Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.


[ 4 ]

"Seraphim 04, bantu aku," wajah malaikat bersurai biru itu serius. "Tolong awasi C9 dan T12737."

Ia tidak menjelaskannya lebih lanjut sebelumm sayap besar itu mengepak pergi, meninggalkan bulu-bulu sayap putih melayang di udara.

Seraphim 04 menghela napas sejenak, sebelum ia melihat buku catatan yang diberikan seniornya kepadanya tersebut.

Ada dua buah buku.

Buku milik C9 dan buku laporan mengenai rapat dan sidang yang dieksekusikan oleh S 02, saat menjatuhkan vonisnya pada C9.

Manik ungunya menerawang sejenak melihat halaman pertama buku laporan sidang.


archangel
[ (in)justice ]


[ xxv. ]

Nozomi menarik diri dari kamar Eli untuk mencari tas miliknya yang semula ia tinggal di ruang tamu. Ia perlu membereskan barang-barang yang ia gunakan barusan, dan mungkin membuatkan Eli bubur sebelum ia pergi ketika Maki datang—

Ketika itu, manik hijau zamrudnya jatuh pada buku sketsa miliknya sendiri.

"Kau menaruh tanggal di setiap sketsa yang kaubuat?"

Toujou Nozomi duduk di atas sofa, tanpa permisi, seraya jemarinya menyusur halaman demi halaman buku sketsanya yang terisi oleh gambar-gambar yang ia gubah.

"Ya," mata Nozomi terus mencari halaman kosong. "Aku tidak ingin melupakan momen ketika aku menggambarnya."

Ada lima halaman pada lima tanggal yang tak bisa ia jelaskan dari buku tersebut.

Ada satu lukisan yang tidak bisa ia jelaskan pada karyanya yang dipajang dalam Pasar Seni.

Ada—yang hilang.

TING TONG

Suara bel membuyarkan konsentrasinya, sesegera mungkin ia menuju pintu dan mempersilahkan tamu yang datang masuk. Maki, dan juga seingatnya temannya itu adalah penjaga toko buku tempatnya sering membeli alat-alat lukis.

"Bagaimana Eli?" pertanyaan pertama yang disodorkannya pada Nozomi.

"A-ah, ia baik-baik saja, mungkin sekarang..." matanya bergulir menuju arah pintu kamar Eli dalam apartemennya itu.

"Aku akan memeriksanya sekali lagi," Maki mendecak. "Hanayo, tunggu di sini bersama Nozomi."


[ xxvi. ]

"Kau melanggar kode etik malaikat."

Seraphim 02 berbicara di atas mimbar yang tinggi, seluruh malaikat penonton bergidik, sementara sang terdakwa di tengah-tengah ruangan berdiri tegap, matanya tidak menyuarakan ketakutan apapun. Pasal yang dibacakan oleh sang malaikat petinggi benar adanya, dan ia tidak bisa mengelak, ia melakukan segalanya dengan kesadaran penuh.

"Sayap dan hakmu akan dicabut karena hal ini."

Suara riuh rendah memenuhi ruangan sidang, lagi energi yang membuatnya berdiri di sana tidak membuatnya surut.

"Boleh aku memberikan pembelaan, Seraphim 02?"


[ xxvii. ]

"Koizumi-san dari Fakultas Ilmu Gizi?"

"I-iya, senpai, dan ah, panggil saja Hanayo ..." mata gadis itu tidak bisa diam di dalam sangkar kacamata berbingkai ungunya. "Ta-tadinya aku ingin masuk Fakultas Pertanian, tapi ... begitulah."

Mereka memulai pembicaraan dari Nozomi bertanya mengenai alasan Hanayo bekerja di toko buku, dan pendidikan apa yang sedang ia tekuni saat ini. Mereka ternyata berasal dari satu universitas, dengan jurusan yang berbeda cukup jauh gedungnya.

"Hanayo-chan," Nozomi mengulang. "Kau juga teman dari Maki-chan?"

"Ke-kebetulan saja aku dan Maki-chan tengah dalam tugas yang sama da-dan dia mengajakku kemari sebelum ke apartemennya." tutur Hanayo.


[ xxviii. ]

"Jadi, sudah merasa lebih baik?"

Maki menemukan bahwa Eli ada di kamarnya dengan mata terbuka, melihat ke langit-langit dengan tatapan datar. Ia bilang pada Maki bahwa ia baru membuka matanya, mengalami mimpi, dan segalanya terasa berputar-putar. Pemilik surai merah itu pun duduk di pinggir tempat tidur, tidak membiarkan Eli untuk duduk, tetap menyuruhnya berbaring sementara ia memeriksa mulai dari denyut nadi hingga temperatur.

