Hinata menatap kearah punggung Naruto yang berjalan menuju kemar mandi. Ia mengangkat tangan kanannya menuju dada kiri tepat pada jantungnya yang berdebar.

'Kenapa tidak mau tenang?' Batin Hinata.

Cukup lama Hinata hanya berdiam sambil menonton berita di televisi sampai ia merasa cukup bosan. Hinata melihat kearah toples berisi coklat yang berada diatas meja sofa. Hinata mengambil 1 buah coklat dari dalam toples itu. Membuka bungkus dari coklat yang berbentuk bulat lalu mulai memakannya.

"Mmm. Rasa anggur. Tapi… sepertinya aku pernah mengenal rasa yang seperti ini." Gumam Hinata merasakan rasa yang lain dari coklat yang ia makan.

Merasakan coklat yang ia makan terasa familiar dengan sesuatu yang ia lupa membuatnya semakin penasaran dengan coklat yang ia makan. Mengambil lagi coklat kedua yang ia makan… ketiga… keempat dan kelima coklat yang ia makan.

"Kepalaku terasa pusing." Gumam Hinata. Hinata menundukkan kepalanya. Jika diperhatikan dengan jelas wajah Hinata terlihat sedikit memerah dan tatapan menjadi sayu.

Rasa pusing yang ia rasakan membuatnya mengingatkan dirinya kembali pada beberapa tahun yang lalu saat ia mulai menyadari bahwa ia mencintai seseorang yang tinggal di apartemen tempat ia berada sekarang.

Naruto datang setelah membersihkan dirinya. Ia melihat kerah Hinata yang menundukkan kepalanya. Beberapa saat…

Hinata masih menunduk memikirkan seseorang yang ia cintai selama beberapa tahun ini. Seseorang yang kini juga duduk disofa bersamanya.

"Hinata, kenapa kau menunduk?" Tanya Naruto.

"Naruto-kun…" Ucap Hinata masih dengan keadaan menunduk.

"Hm? Ada apa? Apa enak coklatnya?" Tanya Naruto lalu ia mengambil coklat yang ia bawa sebelum ia pergi mandi. Naruto mulai memakan coklat yang ia ambil.

'INI!? Ada alkoholnya!' Batin Naruto.

Naruto menolehkan kepalanya melihat kearah Hinata dengan cepat.

.

More Than Sincerity And Honesty

Masashi Kishimoto

Story : Baka DimDim

Rate : M

Warning : AU, OOC, No EYD, Lime, ABAL, Pasaran.

Hurt/Comfort/Romance

.

"Hina-HMPPHH"

BRUK

Hinata menabrakan dirinya pada Naruto lalu langsung melumat bibir Naruto dengan cepat hingga membuat Naruto tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang di tabrak Hinata secara mendadak.

'Ke-kenapa?' Batin Naruto bingung dan mulai panik.

Naruto tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga kini ia berbaring disofa dengan Hinata yang berada diatasnya yang tengah melumat bibir Naruto.

Hinata merangkulkan kedua tangannya melingkari kepala Naruto membuat Naruto sulit melepaskan ciuman yang dilakukan Hinata.

Hinata melepas ciuman yang ia lakukan secara tiba-tiba. Naruto melihat kearah wajah Hinata. Dengan jarak yang sangat dekat Naruto melihat wajah Hinata yang sedikit memerah.

'Dia mabuk hanya karena coklat yang ada alkoholnya? Hilang kendali karena efek alkohol? Pasti efek dari alkohol ini tidak akan lama. Ya tidak lama, mungkin sekitar 30 menit.' Batin Naruto berpikir tentang alkohol yang membuat Hinata seperti ini.

Naruto berpikir tentang efek dari alkohol yang ada pada coklat yang Hinata makan. Mungkin Hinata hanya hilang kendali sesaat karena efek dari alkohol. Itulah yang Naruto pikirkan sehingga tanpa sadar ia melamun sesaat.

