Cerita sebelumnya

Di dalam kamar inap Naruto sesuatu terjadi.

Hinata tertidur sambil memegang tangan kiri Naruto, lelah karena menangis Hinata tertidur sambil terduduk dan kepalanya berbantalkan tangannya. Saat Hinata tertidur sedikit pergerakan terjadi pada tangan kiri Naruto. Perlahan Naruto membuka matanya.

Naruto POV.

Ugh, kepalaku masih pusing. Tempat ini juga berbau sesuatu yang membuatku pusing, bau obat. Sepertinya aku masuk rumah sakit sudah berapa lama aku dirawat? Apakah aku hilang ingatan?

Aku merasakan tangan kiriku seperti di genggam oleh seseorang, aku menolehkan wajahku ke sebelah kiriku, aku melihat rambut berwarna indigo HINATA. Ugh, kepalaku pusing, sepertinya aku tidak hilang ingatan. Tapi kenapa Hinata ada disini? Aku melihat jam, huh jam 11, apa Hinata tidak ke Konoha University? Namun harus aku akui, aku merasa senang saat aku melihat Hinata di sampingku.

Naruto POV. End.

Naruto melepaskan tangan kirinya untuk mengelus surai indigo Hinata. Namun pergerakkannya itu membuat Hinata terbangun. Hinata perlahan mengangkat kepalanya dan terkejut melihat sepasang mata berwarna Sahipphire mentapnya dengan lembut.

"Na-naruto-kun!" pekik Hinata. Hinata langsung memeluk Naruto dengan lembut.

"Hi-hinata… A-a-aku…" perkataan Naruto terhenti kala merasakan bahu Hinata bergetar dan ia merasakan basah pada bagian lehernya yang ternyata basah itu berasal dari air mata Hinata.

"Hiks…hiks… Na-naruto-kun…hiks…hiks." Ucap Hinata sesegukan sambil memeluk Naruto.

.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Rate : T semi M

Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

Chapter 6

.

Naruto POV.

Aku merasa nyaman dengan pelukan Hinata. Apakah rasanya dipeluk oleh orang yang kita cintai?

Tidak. Tidak, ini salah, aku tidak boleh terhanyut dengan ini, Hinata adalah kekasih sahabatku, tidak sepantasnya aku menerima perlakuannya.

Perlahan aku melepaskan pelukannya yang lembut dengan perlahan menggunakan tangan kiriku, jujur saja tubuhku masih terasa lemas. Lalu dapat aku lihat kedua matanya yang indah telah basah dengan air matanya. Aku tidak tahan melihatnya menangis. Dengan lembut aku menghapus air mata yang membasahi sudut mata dan pipinya dengan tangan kiriku, agak sulit memang karena infus yang terpasang di tangan kiriku.

Aku tersenyum hangat, senyum yang selama dua setengah tahun ini tidak pernah aku tunjukkan pada siapa pun.

"Sudahlah, Hinata jangan menangis, kau membuatku merasa bersalah." Ucapku, aku memang merasa bersalah karena aku mencintaimu yang merupakan kekasih sahabatku.

"Na-naruto-kun…" gumamnya lirih.

Naruto POV. End.

Clek.

Suara pintu terbuka dan masuklah seorang laki-laki dengan tampang malas yang mengenakan kemeja putih dan celana jeans hitam dan seorang gadis cantik bersurai senada dengan bunga sakura yang mengenakan baju lengan pendek berwarna merah bercorak dan celana jeans biru 3/4 dan seorang gadis cantik bersurai pirang di pony-tail yang mengenakan baju berwarna biru bercorak dan jeans hitam 3/4.

"Naruto, kau sudah sadar?" ucap Shikamaru terkejut.

"Yo, Shikamaru, Sakura, Ino. Aku Sudah sadar." Ucap Naruto semangat.

"Syukurlah kau sudah sadar, Naruto-kun. Apakah masih ada yang terasa sakit?" ucap Sakura.

"Hehehe. Kau begitu perhatian, Sakura." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Jadi ini alasanmu merepotkanku untuk menantarmu menjenguk Naruto, Sakura. Apa kau menyukai Naruto?" ucap Shikamaru bercanda.

"A-a-apa maksudmu rambut nanas?" ucap Sakura terbata.

