a/n. Halo! Err, terima kasih banyak untuk mengikuti cerita ini. Dan - ya, saya belum tahu sampai mana cerita yang lambat ini akan berakhir. Ah, saya ingin memberitahukan bahwa akan ada dua spin-off yang menceritakan pair lain dari perkembangan cerita ini. Judulnya mungkin [icy paradise] untuk Seraphim-02 dan [danse macabre] untuk Seraphim-04, ceritanya seperti apa? Lain kali akan dibocorkan #plak
Soal Throne, mungkin. Saya kira di chapter ini sudah ketahuan siapa sebenarnya sang Throne ... mungkin xD
Sekali lagi, terima kasih dan stay tuned!
Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.
[ 5 ]
"Throne ..."
Malaikat itu mengepakkan sayap di hadapannya, tidak menoleh. Baru saja ia melihat malaikat itu melaksanakan tugasnya mengambil salah satu nyawa yang telah ditorehkan padanya.
"Ada apa, nona Seraphim 04?"
"Bisakah kau ... menjauh dari Cherubim 09?" sang petinggi bertutur lembut. "Kau tahu seberapa besar beban Seraphim 02 dalam melaksanakan hal ini ..."
Malaikat bawahan menatap lurus ke tanah, tangannya menggenggam erat. Ia berusaha agar tidak menunjukkan banyak emosi.
Ia tahu.
Ia tahu apa yang dilakukan Seraphim 02 saat itu, ia tahu.
"Seraphim memiliki satu kuasa lebih tinggi, dan itu diwujudkan dengan keberadaan hak Angel's Judgement." ucap pemilik pangkat Throne ke udara. "Dan Umi-chan dengan sukarela melakukannya walau ia tahu kalau—"
"Kalau kau tahu mengenai hal itu kenapa kau ... selalu berada di dekatnya?" Seraphim 04 menaikkan sedikit aksentuasinya, tidak biasa ia berbuat demikian. "Ini semua untuk membuktikan kebenaran, lagi kau—"
Malaikat itu kini menoleh, menampilkan senyum yang begitu tipis dan miris.
"Memang aku tak berhak apapun, bukan?" balasnya. "Aku hanya tidak ... kuat melihat kalian semua kesusahan, lagi aku tidak bisa melakukan apa-apa." ia menarik nafas, perlahan nadanya bergetar. "Aku hanya bisa melihat kalian. Aku tidak melakukan apa-apa untuk mengganggu usaha kalian."
archangel
[ paranoia ]
[ xxxvi. ]
Angel's Judgement.
Koizumi Hanayo membaca buku laporan hasil sidang dengan manik menerawang.
Sang Seraphim 04 menutup akses sayapnya sejenak ketika ia terus berjalan menyusuri setapak gedung fakultasnya., kedua matanya yang dijaga bingkai kacamata itu masih menatap lekat tulisan tersebut.
Angel's Judgement adalah 'sesuatu' yang bisa dibilang 'hak' dari Seraphim dalam memutuskan suatu perkara. Mereka seakan membuat 'keajaiban', meminjam kuasa Yang Tertinggi untuk menetapkan sebuah perkara.
Hanayo menutup buku tersebut.
Namun, ada bayaran yang harus dilakukan oleh malaikat yang menerapkan satu dari tiga kuasa Angel's Judgement-nya, dan itu tidak murah, ia tahu. Dan mengetahui Angel's Judgement yang diterapkan oleh Seraphim 02 memiliki bunyi beberapa sabda, pasti—
"Kayo-chin!"
Suara riang milik seorang yang tidak asing terdengar dari lorong nun jauh di sana. Pemilik surai jingga pucat itu melambai-lambai dari Fakultas sebelah. Hoshizora Rin segera menghampiri Hanayo, tanpa jeda.
"Ada apa, Rin-chan?"
"Bagaimana kalau kita ke kafe sore ini? Honoka-chan hendak mentraktir, lho!"
[ xxxvii. ]
"Seraphim 02," ia menggeleng sejenak. "Umi-chan."
"... Ya?"
"Maaf tapi—kau tidak kelihatan sama sekali baik hari ini."
"Kau pun tahu ada apa, Throne."
[ xxxviii. ]
"Nozomi?"
Butuh beberapa saat untuk Nico mengenali Nozomi karena gaya rambutnya yang berbeda dari kemarin. Biasanya ia sekadar menghias rambutnya simpel dengan dua kuncir bawah, kadang ia akan membuatnya perpaduan antara kepang dan kuncir satu. Walau begitu, mudah baginya untuk mengetahui paling tidak ada Nozomi dalam keramaian yang ada di taman antara milik Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Seni Rupa dan Terapan.
"Oh, hai, Nicocchi."