Masih dengan posisi Hinata yang berada diatas Naruto.

"Hiks… Hiks… Hiks…" Terdengar suara Hinata yang menangis terisak membuat Naruto bingung. Ia tidak pernah menangani seseorang yang bukan laki-laki yang tengah mabuk.

"Hi-hinata. Kenapa menangis?" Ucap Naruto lalu mengarahkan telapak tangannya pada pipi Hinata untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Hinata.

"A-aku hiks… mencintai Naruto-kun ta-tapi hiks… Naruto-kun jahat. Kenapa? Kenapa Naruto-kun harus pergi waktu hiks… waktu itu? Hiks… hiks…" Ucap Hinata sambil terisak.

Naruto membulatkan matanya terkejut dengan pengakuan Hinata yang tengah mabuk.

"Hinata?" Ucap Naruto pelan sambil menatap kerah Hinata.

"Ta-tapi Naruto-kun hiks… hiks… kembali deng-dengan menggandeng perempuan lain. A-aku hiks… hiks… cemburu ta-tapi a-aku bu-bukan si-siapanya Naruto-kun hiks… hiks… Maafkan a-aku hiks… aku ti-tidak me-menyadari pe-perasaan Naruto-kun… hiks… hiks…" Ucap Hinata. Naruto bingung dengan Hinata yang tengah mabuk ini.

'Apa Teme belum memberitahunya setelah beberapa saat setelah hari pernikahan Ino dan Sai?' Batin Naruto.

'Aku lupa Teme menyuruhku menjelaskan pada Hinata tentang Shion.' Lanjut Batin Naruto.

"A-aku hiks… se-selalu me-menunggu hiks… Naruto-kun u-untuk kembali hiks… ke Jepang. Ta-tapi be-begitu hiks… melihat Naruto-kun, Naruto-kun hiks… menggandeng perempuan lain. Siapa dia Naruto-kun!? hiks…" Ucap Hinata semakin keras menagis.

Naruto sempat terpaku dengan ucapan Hinata. Terbukti sudah kebenaran tentang apa yang Sasuke bilang padanya beberapa hari lalu.

"Dia istri dari sepupuku, Hinata." Ucap Naruto dengan senyum sambil membersihkan air mata yang terus mengalir dipipi Hinata.

Naruto menarik Hinata kedalam pelukannya. Mendekap erat tubuh Hinata yang berada diatasnya. Cukup lama Naruto mendekap Hinata yang berada diatasnya. Hinata sedikit mengangkat tubuhnya dari dekapan Naruto.

Hinata kembali mendekatkan wajahnya kearah wajah Naruto. Kembali mencium bibir Naruto. Naruto diam saat Hinata kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Naruto.

'Seharusnya efek dari alkohol sudah berkurang. Seharusnya Hinata sudah bisa mengendalikan dirinya. Apa Hinata seberani ini bila tidak mabuk? Tetapi bibirnya terasa lembut.' Batin Naruto.

Berbeda dengan sebelumnya. Naruto kini membalas ciuman yang diawali Hinata. Naruto mulai melumat bibir bawah dan atas Hinata. Hinata membuka sedikit mulutnya untuk mengambil oksigen namun Naruto memainkan lidahnya untuk memasuki mulut Hinata. Mencari lidah Hinata untuk diajak 'berdansa' berasama. Ciuman itu semakin menuntut. Setelah beberapa menit Hinata memundurkan kepalanya melepas ciumannya dengan Naruto.

'Persetan dengan gengsiku. Hinata mencintaiku, begitupun aku.' Batin Naruto. Pada awalnya Naruto sedikit gengsi untuk memulai kembali hubungan dengan Hinata namun situasi saat ini mampu menampar rasa gengsi Naruto.

Naruto membalik posisinya dengan Hinata. Kini Hinata yang berada dibawahnya.

