Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.
[ 1. ]
Ia telah melakukan dosa.
Pemilik nomor registrasi C9 itu menghela nafas sekali lagi.
Ia telah melakukan dosa.
Ia telah melakukan sesuatu yang melanggar kode etik malaikat.
[Sementara di dekatnya, catatan dengan nomor registrasinya sebagai penanda nama terbuka, satu nama di sana terulas tipis nyaris transparan.]
Ia telah—
cherubim
[ garden of nerine ]
[ vii. ]
Eli dan Maki seperti layaknya biasa duduk di kursi ruang tunggu menunggu nomor pemeriksaan dipanggil. Sesekali Maki menanyakan bagaimana kuliah Eli sekarang berjalan, atau Eli balik bertanya mengenai kegiatan sang calon dokter di fakultasnya.
Maki selalu yang paling sering menemani Eli ketika ia tidak sibuk, mengingat mereka berada dalam kecelakaan yang sama—walau dengan kondisi Eli yang tidak ingat satu apapun—dan masih dalam pengawasan dokter.
"Cuma sering menginap di kampus saja," ungkapnya. "Banyak kelas yang harus kukejar karena peristiwa itu."
Maki menghela nafas panjang seraya berusaha merenggangkan badannya. Eli mengeluarkan senyum tipis.
"Aku tidak ingat bagaimana rasanya kuliah, tetapi semua orang membantuku," seru pemilik surai pirang tersebut. "Aku merasa ... aneh, seperti rasanya tidak ada di sini."
Maki mengedip dua kali, "Maksudmu?"
"Semua orang membantuku, tetapi aku tidak mengingat apapun." balasnya. "Yang kuingat adalah aku, Ayase Eli, mahasiswa tingkat tiga Fakultas Hukum; selebihnya aku bahkan tidak ingat Honoka, Kotori, Nico, bahkan adikku sendiri, Arisa."
Maki mengernyitkan dahi.
"Segalanya—aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah." Eli menatap kakinya. "Apa yang terjadi padaku? Apa aku benar Ayase Eli?"
.
Atau ia bukanlah Ayase Eli?
.
"Hei, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri." sergah lawan bicaranya dengan sedikit tepukan di bahu. "Yakinlah bahwa kau adalah kau."
[ viii. ]
Hasil pemeriksaan yang ditunjukkan dari dokter masih sama, yaitu Eli menderita retrogade amnesia karena trauma kepala atas kecelakaan yang menimpanya. Maki kembali mengantar Eli pulang sembari sebuah ide muncul di kepalanya.
Sepulang dari rumah sakit, Eli diberikan saran oleh Maki untuk membeli buku catatan kecil untuk ia mencatat segalanya mulai saat ini. Hal itu juga yang diinterpretasikan dokter saat pemeriksaan rutinnya baru saja. Menurut Maki, Eli harus melebarkan pandangan dunianya sendiri, kemungkinan itu menjadi sebuah sarana untuk dirinya mengingat-ingat.
Eli harus membeli sebuah buku; ya, jurnal! Anggap saja ia mencatat segala memori barunya di dalam buku tersebut. Paling tidak, menurut dokter, itu akan membantunya bila saja memori lama dan barunya tercampur pada suatu , Eli masih dapat membuat memori baru—dan akan terus dipantau perkembangannya.
Beberapa meter perjalanan ke luar, terdapat pusat perbelanjaan kota yang terletak melintang membelah jalanan. Maki bilang, di sana ada sebuah toko buku yang dekat dengan toko yang menjual album musik dan sebuah kafe yang buka sore hingga tengah malam.
"Se-selamat datang di Ne—oh, Ayase-san dan Maki-chan."
Koizumi Hanayo tengah berada di depan etalase best seller, mengenakan kacamata berbingkai cokelat miliknya serta mengenakan seragam yang mungkin adalah ciri dari Nerine Book Vaganza tersebut.
"Sudah kubilang panggil saja aku Eli." wanita yang lebih tinggi terkekeh. "Tak kusangka kau bekerja di sini, Hanayo."
