.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Rate : T semi M

Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

Chapter 8

Matahari terbit diufuk timur, memberikan sinar hangatnya untuk seluruh makhluk hidup. Sinar mentari kini telah menembus jendela dan membangunkan seorang laki-laki berumur 24 tahun bersurai pirang dan bermata biru sebiru batu sapphire. Naruto. Tak terasa kini Ia telah meninggalkan Jepang selama hampir 5 tahun untuk melanjutkan pendidikannya sampai S2.

Naruto mengerjabkan matanya membiasakan matanya yang sedikit memburam kala ia terbangun dari tidurnya.

"Sudah, pagi? Cepat sekali rasanya." Gumam Naruto. Ia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya.

Naruto kini telah mengenakan sebuah kaos putih polos dan mengenakan celana pendek berwarna cokelat. Ia berjalan menuju meja makan untuk sarapan paginya. Sesampainya di meja makan Ia melihat seorang pria tepatnya seorang kakek, terlihat jelas dari rambutnya yang sudah memutih. Kakek itu sedang membaca Koran pagi dan ditemani dengan segelas kopi panas. Naruto berjalan menghampirinya.

"Good morning, Grandpa." Sapa Naruto dengan cengirnya.

"Kau orang jepang, gunakan bahasa asalmu bila bersama dengan orang Jepang." Ucap Jiraiya.

"Ha'I, Ero Jii-san." Ucap Naruto santai dan mendudukan dirinya di kursi meja makan.

Plak.

"Itte!" Pekik Naruto ketika merasakan sebuah benda menghantam kepalanya, tepatnya sebuah koran yang digulung.

"Kenapa Jii-san memukulku?" ucap Naruto sambil mengelus kepalanya yang habis di hantam dengan gulungan Koran.

"Apa-apaan kau memanggilku seperti itu, dasar cucuk kurang ajar!" ucap Jiraiya kesal.

"Hehehe… aku kan hanya mengatakan kebenaran." Ucap Naruto dengan cengirnya.

"Cepat makan sarapanmu, cucuk mesum!" ucap Jiraiya.

"Nani? Mesum? Aku?" ucap Naruto bingung.

"Ya, jika kau memanggilku mesum kau pasti juga memiliki gen mesum dariku yang aku turunkan pada Tou-sanmu." Ucap Jiraiya aneh.

"Aku tidak mesum!" bela Naruto.

"Benarkah? Lalu majalah apa yang aku temukan dibawah tempat tidurmu?" ucap Jiraiya santai sambil membaca Koran.

"Ettoo… Jii-san, kau sudah membuatkanku ramen?" ucap Naruto mengalihkan pembicaraan dengan melihat ramen di meja makan.

Naruto memang tidak mesum, majalah itu juga ia gunakan untuk mengalihkan pikirannya dari seorang gadis yang mengacaukan pikiran dan hatinya. Ia melakukan segala cara untuk mengalihkan pikirannya dan pernah ia menyakiti seorang gadis temannya satu universitas di James Madison University yang menyukainya dan ia berjanji tidak akan menggunakan gadis lain untuk mengalihkan perasaannya, karena sesungguhnya perasaannya bukanlah hal untuk menyakiti.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, cucuk mesum." Ucap Jirainya menyindir.

"Aku lapar. Ittadakimasu." Ucap Naruto langsung menyantap ramennya dan menghentikan bahsan Jiraiya tentang majalah yang di temukannya di bawah tempat tidur Naruto.

"Dasar." Dengus Jiraiya.

"Naruto, apa kau sudah mengemas barang-barangmu?" Tanya Jiraiya.

"Sudah, Jii-san." Ucap Naruto.

"Apa kau sudah mengambil keputusan untuk mengambil alih perusahaan yang dipegang Minato?" Tanya Jiraiya. Selama di Virginia Naruto tidak hanya menuntut ilmu tentang pelajaran yang menjadi spesialisasinya saja tetapi Naruto juga mendapat pelajaran tambahan dari Jiraiya untuk mengurus perusahaan yang akan diwariskan padanya.

"Aku akan mengambil alih perusahaan Tou-san tetapi aku tidak langsung mengambil alih, tetapi aku akan bekerja sesuai bidangku untuk sementara di perusahaan Tou-san sekalian untuk mengenal karyawan di perusahaannya." Ucap Naruto.

"Aku tidak ingin bidang pendidikan yang aku miliki hanya menjadi gelar tanpa hasil." Lanjut Naruto.

"Itu baru cucukku, kau harus menjadi pekerja keras, Naruto. Lalu bagaimana dengan pendampingmu? Apa kau tidak tertarik dengan gadis disini atau di Jepang? Selama ini aku tidak pernah mendengar kabarmu yang memiliki kekasih." Ucap Jiraiya.

Naruto hanya diam menatap ramennya yang tersisa sedikit di depannya. Pikirannya tertuju pada gadis bersurai indigo dan bermata amethyst. Hinata Hyuga. Walau Naruto tidak pernah mendapat kabar tentang gadis itu, lebih tepatnya tidak ingin mendapat kabar tentang gadis itu untuk melupakan perasaannya. Bahkan Naruto melarang Shikamaru untuk memberi kabar tentang Hinata apa pun itu. Tetapi Ia tetap tidak bisa menghilangkan gadis itu dalam pikirannya. Gadis itu selalu hadir dalam pikirannya tanpa pernah absen walau satu hari pun seolah gadis itu selalu ada di tiap harinya.