"Aku mencintaimu, Hinata." Ucap Naruto lirih sambil mendekatkan wajahnya.

Naruto menenggelamkan wajahnya di leher Hinata. Menghirup aroma tubuh Hinata. Ia mencium leher Hinata lalu menghisapnya memberikan tanda kemerahan dileher Hinata.

"Ahhh…" Terdengar surah desahan Hinata saat Naruto memberikan kiss mark pada leher Hinata.

Naruto mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Hinata. Ia melihat Hinata yang sedang menggigit bibirnya sendiri. Naruto memberikan sebuah kecupan dirbibr Hinata.

"Aku menginginkanmu Hinata." Ucap Naruto setelah mengecup bibir Hinata.

"La-lakukan perlahan Naruto-kun." Ucap Hinata lirih dengan wajah dengan rona merah yang entah karena mabuk atau malu.

Naruto bangkit dari atas Hinata lalu mengankat tubuh Hinata layaknya sepasang pengantin baru menuju kamarnya.

Sesampainya dikamar. Naruto membaringkan tubuh Hinata dengan perlahan diatas ranjang. Naruto melepas kaos yang ia kenakan sehingga menunjukkan dada bidang, bahu berotot dan perut yang six pack. Naruto terlihat sexy dengan tubuh seperti itu, meski tidak terlalu berlebih pada otot tubuhnya.

"Kau mulai tersadar dari efek alkohol, Hinata?" Tanya Naruto ketika melihat Hinata yang merona setelah melihat tubuh bagian atasnya lalu mengalihkan pandangan. Naruto menyadari sifat Hinata berbeda dengan sebelumnya saat berada disofa.

Hinata hanya diam dengan pandangan matanya menghindari Naruto. Pandangan mata yang menghindari Naruto sudah menjadi alasan kuat untuk Naruto bahwa Hinata sudah mulai tersadar dari efek alkohol dari coklat yang ia berikan.

"Masih sedikit pusing?" Tanya Naruto. Naruto mendudukan dirinya di tepi ranjang. Hinata hanya mengangguk kecil.

"Mau dilanjutkan?" Tanya Naruto pelan sambil menatap Hinata yang tidak menatapnya.

Hinata hanya terdiam dengan rona merah di kedua pipinya setelah mendengar ucapan Naruto. Efek dari alkohol yang sempat masuk kedalam tubuhnya sudah mulai menghilang. Hinata mengingat apa yang sebelumnya ia lakukan membuatnya malu karena mencium Naruto dan melumat bibirnya.

'Ke-kenapa aku melakukan itu?' Batin Hinata setelah mengingat apa yang ia lakukan pada Naruto.

"A-apa Naruto-kun su-sungguh mencintaiku?" Ucap Hinata.

Naruto tersenyum mendengar ucapan Hinata.

"Aku selalu mencintaimu. Tak pernah berubah meski aku sengaja untuk tak melihatmu dan mengetahui kabarmu selama beberapa tahun." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Dan yang seharusnya meminta maaf adalah aku. Aku tidak tahu bahwa coklat pemberian kakek mengandung alkohol. Tetapi karena alkohol itu aku tidak perlu repot untuk melakukan pendekatan padamu seperti anak remaja yang baru puber." Ucap Naruto sambil tekekeh. Hinata masih tidak menatapnya. Naruto mengangkat tangan kanannya membelai lembut pipi Hinata.

Naruto merangkak naik keatas ranjang lalu mengurung Hinata dengan kedua tangan Naruto yang berada disisi kiri dan kanan Hinata.

"Ini yang pertama untukku la-lakukan perhalan Na-naruto-kun." Ucap Hinata pelan masih merasa malu untuk menatap mata Naruto.

Naruto tersenyum senang. Karena ia akan menjadi yang pertama 'menyentuh' Hinata.

"Ini juga yang pertama untukku." Ucap Naruto pelan menutupi kegugupannya. Hinata menoleh kearah Naruto. Ia melihat Naruto yang tersenyum dengan sedikit rona merah dipipinya. Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata.

