Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: crack pair, age gap marriage, reversed harem, AU, OOC. DLDR.

A/N: Maaf untuk keterlambatan update-nya. Dunia nyata menyita waktu saya. Dan agar tidak membuat readers menunggu-nunggu, dengan ini saya umumkan bahwa tidak ada jaminan fanfic ini akan di-update secara reguler lagi. Maaf jika mengecewakan, dan terima kasih untuk pembaca yang sudah dan akan tetap membaca fanfic ini. *ojigi*

.

Forbidden Lover

Hinata membuka matanya perlahan. Kelebatan ingatan tadi malam terasa janggal—yang terekam jelas dalam memorinya hanya senyuman tipis dan rengkuhan hangat pemuda yang tidak dikenalnya—atau mungkin Hinata mengenalnya? Gadis itu tak yakin. Yang jelas, pemuda itu bukan hanya khayalan Hinata, dilihat dari selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya dan posisinya yang berpindah dari pojok kamar menjadi di atas tempat tidur.

Hinata bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dia mengernyit, menyadari untuk pertama kalinya dia tidak memimpikan Neji sebelum ia terbangun. Tidak peduli itu mimpi indah atau mimpi buruk, biasanya Neji selalu mengunjungi Hinata dalam tidurnya, sebuah representasi dari kerinduan Hinata pada kakak sepupunya itu. Namun tadi malam ...

Siapa pemuda misterius itu? Mungkinkah dia ... Naruto?

Hinata tidak bisa menepis pemikiran itu dari benaknya, dan memang dia tidak melihat kemungkinan lain mengenai identitas pemuda misterius itu. Faktanya, satu-satunya pemuda yang pernah bersikap lembut padanya di seluruh penjuru istana ini adalah Naruto. Hanya pemuda itu yang bersikap baik padanya, mau mendengarkan keluh kesahnya, bahkan memeluknya ketika ia tidak bisa menahan air matanya.

Tapi Hinata tetap merasa janggal, karena setengah wajah yang terlihat olehnya bukan seperti wajah Naruto. Lalu siapa?

Tidak mungkin Fugaku, kan?

Hinata menyadari dengan sepenuhnya bahwa bulu kuduknya kini meremang hebat.

Gadis itu menggigil dan memeluk dirinya sendiri, merasakan perasaan ngeri sekaligus jijik memenuhi rongga dadanya. Lebih baik ia tidur di lantai semalaman dibandingkan membiarkan tubuhnya disentuh oleh Fugaku lagi, walau itu untuk membantunya tidur di tempat yang lebih nyaman.

Tidak, tidak, tidak. Setelah pertengkaran semalam, tidak mungkin Yang Mulia melakukan hal seperti itu padaku! Tidak mungkin!

Hinata mendengar jelas batinnya yang menjerit protes.

Tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa wajah orang itu memang mirip dengan Fugaku, hanya saja terlihat lebih ... muda? Lebih ... Hinata merasakan pipinya memanas saat ia melanjutkan dalam hati ... tampan.

Seketika wajah Sasuke melintas di benak Hinata, dan wajah itu rasanya memang pas sekali untuk melengkapi puzzle wajah pemuda misterius tadi malam.

Jantung Hinata berdebar lebih cepat, menyadari bahwa kemungkinan besar, Sasuke lah yang menggendongnya tadi malam dan menyelimutinya. Tapi kenapa? Dia menyebut Hinata 'pelacur', kan? Dia sudah menunjukkan sikap permusuhan padanya sejak awal, kan? Dia ... dia sendiri yang menatap Hinata seolah Hinata itu kotoran yang menempel di bawah sepatunya ... kan?

Jadi, kenapa?

"Selamat pagi, Nona Hinata."

Sapaan dari Ayame membuyarkan lamunan Hinata. Gadis itu menoleh untuk mendapati pelayannya itu masuk dan langsung membukakan gorden tebal yang menutupi jendela kamarnya. Setelah mengikat simpul untuk menahan gorden itu di tempatnya, Ayame pun menoleh padanya dan berkata riang, "Sepertinya Yang Mulia menepati janjinya, ya?"

