NARUTO © Masashi Kishimoto
SINS © Evellyn Ayuzawa
Title: Sins [Chapter 1]
Author: Evellyn Ayuzawa
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length: Chaptered
Rated: M
Cast:
Naruto U. x Sakura H.
Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.
Thanks To: all reader!
Happy Reading!
NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!
Hati-hati Typo bertebaran ^_^
Story Begin
-AUTHOR Pov.-
.
.
.
.
.
Gadis bersurai merah muda itu berbaring terlentang di atas meja makan di dapur. Kedua tangannya berada di atas kepalanya, terperangkap oleh satu telapak tangan besar milik pria dewasa bersurai pirang yang tengah menindihnya.
Tubuhnya telah basah oleh peluh yang terus keluar. Erangan dan pekikan tak jarang keluar dari bibir keduanya. Sakura bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya. Namun penampilannya tak beda jauh dengan apa yang disebut dengan telanjang.
Empat kancing dari kemeja putih yang ia pakai terbuka hingga memperlihat bagian dalamnya. Bra warna hijau lembut miliknya disingkap ke atas, memperlihatkan sepenuhnya payudara ranum yang tegang pada bagian ujungnya. Serta rok lipat dengan motif kotak-kotak merah hitamnya juga tersingkap ke atas. Celana dalam sepasang dengan branya sudah tak terpasang dari bagian intimnya. Kaus kaki pendek sekolahnya masih terpasang di kedua kakinya yang telah tak bersepatu.
Berbaring dengan kaki yang mengapit tubuh kekar kakak iparnya. Pria dewasa itu terus memacu tubuhnya di dalam gadis itu. Gerakannya cepat dan keras. Membuat gadis di bawahnya memperoleh puncak kenikmatan berkali-kali.
Ini bukanlah pertama kalinya mereka melakukan di dapur, dan tentu saja di seluruh tempat di dalam rumah itu pernah mereka jadikan tempat bercumbu. Atau mungkin lebih tepatnya adalah Naruto yang memaksa gadis muda itu untuk bersedia dicumbuinya.
Dan kenapa Sakura masih memakai seragam sekolahnya? Hal ini bukan karena semata-mata Naruto memaksanya untuk berkostum anak sekolahan, bukan! Sakura jelas tidak akan sudi melakukan itu. Dan pria dewasa itu cukup cerdas untuk memikirkan bahwa melakukan hubungan badan dengan memakai kostum adalah hal yang menurutnya tidak perlu, toh pada akhirnya ia akan membuat Sakura telanjang juga.
Sakura masih memakai seragamnya karena gadis itu memang benar-benar baru pulang sekolah dan belum mengganti seragamnya. Lebih tepatnya dia tidak sempat berganti baju. Naruto selalu mengantar jemputnya sekolah, dan pria itu terlalu kejam hingga tak akan pernah membiarkan Sakura melarikan diri ke kamar sebelum dirinya mendapatkan apa yang ia mau.
Turun dari mobil pun Sakura tidak akan dibiarkan sendiri, Naruto akan membukakan pintu mobil dan segera menyambar atau lebih tepatnya mencengkeram tangan mungil Sakura. Karena kediaman yang mereka tinggali sekarang hanya dihuni mereka bertiga, Naruto dan istrinya serta Sakura –tentu saja.
Tidak ada pelayan atau pembantu rumah tangga. Hanya ada dua orang sekuriti yang berjaga di gerbang. Seminggu sekali akan datang beberapa orang yang datang untuk melakukan semua pekerjaan rumah.
Sakura tidak dapat menolak saat tangan pria itu menuntunnya –atau lebih tepatnya menyeretnya karena tentu saja gadis itu mencoba untuk melawan. Naruto tidak pernah mau melewatkan waktu berduanya dengan Sakura tanpa dapat mencumbui tubuh gadis itu.
Ia membaringkan Sakura di meja dan membuka paksa blazer yang dipakai gadis itu. Lalu kemejanya, walau tak lepas dari lengan Sakura. Menyibak roknya kemudian melepaskan celana dalamnya.
