NARUTO © Masashi Kishimoto

SINS © Evellyn Ayuzawa

Title: Sins [Chapter 3]

Author: Evellyn Ayuzawa

Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Rated: M

Cast:

Naruto U. x Sakura H.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Thanks To: all reader!

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

-AUTHOR Pov.-

.

.

.

.

.

Hari sudah semakin larut dan Shizuku masih berada di kantornya di rumah sakit tempatnya bekerja. Hatinya sudah tidak tenang dari beberapa hari yang lalu saat sikap Sakura berubah. Sebenarnya adiknya itu memang pada dasarnya pendiam tapi kali ini sikap Sakura padanya terlihat sangat aneh dan mencurigakan, hal itu membuatnya khawatir.

Sakura walaupun pendiam tetapi gadis itu akan selalu terbuka dan jujur padanya, setidaknya itulah yang selama ini ia ketahui tentang adiknya. Setelah ia menikah dengan Naruto, Shizuku merasa dunianya lengkap kembali setelah kehilangan orang tuanya. Mendapatkan seorang suami yang baik, berpendidikan dan dari keluarga terhormat sungguh tak ada bandingannya. Ia mencintai suaminya dan suaminya juga mencintainya. Pria itu tak keberatan dengan adanya Sakura di tengah rumah tangga mereka. Malahan suaminya itu sangat senang saat ia memberitahu perihal dirinya yang tak bisa meninggalkan Sakura sendiri setelah menikah. Bahkan suaminya sangat menyayangi Sakura kecilnya. Memindahkan adiknya ke sekolah yang lebih baik dan mencukupi semua kebutuhannya. Sungguh ia sangat bersyukur karena menikah dengan Naruto.

Akan tetapi, semua bentuk perhatian suaminya pada Sakura sedikit berlebihan. Bahkan bisa dikatakan memang sangat berlebihan. Naruto sangat menjaga Sakura. Sangat menjaga itu baik, tetapi jika dalam bentuk sewajarnya saja. Sikap Naruto terlalu aneh. Suaminya sangat protektif, bahkan dengan istrinya sendiri tak seperti itu. Berangkat dan pulang sekolah harus diantar jemput sendiri oleh Naruto tapi jika istrinya sendiri tak begitu, malahan Shizuku sering mengendarai mobil sendiri. Ia kadang bertanya-tanya, apakah Naruto sangat menginginkan seorang anak darinya sehingga sembari menunggu mereka dikaruniai buah hati sendiri Naruto menganggap seolah Sakura adalah anaknya. Awalnya hal itulah yang mendasari pikirannya tentang segala bentuk perhatian Naruto pada adiknya tetapi semua itu lama kelamaan membuatnya curiga.

Di luar, hujan deras mengguyur kota. Shizuku bersiap-siap pulang ke rumah. Sebenarnya hari ini ia ingin pulang cepat, bukan karena ingin cepat-cepat istirahat tetapi karena hari ini adalah salah satu hari istimewa baginya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya Sakura, adik kecilnya. Yah... walaupun Sakura sekarang sudah delapan belas tahun tetapi hal itu tak berubah menganggapnya adik kecil. Sebenarnya Sakura adalah gadis yang manja tetapi setelah orang tua mereka tak ada lagi ia tak lagi manja padanya karena Shizuku tahu bahwa ia takut membuatnya repot atau jengkel. Padahal Shizuku tak akan pernah merasa keberatan jika gadis kecilnya sedikit bermanja padanya. Sakura selalu menuruti apa yang Shizuku katakan. Jika ia mengatakan pada Sakura untuk jangan sedih atau menangisi ayah ibu mereka gadis kecilnya itu melakukannya. Bahkan Sakura hanya menangis satu kali saja saat berita ayah ibu mereka meninggal. Sakura tak lagi berkeluh kesah tentang apapun padanya, ia takut jika gadis kecilnya menyimpannya sendiri dalam hati.

Shizuku sudah selesai berkemas, ia akan mampir dulu ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun untuk Sakura mungkin jika ada ia akan membelikannya hadiah sekalian. Sesampainya Shizuku di rumah, pagar depan dibukakan oleh penjaga pintu. Shizuku melihat mobil mewah suaminya telah terparkir di garasi rumah mereka.

