a/n. Saya kira chapter ini akan membuat anda bingung, atau campur aduk, atau mungkin sudah menebak ke arah mana sebenarnya (?) ini akan bermuara. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sudah membaca dan stay tuned!
Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.
[ 6 ]
"Throne,"
"Seraphim, maafkan aku, aku sudah—"
"Kousaka-san."
"A-Ada apa, Hanayo-chan?"
Mereka berdua berdiam diri di ruang staff kafe, hanya suara sayup musik jazz dari ruang tengah tempat pengunjung menjadi latar dari tensi pembicaraan mereka. Pemilik surai jingga itu tidak bisa diam, secara mental, keringat dingin terus meruap dari sendi-sendinya.
"Tidak, aku tidak ingin menghukummu atau apapun ..." Hanayo menurunkan pandangnya. "Aku malah berterima kasih kau sudah menolong Seraphim-02—Umi-senpai."
"Aku hanya membawanya ke apartemenku agar dia istirahat," Honoka menggaruk pipinya. "Dan aku memohon pada Maki-chan untuk menjaganya sementara, kau tahu keadaannya sangat—"
Momen keheningan mendera ruangan, sekali lagi. Hanayo menghela nafas panjang, Honoka menelan ludah.
Throne dengan nomor registrasi 12737 itu menelan diam.
"Sekarang, aku ingin mengarahkanmu pada masalah yang lebih rumit, Kousaka-senpai." sang junior menjentikkan jarinya, menampilkan dua buku di tangannya. Dua buku itu menyuarakan nama CHERUBIM-09 dicetak tebal, Hanayo tahu betul bahwa satu buku tersebut asli dan sisanya palsu. "Aku yakin kau tidak tahu duduk perkaranya selain bahwa Cherubim-9 dianggap sebagai 'noda' bagi nama malaikat."
Honoka membuka mulut, "Kudengar ..." ia turut meragu. "Waktu itu Seraphim-03 tidak berbicara padaku, ia bilang ini rahasia. Namun setelah kucari informasi dan tahu bahwa Umi-chan ..."
Sang malaikat petinggi di sana membuka dua buku tersebut untuk Honoka bandingkan, satu dan yang lain.
"Semuanya terjadi karena ... nama yang dicetak pudar ini."
seraphim
[ trials and rebuttal ]
( xlv. )
Dengan sembunyi-sembunyi, Rin dan Eli berproses untuk menuju lantai dua. Hanayo bilang dia akan mengganggu Honoka agar mereka bisa menyusup ke sana, sementara Maki tengah ke luar, menyatakan ia punya urusan.
Hal pertama yang mereka temui di ruangan besar lantai dua itu adalah interior yang memanjakan mata.
Kursi tampak mewah dengan meja pasangannya, berwarna hitam dengan ukiran tertentu mempercantik. Jendela-jendela dihiasi dengan tirai berwarna putih bersih, langit-langit dibuat ornamen menyerupai langit temaram, sementara karpet di bawah kaki mereka semakin menunjukkan kesan mahal.
Di atas meja tampak lilin berbagai warna bersama bunga dipajang, dengan tiap meja berbeda polanya.
"Wah, bagus sekali, nya! Rin kagum!" sebut gadis berambut jingga itu. "Eli-chan, ruangan ini hebat, rasanya Rin ingin memesan—eh?"
Dara bersurai pirang itu berdiri, statis.
"Eli-chan?" Rin memanggil. "Kenapa kau menangis?"
( xlvi. )
"Nozomi."
"Ada apa, Nicocchi?"
"Sebenarnya, apa yang kau lihat dari Eli?"
Manik zamrud itu kembali memandang kertas buku sketsa yang tengah terisi. Ilustrasi wajah Ayase Eli lengkap, bahkan tanda tangan dan hari yang ia ukir, tulisan dan goresan yang ia kenali.
Apa yang—ia lihat?
Apa yang—
Ia melihat Eli sebagai—
"Nozomi? Hei jawab aku," Nico mengerutkan dahinya, dua bola mata merah masih menjalani seksama buku sketsa yang dimiliki Nozomi, sementara ketika matanya beralih, ia menangkap satu hal.
"Malaikat."
"—Hah?"
"Eli, dia ... malaikat." Nozomi memejamkan matanya. "Ia adalah malaikat."
Nico ingin memberikan satu kalimat tanya ketika Nozomi seketika beranjak pergi, tidak mengindahkan panggilan Nico lagi.
.
.
.
{ satu. }
"Eli-chan!"
"Ah, Honoka."
Malaikat berpangkat Throne itu mengepak sayapnya dengan penuh rasa, meletup-letup, meluap-luap, tidak karuan. "Selamat atas promosimu ke pangkat Cherubim!"
Eli yang semula tengah memeriksa buku catatannya terperangah, "Darimana kau tahu hal itu? Jangan bilang Umi—"
"Aku punya Umi-chan dan Kotori-chan sebagai Seraphim, Eli-chan! Masa kau lupa!" ungkapnya. "Kalian semua cepat sekali dipromosikan, aku jadi iri."
