Fanfiksi ini tidak dibuat untuk mencari profit apapun, Love Live! bukan milik saya.


[ 7 ]

"Seraphim 03,"

"Ah," ia mendecak. "Bila Honoka-chan kemari, artinya Umi-chan ..."

"Maaf, aku ... bodoh, aku hanya ingin kalian—"

Pemilik nomor registrasi Seraphim-03 itu mengepak sayapnya, mendekati Throne yang tengah memegangi ambang pintu Sanctuary para malaikat petinggi dengan tangan bergetar. Ia menempatkan telunjuknya di bibir sang Throne, mengulas senyum untuk meyakinkan bawahannya—sekaligus sahabat baiknya itu—untuk mengatur nafas dan tidak terburu-buru. Pemilik surai abu-abu itu mempersilahkan sang Throne masuk ke ruangan.

"Sesuai perjanjian," ia berucap. "Pengadilan ulang akan diadakan esok hari dan aku akan menggantikan Seraphim 02 sebagai pimpinan sidang."

.

.

.

"Kotori-chan," Kousaka Honoka bertanya. "Apa kau siap dengan semua ini?" ia melanjutkan. "Apa kau siap menjadi penentu antara hidup dan mati?"


seraphim
[ song of serenity ]


( xlvii. )

Eli terdiam di depan kafe selepas ia menuju lantai dua dengan membawa Rin dalam ide gilanya. Ia kemudian meminta izin untuk keluar mencari udara segar dan meninggalkan Rin serta Hanayo di dalam kafe. Hela nafas terus ia tuai, disertai dengan cengkeraman kedua tangan di atas pahanya yang semakin intens.

Seketika, satu titik penyesalan dan satu titik kebahagiaan berpendar di hatinya. Pertama, ia kembali ingat; dan kedua, ia telah membuat seseorang terluka karena keegoisannya.

Ia telah melakukan kesalahan.

Ia telah melakukan dosa.

Ia telah—

"Elicchi."

Tatapan nanar yang berkaca-kaca, semula menghadap tanah kini menerus ke arah langit; merasakan jemari yang ia kenali tengah mencengkeram bahunya, mendengar suara dengan aksen Kansai yang begitu lembut di telinganya, melihat sosok yang sangat, sangat ia kenali di hadapannya, memantulkan sosoknya yang kini terlihat kalah dan tak bergairah.

"... Nozomi."

Nama itu meluncur dari mulutnya tidak seberat pertama kali saat ia mengenalnya kembali.

"Bagaimana kalau kita ..." pemilik surai ungu itu memutar bola matanya. "Bicara di tempat lain?"


( xlviii. )

Eli menemukan dirinya menuju taman yang dekat dengan Fakultas Hukum bersama dengan Nozomi yang berjalan di sampingnya tanpa suara. Ia tidak tahu, tetapi instingnya telah menuntunnya menuju taman tersebut tanpa banyak disuruh, hal aneh banyak ia sikapi setelah memorinya kembali secara mendadak, namun ini bukan saat dirinya untuk terkagum-kagum karena memorinya yang telah kembali normal.

Eli menyadari Nozomi tersenyum, selayaknya biasa, selayak apa yang ia ingat, selayak—

"Ada apa, Elicchi?"

"Maaf aku hanya ..." Eli menghela nafas. "... teringat sesuatu. Dan aku bahagia bisa mengingat dengan benar saat ini."

Tawa renyah meluncur dari bibir Nozomi, "Ya, dan setelah sekian lama kau mengajakku ke taman Fakultas Hukum lagi."

Mereka berdua akan duduk di kursi batu melingkar yang terdapat meja batu besar berukuran bulat di tengah-tengah, sebelah utara taman, menghadap jelas ke arah Fakultas Seni Rupa. Nozomi sampai sekarang tidak tahu kenapa Eli selalu memilih tempat itu untuk mereka berdua duduk, dan ia akan melakukan sketsa sembunyi-sembunyi seraya memandang Eli yang sibuk dengan hafalan hukum pidananya, atau Eli yang tengah sibuk membaca.

Namun sekarang, yang ingin mereka utarakan adalah—

"Apa yang kau lakukan adalah sesuatu yang ekstrim," gadis bersurai ungu itu terkekeh. "Menjadi malaikat bukan sesuatu yang mudah, Elicchi."

"A-aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar," tukasnya.

"Maksudku," Nozomi menjeda. "Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri adalah sesuatu yang tidak benar, aku—sangat takut saat memori itu kembali. Kau telah mengorbankan segalanya demi aku."

Eli menelan ludah. Nozomi menatapnya dengan intensitas kehangatan yang sama, sama seperti saat Eli hendak melihatnya untuk terakhir kali, namun ketika takdir mempermainkannya untuk membuat keputusan, segalanya berjalan dengan sungguh lain. Entah, ia harus berterima kasih karena kematian Toujou Nozomi ditunda, atau menyalahkan dunia karena tugasnya digagalkan, atau karena ia harus mengorbankan banyak hal—

"Aku tidak pernah menyesal atas keputusanku, Nozomi."

"Tapi aku merasa berhutang seumur hidupku, Elicchi," balasnya. "Walau itu bukan hal yang buruk, tetapi bila esok sidang menyuarakan warna merah, aku ... tidak akan bisa membayar hutangku padamu, hutang kehidupan."

Eli tak kuasa menggigit bibirnya, lidahnya kaku akan kata. Gadis di hadapannya berulas senyum simpul, sebelum akhirnya ia bangkit, sayap ia kembangkan—sayapnya sebagai pemegang nama Cherubim 09.

"Perpisahan selalu menyedihkan, Elicchi, aku tahu itu," telapak tangan itu menjangkau jemari Eli yang terbuka. "Karena itu, sebagai caraku membayar hutangku kepadamu, bila esok benar aku harus pergi—"

Suara itu bening, transparan, terbawa angin dan menuju indera pendengarannya nyaris tak terasa, lagi segalanya membuat nafasnya tercekat dalam hening. Indera penglihatannya memang dimanjakan dengan keberadaan sayap, indera perabanya dibuat tenang dengan sentuhan yang berusaha meredakan, akan tetapi indera pendengarannya tidak, hatinya tidak bisa mendengar apa-apa.

("Relakan aku pergi, Elicchi.")


( t b c. )

next arc -
throne / goodbye days