Cerita sebelumnya.

"KYAAA." Pekik Sakura. Namun dengan sigap Naruto menahan tubuh Sakura dengan tangan kirinya setengah memeluk Sakura.

'Deg'

Sakura merasakan jantungnya berdebar-debar dan wajahnya memerah, Sakura melihat wajah Naruto sangat dekat, tatapan Sakura tepat menatap bola mata Naruto yang biru sebiru batu sapphire dan Sakura bisa merasakan hembusan nafas Naruto.

"Sakura, kau tidak apa?" Tanya Naruto.

"A-a-aku ti-tidak apa, Naruto-kun." ucap Sakura dengan wajah memerah. Perlahan Sakura mulai memperbaiki posisinya agar berdiri dengan benar.

Hinata POV.

Kenapa, kenapa aku berlari? Kenapa aku harus pergi menjauh dari apa yang aku lihat.

Aku kini berlari menuju taman belakang. Aku tidak tahu harus kemana, aku hanya ingin menyendiri sesaat. Aku tidak tahu berapa mahasiswa yang mengumpat setelah tertabrak olehku. Aku hanya ingin segera menuju taman belakang.

Aku kini telah sampai pada taman belakang. Aku duduk di bawah pohon maple sambil menekuk lututku dan membenamkan wajahku di antara lututku.

"Hiks…hiks…hiks…kenapa hiks…a-a-aku me-menangis? hiks…" gumamku.

"ke-kenapa…hiks… d-da-daku tersa se-sesak…hiks saat melihat Na-naruto-kun memeluk Sakura-san?…hiks" gumamku kembali.

Hinata POV. End

.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Rate : T semi M

Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

Chapter 7

Hinata terisak dibawah pohon maple dalam diam sendirian sambil menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Tanpa Hinata sadari seorang laki-laki bersurai raven mendengar apa yang Ia gumamkan.

Sasuke POV.

Hinata sepertinya tanpa kau sadari kau memang memiliki perasaan pada Naruto dan Naruto pun sejak dulu memang telah memiliki perasaan kepadamu meski aku baru mengetahuinya dengan jelas belakangan ini dan dari mulut Naruto sendiri saat ia masih di rumah sakit. Aku memang sahabat yang bodoh.

FLASHBACK.

Aku hanya berjalan dalam diam dan tidak memperdulikan orang-orang yang menyapaku. Aku berjalan menuju kafetaria untuk membeli sekotak jus tomat. Namun aku mengurungkan niatku kala...

Aku melihat kekasihku yang berlari dan aku melihat matanya yang berkaca-kaca. Aku melihat ke sekelilingku mencari sebab kenapa Hinata menjadi seperti itu lalu aku melihat Naruto dan Sakura yang tengah berpelukan. Aku memperhatikan lebih jelas di dekat Sakura ada tanda lantai basah. Sepertinya Sakura terpeleset dan Naruto mencoba menanhannya. Pikirku.

Aku mengikuti Hinata, sepertinya Ia berlari menuju taman belakang. Ya, tepat sekali. Ia memang berlari menuju taman belakang. Ia duduk dibawah pohon maple. Aku berjalan menuju sisi lain pohon maple tempat Hinata berada.

"Hiks…hiks…hiks…kenapa hiks…a-a-aku me-menangis? hiks…" aku mendengar gumam Hinata sambil terisak.

"ke-kenapa…hiks… d-da-daku tersa se-sesak…hiks saat melihat Na-naruto-kun memeluk Sakura-san?…hiks" Apa aku tidak salah mendengar?

FLASHBACK Off.

Semua memang salahku. Selama ini aku memang salah mengartikan perasaan apa yang Hinata berikan kepadaku. Hinata adalah gadis yang baik dan penyang. Dan aku salah mengartikan kasih sayang yang ia berikan padaku dan sepertinya ia memang menyayangiku seperti ia menyayangi mendiang Neji yang tak lebih dari kasih sayang seorang adik kepada kakaknya.

Sasuke POV. End.