Pemilik nomor registrasi Cherubim-09 itu memegangi lehernya, mencoba mengalihkan pandang dan konsentrasinya. "I-ini hanya kebetulan saja, kok."
Ayase Eli, figur yang cukup baru dalam dunia permalaikatan, adalah sosok yang sangat berdedikasi dalam segala usaha yang ia lakukan. Salah satu rekan kerjanya adalah Kousaka Honoka, malaikat brilian yang mampu mengambil langkah, walau kompetensinya tidak sematang dua teman sejawatnya yang kini menduduki kursi sebagai Seraphim-02 dan Seraphim-03. Pengkastaan malaikat terkadang membawa segelintir merana, akan tetapi Honoka tidak ambil pusing dan menyandang pangkat Throne—pangkat menengah—dengan lapang dada dan bangga.
Dirumorkan bahkan, ia akan diangkat menjadi salah satu dari Seraphim dalam waktu dekat bila kompentensinya sebagai Cherubim cukup memuaskan. Eli dikenal sebagai Angelic Angel oleh beberapa malaikat kelas bawah karena pendekatannya dalam pekerjaan yang sungguh tidak biasa.
"Eli-chan," Honoka kembali bersuara. "Kau tidak usah dengarkan mereka."
"Ah, maksudmu mereka?" Eli mengerutkan dahinya. "Tidak apa-apa Honoka, biarkan mereka berkomentar. Aku adalah aku."
"Kenapa kau melakukan hal picik—seperti mengunjungi mereka yang hendak mati? Tidakkah kau merasa terluka, wahai Cherubim 09?"
{ dua. }
"Eli-chan, Eli-chan!" Rin melompat kesana-kemari. "Seperti anjuranmu, aku berhasil mendapatkan kontak Toujo—hmmph."
Honoka, Maki dan Kotori di sana seketika menoleh. Mereka tengah menikmati makan siang seraya Kotori menampilkan desain baru baju musim panasnya yang hendak dijual dalam Pasar Seni tidak jauh dari dua minggu lagi.
"Rin," Eli mempertegas nadanya. "Suaramu terlalu kencang."
Kotori menginterjeksi dengan polos, "Toujou Nozomi, pelukis kenamaan Fakultas Seni Rupa, Eli-chan?"
Pemilik surai pirang itu segera hendak menepuk dahinya dan memukul Rin yang asal ceplos, juga 'menghukum' sikap Kotori yang terkadang polos menghanyutkan. Honoka berbinar-binar, sementara Maki hanya memainkan ujung rambut merahnya, dengan muka penuh rasa ingin tahu.
"Eli-chan penasaran dengan lukisan malam yang digambar Toujou-san, nya! Rin hanya membantu!"
Eli menghela nafas panjang, menahan geram dalam kekuatan penuh dari dasar hatinya meluap menjadi amarah yang ditunjukkan pada sikap polos—tidak, Eli yakin Rin murni keceplosan—yang ditunjukkan Hoshizora Rin, dibantu dengan Minami Kotori.
"Wah, wah, kurasa ada yang sedang kasmaran?" Maki turut mengejek.
"Oh kalian, diamlah. Aku hanya menyukai lukisannya, itu saja."
Berawal dari sebuah atraksi, Ayase Eli tengah berpikir bahwa dirinya jatuh melihat sosok sebuah lukisan, ia mencari siapa pemilik lukisan tersebut, dan ...
{ tiga. }
Tak lama, mereka berkenalan.
Tak lama, mereka selalu bersama.
Tak lama—
"Elicchi, boleh lihat ke arah sini sebentar?"
"Nozomi, berhenti menggambarku," tawa renyah keluar saat ia mengambil lirik ke arah wanita muda dengan buku sketsa di tangan, ia tengah menulis rangkuman untuk tugas hukum pidana-nya. "Aku terlalu jelek untuk menjadi objekmu."
"Kau selalu sempurna," tukas Nozomi seraya menaruh alat-alat gambarnya. "Sampai, aku merasa salah menjadikanmu objek sketsaku setiap kali kita bertemu."
Semburat merah menghiasi pipi mahasiswi Fakultas Hukum tersebut menanggapi sang seniman berkata-kata. Tidak, mereka tidak ada sembari melontarkan kalimat-kalimat objektif semata, mereka bercengkerama karena merasa memiliki kemiripan, dan—
Eli tidak bisa menafikkan rasa.
"Nozomi, bagaimana dengan ideku untuk akhir minggu ini, kau bisa datang ke kafe Honoka setelah jam delapan malam?" Eli berujar. "Aku ingin menunjukkanmu sesuatu."
{ empat. }
"Kau mengerti, Eli?"
Umi, tengah menjelaskan panjang dan lebar akan misi mereka saat ini, menutup buku besarnya, meratap bahwa malaikat yang dielu-elukan akan menjabat sebagai salah satu Seraphim itu tengah tidak mendengarkannya semenjak penjelasan menuju klimaks.
"Hanya ada satu nyawa yang tidak kita ambil dalam kecelakaan pesawat ini," Umi mengulang. "Namanya Nishikino Maki."
Eli menatap buku catatannya.