Ada beberapa macam hal yang disukai dan tak disukai seorang pria dalam kehidupan seks mereka. Beberapa orang menyukai pemanasan saat melakukan hubungan intim. Beberapa orang sisanya ingin langsung pada intinya. Dan Naruto adalah pria dewasa yang berada di tengah-tengah dua jenis itu.
Ia akan menjadi jenis pria pertama saat waktu yang dimilikinya cukup panjang. Tapi waktu tak menjadi alasan utamanya. Ia bisa saja menjadi jenis pria kedua jika hasratnya telah tak dapat lagi ia tahan. Atau bisa saja keadaan yang tidak memadai. Dan tentu saja ia akan senang menjadi jenis pria kedua jika pasangannya ingin segera melarikan diri.
Ia adalah pria yang cerdas, pintar dan termasuk ke dalam orang yang efisien. Ia dapat memperkirakan waktu dengan tepat, atau setidaknya hampir mendekati sempurna dalam ketepatan itu.
Hal itu membuatnya dapat dengan mudah menyabotase kegiatannya dengan sang adik ipar. Tentu saja tanpa diketahui istrinya. Selama hampir dua tahun terakhir dan sang istri tak mengetahui apapun.
Istrinya adalah wanita dewasa yang cantik dan juga cerdas. Ia tidak mungkin menikahi seorang wanita bodoh. Wanita itu adalah seorang dokter umum di sebuah rumah sakit yang kebetulan menjadi salah satu tempat di mana Naruto mempunyai setengah dari sahamnya.
Lagi-lagi keberuntungan memihaknya. Menjadi salah satu petinggi rumah sakit membuatnya mengetahui jadwal tugas istrinya. Secara rutin akan ada seseorang yang mengiriminya jadwal kapan wanita itu berangkat dan pulang setiap harinya.
Otaknya tak dapat berhenti berpikir untuk membuat segala rencana kegiatannya ke depan. Sejak pertama dirinya mengenal hingga menjalin hubungan dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya itu, tak satu pun yang terlewatkan dari kehidupan wanita itu. Tentu saja Sakura termasuk di dalamnya.
Haruno Shizuku adalah anak pertama dari dua bersaudara keluarga Haruno. Ia adalah seorang wanita yang menarik dan mudah bergaul dengan siapa saja. Wanita itu juga asik untuk sekedar diajak berbincang. Banyak hal yang membuat wanita itu semakin menarik. Salah satunya yang paling utama menarik perhatian Naruto adalah adik satu-satunya Shizuku. Haruno Sakura.
Pertama kali Naruto bertemu dengan Sakura adalah di rumah sakit tempat Shizuku bekerja juga. Saat itu kedua orang tua Shizuku dan Sakura mengalami kecelakaan dan meninggal dalam perjalanan saat dilarikan ke rumah sakit. Sakura masih berusia lima belas tahun.
Karena sudah tidak memiliki orang tua lagi, Sakura ikut tinggal bersama dengannya dan Shizuku saat mereka sudah menikah. Pindah ke kediaman mewah dan berkelas milik keluarga Namikaze yang berada cukup terasingkan dari hingar bingar keramaian kota Tokyo yang gemerlap.
Naruto pada awalnya biasa saja pada gadis itu. Pertama kali yang menarik perhatiannya adalah rambut merah jambu milik Sakura yang alami tanpa pewarna. Sakura memiliki wajah yang manis. Dia juga seorang gadis yang penurut dan cerdas. Tapi dia juga gadis yang sangat pemalu.
Karena selama kebersamaannya dengan Shizuku, wanita itu sering sekali membicarakan tentang Sakura. Dari hal-hal yang kecil hingga pada kebiasaan Sakura dari kecil yang masih dilakukannya sampai gadis itu tumbuh besar.
Melihat dan mendengar bagaimana Shizuku bercerita tentang Sakura, mau tak mau membuatnya juga ikut memikirkan gadis itu. Naruto mulai penasaran dengan apa saja yang dilakukan Sakura. Apa saja yang gadis itu sukai dan apa saja yang tidak disukai gadis itu.
Semua keingintahuan itu membuatnya jatuh dalam pesona gadis muda itu. Dia bahkan diam-diam mengikuti gadis itu saat keluar rumah. Memperhatikannya melakukan segala aktivitas Sakura dari balik kaca mobilnya yang gelap.
