NARUTO © Masashi Kishimoto

SINS © Evellyn Ayuzawa

Title: Sins [Chapter 2]

Author: Evellyn Ayuzawa

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Rated: M

Cast:

Naruto U. x Sakura H.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Thanks To: all reader!

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

-AUTHOR Pov.-

.

.

.

.

.

Sakura mengerang pelan saat merasakan tubuhnya pegal dan ngilu dimana-mana. Tak perlu ada penjelasan rumit mengapa sekujur tubuhnya sakit. Hal ini selalu terulang hampir setiap hari seperti sekarang. Tepatnya memang selalu terjadi saat dirinya hanya berdua saja dengan bajingan brengsek itu. Kakak iparnya tersayang.

Ia mengeratkan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya di ranjang, sendirian. Sakura beringsut ke bagian kiri ranjangnya yang beberapa jam lalu di tempati oleh si brengsek pemaksa yang konyolnya berstatus sebagai kakak iparnya.

Sakura memeluk bantal yang menguarkan aroma mint dan maskulin yang tertinggal di sana. Aroma itu sangat mencerminkan si pemiliknya. Sangat maskulin dan arogan. Walaupun fisik dan jiwanya selalu membantahnya tetapi hatinya tak bisa. Semua hal yang ada dan melekat pada pria itu membuatnya mau tak mau sangat kecanduan.

Sekali lagi dirinya hanya bisa tersenyum miris saat menyadari kembali kesalahannya. Setiap pria itu menyentuhnya, memaksanya, mencumbunya atau apapun bentuk dominan dari pria itu selalu membuat perasaan aneh dan sakral itu ikut tumbuh. Perasaan itu ikut-ikutan menambah deretan dosanya hingga Sakura sendiri tak dapat menghitungnya.

Ia tak dapat mengendalikan pikirannya. Seberapa seringnya dan kuatnya ia menolak, dengan cepat ia akan menurut. Kakak iparnya yang sangat jahat dan dibencinya membuat hari-harinya suram. Ia takut perbuatan hina itu diketahui kakaknya.

Sakura yang manis sangat takut jika kakaknya Shizuku tahu hubungan terlarangnya dengan suaminya. Sakura tak ingin Shizuku sakit hati. Ia takut Shizuku nanti akan marah. Ia takut kakaknya tahu penyebab kenapa sampai sekarang belum juga memiliki anak dengan suaminya. Sakura takut kakaknya tak akan memaafkannya. Ia takut dibuang oleh kakaknya. Sakura yang malang.

Hampir saja Sakura berada di dunia mimpi lagi jika suara ketukan di pintu tak terdengar. Suara kakaknya menyadarkan dari kantuknya.

"Sakura, bangun sayang! Cepat turun dan sarapan!" suara riang kakaknya terdengar kencang di luar kamarnya.

Membuat Sakura ingin membalasnya dengan suara yang sama cerianya. Namun itu tak bisa ia lakukan. Dengan keadaan seperti ini Sakura tak dapat lagi ceria. Bahkan hanya berpura-pura saja ia tak sanggup. Sudah banyak hal yang ia lakukan dengan topeng kepalsuan. Setidaknya untuk kakak tercintanya ia berusaha untuk sedikit yeah... jujur.

"Iya. Aku akan segera turun," Sakura menyahuti dengan pelan.

Kakaknya sudah terbiasa dengan sikap Sakura yang sedikit dingin jadi Shizuku sudah terbiasa. Setelah mendapat jawaban dari Sakura, Shizuku kembali pada aktivitasnya di dapur.

Sakura masih berada di ranjang. Belum memikirkan untuk segera turun dari selimut dan bergegas mandi. Ia takut hari ini akan sama dengan hari-hari sebelumnya. Bangun tidur, mandi, berangkat sekolah kemudian pulang, dan disetubuhi kakak iparnya.

Hal terakhir itu sangat menakutkan baginya. Ia ingin mengakhiri hubungan itu. Tapi jika hanya satu pihak saja yang menginginkannya hal itu tak akan bisa terjadi. Apalagi jika yang menolak adalah pihak yang sangat berwenang untuk memberikan keputusan dan yang menginginkan adalah Sakura yang tak berdaya.

Sakura mulai pusing dengan semua pemikiran tadi. Ia ingin bangun dari tempat tidurnya dan mendapati darah berada di selangkangannya. Ia butuh istirahat. Ia butuh menstruasi datang lebih cepat.

Namun betapa kecewanya ia saat melihat ranjangnya dan tak ada noda darah di sana. Sakura sangat sedih saat tahu dirinya belum datang bulan.

Dengan hati yang sakit dan juga seluruh tubuhnya, Sakura bangkit dari tempat tidurnya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah siap dengan seragam sekolah dan semua perlengkapannya, gadis merah muda itu lekas menuju ke ruang makan.

