Cerita Sebelumnya
Mereka semua kini mengarahkan pandangannya menuju arah pandang Hinata. Mereka mendapati Naruto yang berjalan dengan tenang sambil menggandeng seorang gadis cantik bersurai pirang pucat. Naruto mengenakan sebuah jas berwarna putih dengan kemeja tanpa dasi lalu Shion mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan, rambutnya di sangul dan menampakkan leher jenjangnya. Naruto dan Shion berjalan dengan santai dengan tangan saling bertautan menuju Ino dan Sai.
"Hai semua." Sapa Naruto dengan semangat mencoba menyembunyikan perasaannya kala melihat Hinata.
"Naruto!?"
.
More Than Sincerity And Honesty
Masashi Kishimoto
Rate : T semi M
Warning : AU, OOC, No EYD, ABAL, Pasaran.
Hurt/Comfort/Romance
.
Chapter 9
.
Hinata POV.
Aku saat ini tengah berkumpul dengan teman-teman satu universitasku. Tetapi entah mengapa kepalaku agak sedikit pusing, mungkin karena aku kelelahan saat mendesain sebuah gaun pesanan semalaman.
"Hinata apa kau kurang sehat?" Tanya Sasuke-kun padaku, aku akui setelah hubunganku dengannya berakhir aku berpikir bahwa ia akan menjauh dariku namun pikiranku salah. Ia tetap berada didekatku dan menjadi sosok kakak untukku.
"Aku–" ucapanku terhenti, aku melihat seorang laki-laki yang selalu hadir dalam pikiranku. Jujur saja aku merasa senang saat melihatnya namun aku juga merasakan sesak di dadaku saat melihatnya tidak sendiri. Ia datang bersama seorang gadis cantik bersurai pirang pucat dengan bergandengan tangan, harus aku akui mereka terlihat serasi. Ia mengenakan sebuah jas berwarna putih dengan kemeja tanpa dasi lalu gadis yang digandeng olehnya mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan. Aku bisa merasakan mataku terasa panas dan kepalaku kini bertambah pusing.
"Naruto-kun?" ucapku tanpa sadar.
"Naruto!?"
"Ada apa? Kalian seperti sedang melihat hantu?" Tanya Naruto-kun sambil berjalan mendekat kearah kami dengan heran ketika melihat raut wajah terkejut saat melihatnya.
"Ka-kau sungguh Naruto?" ucap Sakura-san masih dengan raut wajah terkejut.
"Tentu saja ini aku." Ucap Naruto-kun pada Sakura-san lalu memandang satu persatu kearah kami yang terkejut melihatnya.
"Ino, Sai. Selamat atas pernikahan kalian, maaf bila aku tidak bisa memberi hadiah pernikahan untuk kalian sekarang." Ucap Naruto-kun pada Ino-san dan Sai-san.
Kepalaku seperti berputar-putar lalu mataku terasa panas dan kini pandangan mataku sudah memburam dengan air mata.
"Terimakasih, Naruto. Aku senang kau datang." Ucap Ino-san dengan senyumnya.
"Naruto, siapa dia? Pakaian kalian serasi sekali." Ucap Sai-san dengan senyum aneh.
Kepalaku semakin terasa pusing, aku kini dapat merasakan kesadaranku akan segera hilang, pandangan mataku yang sebelumnya memburam karena air mataku kini menjadi terlihat seperti kunang-kunang.
"Dia adalah Namikaze Shion. Dia adalah istri–" 'Istri?' Aku masih bisa mendengar ucapan Naruto-kun lalu badanku terasa melayang dan aku...
Hinata POV. End.
"Hinata!" ucap Sakura lalu menyangga tubuh Hinata yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sakura menaruh tangannya pada dahi Hinata.
"Hinata!" ucap Naruto panik lalu langsung mendekat kearah Hinata yang tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengannya?" Tanya Sasuke panik melihat seseorang yang dia anggap adik kini tidak sadarkan diri. Mereka agak mendekat untuk mengetahui keadaan Hinata.
"Kami-sama, badanya panas." Ucap Sakura.
"Bawa dia kedalam!" ucap Ino panik.
Sasuke mengangkat tubuh mungil Hinata menuju kamar tamu di kediamaman Yamanaka. Mereka mengikuti Sasuke yang membawa Hinata, khawatir dengan keadaan Hinata.
