Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.


[ 2 ]

"Permisi—uh?"

Malaikat itu mengepakkan sayapnya tak tentu melihat Sanctuary—tempat di mana para malaikat petinggi, Seraphim, kasarnya—berkantor dan bekerja di balik meja mereka. Tujuan sang malaikat adalah Seraphim nomor dua, akan tetapi yang ada di sana adalah Seraphim nomor empat.

"Ada apa, Throne T12737?" balas suara lembut sang malaikat itu, ia melayang menuju arah pintu dan memersilahkan sang malaikat bawahan masuk.

"Aku mencari Umi—maksudku, Nona S 2."

"Ia sedang ... pergi, tapi akupun tak tahu ke mana." Seraphim itu membalas. "Kembalilah lain waktu, atau mungkin kau ingin menitipkan pesan padaku?"

"Ini soal C9—Cherubim nomor 09," Throne berucap. "Aku ... aku tidak tahan dengan keadaan ini, Nona Seraphim 04."

Sang Seraphim memicingkan matanya. Ia sedang tidak ada saat Seraphim bernomor dua memimpin sidang penghukuman Cherubim 09, ia hanya mendengar cerita-cerita pelik di baliknya, juga tatapan sinis banyak Cherubim yang melapor padanya, maupun Seraphim lain menanggapi keputusan Seraphim 02.

"Memangnya keputusan itu tidak adil, kah?"

"C9 tidak melakukan hal buruk! Ia hanya melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan malaikat!" tegas sang malaikat bawahan. "Dia—dia hanya memastikan kalau nyawa itu perlu dijemput ...!"


cherubim
[ spectabilis ]


[ xiv. ]

Toujou Nozomi.

Ia memiliki surai ungu nyaris kebiruan di bawah terang sinar mentari tipis berulas, manik hijau zamrud yang tak lekang sinarnya, juga senyum cerah merekah yang tak mudah dilupakan.

Gadis itu adalah pengarang dari kanvas di depannya, beat in angel, sebuah lukis nyata bermedia cat air yang berceritera tentang malaikat, digambarkan dari belakang hingga yang terlihat hanya sayap-sayap, tengah berada di atas padang bunga dengan langit menjadi titik perspektifnya.

Toujou Nozomi.

Di hadapannya tengah berdiri sang pemilik lukisan, rambut ungunya ia atur sedemikin rupa sehingga dua kuncir yang ia lihat beberapa hari yang lalu menjelma menjadi satu kunciran dengan kepang menghiasi sisa rambutnya.

"Ayase-san, apa kau percaya dengan keberadaan malaikat?"

Kalimat itu menggaung.

Kepalanya berdenyut sesaat.

(Kenapa ketika berada dekat dengan gadis itu ia selalu merasakan sebuah nostalgia? Sebuah rasa yang tidak tersampaikan?)

"Malaikat ...?" Eli memutar dua bola matanya.

Nozomi mengeluarkan kekehan lembut, tangannya menyapu sisi atas kanvas miliknya.

"Kau tahu, aku melukis ini saat aku teringat pada satu malaikat."

Alis Eli terkumpul ke tengah, tanya dan bingung tercampur dan tersirat di wajahnya.

"—Tentu saja itu metafora, Ayase-san." balasnya. "Lagipula, mana mungkin ada malaikat sungguhan. Segalanya hanya ada dalam dunia dongeng, bukankah begitu?"

Kepala Eli terus berdenyut.

"Uhh, err." lidahnya mencoba mencari percakapan. "Tapi melihat lukisanmu, kurasa malaikat mungkin indah dan benar adanya."

Sang pelukis memiringkan kepalanya sejenak, bibirnya sedikit naik membentuk kurva ke atas. "Terima kasih atas pujianmu lagi."