Segala hal tentang gadis itu selalu menarik perhatiannya. Ia tiba-tiba saja merasa sangat menginginkan gadis itu agar menjadi miliknya. Sangat membutuhkan segala hal yang ada pada Sakura untuknya.
Semua itu menimbulkan kemarahan yang sangat besar dari dalam dirinya. Saat ia tak dapat menyentuh gadis itu. Saat ia tak dapat melihat gadis itu. Saat ia tak dapat menjangkaunya. Dan saat ia tak dapat menghirup aroma tubuh gadis itu. Semua itu membuatnya marah!
Semua kemarahan itu membuatnya menyadari kalau itu tidak biasa. Perasaan itu cenderung pada rasa cemburu. Ia jatuh cinta. Jatuh cinta begitu dalam pada Sakura. Dan perasaan cinta itu lama kelamaan berubah menjadi obsesi yang besar terhadap gadis itu.
Hanya dalam waktu beberapa jam saja ia memikirkan hal itu matang-matang. Rencana super cerdik terpampang di depan wajahnya. Karena Sakura masih di bawah umur dan belum bisa dinikahi, maka satu-satunya jalan adalah dengan menikahi kakaknya, Haruno Shizuku.
Hanya dengan cara itulah ia dapat berada dekat dengan Sakura. Naruto tahu bahwa Shizuku telah jatuh cinta kepadanya, wanita itu tidak akan menolak saat ia melamarnya. Dengan adanya fakta itu, semakin memudahkan rencana Naruto.
Ia tahu kalau Shizuku sangat mencintai adiknya. Maka otomatis saat mereka menikah nanti, Sakura pasti akan ikut dengan kakaknya.
Naruto menyeringai lebar saat semua pikiran itu berkelebat dalam otaknya. Ia menundukkan wajahnya ke bawah. Menatap gadis merah muda yang selalu memenuhi pikirannya itu. Memandangi wajahnya yang manis itu bersemu merah dengan mata lebar yang balik menatapnya dengan pandangan sayu karena lelah.
Tubuhnya penuh dengan peluh. Bibirnya sedikit terbuka. Membuatnya ingin mengecupnya lagi dan lagi. Mencabik habis-habisan bibir mungil itu dengan lidah dan giginya.
Oh... betapa gadis manis itu sangat tak berdaya di bawahnya. Sangat lemah. Begitu rapuh dan lembut. Kepolosan yang masih melekat pada diri Sakura menambah nilai plus tersendiri bagi Naruto.
Walaupun gadis itu telah menginjak usia ke delapan belas tahun, tapi pikirannya masih bersih dari dunia luar. Betapa Naruto sangat mensyukuri hal itu. Tak sia-sia ia menyekolahkan Sakura di sekolah khusus perempuan yang mana di sekolah tersebut memberikan pendidikan khusus bagi para bangsawan perempuan untuk siap menjadi istri dan juga ibu rumah tangga kelak.
Sekolah yang memang ia pilihkan agar Sakura tak menjadi pribadi yang memberontak. Walaupun sikap yang ditujukan gadis itu pada dirinya termasuk ke dalam sisi buruk, tapi itu bukanlah salah Sakura. Gadis itu hanya ingin mempertahankan apa yang pantas ia terima.
Naruto sendiri selalu menjaga Sakura dari dunia luar. Ia selalu siap mengantar jemput gadis itu kemana saja dan dimana saja. Tak peduli dengan segala jadwal padatnya, ia harus mengawasi Sakura dengan mata kepalanya sendiri.
Walaupun awalnya Shizuku menolak dirinya yang memberikan perhatian lebih pada Sakura, tetapi hal itu tak menghentikannya. Hanya dengan sedikit bumbu rayuan, wanita itu tanpa bicara telah menyetujuinya juga.
Naruto sempat was-was jika Shizuku mencurigainya. Tetapi ternyata kewaspadaannya itu tak terbukti apapun. Ternyata Shizuku hanya takut Sakura tumbuh dewasa menjadi wanita yang manja karena terlalu diistimewakan.