Hinata yang mendengar ucapan Shikamaru tersentak lalu diam dan menunduk.

"Sakura-san menyukai Naruto-kun? Kenapa aku merasa tidak senang dengan itu?" batin Hinata tidak senang.

"Aku tidak apa, Sakura." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Kau sepertinya senang sekali bisa mengalami kecelakaan?" canda Ino melihat Naruto bersemangat.

"Kau ini, aku sedang tidak berdaya seperti ini kau bilang aku senang. Lihat tanganku di gips dan banyak perban seperti ini membuatku terlihat seperti mummy kau tahu?" Ucap Naruto sambil mengerucutkan bibirnya dan yang lain hanya tertawa kecuali Hinata yang diam dan menunduk.

"Shikamaru, bisa kau memberi kabar pada orang tuaku?" ucap Naruto dan dibalas dengan anggukan dan Shikamaru langsung menghubungi orang tua Naruto melalui pesan singkat.

Pandangan Naruto kini jatuh pada Hinata yang hanya diam dan menunduk.

"Ada apa, Hinata? kenapa kau diam saja?" Tanya Naruto.

"Mungkin dia belum sempat sarapan saat dia menjengukmu pagi tadi, Naruto." Ucap Shikamaru setelah memberi kabar pada orang tua Naruto.

"Shikamaru-kun kau?" ucap Hinata.

"Aku tadi pagi sempat kesini untuk tidur sebentar sebelum pergi ke Konoha University, melihatmu sudah berada di dalam aku jadi mengurungkan niatku." Ucap Shikamaru sedikit berbohong dengan wajah malas, tentunya Shikamaru tidak ingin membuat sebuah masalah semakin rumit dengan mengatakan bahwa Ia dan Sasuke melihat Hinata yang menangis sambil memegang tangan kiri Naruto.

"Apa benar, Hinata?" Tanya Naruto.

Hinata yang bingung dengan pertanyaan Naruto mulai memerah wajahnya. Pasalnya Naruto tidak bertanya tentang Hinata yang belum sarapan dan tidak bertanya tentang Hinata yang sudah menjenguk Naruto pagi tadi.

"A-a-aku ta-tadi pagi be-belum sarapan." Cicit Hinata dengan suara pelan. Ia tidak mau menjawab pertanyaan tentang dirinya yang pagi tadi sudah menjenguk Naruto karena malu.

"Hah~ Sakura, Ino. Bisa kalian mengajak Hinata untuk makan? Ini sudah masuk jam makan siang dan bisakah kalian bawakan aku roti kare?" ucap Shikamaru sambil melihat jam di tangannya.

"Baiklah, kalau begitu kami pergi untuk makan siang dulu. Ayo, Hinata." Ucap Sakura lalu berjalan menuju pintu si ikuti Hinata dan Ino di belakangnya.

"Oya, aku mau cup miso ramen ukuran jumbo ya." Ucap Naruto semangat.

"Tidak, untuk tubuhmu yang sekarang kau jangan makan ramen dulu!" ucap Hinata seperti membentak sambil menunjuk Naruto.

"EH. Go-gomen." Ucap Naruto kikuk.

"Kenapa Hinata jadi seperti ini?" batin Naruto bingung dengan perubahan sifat Hinata.

Drtt..Drtt..

Ponsel Shikamaru bergetar karena ada pesan masuk. Shikamaru langsung membacanya.

"Naruto, orang tuamu akan datang setelah jam makan siang." Ucap Shikamaru setelah membaca pesan di ponselnya.

Sesaat setelah para gadis telah meninggalkan kamar inap Naruto seorang laki-laki bersurai raven dan bermata onyx masuk kedalam kamar inap Naruto.

"Teme?" ucap Naruto.

"Kau sudah sadar, Dobe?" Tanya Sasuke.

"Seperti yang kau lihat." Ucap Naruto sambil tersenyum tipis.

"Melihatmu di perban seperti itu aku kembali mengingat saat kita berkelahi melawan tigabelas orang siswa sekolah lain saat kita masih baru masuk Konoha Gakuen." Ucap Sasuke sambil tersenyum.

"Hei. Saat itu karena tingkahmu yang menyebalkan, andaikan kau mau meminta maaf saat menabrak orang itu kita tidak perlu berkelahi dengan mereka dan berakhir dengan babak belur." Ucap Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hei. Aku tidak tahu ternyata masih ada teman-teman mereka di dekat sana." Ucap Sasuke membela diri.

