a/n.
Uhh, hai? Selamat datang di morning star. Rasanya saya nggak banyak bercakap-cakap di author notes tapi oke akan saya lakukan sekarang. Pertama terima kasih atas review, faves dan alerts! Saya sayang kalian #abaikan Dan mungkin untuk pertanyaan dari Rena Bodewig, mungkin akan terjawab di chapter ini, sepertinya, bila penjelasan saya tidak terlalu samar-samar ^^;
Terima kasih dan stay tuned!
Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.
[ 3 ]
Malaikat pencabut nyawa tidak lebih hanya sebuah profesi, dengan mereka yang dianugerahi sayap. Mereka melihat kematian setiap harinya, sesuai data yang tertera pada buku mereka. Mereka akan datang, di sanalah mereka menampakkan sayap mereka kepada jiwa yang hendak mati, kepada jiwa yang telah terikat dengan dunia nirsadar—
"Umi-chan dengarkan aku—"
Malaikat pencabut nyawa memiliki beberapa tingkatan; anggap saja Seraphim adalah mereka yang memiliki fungsi dan kemampuan untuk disebut sebagai 'Kepala Malaikat' dan pangkat seperti 'Throne' dan 'Archangel' memiliki kasta lebih rendah dan wewenang juga gaji yang lebih sedikit. Namun, para malaikat memiliki kode etik yang sama; mereka tidak boleh membocorkan data yang mereka miliki ke orang yang hendak mereka jemput, dan mereka harus menjemput apapun nyawa tersebut, entah keluarga atau sanak saudara—
"Sudah kubilang berulang kali, berlakulah profesional, Throne—"
Sayap mereka berwarna putih, sungguh, ironi kehidupan. Sayap mereka tersembunyi dari kasat mata manusia, terkecuali mereka yang masuk dalam bab pengecualian, yaitu mereka yang akan mati dan—
"Dengarkan aku dulu. Seraphim 02!" pekiknya. "Kita sedang tidak dalam dunia kerja!"
"Ah ..." langkahnya terhenti dari sang Throne. "Maaf, mungkin aku lelah."
Sang Throne menaruh kedua tangannya untuk memegang bahu sang Seraphim. Ya, mereka sedang tidak dalam dunia kerja, mereka terlihat seperti layaknya manusia tanpa sayap yang bisa terlihat. Mereka tampak seperti manusia, lagi mereka menyelubungi diri dalam dunia sosial mencari target operasi pencabutan nyawa mereka agar segalanya sesuai jadwal.
"Maaf, aku tahu karena kau pasti lelah dengan hasil sidang itu tapi—"
"Kau kira kau tidak melakukan apa-apa tentang C9?"
Mata sang Throne menyipit.
"Aku menjatuhkan keputusan itu karena ia sendiri yang menginginkannya, ia adalah yang potensial untuk mencapai ranking Seraphim lagi dia—"
"... Umi-chan."
"Throne ... T12737, a-aku mengerti kalau ... C9 juga temanmu."
archangel
[ kara no shoujo ]
[ xix. ]
Eli meniti langkah menuju Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya seorang diri, ia hanya berbekal ingatannya ketika diantar Honoka saat Pasar Seni, juga petunjuk arah dan beberapa patokan jalan. Ia melihat area yang tengah dibongkar—kini dihentikan karena insiden siang tadi—semakin dekat adanya. Tidak ada banyak petugas berjaga karena tengah dilakukan reka ulang dan pemeriksaan saksi, Eli pun membawa diri untuk mendekat.
Garis polisi dibiarkan melingkupi tempat sementara tempat yang merupakan di mana mayat itu mendapati hari terakhirnya dibubuhi kapur, darah yang ada di sana, tampak dari siluet bagian kepala telah mengering.
Manik birunya terdiam sejenak.
Mendadak kepalanya didera sakit luar biasa, keringat dinginnya mengucur.
Tidak—bukan—ia tidak takut darah—tidak, dia—
.
.
.
"Aku adalah malaikat kematian. Aku kemari untuk menjemputmu."
.
Telinganya berdenging, keringat dingin terus membasahi pelipisnya, tenggorokannya mengering.
Darah—
Darah—
Imej darah silih berganti tergambar di kepalanya—
.
.
.
"Kenapa kau melakukan hal picik—seperti mengunjungi mereka yang hendak mati? Tidakkah kau merasa terluka?"
.