Memang setelah mereka menikah, Naruto memindahkan Sakura ke sekolah yang statusnya lebih tinggi dari sekolah sebelumnya yang merupakan sekolah swasta biasa serta campuran. Ia sempat meradang karena Sakura harus bersekolah dengan para siswa lelaki.
Naruto juga selalu membelikan barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh Sakura. Dimulai dari pakaian hingga baju dalam. Semuanya baru. Memberikan berbagai macam fasilitas modern untuk gadis itu.
Bahkan Naruto turun tangan secara pribadi untuk mengantar dan menjemput Sakura sekolah. Selalu bersamanya kemanapun gadis itu ingin pergi. Tak ada yang terlewatkan oleh Naruto.
Ia tak membiarkan pengawasannya pada Sakura mengendur walaupun gadis itu telah berada satu atap dengannya. Empat kamera pengawas terpasang di dalam ruang pribadi Sakura. Monitor pengawas terpasang di dalam ruang kerjanya.
Tak akan ia biarkan pandangannya teralihkan dari Sakura. Matanya setia mengawasi gadis itu dua puluh empat jam. Dimanapun gadis itu berada, ia pasti akan menemukannya. Semua kegilaan itu membuat Sakura tak akan bisa melarikan diri darinya. Bahkan untuk sekedar bersembunyi pun tak akan bisa.
Naruto menggeram saat dirasanya ia akan sampai puncaknya. Ia menggerakkan tubuhnya semakin cepat di dalam Sakura. Bibirnya kembali menangkap bibir gadis itu. Kemudian mengangkat tubuh Sakura agar terduduk di meja. Naruto mengerang dalam mulut Sakura saat puncaknya tiba. Menyemburkan cairan kenikmatannya dalam-dalam pada gadis itu.
Mereka berdiam diri dalam posisi duduk seperti itu. Walaupun Naruto sudah selesai dengan puncaknya, ia masih berada dalam tubuh Sakura. Tak akan ia biarkan satu tetespun keluar dari tubuh muda gadis itu.
Ia memeluk erat Sakura dalam dekapannya. Seakan begitu tak rela membiarkan gadis itu terlepas barang sedetikpun dari pelukannya. Kepala merah muda Sakura terkulai lemah di bahu lebarnya. Napasnya sudah teratur. Netra hijaunya terpejam.
"Aku... ingin... mandi," ucap Sakura dengan suara yang sangat lirih. Namun cukup terdengar jelas untuk Naruto.
"Hm," Naruto menjawabnya dengan gumaman pelan.
Naruto melepaskan tautan tubuh intim mereka. Membuat Sakura merintih pelan saat merasakan perih pada pusat dirinya. Pria dewasa itu tak begitu peduli. Ia menaikkan resleting celananya hingga tertutup sempurna dan membenahi kemeja kerjanya.
Kemudian ia melepaskan satu per satu pakaian yang dikenakan Sakura hingga gadis itu telanjang. Mengangkat tubuh rampingnya dengan kedua tangan besar Naruto menuju kamar si gadis. Naruto mendudukkan Sakura pada tepi ranjang yang tampak rapi milik gadis itu.
Sementara dirinya berjalan menuju salah satu pintu di dalam kamar gadis itu yang menghubungkan langsung pada kamar mandi pribadi yang memang tersedia di masing-masing kamar yang ada pada kediamannya.
Naruto mengatur air hangat untuk mengisi bak mandi. Kemudian menuangkan antiseptik dan sabun beraroma terapi ke dalam bak mandi agar bercampur dengan air hangat. Sembari menunggu air memenuhi bak, ia berjalan keluar dan melihat Sakura yang polos tanpa pakaian masih terduduk menunggunya.
Kepala gadis itu tertunduk ke bawah. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah manisnya. Gadis itu memejamkan matanya. Naruto menghela napas saat ia sudah berdiri di depan Sakura. Gadis itu tak memandangnya. Dan itu membuat Naruto lagi-lagi terbakar amarah.
Naruto memang tak terbiasa memperlakukan Sakura dengan lembut. Apalagi jika gadis itu dengan terang-terangan menolaknya. Naruto tak akan segan-segan untuk memberikan sedikit banyak pelajaran agar Sakura bersedia mengakui atensinya.