Jiraiya melihat kearah Naruto yang diam setelah menenanyakan pertanyaan yang normal untuk seorang laki-laki kini kembali berpikir.

"Sudahlah, Kami-sama sudah memasangkan seorang pria dan wanita. Jika gadis yang ada dipikiranmu adalah takdirmu maka kau dan dia akan bertemu kembali dan bila dia bukan takdirmu maka kau akan dipertemukan dengan seorang gadis yang menjadi takdirmu. Tetapi bukan berarti kau harus berdiam diri, bergeraklah untuk mencari pendamping hidupmu." Ucap Jiraiya panjang lebar.

"Terimakasih, Jii-san. Tak aku sangka kakek mesum sepertimu bisa memiliki kalimat yang menusuk kedalam otakku." Ucap Naruto kembali dengan cengirnya meski cengiran itu berbeda dari sebelumnya.

"Bocah ini!" ucap Jiraiya.

"Sudahlah, setelah sarapan kau segera bersiap. Ingat keberangatan pesawatmu itu jam 11 itu berarti kau masih memiliki 4 jam lagi." Ucap Jiraiya setelah melihat jam pada dinding.

Naruto kini telah berada di Virginia Beach Airport. Penerbangannya akan dilaksanakan 10 menit lagi. Ia mengenakan kemeja biru tua dan celana jeans biru.

"Jii-san, kenapa kau tidak ingin ikut pulang?" Tanya Naruto. Ia sebelumnya mengajak Jiraiya untuk ikut bersamanya dan menetap di Jepang.

"Aku memiliki pekerjaan disini, Bocah." Ucap Jiraiya.

"Pekerjaan apa? Menulis novel mesum dan berjalan-jalan di pantai untuk melihat perempuan-perempuan yang menggunakan bikini?" cibir Naruto.

"Kau tidak menikmati hidupmu sebagai laki-laki sejati, Bocah." Ucap Jiraiya membela diri.

"Hah~ terserah Jii-san." Ucap Naruto malas.

"Nah, Jii-san, jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu sering mengintip Miss Jullie tetangmu itu." Ucap Naruto.

"Kenapa? Dia itu seksi." Ucap Jiraiya dengan seringai mesum.

"Terserah Jii-san." Ucap Naruto lalu memeluk Jiraiya. "Jii-san, datanglah ke Jepang untuk menikmati masa tuamu bersama keluarga." Ucap Naruto serius dengan suara pelan.

"Setelah aku menyelesaikan novel terakahirku ini aku akan pulang dan berkumpul bersamamu dan orang tuamu." Ucap Jiraiya. Naruto melepas pelukannya.

"Baikalah, Jii-san. Aku masuk." Ucap Naruto.

"Sampaikan salamku untuk orang tuamu." Ucap Jiraiya. Naruto berbalik dan berjalan menuju pesawat yang akan membawanya menuju Jepang.

Naruto kini sudah menduduki kursinya. Naruto mengalihkan pandangannya kearah seorang gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Gadis itu berambut cokelat di cepol dua dan mengenakan pakaian yang tidak feminim.

Naruto POV.

Gadis ini apakah orang Jepang sepertiku? Tetapi dari gaya rambutnya yang di cepol dua seperti itu apa sepertinya Ia orang Cina? Dan cara berpakaiannya sepertinya dia gadis tomboy. Sebaiknya aku mencoba bertanya, berhubung aku bosan kalau hanya berdiam diri seperti ini dan hanya mendengarkan lagu atau menonton atau bermain game.

"Hi, how are you?" tanyaku sambil tersenyum tipis. Agak canggung memang tetapi sepertinya akan menyenangkan bila ada teman mengobrol untuk perjalanan ini.

"I'm fine. How about you?" Jawabnya dengan senyum tipis.

"I'm fine. Are you Japanese people?" tanyaku padanya, mungkin saja ia orang jepang.

"Yes, I'm Japanese people." Bingo, sepertinya Kami-sama tidak membiarkan aku bosan di pernerbangan kali ini. Penerbanganku sebelumnya sangat tidak menarik, karena orang yang ada di sebelahku saat itu adalah orang Brazil dan tidak terlalu fasih dalam bahasa inggris.

"Can you speak Japanese?" Tanyaku. Jawab 'Yes' 'yes' 'yes' aku tidak ingin merasa bosan untuk penerbangan kali ini.

"Of course." Ucapnya. Aku mencintaimu kami-sama, semoga aku tidak merasa bosan.

"Yokatta, sepertinya aku tidak merasa bosan untuk penerbangan ini." Ucapku sambil tersenyum. Dia pun juga tersenyum.

"Oya, namaku, Naruto." Ucapku dan mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya.

"Tenten." Ucapnya sambil tersenyum lalu menjabat tanganku.

"Maaf, Tenten-san. Sebelumnya aku mengira kau adalah orang Cina." Ucapku sambil tersenyum tipis.

"Karena rambutku yang di cepol ini?" ucapnya tersenyum sambil menunjuk rambut di cepolnya.

"Begitulah. Hehehe." Ucapku lalu tertawa.

"Banyak yang berpendapat sama denganmu, Naruto-san." Ucapnya.

"Apa kau dalam perjalan pulang?" tanyaku.

