Cerita sebelumnya

"Sakura, aku lupa aku memiliki janji dengan atasanku di kantor. Aku harus pergi." Ucap bohong Naruto pada Sakura.

Sakura langsung berhenti dan menatap Naruto yang berbalik dan berjalan dengan tenang.

"Kau berbohong, sepertinya kau mencintai gadis yang tadi, Naruto. Kau bisa berbohong dengan kata-katamu, namun matamu mengatakan kesedihan dan kesesakan." Batin Sakura.

...

...

Naruto kini berada di parkiran, ia segera memakai helmnya lalu menaiki motor sportnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, bunyi decitan ban dan deru bising knalpot motor sport Naruto menggema di parkiran.

Naruto sudah keluar dari area universitas. Ia melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan terasa sepi karena sekarang masih jam kerja. Naruto melirik kearah speedometer digital di motornya. Kini kecepatan motornya sampai pada 166 km/jam, 168 km/jam, 170 km/jam, 173 km/jam. Naruto terus melajukan motor sportnya sampai batas akhir dari kecepatan motor sportnya yang berscilinder 250cc pada jalanan yang sepi entah tujuannya kemana yang terpenting menjauh dari Konoha University.

"HAHAHAH... SEPERTINYA AKU KINI GILA DENGAN KECEPATAN, HANYA DENGAN INI AKU BISA MENYALURKAN EMOSIKU HAHAHAH..." batin Naruto.

Tiba-tiba bayangan beberapa saat yang lalu melintas di pikirannya. Bayangan Sasuke akan mencium Hinata.

"BRENGSEK! KENAPA AKU HARUS SEPERTI INI!?" teriak Naruto masih dengan melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi.

Beberapa saat, saat Naruto terfokus pada pikirannya tanpa Ia sadari ada seorang anak kecil yang menyebrang jalanan. Naruto yang baru sadar melihatnya segera mengerem dan membelokan ke kanan motornya untuk menghindari anak kecil itu agar tidak tertabrak.

Naruto berhasil menghidari anak kecil itu namun ada sebuah mobil dari lawan arah yang tidak dapat di hidari Naruto dan...

Brakk

Naruto menabrak mobil itu dari lawan arah dan terpental beberapa meter dari motornya.

.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Rate : T semi M

Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

Chapter 5.

.

Naruto terpental beberapa meter, kini ia berbaring di atas aspal, badannya penuh dengan luka.

Naruto POV.

Ugh, apakah aku masih hidup? Aku mencoba berdiri namun seluruh tubuhku terasa sangat sakit, terutama kepalaku. Aku menggerakkan tangan kiriku yang tidak begitu sakit untuk meraba kepalaku dan aku cukup terkejut ketika tanganku menyentuh kepalaku. 'Apakah helm yang aku gunakan terlepas?' pertanyaan itu yang muncul di benakku ketika aku menyadari tidak ada helm yang melindungi kepalaku. Aku melihat kearah mobil yang aku tabrak, apakah itu helmku? Aku melihat helm berwarna biru ada di jalanan didekat mobil yang aku tabrak.

Lalu aku melihat banyak sekali orang yang berlari kearahku dan menggerakkan mulutnya sepertinya sedang mengatakan sesuatu namun aku tidak bisa mendengarnya. Perlahan pandanganku memudar dan semua terasa gelap. Aku hanya mengingat seseorang sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran.

"Hinata–" gumamku dan kesadaranku benar-benar hilang.

Naruto POV. End.

Di lain tempat seorang wanita tengah makan siang di meja makan di sebuah rumah yang megah. Wanita itu mengambil segelas di depannya untuk meminumnya. Saat gelas hampir sampai pada bibir merah wanita itu.

Kretk.

Suara gelas yang retak mengejutkan wanita itu dan refleks melepas gelas itu lalu terjatuh dan pecah.

Pcyaar.

"Nyonya, Kushina? Anda tidak apa?" Tanya seorang maid perempuan di rumah megah itu yang mendengar suara gelas yang pecah.