Sesampainya disebuah kamar yang cukup luas dengan sebuah ranjang berukuran king size Sasuke langsung membaringkan tubuh Hinata dengan hati-hati lalu segera menyelimuti tubuh Hinata dengan selimut.
"Sakura, tolong periksa Hinata." pinta Sasuke pada Sakura. Sakura mengangguk lalu mendekat kearah Hinata yang tengah berbaring.
"Naruto, bisa kita bicara sebentar." Ucap Sasuke datar pada Naruto yang sedang bersandar pada dinding dengan tatapan datar juga menatap Sasuke.
"Baiklah. Shion, tunggulah disini, bersama Shikamaru. Kau masih mengingat Shikamaru kan?" ucap Naruto pada Shion. Shion hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Shikamaru, tolong temani Shion." Ucap Naruto pada Shikamaru.
"Hah. Ya." Ucap Shikamaru dengan malas.
"Ino, aku pinjam atap rumahmu untuk berbicara dengannya." Ucap Sasuke datar.
"I-iya." Ucap Ino heran dengan Sasuke.
Sasuke berjalan dengan tenang di ikuti Naruto yang berjalan dengan tenang di belakangnya. Mereka berjalan dalam keheningan, hanya ada suara langkah kaki mereka yang mengiring mereka menuju atap rumah kediaman Yamanaka.
Sesampainya disana mereka masih berdiam diri. Naruto melihat Sasuke dengan tatapan datar begitu pun sebailiknya. Mereka saling melihat seperti orang asing.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan. Sasuke." Ucap Naruto sedikit memberi jeda untuk menyebut nama Sasuke.
"Shion adalah istrimu?" Tanya Sasuke datar menatap mata sapphire Naruto. Sasuke mengetahui siapa itu Shion, Ia juga mengetahui Shion juga menyukai Naruto.
"Bukan, dia istri sepupuku. Menma." Jawab Naruto datar menatap mata onyx Sasuke.
"Kenapa kau pergi tanpa memberikan kabar sedikit pun?" Tanya Sasuke datar.
"Aku pergi tidaklah penting. Aku hanya ingin menghilang sesaat dan melupakan." Ucap Naruto datar dan mengalihkan pandangan matanya menatap langit yang kini menggelap.
"Hinata dan aku–"
"Cukup! Jangan kau bahas itu." Ucap Naruto memotong ucapan Sasuke. Sasuke terlihat geram dengan apa yang dilakukan Naruto.
"Kau tidak pernah berubah, kau masih bodoh seperti dulu dan setelah kau menghilang sepertinya kebodohanmu tetap tidak menghilang." Ucap Sasuke dengan sinis.
"Jika kau berbicara denganku hanya untuk menghinaku sebaiknya setelah kau melihat Hinata-mu sadarkan diri dari pingsannya." Ucap Naruto lalu berbalik pergi meninggalkan Sasuke yang tengah geram dengan sikap Naruto.
"Naruto." Panggil Sasuke lalu berjalan kearah Naruto yang berhenti karena panggilannya.
Bugh
Sasuke memukul pipi kiri Naruto dengan tangan kanannya sampai Naruto tersungkur di lantai. Sasuke memukul Naruto saat Naruto berbalik untuk menghadapnya.
Brukh
"Cih." Naruto berdecih lalu berdiri tanpa membersikan darah yang mengalir di sudut kiri bibirnya dan mengotor jas putihnya.
"Kau menginginkannya, Sasuke." Ucap Naruto datar.
Bugh
Naruto membalas memukul Sasuke tepat di posisi yang sama Sasuke memukulnya. Sasuke tersungkur lalu segera berdiri.
Brukh
"Pukulanmu masih seperti dulu ya." Ucap Sasuke datar lalu mengelap darah yang mengalir dari sudut kiri bibirnya.
"Berhentilah membuatku seperti orang ketiga dianatara kau dan Hinata. Kau tahu apa yang selalu aku lakukan dengan semua masalah ini? Aku selalu mencoba untuk jujur untuk semuanya dan menerima dengan tulus dalam menjalani semua ini. Mencintai kekasih sahabtku sendiri. Sahabat yang sudah aku kenal selama hampir sepanjang hidupku. Ah. Sahabat? Ya, sahabat." Naruto berhenti sejenak untuk menghela nafasnya.