Sakura berhenti sebentar di ambang pintu dapur untuk melihat pemandangan yang selalu terulang setiap hari setiap pagi. Kakaknya sedang di dapur menyiapkan makanan ditemani dengan pembantu rumah tangga yang secara berkala datang ke rumah menyiapkan makanan tapi tidak menetap. Kemudian kakak iparnya sedang membaca koran di meja makan sembari menunggu istrinya selesai dengan semua kegiatan memasaknya. Sungguh pemandangan itu membuat seolah-olah mereka adalah keluarga bahagia.

Lalu tiba-tiba jantung Sakura terasa sakit sekaligus berdebar saat mata biru itu memandangnya tajam dari seberang meja. Pria itu terlihat luar biasa tampan dan menawan dengan segala kemaskulinan dan kedewasaannya dalam balutan setelan jas kerja yang rapi.

Pria itu melipat korannya kemudian menaruh di meja. Menatap Sakura dengan bola mata birunya yang tajam kemudian kemudian melempar seringai kejamnya pada si malang adik iparnya yang langsung bergidik ketakutan.

Naruto menelusuri tubuh Sakura dari ujung rambut hingga kaki jenjangnya yang dibalut kaus kaki pendek dengan sepatu hitam khas anak sekolahan. Pria itu meneguk ludahnya sendiri setelah melihat penampilan manis adik iparnya. Tubuhnya kecil tapi berisi, wajahnya cantik tapi polos. Membuatnya sulit membiarkan gadis itu lepas dari cakarnya.

Sakura yang terus menerus diperhatikan dengan mata Naruto yang mulai menggelap ingin cepat-cepat melarikan diri. Langkah pertamanya untuk mundur langsung gagal saat kakak perempuannya memanggil dengan suara yang ceria seperti biasanya kemudian menyuruhnya untuk segera duduk dan bergabung dengan mereka di ruang makan.

Gadis itu tak punya alasan untuk pergi dari sana karena jika dia tak ikut sarapan berarti ia tak akan makan sampai nanti jam makan siang dan kebetulan sekali kemarin dia tak ikut makan malam jadi jika tak ingin pingsan karena kelaparan, terpaksa Sakura pelan-pelan menuju meja makan.

Sakura duduk di ujung meja karena tempat itu adalah tempat yang paling jauh dari kakak iparnya yang duduk di kursi ujung satunya. Kakaknya akan duduk di tempat yang paling dekat dengan suaminya dan hal itu sungguh disyukuri oleh Sakura.

Waktunya berangkat, Sakura ikut kakaknya dan suaminya semobil. Tak mungkin bagi Sakura untuk berangkat sendiri. Pria itu tak akan pernah membiarkannya.

Naruto sudah ada di belakang kemudi saat Sakura masuk duluan sebelum kakaknya. Gadis itu duduk di belakang tanpa berani menatap kakak iparnya. Sakura tahu jika pria itu melihatnya dari kaca depan.

"Kau harus ke tengah," ucap Naruto dengan suaranya yang serak.

Sakura memang duduk melekat dengan pintu karena saking tak ingin terlihat dari kaca itu. Sakura menuruti perintah itu secara langsung. Gadis itu tak habis pikir dengan segala pengaruh dari kakak iparnya membuat ia tak bisa lagi menolak.

"Buka pahamu," Sakura hanya diam dan menurutinya dengan pipi yang merona.

"Singkirkan celana sialan itu," ini selalu terjadi dan Sakura hanya diam dan menurutinya dengan menyampingkan celana dalamnya ke samping.

"Letakkan jari telunjukmu di klitmu lalu usap ke atas dan bawah," Sakura lagi-lagi menurutinya dalam diam.

"Usap dengan cepat," Sakura mulai mengusapnya dengan cepat hingga rintihan ringan mulai keluar. Cepat-cepat gadis itu membekap mulutnya dengan tangannya yang diam.

"Kau harus melakukannya dengan cepat atau kakakmu akan berada di sini dan melihatmu mempermalukan dirimu sendiri dengan membuka celanamu padaku," Sakura ingin menangis tapi dengan masturbasinya hanya keinginan klimaks yang ditujunya. Gadis itu bahkan tak sadar telah menaikkan kaki kirinya ke kursi sehingga memperlihatkan miliknya yang basah lebar-lebar. Hal itu membuat Naruto menyeringai lebih lebar melihat Sakura mulai melepaskan diri dari sangkarnya.

"Aku ingin memilikimu sekarang," Naruto melotarkan keinginannya yang membuat Sakura semakin panas, apalagi adrenalin yang terpacu karena takut ketahuan oleh kakaknya semakin membuatnya bergairah. Lenguhan dan rintihan kecil semakin sering keluar. Naruto diam-diam mulai mengusap kejantanannya sendiri yang membesar dalam celananya.

"Aaah!" jeritan kecil keluar dari mulut manis Sakura saat gelombang kenikmatan menyapunya. Tubuhnya melemas tak berdaya di kursi belakang sampai sengatan listrik menghampirinya saat tangan besar itu terulur kemudian mengusap vaginanya yang sangat basah.