"Hahaha. Itu sudah lama ya, Naruto." Ucap Sasuke menatap Naruto.

"Dari sikapmu sepertinya ada sesuatu yang menjadi masalah. Benarkan, Sasuke?" ucap Naruto juga menatap Sasuke.

Hening dan suasana menjadi agak berbeda. Shikamaru yang merasakannya harus ambil tindakan.

"Hah. Sepertinya memang harus segera di selesaikan." Ucap Shikamaru memecah keheningan.

"Naruto, apakah aku sahabatmu?" Tanya Sasuke menatatap Naruto.

"Aku tidak pantas disebut sahabat olehmu." Ucap Naruto memalingkan wajahnya.

"Apa karena kau mencintai kekasihku kau merasa tidak pantas bersahabat denganku? Sekarang jawab pertanyaanku. Manakah yang terjadi lebih dahulu. Aku menjadi sahabatmu atau kau mencintai kekasihku?" ucap Sasuke pada Naruto yang hanya diam.

"Jawab aku, Naruto." Ucap Sasuke menatap Naruto.

"Tch. Begitu mudah untukmu bertanya seperti itu. Ya, aku mencintai kekasihmu. Aku mencintai Hinata. Aku mencintai Hinata sebelum kau mendekatinya." ucap Naruto dengan tegas menatap mata Sasuke.

"Setelah ini aku akan pindah ke James Madison University, Virginia. Aku sudah tidak bisa seperti ini terus-menerus, Sasuke. Aku harus terus menjalani hidupku tanpa bayangmu dan Hinata yang selalu masuk kedalam pikiranku tiap harinya." Lanjut Naruto dengan tegas. Sasuke tersentak dengan ucapan Naruto yang ingin pergi.

"Shikamaru, maafkan aku harus membawa urusan pribadi kedalam urusan senat. Jadi bisakah kau menjadikan wakilku. Gaara. Menjadi ketua senat yang baru?" ucap Naruto.

"Aku tidak mempermasalahkannya, Naruto. Aku menjadi penasihatmu karena aku mau menjadi penasihatmu. Kejarlah tujuanmu. Aku ingin kau kembali seperti dulu saat kita pertama kali menjadi teman." Ucap Shikamaru sambil tersenyum tipis.

"Terimakasih, Shikamaru. Oya, kau pun bisa lebih dekat lagi dengan Temari, ne Shikamaru." Ucap Naruto sambil tersenyum tipis.

"Hah. Tanpa harus ada bocah pendiam itu aku juga bisa lebih dekat dengan Temari." Ucap Shikamaru malas.

"Jadi kau akan pergi seperti pengecut?" ucap Sasuke datar.

"Ya, aku pergi seperti pengecut. Kau tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan, Sasuke." Ucap Naruto datar.

"Kau memang keras kepala, Dobe." Ucap Sasuke lalu meninggalkan kamar inap Naruto.

Clek.

Sasuke membuka pintu dan terkejut karena di depan kamar inap Naruto sudah ada Hinata, Sakura dan Ino. Namun Sasuke terus berjalan seolah tak melihat tiga gadis yang berdiri di depan kamar inap Naruto tanpa menutup kembali pintu kamar inap Naruto.

"Apa mereka mendengarnya?" batin Sasuke.

FLASHBACK

Hinata, Sakura dan Ino kini berada di kafetaria Konoha Hospital mereka ingin membeli makanan untuk makan siang mereka.

"Ne Hinata, disini ramai sekali sampai tidak ada tempat untuk kita duduk." Ucap Ino sambil melihat-lihat apa ada meja kosong.

"Kita makan di kamar inap Naruto-kun saja. Aku yakin setelah lima hari tidak sadarkan diri pasti ia merasa lapar." Ucap Sakura dengan senyum jahil.

"Hihihi. Kau memang jahil, Sakura." Ucap Ino.

"A-apa tidak kasihan pada Naruto-kun?" Tanya Hinata.

"Tidak apa, Hinata. Naruto itu terkadang suka jahil juga." Ucap Ino.

Mereka kini membeli roti kare untuk Shikamaru dan empat buah cup miso ramen. Sakura sengaja melebihkan satu untuk Shikamaru yang seorang laki-laki jadi jika hanya sebuah roti kare belum tentu mengenyangkan untuknya.