"E-eh?" Hinata tergagap. Janji yang mana—

"Yang Mulia berkata beliau hanya ingin berbicara dengan Nona, kan?"

—oh.

"Itu ... benar," ucap Hinata lirih. Ia hanya tidak ingin Ayame tahu bahwa 'pembicaraan' itu meliputi satu jambakan di rambutnya dan satu lagi tamparan keras yang mendarat di pipinya. Ditambah dengan larangan bagi Hinata untuk menemui pemuda mana pun tanpa izin Fugaku, terutama Neji.

"Tunggu," Ayame membulatkan matanya saat sinar mentari yang masuk dari jendela membuatnya melihat wajah Hinata dengan lebih jelas, "pipi Anda ..."

Refleks Hinata menangkup pipinya dengan telapak tangan. Apakah memar di sana terlihat begitu jelas?

Ayame berjalan mendekatinya, dan ia dengan lembut melepaskan telapak tangan Hinata untuk mengamati bekas tamparan yang tercetak jelas di kulit pualam itu, merusak keindahannya.

"Yang Mulia yang melakukan ini, ya?"

Ayame tidak perlu kata-kata atau anggukan Hinata untuk bisa menebak jawabannya.

"Saya akan meminta obat yang paling manjur dari Tuan Kabuto untuk menutupi sekaligus menyembuhkan luka ini," ucap pelayan itu setelah menghela napas panjang.

"Terima kasih ..." Hanya itu yang bisa Hinata ucapkan. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa perbuatan kasar Fugaku tidak membuat Ayame mengecamnya. Apakah karena Ayame takut dinding-dinding di kamar itu punya telinga? Atau sekedar karena Fugaku adalah seorang raja dan dia bisa melakukan apapun yang dia mau, termasuk melakukan kekerasan pada istrinya sendiri?

Dada Hinata memanas memikirkan hal itu.

Hanya karena dia seorang raja?

Tanpa di sadarinya, kedua tangan Hinata mengepal begitu keras hingga kuku-kuku gadis itu menusuk kulitnya dan buku-buku jarinya memutih.

Aku benci semua ini.

.

Naruto melangkah terburu-buru menuju kamar Hinata. Ia bahkan tidak memedulikan rambutnya yang tampak kentara tidak disisir rapi (walau Naruto tahu bentuk rambutnya akan selalu berantakan, tapi biasanya ia setidaknya mencoba). Kakinya yang panjang membantunya untuk sampai di depan kamar Hinata dalam tempo singkat. Dilihatnya pengawal yang bertugas menggantikan tugasnya untuk sementara tampak lega melihat kedatangannya.

"Naruto, untunglah kau datang. Aku baru saja berpikir hendak menyusul ke kamarmu untuk membangunkanmu, tapi aku terlalu takut dengan hukuman Yang Mulia kalau dia tahu aku meninggalkan tempat ini. Raja Fugaku tampak sangat mengerikan tadi malam. Dia—"

"Apa yang terjadi?" Naruto memotong celotehan pengawal tersebut dengan tidak sabar.

"Yang Mulia ... dia tampaknya bertengkar dengan Nona Hinata. Aku tidak dapat mendengar keseluruhan pembicaraan mereka, tapi aku bisa mendengar suara tamparan," mata Naruto membulat mendengar kata itu, "dan raut wajah Yang Mulia saat ia keluar dari kamar tampak seolah dia ingin membunuh seseorang. Aku bersyukur dia hanya melemparkan guci hiasan itu dan tidak secara serampangan membunuhku, target terdekat yang berada dalam jangkauannya ..." Sang penjaga bertubuh agak tambun itu berbicara dengan napas pendek-pendek seakan dia terserang asma, dan Naruto akan berpikir dia terlihat lucu kalau saja situasinya berbeda.

