Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning: crack pair, age gap marriage, reversed harem, AU, OOC. DLDR.

A/N: Sekali lagi saya ingatkan, untuk yang tidak suka dengan tema reversed harem ataupun pernikahan berbeda usia jauh, sebaiknya tidak usah memaksakan diri untuk membaca. Masih banyak fanfic yang memenuhi selera anda di luar sana. :)

Dan untuk yang masih menantikan kelanjutan dari fanfic ini, terima kasih banyak sudah membaca dan memberikan dukungan :)

.

Forbidden Lover

"Apa itu?"

Fugaku menyipitkan matanya saat ia melihat secarik kertas yang dibawa oleh seorang pemuda berambut pirang yang sudah sangat ia kenal.

"Itu pesan dari Nona Hinata untuk Anda, Yang Mulia."

"Hinata-?" Fugaku merasakan jantungnya berhenti berdetak hanya untuk sesaat. Gadis itu mengiriminya surat?

"Dia meminta Yang Mulia segera membacanya," ujar Naruto—kepalanya sedikit menunduk, menyembunyikan raut gelisah di wajahnya. Entah kenapa ia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi saat ini, padahal ia sendiri yang meminta Hinata untuk bersikap lebih baik pada Fugaku.

Akhirnya pria berambut legam itu mengambil kertas putih itu dari tangan Naruto. Ia membuka lipatannya, dan matanya membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di sana. Tulisan tangan Hinata tampak sangat rapi, seakan gadis itu menulisnya dengan begitu hati-hati.

.

Yang Mulia, maafkan aku yang tidak bisa menemuimu langsung untuk mengatakan ini.

Kurasa Yang Mulia tahu, aku tidak pintar berkata-kata, dan aku tidak ingin percakapan kita berubah menjadi pertengkaran seperti malam itu. Aku hanya ingin Yang Mulia tahu bahwa aku menyesal karena telah membuatmu marah.

Bisakah Yang Mulia melupakan semua yang terjadi saat itu?

Aku ingin memulai semuanya dari awal.

Jika Yang Mulia setuju, aku menunggumu di kamarku malam ini.

Dengan tulus,

Hinata

.

Fugaku terpekur.

Matanya hampir tak berkedip melihat tulisan tangan itu. Ia tidak tahu harus berpikir apa saat ini.

"Kau yakin Hinata yang menulis surat ini, Naruto?" tanya Fugaku akhirnya.

"Saya melihat sendiri Nona Hinata menulis surat itu, Yang Mulia," jawab Naruto.

"Begitukah?" Fugaku terdiam lagi.

Kenapa dia yang berkata bahwa dia menyesal? Kenapa dia yang memintaku melupakan semuanya? Bukankah aku yang seharusnya mengatakan semua itu setelah apa yang kukatakan dan kulakukan padanya? Hinata, kau benar-benar ...

"Apakah ... dia mengatakan sesuatu lagi?"

"Tidak, Yang Mulia."

"Baiklah. Kau boleh pergi."

Naruto memberikan gestur hormat sebelum dia meninggalkan ruangan utama di istana itu. Dalam hati ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Untuk Hinata, untuk Fugaku, untuk Sasuke, dan untuk Konoha ...

.

.

.

Hari telah beranjak malam, dan Naruto—atas permintaan Hinata—pergi meninggalkan tempatnya berjaga. Naruto bisa saja kembali ke kamarnya untuk beristirahat, namun ia sedang tidak ingin berdiam diri. Maka ia memutuskan untuk melakukan sedikit patroli, memastikan bahwa istana dalam keadaan aman. Beberapa pengawal yang ia lewati memberikan senyuman ramahnya untuk Naruto, yang dibalas Naruto dengan senyuman setengah hati. Pikirannya sedang keruh saat ini.