"Tetapi butuh lebih dari sebuah kejujuran untuk mengungkapkannya dan butuh lebih dari sebuah ketulusan untuk menerimanya." ucap Naruto datar dan penuh penekanan. Ia tidak ingin membuang tenaganya dengan berteriak untuk mengucapkannya dan tidak ingin ada yang tahu tentang perkelahian yang terjadi ditempatnya berada antara dirinya dan Sasuke. Naruto berbalik untuk meninggalkan Sasuke.
"Bodoh! Aku dan Hinata sudah tidak memiliki hubungan seperti yang kau kira." Ucap Sasuke memberi sedikit jeda. Naruto berdiri mematung tanpa melihat kearah Sasuke.
"Dia kini sudah seperti adik bagiku. Dia selalu memikirkanmu selama kau pergi tanpa kabar." Lanjut Sasuke.
"Dia mencintaimu, Dobe." Ucap Sasuke dengan memanggil Naruto dengan panggilan sahabatnya.
Keadaan menjadi hening tidak ada satupun dari mereka yang memecah keheningan, hanya ada suara angin dan suara orang-orang yang menikmati pesta pernikahan Ino dan Sai di taman kediaman Yamanaka.
"Temui aku jam 11 di Kurama Caffe. Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku sesaat." Ucap Naruto memecah keheningan. "Teme." Batin Naruto.
Terpatri sebuah senyum tipis pada wajah Sasuke. Naruto kembali berjalan meninggalkan Sasuke diatap kediaman Yamanaka yang besar dan mewah. Ia berjalan dengan tenang lalu mengusap darah yang keluar dari sudut kiri bibirnya dengan tangan kirinya.
Naruto POV.
Kini aku sedang menuruni tangga, berjalan menuju tempat Shion berada. Aku melihat kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
"Jam 7 malam, sebaiknya aku segera pulang, aku harus menenjernihkan pikiranku." Gumamku.
Aku kini berada di depan kamar dimana Hinata terbaring. Aku segera masuk kedalam kamar inap tamu namun tak ada satu pun temanku berada disini, hanya ada Hinata yang tertidur dengan wajah damainya dan dengan sebuah handuk kecil mengompres dahinya. Aku menghampiri Hinata. Aku melihat wajahnya yang damai saat tertidur. Cantik. Hanya itu yang ada dipikiranku.
Aku kini mengambil sebuah handuk kecil di dahi Hinata yang digunakan untuk mengompresnya. Aku mengambil handuk itu lalu membasahi handuk itu dengan air dalam wadah yang sudah disediakan untuk mengompres Hinata lalu memerasnya dan kembali menaruhnya di dahinya.
"Apa benar kau mencintaiku, Hinata?" ucapku sambil membelai lembut sebelah pipinya.
Aku segera berbalik untuk mencari Shion lalu pulang.
"Na-ru-to-kunh." Aku mendengar suara lirih menyebut namaku. Itu suara Hinata.
Aku segera berbalik saat hendak membuka pintu saat mendengar suara Hinata. Terlihat olehku Hinata yang masih memejamkan matanya. Beberapa detik aku melihatnya dan matanya masih tetap terpejam.
"Ternyata kau mengigau, Hinata." ucapku sambil tersenyum melihat wajah damainya lalu berbaik meninggalkan kamar ini.
Naruto POV. End.
…
…
Di sebuah kamar dari sebuah apartemen kini terbaring seorang laki-laki bersurai pirang di sebuah ranjang berukuran king size. Ia ingin sekali tertidur namun pikirannya membuatnya tidak tertidur. Ia memikirkan apa yang telah di ucapkan Uciha Sasuke sebelumnya.
Flashback
Di sebuah caffe yang cukup terkenal di distrik itu. Kurama Caffe. Dua orang laki-laki berada di sebuah meja yang terletak di roof top dari caffe itu. Laki-laki itu salah satunya bersurai blonde memiliki mata beriris sapphire yang mengenakan sebuah kemeja santai berwarna biru dan celan jeans panjang berwarna hitam, lalu laki-laki satunya bersurai raven dan beriris onyx yang juga mengenakan kemeja santai namun berwarna biru donker dan celana jeans hitam-Naruto dan Sasuke. Terlihat sangat canggung seprti teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu namun memang seperti itulah adanya. Mereka berdua memiliki sejarah hidup dalam kebersamaan mereka yang cukup panjang. Saling mengenal sejak taman kanak-kanak, satu sekals selama sekolah dasar, satu kelas saat sekolah menengah pertama, satu sekolah saat sekolah menengah atas dan sempat satu universitas selama hampir 2 tahun.