"Mungkin?" Eli memejamkan matanya. "Aku merasa sangat tidak enak, padahal obatnya sudah kuminum. Paling tidak pusingku sudah hilang."

Maki turun untuk mencari plastik obat milik Eli tengah teronggok di atas meja beserta air putih. Ia memeriksa dengan seksama untuk menemukan bahwa porsinya siang ini telah diminum, menyisakan porsi malam dan untuk esok hari.

Mata Eli bergerak, memerhatikan Maki, dan pintu.

Satu pertanyaan tergambar dibenaknya.

"Maki,"

"Mhm?"

"Kau ... percaya dengan keberadaan malaikat?"

Maki menurunkan obat-obatan milik Eli kembali ke atas meja, kini sedikit banyak ia melongo.

"Malaikat ...?"


[ xxix. ]

Mahasiswi Fakultas Seni Rupa itu kembali berkutat pada buku sketsa yang ia keluarkan dari tas, membuka kembali isinya, menuju halaman kosong yang ia tandai dengan pensil.

"Gambarmu sangat indah, senpai."

Ia lupa ada Hanayo di sana.

"Terima ... kasih?"

Sedikit rona merah muncul di pipinya. Ia tidak biasa dipuji, terutama di depan wajahnya. Nozomi menulis dengan pensil tanggal hari ini, sebelum mulai melukiskan sebuah kerangka ruangan.

"Oh—aku lupa," Nozomi menurunkan pensil miliknya. "Aku ingin membuatkan bubur untuk Eli."

"Biar aku bantu, senpai."

Nozomi menuju arah dapur, menemukan paling tidak beras, bumbu dapur dan sayuran yang cukup untuk dapat ia buatkan semangkuk bubur untuk saat itu.

"Kau bisa tolong masakkan nasi, Hanayo-chan?"

Ia tidak tahu bahwa manik lavender itu berbinar-binar atas pembagian tugas tersebut.


[ xxx. ]

"Pembelaan?" sang Seraphim merasa sesuatu menggelitik telinganya. "Kau bersalah; dan segala bukti berkata benar, kau masih ingin menyuarakan pembelaan?"

Ia mengangguk, "Ya, dan aku hanya mengucapkannya satu kali."

Sang malaikat membungkukkan badannya dengan penuh hormat, sebelum ia kembali berbicara kepada audiens dengan dada dibusungkan. "Pertama, saya berterimakasih pada Seraphim 04 yang memberikan keputusan yang luar biasa—"


[ xxxi. ]

"Senpai? Boleh aku bertanya sesuatu?"

Nozomi tengah mengiris tipis-tipis daun bawang yang bisa ia temukan di dalam kulkas sesudah mencucinya dengan air keran. Sementara, Hanayo tampak (terlalu) serius dalam tugasnya mengolah beras menjadi nasi yang enak untuk bubur. Ia menoleh, menemukan manik yang dibingkai kacamata itu tersenyum.

"Apa hubunganmu dengan pemilik apartemen ini?"

Gerakan pisaunya seketika terhenti.

"Err, maksudnya ...?"

"Tidak, emm, menurutku saja, jarang ada orang yang belum saling kenal terlalu lama untuk mengizinkannya ke dalam apartemen," Hanayo menjelaskan. "Maki-chan yang bilang seperti itu saat kami dalam perjalanan tadi."

"Itu ... karena darurat saja," ia menjawab. "Aku tidak ingin melihat Eli dalam keadaan lemah seperti itu pulang sendiri, jadi aku mengantarnya."

Hanayo kembali berfokus pada nasi, karena ia tidak melayangkan tanya apa pun kembali ke Nozomi. Ia melanjutkan memotong daun bawangnya, menyisihkannya di sebuah wadah, dan mencari hal-hal lain yang bisa ditambahkan ke dalam bubur seperti telur.

Ketika suara bel kembali berdering.


[ xxxii. ]

Pertanyaan aneh, menurutnya.

Walau begitu, tidak terlalu terdengar aneh.

Tidak ia tahu bahwa Ayase Eli akan menuai tanya seperti itu.

Selayaknya seorang anak kecil bertanya kepastian, benih sewarna biru langit itu tampak transparan, seperti tidak terlihat, seakan serius lagi tidak menunjukkan apapun—

"Kau tahu, aku sendiri percaya kalau Santa Claus itu ada," ungkap Maki singkat, disertai tawa kecil. "Bahkan aku selalu menata perapian dengan sempurna."