Naruto sudah mengelilingi hampir separuh istana luas bergaya campuran arsitektur barat dan timur itu saat ia sampai di bagian taman belakang istana. Pohon-pohon yang rimbun dengan semak dan bunga serta sebuah kolam ikan yang memantulkan cahaya bulan menghiasi taman itu. Saat siang hari, taman itu memang tampak seperti tempat yang ceria dengan semarak bunga dan kupu-kupu berwarna-warni, namun pada malam hari, taman itu berganti wajah menjadi tempat yang begitu tenang, juga memancarkan atmosfer misterius.

Naruto menghentikan langkahnya. Mungkin menghirup udara di taman itu bisa membuat pikirannya menjadi lebih tenang.

Baru lima menit ia menikmati suasana di taman itu, suara langkah kaki yang bergesek dengan rerumputan membuat Naruto berubah siaga. Tangannya dengan perlahan menggenggam pangkal pedangnya, bersiap untuk bertarung seandainya orang itu adalah penyusup.

"Kau pikir aku siapa, sampai kau bersiap-siap menghunuskan pedangmu padaku?"

Suara itu terdengar familiar, dan Naruto langsung melepaskan genggamannya dari pedangnya.

"Kemungkinan masuknya penyusup selalu ada, berhubung penjagaan di tempat ini terhitung longgar, Sasuke," ujar Naruto sembari membalikkan tubuhnya. Di hadapannya, Sasuke berdiri dengan pandangan yang hampir terlihat bosan.

"Apa yang kau lakukan di tempat ini?"

"Hal yang sama bisa kutanyakan padamu, Pangeran."

Sasuke mendengus. Ia tahu, Naruto memanggilnya 'pangeran' hanya saat meledeknya.

"Aku hanya ingin menghirup udara segar," jawab Sasuke akhirnya.

"Jawabanku sama denganmu," Naruto menyeringai kecil. "Kebetulan sekali kita memutuskan untuk datang ke tempat ini tanpa membuat janji sebelumnya."

"Yah, sebenarnya aku lebih senang kalau kau tidak ada di sini," Sasuke mendudukkan dirinya di rerumputan, beberapa meter dari kolam ikan. Ia tak berkomentar apapun saat Naruto mengikutinya, duduk tak jauh darinya.

Keheningan sementara melingkupi kedua pemuda itu, sampai akhirnya Sasuke memecahkannya dengan sebuah pertanyaan.

"Gadis itu—bagaimana keadaannya?"

Alis Naruto berkedut mendengar pertanyaan itu. Informasi dari Chouji kembali mendera pikirannya, tentang bagaimana Sasuke mendatangi kamar Hinata, lalu, pertanyaan dari Hinata pun kembali terngiang. Gadis itu, dengan wajah yang merona, bertanya apakah pemuda yang diam-diam menolongnya tadi malam adalah Naruto—dan Naruto berbohong saat menjawabnya. Sebuah kebohongan yang ia yakini adalah yang terbaik untuk semuanya.

"Kau sekarang benar-benar tertarik padanya, ya? Setiap bertemu denganku selalu membahas tentang Hinata."

Mata Sasuke membulat mendengar nama panggilan itu meluncur keluar dengan mudahnya dari mulut Naruto.

"Kau ... sejak kapan berhenti memanggilnya 'Nona'?"

"Itu tidak penting."

"Jawab saja pertanyaanku, Naruto."

Naruto menghela napas. "Sejak hari ini."

"Apa yang terjadi di antara kalian berdua?"

"Tidak usah berkata seakan-akan aku melakukan sesuatu yang memalukan dengannya."

Sasuke mendecih. "Dia adalah majikanmu, tentu saja sangat mencurigakan kalau kau hanya memanggilnya dengan nama kecilnya."

"Majikanku adalah Paman Fugaku. Hinata hanyalah ... Hinata." Naruto mengambil sebuah kerikil lalu melemparkannya ke sungai. Batu itu menciptakan riak yang membuat pantulan bulan di permukaannya bergetar.

"Daripada masalah sepele seperti itu, lebih baik kita membahas sesuatu yang lebih penting, kan? Seperti ... kenapa kau menyelinap masuk ke kamar Hinata tengah malam?"

Wajah Sasuke menegang. Dari mana Naruto tahu?