Wanita muda itu seperti biasa, senyumnya tampak lagi ia terlihat lesu. Tangannya tengah sibuk merangkai sesuatu dalam buku sketsanya menggunakan pensil grafit juga pensil warna.
"Ada apa, kau masih memikirkan soal kejadian saat itu?"
Nico merujuk kepada peristiwa di mana seseorang tewas, beberapa saat silam.
"Aku tidak memikirkan hal itu, hanya ..." ia menutup buku sketsanya. "Aku kebingungan."
Pemilik surai hitam legam itu pun mengambil duduk di sebelah Nozomi, kedua tangannya melipat seraya ia menyandarkan kepala, melihat mahasiswi Fakultas Seni Rupa itu dari perspektif bawah.
"Perasaan ini ... aneh, aku tidak tahu namanya apa." hijau bola mata itu menerawang.
[ xxxix. ]
"Kau sudah tidak apa-apa, Eli?"
"Kurang lebih, maka dari itu aku memutuskan datang kuliah hari ini."
"Jangan memaksakan dirimu, nya!"
"Terima kasih, Maki, Rin." imbuhnya. Walau begitu, aku belum bisa berterima kasih kepada Nozomi. sambungnya dalam hati. "Aku merasa sangat baik hari ini."
Rin dan Maki tengah menemani Eli menuju kafe tempat Honoka bekerja, sesaat setelah mereka berdua mengantar Eli ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan (yang tentunya Maki memerhatikan segalanya). Rin mengajak Hanayo untuk ke sana, akan tetapi Hanayo bilang ia akan menyusul setelah menyelesaikan sesuatu. Mereka bertiga ada di dalam mobil milik Maki, menghadapi sedikit kemacetan klasik Akihabara.
Sementara, Honoka yang mengajak mereka, menyatakan bahwa ia belum datang menjalani shift kerjanya hari itu.
"Omong-omong, kafe itu besar sekali ya, nya." Mata Rin mengedar ke arah jendela mobil. Menopang dagunya. "Maki-chan, kau tahu lantai dua kafe itu untuk apa? Kudengar dari Honoka-chan mereka hanya membukanya saat malam hari."
[ xl. ]
Nozomi menceritakan beberapa hal kepada Nico, salah satu yang terpenting adalah sketsa wajah Eli yang ada di bukunya, tanpa ia tahu kapan pernah membuatnya. Juga, apa yang ia rasakan saat bertemu dengan pemilik surai pirang itu.
Seperti sebuah kapas.
Ia merasa satu rasa terkembang, terbawa angin mendayu-dayu. Ia tidak tahu mengapa.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang, lagi ia menemukan sesuatu yang baru, ketika ia mengenal Eli.
Ia merasa—banyak hal dapat terjadi dalam panjang satu hari.
Nico berdehem, "Aku tidak terlalu paham dengan hal ini, tapi," manik merah menyala itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku pernah merasakan hal yang sama."
"... Eh?"
"Kau ingat dengan kecelakaan antara bus dengan mobil di pertigaan dekat pasar rakyat?" Nico mencoba melakukan tinjau balik.
"Tidak terlalu, tapi aku ingat pernah mendengarnya. Ada apa?"
"Kejadian itu sudah berlalu dua bulan yang lalu," ucap Nico. "Kecelakaan itu di depan mataku, dan aku sangat syok. Kau—tahu kan apa yang terjadi pada keluargaku, Nozomi."
Nozomi menunduk, ia tidak mampu melihat langsung mata Nico yang menyuarakan ketegaran lagi hal lain tersirat diantara selip emosi.
"Saat itu, seseorang datang, dia menenangkanku." Nico menjelaskan. "Aku tidak tahu siapa dia, tapi menurutku ia ... seperti malaikat, ia datang di saat yang tepat dan melakukan hal yang tepat."
Malaikat.
Pikirannya sejenak berputar balik menuju lukisan yang ia buat saat Pasar Seni berlangsung. Lukisan tematis fantasi dengan nafas malaikat sebagai latar utamanya. Ia menggambarkan figur bersayap di antara selubung rerumputan, terlihat bebas dan lepas tidak menatap belakang, menyuarakan punggungnya, mengembangkan sayapnya tanpa ragu—
"Aku ingin bertemu dengan gadis itu lagi, tetapi aku tidak pernah melihatnya," Nico menerawang. "Ia di mana, ya?"
[ xli. ]
"Oh, lantai dua itu?" Maki mencuri lirik ke arah Rin. "Kalau tidak salah Honoka pernah cerita bahwa itu untuk dinner reservation. Kau tahu, inovasi baru kafe."
Eli tercenung.
"Dinner?" ia turut bertanya, bukan Rin.
"Ya, dinner, makan malam!" Rin menjawab. "Kau tahu kan kadang pasangan suka menyewa tempat untuk berkencan atau hal-hal lain di luar itu, nya."