Naruto mengecup lembut bibir Hinata. Melumatnya dengan lembut. Perlahan Hinata membalas melumat bibir Naruto. Naruto menggigit kecil bibir bawah Hinata sebagai tuntutan dari Naruto atau agar Hinata membuka akses untuknya. Hinata membuka sedikit mulutnya lalu Naruto memainkan lidahnya seperti sebelumnya untuk mengajak lidah Hinata 'berdansa' bersama dan bertukar saliva.

"Ahnh…" Desahan keluar dari mulut Hinata ketika ciuman mereka yang cukup lama dan menuntut itu terlepas. Sebuah benang saliva diantara bibir Naruto dan Hinata terlihat selama sekejap lalu terputus.

Naruto mengarahkan bibirnya pada dahi Hinata. Mengecup dahi Hinata lalu berpindah pada pipi kiri dan disusul pipi kanan. Mengarahkan wajahnya menuju leher Hinata namun kini tangan Naruto tidak pasif seperti sebelumnya. Tangan kanan Naruto masuk kedalam kaos yang Hinata kenakan kemudian meraba perut datar Hinata lalu naik dan berhenti pada dada Hinata. Telapak tangan Naruto menarik bra Hinata dari dalam hingga kedua dada Hinata tidak berada dalam bra yang menutupinya.

"Ahnhh… Naruhtoh-kuhnnh..." Desah Hinata panjang saat bibir Naruto menciumi leher Hinata memberikan beberapa kiss mark dan tangan kanan yang meremas dada Hinata secara bergantian kiri dan kanan. Tangan Hinata meremas rambut bagian belakang kepala Naruto.

Selesai dengan itu Naruto melepas dada dan leher Hinata untuk ketahap berikutnya.

Naruto mencoba membuka kaos biru langit milik ibunya yang dipakai Hinata. Naruto mengangkat kedua tangan Hinata menuju kepala Hinata lalu melepas kaos yang Hinata kenakan. Terlepas sudah kaos yang Hinata kenakan. Naruto melempar kaos yang sebelumnya telah Hinata kenakan kesembarang arah.

Naruto melihat kearah dada Hinata yang sudah terekspos karena Naruto sudah menurunkan bra yang digunakan Hinata saat memberikan kiss mark pada leher Hinata. Terlihat Naruto memandangi sebuah pemandangan yang sangat hampir tidak pernah ia lihat selain milik ibunya saat ia masih bayi sampai balita dan sebuah majalah dewasa saat ia masih berada di Amerika.

"Indah sekali…" Gumam Naruto lirih. Naruto menatap intens dada Hinata yang sangat menakjubkan baginya.

Hinata merasa sangat malu saat Naruto menatap kedua dadanya.

"A-aku ma-malu Na-naruto-kun." Ucap Hinata pelan dengan menatap kearah kaos yang sebelumnya telah ia kenakan.

"Ma-maaf." Ucap Naruto sedikit gugup.

Naruto kembali mengecup bibir Hinata dan tangan kiri Naruto naik untuk meraba dan meremas dada kanan Hinata. Lalu mengecup pipi kanan Hinata lalu leher kanan Hinata dan turun menuju dada Hinata untuk ia kecup.

"Engghh." Desah Hinata tertahan saat Hinata merasakan sebuah remasan dan lumatan pada dada kiri dan kanannya.

Naruto melumpat nipple dada kiri Hinata layaknya seorang bayi yang sedang memperoleh asupan gizi dari ibundanya. Lalu berganti dengan dada kanan Hinata yang menjadi sasaran Naruto untuk ia lumat. Lumatan Naruto semakin liar seiring dengan tangan kanan yang memainkan nipple dada kiri Hinata dan tangan kirinya yang masuk kedalam celana penek selutut yang Hinata kenakan.