"Apakah kau menyesal sudah menolak menikah dengannya, Sasuke? Kau sekarang peduli padanya setelah melukai perasaannya dengan memanggilnya 'pelacur'?"

Naruto memberondong Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan telak.

"Itu—"

"Semuanya sudah terlambat, Sasuke." Naruto menatap Sasuke lurus. "Dia sudah menjadi milik orang lain. Terlebih, orang lain itu adalah ayahmu sendiri."

Sasuke merasakan panas menggumpal di dadanya. Ia merasa kesal karena kata-kata Naruto benar adanya.

"Jangan membuat situasi menjadi rumit, Sasuke. Kau harus belajar mengendalikan perasaanmu. Hinata sudah bukan gadis yang bisa kau miliki."

"Tch, siapa yang bilang aku ingin memilikinya?" Sasuke mengepalkan tangannya. Ia memutuskan untuk bersikap defensif. "Kau mengambil kesimpulan yang salah."

Naruto tersenyum masam. "Aku sangat berharap aku salah. Kuharap kau memang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Dan kau akan berhenti menanyakan bagaimana keadaannya padaku."

Sasuke tak menjawab. Naruto bangkit dari duduknya dan menatap Sasuke yang masih duduk di atas rumput. "Tapi karena kau sudah bertanya, kali ini biar kujawab pertanyaanmu. Hinata sudah jauh lebih baik sekarang, meski lebam di pipinya masih sedikit terlihat. Saat ini dia sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut Paman Fugaku. Hubungan mereka sepertinya akan membaik. Jadi, ini saat yang tepat untukmu berhenti mendekatinya, sebelum dia menyadari perasaanmu."

"Apa katamu? Hubungan mereka membaik? Bagaimana bisa?" Sasuke tercekat, seolah ada sebuah batu besar yang mengganjal tenggorokannya. Masih sangat jelas dalam benak Sasuke jejak air mata di pipi Hinata, lengkap dengan kulitnya yang membiru.

"Hinata sendiri yang memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Paman Fugaku. Dan aku berharap dia bisa meluluhkan kekerasan hati ayahmu."

Kedua alis Sasuke nyaris bertemu di tengah dahinya. Ia tidak habis pikir, dari mana datangnya niat Hinata untuk melakukan hal itu. Jika dia berada di posisi Hinata, mungkin dia akan membenci suaminya seumur hidupnya. Apakah gadis itu memang sepemaaf itu?

Hinata ... aku bahkan sudah menyatakan maafku padamu, tapi lagi-lagi kau memaafkan orang lain lebih dulu? Neji ... kemudian Ayah? Kau tidak tahu bahwa permintaan maaf dariku jauh lebih berharga daripada apapun?

Saat itu, Sasuke menyesali fakta bahwa ia tidak meminta maaf pada Hinata ketika gadis itu sedang tersadar.

.

.

.

"Selamat datang, Yang Mulia."

Fugaku berusaha keras untuk tidak langsung menghampiri selirnya, meskipun hal itu sulit karena senyuman Hinata begitu lembut untuk dilihat. Ia tetap berdiri di tempatnya, kedua tangan bertaut di belakang punggung, aura mengintimidasi khas Uchiha terpancar dari wajahnya.

"Saya mengasumsikan Yang Mulia telah membaca surat dari saya dan setuju dengan permintaan saya," ujar Hinata dengan nada tenang. "Terima kasih telah datang, Yang Mulia." Gadis berambut panjang itu menundukkan kepalanya sedikit untuk menegaskan ucapannya.

Fugaku masih terdiam. Ia tidak bisa memutuskan apakah dia harus bersikap lebih lembut atau tidak. Bagaimana jika Hinata hanya bersandiwara?

"Yang Mulia, apakah Anda ingin minum terlebih dahulu? Saya sudah meminta pelayan untuk menyiapkan sake yang Anda sukai," Hinata berjalan mendekat dan, dengan sedikit canggung, memegang tangan Fugaku dan menuntunnya ke kursi beludru dengan meja bundar kecil di depannya.