Kini mereka berjalan menuju kamar inap Naruto namun begitu mereka sampai di depan pintu mereka mendengar suara.

"Aku tidak pantas disebut sahabat olehmu." Terdengar suara Naruto.

"Itu suara Naruto. Apa yang terjadi di dalam?" Ucap Ino pelan.

"Apa karena kau mencintai kekasihku kau merasa tidak pantas bersahabat denganku? Sekarang jawab pertanyaanku. Manakah yang terjadi lebih dahulu. Aku menjadi sahabatmu atau kau mencintai kekasihku?" Terdengar suara Sasuke.

"Itu suara Sasuke-kun." ucap Sakura pelan.

Sedangkan Hinata yang juga mendengar apa yang di dengar dua temannya kini tersentak dan menunduk.

"Daijoubu, Hinata." ucap Ino sambil mengelus punggung Hinata untuk menenangkannya

"Jawab aku, Naruto." Suara Sasuke terdengar oleh mereka bertiga yang berada di depan pintu.

"Tch. Begitu mudah untukmu bertanya seperti itu. Ya, aku mencintai kekasihmu. Aku mencintai Hinata. Aku mencintai Hinata sebelum kau mendekatinya." Terdengar ucapan Naruto.

"Naruto-kun benar-benar mencintaiku. Apakah ini penyebab perubahan sifat Naruto-kun? Gomenasai, Naruto-kun. Honto ni gomenasai." Batin Hinata.

"Hiks…hiks…" Hinata mulai sesegukan.

"Tak apa Hinata. Semua akan baik-baik saja." Ucap Sakura mencoba menenagkan Hinata.

"Setelah ini aku akan pindah ke James Madison University, Virginia. Aku sudah tidak bisa seperti ini terus-menerus, Sasuke. Aku harus terus menjalani hidupku tanpa bayangmu dan Hinata yang selalu masuk kedalam pikiranku tiap harinya." Lanjut ucapan Naruto yang terdengar oleh mereka yang berada di depan pintu.

"Shikamaru, maafkan aku harus membawa urusan pribadi kedalam urusan senat. Jadi bisakah kau menjadikan wakilku. Gaara. Menjadi ketua senat yang baru?" ucapan Naruto terdengar oleh mereka.

"Aku tidak mempermasalahkannya, Naruto. Aku menjadi penasihatmu karena aku mau menjadi penasihatmu. Carilah tujuanmu. Aku ingin kau kembali seperti dulu saat kita pertama kali menjadi teman." Ucapan Shikamaru terdengar.

"Terimakasih, Shikamaru. Oya, kau pun bisa lebih dekat lagi dengan Temari, ne Shikamaru." Ucapan Naruto terdengar oleh mereka.

"Hah. Tanpa harus ada bocah pendiam itu aku juga bisa lebih dekat dengan Temari." Ucapan Shikamaru terdengar.

"Jadi kau akan pergi seperti pengecut?" ucapan Sasuke terdengar.

"Ya, aku pergi seperti pengecut. Kau tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan, Sasuke." Ucapan Naruto terdengar.

"Kau memang keras kepala, Dobe." Ucap Sasuke terdengar.

Clek

Suara pintu terbuka dan keluarlah Sasuke dari kamar inap Naruto. Dari wajahnya sempat terlihat bahwa Sasuke terkejut saat melihat tiga orang gadis yang di kenalnya sudah berada di depan pintu.

FLASHBACK Off.

Hinata, Sakura dan Ino masih berada di depan kamar inap Naruto. Sakura dan Ino masih bingung bagaimana agar suasana tidak canggung nanti sampai akhirnya ada seorang suster yang membawa makan siang untuk Naruto.

"Permisi, apa nona-nona juga ingin masuk ke kamar ini?" Tanya si suster pada Hinata, Sakura dan Ino.

"Ah, gomenasai. Kami juga ingin masuk, suster." Ucap Ino.

Mereka kini sudah berada di dalam kamar inap Naruto dan para gadis telah menuangkan air panas pada cup ramen mereka. Namun kini hanya keheningan yang ada padahal ada lima orang di sana dan keheningan memang tidak mengenal tempat dan situasi.