Naruto mengusap permukaannya kemudian menuju klit Sakura yang membuat tangan kecil gadis itu memegangi tangan besar Naruto erat karena membuat tubuh gadis itu bergetar. Naruto tersenyum lebar karena ia tahu Sakura menikmati tangannya di sana. Gadis itu memejamkan matanya dan mengeluarkan desahan kecil dari bibir manisnya.

Naruto memindahkan tangannya dari klit Sakura kemudian meluncurkan jari tengahnya ke dalam lubang kenikmatan Sakura yang membuat gadis itu terlonjak kaget dengan benda asing itu.

"Jangan, nanti kakak datang!" Sakura berusaha menyingkirkan tangan Naruto yang sama sekali tak bergerak dari sana. Sakura kemudian mengatupkan pahanya yang sialnya malah membuatnya ingin sampai untuk kedua kalinya karena dengan begitu jari Naruto terjepit di dalamnya.

"Katakan padaku kau menyukainya," ucap Naruto dengan suaranya yang semakin serak.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat kemudian saat matanya membuka, tiba-tiba mata Naruto terlihat sangat dekat dengannya. Mata biru itu sangat gelap dengan pupil yang membesar. Membuat Sakura terhipnotis dengan mata yang menenggelamkannya.

"Ya," Sakura hanya berbisik.

"Ya apa?" Naruto semakin cepat memasukkan dan mengeluarkan jarinya dalam vagina Sakura.

"Aku suka," Naruto menghentikan jarinya di dalam gadis itu yang langsung membuat Sakura mengeluarkan rengekannya

"Suka apa?" Sakura hampir sampai, Naruto tahu karena tubuh gadis itu kembali menegang.

"Apa yang kau sukai, Sakura? Jariku atau penisku?" Naruto sengaja menggoda gadis itu dengan kata-katanya yang kotor kemudian menggerakkan kembali jarinya keluar masuk dengan tempo lambat. Sakura sudah sangat dekat, tapi Naruto lagi-lagi menghentikan jarinya di dalam.

"Jarimu... aah!" Naruto mempercepat gerakan jarinya kemudian berhenti lagi. Sakura terlihat sangat menggemaskan dengan rengekannya.

"Jari atau penis?" Naruto membawa tangan kecil Sakura pada kejantanannya yang tegang di balik celana kantornya. Dengan reflek tangan gadis itu meremasnya dari luar, membuat Naruto melebarkan matanya karena tangan nakal gadis itu.

"Aku mohon..., Nii-sama," Naruto berdebar saat melihat mata Sakura yang sayu dengan keringat yang membasahi wajah cantiknya dan jari-jarinya yang berada di dalam vagina manisnya kemudian tangan Sakura yang berada di luar celananya dan ditambah panggilan itu membuatnya hilang kendali. Sakura sangat indah saat menginginkan kenikmatan darinya.

Naruto menarik tangan Sakura dari celananya untuk ia lingkarkan di lehernya kemudian menangkap bibir yang telah memanggilnya tadi. Melumatnya dengan rakus dan membelitkan lidah mereka. Jari-jari Naruto bekerja dengan cepat dan membuat Sakura terpecah berkeping-keping karena kenikmatan yang membanjirinya. Lenguhan nikmat Sakura tenggelam dalam pangutan bibir keduanya.

Keduanya masih saling melumat bibir masing-masing. Sakura bahkan sudah melingkarkan kedua tangannya di leher kakak iparnya. Euforia dari klimaksnya tampaknya sangat mempengaruhi Sakura dan membawanya menjauh dari bumi. Ingatan akan kakaknya bagai terhapus sementara. Naruto pun tak memikirkan jika kemungkinan mereka akan ketahuan oleh istrinya. Segalanya yang terpikirkan hanya tentang mereka berdua.

Hingga tak menyadari seorang wanita yang berada di ambang pintu utama rumah mewah itu menangis dalam diam dengan apa yang kedua orang terdekatnya baru saja mereka lakukan. Sudah lumayan lama ia berdiri di sana melihat apa saja yang suaminya dan adiknya lakukan. Hatinya sakit hingga berdarah-darah. Mereka mengkhianatinya... lagi. Mereka melakukannya... lagi...

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N:

Hai... aku kembali dengan chapter 2. Maaf kalau pendek. Maaf banget karena lama banget apdetnya. Author lagi buntu. Mungkin FF ini akan menjadi fokusku mulai sekarang jadi yang menunggu cerita lainnya ya kalau Author lagi lenggang dan ada ide pasti akan aku teruskan. Yeyy... akhirnya aku udah semester 6. Minta do'anya ya teman-teman, semoga tambah pinter dan makin rajin apdet FF.

Terimakasih sudah bersedia membaca karyaku. Maaf kalau membosankan atau tidak sesuai dengan keinginan kalian.

RnR please!