"Tidak apa, Tayuya. Entah mengapa perasaanku tidak enak." Ucap Kushina.

"Kenapa perasaanku tidak enak? Aku tiba-tiba mengkhawatirkan anakku. Naru, apa kau tidak apa?" batin Kushina.

FLASHBACK

Saat Naruto berjalan menuju parkiran, ada seorang laki-laki dengan tampang malas berjalan santai sambil menguap –Shikamaru. Laki-laki itu melihat Naruto yang berjalan dengan tenang dan tatapan kosong langsung mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi sesuatu. Laki-laki itu hanya melihat Naruto dalam diam.

"Hah, sepertinya besok saja aku memberikan jam tangannya yang tertinggal di ruang senat." Gumam Shikamaru.

Shikamaru berjalan menuju kafetaria untuk membeli minuman. Saat Shikamaru berjalan menuju kafetaria Shikamaru bertemu dengan Sakura yang beberapa saat lalu bersama Naruto.

"Sakura." Panggil Shikamaru pada Sakura.

"Shikamaru." Ucap Sakura.

"Apa yang terjadi pada Naruto?" tanya Shikamaru to the pointsaat teringat dengan Naruto..

"Apakah Naruto-kun mencintai gadis bernama Hyuga Hinata?" tanya Sakura membuat Shikamaru menjadi serius.

"Kau sudah tahu? Lalu apa yang terjadi sesaat sebelum Naruto pergi meninggalkan Konoha University?" tanya Shikamaru.

"Itu..." Sakura tampak bingung harus menjelaskan pada Shikamaru.

Sakura membuang pandangan kearah lain selain tatapan serius Shikamaru.

"Naruto melihatku bersama Hinata." Ucap Sasuke yang tiba-tiba datang bersama Hinata.

"Tch. Sudah aku duga." Shikamaru mendecih saat mendengar ucapan Sasuke.

"Jelaskan padaku, Nara Shikamaru." Perintah Sasuke pada Shikamaru.

"Tch. Aku sempat mengira semua Uciha selalu memiliki otak jenius, sepertinya dugaanku salah, Uciha Sasuke." Ucap Shikamaru terbawa emosi. Shikamaru sudah merasa panas mengingat batapa pedihnya batin Naruto selama dua setengah tahun ini.

"Apa Naruto menyukai Hinata?" tanya Sasuke menatap lurus kearah Shikamaru. Hinata yang mendengar ucapan Sasuke langsung tersentak.

"Dia mencintainya. Bukan menyukainya. Lalu apa kau tahu sejak kapan Naruto mempunyai perasaan itu?" Ucap Shikamaru juga menatap lurus kearah Sasuke. Sasuke hanya diam dan menatap Shikamaru.

Hinata semakin tersentak mendengar jawaban dari Shikamaru. Hinata hanya menunduk melihat lantai seolah hanya itulah sesuatu yang sangat berharga untuk di lihat.

"Naruto-kun mencintaiku?" batin Hinatamasih hanya diam dan menunduk.

"Kau hanya diam, Uciha Sasuke. Sepertinya hubungan persahabatan antara kau dan Naruto tidak sedalam yang aku kira ya. Melihat dari lamanya kau dan Naruto saling mengenal." Ucap Shikamaru sinis.

Sakura merasa tidak enak dengan pembicaraan ini. Karena pada dasarnya Sakura tidak terlibat dalam masalah ini. Ia tidak ingin ikut campur dalam masalah seseorang yang baru dikenalnya.

"Ehm, se-sebaiknya a-aku ke-kekantin saja." Ucap Sakura kikuk.

Hinata POV.

Kenapa aku merasa bahagia bila memang Naruto-kun mencintaiku? Namun di satu sisi aku merasa sangat menyesal pada Sasuke-kun. lalu perasaan apa ini? kenapa aku merasakan perasaan yang sangat tidak mengenakan? Entah mengapa aku mengkhawatirkan Naruto-kun.

