Chapter 3: Rahasia
Sincerity of a Relationship
»«
.
.
.
»«
Summary: Ada bagian di hatiku yang memiliki kekosongan abadi. Bukan hanya karena kehendakku sendiri, tapi juga karena keserakahan manusia. Untungnya, hal itu tidak aku temukan dalam hatimu. Terima kasih. I don't want you to grow up./AU/SasuSaku
»«
.
.
.
»«
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © Uchiha Raikatuji
Rate: T+ (Ambil Aman)
Genre: Romance
Pairing: SasuSaku
Warning: Miss typo(s), GJ, AU, alur aneh, etc.
Words: 1.707
»«
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Don't Like Don't Read!
.
.
.
»«
Semakin hari, aku semakin merasakan perubahan dalam Sasuke. Kami sedang bersantai di taman. Duduk di atas rumput sintetis menikmati siang yang sejuk. Musim panas akan segera tiba. Aku menoleh pada Sasuke.
"Hei, apa kau tidak merasa bosan?" tanyaku berusaha mencari petunjuk.
Sasuke menoleh ke arahku. "Bosan karena?"
"Yah.. yang aku tahu, manusia itu cepat bosan. Kamu sudah 8 tahun hanya hidup di sini. Duduk bersamaku. Menikmati hari. Hari berlalu terus dan kita nyaris selalu melakukan sebuah rutinitas yang sama setiap harinya. Bahkan tiga bulan lagi, kita genap 9 tahun sejak kita bertemu." jelasku. "Apa kau tidak bosan?"
"Kau belum tahu? Di dunia ini, ada sepasang kekasih yang pernah hidup bertetangga. Saling mengenal satu sama lain bahkan sebelum mereka bisa berbicara." jelas Sasuke. "Tapi kemudian mereka menikah dan selalu bersama hingga mati."
"Tapi kita bukan sepasang kekasih." bisikku sambil menunduk. "Dan mereka hidup dengan manusia lainnya. Kau tahu, kita hanya hidup berdua di tempat terpencil ini."
Sasuke terdiam dengan argumenku.
"Benar-benar berdua."
Aku kembali menatap iris Sasuke.
"Yang kurasakan, jelas tidak."
Sebuah senyuman mau tak mau tersungging di bibirku. Apa yang bisa menghentikan dunia sekarang?
Tentu saja kenyataan tentang siapa dirimu. Inner-ku ambil suara. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Bahkan di musim panas mendatanglah usia Sasuke sudah 16 tahun. Nyaris mendekati usia manusia untuk disebut dewasa.
"Ayo main "Berani Jujur"." ajakku tiba-tiba.
Sasuke mengernyit. Bertanya.
"Kita harus mengungkapkan satu hal yang kita sembunyikan." jelasku.
Sasuke terlihat berpikir sesaat. Aku benar-benar penasaran tentang apa yang disembunyikannya hingga ia berbohong padaku. Aku tahu ada yang berubah darinya.
"Oke, jadi siapa duluan?"
Aku yang justru mengusulkan ini menggigit bibir dengan ragu. Apa mungkin masih terlalu cepat? Dia remaja. Yang aku tahu, nyaris semua manusia bersikap plin-plan saat mereka masih remaja.
"Baik, aku akan duluan." Sasuke memutuskan.
Aku memberinya senyuman kaku.
"Aku ingat bayangan saat dulu kenapa aku bisa di sini."
Aku membelalakkan kedua mataku. "Jadi kau sudah ingat?"
Inilah yang dia sembunyikan.
Sasuke menatap mataku intens lalu mengangguk satu kali.
"Oke, giliran-"
"Dulu kakakku selalu saja mengurungku." potongnya. Tatapan itu memintaku untuk mendengarkannya. Aku kembali menelan kata-kataku. "Mengekangku. Tidak membiarkanku pergi walau hanya ke halaman rumah. Bahkan saat di sekolah, kakakku mengirimkan mata-matanya untuk selalu mengawasiku penuh. Seperti yang kau tahu, aku bahkan belum genap 7 tahun. Aku masih seorang pria yang duduk di taman kanak-kanak."
Itu dia ekspresi kesalnya. Jadi karena ini.