Ia masuk rumah dengan mengendap-endap, Shizuku ingin mengejutkan adik kecilnya. Ia masuk dapur dan menyiapkan kue yang tadi dibelinya kemudian menaruh lilin di atasnya dan menyalakannya sekalian. Ia berjalan pelan menuju kamar adiknya. Shizuku menengok ke segala arah tetapi tak dapat menemukan suaminya. Biasanya jika suaminya itu pulang duluan pasti pria itu berada di kamar mereka sedang istirahat atau malah bekerja lagi di dalam ruang pribadinya. Shizuku memilih tak memikirkan itu lagi dan fokus menuju kamar adiknya yang mungkin saja sudah tidur.

Ia hanya ingin melihat adiknya tidur dengan damai dan Shizuku hanya akan menaruh kue itu di meja belajar Sakura dengan lilin yang ia tiup sendiri untuk mewakili adiknya yang tertidur kemudian mencium kening adiknya dan menaruh hadiah di pelukan Sakura. Hatinya gembira saat memikirkan bagaimana reaksi adiknya itu jika melihat bahwa kakaknya ini tak melupakan hari kelahirannya. Mungkin Sakura akan segera melompat dari ranjangnya lalu berlari untuk mencari kakaknya kemudian memeluk dan mencium Shizuku di depan suaminya yang akan tertawa melihat tingkah Sakura yang tak seperti biasanya. Shizuku tersenyum lebar memikirkan hal itu.

Shizuku telah sampai di depan pintu kamar adiknya. Ia memegang handle pintu tetapi berhenti karena salah satu lilinnya mati. Shizuku kembali menyalakan lilinnya dan ia bersyukur karena tadi memutuskan untuk membawa korek api untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu lilinnya mati dan ia tak harus kembali ke dapur hanya untuk menyalakan satu lilin saja.

Ia kembali meraih handle pintu, suara hujan di luar sana membuatnya tak tahu apa-apa di dalam kamar adiknya. Biasanya Sakura jika belum tidur akan menonton tv dulu atau menyalakan musik. Karena suara hujan jadi ia tak tahu adiknya itu sudah tidur atau belum. Dengan hati yang riang, ia membuka pintu dengan pelan.

Pintu terbuka sedikit dan tangan Shizuku tak dapat melanjutkannya lagi. Tubuhnya membeku dan tangannya kaku. Kue yang berada di tangannya terasa lumpuh. Matanya langsung panas dan tak ia sadari lagi bahwa air matanya telah mengalir. Ia melihat hal yang sangat jauh dari pikiran positifnya.

Mereka berdua. Di sana. Di atas ranjang adiknya. Saling tindih. Tak berbusana. Telanjang. Suaminya. Adik kecilnya. Naruto dan Sakura.

Shizuku menggigit bibirnya kuat-kuat saat menyaksikan kegiatan intim mereka. Dua orang yang sangat ia sayangi sedang memadu kasih di kamar adiknya. Tanpa mengunci pintu? Apakah mereka berdua sengaja agar Shizuku mengetahui kegiatan salah mereka berdua? Apakah mereka ingin membuat Shizuku mati berdiri? Kenapa mereka melakukan itu? Sudah berapa kali mereka telah melakukannya? Dari awal Naruto menikahinya? Apakah sudah selama itu? Dan Sakura hanya diam saja membodohi kakaknya.

Shizuku berbalik dan melangkah menjauhi kamar sialan itu. Ia sangat marah pada mereka. Kue dan hadiah yang telah ia siapkan tadi sudah tak ada artinya lagi. Ia langsung membuangnya ke tempat sampah. Shizuku sangat marah! Ia ingin membunuh suami dan adiknya yang telah mengkhianatinya kemudian membunuh dirinya sendiri karena jika hidup dia akan menjadi mayat hidup jadi apa bedanya dengan mati.

Tapi kemudian ia merasa sangat bersalah. Bagaimana jika selama ini Naruto tak mencintainya dan malah mencintai adiknya. Naruto merasa bertanggung jawab karena telah membuatnya jatuh cinta, makanya suaminya mengajaknya menikah. Suaminya tak ingin ia terluka. Naruto tak mungkin secara terbuka mengatakan bahwa ia mencintai Sakura. Shizuku akan sangat marah pada adiknya walaupun itu semua bukanlah salahnya. Tetapi dengan perasaan Shizuku yang sangat besar pada Naruto, adiknya akan dengan mudah ia benci. Dan pasti karena takut Shizuku akan membenci gadis yang dicintainya maka Naruto terpaksa menikahinya walaupun ia harus mengorbankan cinta mereka.