'Pantas saja pagi ini firasatku buruk. Sasuke, apa yang kau lakukan, Brengsek? Kau bilang kau tidak akan membiarkan Paman Fugaku memasuki kamar Nona Hinata! Kau mengingkari janjimu sendiri!' Naruto mengerutkan wajahnya, kesal dengan sahabatnya itu.

"Bagaimana dengan Sasuke? Dia ... dia diam saja atas kejadian ini?"

"Pangeran Sasuke? Yah, dia ..." pria itu meneguk ludah, bingung harus berkata apa.

"Katakan sejujurnya, Chouji."

"Sebenarnya, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi tengah malam dia datang ke sini, membuatku diam hanya dengan isyarat matanya, dan masuk. Dia tidak lama di dalam, dan aku tidak berani mengintip apa yang sebenarnya dia lakukan di sana. Aku bahkan tidak berani menebaknya. Tapi ... apakah menurutmu, dia ... kau tahu ... menyukai Nona Hinata?"

Tubuh Naruto seakan disiram oleh seember air es ketika ia mendengar Chouji mengatakan hal itu. Sasuke? Menyukai Hinata? Hipotesa itu seakan sama gilanya dengan desas-desus bahwa Sasuke sebenarnya tidak suka perempuan.

Yang Naruto tahu betul adalah isapan jempol belaka.

Sasuke normal, Naruto yakin akan hal itu. Sasuke hanya belum menemukan perempuan yang benar-benar bisa menarik perhatiannya, dikarenakan semua perempuan yang menyukainya menganggap Sasuke tidak lebih dari trofi yang harus dimenangkan untuk dibangga-banggakan pada teman-teman mereka dan, yang terpenting, seluruh rakyat Konoha. Naruto tahu Sasuke benci diperlakukan seperti itu, dan dia bisa mengerti hal itu.

Tapi, menyukai Hinata, selir ayahnya sendiri? Apa Sasuke sudah kehilangan kewarasannya?

"Naruto?" Chouji bertanya heran saat Naruto tidak menyahut dan justru terdiam selama sekian detik.

"Chouji, kuharap kau menutup mulutmu dan melupakan kejadian semalam dari ingatanmu," ujar Naruto akhirnya. Chouji menatapnya bingung dan Naruto menggeram, "kau tahu ini akan menjadi skandal besar bagi kerajaan, kan? Paman Fugaku tidak akan menyerahkan Nona Hinata pada Sasuke begitu saja. Kita juga tidak hidup di dunia dongeng di mana tinggal di istana berarti hidup bahagia selamanya! Tinggal di istana berarti kita harus bisa memilah dan memilih apa yang keluar dari mulut kita, karena satu kata saja yang kau ucapkan tentang peristiwa tadi malam bisa berdampak buruk bagi kerajaan! Kau mengerti, Chouji?!"

Chouji sedikit tersentak melihat Naruto yang biasanya bersikap santai dan cenderung seenaknya sendiri mendadak bersikap serius seperti ini. Ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Ekspresinya terlihat murung.

"Kalau saja aku tahu menggantikan tugasmu menjaga kamar Nona Hinata membuatku harus menyimpan rahasia besar begini, aku tak akan mau melakukannya. Aku sangat buruk dalam menjaga rahasia," keluhnya, tapi ia buru-buru meralat saat melihat kilatan tajam mata Naruto tertuju padanya. "Tapi kurasa aku akan bisa menutup mulutku dengan bantuan keripik kentang, hahaha," pria dengan tato spiral di kedua pipinya itu tertawa canggung.

"Apapun yang kau perlukan untuk menjaga rahasia ini, lakukan saja. Tapi jangan berlebihan. Ingat kesehatanmu, Chouji. Jangan sampai kau terkena darah tinggi gara-gara keripik kentangmu itu," ucap Naruto sembari tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana.