"Rin, jawabanmu ambigu." sergah Maki.
Eli larut dalam diam. Tangannya mencengkeram tasnya. Kafe itu—
"Apa nama kafe itu ... Yume no Tobira?"
Rin mengangguk. "Iya, nya. Ada apa?"
—Tidak mungkin.
[ xlii. ]
Seraphim 04 awalnya bingung kenapa ia diminta untuk mengembalikan buku-buku tersebut ke sebuah kafe. Kebetulan juga, kafe itu adalah tempat di mana Rin mengajaknya untuk bertemu. Rin memberitahu bahwa akan ada Maki juga Eli di sana, dan mereka akan ditraktir Honoka menu baru yang ada di kafe tersebut sebagai ganjarannya naik pangkat.
Di salah satu meja, ia melihat dua orang tengah berargumen, tepat selaras dengan di mana pintu masuk berada. Lebih tepatnya dua figur dalam sosok malaikat, tidak terlihat maupun mengganggu manusia-manusia yang menjadi pengunjung kafe tersebut.
Hanayo mengenal keduanya sebagai Throne-12737 dan Seraphim-02.
Ia bisa mengintervensi, setidaknya, ia pun dalam wujudnya sebagai Seraphim 04. Walau, ia harus berhati-hati, karena area itu dibawah pengawasan Seraphim 02, bukan haknya untuk berbicara banyak.
"Throne, tolong. Aku mengerti kau ingin membantu, tapi—"
"Umi-chan—baik, nona Seraphim!" ia turut menaikkan suara. "Kau harus banyak istirahat! Kau tahu sendiri beban Angel's Judgement padamu!"
Seraphim 04 sadar, Seraphim 02 tidak pernah tampil prima, dan ia baru menangkapnya mendengar pembicaraan tersebut dari kejauhan. Yang ia tahu, memang Angel's Judgement, selama efeknya aktif akan membebani pelantunnya secara fisik, namun ia belum menafik seberapa besar pengaruhnya.
Seketika itu cahaya mereka berdua memudar, mereka kembali ke dalam wujud di mana manusia normal bisa melihat mereka, sesaat kemudian Seraphim 02 terkulai jatuh ditahan oleh sang Throne.
[ xliii. ]
"Lupakan saja aku pernah berbicara seperti ini denganmu, Nozomi," Nico membuang muka. "Nico tidak suka dipandang lemah."
Nozomi mengangguk, mengiyakan dalam diam sementara tangannya bergerak untuk meminum teh kaleng yang ia abaikan daritadi.
Paling tidak, satu hal sudah ia ketahui.
Eli dan dirinya ... kehilangan sesuatu.
Atau mungkin hanya dirinya yang merasa kehilangan?
"Nicocchi, bagaimana kalau ... lebih baik segalanya seperti ini?" ia kembali bertanya. "Menjadi buta, tuli dan bisu, dibanding mengetahui pahitnya kenyataan?"
[ xliv. ]
Kafe Yume no Tobira—Door of Dreams, kasarnya—adalah kafe di mana Honoka bekerja. Eli, Maki, dan Rin menemukan Hanayo dan Honoka ada di meja depan, tepat dekat dengan pintu masuk. Honoka tengah membawa menu dan bercengkerama dengan Hanayo, pemilik kacamata berbingkai ungu tersebut. Sang petugas kafe segera menyapa dan mempersilahkan ketiga tamu itu untuk duduk.
"Kau cepat sekali, Kayo-chin!" Rin berseru. "Kukira kau akan terlambat, nya."
"Aku sudah berjanji padamu, Rin-chan, aku berusaha tidak telat." tawa renyah keluar di sana.
Sementara, Eli melihat interior gedung dengan sebelah mata. Kafe tersebut tak gubahnya kafe-kafe biasa yang kerap dikunjungi anak-anak muda, seperti siswa-siswi tingkat menengah hingga mahasiswa-mahasiswi seperti dirinya. Tangga menuju lantai atas diblok dengan sebuah papan penanda yang menyuratkan bahwa tempat di lantai atas hanya dibuka untuk reservasi malam.
"Ah, sebentar, Maki-chan!" Honoka menarik tangan Maki. "Boleh aku minta tolong sebentar?"
Pemilik surai jingga itu membawa Maki ke arah belakang kafe. Eli tak kunjung duduk di tempat yang telah disediakan, manik biru langitnya masih meneliti seksama sekeliling.
Familiar. Mirip. Sesuai. Tempat apa ini?
"Ada apa, Eli-chan, duduklah! Rin akan memesan Chocolate Parfait kesukaanmu!"
"Rin, Hanayo," Eli menginterjeksi. "Mau temani aku melihat-lihat lantai atas?"
( t b c. )
next arc –
seraphim / trials and rebuttal