Ada kesenjangan di antara mereka, dan hal itu sangat terasa. Eli tidak lagi menemukan ide untuk membuka pembicaraan, dan kepalanya terasa terus mengisyaratkan nyeri, sementara di hadapannya Nozomi berlaku pasif, tidak melakukan apapun yang berarti selain sesekali melihat ke arah kakinya.

"Kalau begitu, aku permisi ..."

"Tunggu."

Kali ini tangannya refleks, ia menahan pergelangan tangan itu untuk hilang dari hadapannya. Kepalanya masih terasa sakit, tidak tahu kapan sakit itu akan hilang.

"Ada apa, Ayase-san?"


[ xv. ]

"Jadi," Honoka menggaruk pipinya, Maki melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau mengajak Nozomi makan bersamamu?"

"Ngg ... ya?"

Kedua mata Honoka berbinar-binar, tangannya bertemu dengan tangan Eli, "Kau sangat berani, Eli-chan!"

Maki menggeleng-gelengkan kepala, dilanjut dengan hela nafas cukup panjang. Mereka berdua ada di rumah sakit menemani Eli untuk melakukan check-up ketika mendadak pemilik surai jingga bertanya ke mana gerangan sang mahasiswi Fakultas Hukum itu mendadak menghilang saat hari Pasar Seni diselenggarakan. Honoka terlalu asyik melihat-lihat stand sementara Eli berbicara dengan Nozomi dalam pembicaraan yang cukup singkat (menurut Eli).

"Tidakkah kau sedikit membuat Nozomi takut, Eli?" sahut Maki.

"Entah ...? Yang kurasakan, dia agak ... berbeda dari orang kebanyakan." Eli menjawab. "Aku sudah pernah bilang kan kalau ... saat melihat Toujou-san, aku—merasa seperti mengenalnya?"

Satu suara penuh dramatisasi dilayangkan Kousaka Honoka dari kursi audiens. Kilat di matanya tak kunjung hilang. "Oh, oh! Jangan-jangan kalian pernah bertemu di kehidupan sebelumnya—"

"Honoka, tolong, itu terlalu konyol." Maki memotong imajinasi seniornya terpaut setahun itu secepat mungkin. "Nozomi memang baik ... walau aku tidak tahu seperti apa dia di Fakultas Seni Rupa, banyak rumor aneh mengenainya."

Eli terhenyak, "Rumor ...?"


[ xvi. ]

Lorong besar yang memisahkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Seni tengah jarang ditapaki orang, jam-jam tersebut biasanya diisi dengan kuliah, terkecuali mereka yang memang membolos atau menghadapi urusan lain. Jauh agak di sisi selatan tengah dibersihkan panggung besar, alat-alat dan rangka-rangka yang merangkai stand milik Pasar Seni, suara berisik antara besi demi besi diturunkan dan dibongkar mengisi latar belakang.

"Nicocchi?"

"Ada apa, Nozomi?"

"Kau ... tidak keberatan menemaniku?"

Yazawa Nico termasuk dalam golongan satu, sementara Toujou Nozomi memang tidak memiliki kuliah di jam itu. Di antara tempat duduk kayu yang mereka duduki tengah tersedia dua potong sandwich milik Nozomi dan termos berisi teh hangat.

"Tak masalah, mereka di Seni terlalu iri pada bakatmu sehingga mereka menjauh, bukan karena kau melakukan hal yang buruk." sergah anak Ekonomi itu. "Lagipula, pembukuan? Aku juga tidak suka kuliah itu, dosennya terlalu membosankan."

"Kau memang selalu kulihat bolos setiap saat, Nicocchi."

"Di-diam kau!"

Nozomi nyengir lebar melihat Nico menggeram dan membuang muka. Ia mengeluarkan buku sketsa miliknya dari dalam tas yang ia bawa, pensil sudah siap di tangan. Manik merah Nico mencuri pandang sesaat Nozomi membuka halaman demi halaman buku sketsa dengan kertas tebal bertekstur tersebut.

"Kau menaruh tanggal di setiap sketsa yang kaubuat?"

