Cerita sebelumnya.
Naruto dan Shikamaru kini sudah berada di kafetaria, mereka sedang duduk menunggu pesanan mereka datang.
"Hei Shika, kenapa kau juga memesan ramen miso?" Tanya Naruto.
"Aku sedang ingin makan ramen saja, apa kau akan membuat peraturan bahwa tidak ada yang boleh makan ramen selain ketua senat?" Shikamaru mengejek Naruto.
"Terserahlah." Ucap Naruto memalingkan wajahnya.
Naruto menyesal karena menolehkan wajahnya, karena Naruto melihat sahabatnya dengan gadis yang di cintainya. –Sasuke dan Hinata.
Sasuke dan Hinata menghampiri Naruto dan Shikamaru.
"Hei, Dobe. Shikamaru" Ucap Sasuke datar.
"Hai." Ucap Shikamaru malas.
"Kenapa dia harus datang kesini bersamanya? Naruto, fokuslah pada ramenmu saja. Anggap mereka tidak ada." Batin Shikamaru cemas.
"Oh. Teme. Dan H-hai,… Hinata." Ucap Naruto.
.
More Than Sincerity And Honesty
Masashi Kishimoto
Rate : T semi M
Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.
Hurt/Comfort/Romance
.
Chapter 2.
Sasuke dan Hinata kini berada di depan meja Naruto dan Shikamaru. Sasuke menggunakan kemeja berwarna biru tua, yang tidak di kancing dan mengenakan baju berwarna putih polos dan jelana jeans berwarna hitam sedangkan Hinata menggunakan baju lengan panjang berwarna pink bercorak bunga sakura dan celana jeans berwarna biru ¾.
"Hai, Naruto-kun, Shikamaru-kun." ucap Hinata lembut.
Naruto yang melihat Hinata bersama Sasuke merasakan panas pada hatinya, ia ingin marah namun ia tidak ingin menghancurkan persahabatannya. Naruto hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pikirannya pada ponselnya yang berada di saku celananya.
"Ah, aku lupa. Aku harus menghubungi atasanku." Ucap Naruto yang langsung meninggalkan Shikamaru, Hinata dan Sasuke yang heran dengan sikap Naruto.
"Hah~ dia itu memang selalu sibuk." Ucap Shikamaru mencoba mengalihkan pikiran Sasuke dan Hinata terhadap Naruto yang terkesan seperti menghindari sahabat dan kekasih sahabatnya.
"Kalian juga ingin makan siangkan?" Tanya Shikamaru mengalihkan situasi.
"Hn." Ucapan ambigu Sasuke.
"Iya, Shikamaru-kun." ucap Hinata lembut.
…
…
Naruto POV.
Aku kini berada di toilet, hanya berpikir, berpikir dan berpikir.
Damn!, kenapa usahaku selama tiga tahun ini tidak pernah menemui setitik pertanda aku bisa menghapus dirinya dari hatiku ini. Kami-sama, apa yang kau persiapkan untukku nanti? Apa kau akan terus menyiksa hatiku atau kau telah menyiapkan sesuatu yang membahagiakan untukku?
ARRGGGHHH– kenapa rasanya sangat sesakit ini untuk mencintai seseorang, dan kenapa sesulit ini untuk menghapus orang itu dari hatiku.
Aku hanya bisa mengacak-acak rambutku frustasi dalam diam.
Naruto POV. End.
Naruto kini kembali berjalan menuju meja kafetaria, meja dimana terdapat dua sahabatnya dan kekasih sahabatnya yang ia cintai. Naruto berjalan dengan tenang dengan pandangan kosong dan aura yang dingin.
Naruto kini duduk dengan diam sambil memainkan ponselnya.
"Dobe, ada apa denganmu?" Tanya Sasuke.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Naruto secukupnya, tanpa basa-basi.
"Hn." Gumam Sasuke.
"Hoam, aku mengantuk sekali, Naruto, kau kan yang mentraktiku?" canda Shikamaru mencoba menghentikan perasaan campur aduk Naruto.