"Aku tahu, Naruto. Mungkin aku terlalu berlebihan, bisa saja Pangeran Sasuke masuk untuk sesuatu yang lain. Aku sendiri tidak yakin—ekspresinya tidak bisa dibaca. Hanya kau yang bisa membacanya dengan pintar seperti membaca buku yang terbuka," kata Chouji sambil mengangkat bahu.

"Yah, kadang aku juga tidak bisa mengerti jalan pikiran si Teme satu itu, tapi kalau aku berpikir cukup keras, kurasa akhirnya aku akan paham, karena dia adalah sahabatku."

Chouji menyeringai kecil, "Yakin dia hanya sahabatmu, Naruto?"

"Chouji, kurasa sudah waktunya kau pergi supaya aku bisa kembali melanjutkan tugasku," balas Naruto dengan wajah datar.

"Aku hanya bercanda, Naruto. Tidak perlu mengusirku begitu. Tapi kurasa kau benar, lebih baik aku pergi sekarang. Aku masih trauma dengan aura membunuh Raja Fugaku tadi malam. Kurasa kalau kau yang berhadapan dengannya, kau bisa menghentikan Yang Mulia. Tapi aku tidak, jadi lebih baik aku jauh-jauh dulu dari tempat ini," ujar Chouji dengan wajah sedikit pucat.

"Ya, pergilah dan makan keripik kentang kesukaanmu. Dan lupakan tentang kejadian semalam, itu lebih baik dibandingkan kau terus mengingatnya dan harus menahan diri untuk tidak mengatakannya," ujar Naruto.

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu." Chouji melakukan gestur hormat pada Naruto dengan jari telunjuk dan jari tengah yang ditempelkan di ujung alisnya, kemudian berjalan pergi.

Naruto membalikkan badan untuk menatap pintu kamar Hinata, kemudian ia menghela napas dan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kayu tersebut.

Ingat, Naruto. Kau adalah bodyguard-nya, bukan baby sitter-nya.

Naruto tahu itu, tapi dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk mengkhawatirkan keadaan Hinata secara pribadi, bukan secara profesional.

"Nona Hinata, ini saya, Naruto Uzumaki. Boleh saya masuk?"

.

.

.

Sekian menit telah berlalu semenjak Naruto menginjakkan kakinya di kamar Hinata. Pemuda pirang itu berdiri kaku di tempatnya. Matanya tak berhenti mengamati noda memar di pipi Hinata yang belum sepenuhnya menghilang walaupun sudah diolesi obat buatan Kabuto. Rahangnya mengeras, dengan dahi yang dihiasi kerutan amarah.

"Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?"

Suara lembut Hinata menyentak kesadaran Naruto. Dia pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke lantai. "Maaf, Nona Hinata. Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa Yang Mulia melakukan hal seperti ini pada selirnya sendiri," ujar Naruto getir.

Hinata tersenyum masam. "Justru karena aku adalah selirnya, dia bisa melakukan apa saja padaku selama itu membuatnya senang. Itulah tujuanku berada di sini. Untuk membuatnya senang, dengan cara apapun."

"Nona Hinata ..."

"Saat ini, aku tidak menginginkan belas kasihan siapapun, termasuk kau, Naruto. Tidak perlu mengasihaniku. Mungkin memang sudah takdirku untuk menikah dengan Raja Fugaku, dari semua pria yang ada di dunia ini." Hinata mengepalkan tangannya. "Aku tahu Tuhan memiliki rencana di balik semua yang terjadi padaku sampai saat ini."

Hinata tersenyum kelam. Semakin dekat kau dengan musuhmu, semakin besar kesempatanmu untuk menumbangkannya.

Kedua mata Naruto membulat ketika melihat ekspresi Hinata. Aura gelap menyelubungi wajah gadis itu, dan untuk sesaat, Naruto seolah tidak mengenali gadis yang berada di hadapannya. Kemana perginya Hinata yang pemalu, yang dia kenal?

