.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Story : Baka DimDim

Rate : T semi M

Warning : AU, OOC, No EYD, Typo ,ABAL, Gaje, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

Seorang laki-laki bersurai pirang pendek tengah terduduk sambil bersandar pada sebuah kursi disebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Melirik kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Jam 7? Sebaiknya aku segera pulang." Gumamnya.

Ia bangkit lalu berjalan menuju parkiran tempat dimana ia memarkirkan mobilnya yang terletak di basement 3 sebuah gedung perusahaan besar.

Berjalan menuju lift untuk mempersingkat waktunya menuju parkiran. Menekan tombol bersimbol panah kebawah lalu mengalihkan pandangannya keluar kaca dari gedung tempat ia berada. Melihat kearah awan yang tidak menunjukan butiran berlian angkasa yang indah.

"Akan segera hujan. Membawa mobil sebagai transportasi hari ini tidak terlalu buruk." Gumamnya.

Ting.

Suara lift terbukan membuyarkan lamunannya. Ia segera masuk kedalam lift lalu menekan sebuah tombol bertuliskan 'B3' lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku kanan celananya. Melihat ada beberapa pesan masuk lalu membacanya.

'Naruto, jika jam kerjamu sudah selesai jangan lupa untuk makan malam.'

'Tanpa di beritahu aku juga sudah mengerti Kaa-san.' Batinnya melihat pesan dari ibunya.

Mencari nomor telepon seseorang yang akan ia hubungi. Setelah menemukannya ia mengarahkan ponselnya menuju telinga sebelah kanannya.

"Kaa-san, jam kerjaku sudah selesai. Aku akan segera pulang." Ucap Naruto.

"…"

"Aku pulang ke apartemenku, Kaa-san."

"…"

"Iya, Kaa-san. Nanti aku akan makan di luar, Kaa-san. Kaa-san tidak perlu khawatir."

"…"

"Bakilah. Aku tidak mengemudi dengan kecepatan tinggi." Ucapnya lalu kembali menaruh ponselnya kedalam saku celananya.

Menunggu lift yang sedang ia naiki sampai pada lantai yang ia tuju kembali mengembalikan pikirannya pada sebuah kotak kecil berwarna merah maroon yang berada di kantung jasnya. Mengambil kotak itu dari kantong jasnya lalu memandanginya.

Naruto POV.

Memang aku yang sekrang ini sudah tidak terlalu memikirkannya. Namun setiap hari ia selalu hadir dalam pikiranku. Sebesar inikah perasaanku padanya? Walau aku sempat pergi beberapa tahun untuk menghilankannya dari pikiranku tetapi ia selalu ada dipikiranku.

Ditambah dengan sesuatu yang Kaa-san ucapkan saat sedang sarapan. Lalu sebelumnya denagn apa yang di ucapkan Sasuke.

Apakah benar yang Sasuke ucapkan dimalam itu?

Apakah benar dia mencintaiku?

Apakah benar dia selalu menungguku?

Ini terlihat rumit dan sederhana di saat yang bersamaan.

Berawal dari aku yang mencintai kekasih sahabatku–Tidak, maksudku mencintai seorang gadis yang dicintai sahabatku lalu gadis itu menjadi kekasih sahabatku berakhir dengan aku yang pergi menjauh dari mereka seperti seorang pengecut lalu kembali seperti awal dimana aku kembali hadir dia antara mereka dengan status mereka yang kini berbeda yaitu bukan sepasang kekasih atau lebih, tetapi seperti adik dan kakak.

Seperti apa skenario yang di buat oleh Kami-sama kepadaku? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus datang padanya lalu mengucapkan 'Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.' Lalu Tada semua berjalan dengan indahnya.

Ayolah, apapun itu aku juga memiliki gengsi untuk bertindak seperti itu. Mungkin dalam sebuah cerita aku yang sebelumnya seperti ditusuk oleh sahabatku karena sahabatku menjadi kekasih gadis yang aku cintai, namun sekarang seolah aku sedang berencana menusuk sahabatku.