Fugaku masih diam saat Hinata menuangkan sake untuknya. Ia memperhatikan penampilan gadis itu malam ini. Gadis itu memakai gaun tidur berwarna hitam yang jatuh sampai ke lututnya. Dengan potongan leher yang rendah, tulang selangka dan belahan dada Hinata terpampang cukup jelas. Rambutnya dihiasi oleh ornamen berupa mutiara-mutiara yang dijepitkan di berbagai tempat, menambah kilauan di helaian hitam keunguan itu. Riasan wajahnya cantik, namun tidak berlebihan. Fugaku masih bisa melihat sedikit bekas tamparan di pipi Hinata, dan hal itu membuat dada Fugaku berdenyut nyeri.

"Pipimu ... apakah masih sakit?"

Akhirnya Fugaku mengeluarkan suaranya juga. Suara itu terdengar berat, dan ditimpa oleh nada bersalah.

Hinata menatap Fugaku selama beberapa saat, kemudian senyumnya kembali terkembang.

"Yang Mulia tidak usah khawatir, obat dari Tuan Kabuto sangat manjur. Mungkin besok bekasnya sudah akan hilang," ujar Hinata sembari mengulurkan cawan keramik yang sudah dituangi sake. "Silakan diminum, Yang Mulia."

Alih-alih mengambil cawan itu, Fugaku justru menangkup pipi Hinata dan menatap iris lavender gadis itu.

"Aku minta maaf," ujar Fugaku lirih. "Aku seharusnya tidak menamparmu—dan mengatakan kata-kata yang menyakitimu."

Senyum Hinata berubah layu. "Saya sudah melupakannya. Ah, lebih tepatnya, saya berusaha melupakannya. Saat ini pun, saya sedang berusaha untuk melupakannya."

"Hinata ..."

"Jangan membuat saya mengingatnya lagi, Yang Mulia."

"Kenapa tiba-tiba kau merubah sikapmu?" Fugaku akhirnya bertanya. "Apa yang terjadi?"

"Apakah Yang Mulia lebih menyukai saya bersikap seperti gadis cilik pemberontak?" Hinata balik bertanya.

"Bukan itu maksudku. Hanya saja, semua ini terlalu tiba-tiba."

"Yang Mulia," Hinata tersenyum dengan iris mata menggelap, "tidak ada yang tidak bisa kulakukan untuk membuatmu merasa senang. Untuk itulah aku berada di sini, bukan? Untuk menjadi selirmu yang penurut, yang tak akan pernah menemui laki-laki manapun tanpa seizinmu, juga akan memberikanmu keturunan untuk kekuasaan Uchiha yang lebih stabil."

Kata-kata itu terasa menusuk hati Fugaku.

"Itu benar," Fugaku berkata walaupun hatinya berkata lain. Hinata bukan sekedar selir lagi baginya. Ada sesuatu yang lain yang ia rasakan untuk gadis muda itu.

"Kalau begitu, minumlah sake ini, Yang Mulia. Atau Anda ingin langsung menuju permainan inti?"

Kedua pasang mata berbeda warna itu bertatapan untuk sejenak. Fugaku menghela napas, kemudian akhirnya ia mengambil cawan yang disodorkan Hinata, lalu meneguknya hingga habis. Rasa hangat seketika menjalar di dada sang raja. Alkohol membuat syaraf-syarafnya melepaskan ketegangannya.

"Kau juga minumlah," ujar Fugaku.

"Saya tidak minum sake, Yang Mulia."

"Kenapa tidak?"

"Kak Neji akan memarahiku jika aku tahu aku melakukannya," Hinata tak sengaja mengucapkan nama itu. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. "Maaf, Yang Mulia. Saya tidak akan menyebutkan nama itu lagi di depan Anda ..."

"Dia begitu ... penting bagimu, huh?" Fugaku mengisyaratkan Hinata untuk mengisi lagi cawan sakenya, yang dilakukan oleh gadis itu tanpa kata.

Tentu saja. Aku melakukan semua ini demi Kak Neji, bukan demimu.