"Engghhnn… Naruto-kuhnhhnn…" Lenguh Hinata saat merasakan jari Naruto yang berada diarea intimnya. Jari Naruto membelai lembut dan memasuki organ intim Hinata yang sebelumnya tidak pernah disentuh oleh laki-laki sepanjang hidup Hinata sebagai seorang gadis.

"Akkhhhhnnn…" Desah Hinata panjang saat merasakan sensasi aneh pada area intimnya.

Naruto berhenti menggerakan jarinya pada organ intim Hinata Ia merasakan sebuah cairan asing pada jarinya. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Hinata. Ia melihat Hinata yang menggigit bibir bawahnya gunan menahan desahan yang keluar dari mulutnya.

"A-aku a-akan melakukan per-perlahan." Ucap Naruto lalu menanggalkan celana pendek Hinata berserta dalamannya hingga tubuh polos Hinata terekspos tanpa sehelai benang. Hinata merapatkan kedua pahanya untuk menutupi organ intimnya. Lalu Naruto mulai menanggalkan celana yang ia kenakan.

Tanpa sehelai benang mereka tanpa suara. Suara detikan jam dikamar Naruto dan detak jantung mereka masing-masing masih bergemuruh menjadi suara yang menemani mereka.

Naruto menaruh kedua tangannya di kedua sisi Hinata.

"Su-sudah siap?" Tanya Naruto gugup. Meski gugup Naruto terus mencoba untuk menatap wajah Hinata yang kini memerah.

"Uhm." Gumam Hinata. Naruto melebarkan kedua paha Hinata untuk mendapatkan akses untuk menuju tahap akhir.

Naruto mengarahkan organ intimnya pada organ intim Hinata dan menaruh kedua kaki Hinata dikedua sisi pinggul Naruto.

"A-aku mencintaimu… Hinata… ugh…" Ucap Naruto lirih sambil mendorong masuk organ intimnya pada liang yang menjadi pasangannya.

"Akuh… juga mencintaimu… Naruto-kuhnn…" Ucap Hinata lirih dengan menahan sebuah rasa sakin yang menjadi perantara antara menjadi gadis dan wanita.

Naruto memasukannya hingga setengah dari miliknya yang sudah masuk kedalam Hinata. Ia merasakan sesuatu yang menahan miliknya untuk masuk lebih dalam.

"Hi-hinata boleh menggigitku atau menjambak rambutku atau mencakarku bila teramat sakit." Ucap Naruto lirih. Naruto mengarahkan wajahnya pada samping kanan kepala Hinata.

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

"AKKHHHhhh…" Jerit Hinata merasakan sakit pada area organ intimnya ketika milik Naruto sudah masuk sepenuhnya. Hinata mencakar punggung Naruto sangat keras hingga kulit pada punggung Naruto sedikit terkelupas dan mengeluarkan sedikit darah.

Hinata berhenti mencakar Naruto. Naruto mengakat kepalanya. Ia melihat Hinata yang mengeluarkan air mata.

"Maafkan aku menyakitimu Hime." Ucap Naruto lirih. Naruto mengecup kedua mata Hinata yang mengeluarkan air mata lalu berlanjut dengan mengecup lama bibir Hinata.

"A-aku akan bergerak bila kau mengizinkanku Hime." Ucap Naruto setelah mengecup lama bibir Hinata.

"Ti-tidak apa. Na-naruto-kun su-sudah bisa bergerak." Ucap Hinata tersenyum manis dengan rona malu dikedua pipinya dengan menahan sedikit rasa sakit pada organ intimnya.

Naruto mulai menggerakan pinggulnya melakukan gerakan in-out untuk menuju kenikmatan yang tiada tara yang akan dirasakan Hinata bersamanya. Suara desahan dan panggilan-panggilan dengan nada sensual terdengar untuk mereka berdua. Saling berkerjasama untuk mencapai kepuasan pada permainan cinta mereka yang pertama.