Memang sederhana, aku hanya perlu menyatakan perasaanku mengingat apa yang Sasuke katakana bahwa gadis itu mencintaiku. Lalu rumit bila aku kembali mengingat apa saja yang telah terjadi diantara kami bertiga, ini tidak rumit tetapi…

Ting.

Sangat rumit…

Naruto POV. End.

Suara pintu lift yang terbuka membuyarkan lamunan laki-laki itu.

"Ini sedarhana namun pikiranku yang membuat ini seolah sangat rumit." Gumamnya sambil berjalan keluar lift sambil memasukan kotak kecil berwarna merah maroon kedalam saku celananya menuju sebuah mobil sport berwarna merah dengan atap terbuka.

Ia segera masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari gedung. Sebelum keluar dari basement ia memberhentikan mobilnya.

"Sudah hujan?" Gumamnya.

Ia lalu menutup bagian atap dari mobilnya lalu kembali melajukan mobilnya keluar dari gedung perusahaan. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya.

20 menit berlalu untuk menempuh jarak dari kantor menuju apartemennya. Ia kini tengah berjalan menuju pintu apartemennya. Sebuah apartemen sederhana hasil dari usahanya sebelum menjadi karyawan di perusahaan yang sekarang.

Ia sudah berada didalam apartemennya. Ia berjalan menuju dapur sambil melepas jas yang ia kenakan dan melepas dasi yang melingkari kerah kemeja yang ia kenakan untuk mengambil segelas air.

"Astaga. Aku lupa membeli buku manajemen." Gumamnya setelah meneguk habis air yang berada dalam gelas yang ia pegang.

"Semoga di toko buku Kumo menjual buku-buku tentang menajemen. Setidaknya aku punya sedikit pengetahuan tentang menajemen sebelum aku menggantikan posisi Tou-san." Gumamnya lalu berjalan menuju pintu keluar tak lupa untuk mengambil sebuah jaket berwarna oranye di kamar lalu payung yang berada di dekat pintu keluar.

Seorang gadis bersurai indigo panjang tengah berdiri melihat kearah langit yang terus menurunkan air. Gadis yang tengah mengenakan sebuah long-dress berwarna sewarna dengan bunga lavender. Pakaiannya sedikit basah karena saat gadis itu ingin menyebrang jalan untuk menunggu taxi secara tiba-tiba hujan turun begitu derasnya. Hampir 30 menit gadis itu menunggu.

"Bila aku tahu akan seperti ini aku akan menerima tawaran Sakura-san sebelumnya untuk pulang bersamanya." Ucap gadis itu sambil tertunduk sambil memeluk dirinya sendiri.

"Hinata?" Sebuah suara yang memanggil namanya langsung membuatnya mengalihkan pandangan menuju sumber suara.

"Naruto-kun?" Ucap Hinata dengan nada terkejut. Ia terkejut melihat Naruto yang berdiri dibawah hujan dengan payung berwarna biru yang tidak terlalu besar.

"Sedang apa?" Ucap Naruto agak canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Aku sedang menunggu hujan reda." Jawab Hinata sambil sedikit menunduk malu menatap wajah Naruto.

'Bodoh, jelas aku sudah tahu kenapa aku bertanya.' Rutuk Naruto dalam hati.

Hinata POV.

Aku sedikit menunduk guna menyembunyikan wajahku yang memerah karena sikap seseorang yang memiliki tempat khusus dihatiku. Seseorang yang…

Aku telah lama menunggunya sejak ia pergi meninggalkan Jepang. Kini ia berada didekatku namun aku merasa takut untuk mengungkapkan perasaanku.

Bolehkah aku berharap perasaan Naruto-kun masih seperti sebelumnya? Berharap? Pantaskah aku mendapatkan harapan itu? Selama ini aku tidak menyadari perasaannya padaku, aku yang menjadi sebab dirinya pergi selama beberapa tahun ini.

Naruto-kun terlalu baik untuk diriku yang tidak pernah menyadari betapa dia mencintaiku sebelumnya… Ya. Sebelumnya…

Aku mempererat pelukanku pada diriku. Pakaian yang saat ini aku kenakan sedikit basah karena hujan yang turun tanpa memberi tanda gerimis.

Hangat…

"Eh!?" Pekik diriku terkejut Naruto-kun yang menautkan jaket yang ia kenakan di tubuhku.