"Hei. Kanapa kalian membeli empat cup miso ramen?" Tanya Shikamaru memecah keheningan.

"Wah, ramennya lebih ya? Untukku saja ya?" ucap Naruto semangat. Sebenarnya Naruto juga merasa tidak enak dengan keheningan yang terjadi namun tetap mengharapkan ramen.

"Ti-tidak, Naruto-kun. kau tidak boleh makan ramen untuk sementara waktu." Ucap Hinata mengomel.

"Tapi itu ramennya lebih, Hinata. Sayang sekali kalau tidak termakan." Ucap Naruto memelas.

"Kau sudah punya makan siangmu, Naruto-kun." ucap Hinata tetap pada pendiriannya.

"Hah~ baiklah." Ucap Naruto pasrah ia pun memakan makan siangnya. Makan siang Naruto hanya dengan bubur khas rumah sakit yang tidak memiliki rasa.

Naruto mencoba untuk menyendok buburnya dengan tangan kirinya, namun karena Naruto bukan left-handed Naruto agak bingung untuk melakukannya.

Hinata, Sakura, Ino dan Shikamaru melihat Naruto yang agak kesusahan ingig membantu Naruto.

"Biar aku suapi." Ucap Hinata dan Sakura bersamaan.

"Eh…" Naruto terpekik bingung.

"Biara aku saja yang menyuapimu, Naruto." Ucap Shikamaru.

"HUAA, Kau seperti gay Shikamaru!" pekik Naruto mendengar ucapan Shikamaru.

"Apa katamu? Kalau begitu cepat kau makan, makan siangmu." ucap Shikamaru tidak terima sedangkan yang lain hanya terkikik geli melihat Naruto dan Shikmaru.

"Biar aku saja yang menyuapimu, Naruto." Ucap Ino.

"Itu lebih baik, dari pada Shikamaru yang menyuapiku." Ucap Naruto.

Ino perlahan menyendokkan bubur makan siang Naruto lalu menyuapi Naruto.

"Bubur ini tidak memiliki rasa." Gerutu Naruto.

"Telan dulu makananmu, Naruto." Ucap Ino.

"Hah, kau ini makan di suapi saja masih berantakan." Ucap Ino sambil membersihkan sudut bibir Naruto yang belepotan dengan tissue. Hinata yang melihat itu merasa tidak suka.

"Kenapa aku merasa tidak suka saat melihat Ino-san dan Naruto-kun seperti itu? a-apa aku cemburu?" batin Hinata cemburu.

Tiga hari pun berlalu dan Naruto kini sudah keluar dari rumah sakit untuk menjalankan aktivitasnya seperti biasa namun tidak untuk bekerja, Naruto kini sudah tidak bekerja lagi dan memutuskan untuk fokus pada kuliahnya. Untuk sementara ini Naruto harus tinggal bersama orang tuanya dan di antar jemput oleh supir keluarga Namikaze. Naruto kini sedang berada di dalam mobil, ia merasa bosan karena hanya diam saja dan menunggu untuk sampai pada Konoha University. Naruto kini mengenakan baju putih bergambar rubah yang sedang marah berwarna oranye dan mengenakan celana jeans hitam dan tidak lupa almamater Konoha University yang berwarna biru donker.

"Genma-san, bolehkah aku yang mengemudi?" ucap Naruto pada supir keluarga Namikaze.

"Tidak bisa tuan muda, tangan kanan anda masih belum sembuh total." Ucap Genma.

"Hah~ ini membosankan. Aku harus segera mengurus surat kepindahanku. Lalu aku masih harus menunggu tangan kananku untuk sembuh, selama tanganku masih di gips masih belum bisa segera pergi meninggalkan Jepang. Ayolah seminggu lagi, kau harus sabar, Naruto dan tangan, cepatlah sembuh." Gumam Naruto sambil melihat tangannya yang di gips.

"Sudah sampai, tuan muda." Ucap Genma lalu keluar untuk membukakan pintu untuk Naruto.

"Ah, terimakasih, Genma-san." Ucap Naruto.

"Tuan muda akan pulang pukul berapa?" Tanya Genma.

"Nanti aku mengabarimu, Genma-san." Ucap Naruto.

"Baiklah, tuan muda." Ucap Genma lalu kembali masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Konoha University.