"Aku saat ini sedang berlibur dan mengunjungi temanku. Bagaimana denganmu?" tanyanya ramah.

"Aku perjalanan pulang setelah menuntut ilmu. Berlibur? Apa kau menetap di Virginia?" Ucapku sambil tersenyum tipis.

"Ya, aku menetap di Virginia bersama keluargaku sejak enam tahun lalu." Jawabnya.

"Kau di universitas apa, Naruto-san?" tanyanya.

"Aku di James Madison University." Ucapku senang, syukurlah dia bukan orang yang pendiam.

Naruto POV. End.

Tak terasa penerbangan Naruto kini telah berakhir. Pesawat yang Naruto naiki kini sudah mendarat di Tokyo International Airport.

"Apa kau di jemput oleh kerabatmu? Atau kau ingin menumpang bersama temanku jika kau tidak di jemput, Tenten-san?" Ajak Naruto.

"Terimakasih tawarannya tetapi aku juga dijemput, Naruto-san." Jawab Tenten.

"Baiklah, sampai jumpa." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Sampai jumpa." Jawab Tenten membalas senyum Naruto.

Naruto berjalan santai menuju pintu keluar airport dengan menairk sebuah koper yang tidak terlalu besar dan membawa tas ransel dipunggungnya untuk mencari Shikamaru. Naruto tidak memberi kabar pada orang tuanya bahwa Ia akan pulang pada hari itu untuk memberikan kejutan. Naruto berjalan sambil melihat sekitar untuk mencari seorang laki-laki dengan wajah malas dengan rambut dikuncir seperti nanas. Tiba-tiba seulas senyum terpatri diwajahnya kala Ia melihat objek yang Ia cari.

"Shikamaru!" panggil Naruto dengan cengir serta penuh semangat menghampiri Shikamaru.

"Naruto!" ucap Shikamaru lalu berjalan kearah Naruto. Lalu mereka berpelukan sahabat.

"Kau berubah, Naruto ternyata sudah tidak ada lagi wajah konyolmu." Ucap Shikamaru setelah mereka melepas pelukan sahabat mereka.

"Kau pun juga berubah, kini kau memiliki janggut ya." Ucap Naruto lalu menarik janggut Shikamaru.

"Aaa. Kau ini ternyata masih bodoh ya. Kau tahu ini sakit bila di Tarik." Ucap Shikamaru sambil menunjuk janggutnya.

"Hahaha. Maaf. Maaf. Oya, apa kau serius besok lusa Ino akan segera menikah dengan Sai dari Jurusan seni? Orang yang senyumnya menyebalkan itu?" Tanya Naruto.

Naruto mendapat kabar minggu lalu bahwa Ino akan segera menikah dengan Sai. Naruto tahu siapa itu Sai, ia adalah laki-laki berkulit pucat dan berambut hitam klimis dengan senyum palsu yang menyebalkan. Itulah pendapat Naruto.

"Iya, begitulah seperti yang aku bilang padamu. Undangan pernikahan untukmu ada di mobilku." Ucap Shikamaru.

Naruto dan Shikamaru kini sudah berada didalam mobil menuju apartemen Naruto untuk menaruh barang bawaannya.

"Naruto, apa hubunganmu dengan Sasuke kini sudah tidak bersahabat? Sebelum kau meninggalkan Jepang kau sengaja tidak memberitahukan tentang keberangakatanmu padanya dan kau bahakan memintaku untuk tidak memberitahu siapapun tentang kepulanganmu." Ucap Shikamaru.

"Sudahlah, Shikamaru. Bagiku antara aku dan Sasuke kini sudah tidak ada persahabatan. Aku merusaknya dan itu tidak akan berubah." Ucap Naruto datar.

"Kau tahu, Naruto? Hinata–"

"Cukup! Hentikan pembicaraan ini!" Ucap Naruto memotong ucapan Shikamaru. "Aku akan melanjutkan hidupku seperti biasa tanpa ada beban yang selalu menghantuiku." Lanjut Naruto.

"Merepotkan." Ucap Shikamaru malas. "Aku ingin bilang bahwa Hinata sudah tidak besama Sasuke. Hubungan mereka seperti kakak dan adik." Batin Shikamaru.

Di sebuah kamar yang terlihat sangat feminim miliki seorang gadis. Terdapat tiga orang gadis tengah sibuk dengan sebuah gaun pernikahan tepatnya hanya seorang gadis yang sibuk dengan gaun pernikahan.

"Kau sudah sangat cantik dengan gaun ini, Ino. Hentikan wajah mengerikanmu. Apa kau masih belum puas dengan gaun yang di design Hinata?" ucap seorang gadis dengan malas. Sakura. Sakura merasa aneh dengan sahabatnya yang tingkahnya sangat heboh.

"Aku merasa sangat senang, Sakura! Terimakasih, Hinata." ucap Ino berpose di depan cermin melihat tampilan dirinya. Lalau memeluk Hinata.

"Syukuralah. Aku senang kalau kau suka dengan gaun itu." Ucap suara lembut dari seorang gadis bersurai Indigo. Hinata.

"Hinata, apa kau masih menunggunya?" Tanya Ino dengan wajah menyendu. Ia kini sudah tahu semua yang terjadi antar Hinata, Sasuke dan Naruto.