"Aku ingin tahu kenapa orang yang sangat penting bagimu bisa melakukan pembunuhan pada seorang wanita. Mungkin dia tidak sebaik yang kau pikir," Fugaku kembali meneguk cairan memabukkan itu.

Hinata tidak menanggapi, ia hanya mengisi cawan itu sekali lagi, seolah ia adalah sebuah mesin yang bertugas untuk terus menuangkan sake bagi Fugaku. Mata Fugaku menyipit, merasa sedikit heran atas kepasifan selirnya. Biasanya emosi gadis itu akan tersulut jika itu berkaitan dengan kakak sepupunya.

"Kau tahu, Hinata. Jika kau terus bersikap sepenurut ini, mungkin aku akan mempertimbangkan lagi keputusanku untuk mengisolasimu dari laki-laki lain. Asal kau bisa mengendalikan dirimu ... aku akan mengizinkanmu menemui laki-laki bernama Neji itu."

Ekspresi Hinata berubah. Selintas harapan muncul di raut gadis itu. Jemarinya yang menggenggam poci keramik pun sedikit gemetar.

"Tapi ... tidak semudah itu. Kau harus membuktikan dulu kesetiaanmu padaku."

Tegukan ketiga mengiringi ucapan Fugaku selanjutnya. "Jaga jarakmu dengan Naruto."

Hinata mengangguk pelan. Fugaku menutup matanya yang tiba-tiba terasa sangat berat. "Dan ... Sasuke."

Iris lavender itu membulat. Apa hubungannya Sasuke dengan dirinya? Mengenai Naruto, Hinata masih bisa maklum, tapi ... Sasuke? Bukankah tanpa Hinata harus menjaga jarak pun, Sasuke sudah menjauhinya seakan dia adalah akar dari segala penyakit yang ada di dunia ini?

Suara dengkuran halus menyapa indera pendengaran Hinata setelahnya. Gadis itu menatap wajah Fugaku yang tertidur di kursinya sendiri.

Hinata menghela napas. Percobaannya kali ini berhasil.

Saat ini, memang hanya obat tidur yang kumasukkan ke sana, namun kali selanjutnya, kau tak akan bisa lolos dari maut, Yang Mulia.

.

.

.

Hari masih begitu dini saat Hinata berjalan-jalan di sekitar taman belakang istana. Ia memang ingin menghirup sedikit udara segar sebelum Fugaku terbangun dari tidurnya—dan sebelum ia harus kembali berpura-pura menjadi selir yang baik. Tentu saja pengawal yang berjaga tidak membiarkan Hinata berjalan sendirian, namun gadis itu berhasil memintanya untuk menjaganya dari jarak yang cukup jauh, sehingga privasinya tak terganggu.

Udara pagi yang dingin memenuhi paru-paru gadis berambut indigo itu, membuat pikirannya menjadi lebih jernih. Ia merasa lebih baik, setelah semalaman menahan diri untuk tidak membunuh sang raja dengan tangannya sendiri. Ia memiliki kesempatan yang besar untuk mencekik leher Fugaku, atau menusuknya dengan pisau, atau bahkan membakarnya dengan lilin dan minyak yang menjadi salah satu sumber penerangan di kamar itu. Namun dia tidak bisa—hukuman mati pasti akan dijatuhkan padanya, dan ia tak akan bisa bertemu dengan Neji lagi. Ditambah lagi, Sasuke akan menggantikan Fugaku, dan ambisinya untuk menggulingkan Uchiha dari tampuk kekuasaan tak akan terwujud. Hinata sudah memiliki rencana di dalam kepalanya, dan hasrat membunuh itu harus ia tekan dalam-dalam, sesulit apapun itu.

Belum. Belum waktunya.

"Hinata?"

Suara maskulin itu mengejutkan Hinata. Gadis itu menoleh, dan mendapati Sasuke Uchiha—sang pangeran bermata onyx—berdiri di hadapannya.

Tidak mungkin Sasuke mau menikahi putri seorang pengkhianat yang ingin melukai keluarganya.

Kata-kata Naruto terngiang di telinga Hinata.