"Iya, aku yang traktir. Kau juga Sasuke, Hinata. Pesan saja apapun kalian mau. Aku yang akan membayarnya." Ucap Naruto datar.
"Merepotkan sekali memiliki pekerjaan yang tidak kenal tempat untuk bekerja." Gumam kebohongan Naruto mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Sepertinya, setelah makan aku akan segera ke ruang senat untuk mengerjakan pekerjaanku. Gomenasai." Ucap Naruto datar.
"Hn." Gumam Sasuke.
"Tidak apa, Naruto-kun." Ucap Hinata sambil tersenyum.
Hinata POV.
Kenapa Naruto-kun yang sekarang sangat berbeda dengan Naruto-kun yang dulu?
FLASHBACK
Tiga tahun lalu.
Aku sedang mengerjakan tugas piketku seorang diri, karena tiga teman sekelompok piket denganku tidak masuk semua, jadi hanya aku sendiri. Hah melelahkan sekali. Sekarang hanya perlu mengatur meja dan kursi yang berantakan.
"Ah, Hinata. kenapa kau hanya piket seorang diri?" Tanya Naruto yang tiba-tiba masuk ke kelas.
"Na-naruto-kun? Mereka tidak masuk karena tertular flu." Ucapku
"Wah, bisa kompak yah untuk terkena flu." Ucap Naruto-kun sambil tersenyum.
"Senyuman Naruto-kun hangat." Batinku.
"Baiklah, aku akan membantumu, Hinata." Ucap Naruto-kun masih dengan senyum hangatnya.
"Apa tidak merepotkan Naruto-kun?" Ucapku.
"Tidak, tentu tidak merepotkan." Ucap Naruto-kun.
Aku dan Naruto-kun kini sedang membereskan meja dan kursi, tidak memerlukan waktu lebih dari sepuluh menit untuk menyelesaikannya dan sangat menyengankan bila bersama menyelesaikan ini dengan senang, karena Naruto-kun adalah laki-laki yang hangat dan pandai bersosialisasi Naruto-kun sangat bisa membuat situasi menjadi tidak canggung walau aku dan Naruto-kun tidak begitu dekat.
"Hinata, apa kau mau aku antar pulang?" Ucap Naruto-kun dengan senyuman hangatnya.
"Ji-jika tidak merepotkan Naruto-kun." Ucapku malu-malu.
Naruto-kun adalah laki-laki yang populer di sekolah. Naruto-kun adalah kapten tim basket Konoha Gakuen. Naruto-kun juga adalah laki-laki yang ramah, aku sangat senang bila sedang bersama Naruto-kun, mengingat aku adalah gadis yang pemalu.
Kami kini berjalan menuju rumahku, aku berjalan di belakang Naruto-kun. Aku hanya menatap punggung Naruto-kun dari belakang.
"Hinata, kenapa kau berjalan di belakangku? Apa kau tidak mau berjalan di sampingku?" Ucap Naruto-kun sedikit kecewa.
"Eh… Ha'i." Ucapku lalu berjalan agak cepat dan berjalan di sebelah Naruto-kun.
Berada sedekat ini dengan Naruto-kun kenapa membuat jantungku berdebar-debar?
"Hinata, apa kau suka ramen?" Tanya Naruto-kun.
"Su-suka." Ucapku sedikit gugup.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita makan dulu? Aku lapar." Ucap Naruto-kun dengan nada seperti merengek. Aku hanya bisa terkikik melihat tingkah Naruto-kun.
"Baiklah, Naruto-kun." Ucapku menyetujui.
…
…
Kini aku dan Naruto-kun sedang berada di sebuah kedai ramen. Naruto-kun bilang kedai ramen ini menyediakan ramen yang sangat lezat.
"Paman, miso ramen dua ya." Ucap Naruto-kun semangat. Entah mengapa aku suka dengan semangat Naruto-kun.