"Aku mungkin akan lebih suka berada di toko bunga atau toko album tetapi hanya Nerine yang membuka lowongan ..." balas Hanayo dengan suara yang cukup kecil. "A-ah iya! Apa yang bisa saya bantu?"
Hanayo membawa Eli ke bagian alat tulis (dengan Maki yang menjelaskan) dengan gugup, Eli sudah terbiasa dengan sikap Hanayo yang demikian; di antara teman-teman Maki, Hanayo-lah yang paling pendiam, begitu yang ia sering lihat ketika ia berinteraksi dengan Maki, Rin maupun Honoka.
"Kau mau jurnal seperti apa, Eli?"
Pertanyaan Maki membuyarkan konsentrasinya terhadap tata ruang. "Oh, err, mungkin ukurannya sedang dan mudah dibawa ..."
Pemilik surai pirang itu mengikuti Maki menembus rak demi rak menuju bagian alat tulis.
Dan di sana, ia bertemu lagi dengan seorang Toujou Nozomi.
Pandangan mereka bertemu beberapa saat sebelum—
"Ah, Nozomi."
Maki menyapanya dengan normal, dan bukan dengan nama keluarga, Eli pun sontak menaikkan sebelah alisnya.
"Maki-chan, sudah lama aku tidak melihatmu." imbuh pemilik surai ungu tersebut.
Eli memerhatikan mereka berdua bertukar sapa seraya melihat apa yang tengah Toujou Nozomi pegang. Satu buah kanvas berukuran sedang, satu set alat warna media cat air dan beberapa pensil dengan berbagai macam ketebalan.
"Ia temanmu?"
Eli jujur saja kaget melihat manik hijau zamrud itu berdalih melihat ke arahnya.
"Ini Ayase Eli," Maki menggeser dirinya agar tidak menutupi Eli. "Ia bersamaku saat kecelakaan pesawat itu."
Kecelakaan?—Eli pun tidak tahu bahwa Maki sempat bercerita dengan orang lain mengenai kejadian tersebut.
"Eli, ini Toujou Nozomi. Kami sudah lama saling mengenal."
Nozomi mengulurkan tangannya meminta jabat tangan, Eli pun menyambut dengan canggung. Sedikit ucapan dengan suara kecil bernada 'salam kenal' meluncur dari mulutnya.
"Salam kenal, Ayase-san."
Manik hijau zamrud itu berpapasan lagi dengan manik biru langit, sebelum diri sang mahasiswi berlalu tanpa menyapa. Nozomi dan Maki bercakap sebentar sebelum sang senior dari Fakultas Seni Rupa itu mempersilahkan diri dan menuju kasir. Maki tampak tengah mencari buku-buku yang berkaitan dengan mata kuliahnya sejenak Eli kembali menghampiri Hanayo di kasir.
"A-ada apa, Eli-san?"
"Tidak apa-apa, dan panggil aku Eli saja," Eli melirik ke arah pintu. "Kau kenal ... dia?"
"Err, Nozomi-san lumayan sering datang kemari sehingga aku mengenalnya." ucap Hanayo. "Ia akan membeli cat, kanvas, atau kadang buku sketsa."
[ ix. ]
"Kau tidak bilang tadi kalau kau kenal dengan Toujou-san, Maki."
"Itu bukan hal penting kan, lagipula—" Maki berdehem. "Seberapa tertariknya kau dengan Nozomi sebenarnya, Eli?"
Kaki Eli mundur beberapa jengit. "Ha-hah? Sudah kubilang kan aku merasa aku mengenalnya, itu saja!"
Mereka berdua keluar dari toko seusai Eli memilih jurnal. Ia memilih buku bersampul biru muda polos yang memiliki halaman tak bergaris. Nozomi sudah lebih dahulu pergi karena ia bilang sedang terburu-buru. Sementara, Eli masih terlarut dalam ruang pikirannya mengenai hal di sekitarnya, kini ia punya buku, mungkin lebih mudah untuk menulis di atas sana setiap detail yang termakna di seluruh pancainderanya.