"Na-narutoh ahh… ak-akuhh ahh…" Ucap Hinata merasakan sensasi aneh pada dirinya. Hinata merasa seperti akan mengeluarkan sesuatu yang menjadi bumbu kenikmatannya bila ia telah mengeluarkannya.

"Ta-tahan se-sebentar… hah… hah…" Ucap Naruto sambil mengatur nafas dan pergerakannya yang semakin cepat.

"Naruto-kunhhhhaahhhh…"

"Hinata... Ughhh…"

Ucap mereka bersamaan saat merasakan sensasi dahsyat yang mereka rasakan. Mereka berdua terdiam mengatur nafas mereka yang terengah seperti berlari marathon dengan tubuh polos mereka yang dibasahi dengan peluh meski AC dikamar masih berfungsi dengan normal namun seolah tak membantu mensejukan tubuh mereka. Naruto yang berada diatas Hinata menjatuhkan dirinya disamping kiri Hinata. Naruto melihat kearah Hinata yang sudah memejamkan matanya. Naruto menarik selimut untuk menyelimuti tubuh polos Hinata dan dirinya.

Naruto menselipkan tangan kanannya dibawah kepala Hinata bermaksud menjadikan tangan kanannya sebagai bantal untuk kepala Hinata lalu tangan kirinya memiringkan tubuh Hinata untuk menghadap kearahnya. Naruto memeluk Hinata yang sudah tertidur dengan pelukan posesifnya seolah ia tidak ingin siapapun mengambil Hinata dari dekapnya. Naruto mengecup puncak kepala Hinata dengan penuh cinta.

"Hinata… Arigato." Ucap Naruto setelah mengecup puncak kepala Hinata. Naruto mengeratkan dekapannya pada tubuh polos Hinata lalu mulai memejamkan matanya menuju dunia mimpi bersama Hinata dalam dekapannya.

Gadis– tidak. Wanita itu terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak namun enggan untuk membuka matanya.

"Apakah semalam itu mimpi? Eh…" Gumamnya pelan lalu terkejut saat merasakan sebuah hembusan angin hangat yang menerpa wajahnya. Ia juga merasakan sesuatu melingkari tubuhnya dan ia yakin itu bukanlah selimut.

Hinata menegang.

Matanya membulat.

Jantungnya berpacu cepat.

Wajahnya memanas.

Kedua pipinya merona merah.

Otaknya berputar mengingat memori semalam yang awalnya ia anggap mimpi.

"Semalam bukan mimpi Hinata." Suara serak khas seorang laki-laki yang baru bangun dari tidurnya masuk kedalam pendengaran Hinata.

"Na-naruto-kun?" Ucap Hinata pelan.

"Ya, siapa lagi selain pria yang kau cinta, pria yang kau nantikan selama beberapa tahun ini Hinata?" Ucap Naruto lalu terkekeh kecil.

Hinata merasa senang. Sifat Naruto yang seperti inilah yang dulu saat ia dan Naruto masih Senior High. Sifat Naruto yang periang yang dulu sempat mengisi hari-harinya. Sifat yang telah membuatnya jatuh cinta meski butuh lebih dari 2 tahun untuk menyadarinya.

Naruto terdiam dari kekehannya lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh polos Hinata.

"Maafkan aku." Ucap Naruto lirih saat memeluk Hinata.

"Kenapa Naru–"

"Maaf telah mengembil kesucianmu sebelum waktunya. A-aku tidak dapat menahannya untuk tidak menyentuhmu. Rasa rindu dan senang yang aku rasakan saat kau mengatakan kau mencintaiku semakin menjadi dorongan untukku melakukan–"

Naruto menghentikan ucapannya. Ia merasakan Hinata memeluknya dengan erat. Membenamkan kepalanya di dada bidangnya.

"Tidak a-apa, a-aku senang ka-karena Naruto-kun yang melakukannya." Ucap Hinata dalam dekapan Naruto.