"Oh iya, Naruto. Aku ingin bertanya satu hal. Apakah tadi malam ... kau datang ke sini?"

"Eh?"

Pertanyaan yang tak terduga itu membuat Naruto segera melupakan ekspresi Hinata sebelumnya.

"Aku hanya merasa ... sepertinya tadi malam ada seorang pemuda yang mengangkatku dari lantai hingga aku tertidur di ranjang," lanjut Hinata dengan pipi sedikit memerah.

Dahi Naruto mengernyit, karena ia memang tertidur pulas di kamarnya tadi malam, dan tidak mungkin pergi ke kamar Hinata. Namun otaknya dengan cepat mampu menghubungkan pertanyaan Hinata dengan keterangan yang didapatnya dari Chouji. Pemuda yang Hinata maksud tentulah Sasuke, bukan dirinya. Namun bagaimana dia bisa mengatakan hal yang jujur tanpa membuat masalah semakin rumit?

"Naruto, apakah pemuda itu kau sendiri?" tanya Hinata lagi. Ia menggigiti bibirnya dengan gugup.

Maafkan aku, Sasuke.

"Ya, Nona Hinata. Akulah yang datang ke sini tadi malam," ujar Naruto dengan wajah seakan ia tengah menelan sesuatu yang pahit yang mengganjal di kerongkongannya.

"Begitukah?" Hinata tampak berpikir sejenak.

Mungkin kemiripan pemuda itu dengan Sasuke hanya imajinasiku saja. Tentu saja, mana mungkin dia yang sudah memanggilku sebagai 'pelacur' itu mau melakukan hal tersebut?

"Terima kasih, Naruto." Hinata tersenyum kecil. "Hanya kaulah yang benar-benar peduli padaku di istana ini," lirihnya.

Rasa bersalah menghujani Naruto tanpa ampun. Tapi ia memaksakan diri untuk balas tersenyum. Semua ini demi Konoha, batinnya meyakinkan diri.

"Walaupun begitu, tolong jangan salah paham, Nona Hinata. Saya hanya melakukan itu karena sudah kewajiban saya untuk melindungimu. Saya hanya tidak ingin Anda sakit. Tidak ada maksud lain sama sekali."

Gadis itu mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku juga akan kesulitan jika kau memiliki maksud lain, Naruto. Setelah Yang Mulia melihat kau memegang tanganku waktu itu, dia pasti tidak akan segan-segan menghukummu jika dia tahu kau peduli padaku lebih dari seharusnya. Aku tidak ingin itu terjadi. Hal itu hanya akan menambah kesedihanku..."

... dan kebencianku pada Yang Mulia.

"Tenang saja, Nona Hinata. Paman Fugaku adalah orang yang sangat penting untukku, tidak mungkin aku mengkhianatinya."

"Kenapa kau sangat peduli padanya, Naruto? Bukankah ia sosok yang menakutkan? Dan dia juga sangat kejam ... dia sudah melakukan banyak hal mengerikan padaku dan keluargaku," ujar Hinata, menahan kemarahan yang menggumpal di dadanya. Bibir bawahnya bergetar mengingat Neji yang kini entah berada di mana, ayah dan ibunya yang hanya ia kenali melalui potret kecil di sudut kamarnya yang dulu, serta malam pertamanya yang mengerikan, yang dihiasi oleh bisikan nama perempuan lain tepat di depan telinganya.

Rasanya sangat menyakitkan hingga Hinata merasakan pandangannya mengabur oleh air mata. Sebenarnya dia sudah sangat lelah dengan tangisannya sendiri, dia tidak ingin menjatuhkan sebutir pun air matanya lagi, karena hal itu hanya akan mengingatkan dirinya tentang betapa menyedihkannya hidup yang dia jalani. Betapa tak dihargainya perasaannya. Betapa tak pedulinya dunia pada impian kecilnya untuk terus bersama dengan orang yang dicintainya sejak masih belia. Namun ia tidak bisa menahannya. Sebutir kristal cair pun turun membasahi pipinya, melewati jejak keunguan yang tertinggal di sana.