Hinata menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Aku selalu menunggunya, Ino-san. Ini salahku, aku tidak keberatan jika memang ia telah melupakan perasaannya padaku. Mungkin ia sekarang tidak ingin melihatku lagi, tetapi setelah kepergiannya, dia selalu hadir dalam pikiranku hingga aku sadar bahwa aku begitu mencintainya meski aku tidak pernah melihatnya hampir 5 tahun ini. Sasuke-kun selalu mendukungku untuk selalu mengikuti kata hatiku. Hiks… aku tidak boleh menangis hiks… i-ini kan hiks… hari se-sebelum hiks… hari ba-bahagia, Ino-san." Ucap Hinata dengan lirih dan berakhir dengan Hinata yang menangis.

Ino yang sebelumnya memberi pertanyaan pada Hinata ikut merasakan apa yang Hinata rasakan. Ino memeluk Hinata erat dan mengusap punggungnya. Sakura pun ikut memeluk Hinata yang tengan menangis.

"Hinata maafkan aku yang bertanya seperti itu." Ucap Ino masih memeluk Hinata. Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'.

"Bersabar dan percayalah, Hinata. Apa kau tahu betapa Naruto mencintaimu? Meski ia pergi tatapi ia tetap pergi membawa cintanya padamu dihatinya. Kau harus ingat itu." Ucap Sakura masih dengan memeluk Hinata.

Flashback.

Satu hari sebelum hari keberangkatan Naruto menuju Virginia. Hinata menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa walau perasaannya masih campur aduk pada masalah yang menyerang hati dan pikirannya. Dihatinya ia sudah mengetahui siapa seseorang yang tengah mengisi, tetapi pikirannya masih terus menyangkal apa yang hatinya inginkan. Hinata berjalan dengan tatapan kosong memikirkan sebuah hubungan antara dirinya, Sasuke dan Naruto.

Hinata POV.

Hari ini entah apa yang aku rasakan, aku merasa bingung dengan semua ini. Kenapa permasalahan ini harus terjadi padaku. Aku tidak ingin merusak persahabatan Naruto-kun dan Sasuke-kun.

Aku berjalan menuju kelas. Sebelumnya aku telah melihat jam yang sudah menunjukan 8.55. 5 menit lagi kelas akan dimulai. Namun entah apa yang terjadi padaku, kedua kakiku membawaku pada taman belakang. Aku berjalan menuju kolam ikan, aku duduk dengan menekuk kedua kakiku dengan arah yang sama. Aku hanya memandangi ikan di kolam dengan tatapan kosong.

Tempat ini, tempat ini adalah tempat aku sering berbincang dengan Naruto-kun, tempat ini adalah tempat favorit Naruto-kun. Di tempat ini aku sering merasakan senyum hangat Naruto-kun, walau senyumnya terasa berbeda dengan senyumannya saat masih bersekolah di Konoha Gakuen tetapi senyum itu tetap hangat. Ini salahku, karena sifatku ini aku salah mengartikan perasaan, karena sifatku ini aku menyakiti dua orang sekaligus dan karena sifatku ini aku merusak sebuah hubungan persahabatan.

"Hiks… hiks… i-ini hiks… salahku." Aku bergumam. Aku kembali menangis, sudah semalam aku menangis dan kini aku kembali menangis. Kenapa air mataku tak kunjung habis?

"Hinata?" sebuah suara mengalihkan pikiranku. Dengan cepat aku menghapus air mataku lalu aku menoleh.

Hinata POV. End.

Hinata menoleh dan mendapatkan seorang gadis bersurai soft pink tengah menatapnya sendu.

"Ada apa denganmu, Hinata?" Tanya Sakura.

"Sa-sakura-san?" ucap Hinata sambil memaksakan senyum.

"Hinata, mau bercerita?" Tanya Sakura.

Sakura berjalan mendekati Hinata lalu duduk di sebelah kiri Hinata dan ikut memandangi ikan yang ada di kolam.

Hinata diam dan menunduk. Ia bingung apakah ia harus bercerita atau harus memendam apa yang ia rasakan sendirian.

"Jika kau bercerita mungkin itu akan meringankan beban pikiranmu, Hinata." ucap Sakura sambil tersenyum.

"A-apa Sa-sakura-san ingin mendengar ceritaku?" Tanya Hinata terbata.

"Tentu. berceritalah, Hinata." jawab Sakura sambil tersenyum.

"Sa-sakura-san, a-apakah kau pernah merusak per-persahabatan?" Tanya Hinata.

"Tidak pernah." Jawab Sakura. Sakura mulai menyadari kemana pembicaraan ini akan berlanjut, ia tidak ingin memaksa Hinata mengelurakan apa yang ada di hati dan pikirannya dengan Hinata yang menceritakannya jadi Sakura akan memberi pertanyaan untuk membantu Hinata menceritakan ini hati dan pikirannya.

"Bolehkah, aku bertanya, Hinata?" Tanya Sakura.

"Uhm." Anggukan lemah Hinata menyetujui pertanyaan Sakura.

"Hmm. Sebelumnya. Apakah kau mencintai Sasuke-kun?" Tanya Sakura hati-hati.

Hinata diam, sesungguhnya ia masih bingung dengan perasaannya pada Sasuke. Ia nyaman bersama dengan Sasuke. Dan yang membuatnya semakin bingung dengan perasaannya karena ia seperti merasakan mendiang kakaknya –Neji- pada diri Sasuke namun Hinata lebih memilih bungkam karena tidak ingin menyakiti Sasuke.