"Pakailah." Ucap Naruto-kun sambil tersenyum hangat. Ia menggantungkan jaket yang sebelumnya ia kenakan di punggungku.

"Naruto-kun–"

"Jangan menolak. Jangan keras kepala. Oke?" Ucapnya seolah ia tahu bahwa aku ingin menolak jaket yang ia tautkan ditubuhku namun memang aku hendak menolak karena tak ingin ia terkena flu.

Dari mana ia tahu aku akan menolak?

"Kalau kau ingin tahu dari mana aku tahu kau ingin menolak? Aku hanya bisa bilang dahimu ada tulisan kau akan menolak. Hehehe." Ucap Naruto-kun lalu terkekeh dengan senyum lebar yang sudah sangat lama aku tidak melihatnya.

"Ti-tidak a-ada yang seperti itu Naruto-kun." Ucapku terbata. Melihat senyum Naruto-kun yang seperti itu membuatku semakin gugup namun karena melihat senyum itu pula aku semakin memikirkan pantaskah aku mengharapkannya yang dulu terabaikan karena kesalahanku?

"Pakaianmu basah. Mau coklat panas?" Ucap Naruto-kun. Aku mendengar ada nada khawatir dari cara berbicaranya. Aku melihatnya mengambil payung yang sempat ia taruh.

"Ti-tidak, ter"

"Tidak, tentu aku tidak menolak, Naruto-kun. Hehehe. Ayo." Ucapnya memotong ucapanku yang belum selesai, meniru caraku memanggil namanya.

Ia memutar tubuhku dan menodorngnya dengan lembut. Aku hanya diam dan sedikit menunduk lalu menghela nafas pasrah namun sesuatu membuatku ingin tersenyum.

Aku dan Naruto-kun berjalan dibawah hujan dengan payung yang tidak terlalu besar membuat jantungku berdebar dan aku yakin kedua pipiku sudah memerah namun…

Aku merasa bahagia.

Hinata POV. End.

"Na-naruto-kun, kenapa kita berada di depan apartemen?" Tanya Hinata heran. Ia mengira bahwa Naruto akan membawanya kesebuah kedai minuman.

"Hehehe. Sebelumnya aku ingin membeli sebuah buku di toko buku dekat tempatmu berteduh namun aku lupa membawa dompet. Lalu aku melihatmu yang kedinginan seperti itu dan pakaianmu yang sedikit basah lebih baik aku membawamu keapartemenku agar kau tidak terkena flu." Ucap Naruto menjelaskan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Hihihi." Hinata terkikik geli melihat tingkah Naruto yang seperti anak kecil.

"Sudahlah, ayo masuk kedalam. Kau akan terkena flu bila terlalu lama dengan pakaian basah itu." Ucap Naruto sambil mendorong Hinata masuk kedalam apartemen.

Kini Hinata telah berada di dalam apartemen Naruto. Ia melihat sebuah apartemen yang sederhana ukurannya tak terlalu besar namun terasa nyaman. Sebuah apartemen dengan 4 ruangan. Ruangan pertama sepertinya ruang untuk bersantai sekaligus ruang tamu dengan sebuah sofa yang tidak terlalu besar dan televisi 20 inch, lalu ruang kedua berpintu cokelat yang Hinata yakin itu adalah kamar tidur, lalu ruang ketiga dapur sekaligus ruang makan dan yang keempat pintu berwarna biru dekat dapur yang Hinata yakin adalah kamar mandi.

"Duduklah. Aku akan menyiapkan pakaian untukmu." Ucap Naruto mensilahkan Hinata duduk.

"Uhm." Gumam Hinata lalu memposisikan dirinya duduk di sofa. Hinata melihat kearah Naruto yang berjalan menuju salah satu kamar yang ada di apartemen untuk mengambil pakaian yang akan dikenakan Hinata.

Tak lama Naruto kembali dengan membawa sebuah kaos berwarna biru langit dan celana pendek seleutut untuk dikenakan Hinata.

"Ini miliki ibuku yang tertinggal saat masih kuliah di Konoha University. Aku harap ukurannya cocok." Ucap Naruto menjelaskan pakaian ibunya yang tertinggal.