"Naruto, kau sedang bersama kekasihmu ya? Dia cantik, Naruto. Siapa namanya?" Ucap paman penjual ramen yang sudah kenal dengan Naruto-kun.
Mendengar ucapan paman penjual ramen itu membuat wajahku merona merah. Dan aku juga melihat hal yang sama pada wajah Naruto-kun yang juga sedikit merona merah.
"Pa-paman, di-dia be-belum. Eh bu-bukan kekasihku." Ucapan Naruto-kun sepertiku saat sedang malu-malu.
"A-aku Hi-hinata, pa-paman." Ucapku juga malu-malu.
"Hi-hinata, perkenalkan, paman ini bernama Teuchi. Aku sudah sering ke sini sejak aku masih sekolah dasar." Ucap Naruto-kun.
Menunggu beberapa saat kini ramen yang Naruto-kun pesan telah datang.
"Ini ramennya, Naruto dan Hinata." ucap paman Teuchi.
"Yosh, akhirnya ramennya datang." Ucap Naruto-kun dengan semangat.
"Ayo, di makan, Hinata. Itadakimasu." Ucap Naruto semangat.
"H-ha'I. Itadakimasu." Ucpaku dengan suara pelan.
"Hinata, bagaimana? Ramen disini enak kan?" Tanya Naruto-kun dengan senyumnya yang hangat.
"Uhm." Aku hanya mengangguk menyetujui pernyataan Naruto-kun.
…
…
Aku dan Naruto-kun kini kembali melanjutkan perjalanan pulang, perjalanan pulang kami sangat ramai karena Naruto-kun selalu aktif dalam berbicara.
Tidak terasa kini kami sudah sampai di depan gerbang rumahku.
"Wah. Hinata, rumahmu sangat besar ya." Ucap Naruto-kun.
"I-ini rumah orang tuaku, Na-naruto-kun. A-aku tidak punya rumahku se-sendiri." Ucapku dengan malu-malu.
"Iya, ya. Heheh." Ucap Naruto-kun sambil menggaruk kepala belakangnya yang sepertinya tidak gatal.
"Hi-hinata, a-apakah, besok aku bo-boleh mengantarmu pulang lagi?" Tanya Naruto-kun.
"Uhm." Aku mengangguk malu-malu. Entah mengapa aku merasa sangat senang karena Naruto-kun bisa dekat denganku.
...
...
Kedekatanku dengan Naruto-kun hanya bertahan selama seminggu lamanya, tapi entah mengapa kini Naruto-kun sangat berbeda, Ia seperti menghindariku. Apa aku berbuat salah pada Naruto-kun? Tanpa Naruto-kun aku merasa seperti kesepian.
FLASHBACK Off.
Sangat berbeda, Naruto-kun yang sekarang sangat berbeda. Naruto-kun tidak pernah tersenyum seperti dulu lagi.
Hinata POV. End.
…
…
Sasuke melihat kearah Naruto yang sedang makan dalam diam. Sasuke merasa heran dengan perubahan sifat Naruto selama beberapa tahun ini.
"Ada apa denganmu beberapa tahun ini, Dobe? Kenapa kau kini seperti menjaga jarak denganku? Adakah kesalahan yang aku perbuat?" Batin Sasuke.
Shikamaru hanya melihat situasi yang sangat canggung. Keadaan yang sangat tidak biasa terjadi pada beberapa orang yang sudah saling mengenal selama beberapa tahun.
"Kenapa aku masuk kedalam situasi merepotkan seperti ini? Ini sangat merepotkan." Batin Shikamaru.
Mereka makan dalam diam. Shikamaru berpikir keras untuk menghentikan situasi ini.
"Ayolah, pikir Shikamaru, pikir. Gunakan otakmu, hentikan situasi ini." Batin Shikamaru.
"Sasuke, apa kau masih ada kelas untuk hari ini?" Tanya Shikamaru basa-basi.