Eli tidak menanggapi, ia memejamkan matanya lagi.

Kepalanya tidak terasa sakit, akan tetapi—

Ada banyak suara di kepalanya, yang ia tidak ketahui milik siapa.

"Jadi kupikir ... malaikat mungkin ada, mungkin tidak." sambungnya. "Segalanya adalah tergantung perspektif seseorang, bukan?"


[ xxxiii. ]

Yang pertama kali pemilik surai ungu itu tangkap adalah surai jingga, dilanjutkan dengan mata biru yang lebih dalam warnanya dibanding milik Eli.

"A-apa benar ini kediaman milik Ayase Eli?"

Nozomi, mengangguk. "Maaf, saya Toujou Nozomi, umm, temannya." ia memutar bola matanya. "Eli sedang tidak enak badan dan aku kemari merawatnya."

"Begitu," wanita muda itu menunduk sejenak. "Aku Kousaka Honoka," ada jeda. "Bolehkah aku masuk?"


[ xxxiv. ]

"Bubur sudah siap—eh? Ada Kousaka-san?"

"Ah, kau teman Rin-chan, kan?" Honoka menjeda, berpikir. "Hanayo-chan!"

"Terima kasih, Hanayo-chan," ucap Nozomi. "Aku akan kembali ke dapur untuk menuangnya."

Hanayo dan Honoka melihat punggung Nozomi menjauh, jauh menuju ke dalam dapur. Tidak lama, Maki keluar dari area kamar Eli, membawa gelas kosong dan plastik obat yang tampaknya milik Eli keluar. Ia kaget melihat Honoka ada di sana.

"Honoka? Sedang apa kau disini?"

"Tadi aku menelpon Eli-chan, tapi karena tidak diangkat aku segera kemari," Honoka menggaruk pipinya. "Awalnya aku ingin mengajaknya dan Rin-chan makan di luar, kau tahu, restoran tempatku bekerja."

Maki duduk di atas sofa, menghitung jumlah obat yang ada di dalam plastik sebelum memasukannya ke dalam tasnya. Ia harus meminta obat lagi kepada Rumah Sakit dan memberikannya kepada Eli paling lambat malam ini.

"Honoka, kau bisa ada di sini hingga malam?" Maki mendadak bertanya. "Aku harus mengerjakan tugasku bersama Hanayo dan mengambil obat untuk Eli, paling tidak aku ingin ada seseorang menjaganya dulu."

Honoka menggeleng, ia mengibaskan kedua tangannya, "E-eh? Maaf tapi malam ini aku langsung kerja."

Hanayo mengalihkan matanya ke arah dapur, "Bagaimana dengan ... Toujou-senpai?"


[ xxxv. ]

Nozomi memerhatikan wajah pemilik surai itu terlelap dalam mimpi. Napasnya terlihat naik dan turun dengan tempo yang tidak tergesa, menandakan bahwa istirahatnya akan baik. Tangannya menarik selimut untuk menutup wanita muda tersebut sebelum ia kembali memegang dahi dengan punggung tangannya.

Sudah tidak sepanas tadi, ia rasa.

Bubur yang semula jadi ia letakkan di atas meja, bersamaan dengan segelas air putih. Sunyi kembali menerjang apartemen tersebut, dengan ia menunggui Eli karena ia punya waktu. Maki berjanji bahwa Nozomi boleh pulang setelah ia kembali dan membawakan obat bagi Eli. Tangan itu kembali naik, merapikan surai pirang yang menutupi wajah pucat yang tengah terlelap tersebut.

Nozomi mendekat.

Jarak mereka—jarak antara wajah mereka—memendek.

.

Kala itu, ia kembali memeriksa halaman buku sketsanya.

Terdapat lima sketsa wajah seseorang yang tidak bisa ia simpulkan darimana keberadaan lagi alasan ia menggambarnya.

Lima sketsa wajah itu adalah penggambaran dari satu sosok Ayase Eli; bagaimana ia tersenyum, tertawa, atau mengeluarkan semburat merah malu dihadapannya.

Bukankah mereka berdua baru mengenal? Kenapa tanggalnya menyuarakan hal itu terjadi saat lampau? Dan—

.

.

.

"Eli ..."

Nozomi berbisik. Lidahnya yang berbicara, ia mendekatkan suaranya kepada telinga Eli.

("Siapa gerangan dirimu?")


( tbc. )