"E ... li?"
Suara setengah melengking itu membuat Maki dan Eli terhenti sesaat melintasi sebuah kafe taman di sebelah toko buku tersebut.
Dua orang tengah duduk di samping meja bundar, kudapan manis berbau tinggi sudah tersedia di atas meja menunggu disantap. Pemilik surai abu-abu dan rambut hitam dikuncir dua tengah menghabiskan waktu di teras milik kafe.
"Maaf, anda siapa?"
"Ini aku, bodoh, Nico-nico-nii!" si rambut hitam berdiri, dengan telunjuk mengacung lurus. "Kemana saja kau? Baru kali ini aku dan Kotori melihatmu."
Maki melipat kedua tangannya. "Kalian Minami Kotori-san dan Yazawa Nico-san yang disebut oleh Honoka?" ia maju menginterjeksi. "Sebelumnya, aku ingin menjelaskan sesuatu."
.
.
.
"Amnesia?"
Kotori tidak bisa menahan suaranya selepas mendengar cerita Maki. Eli berada di pojok meja dengan kedua tangan di atas paha, ekspresinya sesaat muram mendengar dan melihat reaksi dari Nico dan Kotori.
Honoka pernah bilang bahwa Nico dan Kotori cukup dekat dengannya, walaupun berbeda fakultas selayaknya Honoka. Kotori adalah teman kecil Honoka dan cukup jenius dalam masalah menjahit dan mendesain baju, sementara Nico—pemilik surai jingga itu pernah menyebutkan bahwa Eli dan Nico berasal dari SMA yang sama—adalah anak fakultas ekonomi, seseorang yang terobsesi dengan dunia idol.
Suasana cerah kemudian segera berubah berat.
"Nico ingin bilang kalau kau bercanda tapi ..." Nico menghela nafas. "Tetap saja ini—bukan saatnya untuk bergurau, kan?"
"Aku ingin meminta Eli-chan menjadi model untuk brand terbaru kami awalnya ..." ucap Kotori. "Kami tidak akan memaksamu untuk sekarang."
Eli menelengkan kepalanya, "Kalian sudah membuat desain sendiri?"
"Seminggu lagi kami akan menampilkannya di Pasar Seni kampus, kalian berdua datang saja ke stand E37 yang terletak di sebelah pameran lukisan ya!" Nico membusungkan dada, seringai lebar terpampang di wajahnya seraya ia memamerkan buku milik Kotori yang tengah menganggur di atas meja. Jelas disana tulisan BirdPanda NicoNico diukir dengan indahnya. "Kalian pasti tertarik!"
Memicingkan mata, Maki kemudian meraih buku tersebut, "Apa kalian tidak punya nama lain untuk brand kalian ...?"
[ x. ]
"Siapa ... kau?" tanya pemilik rambut pirang tersebut. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Tarikan senyumnya sungguh sempurna; apik dan misterius. "Kurasa tidak, aku tidak merasa pernah mengenalmu."
"Maafkan aku." tukas Eli dengan sedikit bungkukan. "Sejujurnya, aku terkena amnesia jadi aku tidak tahu siapa yang sudah kukenal maupun belum, maaf."
Wanita di hadapannya ekspresinya turun satu oktaf, dengan senyum yang sama walau sedikit menyempit. "Tidak apa-apa."
.
Eli terhenti sesaat penanya tengah menulisi kembali catatan yang ia ukir sepanjang kelas. Catatan yang ia buat cukup berantakan, dan karena ia memiliki waktu cukup sebelum Honoka datang menjemputnya menuju Pasar Seni, ia menyempatkan diri untuk duduk di tempat mereka biasa bersua seraya merapikan segala materi yang tadi ia dapatkan.
Sesaat pikirannya menuju jalan buntu.
Toujou Nozomi.
Eli menarik jurnal yang ia beli seminggu lalu.