Jauhi Sasuke.

Kemudian kata-kata Fugaku.

Kedua kalimat itu bermakna jelas: ia harus pergi sekarang juga, sebelum Sasuke melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya—dan sebelum pengawal di kejauhan menyadari mereka berinteraksi. Bukan tidak mungkin pengawal itu akan melaporkannya pada Fugaku, dan kepercayaan Fugaku adalah hal yang paling Hinata butuhkan saat ini.

Maka, tanpa berkata apapun, gadis itu melangkahkan kakinya untuk berjalan melewati Sasuke. Ia bahkan tidak menatap wajah pemuda itu sedikitpun.

Sayangnya, langkahnya harus terhenti ketika Sasuke menangkap pergelangan tangannya.

"Maafkan aku."

Hinata membelalak. Apakah Sasuke benar-benar meminta maaf padanya barusan? Ia tidak salah dengar, kan?

"Maaf sudah menyebutmu 'pelacur'," pangeran itu menambahkan. "Dan maaf karena aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berpikir demikian saat aku berpikir kau tidur dengan ayahku."

Hinata merasakan genggaman di pergelangan tangannya semakin erat.

"Kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan ayah, huh? Apakah tadi malam kalian melakukannya?"

"Sa ... kit ..." Hinata berkata lirih, merasakan tulang pergelangan tangannya seakan remuk di bawah genggaman Uchiha bungsu.

Gadis itu bahkan tak sempat berkedip saat tiba-tiba saja Sasuke mendorongnya ke batang pohon yang berada di belakangnya. Pemuda itu memiliki kekuatan dan kecepatan yang jauh melebihi manusia pada umumnya, dan ia memerangkap tubuh Hinata yang lebih kecil dengan mudah.

"Apakah ... tadi malam kau mendesah di bawah sentuhan ayahku?" Mata onyx itu dipenuhi bara kemarahan yang Hinata tak dapat mengerti. "Apakah dia meninggalkan tanda kepemilikannya di tubuhmu?" Tangan kekar Sasuke membuka paksa mantel panjang yang menutupi gaun tidur Hinata. Ia bisa melihat beberapa tanda kemerahan pudar yang terdapat pada leher dan dada gadis itu. Meskipun tanda itu tak terlihat baru, tetap saja Sasuke tidak bisa menahan rasa panas di dadanya.

"Aku tidak ... melakukannya..." Akhirnya Hinata menjawab dengan suara mencicit karena ketakutan. Ia merasa pangeran itu akan membunuhnya karena kesalahan yang tidak ia lakukan. "Kami hanya ... bicara," lanjutnya. Tanpa sadar, air mata menggenang di matanya.

Sasuke melunak melihat air mata itu. Ia kembali teringat dengan wajah Hinata saat ia mengangkatnya dari lantai malam itu. Jejak air mata yang menodai pipi gadis itu tidak seharusnya kembali muncul karena dirinya.

"Aku ... aku harus kembali. Tolong lepaskan aku ..."

Sasuke menghela napas panjang, mencoba mengontrol emosinya. Ia tahu pasti gadis itu ketakutan dan kebingungan dengan aksinya. Tentu saja. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui apa yang Sasuke rasakan padanya.

"Dengar, Hinata," Sasuke berbisik di telinga Hinata, "Kau seharusnya menjadi milikku."

"Huh?" Hinata mengerjapkan matanya.

"Jangan lupakan itu. Bahkan saat kau bersama ayahku, ingatlah bahwa kau sebenarnya adalah milikku. Hanya milikku." Sasuke mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di bibir merah muda Hinata. Tentu saja Hinata terkejut dengan kontak fisik yang begitu tiba-tiba itu. Ia mencoba mendorong Sasuke menjauh, namun Sasuke semakin memojokkannya dan ia tak berdaya untuk melawan kekuatan pemuda itu. Sasuke menggigit bibir Hinata pelan, dan tidak membuang waktu untuk menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Hinata. Dengan perlahan, ia mencicipi rasa dari gadis itu. Lidah Hinata berusaha mendorong lidah Sasuke yang menginvasinya, namun pergerakan itu justru semakin membuat Sasuke menggumuli salah satu zona sensitif gadis itu. Hinata mengeluarkan suara erangan kecil saat ujung lidah Sasuke menyapu langit-langit mulutnya. Dan hal itu cukup untuk membuat Sasuke menjauh darinya. Bukan, bukan karena ia tidak menyukai erangan itu, melainkan karena ia merasa erangan itu akan membuatnya melakukan hal yang lebih jauh, tepat saat ini, di tempat ini.