"Konoha University?" Ucap Hinata kurang mengerti.

"Aku sudah tidak tinggal dengan orang tuaku saat masih berkuliah di Konoha University ya tepatnya saat liburan setelah kelulusan dari sekolah menengah atas. Aku sudah membeli apartemen sederhana ini dari gajiku saat menjadi freelance ya walaupun masih menyicil. Hehehe." Ucap Naruto menjelaskan.

"Sudahlah, kalau kau ingin bertanya-tanya gantilah dulu pakaianmu. Kamar mandinya ada dibalik pintu warna biru di dekat dapur. Aku akan membuat coklat panas." Ucap Naruto berjalan kearah dapur untuk membuat coklat panas. Hinata berjalan menuju kamar mandi mengekori Naruto yang berjalan kearah dapur.

Naruto tengah duduk di sofa sambil menonton berita pertandingan MotoGP yang di menangkan seorang pembalab dengan kostum berwarna biru dengan aksen hijau kekuningan dan nomor 46 pada motornya.

Hinata menghapmiri Naruto yang tengah menonton televisi. Ia sudah mengganti pakaiannya. Ia segera duduk disofa besama Naruto.

"Nah, sekarang aku yang harus mandi. Minumlah coklat panasmu Hinata." Ucap Naruto lalu berdiri.

"Terimakasih, Naruto-kun." Ucap Hinata sambil tersenyum. Naruto terpaku beberapa saat melihat senyum Hinata.

"Eh. A-aku ingat aku punya permen coklat. Kau suka coklat kan Hinata?" Ucap Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Ti–"

"Akan aku ambilkan. Aku belum memakan coklat ini satu pun. Akan menyenangkan bila makan coklat sambil berbincang." Ucap Naruto cepat. Lalu berjalan menuju lemari pendingin dan mengambil setoples permen coklat.

Beberapa saat kemudian Naruto kembali datang dengan membawa setoples coklat.

"Silahkan Hinata. Aku mendapatkan coklat ini dari kakekku saat berkemas untuk penerbangan pulang ke Jepang." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Makanlah." Ucap Naruto lalu membuka tutup tolpes.

"Aku akan mandi. Anggaplah rumahmu sendiri." Ucap Naruto sambil tersenyum lalu berjalan menuju kamar untuk mengambil pakaian dan mandi.

Sedangkan Hinata yang melihat sikap Naruto berbeda dari Naruto yang selama ini dekat dengannya. Ia tahu Naruto memang perhatian tetapi ia baru menyadari kalau Naruto bisa cerewet seperti ini.

'Kenapa tidak mau tenang?' Batin Hinata. Hinata menekan dada kirinya tepat pada jantungnya yang berdebar berada.

Naruto kini sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Dengan hanya mengenakan celana jeans ¾ berwarna hitam ia berdiri didepan cermin.

"Aku seperti remaja saja yang bingung dengan perasaannya." Gumamnya sambil melihat dirinya melalui cermin.

Ia mengambil sebuah kaos putih polos lalu mengenakannya. Ia meletakan handuknya di tempat handuk lalu berjalan menuju ruang tamu.

Sesampainya diruang tamu Ia melihat Hinata yang duduk disofa sambil menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya. Naruto berjalan lalu duduk disofa yang juga diduduki Hinata.

"Hinata, kenapa kau menunduk?" Tanya Naruto.

"Naruto-kun…" Ucap Hinata masih dengan keadaan menunduk.

"Hm? Ada apa? Apa enak coklatnya?" Tanya Naruto lalu ia mengambil coklat yang ia bawa sebelum ia pergi mandi. Naruto mulai memakan coklat yang ia ambil.

'INI!? Ada alkoholnya!' Batin Naruto setelah menelan coklat yang ia ambil.

Naruto menolehkan kepalanya melihat kearah Hinata dengan cepat.

"Hina-HMPPHH"

BRUK

.

.

TBC

Lama? Maaf authornya sibuk dengan urusan yang nentuin makan atau tidaknya author. Maaf kalo chapter ini ngebosenin.

mau review silahkan review. mau curhat silahkan curhat. haha.