"Hinata, ikutlah bersama Sakura." UcapanSasuke-kundatarmenghentikan lamunanku.

Hinata POV. End.

"EH… H-ha'i." Ucap Hinatamenurutdanterkejut. Apa Sasuke mengenal Haruno Sakura? Itulah yang membuat Hinata bingung.

Sasuke dan Shikamaru kembali melanjutkan pembicaraan mereka, tentang sahabat mereka.

"Jadi sejak kapan kau tahu Naruto memiliki perasaan pada Hinata?" tanya Sasuke datar.

"Kau hanya bisa bertanya, padahal kau adalah sahabatnya." Shikamaru mencibir Sasuke.

"Kau hanya perlu menjawabnya, Shikamaru." Ucap Sasuke yang mulai geram dengan sahabat dari sahabatnya ini.

"Enthalah, yang aku tahu, dia telah memiliki perasaan pada Hinata sebelum ia bertanya padamu tentang siapa gadis yang kau sukai dan asal kau tahu– Ah, sudahlah. Aku hanya membuang waktuku bersama seorang sahabat dari sahabatku yang tidak pernah mengerti sahabatku." Ucap Shikamaru dan memutuskan meninggalkan Sasuke.

Drtt...Drtt...Drtt.

Ponsel Shikamaru bergetar Ia berhenti sejenak melihat kearah ponselnya yang terdapat sebuah nama 'Kushina Oba-san' ibu Naruto.

"Moshi-moshi." Ucap Shikamaru.

"Shikamaru-kun, Naru mengalami kecelakaan!." Ucap Kushina panik dan Shikamaru tersentak membulatkan matanya.

Kushina menghubungi Shikamaru lantaran Naruto pernah memberitahu pada ibunya bahwa jika ia tidak bisa menghubungi Naruto, ia bisa menghubungi Nara Shikamaru.

"APA!? Dia ada dimana, Ba-san?" Tanya Shikamaru terkejut dengan apa yang ia dengar.

Sasuke yang mendengar ucapan Shikamaru hanya memandang Shikamaru.

"Dia berada di Konoha Hospital. Ba-san sedang dalam perjalanan bersama dengan Oji-san menuju kesana." Ucap Kushina dengan menahan tangis.

"Baiklah, Ba-san, aku akan segera kesana." Ucap Shikamaru lalu memutuskan panggilan.

Shikamaru berbalik dan menatap Sasuke.

"Sahabatku mengalami kecelakaan. Sekarang ia berada di Konoha Hospital." Ucap Shikamaru datar pada Sasuke dengan menekankan kata 'sahabatku'. Sasuke yang mendengar itu langsung tersentak.

...

...

Disisi lain Hinata bersama dengan Sakura hanya duduk diam di kafetaria. Hanya keheningan yang terjadi.

"Hyuga-san, apa kau masih mengingatku?" tanya Sakura.

"A-aku masih mengingatmu, Haruno-san." Jawab Hinata.

"Ini terkesan sangat kaku. Hinata, bolehkah aku memanggilmu dengan seperti itu? Dan tolong panggil aku dengan Sakura, aku merasa aneh bila di panggil seperti itu.Aku merasa canggung." Ucap Sakura yang tidak enak dengan kecanggungan.

"Baikalah, Sakura-san." Ucap Hinata sambil tersenyum tipis.

"Jadi, apakah Sasuke-kun itu kekasihmu?" Tanya Sakura pada Hinata.

"I-iya." Ucap Hinatasambil menunduk.

"Tak aku sangka laki-laki yang selalu menghemat kata itu bisa memiliki kekasih." Ucap Sakura.

"Sakura-san mengenal Sasuke-kun?" tanya Hinata pada Sakura yang seolah mengenal baik Sasuke.

"Aku dan Sasuke adalah teman kecil, Hinata." Ucap Sakurasambil tersenyum.

