throne –
[ goodbye days ]


Mimbar itu begitu tinggi, lagi, terlanjur sepi.

Seraphim yang selayaknya biasa memimpin sidang tidak bisa menghadirkan diri, posisinya terganti oleh pelaksana tugas, Seraphim 03. Kenyataan telah terkuak ke permukaan, waktu telah habis dikeluarkan, segalanya akan berakhir di keputusan yang maha tinggi.

Sang terdakwa berada di tengah ruangan, terduduk dengan ekspresi cerah merekah, tiada satupun dirinya merasa ragu dan gundah. Cherubim 09—tidak, pelaksana tugas Cherubim 09, Toujou Nozomi, menyapu suasana sekelilingnya dengan khidmat luar biasa. Sesekali, manik zamrud itu menarik diri ke belakang, menuju sang malaikat yang sebenarnya, sang malaikat pengaju banding yang mempertaruhkan pekerjaan dan martabatnya, Ayase Eli.

Segalanya akan bermula dan akan berakhir.

"Akan dibacakan keputusan menurut Dekrit Malaikat." suara itu lembut lagi menggema ke penjuru ruangan.

"Relakan aku pergi, Elicchi, relakan aku. Memang sudah sepantasnya aku—"

Seraphim 03 menepuk tangannya sekali, cahaya muncul dari tengah ruangan, perlahan menampakkan wujud sebagai buku catatan yang dimiliki oleh Cherubim 09. Eli tak kuasa mengedip, begitu pula Nozomi, saat halaman demi halaman buku tersebut terbuka di depan hadirin.

Nama Nozomi tidak ada di sana.

Nama Nozomi tidak tercetak tipis di sana.

Tidak ada nama Nozomi di sana.

"Peninjauan ini adalah sebenar-benarnya kebenaran," tukas sang petinggi. "Sesuai dengan klaim yang ditunjukkan, dan dengan hasil yang telah diperlihatkan. Para Seraphim akan mencabut sanksi dari Cherubim 09."

Perlu beberapa menit bagi Eli merasakan suara tepuk tangan menginderai ruangan, Seraphim 03 undur diri dari podium, dan Nozomi kini berdiri dari kursi terdakwa di tengah ruangan, mengepakkan sayap miliknya dan menatap langit bertahtakan awan dan cahayanya. Tepuk tangan berlangsung riuh, tak kunjung putus dan terhenti, sementara Eli menyadari bahwa Nozomi kembali mencuri pandang ke arahnya, wajahnya yang semula tegar kini lemas, air mata deras mengalir di sana.

Eli menarik senyum.

Segalanya tak bisa tergambar, ia tak bisa melukiskan rasa apa yang membuncah di dalam hatinya.

Nozomi menerbangkan diri dari posisinya, rendah, menuju ke hadapan Eli perlahan. Satu tangannya menyodor ke depan, mengajak,

("Kita pulang, Elicchi." isaknya. "Kita ... pulang.")


"Apa Umi-chan baik-baik saja, Kotori-chan?"

Throne T12737 kini berjalan bersebelahan dengan sang hakim, segera menghampirinya selepas sidang singkat itu berakhir. Suasana damai kembali berangsur di ranah mereka, dan perkerjaan kembali bergulir selayak biasa.

Seraphim 03, menanggapi pertanyaan tersebut, tersenyum, "Kurasa ia akan baik-baik saja, ia hanya menyebutkan untukku menggantikannya dalam prosesi sidang karena ia masih memulihkan diri," pemilik surai abu-abu itu menangkupkan jemarinya. "Bukannya kau yang menyelamatkannya, Honoka-chan?"

"Aku hanya minta tolong seseorang," malaikat bersurai jingga itu meluruskan. "Hampir saja, atau Umi-chan bisa—"

"Honoka-chan."

"Jangan lagi kalian melakukan itu di luar batas, walaupun kalian berdua adalah Seraphim." Honoka menegaskan. "Memang, malaikat bisa melakukan kompensasi dari energi yang hilang, tapi kalau bukan dengan yang tepat—"

"Honoka-chan. Sudah."

Minami Kotori menahan bahu Kousaka Honoka yang tak henti bergetar, sang malaikan petinggi membawa sahabat baiknya itu ke dalam pelukan, berusaha menenangkan sang Throne.

"Maafkan aku, dan maafkan Umi-chan," ucapnya pelan. "Maaf kami membuatmu khawatir, Honoka-chan."


Saat mereka singgah di apartemen Eli, mereka hanya terduduk dalam diam, masing-masing menyilangkan jari-jemari, tidak berkata-kata, sekadar menginderai keberadaan masing-masing di sana dalam jarak yang sangat dekat, berpegangan tangan serasa esok takkan datang.

Eli memejamkan matanya sesekali, tidak bisa membawa dirinya untuk mengucapkan sesuatu, sementara Nozomi pun berada dalam keheningan yang sama.

"Apakah esok akan datang, Elicchi?"

Pertanyaan itu membuat lidahnya merasa getir.

"Aku ... tidak tahu," ikatan mereka semakin erat. "Mungkin aku ... takut akan mengalami hal seperti itu lagi."

Seluruhnya terasa begitu lama, lagi berjalan cepat, kematian, kehidupan, segalanya berada hampir tidak berbatas, tidak ada yang tahu siapa tengah berada di mana—

"Elicchi."

Nozomi menarik kedua tangannya menyentuh pipi Eli, melihat sorot biru langit itu larut dalam bingung, tidak terarah dan sendiri.

"Sampai hari itu datang, aku tidak akan meninggalkanmu," ujarnya. "Jangan sampai kau takut saat aku akan pergi."

.

.

.

Yang malaikat pencabut nyawa cintai bukanlah kematian yang mereka temui setiap hari, akan tetapi kehidupan – melihat, merasa, meraba, mengecap bahwa kehidupan tersebut ada dan tiada yang menyela.