Naruto berjalan santai menuju ruang senat untuk bersantai sejenak sambil mengurus urusan senat sebelum mengurus kepindahannya.

"Hah, mungkin aku juga harus mengucapkan selamat tinggal untuk teman-temanku." Gumam Naruto.

"Naruto-kun." terdengar suara seorang gadis yang memanggil Naruto.

"Ah, Sakura. Kau ada mata kuliah pagi?" Tanya Naruto sambil tersenyum. Sakura hari ini mengenakan baju berwarna putih bercorak bunga Sakura dan celana jeans biru ¾.

"Tidak, aku hanya sengaja datang pagi untuk bisa bersantai terlebih dahulu. Apa kau sudah lebih baik?" Ucap Sakura.

"Ah, begitu. Aku sudah lebih baik. Sakura, apa kau sudah sarapan?" Tanya Naruto yang tadi pagi malas untuk sarapan.

"Uhm. Aku sudah sarapan. Apa Naruto-kun belum sarapan?" Tanya Sakura.

"Aku tadi malas untuk sarapan dirumah, karena Kaa-san pasti akan membicarakan hal yang panjang lebar padaku. Mau menemaniku sarapan?" Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Hihihi. Kau ini ada-ada saja. Baiklah." Ucap sakura sambil tersenyum.

Naruto dan Sakura berjalan menuju kafetaria, Naruto dan Sakura berjalan berdampingan. Di perjalanan mereka menuju kafetaria banyak yang berbisik mengira bahwa Naruto dan Sakura adalah sepasang kekasih apalagi karena mereka berdua mengenakan baju berwarna yang sama, warna putih.

Saat perjalanan mereka menuju kafetaria mereka saling berbincang tentang bagaimana rasanya menuntut ilmu di Tokyo University yang merupakan universitas unggulan selain Konoha University.

"Jadi di Tokyo University itu memiliki ketua senat yang galak yah? Lalu bagaimana dengan ketua senat di Konoha University?" Tanya Naruto sambil bercanda.

"Ano, kalau itu… itu…" ucap Sakura kebingungan. Sakura berjalan tidak sadar di depannya sudah ada papan lantai basah dan tidak melihatnya. Sakura berjalan lalu terpeleset.

"KYAAA." Pekik Sakura terpeleset. Namun dengan sigap Naruto menahan tubuh Sakura dengan tangan kirinya setengah memeluk Sakura.

'Deg'

Sakura merasakan jantungnya berdebar-debar dan wajahnya memerah, Sakura melihat wajah Naruto sangat dekat, tatapan Sakura tepat menatap bola mata Naruto yang biru sebiru batu sapphire dan Sakura bias merasakan hembusaan nafas Naruto.

"Sakura, kau tidak apa?" Tanya Naruto khawatir.

"A-a-aku ti-tidak apa, Naruto-kun." ucap Sakura dengan wajah memerah. Perlahan Sakura mulai memperbaiki posisinya agar berdiri dengan benar.

Mereka kini melanjutkan perjalanan mereka menuju kafetaria. Namun tidak ada dari mereka berdua yang menyadari bahwa ada sepasang mata berwarna amethyst yang melihat Naruto setengah memeluk Sakura dengan sendu. Pemilik mata berwarna amethyst itu segera pergi menjauh dari apa yang dilihatnya.

Hinata POV.

Kenapa, kenapa aku berlari? Kenapa aku harus pergi menjauh dari apa yang aku lihat?

Aku kini berlari menuju taman belakang. Aku tidak tahu harus kemana, aku hanya ingin menyendiri sesaat. Aku tidak tahu berapa mahasiswa yang mengumpat setelah tertabrak olehku. Aku hanya ingin segera menuju taman belakang dan menyendiri.

Aku kini telah sampai pada taman belakang. Aku duduk di bawah pohon maple sambil menekuk lututku dan membenamkan wajahku di antara lututku.

"Hiks…hiks…hiks…kenapa hiks…a-a-aku me-menangis? hiks…" gumamku.

"ke-kenapa…hiks… d-da-daku tersa se-sesak…hiks saat melihat Na-naruto-kun memeluk Sakura-san?…hiks" gumamku kembali.

Hinata POV. End

TBC

Bagus tidaknya dan kurang lebihnya di kolom review ya. terimakasih sudah membaca cp. ini.