"Berarti Sakura-san juga teman kecil Naruto-kun?" tanya Hinata.

"Bukan, Aku dan Naruto-kun baru saling mengenal hari ini, Hinata.Tapi mungkin aku sempat melihatnya sewaktu kecil dan sekarang aku melupakannya." Jawab Sakurasambil memegang dagunya. Berpose berpikir.

"mungkin apa yang aku lihat di perpustakaan saat Naruto-kun dan Sakura-san tertawa bersama lantaran Naruto-kun yang pandai bersosialisi dan Sakura-san yang friendly. Tapi kenapa aku merasa tidak suka bila Sakura-san dekat dengan Naruto-kun?" Batin Hinata

Tiba-tiba Sasuke dan Shikamaru datang dengan wajah yang panik. Sakura yang melihat itu hanya menunggu apa yang akan di ucapakan oleh salah satu dari mereka.

"Naruto, kecelakaan." Ucap Shikamaru.

Hinata dan Sakura tersentak. Sakura memandang terkejut kearah Shikamaru. Sedangkan Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangannya, perlahan air mata turun membasahi pipi Hinata.

"Hiks...Na-naruto-kun...hiks" Ucap Hinata.

"Apakah ini perasaan yang sebelumnya mengganguku, perasaanku sangat mengkhawatirkan Naruto-kun. Naruto-kun semoga kau tidak apa-apa." Batin Hinata.

Sasuke yang melihat Hinata perlahan menangis mulai menimbulkan pertanyaan pertanyaan dalam pikirannya.

"Hinata, sedekat apa hatimu dengan Naruto? Hinata, apa kau juga memiliki perasaan pada Naruto? Lalu selama ini?" Batin Sasuke saat Sasuke melihat kearah Hinata yang sesegukan.

"Apa kalian ingin ikut aku kerumah sakit atau hanya akan menjalani drama bodoh ini disini?" ucap Shikamaru mulai kesal karena hanya mendapat respon tatapan terkejut Sakura dan tangisan Hinata.

"Aku ikut, Shikamaru." Ucap Sakura menatap kearah Shikamaru.

"A-a-aku...hiks juga ikut Shikamaru-kun...hiks" ucap Hinata sesegukan.

"Baiklah, tunggu apa lagi." Ucap Shikamaru tidak sabar.

FLASHBACK. Off.

...

...

Dijalanan terdapat dua mobil yang berjalan cukup cepat, mobil itu adalah mobil milik Shikamaru dan Sasuke yang sedang menuju Konoha Hospital. Di dalam mobil Shikamaru ada Sakura yang menunduk memikirkan teman barunya yang mengalami kecelakaan dan di mobil Sasuke ada Hinata yang menunduk dan menangis dalam diam.

Sesampainya disana mereka langsung menghampiri resepsionis untuk menanyakan dimana kamar Naruto di rawat.

"Nona, maaf, boleh saya tahu dimana kamar Namikaze Naruto? Laki-laki yang mengalami kecelakaan lalulintas siang ini." Tanya Shikamaru.

"Mohon tunggu sebentar, Tuan." Ucap si resepsionis itu.

"Tuan Namikaze-san kini sudah berada kamar rawat inap VIP nomor 307, Tuan." Ucap si resepsionis.

"Baiklah, terimakasih, nona." Ucap Shikamaru lalu langsung menuju kamar inap Naruto.

Shikamaru, Sasuke, Hinata dan Sakura berjalan menuju kamar inap Naruto. Sesampainya mereka di depan kamar 307 Shikamaru mengetuk pintu dan merekan pun masuk. Di dalam sudah ada seorang wanita bersurai merah tengah menangis dalam pelukan seorang pria yang mirip dengan Naruto dan Naruto yang terbaring lemah di atas ranjang dengan mengenakan baju pasien, infus pada tangan kirinya dan perban yang melilit kepala, tangan kanan yang di gips dan beberapa perban di bagian tubuh Naruto yang terluka.