"A-aku kini ti-tidak tahu. A-aku me-merasa seperti bersama de-dengan mendiang kakakku. A-aku merasa di lindungi sa-saat bersamanya." Ucap Hinata. Sakura pun dibuat bingung dengan jawaban Hinata. Sakura sudah tahu bahwa Hinata dan Sasuke sudah lama menjalin hubungan.

"L-lalu selama ini apa kau salah mengartikan perasaanmu, Hinata?" Tanya Sakura hati-hati dengan pertanyaannya.

"I-ini memang hiks… sa-salahku…" ucap Hinata. air mata kembali mengalir dari matanya dan membasahi pipinya.

"Kau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya untuk tidak menyakiti Sasuke-kun?" Tanya Sakura yang dibalas dengan anggukan lemah Hinata.

"Lalu bagaimana perasaanmu pada Naruto-kun, Hinata?" Tanya Sakura ingin mengartikan perasaan yang ada pada Hinata untuk Naruto dan untuk Sasuke.

Hinata diam sesegukan dan menunduk, Ia bingung bagaimana perasaannya pada Naruto. Jujur ia merasa nyaman, tenang dan bahagia bila sedang bersama Naruto, ia pun merasa hangat bila melihat senyum Naruto.

"A-aku hiks… ti-tidak tahu, Sa-sakura-san hiks… a-aku merasa nyaman,tenang ter-terlindungi, hiks… bahagia bi-bila bersama Na-naruto-kun hiks… dan hiks… dan a-aku merasa ha-hangat bi-bila hiks… melihat senyum Na-naruto-kun. hiks… i-itu ber-berbeda dengan yang hiks… a-aku rasakan sa-saat bersama Sa-sasuke-kun hiks…" ucap Hinata sambil menangis. Sakura mengelus punggung Hinata untuk memenangkan Hinata.

"hiks… wa-walau waktu yang hiks… a-aku ha-habiskan le-lebih ba-banyak bersama de-dengan hiks… Sa-sasuke-kun, te-tetapi i-itu berbeda hiks… a-aku me-merasa le-lebih bahagia dan a-aku hiks… hiks…" ucap Hinata kembali menangis sesegukan tidak melanjutkan ucapannya.

Sakura kini memeluk Hinata dan mengusap punggung Hinata.

"Kau mencintai Naruto-kun, Hinata. Perasaanmu pada Sasuke-kun adalah perasaan adik pada kakaknya, kau salah mengartikan perasaanmu, Hinata." ucap Sakura sambil memeluk Hinata.

"Walau waktu yang kau habiskan dengan Sasuke-kun lebih banyak tetapi hatimu tetap memilih, Hinata." lanjut Sakura.

Sakura dapat merasakan Hinata mengangguk menyetujui ucapan Sakura. Hinata terus teringat dengan Naruto. Dalam pikirannya ia akan mengikuti kata hatinya dan membiarkan hatinya yang membuktikan bahwa ia mencintai Naruto.

Dihari keberangkatan Naruto menuju Virginia, Sakura berjalan menuju kelasnya melewati ruang senat.

"Sudah jam 8.35 sebaiknya aku segera kekelas untuk menyiapkan kuis nanti." Gumam Sakura. Tetapi Sakura berhenti saat tidak sengaja mendengar ucapan Shikamaru saat sedang menelepon seseorang.

"APA? Kau pagi ini akan berangkat?" ucap Shikamaru terkejut dengan ucapan seseorang dari ponselnya dengan cukup keras membuat Sakura yang berjalan di depan ruang senat yang pintunya agak terbuka berhenti berjalan.

"…"

"Baiklah, aku akan segera ke Konoha Airport. Jam berapa pesawatmu akan take-off, Naruto?" Tanya Shikamaru. Ternyata yang sedang berbicara dengan Shikamaru adalah Naruto.

"Kau gila! Itu 25 menit lagi!? Aku akan segera kesana." Ucap Shikamaru menutup telepon dan berjalan keluar ruangan.

Sakura yang sepat mendengar ucapan Shikamaru sempat terkejut lalu ia segera menyadarkan dirinnya.

"Apa? Secepat ini dia akan pergi? Sebaiknya aku memberitahu Hinata." batin Sakura terkejut.

Sakura dengan cepat pergi mencari Hinata. Perlu waktu 5 menit untuk Sakura mencari Hinata yang ternyata masih berada di taman belakang.

"Hinata. .hah. Naruto, Naruto!" ucap Sakura terangah-engah.

"Ada apa dengan Naruto-kun, Sakuran-san?" Tanya Hinata bingung.

"Dia akan meninggalkan Jepang sekarang!" ucap Sakura.

"A-apa?" ucap Hinata tidak menyangka bahwa secepat ini Naruto akan pergi.

"Hinata, bukan saatnya kau menangis, cepat susul dia. Jangan cengeng dulu Hinata." Ucap Sakura pedas yang melihat Hinata mengeluarkan air mata.

Hinata dan Sakura segera keluar menuju depan Konoha University untuk menunggu taxi. Sesampainya di depan Konoha University tak ada taxi satu pun yang melintas. Sebuah mobil sedan berwarna ungu berhenti tepat di depan Sakura dan Hinata. kaca mobil itu terbuka dan memperlihatkan si pengemudi mobil. Seorang gadis blonde cantik beriris ocean blue.