Pandangan Hinata padanya tampak seperti pandangan seekor kelinci yang baru saja lolos dari buruan seekor harimau. Sasuke menyadari mata lavender itu dipenuhi teror, namun sapuan warna merah muda pada pipi Hinata tidak bisa dipungkiri membuat gadis itu terlihat ... manis. Sasuke ingin berpikir warna merah itu ada karena alasan lain, bukan karena gadis itu marah padanya.

"Apa yang ..." Bibir Hinata yang memerah dan sedikit membengkak karena ciuman sebelumnya bergerak pelan. "Kenapa kau ..."

Sasuke bergerak mundur. Ia harus pergi sekarang juga. Sebelum nafsu menguasainya. Sebelum ia mengklaim kepemilikannya atas gadis itu dengan cara yang lebih ganas. Sebelum ia membuat kesalahan yang tidak termaafkan, karena bagaimanapun, Hinata masihlah selir ayahnya.

Dengan itu, Sasuke bergerak cepat untuk meninggalkan Hinata. Tidak butuh waktu lama baginya untuk pergi hingga sosoknya tak lagi terlihat. Sementara Hinata merasakan kakinya melemas dan ia pun jatuh terduduk dengan punggung masih bersandar pada batang pohon besar itu. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan. Jemarinya yang bersentuhan dengan bibirnya masih bisa merasakan sensasi basah yang melingkupi bibirnya—jejak dari saliva Sasuke.

Benak Hinata terasa kacau.

Sasuke yang menyebutnya pelacur dan Sasuke yang menciumnya dengan penuh gairah.

Sasuke yang menatapnya dingin dan Sasuke yang menatapnya panas.

Di mana benang merah yang menghubungkan kedua Sasuke yang bertolak belakang itu?

Sejurus kemudian, Hinata tersentak.

Ia menyadari bahwa wajah itu—wajah yang ia lihat malam itu—memang benar-benar wajah Sasuke. Pemuda itulah yang merengkuhnya dan mengangkatnya ke tempat peraduan yang lebih nyaman. Napas beraroma mint pemuda itu pun begitu identik dengan aroma napas Sasuke saat menciumnya tadi. Tidak salah lagi, Sasukelah pemuda yang menolongnya, bukan Naruto.

... Jadi Sasuke sebenarnya ... menyukaiku?

Hinata merasakan dorongan yang kuat untuk tertawa—meski dorongan itu ia tahan sekuat tenaga. Sebagai gantinya, sebuah senyuman gelap menghiasi wajah cantiknya. Ia menelusuri bibirnya dengan jari telunjuknya. Fakta bahwa Sasuke menciumnya dan mengklaim bahwa Hinata adalah miliknya adalah sebuah perpaduan yang sempurna baginya. Rencananya untuk membunuh Fugaku dan Sasuke sekaligus mungkin bisa menjadi lebih menarik dari yang ia bayangkan.

Hinata pun bangkit dan menepuk gaun tidurnya. Ia mengikat mantelnya lebih erat, kemudian berjalan tenang menuju arah tempatnya berjalan tadi.

Saatnya untuk menjadi selir yang baik bagi Fugaku—sebelum ia menggerakkan pionnya yang baru.

.

.

.

Sasuke berdiam diri di kamarnya. Rasa manis bibir Hinata masih tertinggal di bibirnya. Erangan gadis itu masih terngiang di telinganya. Dan rona merah itu pun masih terbayang di benaknya.

Sasuke meninju tembok beton kamarnya hingga tembok itu retak.