"Naruto-kun…" ucap Hinata lirih perlahan air mata kembali membasahi pipinya.

"Ba-san, Ji-san. Bagaimana keadaan, Naruto?" ucap Shikamaru pelan namun masih bisa di dengar sambil melihat kearah Naruto yang terbaring lemah.

"Naru, masih belum sadar, namun dokter bilang keadaannya sudah stabil, tulang lengan kanannya retak dan ada kemungkinan Naruto mengalami amnesia karena kepalanya sempat terbentur dan mengalami pendarahan." Ucap Minato lirih dan masih dengan memeluk istrinya yang menangis.

Mereka yang mendengar ucapan Minato hanya mampu tersentak.

"Apakah keinginanmu untuk amnesia akan terwujud, Naruto? Bodoh." Batin Shikamaru.

"Shikamaru-kun, kami akan membelikan minum untuk kalian, tolong jaga Naru sebentar ya." Ucap Kushina dengan mata sembab.

"Aku ikut Ba-san. Kalian tolong jaga Naruto sebentar." Ucap Shikamaru.

Minato, Kushina dan Shikamaru berjalan menuju kafetaria yang berada di Konoha Hospital. Sesampainya di sana mereka langsung membeli minuman.

Shikamaru berjalan menuju kamar Naruto sendirian dengan membawa kantung berisi minuman karena Kushina menemani Minato makan siang karena Minato yang tidak mau makan karena terlalu mengkhawatirkan putranya.

Kini Shikamaru sudah berada di kamar Naruto di rawat.

"Bagaimana kronologis kecelakaan itu dari yang kau tahu paman?" Sasuke datar dan yang lainnya menunggu jawaban Shikamaru.

"Sepertinya kau sudah tahu bahwa aku akan bertanya tentang itu." Ucap Shikamaru.

"Beritahu kami." ucap Sasuke datar.

"Menurut saksi mata yang ada di tempat kejadian, Naruto mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, lalu ada seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan, Naruto berhasil menghindarinya namun dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, Nartuo tidak bisa menghindarinya. Itulah yang di ceritakan Minato Ji-san." Ucap Shikamaru memandang yang lainnya dan Hinata menunduk.

"Dan, Naruto semapat menggumamkan sebuah nama." Jeda Shikamaru lalu memandang Hinata.

"'Hinata' Itu yang di ucap Naruto sebelum hilang kesadaran." Ucap Shikamaru lalu mengambil minuman dari dalam kantung yang tadi ia bawa.

Sudah empat hari berlalu namun Naruto masih belum kunjung sadar. Selama empat hari ini teman-teman Naruto sering menjenguk Naruto, namun mereka tidak sesering Hinata yang menjenguk Naruto dan setiap pagi Hinata selalu datang ke ruang inap Naruto dan membawakannya bunga dan di taruhnya pada vas yang ada di meja di dekat ranjang. Hinata sangat sering menjenguk Naurto dengan atau tanpa Sasuke. Bahkan Hinata menemani Naruto sampai dengan malam hari dan berakhir dengan Minato yang mengantar Hinata untuk pulang.

Dan sekarang adalah hari kelima setelah kecelakaan terjadi, namun Naruto masih belum kunjung sadar. Pagi ini Hinata kembali menjenguk Naruto. Hinata kembali membawa bunga untuk Naruto dan mengganti bunga yang kemarin ia bawa dengan bunga yang baru. Hinata berjalan menuju ranjang di mana Naruto berbaring dan duduk di kursi di dekat ranjang Naruto.

"Ohayou, Naruto-kun." ucap Hinata lalu menggenggam tangan kiri Naruto.

"Pagi ini aku datang lagi untuk menjengukmu." Ucap Hinata sambil tersenyum dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Cepatlah sadar, Naruto-kun." ucap Hinata dan air mata kembali membasahi pipinya.

"A-aku…hiks… me-merindukan…hiks se-senyum ha-hangat…hiks… Naruto-kun." ucap Hinata sambil sesegukan.