"Bahkan di rumah pun, kamar kami tepat bersebelahan. Dia jauh lebih tua dariku. Dia memiliki sebuah bisnis dan maju di bidangnya. Itu sebabnya dia memiliki banyak mata-mata yang bahkan cukup untuk mengawasiku 24 jam dengan berganti mata-mata setiap jamnya. Dan itulah yang dilakukan nya saat aku tidur."
Aku meraih tangannya dan memainkan jemari kekarnya. Beberapa tanda pubertas mulai muncul dari dalam dirinya. Aku tersenyum lembut kepadanya. Kembali memerhatikan saat dia terdengar menghela napas berat.
"Saat itu aku keluar rumah. Aku kesal. Kakakku selalu saja mengukungku. Aku berniat kabur." satu helaan lagi keluar dari bibirnya. "Tapi ternyata aku diculik. Aku pikir aku akan mati. Mereka menutup mata dan mulutku, bahkan mengikat tangan dan kakiku. Lalu mereka menyuntikkan dua macam zat ke dalam tubuhku. Setelah kupikirkan, sepertinya itu obat bius dan zat lain yang membuat ingatanku pudar."
Iris kami kembali beradu.
"Yang membuatmu amnesia sementara? Melumpuhkan memorimu?" tanyaku pelan.
Sasuke mengangguk.
"Saat aku tersadar aku sudah ada di lapangan rumput dan melihat rumah ini di kejauhan." Dia mengakhiri kisahnya. Aku tersenyum. Meremas tangannya dengan kedua tangan kecilku.
Aku menghela napas panjang.
Mungkin itu akan menjadi cerita terpanjang yang pernah dia utarakan kepadaku. Sebuah senyuman terpatri di wajahku.
"My turn."
Langit sudah mulai gelap. Aku bahkan tidak peduli. Meskipun memang itu membuat pandanganku mengabur. Aku menarik tanganku dari tangannya.
"Sasuke-kun," panggilku pelan. Dia menoleh. "Apa kau percaya pada makhluk gaib?"
"Tentu. Arwah, maksudmu?"
Aku menggeleng pelan. Bibirku melukiskan senyum simpul. "Bukan. Seperti makhluk yang ada di dongeng."
Sasuke mengernyit dan menatapku heran.
"Seperti… trol?" tanya Sasuke ragu.
Senyumanku melebar. "Close."
Aku menghela napas dan mengalihkan tatapanku ke lembayung senja. Menikmati cahaya orange yang berpendar indah.
"Tapi yang kumaksud di sini ialah peri."
Sasuke menggeleng. "Tidak. Di dongeng, peri selalu memiliki sihir layaknya seorang penyihir. Menciptakan sesuatu dari kehampaan. Itu tidak masuk akal. Maksudku… itu gila, Sakura."
Sebuah senyuman manis kuberikan untuknya. Itu memang gila, Sasuke.
"Kau tahu? Mungkin manusia berpikir bumi itu luas, tapi sebenarnya galaksi itu lebih luas. And an universe is the largest. Semua hal mungkin saja terjadi."
Sasuke terlihat semakin bingung.
"Di galaksi tanpa nama jauh sekali dari bumi, ada sebuah planet kecil. Lebih kecil dari bumi dan sedikit lebih besar dari pluto. Namanya planet Aery. Sebuah planet yang penuh dengan peri." jelasku. Sasuke terlihat sedikit mulai menerima maksudku. "Mungkin kau benar. Di dongeng, peri selalu digambarkan dengan sihir, tapi imajinasi manusia tidak bisa dikekang, bukan? Terkadang imajinasi kaum kalian memang berlebihan."
Aku tertawa kecil.
"Kau peri."
Aku kembali tertawa.
Sasuke mengernyit.
"Itu pernyataan, jadi kupikir kau tidak memerlukan jawaban." bisikku pelan, terkekeh. "Tapi ceritaku belum selesai, Sasuke-kun. Seperti di bumi, Aery juga memiliki marga untuk keluarga mereka. Saat itu, ada yang mengganggu planet kami hingga Aery hancur tak bersisa. Aku dan kedua orangtuaku berusaha kabur dengan pesawat mereka. Hanya kami bertiga Haruno yang tersisa. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya pada planet kami."