Shizuku mulai menangis tersedu-sedu. Tangisnya pecah saat hati dan pikirannya dirundung rasa bersalah. Adiknya memang sangat cantik. Sakura adalah gadis yang sempurna. Kecantikan dan kepolosan serta usia yang masih belia membuatnya menjadi semakin sempurna. Shizuku sangat iri dengan apa yang dimiliki adiknya. Kasih sayang orang tua, teman-teman yang setia, otak yang cerdas dan perilaku yang baik. Semua yang dimiliki Sakura berbanding terbalik dengannya.

Orang tua mereka memang melimpahi kasih sayang yang adil tetapi tentu saja sebagai kakak, Shizuku sedikit banyak mengalah dalam banyak hal termasuk perhatian orang tuanya. Teman-teman Shizuku tak ada yang bertahan lama, maka dari itu ia belajar menjadi seseorang yang mudah bergaul agar memiliki banyak teman tetapi semua teman yang pernah ia miliki hanya orang-orang yang ingin bersenang-senang saja. maka dari itu saat Naruto muncul dan membuatnya nyaman, ia langsung jatuh cinta pada pria itu. Untuk prestasi dan perilaku, Shizuku sebenarnya adalah gadis yang tomboi. Ayah ibunya sangat memanjakannya sewaktu Sakura belum lahir jadi ia terbiasa semena-mena dan semakin usianya bertambah dirinya mulai membenahi sikapnya untuk menyambut kedewasaannya. Ia tak terlalu cerdas jadi Shizuku perlu belajar mati-matian agar bisa meraih cita-citanya menjadi dokter. Semua usaha yang ia jalani tak ada apa-apanya sama sekali jika dibandingkan adiknya. Sakura sangat cepat menyerap semua hal. Gadis kecil itu memiliki ingatan yang kuat dan otak cerdas. Sakura dapat dengan mudah mengalahkannya.

Jadi sekarang ia juga kalah dari adiknya. Kalah mendapatkan cinta dari suaminya. Kecantikan Sakura memang semakin matang saja saat kedewasaan semakin mendekati. Mungkin karena alasan itu suaminya memindahkan Sakura ke sekolah khusus perempuan. Di sana Sakura dijauhkan dari laki-laki. Tak ada satu orangpun laki-laki di sekolah itu. Bahkan untuk penjaga keamanannya adalah wanita. Satu per satu perhatian Naruto untuk adiknya itu mulai ia ketahui kemungkinan-kemungkinan alasan dibalik semua itu. Intinya Naruto ingin Sakura untuk dirinya sendiri.

Sakura tak pernah keluar rumah. Semuanya ditangani oleh Naruto. Untuk semua yang dipakai adiknya Naruto khusus mendatangkan sahabatnya Karin untuk membelikan segala keperluan Sakura. Jikapun Sakura harus keluar rumah, lagi-lagi suaminya yang akan mengantar jemput. Semua tentang Sakura selalu ditangani sendiri oleh Naruto. Bahkan Shizuku yang adalah seorang kakak kandungnya tak lagi dapat melakukan semua itu.

Shizuku membiarkan tubuhnya merosot dan terduduk di lantai dapur yang gelap. Rasa bersalah, marah dan kecewa bercampur aduk dalam hati dan pikirannya. Tiba-tiba kepalanya pening bukan main. Semua pandangan matanya mengabur dan gelap. Ia tak bisa bangkit. Tubuhnya terlalu lemas. Kepalanya menunduk kemudian ia tak ingat apapun. Kegelapan menelannya.

.

.

.

.

.

Shizuku bangun dengan kepala yang pusing. Ia menyentuh keningnya. Panas sekali, ia pasti demam. Shizuku menatap langit-langit, ia ada di dalam kamarnya dengan suaminya. Ia kembali teringat kejadian kemarin. Adiknya bercumbu dengan suaminya. Suaminya mencumbu adiknya. Mereka bersetubuh. Mereka mengkhianatinya. Hatinya hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba pintu terbuka, Naruto masuk dengan seorang dokter wanita yang sangat ia kenal. Nona Shizune adalah seniornya di rumah sakit. Wanita itu sangat baik dan ramah. Ia adalah dokter yang hebat. Shizuku tak dapat melihat wajah suaminya. Ia takut air matanya kembali keluar jadi ia memusatkan pandangannya pada dokter Shizune.

"Shizuku, kau sangat ceroboh! Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu jatuh sakit di saat rumah sakit kita butuh banyak tenaga. Dasar bodoh! Kau terlalu bekerja keras sampai larut malam dan sekarang lihatlah perbuatanmu itu. Kau sakit dan aku harus meninggalkan pasienku di rumah sakit hanya untuk memeriksamu karena suamimu yang tampan tapi menjengkelkan ini memaksaku ke sini setelah ia menemukanmu tak sadarkan diri, ia sangat khawatir tahu. Naruto, kau harus membayarku mahal!" Shizune memberondonginya dengan kalimat pura-pura marahnya yang mirisnya bukannya membuatnya baikkan malah membuatnya semakin sakit.