Naruto dan Sakura kini telah duduk di salah satu meja yang berada di kafetaria. Naruto kini sedang memakan sebuah roti sandwich ditemani dengan sebuah dua buah susu cokelat kotak dingin. Sedangkan Sakura hanya menemani Naruto yang sedang menyantap sarapannya dengan sekotak susu cokelat dingin.

Sakura menatap sendu kearah Naruto yang tengah mengunyah sandwichnya.

"Naruto-kun, salahkah bila aku ikut campur dalam urusanmu yang satu ini? Aku hanya ingin membantu." Batin Sakura.

Naruto melihat Sakura yang menatapnya hanya berwajah bingung. Naruto menelan sandwichnya lalu menatap kearah Sakura.

"Ada apa, Sakura?" Tanya Naruto heran.

"Eh." Sakura tersentak. "Sebaiknya aku mencoba membantu meringankan beban di hatinya." Batin Sakura.

"Naruto-kun, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Sakura.

"Hm. Kau ingin bertanya apa, Sakura?" Tanya Naruto bingung.

"Maaf, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalah ini." Ucap Sakura bingung harus memulai pembicaraan.

"Bertanyalah yang jelas, Sakura. Aku tidak menyeramkan 'kan? jadi tidak perlu ragu.." Ucap Naruto sambil memberikan candaan.

"Apa kau memiliki perasaan pada Hinata?" Tanya Sakura. Seketika wajah Naruto berubah menjadi serius.

"Apa terlihat jelas? Sepertinya kau mulai menyadarinya sesaat sebelum aku mengalami kecelakaan. Benarkan, Sakura?" ucap Naruto tanpa menjawab pertanyaan Sakura sambil memaksakan senyum.

"Uhm." Sakura mengangguk.

"Andai aku tetap bisa bersikap biasa kau pasti tidak akan menyadarinya." Ucap Naruto memberi jeda.

"Baiklah, sepertinya sudah tidak mungkin aku menyimpan perasaan ini." Ucap Naruto kembali memberi jeda.

"Ya. Aku memiliki perasaan pada Hinata. Aku mencintainya, namun ini adalah kesalahan." Ucap Naruto tersenyum pahit.

"Semua perasaanku pada Hinata adalah kesalahan yang selama hampir tiga tahun ini selalu aku coba untuk perbaiki namun tiada hasil." Ucap Naruto.

"Tidak ada yang salah dengan perasaan cinta Naruto-kun." ucap Sakura.

"Ya. Tidak ada, namun ada untuk perasaan cinta dari sahabat seseorang yang mencintai seseorang yang dicintai sahabatnya." Ucap Naruto tersenyum pahit.

"Hah. Yang sekarang terjalin selama hampir tiga tahun ini sepertinya tidak bisa di sebut persahabatan. Aku telah merusaknya." Lanjut Naruto.

"Sepertinya seorang laki-laki yang mengalami masalah percintaan akan cenderung banyak bicara ya. Hihihi." Ucap Sakura lalu tertawa mencoba mencairkan suasana.

"Hah, kau ini. Kau sepertinya menyukai bila aku mengalami masalah percintaan ya." Ucap Naruto lalu kembali menggigit sandwichnya.

"Gomen. Bolehkah aku tahu sejak kapan kau memiliki perasaan pada Hinata?" Tanya Sakura.

"Sejak kapan ya? Aku rasa sejak lama." Ucap Naruto kini mulai mengendalikan perasaannya yang aneh karena harus bercerita tentang perasaannya kepada seorang gadis.

"Itu seperti tidak menjawab pertanyaanku, Naruto-kun." ucap Sakura kesal.

"Gomen. Wajahmu lucu bila terlihat seserius itu." Ucap Naruto.

"Apakah hanya wajahku saja yang menunjukkan keseriusan? Apa kau perlu bercermin untuk melihat wajahmu yang terlihat tiga kali lebih serius dariku. Dan jawab pertanyaanku. Sejak kapan kau memiliki perasaan pada Hinata?" ucap Sakura dengan wajah kesal. Naruto hanya tertawa hambar.