"Hinata, mungkin kau hanya mengenal sisi 'kejam' dari Paman Fugaku, tapi dia juga memiliki sisi baik. Semua orang tidak sepenuhnya baik, tapi juga tidak sepenuhnya kejam. Dia sudah mengambilku dari jalanan dan membesarkanku hingga aku bisa tumbuh menjadi aku yang sekarang ini. Tanpa dia, aku tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki tempat bernaung yang nyaman, makanan yang cukup, dan 'saudara' yang bisa kuajak bercanda maupun bertengkar. Tanpa dia, aku juga tidak akan bisa bertemu denganmu. Jadi, tolonglah, cobalah untuk mengenalnya lebih jauh. Aku yakin, di balik kekerasan sikapnya sebenarnya dia memiliki hati yang lembut. Kau adalah istrinya sekarang, seandainya kau bisa membuat dia nyaman denganmu, aku yakin dia akan memperlakukanmu dengan selayaknya, seperti ia memperlakukan Bibi Mikoto dulu."

"Aku tidak ingin menjadi pengganti Permaisuri Mikoto. Dan aku tahu aku tak akan pernah bisa menggantikannya. Lagipula status kami jauh berbeda, Naruto. Aku hanyalah selir. Berhenti menghiburku dengan cara seperti itu!" seru Hinata dengan suara serak menahan sakit di tenggorokannya. Napasnya berpacu cepat, bola mata lavendernya menatap Naruto dengan nyalang.

Orang lain tak akan mengerti... Mengapa aku yang harus mengalah dan membuatnya nyaman denganku? Bagaimana bisa aku melakukannya saat aku tahu apa yang sudah dia lakukan pada keluargaku?!

"Maaf... mungkin aku sudah mengatakan hal yang menyakiti perasaanmu. Meskipun ini terdengar egois, tapi cobalah untuk membuka hatimu pada Paman Fugaku ... Hinata."

Hinata tersentak mendengar namanya disebut langsung oleh Naruto tanpa embel-embel 'Nona' seperti biasanya.

"Mungkin hal itu memang sulit ... ya, tentu saja sulit. Di luar apa yang sudah dia lakukan, usianya tak jauh berbeda dengan ayahmu ... Seandainya kau menikah dengan Sasuke, mungkin itu akan lebih mudah untukmu."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Naruto, dan ia baru menyadari betapa ucapannya memperumit suasana. Fugaku mungkin akan menggantungnya jika ia mengetahui Naruto mengucapkan hal itu.

"Sasuke?" Hinata mengernyitkan dahinya. Wajah dingin Sasuke melintas di benaknya, dan sekali lagi Hinata harus menepis anggapan bahwa pemuda tadi malam sangat mirip dengan Sasuke. "Benar juga... Bukannya aku ingin menikah dengannya, tapi kenapa bukan dia yang ...? Kenapa harus Raja Fugaku?" tanya Hinata.

"Sasuke paling tidak suka dengan yang namanya perjodohan," jawab Naruto. "Apalagi jika yang mengusulkan hal itu adalah Danzou. Sasuke sangat tidak menyukai pria itu. Jika dia menerima idenya untuk menikahimu, sama saja dia membiarkan Danzou mengutak-atik kehidupan pribadinya. Dan dia tahu Danzou tidak akan berhenti sampai di situ, dia pasti akan segera meminta Sasuke untuk memiliki anak, dan bukan tidak mungkin dia akan menemukan cara untuk terus mengatur hidup Sasuke. Itu adalah mimpi buruk untuk seseorang seperti Sasuke."

"Hanya karena itu?"