"Hi-hinata…" Ucap Naruto.

"Ta-tapi a-aku sempat kecewa ka-karena saat itu Naruto-kun pergi begitu saja tanpa kabar. A-aku juga kecewa pada di-diriku ka-karena aku terlambat menyadari pe-perasaan Naruto-kun." Ucap Hinata dalam dekapan Naruto.

"Maafkan aku yang dulu pergi seperti pengecut Hinata. Saat itu aku pergi hanya untuk mendukung apa yang bisa membahagiakan sahabatku tanpa ingin mengungkap sebuah rasa keegoisan dariku. Maafkan aku." Ucap Naruto.

"A-aku sudah memafkan Naruto-kun." Ucap Hinata sambil tersenyum dalam dekapan Naruto.

"Arigato. Aishiteru." Ucap Naruto sambil tersenyum menurunkan wajahnya menuju puncak kepala Hinata dan mengecupnya dengan penuh kasih.

"Aishiteru… Naruto-kun" Ucap Hinata dengan mata yang bergenang air mata menahan kebahagiaan yang merasuki dirinya. Merasakan penantiannya selama beberapa tahun tidak sia-sia.

Mereka saling mendekap tanpa ada sehelai benang pun yang menjadi perantara anatara tubuh mereka. Saling memberi kehangatan yang mereka sebut cinta.

.

Semua telah berakhir dan menjadi sebuah awal yang baru. Berawal dari sebuah perasaan menyakitkan lalu berakhir dengan sebuah perasaan membagiakan dan kembali menjadi awal untuk memulai sebuah kisah.

Memang butuh lebih dari sebuah ketulusan dari sebuah hati untuk menerima sesuatu yang menentang keinginan hati... ya, menerima dengan tulus dan mendukungnya itulah yang lebih dari sekedar 'ketulusan' yang hanya menerima dengan lapang dada. Butuh lebih dari sebuah kejujuran untuk mengungkap semua kebenaran… ya lebih dari 'kejujuran' dengan kata lain adalah tindakan.

Semua membutuhkan ketulusan dan kejujuran… perlu sebuah ketulusan dan kejujuran untuk hubungan… hubungan persahabatan… hubungan percintaan dan semua hubungan lainnya.

Sebuah pepatah 'semua akan indah pada waktunya' ya, semua akan indah pada waktunya bila kita bisa menerima sesuatu dengan ketulusan dan mengungkapnya dengan kejujuran.

.

END

Hadehhh… untuk membuat sesuatu yang panas dan asem seperti yang diatas butuh mental juga. -_- Rasanya lebih mudah untuk melakukan daripada menuliskannya. EHH!

WAHAI READERS MESUM. Gimana Limenya? Pasti jelek. Author bermasalah dengan lime lemon dsb. Author memilih bahasa yang tidak terlalu ekplisit karena Author bukan membuat cerita dewasa tetapi membuat cerita aneh yang ada dikepala Author dengan sedikit pengalaman hidup seseorang.

.

9 Bulan Kemudian.

Seorang laki-laki bersurai pirang pendek tengah duduk disebuah balkon sebuah apartemen yang sederhana. Sebuah apartemen yang menjadi saksi bisu sebuah akhir dari rasa yang menyakitkan hati si laki-laki bersurai pirang itu.

Laki-laki itu tengah mengenakan sebuah tuxedo putih dengan dalaman berwarna putih dan bawahan berwarna hitam. Ia duduk disebuah balkon apartemen sambil meminum sebuah teh yang disediakan oleh seorang wanita yang sangat berharga baginya.

Menatap langit sore yang berwarna kuning kemerahan dengan adanya beberapa burung yang terbang bebas dilangit.

"Anata." Suara lembut masuk kedalam pendengarannya. Ia menoleh kearah sumber suara itu.

Ia melihat seorang wanita cantik bersurai indigo panjang yang digerai. Wanita cantik bergaun putih indah panjang tanpa lengan itu tersenyum cantik kepada sang laki-laki.