"Terimakasih, Dokter Shizune. Aku hanya kelelahan. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Shizuku lemah sembari memaksakan senyum pada Shizune.

"Kita tak sedang di rumah sakit! Kenapa kau masih saja memanggilku Dokter? Aku kan sudah menyuruhmu untuk memanggil namaku saja jika di luar jam kerja kita. Baiklah, aku tak akan berlama-lama lagi. Aku tak perlu memberikan penjelasan apapun padamu karena hal itu akan sia-sia saja karena kebetulan kau juga seorang dokter jadi aku akan langsung meninggalkan semua obat-obatan yang kau perlukan dan pergi. Bye!" Shizune tak memberi mereka waktu untuk menjawab. Wanita nyentrik itu pergi begitu saja setelah membisikan Naruto tagihannya.

"Kau ingin makan sekarang?" tanya Naruto pelan.

Shizuku melihat mata laki-laki itu dengan mata yang panas. Ia dapat melihat kekhawatiran yang Naruto perlihatkan di dalam matanya. Hal itu semakin membuatnya merasa bersalah dan ingin menangis. Naruto terlihat sangat cemas dengan keadaannya. Apakah suaminya itu benar-benar mengkhawatirkannya ataukah hanya pura-pura saja agar ia tak marah padanya?

Akan tetapi, bagaimana bisa dirinya marah saat mengetahui semua kebenaran yang ia simpulkan kemarin. Naruto adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Pria itu bahkan tak ingin menyakitinya. Jadi biarlah semua kebenaran itu ia pendam dalam-dalam untuk dirinya sendiri. Naruto sudah memberikan apa yang ia inginkan. Suami yang sangat bertanggung jawab dan sangat menghargainya, kebahagiaan apalagi yang belum ia dapatkan? Ya... ada satu yang belum ia dapatkan. Yaitu kebahagiaan dari suaminya. Ia ingin melihat suaminya bahagia. Jika bersama Sakura dapat membahagiakan Naruto, ia rela walaupun rasa sakit memojokkannya. Sakura juga harus bahagia, adiknya harus tersenyum seperti dulu. Bukan dengan senyum yang dipaksakan.

Jadi, ia akan tersenyum menghadapi semua ini. Ia akan memendam semua yang ia ketahui dalam hatinya dan tak akan merasa sakit. Mereka berdua pantas berbahagia.

"Aku hanya ingin melihat Sakura," jawab Shizuku pelan dengan senyum kecil di bibirnya.

"Dia sudah ku antar ke sekolah," hati Shizuku masih merasakan sakitnya saat Naruto dengan mudah mengatakan bahwa ia mengantar Sakura sendiri.

"Kalau begitu aku ingin istirahat saja," Naruto mengangguk kemudian menyelimuti istrinya dan mengusap rambut Shizuku untuk ia cium setelahnya.

"Istirahatlah, aku akan bekerja di rumah. Aku akan selalu ada saat kau membutuhkanku," Shizuku ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang juga. Naruto sangat menjaganya. Ia ingin memilikinya untuk dirinya sendiri. Tetapi hal itu akan membuat mereka terhalangi jadi ia akan mundur perlahan-lahan.

"Terimakasih," Naruto mengangguk kemudian mencium keningnya lagi dan pergi ke ruang kerjanya.

Shizuku menggigit selimut kencang-kencang untuk menahan isakannya sendiri yang tak dapat ia tahan lagi. Ia hanya ingin menumpahkan segalanya. Ia akan bertahan di samping Naruto agar suaminya bisa dekat dengan Sakura. Walaupun itu akan menyakitinya, tak masalah. Karena ia mencintai mereka berdua.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N:

Hai... aku kembali dengan chapter 3. Maaf kalau pendek. Ini episod flashback dari kakaknya Sakura. Kali ini cepet apdetnya. Yah.. dengan tekad kuat jadi saya mengerjakannya juga lebih semangat. Saya usahakan apdet tiap hari. Do'akan saja saya ada waktu buat nulis soalnya ini saya lagi bingung nyari judul buat skripsi.

Terimakasih sudah bersedia membaca karyaku. Maaf kalau membosankan atau tidak sesuai dengan keinginan kalian.

RnR please!