"Ya, setelah makan siang ini aku akan segera ke kelas dan selesai sampai jam lima." Ucap Sasuke.
"Hinata, sepertinya kau tidak bisa mengantarmu pulang setelah makan siang ini." Ucap Sasuke menoleh pada Hinata.
"Tidak apa, Sasuke-kun." Ucap Hinata sambil tersenyum.
"Ahh.. Aku selesai. Aku segera ke ruang senat. Shikamaru, ini uang untuk membayar semua makanan yang di pesan." Ucap Naruto dengan keceriaan palsu memecahkan perbincangan Sasuke dan Hinata. Naruto memberikan uang pada Shikamaru dan langsung bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
"Shikamaru, aku tahu kau sebenarnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Sasuke sesaat setelah Naruto meninggalkan kafetaria.
"Bukankah kau adalah sahabatnya? Kenapa kau bertanya kepadaku? Merepotkan." Ucap Shikamru malas.
Ya, malas. Shikamaru malas untuk ikut campur kedalam percintaan orang lain, namun Ia tidak malas untuk membantu Naruto. Membantu untuk menjadi tempatnya menjaga rahasia Naruto tentang perasaannya.
"Jelaskan padaku." Ucap Sasuke datar.
"Cari tahulah sendiri, kau adalah sahabatnya. Sedangkan aku hanya penasihatnya sebagai senat. Aku hanya menarik kesimpulan sepertinya Ia mendapat pekerjaan merepotkan saat tadi menghubungi atasannya." Ucap Shikamaru bohong.
"Hn." Dengus Sasuke.
Hinata hanya mendengarkan percakapan Sasuke dan Shikamaru dengan tatapan bingung.
"Aku sudah selesai, aku akan ada mata kuliah sekarang dan sepertinya Naruto tidak ikut mata kuliah ini karena pekerjaannya." Ucap Shikamaru. "Pekerjaan menyakiti hatinya dengan memikirkan dilemanya." Batin Shikamaru melanjutkan.
Shikamaru berjalan pergi meninggalkan kafetaria dengan santai dan dengan menguap malas. Sasuke hanya melihat Shikamaru yang pergi meninggalkan kafetaria dengan menatap kosong kepergian Shikamaru yang bagi Sasuke adalah laki-laki berkuncir itu mengetahui sesuatu.
"Aku akan menyelidikinya." Batin Sasuke.
…
…
Naruto kini berada di ruang senat, Naruto langsung berjalan menuju mejanya.
Naruto POV.
Hahaha. Aku sangat menyedihkan. Aku selalu terbayang dengan apa yang sering aku lihat. Apakah aku harus bertahan dengan semua ini? Sungguh. Menghilangkan perasaan ini memang sangat sulit. Aku merasakan sesuatu yang aku rasakan sangat berlebihan, namun begitulah adanya. Apakah aku harus pergi meninggalkan semua teman-temanku hanya karena perasaan ini? Konyol.
Naruto POV. End.
Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi. Naruto kini menyalakan komputer yang berada di mejanya. Ia berpikir mungkin ini akan bisa mengalihkan sedikit pikirannya dengan mencari sesuatu yang bisa membuat dirinya lebih baik.
Naruto membuka akun facebooknya ia melihat foto-foto di album facebooknya. Ia tersenyum. Ia tersenyum melihat foto-foto lamanya saat masih sekolah dasar, menengah pertama dan menengah akhir besama teman-temannya dan sahabatnya. Namun senyumannya semakin hangat saat melihat foto Hinata yang berada di bagian kanan atas pada layar monitor.
"Apakah hanya dengan senyumu aku bisa tersenyum seperti ini? Dapatkah aku tersenyum seperti ini tanpamu?" batin Naruto.
"Hah, sebaiknya aku pergi mengunjungi Kaa-san dan Tou-san. Aku merindukan mereka." Gumam Naruto.
…
…
Sasuke berjalan sendiri dengan santai menuju kelasnya. Sesaat berada di kafetaria Sasuke berpisah dengan Hinata karena tidak bisa mengantarnya pulang.