"Sebelumnya aku minta maaf padamu, Sasuke. Jadi bisakah kau lanjutkan sesuatu yang ingin kau bicarakan. Aku tahu kau masih memiliki sesuatu yang ingin kau bicarakan dan kau tanyakan." Ucap Naruto memandang Sasuke lalu mengalihkan pandangannya pada langit malam.
"Aku ingin bertanya beberapa pertanyaan mungkin untukmu, Naruto." Ucap Sasuke memberi jeda lalu menatap Naruto yang kini sedang mengaduk-aduk segelas kopi yang berada di depannya.
"Kenapa kau harus pergi dan tak memberi kabar? Apa bagimu aku bukan lagi sahabtamu? Dulu kaulah yang menyatakan kita ini bersahabat." Tanya Sasuke, Naruto kini menatap Sasuke.
"Saat itu aku pergi untuk melupakan perasaanku pada Hinata dan menghilang dari kalian berdua untuk memulai lembar baru dalam kehidupanku lalu kembali sebagai Namikaze Naruto yang semula. Untuk pertanyaanmu yang kedua." Ucap Naruto berhenti sejenak untuk menghela nafas, Naruto kini menatap Sasuke. "Pada awalnya aku memang menyebutmu sahabat tapi. Apa aku bisa disebut sahabat bila aku mencintai kekasih sahabatku?" ucap Naruto seperti pertanyaan masih dengan menatap Sasuke.
"Bagaimana pun kau adalah sahabatku dan akan tetap seperti itu." Ucap Sasuke. Naruto terkejut dengan ucapan Sasuke yang biasanya selalu 'masa bodoh'.
"Kau tahu, sehari sebelum kau meninggalkan Jepang. Aku bertanya pada Hinata, apakah dia mencintaiku?" ucap Sasuke berhenti sejenak.
"Aku melihat ia ragu untuk menjawabnya, ia telah salah megartikan perasaannya padaku, perasaannya padaku adalah perasaan seorang adik pada kakaknya. Sifatku ini mirip dengan sifat dari mendiang kakaknya dan ia terlalu takut untuk manyakitiku bila ia jujur padaku. Selama aku menjalin hubungan bersamanya ia tak pernah melihatku seperti ia melihatmu. Ia memang jarang menghabiskan waktu bersamamu namun rasa cinta di hatinya untukmu selalu tumbuh meski aku adalah kekasihnya saat itu dan di saat itu aku mengakhiri hubunganku dengannya agar ia bisa bahagia bersamamu namun kau pergi dan Hinata sempat mengejarmu ke bandara namun Hinata hanya bertemu dengan Shikamaru." Ucap Sasuke lalu mengalihkan pandanganya sesaat lalu kembali menatap Naruto.
"Ia mencintaimu Naruto, ia sangat mencintaimu meski kau telah pergi selama 5 tahun namun ia selalu memikirkanmu." Ucap Sasuke, Naruto hanya diam terpaku dan memikirkan apa yang dikatakan Sasuke.
"Ini adalah pertanyaan terakhirku, aku harap kau menjawabnya dengan jujur. Apa kau masih mencintai Hinata?" ucap Sasuke. Lalu meminum sedikit kopinya.
"Ya. Aku masih mencintainya dan tak pernah sedikit pun aku melupakannya 5 tahun ini." Ucap Naruto tanpa keraguan.
Sasuke tersenyum tipis lalu berdiri.
"Ungkapkanlah perasaanmu padanya. Bahagiakan dirinya dan jangan lupa jelaskan bahawa Shion bukan istrimu. Aku yakin sifatnya yang sensitif akan memikirkan bahwa Shion adalah istrimu." Ucap Sasuke.
"Aku percayakan dia padamu, Dobe." Batin Sasuke.
Sasuke berdiri lalu berbalik meninggalkan Naruto yang masih diam melihat punggung Sasuke.