"Bukan hanya itu. Di balik sikap dinginnya, sebenarnya Sasuke sangat mencintai keluarganya. Apalagi ketika keluarganya masih utuh, tidak seperti sekarang ini. Tidak mungkin dia mau menikahi putri seorang ... pengkhianat ... yang ingin melukai keluarganya ..." Suara Naruto semakin mengecil di ujung kalimatnya. Ia tahu mungkin kata-katanya sangatlah sensitif bagi Hinata. Naruto hanya ingin Hinata tahu bahwa Sasuke memiliki alasan tersendiri untuk tidak menikahinya.

"Jadi dia menolakku bahkan tanpa aku mengetahuinya?" Hinata tersenyum getir. "Dan sekarang aku harus menjadi selir ayahnya karena dia menolakku?"

"Hinata ..." Naruto kehabisan kata-kata. Bukan maksudnya untuk semakin mengacaukan hati gadis itu. Diulurkannya tangan kanannya untuk menepuk pundak Hinata, tapi ia urungkan.

Bodyguard, Naruto. Bodyguard.

"Sasuke tidak tahu keputusannya akan membuatmu harus menikahi Paman Fugaku. Ini semua pada akhirnya adalah manipulasi dari Danzou yang meyakinkan Paman Fugaku untuk mengangkatmu menjadi selir. Entah apa motivasinya yang sesungguhnya. Aku curiga dia ingin memecah keluarga Uchiha yang memang sudah terpecah belah semenjak kematian Bibi Mikoto. Aku bisa melihat ambisi yang kuat di mata pria tua itu. Bisa jadi dia lebih berbahaya daripada ayahmu."

"Berhentilah menjelek-jelekkan ayahku, Naruto!" Hinata tidak tahan lagi. Satu-satunya orang yang dia percayai justru sekarang terus melukai perasaannya dengan ketidakpekaannya.

"Yang ingin kutekankan di sini, Danzou-lah dalang di balik semua ini. Bukan Sasuke apalagi Paman Fugaku. Jika kau masih memiliki rasa cinta pada kerajaan ini, walaupun sedikit, cobalah untuk memperbaiki hubunganmu dengan Paman Fugaku. Jika kau bisa melakukannya, kau bisa membujuk Paman Fugaku untuk merekatkan lagi hubungannya dengan Sasuke, sehingga mereka berdua tidak akan berada di dua kubu yang berbeda lagi. Jika mereka bersatu, aku yakin, Danzou tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk memecah belah keluarga Uchiha," jelas Naruto.

"Siapapun dalangnya, hal itu tetap tidak akan bisa menghapus rasa sakit yang diberikan oleh Raja Fugaku padaku, Naruto. Dia tetap berperan besar dalam penderitaan lahir dan batin yang kualami, dan aku—" Hinata berhenti berucap. Sesuatu menghantam pikirannya. Danzou ingin memecah belah keluarga Uchiha. Persis seperti yang kuinginkan. Tidak—aku menginginkan lebih dari itu. Aku inginHinata tak mampu melanjutkannya. Hal itu terlalu gelap bahkan baginya. Hal yang ia inginkan ... sesuatu yang begitu destruktif dan tak akan bisa diperbaiki lagi ... mampukah dia mewujudkannya?

"Hinata?"

"Kau benar, Naruto." Akhirnya Hinata memecah keheningan yang sempat mewarnai ruangan itu. "Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Yang Mulia."

"Eh?" Naruto menatap bingung. Secepat itu Hinata berubah pikiran? Sesuatu terasa tidak beres di sini.

"Terima kasih atas nasihatmu, Naruto. Aku sadar, sudah saatnya aku berhenti mengasihani diriku sendiri dan mulai melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebagai istri Yang Mulia. Hal itu lebih baik bagiku. Walaupun tidak bisa sepenuhnya menjadi pengganti Permaisuri Mikoto, namun aku pasti bisa membuat Yang Mulia setidaknya menyayangiku sebagai selirnya. Aku tak akan membiarkan pertengkaran seperti malam tadi terjadi lagi. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Yang Mulia merubah sikapnya padaku." Hinata tersenyum manis, yang hanya dibalas oleh Naruto dengan pandangan canggung. Itu adalah senyuman pertama Hinata semenjak ia memasuki ruangan ini, namun rasanya Naruto tak bisa merasakan ketulusan dalam senyuman itu. Sesuatu terasa mengusik hatinya.