"Hahaha. Baiklah. Baiklah." Ucap Naruto memberi jeda. Wajah kesal Sakura berubah menjadi sendu melihat Naruto yang sangat tersakiti perasaannya.

"Aku memiliki perasaan terhadapnya sebelum aku mengetahui bahwa Sasuke juga memiliki perasaan yang sama pada Hinata." ucap Naruto.

"Jadi kau sama sekali tidak pernah memperjuangkan perasaanmu itu?" Tanya Sakura.

"Sudahlah. Aku tidak ingin membahas ini lebih lanjut." Ucap Naruto datar lalu meminum susu kotaknya sampai habis.

"Aku sudah selesai, Sakura. Maaf aku harus meninggalkanmu disini sendiri. Ada beberapa dokumen senat yang harus aku tanda tangani." Ucap Naruto bohong lalu berdiri dan membawa susu kotaknya yang belum ia minum dan pergi.

"Kau ingin menyelesaikan tugasmu bulan ini sebelum kau pindah universitas?" ucap Sakura dengan nada sinis.

Naruto berhenti ketika mendengar apa yang dikatakan Sakura.

"Apakah Shikamaru atau Sasuke telah memberitahunya tentang kepindahanku? Aku rasa tidak mungkin salah satu dari mereka memberitahunya. Tetapi kenapa Sakura mengetahuinya?" batin Naruto.

Naruto kembali berjalan tak memperdulikan siapa pun yang menyapanya. Naruto berjalan dengan tenang dan tatapan kosong menuju ruang senat. Ruang yang akan berpindah kekuasaan dalam tidak sampai satu bulan ini.

Naruto kini berada di ruang senat sendirian. Ia duduk di sofa sambil menyandarkan badannya dan tatapannya tepat menuju langit-langit ruangan.

"Sebaiknya tidak perlu menunggu tanganku sembuh untuk segera pindah universitas." Batin Naruto.

Clek.

Suara pintu terbuka menjadi perhatian Naruto. Ia melihat seorang laki-laki berwajah malas masuk kedalam ruang senat bersama seorang laki-laki berambut merah. Shikamaru dan Gaara.

"Naruto?" ucap Gaara terkejut ternyata sudah ada Naruto di dalam ruangan sepagi ini.

"Jangan terkejut seperti itu. Aku masih belum turun dari jabatanku sekarang." Ucap Naruto mengejek.

"Hah. Terserah." Ucap Gaara malas.

"Shikamaru, sepertinya kau sudah mulai dekat ya dengan calon adik iparmu ini." Ejek Naruto pada Shikamaru. Gaara yang mendengar apa yang di ucapkan Naruto memerikan tatapan tajam pada Naruto dan Naruto hanya berpura-pura tidak melihat tatapan tajam Gaara.

"Merepotkan. Kau tahu itu, Naruto?" Ucap Shikamaru tidak jelas mengarah kemana.

"Gaara, apa kau keberatan menggantikanku sebagai ketua senat?" Tanya Naruto serius.

"Aku tidak keberatan. Namun kau harus menjelaskan kenapa kau mengundurkan diri." Ucap Gaara.

"Kau akan mengetahuinya dari Shikamaru setelah aku meninggalkan Jepang." Ucap Naruto dengan senyum tipis.

Naruto kini berada di dalam mobil. Ia hanya diam dan melihat kearah jalanan.

"Genma-san, bolehkah aku tahu apakah pendidikanmu sampai pada universitas?" Tanya Naruto.

"Iya, tuan muda. Saya sempat melanjutkan pendidikan saya ke universitas namun saya berhenti karena masalah keuangan di keluarga saya kala itu." Jawab Genma.

"Hem. Begitu." Ucap Naruto.

"Kita sudah sampai tuan muda." Ucap Genma lalu keluar untuk membukakan pintu untuk Naruto.

"Silahkan tuan muda." Ucap Genma.

"Terimakasih, Genma-san." Ucap Naruto lalu berjalan masuk kedalam sebuah rumah mewah dan megah milik orang tuannya.