"Sakura, Hinata? kenapa kalian berada disini?" Tanya Ino.

"Naruto, akan segera pergi meninggalkan Jepang, Ino." jawab Sakura.

"APA? Secepat ini? Kalau begitu masuklah, aku akan mengantar kalian." Ucap Ino. Sakura dan Hinata segera masuk kedalam mobil Ino.

"Arigato, Ino-san." Ucap Hinata setelah duduk di kursi belakang dan Sakura duduk di kursi depan. Mata Hinata sembab habis menangis.

"Aku tidak menyangka dia akan secepat ini meninggalkan Jepang setelah mengetahui dia akan meninggalkan Jepang dengan menguping pertengkarannya bersama Sasuke di rumah sakit" ucap Ino masih merasa terkejut.

"Sudahlah, Ino. jangan banyak bicara, lebih baik kau fokuskan laju mobilmu." Ucap Sakura.

"Baiklah, Jidat." Ucap Ino kesal yang dibilang banyak bicara.

"Fokuslah gendut." Ucap Sakura.

Perjalanan menuju Konoha Airport tidak memakan waktu yang banyak karena jalanan terasa sepi. Kini mereka sudah sampai. Mereka bertiga berjalan masuk kedalam mencari-cari sosok Naruto atau Shikamaru yang sudah berangkat lebih dulu.

"Sekarang, jam 8.55 aku harap Naruto belum naik pesawatnya." Ucap Sakura. Hinata hanya diam memikirkan pantas atau tidaknya ia melarang Naruto pergi. Sejujurnya Hinata tidak ingin Naruto pergi.

"Itu Shikamaru-kun!" tunjuk Hinata yang melihat Shikamaru yang sedang mengobrol dengan orang tua Naruto dari jauh.

Shikamaru POV.

Hah~ semoga si bodoh itu berhasil, menyebalkan bila selalu melihatnya bersedih.

"Shikamaru, apa kau membawa kendaraan? Jika kau tidak membawa kendaraan pulanglah bersama kami." ucap paman Minato.

"Arigato, aku membawa kendaraan, Ji-san." Ucapku sopan.

"Baiklah, kalau bergitu kami pamit lebih dulu." Ucap paman Minato.

"Hati-hati, Shikamaru-kun jangan mengebut bila membawa kendaraan." Ucap bibi Kushina

Hah, karena siapa aku tadi mengebut. Karena si bodoh itu yang memberi kabar sangat mendadak.

"Ha'I, Ba-san." Ucapku dengan sopan.

Aku melihat paman Minato dan bibi Kushina yang berbalik dan pergi karena tempatku memarkir mobil berbeda tempat dengan paman Minato. Aku pun berbalik lalu berjalan menuju parkiran. Aku berjalan dengan santai pikiranku masih tertuju pada sahabatku. Apa ia akan sukses?

"Ingat Shikamaru, jangan memberi kabar tentang Hinata dan beritahu kabarku pada siapa pun karena hanya padamu akan memberi kabar."

Apa-apaan itu, dia ingin menghilang dari Hinata? hah~ kata-katanya memang merepotkan.

"Shikamaru!" aku mendengar seseorang memanggilku. Aku menoleh dan melihat Sakura, Ino dan HINATA? apa yang dilakukannya disini?

"Apa pesawat yang dinaiki Naruto sudah take-off?" Tanya Sakura padaku.

"Hei, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau Naruto akan berangkat hari ini?" Tanya Ino cepat padaku.

"Hah~ ini memang merepotkan. Ia sudah take-off sekarang." Ucapku sambil menunjuk sebuah pesawat yang di naiki Naruto tangah take-off.

"APA!?" ucap Sakura sangat terkejut sepertinya.

"Hah~ aku saja baru mendapat kabar 25 menit sebelum dia take-off." Ucapku setelah menghela nafas. Aku mengarahkan pandanganku menuju Hinata yang tengah menunduk. Aku dapat melihat ada tetesan air yang membashi lantai tepat di bawah Hinata. Apa dia menangis?

"Jika kalian bertanya padaku kapan ia akan pulang aku tidak tahu." Ucapku bohong, tentu aku akan tahu kapan ia akan pulang karena hanya padaku Naruto akan memberi kabar.

Shikamaru POV. End.

Flashback Off.

Shikamaru mengantar Naruto sampai pada depan gedung apartemennya, Naruto masih berdiri di samping mobil Shikamaru dengan sebuah koper di dekatnya dan sebuah tas ransel di punggungnya.

"Hei, Shikamaru, apa kau tidak ingin mampir?"ajak Naruto.

"Aku tidak bisa sekarang, aku ada pekerjaan." Ucap Shikamaru dari dalam mobil.

"Baiklah. Terimakasih, Shikamaru." Ucap Naruto sambil tersenyum. Shikamaru pun melajukan mobilnya menunggalkan Naruto.

"Hah, sebaiknya aku segera menghubungi jasa pembersih apartemen pasti apartemenku banyak debu." Gumam Naruto.

Naruto kini sedang berjalan menuju bengkel Inuzuka Motor tempat motor sportnya berada setelah menaruh barang bawaannya dan menghubungi jasa pembersih apartemen. Sesampainya disana Naruto bertemu dengan pemiliki bengkel motor.

"Kiba!" panggil Naruto dengan semangat.

"Hoi. Naruto, kemana saja kau 5 tahun ini?" Tanya Kiba.