"Naruto-kun…hiks…" ucap Hinata memanggil Naruto yang masih terbaring.

Tanpa Hinata sadari sepasang mata onyx memandang sendu kearah Hinata yang menangis dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Sasuke POV.

Hinata, apa sebenarnya kau mencintai, Dobe? Mengapa caramu tersenyum dan memandang saat denganku dan dia sangat berbeda? Caramu tersenyum padaku seperti seorang adik yang tersenyum pada kakaknya dan caramu tersenyum padanya seolah bahwa dialah sumber dari senyummu dan kau memandangku seolah sangat mengenalku saja dan kau memandang dia seolah kau sangat mengenalnya dan seolah dia sangat berharga untukmu.

Kau pernah berkata bahwa aku memiliki sifat seperti mendiang kakakmu Neji. Apa kau salah mengartikan perasaanmu, Hinata? Ataukah aku yang salah mengartikan perasaanmu padaku yang sepertinya salah kau artikan, karena aku menyukaimu saat aku menyatakan perasaanku?

Sasuke POV. End.

Sasuke berbalik dan melihat Shikamaru yang sudah berada di belakang Sasuke tanpa sepengetahuan Sasuke.

"Apakah ini cinta segi tiga diantara sahabat? Sangat merepotkan." Ucap Shikamaru.

"Sejak kapan kau berada di sana?" ucap Sasuke terkejut.

"Sejak kau mulai mendengarkan monolog, Hinata." ucap Shikamaru.

Tanpa berbicara sepatah kata Sasuke langsung pergi meninggalkan Shikamaru. Sasuke pergi kearah kafetaria di Konoha Hospital.

"Hah, sudahlah, lebih baik aku langsung menuju universitas saja. Mungkin si wakil senat yang pendiam itu sudah menungguku." Ucap Shikamaru lalu berjalan kearah pintu keluar Konoha Hospital.

Di dalam kamar inap Naruto sesuatu terjadi.

Hinata tertidur sambil memegang tangan kiri Naruto, lelah karena menangis Hinata tertidur sambil terduduk dan kepalanya berbantalkan tangannya. Saat Hinata tertidur sedikit pergerakan terjadi pada tangan kiri Naruto. Perlahan Naruto membuka matanya.

Naruto POV.

Ugh, kepalaku masih pusing. Tempat ini juga berbau sesuatu yang membuatku pusing, bau obat. Sepertinya aku masuk rumah sakit sudah berapa lama aku dirawat? Apakah aku hilang ingatan?

Aku merasakan tangan kiriku seperti di genggam oleh seseorang, aku menolehkan wajahku ke sebelah kiriku, aku melihat rambut berwarna indigo HINATA. Ugh, kepalaku pusing, sepertinya aku tidak hilang ingatan. Tapi kenapa Hinata ada disini? Aku melihat jam, huh jam 11, apa Hinata tidak ke Konoha University? Namun harus aku akui, aku merasa senang saat aku melihat Hinata di sampingku.

Naruto POV. End.

Naruto melepaskan tangan kirinya untuk mengelus surai indigo Hinata. Namun pergerakkannya itu membuat Hinata terbangun. Hinata perlahan mengangkat kepalanya dan terkejut melihat sepasang mata berwarna Sahipphire mentapnya dengan lembut.

"Na-naruto-kun!" pekik Hinata. Hinata langsung memeluk Naruto dengan lembut.

"Hi-hinata… A-a-aku…" perkataan Naruto terhenti kala merasakan bahu Hinata bergetar dan ia merasakan basah pada bagian lehernya yang ternyata basah itu berasal dari air mata Hinata.

"Hiks…hiks… Na-naruto-kun…hiks…hiks." Ucap Hinata sesegukan.

TBC.

Hah... silahkan review, bagus enggaknya saya gak tau, ini selingan saya buat ngerjain tugas laknat dari dosen laknat. terimaksih sudah membaca.