"Tadaima." Ucap Naruto.

"Okaerinasai tuan muda." Ucap maid yang menyambut Naruto.

"Oh, Tayuya-san, dimana Kaa-san?" Tanya Naruto.

"Nyonya Kushina sedang berada di taman bersama dengan tuan Minato, tuan muda." Ucap Tayuya.

"Begitu. Terimakasih Tayuya-san." Ucap Naruto lalu berjalan menuju kamarnya.

"Tou-san dan Kaa-san sepertinya sedang bermesraan sebaiknya nanti saja aku menemuinya." Batin Naruto.

Naruto berjalan menuju kamarnya di lantai dua dan sesampainya Ia di dalam kamarnya, Ia segera memparkan tubuhnya pada tempat tidur berukuran king size miliknya.

"Melelahkan sekali. Perutku sudah mulai lapar. Gips ini sangat menggangguku sebaiknya besok aku segera memeriksakan tanganku ini karena sudah tidak terasa sakit lagi." Gumam Naruto. Naruto memperhatikan tangan kanannya yang masih digips lalu mengarahkan pandangannya pada jam di nakas dekat tempat tidurnya.

"Sudah jam lima ya. Sebaiknya aku segera menemui Kaa-san dan Tou-san." Gumam Naruto.

Naruto kini sedang makan malam bersama Ayah dan Ibunya.

"Bagaimana keadaan tanganmu, Naruto?" Tanya Minato.

"Sudah tidak terasa sakit, Tou-san. Aku akan memeriksakannya besok." Jawab Naruto.

"Naru, soal kepergianmu ke Virginia–"

"Maaf, Kaa-san. Aku sudah memesan tiket pesawat menuju Virginia untuk lusa, aku mangambil penerbangan pagi. Kaa-san dan Tou-san tidak perlu khawatir aku disana bersama Jiraiya Jii-san." Ucap Naruto santai.

"APA!?" pekik Minato dan Kushina.

"Kenapa kau seenaknya saja untuk segera pindah, Namikaze Naruto!?" ucap Kushina kesal.

"Eh. A-a-aku ha-hanya ingin membiasakan diriku disana sebelum menjalani perkuliahan." Ucap Naruto beralasan dengan terbata.

"Kau ini, sepertinya sifat Kaa-sanmu yang suka seenaknya menurun padamu." Ucap Minato pelan.

"Apa katamu, Minato!?" ucap Kushina.

"Ti-tidak ada, sayang." Ucap Minato kikuk.

Sebuah mobil berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah bergaya tradisional. Di dalam mobil tersebut terdapat seorang laki-laki bersurai raven bermata onyx dan seorang gadis bersurai indigo bermata amethyst. Laki-laki keluar lebih dulu dari mobil lalu membukakan pintu untuk sang gadis.

"Terimakasih, Sasuke-kun." ucap Hinata sambil tersenyum.

"Hinata." panggil Sasuke ketika Hinata sudah keluar dari mobil.

"Ada apa, Sasuke-kun?" ucap Hinata.

"Apakah aku mengingatkanmu pada mendiang kakakmu?" Tanya Sasuke.

Hinata tersentak heran mengapa Sasuke bertanya seperti itu padanya. Hinata menundukkan wajahnya, Ia bingung harus menjawab seperti apa karena takut menyakiti hati Sasuke bila salah menjawab jika menjawab 'iya' karena Sasuke memang mengingatkannya pada mendiang kakaknya.

"Tidak perlu dijawab." Ucap Sasuke.

"Sekarang aku mohon jawab pertanyaanku ini. Apakah kau memiliki perasaan pada Naruto?" Tanya Sasuke. Sasuke diam menunggu Hinata menjawab pertanyaannya.

"A-aku tidak tahu, Sasuke-kun. A-aku merasa nyaman bi-bila bersama, Naruto-kun dan a-aku juga mereasa nyaman saat–"

"Cukup, itu sudah menjawab pertanyaanku." Ucap Sasuke memotong perkataan Hinata.