Nama itu tercetak di sana, sebagai orang yang hendak ia cabut nyawanya sebagai bagian pekerjaan.
Toujou Nozomi.
"Aku mengerti, Umi," matanya mengisyaratkan ketegaran. "Tapi ... bolehkah aku ada di dalam pesawat itu?"
"Terkadang aku tidak bisa mengerti caramu," malaikat petinggi menggelengkan kepala. "Tidakkah menyakitkan berinteraksi dengan mereka yang akan kaucabut nyawanya? Aku mendengar dari Kotori kau selalu melakukan hal itu, kepada hampir seluruh nama yang hendak kau ambil nyawanya, bukan pada saat pengambilan massal seperti ini."
Eli menyunggingkan senyum.
"Karena aku merasa ... itu yang bisa kulakukan sebagai malaikat pencabut nyawa."
Ekspresi Umi semakin mendatar, "Intinya; kita akan bertemu di koordinat itu, dua minggu lagi." ia berdehem. "Jangan campur adukkan perasaanmu dalam pekerjaan."
Dua minggu.
Dan dua minggu ke depan, ia harus mencabut nyawa figur yang disayanginya.
{ lima. }
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Elicchi?"
Makanan yang mereka pesan sudah habis di atas meja, dengan Eli sejenak terperangah karena dirinya terbawa suasana musik lembut pengiring kafe tersebut.
Eli sengaja mereservasi ruang tersebut pada jam tersebut dengan banyak pertimbangan, dan ia berusaha agar Honoka atau siapapun tak mencuri dengar.
"O-oh, ya, err,"
"Tak biasanya kau sebegitu—tegang."
"Hanya perasaanmu saja kok."
Eli berdiri dari tempatnya duduk, surai pirangnya yang sengaja tidak ia kuncir selayak biasanya sejenak berpendar, memantulkan sinar gemerlap lampu di tempat tersebut.
"Kau percaya dengan keberadaan malaikat?"
Nozomi menelengkan kepalanya, "Tidak ... terlalu?"
"Orang bilang, bahwa dengan sentuhan ajaib, mereka bisa menginderai malaikat." Eli terkekeh, "Sekarang, tutup matamu."
Menelan rasa takut, rasa gugup dan ragunya, Eli melangkah. Nozomi tidak banyak bertanya kebetulan saja, padahal biasanya mungkin dalam menyangkut hal-hal spiritual seperti itu, akan ada banyak interjeksi, akan ada banyak interupsi, akan ada banyak konjungsi.
Kali ini, manik hijau zamrud itu ditutup,
Kedua tangannya hadir untuk menahan,
Ketika nafas beradu menjadi satu,
("Nozomi," bisiknya. "Я тебя люблю.")
Sayap itu mengepak, bersinar, menunjukkan jati dirinya.
"Buka matamu." Eli bertutur. "Katakan padaku apa yang kaulihat sekarang?"
{ enam. }
"Kau melanggar kode etik malaikat."
Seraphim 02 berbicara di atas mimbar yang tinggi, seluruh malaikat penonton bergidik, sementara sang terdakwa di tengah-tengah ruangan berdiri tegap, matanya tidak menyuarakan ketakutan apapun. Pasal yang dibacakan oleh sang malaikat petinggi benar adanya, dan ia tidak bisa mengelak, ia melakukan segalanya dengan kesadaran penuh.
Ayase Eli tidak mencabut satu nyawa.
Hal itu dikarenakan nama itu tercetak pudar di bukunya, dan ia sudah membuktikannya.
"Sayap dan hakmu akan dicabut karena hal ini."
Suara riuh rendah memenuhi ruangan sidang, lagi energi yang membuatnya berdiri di sana tidak membuatnya surut.
"Boleh aku memberikan pembelaan, Seraphim 02?"
"Pembelaan?" sang Seraphim merasa sesuatu menggelitik telinganya. "Kau bersalah; dan segala bukti berkata benar, kau masih ingin menyuarakan pembelaan?"
Ia mengangguk, "Ya, dan aku hanya mengucapkannya satu kali."
Sang malaikat membungkukkan badannya dengan penuh hormat, sebelum ia kembali berbicara kepada audiens dengan dada dibusungkan. "Pertama, saya berterimakasih pada Seraphim 02 yang memberikan keputusan yang luar biasa," ia menyambut, "Perkenalkan, saya Ayase Eli, Cherubim-09."
Ruangan yang semula dipenuhi suara-suara seketika diam menghormati sosok karismatik yang tengah berada di ruangan, menguasai alur.
"Saya melakukan hal ini bukan karena perangai rasa," jelasnya. "Nama itu tercetak pudar, bukankah itu tanda kejanggalan? Bukankah seharusnya para petinggi meninjau hal ini?"
Seraphim 02 mendengarkan secara teliti, sejenak tensi ruangan meningkat mendengar suara tegas dan lantang itu menyuarakan keadilan dalam sidang malaikat.
"Saya meminta satu kondisi peninjauan, dimana—" Eli menyuarakan. "—penukaran posisiku dengan manusia yang tercetak tipis namanya di buku ini, dengan fungsi Angel's Judgement milik para Seraphim."
( tbc. )
