiliki hubungan selain sebagai kakak-adik.

"Betul, Yang Mulia. Saya dan Kak Neji memang hanya kakak dan adik ... tapi dia adalah keluarga saya satu-satunya ... setelah Anda memerintahkan pasukan Anda untuk membunuh ayah saya, ayah Kak Neji, dan seluruh keluarga Hyuuga yang lain," ucap Hinata penuh kebencian. "Yang Mulia tidak tahu betapa menderitanya saya karena harus berbagi ranjang dengan orang yang membunuh ayah saya sendiri."

"Oh ya? Dilihat dari perilakumu kemarin, kau sama sekali tidak tampak menderita," balas Fugaku. "Sebaliknya, tampaknya kau justru menikmati saat aku menghunjam tubuhmu berkali-kali."

"Hentikan!" Hinata menutup kedua telinganya. "Saya tidak ingin mendengarnya!"

"Kau sungguh gadis yang menarik, Hinata," Fugaku akhirnya melepaskan pegangannya pada rambut Hinata, membuat gadis itu otomatis melangkah mundur. "Kata-kata dan perilakumu sungguh bertentangan."

"Kemarin itu, saya hanya sedang dalam pengaruh obat dari tabib istana!" Hinata membela diri.

"Jadi, kau ingin bilang jika tanpa obat itu, kau tidak akan bersedia melayaniku seperti yang kuinginkan?"

"Dengan ataupun tanpa obat!" bantah Hinata.

Fugaku mendengus. "Dengar, Hinata. Kau adalah selirku. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau harus melayaniku. Kau tahu perilakumu di sini berkaitan dengan nasib Neji, kan?"

Hinata hanya menjawabnya dengan sebuah tatapan maut. Dia tidak tahu sebelumnya jika dia bisa melayangkan tatapan seperti itu pada sang raja. Dia hanya merasakan sebentuk kebencian yang melingkupi dirinya dan hal itu membuatnya jauh lebih berani dari biasanya.

"Tatapanmu hanyalah seperti tatapan seekor anak kucing di mataku," Fugaku menyahut. "Kau beruntung karena malam ini aku tidak akan menyentuhmu. Sebenarnya aku ingin memberimu sedikit pelajaran, tapi aku kasihan jika aku harus memaksakan kehendak pada selirku yang sedang sakit."

Fugaku mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Hinata yang memerah bekas ditampar dengan buku-buku jarinya.

"Kuharap sedikit luka fisik di wajahmu akan membuatmu mengerti jika aku tak akan membiarkanmu bertemu dengan pria lain. Aku tidak peduli bahkan jika ayahmu yang sudah mati bangkit dari kuburnya dan ingin bertemu denganmu. Aku tidak mengizinkanmu bertemu dengan siapapun saat ini."

Setelah mengatakan hal itu, Fugaku melangkah keluar dengan langkah lebar-lebar, meninggalkan Hinata yang berdiri mematung di kamarnya.

Dalam hati, Fugaku merasa sedikit menyesal atas apa yang dilakukan dan diucapkannya pada Hinata malam itu. Dia datang untuk menengok Hinata, untuk melihat bagaimana keadaannya, untuk mengatakan sesuatu yang sekiranya dapat membuat gadis itu merasa lebih baik. Namun kata-kata Hinata membangkitkan emosinya. Gadis itu seharusnya mengerti, jika pembantaian keluarga Hyuuga dilakukan karena mereka merencanakan gerakan pemberontakan. Jika saja Hiashi tidak seambisius itu semasa hidupnya, mungkin Hinata tak akan berakhir seperti ini. Mungkin dia akan tetap menjadi putri keluarga bangsawan dan hidup layak. Namun, semuanya sudah terlambat. Roda takdir sudah diputar dan Hinata tidak bisa membalikkan waktu. Jika pun bisa, apa yang dapat gadis itu lakukan? Dia hanyalah seorang balita saat itu, tak bisa menyuarakan pendapatnya pada ayahnya bahkan jika dia mau.

Fugaku perlahan menengokkan kepalanya ke belakang. Bagian yang paling tidak dia sukai dari kata-kata Hinata adalah saat dia berkata ingin menemui Neji. Dari sorot mata gadis itu, Fugaku bisa merasakan sesuatu—suatu perasaan yang berusaha Hinata sembunyikan dalam-dalam. Namun mata Fugaku yang berpengalaman tidak bisa dibohongi.

Gadis itu mungkin mencintai Neji.

Sebuah kecemburuan yang membakar hatinya membuat Fugaku melemparkan guci hiasan yang berada tak jauh darinya hingga barang itu hancur berkeping-keping. Bunyi yang keras dari guci yang menghantam lantai itu mengagetkan pengawal baru yang ditugaskan menjaga kamar Hinata hingga dia terlonjak. Bahkan dari jarak yang jauh saja pengawal tersebut bisa merasakan aura membunuh menguar dari tubuh rajanya.

Mengapa, Mikoto? Mengapa aku merasakan kecemburuan semacam ini? Mengapa aku merasa ingin membunuh pria yang berhasil mencuri hatinya? Seharusnya aku merasakan ini hanya untukmu, tetapi ...