"Ya," mata Nozomi terus mencari halaman kosong. "Aku tidak ingin melupakan momen ketika aku menggambarnya."

Sekilas, Nico menangkap sebuah sketsa wajah seseorang, tangannya bergerak untuk meraih buku tersebut sebelum Nozomi menutup halaman tersebut dengan sebelah tangannya, menghentikan Nico untuk melihat jelas.

"—Nicocchi. Apa yang kau lakukan?"

"Hei, gambar itu—"

"Itu bukan hal penting. Aku hanya gagal menggambarnya."


[ xvii. ]

Kotori tengah sibuk di depan laptopnya, membuat beberapa desain yang diidekan oleh Nico ketika seseorang dengan kacamata berbingkai tipis datang menghampirnya.

"Minami-senpai, a-aku yang memesan buku yang hendak kalian terbitkan."

Pemilik surai abu-abu itu segera menutup kerjaannya untuk melihat mahasiswi Arsitektur itu datang dengan buku besar di atas amplop biru yang memang ia sediakan di stand-nya beberapa waktu silam untuk pemesanan buku novel yang ia desain. Kotori mengenal Koizumi Hanayo sebagai seorang pembeli tetap, mereka akan menentukan hari, tempat dan jam untuk bertemu sementara mereka bertransaksi. Hal ini dikarenakan Hanayo tidak bisa datang ke Pasar Seni karena sibuk, atau karena stand yang mereka buka sudah tutup. Kotori akan melayani pesanan dari luar, sementara Nico tetap menjadi otak marketing utama.

"Kau selalu membeli produk-produk kami, terima kasih." sapanya ramah. "Maaf tapi ternyata buku itu belum selesai kami cetak, silahkan kembali di lain waktu."

"A-Ah tidak apa-apa!" tukasnya singkat. "Sebenarnya aku juga ingin bertemu denganmu membicarakan sesuatu—"

BRAKKK

"—Eh?"

Suara keras datang dari arah belakang mereka, arah gedung Fakultas Ekonomi dan Fakultas Seni berada, mereka tengah ada di area Fakultas Teknik dengan Kotori memakai fasilitas wi-fi di area kantin Teknik. Beberapa mahasiswa yang semula membentuk kerumunan masing-masing berusaha mencari asal suara keras tersebut, tampak seperti suara besi jatuh. Kemungkinan besar adalah tempat di mana mereka membongkar panggung utama Pasar Seni—

"Ada yang terhimpit—mahasiswa Teknik Sipil!"

Manik ungu dan cokelat kekuningan itu membelalak.

"... Tidak mungkin." Kotori menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

"Mi-Minami-senpai? Kau tidak berpikir untuk ke sana ... kan?" Hanayo berujar. "Itu bukan ranah kita, a-aku tidak suka melihat darah ..."


[ xviii. ]

'Gadis Kematian'.

Eli berpikir bahwa kalimat itu terlalu kasar dan terlalu tajam untuk digunakan sebagai panggilan untuk seseorang, dan menanggapi negasi dari pernyataan tersebut.

Namun, hal itu terbukti.

Nico mengirim e-mail kepada Eli, mengisyaratkan bahwa Nozomi tidak bisa menemuinya karena mereka berdua dimasukkan ke dalam daftar saksi mata peristiwa mengenaskan yang menewaskan satu mahasiswa Teknik Sipil siang tadi di sekitar halaman Fakultas.

"Mereka bilang, Nozomi selalu ... dekat dengan kematian. Ada saja kecelakaan, ada saja yang tiba-tiba mati."

Eli menelan ludah.

"Maki-chan, kau jangan membuat Eli-chan takut."

"Ini rumor yang kudengar; dan aku tidak mau percaya hal itu."

Kakinya bergerak menuju ranah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kalimat-kalimat Maki ia biarkan hangus tanpa bekas di benaknya.


[ t b c. ]
next a r c. Archangel