Sasuke POV.
Dobe, sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa kau seperti menghindariku selama dua setengah tahun ini? Kau tidak seperti dulu lagi, Dobe. Aku seolah tidak mengenalmu –teman pertamaku. Sahabatku. Kau mulai berubah saat aku menjalin hubungan dengan Hinata. Apakah kau juga menyukai Hinata saat kau bertanya padaku siapa gadis yang aku suka? Namun jika memang karena itu kau pasti berkata jujur padaku seperti biasanya. Ya seperti biasanya namun kini berubah sejak terjadi sesuatu yang entah apa saat dua setengah tahun lalu.
Sasuke POV. End.
Sasuke terus berjalan, tetapi kakinya mengarahkan pada ruang senat, tempat Naruto berada. Tepat berada di depan pintu. Sasuke hanya berdiam diri dan menatap pintu bingung untuk memulai pembicaraan dengan Naruto, tentang perubahan sifatnya.
Clek.
Suara pintu terbuka dan Naruto keluar dengan memutar-mutar kunci motor di jari telunjuknya.
"Teme?" ucap Naruto ketika melihat Sasuke.
"Hn." Gumam Sasuke.
"Selalu saja 'Hn' apa tidak ada yang lain?" ucap Naruto berusaha bersikap biasa.
"Apa kau nanti malam kosong?" Tanya Sasuke.
"Tidak, aku punya perkerjaan yang harus aku selesaikan. Aku tidak tahu sampai kapan pekerjaan ini menggangguku." Ucap bohong Naruto.
"Maybe next time." Ucap Sasuke.
"Ya, maybe next time." Ucap Naruto.
Sasuke berbalik dan pergi menuju kelasnya. Naruto hanya melihat punggung Sasuke dengan tatapan sedih.
"Maybe next time. Next time to you to understand about everything, Sasuke." Batin Naruto.
Naruto berbalik dan berjalan menuju parkiran. Sesaat berada di parkiran Ia langsung menuju motor sportnya. Naruto segera melajukan motornya keluar dari Konoha University.
Saat berada di depan gerbang Konoha University Naruto berhenti untuk memperbaiki posisi helmnya. Saat memperbaiki helmnya pengelihatan Naruto menemukan Hinata yang sedang berada di halte bus.
"Hinata?" gumam Naruto.
"Ah, Teme sedang ada kelas. Apakah aku harus mengantarnya pulang?" Batin Naruto.
"Sudahlah, sebaiknya aku mengantarnya pulang." Batin Naruto.
Naruto melepas helmnya dan menaruhnya di atas tangki bahan bakar motor sportnya. Karena merasa tidak enak bila mengantar Hinata namun hanya Ia yang memakai helm.
"Hinata." Panggil Naruto pada Hinata.
"Na-naruto-kun?" ucap Hinata.
"Ayo, aku antar kau pulang." Ucap Naruto dengan senyum tipis yang hangat.
"Entah mengapa, aku senang melihat Naruto-kun tersenyum." Batin Hinata.
"A-apa tidak merepotkan?" Tanya Hinata.
"Tentu tidak. Ayo naik." Ucap Naruto masih dengan senyum tipisnya.
"Uhm." Hinata mengangguk dan segera duduk pada jok belakang motor sport Naruto.
TBC
jangan berharap banyak pada author. author hanya membuat fic yang ada di otak author. namun untuk saran dan kritik author akan berterimakasih.
oya, buat Guest 'Author sampah... Fic 1 blm kelar udah buat lgi... Payah.' saya cuma bisa berucap. 'Pernahkah anda membuat fic multi chapter? jika pernah, pernahkah anda mengalami pemikiran yang buntu tentang fic itu dan membuat fic baru yang lebih mudah sebagai selingan dengan maksud tetap meramaikan FFn? dan jika anda hanya seorang reader cobalah buat fic dan rasakanlah rasa kesampahan yang anda maksud.