"Entah kenapa aku merasa aku mengenalnya—entah."
"Begitukah?" Maki menyela. "Mungkin kau harus menemuinya lain kali? Siapatahu dia kenal siapa dirimu sebelum amnesia?"
Ia merasa mengenali Toujou Nozomi lebih dari apapun, lagi, tidak ada koneksi antara mereka berdua terkembang di sini. Yang mengenali Eli dengan sempurna adalah Honoka, Kotori dan Nico; sementara Maki, Rin dan Hanayo adalah orang baru yang ia temui di 'memori baru'-nya. Eli menulis nama-nama mereka dengan warna berbeda di bukunya, mencoba mencatat setiap harinya.
"Eli-chan, kau sudah siap?"
Jurnal berwarna satin polos itu cepat-cepat ia masukkan ke dalam tas miliknya mendengar derap riang langkah Kousaka Honoka menjeda.
"Ah, ayo kita ke sana." Eli berdiri dari duduknya. "Omong-omong Pasar Seni itu apa, Honoka?"
[ xi. ]
Pasar Seni, begitulah mereka menyebut acara yang diadakan dua bulan sekali di pelataran gedung Seni Rupa hingga Desain Komunikasi Visual. Kadangkala ada acara workshop dengan berbagai tema yang akan memakan ruang aula utama kampus, selebihnya keramaian berpusat di wilayah gedung Seni Rupa. Semua mahasiswa ikut terlibat, mulai yang hanya memamerkan karyanya sampai menjual karya mereka, atau sekadar meramaikan dengan penampilan musik atau teater yang silih berganti di panggung tengah yang memisahkan Fakultas Sastra, Seni dan Rumpun Ilmu Kesehatan. Ada juga beberapa stand lain seperti makanan dari fakultas-fakultas berbeda, atau semacam photobooth dan ruang terbuka untuk sekadar duduk-duduk.
Mereka berdua mengunjungi stand E37 setelah hilir mudik melihat-lihat stand lain yang menjual beberapa desain untuk alat tulis hingga gaun pengantin. Nama brand milik Nico dan Kotori itu diganti sesuai anjuran Maki menjadi 'Pure Girls Project'. Tampak kubikel itu tengah ramai digandrungi beberapa wanita muda—yang ditangani secara profesional oleh Kotori—sementara Nico tampak bekerja di luar, meneriakkan dan mempromosikan booth mereka.
"Kalian datang juga!" sebut Nico. "Maaf tapi kami berdua sedang sibuk, mungkin kita bisa bicara nanti, kalian lihat-lihat saja dulu!"
Eli dan Honoka masuk ke dalam toko melihat beberapa model baju yang mereka berdua desain. Warna utama yang mereka padukan adalah putih, sesekali warna pastel, juga dengan warna kontras terang-gelap. Selain itu mereka juga menjual merchandise berupa kalung sepuhan perak dan gelang rajut.
Kotori tampak tengah berbicara dengan seorang gadis bersurai biru gelap.
"Ah Honoka-chan, Eli-chan, selamat datang!" ujar Kotori sejenak melihat mereka berdua datang.
Pemilik surai biru itu mengalihkan pandangannya ke arah Eli dan Honoka sejurus dengan Kotori menyapa mereka.
"Kalau begitu, aku permisi, Minami-san."
"Ti, tidak apa-apa Sonoda-san, kau tidak usah terburu-buru!"
"Tapi aku takut mengganggu kau dan teman-temanmu." ia berdiri kemudian setengah membungkuk. "Selamat siang dan terima kasih atas waktumu."
"Kotori-chan, apa dia orang yang memintamu mendesain kaver?"
Kotori mengangguk, "Iya, ia Sonoda Umi, mahasiswi Fakultas Sastra dan Literatur."
Eli memerhatikan gelagat gadis itu sejenak sebelum ia pergi dari pandangan toko.
(Lagi, satu hal yang familiar lagi janggal.)