Suara-suara itu seakan tidak mau diam, suara itu begitu familiar, begitu dekat—
"Kau, tidak mungkin, tidak mungkin akan terjadi hal seperti ini!"
"Ayase-san?"
Nafasnya tercekat dan kaget membasahi seluruh raganya sejenak ia merasakan dirinya dipanggil. Satu tangan memegang bahunya, Eli pun menoleh menuju asal suara untuk menemukan manik hijau yang sinarnya temaram, sehangat matahari memancarkan rasa khawatirnya,
Toujou Nozomi,
Kenapa gadis itu ada di sana? Bukannya ia sedang berada di pemeriksaan saksi?
"Kau pucat, kau tidak apa-apa?"
Nadanya jelas bergetar, kekhawatiran membuncah. Wajahnya sejenak mendekat untuk memeriksa air mukanya, ia merasa nafasnya sendiri dingin, akan tetapi rasa tidak enak yang semula menjalar tak lagi diinderainya.
Apa? Suara siapa yang sebenarnya ia dengar? Darah siapa yang ia lihat? Mayat siapa yang ia—
(Tangan itu tidak pergi untuk menahan tubuhnya yang seakan hendak tertarik gravitasi dan jatuh.)
"—Ah."
"Ayase-san!"
Tubuhnya terasa berat, akan tetapi Nozomi ada di sana untuk menyangganya. Rasanya mual, segalanya bercampur menjadi satu, seakan sekelebat memori yang ia tidak inginkan memaksa untuk ada, lagi ia tidak punya kemampuan untuk mengingatnya.
Tangan Nozomi terasa dingin memegangi dahi dan pipinya.
"Kau ... panas, mungkin kau demam." ucapnya.
"Tapi aku ... tidak apa-apa."
Tentu ia bohong, tetapi ia tidak mau merepotkan lebih banyak orang lagi, mengingat ia sudah merepotkan Honoka, Maki, semuanya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Kau terlalu lemah untuk berjalan sendiri, Ayase-san."
[ xx. ]
Sonoda Umi melihat gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari kejauhan seraya jemarinya terhenti di bait demi bait nama yang ada di dalam buku dengan nama SERAPHIM-02 tercetak tebal di halaman kaver. Angin semilir mengaburkan konsentrasinya sejenak, nama yang baru saja ia angkat dari dunia ini telah dicoret.
"Ternyata benar itu anda, Seraphim 02."
Sebuah suara mengimbuh dari belakangnya, namun ia tidak menoleh.
"Kurasa ini bukan saatnya memerdulikan pekerjaan orang lain ..." Umi mendecak. "Seraphim 04."
Umi-lah yang melakukan aksi eksekusi barusan, karena itu merupakan hal yang telah menjadi misinya. Buku yang ia pegang sejenak kemudian ia kembalikan ke dalam tasnya sebelum dirinya menatap miris panggung yang masih dipenuhi staf kepolisian.
"Seraphim 04, apa itu kematian?" tanyanya, retoris. "Mengapa kita harus menjadi pengemban sesuatu yang menyedihkan?"
"Maaf, akupun tak bisa menjawab itu, Seraphim 02."
Semilir angin terus mengalir, menerpa dedaunan dan reranting. Mereka berdua berada lagi tidak bertemu mata.
"Aku selalu berpikir, apa yang dilakukan C9 itu hal yang benar?" tukasnya. "Atau Tuhan hanya mengetes kita dengan memberikan sebuah masalah yang sebelumnya tidak pernah ada?"
Sang malaikat petinggi terdiam.
[ xxi. ]
Eli menunjukkan jalan menuju apartemennya dan Nozomi mengantarnya. Mahasiswi Fakultas Seni Rupa itu memastikan Eli berbaring di tempat tidurnya. Sebenarnya, Eli bisa saja meminta Nozomi untuk membawanya ke klinik di dalam gedung besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, akan tetapi pemilik surai ungu itu mengisyaratkan agar mereka menuju tempat Eli tinggal, karena mereka tidak perlu repot pergi apabila gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis akan disterilkan polisi.
"Toujou-san, tidak usah repot—"
"Aku akan merawatmu sampai Maki-chan datang," Nozomi menghela nafas. "Aku tidak bisa meneninggalkan seseorang dalam keadaan lemah."
Eli baru saja ingin menghentikan Nozomi untuk menuju dapur sementara ia berbaring namun—
"Tidak ada tapi, Ayase-san."