Aku menghela napas sambil menuduk. Berusaha tersenyum di depan pria yang sudah lama kukenal.
"Awalnya kami bertiga berniat ke planet peri lain yang mungkin saja mau membantu kami. Sayangnya, kami tidak bisa mengendalikan pesawat mereka dan berjalan tanpa arah berjuta tahun cahaya lamanya." Aku menatap Sasuke yang masih senantiasa mendengarkan ceritaku. "Hingga kami terdampar di daerah terpencil ini."
"Kurasa kau pasti merasakan auraku yang berbeda dari manusia. Itulah tanda seorang peri menjadi dewasa. Kalau manusia menetapkan 17 tahun sebagai batasan dewasa, di planet Aery, peri dikatakan dewasa saat sudah berusia 100 tahun."
Sasuke terlihat terbelalak.
"Ya, aku sudah 126 sekarang. Kita bertemu saat usiaku 119. Kau masih 7 tahun." Sasuke masih mengernyit. Ekspresinya lucu sekali. "Kami bisa berpenampilan semuda apa pun yang kita mau. Kita hidup menyerap energi dari tanaman."
Tak banyak responnya terhadap ceritaku. Aku takut dia membenci hal ini. Membenci kenyataan bahwa aku bukan manusia.
Aku takut ia akan pergi meninggalkanku.
"Kau mungkin heran siapa yang merawat tanaman di sini. Jawabannya, akulah yang merawatnya dengan pikiranku. Mengendalikan apapun dengan memikirkannya dengan matang dan tekun. Tidak semudah yang kau bayangkan. Hal itu juga membuat kita lelah. Menguras tenaga."
"Kami mungkin tidak memiliki sihir, tapi kami punya kekuatan yang berbeda dari kalian dengan cara bersahabat dengan alam." Aku tersenyum. Mengakhiri kisahku.
Aku masih takut. Senyuman kugunakan menutupinya.
"Lalu ke mana orang tuamu pergi?"
Aku tersenyum. "Pertanyaan bagus. Di mana orang tuaku? Apa mereka masih hidup? Apa yang dilakukan manusia pada mereka? Aku tidak tahu. Ya, aku tidak tahu tentang mereka sekarang." aku menghela napas.
"Yang baru aku tahu saat sampai di sini adalah manusia itu makhluk yang serakah. Para peneliti gila menangkap mereka saat aku masih 50 tahun. Mungki mereka tertarik akan kemampuan kami meregenerasi penampilan fisik. Aku benci mereka."
Aku menatap Sasuke.
"Mereka melakukan percobaan pada makhluk hidup lain dan aku benci itu." rasanya ada bagian di hatiku yang teriris saat mengingat tentang kedua orang tuaku.
Aku kembali berusaha tersenyum.
"Tapi kamu berbeda." kataku tulus. "Okaa-san dan otou-san memberiku segel di dalam hatiku. Hal itu membuatku terlindungi walau dalam kesepian."
Sasuke masih terlihat menyimak sambil berpikir. Berusaha merangkai peristiwa yang mungkin saja aneh dan baru baginya selama kami bersama.
"Hanya orang-orang yang tulus yang bisa melihatku. Mereka yang sama sekali tidak berniat jahat kepadaku."
Aku meraih tangan Sasuke dan meletakkannya tepat di atas jantungku.
"Peri punya organ yang nyaris persis milik manusia." jelasku lagi. "Dan bisakah kau merasakan detak jantungku? Ia selalu menggila sejak tiga tahun yang lalu. Hal yang kurasakan hanya denganmu."
Kedua onyx miliknya senantiasa menghipnotis kesadaranku.
"Sakura."
"Tidak. Jangan pergi lagi ke rumah pohon itu. Kau harus tinggal di sini. Bersamaku. Tolong… kumohon… tinggallah denganku. Aku janji takkan mencoba melakukan hal bodoh lagi." aku memelas. Hatiku ingin dia terus di sini. "Aku janji. Aku takkan mencoba menciummu lagi apapun alasannya."
Aku menggenggam erat jemarinya.