[ xii. ]
Honoka menjelaskan dengan lengkap dan ceria mengenai Pasar Seni—cukup untuk membuat Eli kebingungan—sambil mereka berdua menuju pintu masuk utara, yaitu dari gedung Seni Rupa yang memajang karya berupa lukisan atau kriya-kriya tiga dimensi klasik dan kontemporer. Mereka segan mengganggu Kotori dan Nico yang sedang sibuk, sementara Hanayo, Maki dan Rin belum juga bisa mereka temui karena mereka masih ada kuliah.
"Aku tidak mengerti lukisan, tetapi karya-karya ini keren!" ungkap Honoka, ia berjalan di depan Eli melewati kelok demi kelok ruang pameran lukisan.
"Kampus kita hebat juga bisa mengadakan acara seperti ini dua bulan sekali," Eli mengangguk-angguk. "Dan tampak semuanya antusias dengan acara ini."
Honoka mengambil arah menuju tempat di mana tengah duduk beberapa orang yang tengah melukis menggunakan empat media yang berbeda, tampak terkagum-kagum dengan kebolehan mereka.
Terdapat percabangan sebelum pintu keluar ruangan. Di pojok kanan sebelum keramaian tempat pelukis, terdapat serentetan lukisan baris terakhir dengan satu lukisan dipajang dengan esel dengan posisi di tengah ruangan.
Lukisan itu—
Malaikat, digambarkan dari belakang hingga yang terlihat hanya sayap-sayap, tengah berada di atas padang bunga dengan langit menjadi titik perspektifnya. Biru mengulas nyaris keseluruhan bidang penglihatan. Media yang digunakan cat air, sepertinya, Eli sendiri tidak paham tentang lukisan.
Namun lukisan itu sangat indah, imbuhnya dalam hati melihat perpaduan warna yang tidak mencolok dan suasana tenang dan tentram yang dipancarkan.
Sebuah penanda nama terukir di kaki kanvas, sebuah kartu kecil bertuliskan nama dan judul lukisan tersebut.
( beat in angel – Toujou Nozomi )
"Kau menyukainya?"
Manik Eli kembali bertemu dengan hijau permata zamrud. Toujou Nozomi tengah berdiri di sampingnya seraya menaruh kedua tangannya di belakang. Ia menunduk sejenak memeriksa lukisan miliknya sebelum perhatiannya kembali menuju Eli yang terdiam.
"Ya, indah sekali." Eli berkomentar. "Aku tidak ingat pernah melihat lukisan sebelumnya jadi ... ini cukup menyenangkan."
Senyum yang diutarakan Nozomi begitu sederhana, tampak ia sedikit tersipu dengan pujian Eli—dilihat dari sedikit rona merah di pipinya—lagi ia menjaganya agar tidak berlebihan. Jemari Nozomi membelai kanvas sekali sebelum pertanyaan terselubung diantara urai nafas.
.
.
.
"Ayase-san, apa kau percaya dengan keberadaan malaikat?"
[ xiii. ]
"Cherubim 9," panggilnya lantang dan tegas. "Kau mendengarku kan?"
"Ya, Nona Seraphim."
"Kau ingat tugasmu, kan? Aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kalinya." sebutnya lagi. "Kalau begitu aku permisi."
Ruangan itu tertutup, dengan beberapa helai sayap putih tertinggal di sana, bekas kepakan bebas sang petinggi. Sang malaikat dalam masa detensi itu melihat kembali buku miliknya yang telah ditandai dengan stempel merah dan hitam.
Ada satu nama di sana, tercetak tipis nyaris transparan namun terpatri dalam ingatan. Ia mengedipkan mata sesekali untuk melihat tulisan itu menebal, namun menipis kembali saking cepatnya.
Ia ingin sekali mengepakkan sayapnya, menembus udara yang menaunginya, akan tetapi ia lupa bahwa hak atasnya terbang telah dicabut dan ia dianugerahi satu tugas evaluasi.
.
.
.
"Baiklah, Umi-chan."
[ t b c ]