Ia tidak mampu menyuarakan negasi lagi ketika sakit kepala menariknya kembali ke tempat tidurnya. Ia tidak pernah merasakan nyeri yang hebat, dan akhir-akhir ini kerap kali terasa. Ia sudah meminta obat dengan dosis yang baik untuk meredakan sakit kepala, dan beberapa vitamin penunjang sesuai saran Maki, akan tetapi, segalanya seakan tidak membantu.
Nozomi yang menghilang ke arah dapur kini datang kembali dengan baskom air hangat dan handuk.
"—Toujou-san."
Terdapat jeda sesaat Nozomi membasahi kain yang ia bawa dengan air hangat dan menaruhnya di dahi si sakit.
"Ada apa, Ayase-san?"
"Tidakkah 'Ayase-san' terlalu panjang? Err ... panggil saja aku Eli."
Jeda lagi.
"A-aku akan memanggilmu dengan 'Nozomi'."
(Entah kenapa, nama itu terasa terlalu familiar.)
[ xxii. ]
"Seraphim 02, kurasa kau terlalu—mengambil hal berat dalam masalah ini." Seraphim 04 berkomentar. "Mungkin bila kau jelaskan pada T12737, ia akan mengerti ..."
"Tidak, hukuman ini masih dalam tahap pertimbangan matang." Umi menjelaskan. "Aku masih penasaran kenapa hal itu terjadi."
"Mungkin kita harus menyelenggarakan rapat Seraphim, tapi ..." pemilik nomor empat itu menelengkan kepalanya.
.
.
.
Angin kembali memecah konsentrasi mereka dalam pembicaraan.
[ xxiii. ]
Nozomi merawatnya dengan baik, itu yang ia rasakan sekarang. Memang, tidak banyak kata yang mereka tukarkan atau haturkan, yang menjaraki mereka adalah sunyi yang menyenangkan, sunyi yang tidak beku dan tidak membuat ragu. Eli perlahan menghela nafas untuk kesekian kalinya, mencoba menenangkan segala perasaan tidak mengenakkan dan memorinya yang serasa berhamburan.
Pertama, ia tidak takut melihat darah.
Namun segalanya terasa biasa, seakan-akan pernah terjadi di hidupnya, melihat banyak darah atau banyak orang mati.
Yang ia rasakan berikutnya adalah sensasi aneh, serasa seluruh inderanya merasakan ketidakenakan yang luar biasa. Mereka berinteraksi dengan memori tersebut—
"Sebaiknya kau tidur," ada jeda, lagi. "E-Eli."
"Ah ... maaf," ujarnya menjawab. "Aku merasa ... memoriku membuatku mual."
"Begitukah ...?"
"Seperti; 'sudah saatnya kau mengingat', tapi ... hanya emosimu yang ingat dan kau tidak merasakan hal lain selain itu. Tak ada satupun yang berkesinambungan."
Sorot mata Nozomi penuh iba, itu yang bisa Eli tangkap.
"Terima kasih telah membantuku, Nozomi—semua selalu membantuku semenjak kecelakaan itu." ucapnya pelan, seakan berbisik. "Aku akan membalasmu di lain hari."
[ xxiv. ]
"Omong-omong," surai birunya ia pinggirkan dari menutupi matanya. "Baru saja aku dimarahi T12737 karena aku memanggilnya dengan nomor serinya, padahal kita sedang tidak dalam ruang kerja."
Umi tertawa ringan, suasana antara mereka berdua sedikit mencair. Mereka berdua tidak bisa disebut sebagai teman akrab, akan tetapi mereka adalah malaikat dengan kedudukan tinggi, yang bekerja di Sanctuary selain ikut membantu pencabutan nyawa. Mereka akan memimpin rapat, sidang, banyak hal-hal sulit lain tergambar di antara para Seraphim.
Seraphim 04 memang belum bisa disebut matang—dirinya sendiri yang bilang seperti itu—karena ia merasa dirinya tidak pantas berada di posisi itu.
"Memang sebaiknya kita menempatkan diri di tempat yang benar, err ..." ia menelan ludah. "Umi-senpai."
"Kita sudah lama satu kantor di Sanctuary, kau tidak perlu formalitas itu," kali ini Umi menoleh, manik kuning kecokelatannya memantulkan surya merah jingga temaram. "Hanayo."
[ t b c. ]