"Arigato, Teme. Sahabatku." Batin Naruto. Dapat dilihat diwajah Naruto kini terdapa senyum tipis yang tulus untuk sahabatnya yang telah ia tinggal.
Flashback Off.
…
…
Namikaze Corp. salah satu perusahaan tersukes di Jepang. Namikaze Corp. adalah perusahaan yang bergerak di bidang pedagangan. Namikaze Corp. di pimpin oleh Namikaze Minato yang kini akan di serahkan pada anak tunggalnya yang bernama Namikaze Naruto yang kini berkerja sebagai IT di perusahaan itu.
Di sebuah ruangan yang cukup luas ada seorang laki-laki bersurai pirang tengah menatap sebuah kotak kecil berwarna merah maroon.
"Apakah aku harus menuruti permintaan Kaa-san segera?" gumamnya pelan.
Flashback
Pagi hari adalah awal segala aktifitas dimulai dan pagi hari jugalah waktu yang tepat untuk mengasup nutrisi kedalam tubuh. Di sebuah meja makan yang cukup besar dengan cukup banyak makanan yang tersaji untuk di santap. Di sana terdapat 3 orang yang tengah mengisi perutnya untuk tenaga memulai harinya.
"Naru, kau sudah berusia 24 tahun, apa kau sudah memiliki calon pendampingmu sendiri?" Tanya ibunya. Kushina.
"…" Naruto hanya diam sambil menyantap sarapannya. Kushina dan Shion hanya melihat Naruto yang acuh terhadap pertanyaan untuknya.
"Ba-san, mungkin Naruto-kun butuh sedikit waktu untuk memikirkan pernikahan. Selama ini ia selalu sibuk dengan belajar. Berikan Naruto-kun waktu, Ba-san." Ucap Shion pengertian, Ia sebenarnya sudah mengetahui sejak lama bahwa Naruto memiliki perasaan kepada seorang gadis namun ia belum tahu siapa gadis itu.
"Kau selalu membelanya, Shion. Naru, apa ada seorang gadis yang kau cintai?" Tanya Kushina pada Naruto.
"Iya, Kaa-san." Jawab Naruto beberapa detik setelah Kushina bertanya.
"Siapa namanya?" Tanya Kushina cepat setelah mendapat jawaban Naruto.
"Su-sudahlah, Kaa-san. Aku harus segera ke kantor, ini adalah hari pertamaku." Ucap Naruto mencoba menghindar.
"Tunggu sebentar, Kaa-san ingin memberikanmu sesuatu." Ucap Kushina lalu berbegas pergi kekamarnya. Naruto dan Shion hanya melihat kearah Kushina yang langsung bergegas pergi.
"Ada apa dengan Kushina Ba-san, Naruto-kun?" Tanya Shion.
"Ia akan mengambil sesuatu yang akan membingungkanku." Ucap Naruto lalu mengambil segelas air di depannya dan menenggaknya sampai habis.
Kushina pun datang setelah mengambil sesuatu yang ia maksud sebelumnya. Ia langsung duduk pada salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Lamar dia, Naru." Ucap Kushina dengan mata berbinar sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah maroon.
"APAAA!?" pekik Naruto terkejut.
"Eh!?" pekik Shion terkejut dengan ucapan Kushina yang dengan mudahnya mengucapkan kata 'lamar' tanpa tahu apa yang terjadi pada Naruto.
"Ada apa denganmu, Naru?" Tanya Kushina dengan wajah innocent.
"I-itu tidak se-semudah yang, Kaa-san ki-kira." Ucap Naruto terbata. Pikirannya melayang laying jauh.
"Melamar lalu…" batin Naruto. Naruto langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa aku jadi seperti ini?" batinnya.
"Pokoknya kau harus melamarnya, ini adalah cincin yang di gunakan keluarga tou-sanmu untuk melamar Kaa-san, Naru. Cincin ini sudah di gunakan untuk melamar Baa-sanmu oleh Jii-sanmu dan kau harus melamar gadismu dengan cincin ini!" Ucap Kushina sambil menunjuk kotak kecil berwarna merah maroon dengan aura yang menyeramkan dan membuat Naruto hanya mengangguk-angguk.
Flashback Off
"Hah~ bagaimana ini?" gumamnya bingung.
TBC