"Aku menyelesaikan pendidikanku, Kiba." Jawab Naruto.

"Sepertinya bengkel ini bertambah luas ya." Ucap Naruto sambil melihat-lihat sekeliling.

"Hahaha. Tentu, ini adalah bengkel tersukses di Konoha." Ucap Kiba bangga.

"Hahaha. Kiba, bagaimana dengan kekasihku? Apa kau selalu merawatnya selama 5 tahun ini?" Tanya Naruto.

"Tentu, aku merawatnya. Awalnya aku sangat prihatin dengan kondisinya yang hancur setelah kau mengalami kecelakaan. Ikut aku" Ucap Kiba. Kiba berjalan menuju dalam garasi. Naruto mengekori Kiba.

"Ini dia kekasihmu, Naruto." Ucap Kiba memperlihatkan motor sport Naruto.

"Hoaahh! Ini seperti baru, Kiba!" ucap Naruto senang melihat motor sportnya mengkilat dengan gagahnya dan ditambah dengan sedikit corak api merah pada bagian samping.

Naruto segera menghampiri motor sportnya memperhatikan lebih dekat. Seusai dari bengkel, Naruto segera membayar Kiba untuk perawatan dan perbaikan motor sportnya. Lalu Naruto pergi kerumah orang tuanya untuk memberi kejutan.

Hari pernikahnan Ino pun tiba. Pelaksanaan janji suci antara Sai dan Ino telah terucap di atas altar disebuah gereja kecil yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Yamanaka tempat pesta perayaan pernikahan Sai dan Ino.

Disana sudah ada banyak tamu undangan yang datang. Sebuah pesta yang meriah. Terpancar banyak wajah bahagia disana. Namun ada seorang gadis yang merasa kebahagianya tak cukup lengkap. Ia sedang duduk berdiam diri di tepi kolam ikan di kediaman Yamanaka. Seorang gadis bersurai indigo bermata amethyst. Hyuga Hinata.

Hinata kini mengenakan sebuah gaun tanpa lengan berwarna lavender dengan simpul pada bagian dadanya.

"Hinata, kenapa kau melamun? Apa kau kurang sehat?" Tanya seorang gadis bersurai soft pink yang mengenakan sebuah gaun berwarna merah tanpa lengan.

"Aku tidak apa, Sakura-san." Ucap Hinata sambil tersenyum.

"Kau memikirkannya?" Tanya Sakura seolah mengerti apa yang dirasakan Hinata.

"Tidak, Sakura. Sepertinya aku hanya kelelahan karena harus mendesign sebuah pesanan semalam." Bohong Hinata.

"Kalau begitu biar aku ambilkan kau teh hangat, Hinata." ucap Sakura.

"Jangan mengucapkan kata lagi. Aku sudah melihat mulutmu yang ingin melarangku mengambilkan teh untukmu." Lanjut Sakura saat Hinata ingin mengucapkan sebuah kalimat untuk menolak.

Sakura pun pergi meninggalkan Hinata untuk mengambilkan segelas teh hangat untuk Hinata.

Sebuah mobil mewah keluaran produsen mobil ternama masuk kedalam kediaman Yamanaka. Mobil berwarna biru yang sengaja tak di tutup pada bagian atapnya. Di dalam mobil tersebut terdapat dua orang bersurai pirang namun salah satunya bersurai pirang pucat.

"Hah~ kenapa Kaa-san melarangku menggunakan kendaraanku sendiri?" gerutu Naruto di sambil mengemudikan mobilnya masuk dalam kediaman Yamanaka.

"Sudahlah, Naruto-kun. Kushina Ba-san tidak ingin kau mengalami kecelakaan kembali." Ucap Shion.

"Iya. Iya. Oya, apa kau serius Menma tidak akan marah bila istrinya pergi bersamaku menghadiri pernikahan? Aku lupa bertanya itu padamu." Tanya Naruto pada Shion.

"Aku sudah meminta izin pada Menma-kun, Naruto-kun. Lagi pula dia tidak akan marah bila yang aku pergi bersama sepupunya." Ucap Shion sambil tersenyum.

Flashback.

Naruto memasuki kediaman orang tuanya dengan menggunakan motor sportnya yang sudah ia tinggal selama 5 tahun. Saat Naruto memarkirkan motornya seorang wanita bersurai merah bersama seorang gadis besurai pirang pucat melihat Naruto memarkirkan motor sportnya.

"Naru?" ucap Kushina.

"Tadaima Kaa-san." Ucap Naruto saat mendengar suara ibunya dengan semangat dan dengan cengirannya.

Naruto segera menghampiri ibunya dengan maksud ingin memeluknya namun…

Pletak.

"Itte!" pekik Naruto memegangi kepalanya.

"Kenapa Kaa-san memukulku?" Tanya Naruto. Kushina tidak langsung menjawab melainkan memeluk erat putranya sematawayangnya.

"O-okaeri, Naru." Ucap Kushina.

"Itu karena kau menggunakan motor sportmu Naruto-kun, maka dari itu Kushina Ba-san memukulmu." ucap Shion. Kushina melepas pelukannya.

"Shion, kau ada disini? Dimana Menma?" Tanya Naruto pada Shion istri dari sepupunya. Namikaze Menma.