"Naruto, kau pasti bisa membantuku, kan?" pinta Hinata sembari menggenggam tangan Naruto dengan kedua tangannya. Pandangan mata Hinata yang begitu mirip dengan pandangan anak anjing ditambah kontak fisik yang tercipta di antara keduanya membuat pipi Naruto memerah.

"Te-tentu saja, Hinata."

"Terima kasih, Naruto," ucap Hinata sembari melepaskan pegangan tangannya. "Aku tahu kau pria yang bisa diandalkan."

"Haha," Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baguslah kalau kau berpikiran seperti itu. Tapi ngomong-ngomong, kau tidak keberatan aku memanggilmu 'Hinata'? Aku agak lelah harus terus-terusan memakai bahasa formal denganmu. Lagipula kurasa kita bisa berkomunikasi lebih baik jika kita berbicara seperti layaknya teman biasa."

"Aku sama sekali tidak keberatan. Aku juga merasa janggal diperlakukan dengan hormat oleh seseorang yang lebih tua dariku," ucap Hinata.

"Baiklah. Kecuali di situasi yang formal, aku akan memanggilmu 'Hinata'," putus Naruto.

"Ya, dan jangan sampai Yang Mulia tahu mengenai panggilanmu padaku," tambah Hinata.

"Kau takut dia cemburu, ya?"

"Bukankah sudah sepantasnya aku menjaga perasaan suamiku, Naruto?"

Naruto mengerjap. Sekarang Hinata memanggil Fugaku sebagai suaminya? Perkembangan yang sangat pesat sekali.

"Uh, yah ... tentu saja." Naruto menjawab dengan kikuk.

Hinata menunjukkan senyum lembutnya lagi. Senyuman yang pasti mampu melelehkan kebekuan seorang Uchiha sekalipun.

.

.

.

Saat itu, tak ada seorang pun yang tahu sehebat apa badai yang berkecamuk di balik tabir senyuman itu.

to be continued—

.

.

.

A/N: Maaf untuk yang menunggu-nunggu momen SasuHina, chapter ini lebih menekankan pada alasan Sasuke tidak menikah dengan Hinata seperti yang diharapkan beberapa pembaca. Tapi saya merencanakan chapter depan untuk diisi dengan SasuHina dan sedikit FugaHina, bahkan mungkin dengan NejiHina. Semoga kalian berkenan untuk terus membaca kelanjutannya. :)

Karena keterbatasan waktu, chapter ini langsung saya publish begitu selesai diketik dan tidak di-beta dulu seperti biasanya. Jika kalian menemukan keanehan atau typo, mohon untuk melaporkannya di kolom review/PM ya.

Special thanks to: alea, goodnight, Orange's Caramel, Hinata Centric, enchep . cheptie, aina freedom, Ashura Darkname, Eternal Dream Chowz, chan, chan, Vampire Uchiha, DLS, Vanilla Latte, uzumaki (thanks untuk flame-nya ^^), meii loney, Guest, anita . indah . 777, seman99i, sukehime, Mishima, Virgo Shaka Mia, geek, napas, Hinata Heiress, little lily, Re Na Ta, hinatauchiha69, Sadako, Readers, Durarawr, Lollytha-chan, onyxlavender23, Vanilla Latte, hinahime7, yolandameiyu . nda, geek, Ichira Ryuu-Gaki, bagas abymanyu kun, CiElAnGel, Virgo Shaka Mia, Guest, Hanayuki no Hime, Yippie Yeey, yuka, Tinara Shu, Hana Yuki no Hime, Marly, triwik97, xax, Angel821, hi, Megumi Amethyst.

Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama atau ada yang terlewat ya. :)

Moon Extract,

out.