Pria dewasa itu perlahan mengelus rambut Sakura dengan halus. Membelainya dengan begitu lembut. Namun kemudian menyentaknya ke belakang dengan tarikan yang lumayan kuat hingga gadis itu terpekik keras disertai dengan tatapan tajam yang dilayangkannya pada Naruto.
Sakura mengangkat kedua tangannya ke atas pada tangan Naruto yang masih menerik keras rambutnya. Mencoba sekuat tenaga melepaskan tangan pria itu dari rambutnya.]
"Lepaskan! Sakit!" Sakura meronta minta dilepaskan tetapi Naruto bahkan tak bergerak sedikitpun.
"Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, Sakura. Kau harus mulai menurut padaku jika kau ingin aku bersikap lembut padamu," ucap Naruto datar. Matanya mengawasi Sakura yang juga tengah menatpnya.
"Aku tak butuh kau bersikap lembut padaku, Brengsek! Lepaskan aku dan pergi dari sini!" Sakura tetap meronta sekuat tenaga.
"Kau harus belajar pada pengalamanmu, Sakura. Aku tidak akan pernah pergi dari sini atau darimu!"
Naruto melepaskan genggaman tangannya pada rambut Sakura kemudian mengangkat gadis itu dengan kedua tangannya. Ia melangkah menuju kamar mandi dan menutup pintunya. Naruto menurunkan Sakura pada bak mandi kemudian mematikan airnya karena sudah penuh.
Pria itu kemudian melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya kemudian bergabung dengan Sakura di bak mandi. Naruto berada di belakang Sakura. Tangan pria itu dengan lihai menarik tubuh gadis itu ke belakang dan kembali memerangkapnya dalam dekapan tangan besarnya.
Naruto mulai menggosok punggung ringkih gadis itu. Sakura tak menolak. Pria itu tahu bahwa gadisnya terlalu lelah hingga tak sanggup untuk melawan. Lama-lama tubuh ringkih Sakura bergetar. Naruto menghela napas berat saat tahu gadis itu lagi-lagi menangis.
"Sampai kapan kau akan melakukan hal ini padaku?" pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Sakura mau tak mau menghentikan gerak tangan Naruto pada punggungnya. Pertanyaan itu selalu diulang terus menerus oleh Sakura. Membuat Naruto bosan sekaligus kesal saat bersamaan.
"Sampai kau bersedia menjadi milikku,"
"Tapi kau sudah memiliki kakakku!"
Naruto mendengus keras. Ia meraih bahu Sakura kemudian menuntun gadis itu agar berbalik padanya. Pria itu dapat dengan jelas melihat lelehan-lelehan air mata di kedua pipi merona gadis itu. Perlahan tangan Naruto terangkat kemudian jari-jarinya menghapus air mata itu dengan lembut.
"Aku tidak pernah menginginkannya! Hanya kau, Sakura! Kenapa kau tidak pernah mengerti?!" Sakura menggeleng.
"Tidak! Kau menikah dengan kak Shizuku! Kau menginginkannya dan kau sudah memilikinya! Aku sudah mengerti itu!" Naruto mengapit kedua pipi Sakura dengan telapak tangan besarnya. Menatap gadis itu dengan sungguh-sungguh.
"Kau tidak mengerti! Aku menikahinya karena aku tidak bisa menikahimu! Aku harus menikahinya agar kau berada di dekatku! Agar aku dapat mengawasimu dan menjagamu dari pria-pria brengsek yang tertarik denganmu, Sakura! Aku mencintaimu!"
Sakura lagi-lagi menggeleng keras dengan pernyataan Naruto yang sudah sering pria itu katakan padanya. Sakura tahu dengan pasti arti tatapan mata tajam Naruto yang menyorotnya dengan sangat yakin. Sakura juga tahu bahwa Naruto benar-benar serius dengan kata-katanya. Gadis itu juga tahu bahwa Naruto tak membohonginya.
Tapi ia memilih untuk tak mempercayai semua yang dikatakan oleh pria itu. Ia memilih untuk menolak kenyataan itu. Ia masih memikirkan kakaknya. Kakak satu-satunya yang sangat ia cintai. Kakak yang sekarang menjadi satu-satunya keluarga di dunia ini.