"Kau sudah siap Hinata?" Tanya Naruto sambil tersenyum melihat wanitanya. Wanitanya hanya mengangguk sambil tersenyum.

Naruto berdiri lalu berjalan menuju wanitanya. Ia berjongkok untuk mencium perut bincit wanitanya yang tengah hamil 8 bulan mendekati 9 bulan.

Ya hamil 8 bulan. Setelah kejadian panas yang terjadi untuk pertama kali antara mereka 2 hari kemudian Naruto melamarnya dan sebulan kemudian mereka menikah untuk memulai sebuah awal yang baru menjadi sebuah pasangan yang saling mengucap janji dalam ikatan sakral.

"Jagoan Papa nanti saat pesta Bibi Sakura dan Paman Sasuke jangan nakal ya. Kalau jagoan Papa tidak nakal Papa janji akan memberikan hadiah. Papa akan selalu menjadikanmu dan Mamamu sebagai yang utama dibandingkan yang lainya, sesibuk apapun Papa. Oya, nanti kalau jagoan Papa sudah besar jadilah anak yang baik ya." Ucap Naruto sambil tersenyum mengusap perut Hinata yang terdapat seorang bayi laki-laki.

Hinata tersenyum melihat tindakan suaminya itu. Ia merasa sangat bahagia hidup bersama dengan laki-laki yang tengah memeluk perutnya ini. Meski hanya tinggal disebuah apartemen sederhana yang dimiliki laki-laki ini sejak kuliah itu tidak menjadi masalah baginya. Masalah mengapa mereka berdua tinggal diapartemen Naruto karena Naruto menolak untuk diberikan rumah. Ia akan memiliki rumah dengan usahanya sendiri. Seperti apartemen yang saat ini ia tinggali bersama istrinya.

"Anata, ayo kita berangkat." Ucap Hinata. Suara lembutnya melepaskan pelukan Naruto kepada perutnya. Naruto berdiri lalu menatap lembut wajah istrinya.

"Ayo, tetapi aku ingin ini…" Ucap Naruto lalu mendekatkan wajahnya kepada wajah sang istri.

Naruto mengecup lembut bibir Hinata dan melumatnya dengan lembut. Hinata membalas lumatan yang dilakukan suaminya itu. Naruto menghentikan lumatan bibirnya pada bibir Hinata lalu tersenyum lembut. Ia melihat wajah Hinata yang sedikit merona meski sudah menjadi istrinya lalu mencium kening istrinya.

"Aishiteru… Hinata." Ucap Naruto sambil tersenyum lebar khas Naruto.

"Asihiteru. Anata. Ayo kita berangkat. Kita tidak boleh terlambat. Sakuran-san dan Sasuke-kun tidak terlambat saat pesta pernikahan kita, jadi kita tidak boleh terlambat juga." Ucap Hinata sambil menarik sebelah tangan suaminya untuk segera menuju parkiran.

"Yosh. Ayo kita berangkat Hinata."

"Uhm."

.

.

.

.

Agak sedikit menggantung ya? IYA, dasar Baka DimDim.

Author tersanjung karena ada yang perhatian dengan kesehatan Author di kolom review. Author kena kantong kering karena salah perhitungan uang karena author membeli gadget baru jadi sibuk dengan urusan kerjaan author yang bisa disebut pekerjaan orang malas alias nyanyi disebuah tempat di daerah ibu kota.

Kalau mau side story untuk SasuSaku Author mungkin bakal buat bulan depan dengan slight NaruHina. Author mau selesaikan fic 1 nya dan mencoba membuat fic canon-setting genre Adventure.

Silahkan review yang mau review, silahkan protes yang mau protes, silahkan flame kalau mau flame.

Terimakasih. maaf kalau membosankan, typo, tidak jelas, gaje dan updatenya tidak tentu kapan. :)