Rasa bersalah hampir tak hinggap di hatinya. Semua ini justru terasa benar baginya. Bagaimanapun, Hinata hampir menjadi miliknya—seandainya dia tidak menolak usulan Danzou untuk menikahi gadis itu. Seandainya dia tak keberatan jika dirinya dijodohkan dengan putri buangan itu. Dan seandainya dia sempat bertemu dengan gadis itu sebelumnya dan mengenalnya lebih awal.

Tubuh mungil Hinata terasa pas untuk dirangkulnya—bukan dirangkul Naruto.

Bibir Hinata terasa sempurna saat bersentuhan dengan bibirnya—bukan dengan bibir ayahnya. Sasuke jijik membayangkan hal itu.

Ya, Hinata adalah miliknya. Sasuke tak peduli walaupun nama pemuda lain—Neji—masih menghiasi pikiran gadis itu. Dia yakin dia akan bisa menghapus nama itu dengan mudah. Tidak ada yang tidak mungkin baginya—Sasuke Uchiha.

Dan Naruto ... ia sekarang tak peduli pada permintaan sahabatnya itu. Membiarkan gadis secantik Hinata terus terkungkung dalam sangkar dan menerima perlakuan keras dari ayahnya? Ia tidak bisa.

Ayahnya yang ideal adalah ayah yang hanya mencintai dan mengenang ibunya bahkan saat ibunya sudah tak ada lagi. Mikoto Uchiha—mendiang permaisuri kerajaan besar itu—tak akan senang mengetahui ayahnya berbagi ranjang dengan wanita lain. Ia tak akan merasa damai dalam istirahat panjangnya, dan Sasuke tak ingin ibunya merasakan hal itu.

Ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan Hinata ke tempat yang seharusnya. Ia berjanji untuk memperlakukan gadis itu dengan baik, dan tidak membuatnya menangis seperti yang dilakukan ayahnya.

Dia akan mewujudkannya, tak peduli resiko apa yang menantinya. Sekali ia menetapkan tujuan, tujuan itu tak akan berubah sampai ia berhasil mencapainya. Itulah prinsip Sasuke.

.

.

.

Buah terlarang itu sudah terlanjur dicicipi.

Dan Sasuke tak akan puas hanya dengan sebuah gigitan kecil. Ia ingin menikmati buah terlarang itu seutuhnya.

Akan dia pastikan buah terlarang itu terlepas dari genggaman ayahnya.

to be continued—

.

.

.

A/N: Dark!Hinata sudah muncul lebih intens di chapter ini, dan saya harap pembaca tidak keberatan dengan perubahan karakternya. Sebagai bocoran, konflik ke depannya akan berkisar pada Hinata yang terombang-ambing antara keinginannya membunuh Sasuke dengan perasaan yang mulai tumbuh untuk sang pangeran. Tentu saja di chapter kali ini, Hinata masih menganggap Sasuke sebagai 'pion'nya untuk membalas dendam. =)

NejiHina batal dimunculkan di chapter ini karena satu dan lain hal, tapi saya rasa dia akan tetap akan muncul, walau tidak bisa dipastikan muncul di chapter berapa. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kisah cinta SasuHina tidak akan semulus itu.

Maaf jika fanfic ini tidak memuaskan, saya sadar bahwa saya masih memiliki banyak kekurangan. Semoga kalian masih mau meluangkan waktu membaca sampai 'the end'.

Special thanks to: HipHipHuraHura, hikarishe, Cahya Uchiha, Mishima, Guest (terima kasih atas salam jijiknya), yolandameiyu. nda, mkyu, greennn, little lily, HinaTama, Vampire Uchiha, Hana Yuki no Hime, Aiichan. tique, anita. indah. 777, gaahina, Ade854, hyuga hime chan RJN, Al, Megumi Amethyst, geek, 1dwi2, Megumi Amethyst (lagi), Fitri913, Suzakuchi, kensuchan, chika, xxx, Widya, ppkarismac, Megumi Amethyst (lagi).

Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama atau ada yang terlewat ya. :)

Moon Extract,

out.