Setiap ia melihat Naruto, selalu wajah kakaknya yang hadir dalam benaknya. Seolah mengingatkannya bahwa ia telah berdosa pada kakaknya dengan semua kenyataan yang terpampang jelas.
Sebuah realita hidupnya seolah menampar keras wajahnya setiap kali wajah kakaknya hadir dalam pikirannya. Dosa yang tak dapat ia hindari selalu menambah beban dalam dadanya. Setiap dosa yang dia dan Naruto lakukan di belakang kakaknya selama ini.
Semua dosa yang ia miliki membuatnya terpaksa menjauh dari kakak yang sangat ia cintai. Membuatnya menutup diri dari kakaknya maupun dunia luar karena saking malunya ia pada kenyataan.
Semua dosa itu bersumber dari pria yang sekarang tengah menatapnya lembut dari kedua mata birunya yang sekarang menatap Sakura sayu. Gadis itu balik menatap Naruto yang masih memegangi sisi wajahnya agar tak berpaling.
Oh... bagaimana bisa ia berpaling dari mata indah itu jika ditatap oleh pria itu penuh cinta? Mata yang sangat indah. Yang dapat menghisapnya begitu dalam ke bukit kebahagiaan. Namun juga melemparnya telak pada kesengsaraan setiap kali bayangan kakaknya hadir.
Sakura kembali menangis saat satu dosa lagi yang ia dapatkan. Bagaimana ia tak berdosa saat dirinya tak dapat menolak hatinya dimiliki pria itu. Jatuh cinta memiliki arti yang sangat mengerikan bagi Sakura.
Berkali-kali dirinya memperingati hatinya agar mengilangkan perasaan itu. Ia sudah begitu terpuruk dengan semua dosa yang menumpuk padanya. Ia ingin membersihkan perlahan-lahan dari tumpukan dosa itu dan bukannya ingin menambahnya.
Tidak mungkin ia membiarkan dirinya membalas perasaan pria itu. Jika ia membalasnya, yang tersakiti adalah kakaknya. Naruto adalah pria yang kejam dan egois. Pasti jika ia sudah mendapatkan apa yang ia mau dari Sakura, kakaknya akan dibuang begitu saja oleh pria itu.
Sakura bahkan tak berani memikirkan apa yang terjadi pada kakaknya jika ia tega membalas perasaan Naruto. Sakura takut dibenci kakaknya. Sakura takut dijauhi kakaknya. Sakura takut ditinggalkan kakaknya.
Oh... andaikan ada seseorang yang dapat menolongnya dari lingkaran dosa ini. Sakura berharap semoga Tuhan berbaik hati untuk menurunkan salah satu malaikatnya agar membantu Sakura lepas dari jeratan dosa yang tak ada habis-habisnya ini. Seseorang yang mampu membimbing jalan yang harus Sakura lewati agar terhindar dari dosa-dosa ini.
"Kau harus percaya padaku, Sakura," suara serak Naruto menyadarkannya dari dunianya.
Sakura tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya saat bibir mungilnya kembali ditawan oleh bibir Naruto. Membawanya kembali hanyut pada desiran ombak hasrat yang menggebu-gebu. Tubuhnya terangkat oleh tangan Naruto dan mendarat pada pangkuan pria itu.
Sekelebat pikiran egois dalam dirinya menyambangi Sakura. Biarlah ia menikmati momen ini berdua. Sebelum siksaan dosa kembali padanya. Sebelum wajah kakaknya juga menyakitinya.
"Aku membencimu!"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N:
Hai... aku kembali dengan chapter 1. Maaf kalau pendek. Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang teman yang kurang lebih dia posisinya sama kayak Sakura. Duh agak ngeri juga sih kalo jadi dia.
Oh iya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga dosa kita diampuni dan amal ibadah kita diterima Allah SWT.
Karena ini bulan suci Ramadhan, jadi sebaiknya yang berpuasa membaca setelah buka puasa ya!
Terimakasih sudah bersedia membaca karyaku. Maaf kalau membosankan atau tidak sesuai dengan keinginan kalian.
RnR please!