Fugaku tak mampu melanjutkan pikirannya. Entah mengapa ia merasa sudah mengkhianati mendiang istrinya.

.

.

.

Malam itu Hinata menghabiskan malamnya dengan duduk di sudut kamarnya sembari memeluk lututnya sendiri. Pipinya masih berdenyut menyakitkan, namun tak sesakit tadi. Sesungguhnya Hinata tidak peduli dengan sakit di pipinya.

Gadis itu lebih peduli pada luka menganga di hatinya.

Menjalani kehidupan pernikahan semacam ini tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya. Dalam hati dia tahu dia selalu berharap bisa menikah dengan Neji, membentuk keluarga kecil yang bahagia dengan pria lembut itu, menjalani hidup dengan ceria bersama tunas-tunas baru keluarga Hyuuga. Hinata ingin membangun kembali reputasi Hyuuga dan bahkan jika memungkinkan, dia ingin putra-putrinya kelak mengabdi sepenuhnya pada Kerajaan Konoha untuk menunjukkan bahwa keluarganya tak akan melakukan gerakan pemberontakan lagi serta agar tak timbul perang di dalam kerajaan yang memakan korban jiwa lagi. Hinata ingin melakukan hal itu. Hinata ingin mengembalikan nama baik keluarganya.

Tapi ini?

Menjadi istri Fugaku bukanlah bentuk 'pengabdian penuh' yang dia bayangkan.

Bahkan kalaupun dia tidak bisa menikah dengan Neji, Hinata membayangkan dia akan menikahi pria baik-baik yang mampu membuatnya bahagia. Siapapun kecuali Fugaku.

Hinata sudah tidak bisa menangis lagi. Dia lelah. Baru tiga malam dia berada di istana utama ini, tetapi rasanya hidupnya sudah kacau-balau dan tidak bisa ditata ulang kembali.

Hidupnya sudah terlanjur berantakan.

Dengan pikiran semacam itu, Hinata tertidur dengan kepala bersandar pada lututnya.

.

.

Hinata tidak ingat siapa yang mengangkat tubuhnya dari sudut kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. Yang dia ingat hanyalah tangan yang merengkuhnya terasa begitu hangat, dan napas orang itu berbau harum seperti mint.

Hinata ingin membuka matanya, tapi kelopaknya terasa berat. Dia bisa melihat setengah wajah orang itu—bibirnya terlihat familiar, menyunggingkan senyum dingin yang entah kenapa membuat Hinata justru merasa tenang. Setengah wajahnya lagi terselubung kegelapan. Dan sebelum Hinata bisa bertanya siapa orang itu, dia sudah pergi setelah menyelimuti tubuh Hinata tanpa kata.

.

.

.

... Untuk pertama kalinya, Hinata tidak memimpikan Neji malam itu.

Sebaliknya, dia memimpikan seorang pemuda misterius yang membuat tubuhnya yang dingin lebih hangat dengan rengkuhan tangannya, dan batinnya yang kalut lebih tenang dengan senyuman dinginnya.

Hinata tak akan percaya jika dia tahu orang misterius itu adalah ... Sasuke Uchiha.

to be continued—

.

.

.

A/N: Rencananya saya mau menjelaskan lebih gamblang kenapa Hinata tidak diperintahkan untuk menikah dengan Sasuke, dan justru menikah dengan Fugaku, tapi saya merasa nanti kepanjangan dan kurang sinkron dengan inti chapter ini. Jadi, dijelaskan di chapter selanjutnya saja, ya.

Oh ya, untung setting fic ini, sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa setting. Jadi, Kerajaan Konoha itu dihuni oleh orang-orang dengan nama Jepang, namun pakaian dan kebudayaannya perpaduan antara Jepang dengan Barat, dan ada beberapa alat yang sedikit modern yang muncul di setting ini ('balon' dan 'maskara', everyone?) Tapi ini setting-nya 'jadul' kok, bukan modern, jadi jangan harap tiba-tiba ada hape dan laptop nongol ya. :D

Maaf kalau setting-nya membingungkan. Namanya juga fiksi. (kemudian author dilempar ke Sungai Nil)

Maaf sekali lagi karena saya tidak bisa membalas review reader satu per satu, tapi percayalah, saya membaca semuanya, dan tiap review yang datang mampu membuat hati saya berbunga-bunga meskipun cerita di fanfic saya ini bertema sedih.

Maaf yang ketiga karena saya tidak bisa membuat setiap chapter lebih panjang dari chapter sebelumnya. Semua itu tergantung dengan konflik yang sudah saya susun, dan juga waktu yang terbatas untuk menuliskannya. Tentu reader sekalian mengerti kalau pekerjaan saya bukan hanya menulis fanfic, 'kan? ^^

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya yang tidak seberapa ini. Semoga kalian menikmatinya. :)

Special thanks to: seman99i, mianaav av, sukehime, Hikari, virgo shaka mia, geek, enchep cheptie, hiru nesaan, vanilla Latte, Vampire Uchiha, anita indah 777, Guest, Hinata Centric, Guest, SHL always, Ashura Darkname, yama-yuuri, Guest, siiuchild, Chima Geunma, Re Na Ta, chan, little lily, aina freedom, aina freedom, dan Sadako.

Moon Extract,

out.