"Ma-maaf." Ucap Hinata perlahan matanya mulai berkaca-kaca.

"Hinata, kita akhiri hubungan kita. Aku tidak ingin seperti ini terus-menerus. Aku mulai menyadarinya. Kau melihatku seperti kau melihat mendiang kakakmu dan aku merasakan perasaanmu seperti perasaanku pada kakakku. Kau tidak pernah melihatku seperti kau melihat Naruto." Ucap Sasuke panjang.

Sasuke berjalan menuju mobilnya. Membuka pintu lalu segera masuk kedalam mobilnya. Sasuke membuka kaca jendela mobil.

"Kau salah mengartikan perasaanmu dan tanpa kau sadari, kau telah mencintai Naruto, Hinata. Cepatlah kau sadari perasaanmu yang sebenarnya, Hinata." ucap Sasuke lalu melajukan mobilnya, meninggalkan Hinata yang mematung karena keputusan dan ucapan terakhir Sasuke.

Dari dalam mobil Sasuke masih melihat Hinata melalui kaca spionnya.

"Dan sudah saatnya aku mencoba untuk menganggapmu sebagai adikku, Hinata." Batin Sasuke.

"Hiks…maaf hiks…maafkan…aku…hiks, Sa-sasuke-kun…hiks." Hinata terisak pelan di depan gerbang rumahnya.

Hari keberangkatan Naruto pun tiba. Kini Naruto bersama dengan kedua orang tuanya telah berada di Konoha Airport. Naruto terus mendapat ceramah dari kedua orang tuanya.

"Ingat, Naruto, jangan memilih makanan. Tidak ada alkohol sebelum kau mencapai usia 21 tahun!" ucap Kushina sambil menatap tajam Naruto. Kushina berhenti sejenak.

"Jangan bermain perempuan! Jangan suka bermain dengan uang!" lanjut ucapan Kushina.

"Minato, apakah kau juga ingin memberi pesan untuk anakmu?" Tanya Kushina pada Minato.

"Tidak." Ucap Minato singkat, lalu Minato menatap kearah Naruto.

"Pesanku sama seperti ocehan Kaa-sanmu, Naruto." Ucap Minato sambil tersenyum lalu menepuk kepala Naruto.

"Ha'i. aku mengerti, Kaa-san, Tou-san." Ucap Naruto lalu memeluk kedua orang tuanya.

"Apa Kaa-san menangis?" Tanya Naruto merasakan bahu Kushina bergetar saat memeluk kedua orang tuanya.

"Kau adalah anak kami satu-satunya, Naruto. Jangan kecewakan kami." Ucap Minato.

Naruto melepas pelukannya pada kedua orang tuanya lalu mengangguk. Naruto mengarahkan pandangannya kebelakang Ibu dan Ayahnya, Ia terkejut melihat seseorang yang sangat di kenalnya, laki-laki berwajah malas.

"Sepertinya aku belum terlambat untuk mengucap perpisahan sementara kita, Naruto." Ucap seorang laki-laki berwajah malas.

"Kau belum terlambat, Shikamaru." Ucap Naruto. Naruto menghampiri Shikamaru.

"Selamat jalan, Naruto. Aku ingin kau pulang dengan kondisi utuh dan sifat yang sama seperti pertama kali kita saling mengenal." Ucap Shikamaru sambil tersenyum.

"Tentu." Ucap Naruto lalu mereka berpelukan sahabat.

Setelah berpelukan sahabat dengan Shikamaru, Naruto berjalan meninggalkan kedua orang tuanya dan sahabatnya. Ia berhenti sejenak lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya dan sahabatnya.

"Aku akan pulang dengan menjadi Naruto yang super ceria dan penuh semangat-DATTEBAYO!" ucap Naruto semangat dengan senyum tiga jarinya sambil melambaikan tangannya.

"Itu baru anakku!" Ucap Kushina tak kalas semangat dengan anaknya. Minato dan Shikamaru hanya tersenyum melihat semangat Ibu dan anak itu.

TBC