"Menma-kun sedang melaksanakan sebuah proyek bersama Minato Ji-san yang akan selesai tiga hari lagi, Naruto-kun." Jawab Shion.

"Hm. Begitu. Kaa-san, besok aku akan menghadiri pernikahan temanku. Apakah kaa-san bisa datang denganku?" ucap Naruto.

"Kaa-san tidak bisa untuk besok, Naru. Kaa-san besok juga sudah ada jadwal ke Osaka. Sebaiknya kau mengajak Shion." Ucap Kushina.

"Baiklah, Shion apa kau mau?" Tanya Naruto.

"Baiklah." Jawab Shion sambil tersenyum.

"Naruto. Kaa-san tidak akan mengizinkanmu pergi bila kau menggunakan motor sportmu! Kau harus menggunakan mobilmu!" Ucap Kushina.

"Eh? Nani? Mobilku?" ucap Naruto bingung pasalnya selama ia di Jepang ia sama sekali tidak memiliki mobil.

"Iya, Tou-sanmu memberikanmu mobil. Mobil itu adalah hadiah kerjasama Tou-sanmu dengan produsen mobil. Tou-sanmu memberikannya untukmu, Naru." Ucap Kushina.

"Hah~ Arigato, Kaa-san. Sepertinya aku harus siap dengan macet bila menggunakan mobil." Gumam Naruto.

Flashback. Off.

Setelah Naruto dan Shion turun dari mobil. Mereka segera menuju tempat kedua mempelai. Naruto berjalan agak cepat sehingga Shion tertinggal dibelakangnya. Menyadari itu Naruto menghampiri Shion dan menggandeng tangannya.

"EH." Pekik Shion.

"Seperti kita semasa kecil." Ucap Naruto.

"Uhm." Shion mengangguk setuju. Memang Naruto dan Shion sudah saling kenal sejak mereka kecil namun pada saat remaja Shion memiliki perasaan pada Naruto. Shion menyatakan perasaannya pada Naruto namun Naruto menolaknya dengan halus karena ada seorang gadis yang telah mengisi hatinya.

"Jika kau dulu tidak menolakku mungkin kita akan seperti ini selamanya." Ucap Shion bercanda.

"EH? Apa selama ini kau masih memiliki perasaan padaku?" ucap Naruto dan melepaskan tangan Shion.

"Tentu saja tidak, Baka! Kalau aku masih memiliki perasaan padamu aku masih belum menikah sekarang ini." Ucap Shion kesal karena kebodohan Naruto.

"Ehehehe. Begitu. Gomenasai." Ucap Naruto kikuk.

"Ayo, kita segera masuk." Ucap Naruto kembali menggandeng Shion.

Hinata dan Sakura kini sedang berjalan menuju tempat Ino dan Sai untuk mengobrol obrolan ringan untuk mengalihkan pikiran Hinata saat ini. Sesampainya disana ternyata sudah ada Uciha Sasuke dan Nara Shikamaru yang sedang mengobrol bersama pengantin baru. Sasuke tengah mengenakan sebuah jas berwarna hitam dengan kemeja putih berdasi merah didalamnya dan Shikamaru mengenakan jas berwarna abu-abu dengan kemeja putih dan dasi berwarna merah.

"Ini hadiah pernikahan dariku." Ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. Sasuke menyerahkan sebuah tiket bulan madu ke Bali.

"Terimakasih." ucap Ino dan Sai.

"Hn." Gumam ambigu Sasuke dengan sedikit senyum.

"Hadiah pernikahan dariku." Ucap Shikamaru juga menyerahkan tiket bulan madu ke Paris.

"Tiket itu bisa kau gunakan kapan saja sebelum masanya habis 5 tahun lagi." Lanjut Shikamaru.

"Terimakasih, Shikamaru." Ucap Ino dan Sai.

"Sasuke-kun kau datang? Aku kira kau sibuk dengan urusan Uciha Corp." ucap Sakura. Sakura kini sedang dekat dengan Sasuke.

"Aku hanya memiliki sedikit waktu yang aku gunakan untuk ini, Sakura." Ucap Sasuke tersenyum tipis.

Sasuke melihat kearah Hinata yang hanya diam.

"Hinata, apa kau kurang sehat?" Tanya Sasuke.

"Aku–"Ucapan Hinata terhenti kala melihat seorang laki-laki yang selalu hadir dalam pikirannya.

"Naruto-kun." gumam Hinata tanpa sadar.

Mereka semua kini mengarahkan pandangannya menuju arah pandang Hinata. Mereka mendapati Naruto yang berjalan dengan tenang sambil menggandeng seorang gadis cantik bersurai pirang pucat. Naruto mengenakan sebuah jas berwarna putih dengan kemeja tanpa dasi lalu Shion mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan, rambutnya di sangul dan menampakkan leher jenjangnya. Naruto dan Shion berjalan dengan santai dengan tangan saling bertautan menuju Ino dan Sai.

"Hai semua." Sapa Naruto dengan semangat mencoba menyembunyikan perasaannya kala melihat Hinata.

"Naruto!?"

TBC

Terimakasih sudah membaca. terimakasih untuk yang menyempatkan review. terimakasih untuk yang memberikan pendapat bagus tidaknya fic ini. maaf authornya tidak bisa membalas di PM atau pun membalas di dalam chapter.

Author mau melaksanakan UTS jadi maaf bila 2 minggu kedepan Author gak publish dan membuat chapter selanjutnya.