"Hal yang harus kau tahu, bagi seorang peri jatuh cinta adalah perkara sulit. Itu akan memengaruhi metabolisme tubuh sehingga kami akan melemah saat orang tersebut jauh dari radius yang seharusnya. Antibodinya akan menurun drastis hingga ke titik terendah. Bahkan, kami bisa mati."
Hening. Dia tidak terlihat akan merespon ucapanku.
Aku tahu ini percuma. Mungkin sebaiknya aku mati saja.
Ya, lagipula aku sudah cukup tua. Setidaknya bagi manusia.
"Baiklah. Lupakan. Lakukan apa yang kau suka." Aku bangkit dan hendak meninggalkannya. Malam semakin datang mencekam.
Tiba-tiba Sasuke tanganku membuatku berbalik dan dengan cepat dia bangkit dan menyambar bibirku tanpa membiarkanku bertanya apapun. Sebelah tangannya yang bebas menahan rahangku. Aku menggenggam tangannya yang menggenggam tanganku dan tangan lainnya kutaruh di bahunya. Meremasnya. Aku berjinjit.
Ia menjauhkan bibirnya. "'Lakukan apa yang kau suka', eh?" Sasuke kini memelukku erat. Aku membenamkan wajahku di dadanya.
"Tapi aku tua, kan? Mungkin saja kau akan membiarkanku mati." Aku terkekeh. "Hanya bercanda. Jangan pergi."
Aku memelukknya lebih erat.
"Hn." gumamnya pelan. "Kau tidak perlu menahan dirimu lagi."
"Aku hanya mau kau mengetahuinya, di planet Aery, para peri akan menikah di usia 120." ucapku. "Dan mereka tak pernah bosan meski telah hidup bersama 500 tahun. Itulah kenapa aku bilang manusia cepat sekali bosan."
Sasuke menatapku serius. "Aku tak akan bosan."
I don't want you to grow up.
"Tapi kau masih remaja. Dari yang kutahu, manusia remaja terkadang masih terlalu muda untuk berpikiran matang."
"Kau tahu banyak." Sasuke membelai pipiku. Aku tersenyum.
"Aku terbiasa membaca beberapa buku peninggalan di sini tentang psikologis manusia. Terkadang hanya sebuah novel, tapi berguna."
"Yang harus kau tahu," bisik Sasuke di telingaku. "… manusia terbiasa menggambarkan segalanya dari mata mereka."
Aku kini memeluk lehernya. Menatap jauh ke dalam manik yang selalu membuatku rindu itu.
"Aku tahu. Matamu selalu membuatku terpesona. Aku tahu sekali."
Kedua tangan Sasuke beralih ke pinggangku. Menarikku lebih dekat dengannya. Aku tersenyum.
"Jangan pernah berubah."
Satu kali lagi Sasuke mencium bibirku. Aku turut menahan kepalanya. Enggan membiarkannya pergi. Namun sayang perlahan aku melepaskannya walau tak rela.
"Jangan pernah tinggalkan aku."
Sasuke tersenyum lembut. "Tentu."
"You took my first kiss. It's a promise."
Bahagia tak terkira menggelitik perutku. Ciuman dan pelukan lembut yang berkesan. Bagi seorang peri, mengambil ciuman pertama seseorang berarti berjanji untuk selalu menjaga cinta di dalam hati.
Aku tersenyum merasakan cintanya dan ketulusannya yang menguar kuat.
»«
.
.
.
»«
To Be Continued
»«
.
.
.
»«
Author's Note:
Hai lagi.
Bagaimana menurut kalian perkembangan menulisku? Hehehe… aku suka banget loh sama mereka berdua yang senantiasa so sweet. Tapi nggak akan bertahan lama, kok. Sasuke kan selalu mau sama Rai-chan. Ya, kan, Sasuke-kun?
Sasuke: (Berbisik ke Sakura) "Ayo pergi."
Sakura: "Ayo."
Sasuke: (Gendong Sakura dan pergi)
Author: (Nangis jerit-jerit)
Ah, sudahlah. =.= Oke, ga banyak bacot lagi, review, ya... ^^
Menerima review dalam bentuk apapun (flame, pujian, kritik, saran, request kelanjutan (pasti dipertimbangkan selama masih nyambung dengan alurku), dll) ^^
