Chapter 2: Luka Sendu

Tuk Jadi Kenangan

»«

.

.

.

»«

Summary: Sebuah surat yang dikirimkan Sakura. Hanya selembar surat yang berisi curahan hatinya selama ini. Saat setiap langkah yang diambil Sasuke, membuat segores luka tambahan di hati kecilya yang rapuh./AU

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raikatuji

Rate: T

Genre: Romance

Pairing: SasuSaku

Warning: Miss typo(s), GJ, AU, alur aneh, etc.

Words: 1.121

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

»«

Aku meremas sebuah surat di tanganku dengan setengah menggeram. Sial.

Jantungku bergemuruh hebat merasakan untuk kesekian kalinya amygdala-ku mengambil alih. Menguasai tubuhku. Menekan habis pasokan dopamin dari tubuhku.

Hinata sedang ada urusan bisnis ke luar kota membantu Neji-nii. Ia sedang tidak di rumah sedangkan ini hari minggu. Sepasang suami istri yang sama-sama sibuk mengurusi bisnis. Aku menghela napas panjang.

"Otou-san, kapan kaa-san pulang?" tanya Uchiha Aki, anak kami.

"Entahlah." jawabku sekenanya.

Aki mendesah kecewa.

"Aki, sudah kerjakan tugas rumahmu?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan dan menyembunyikan remasan kertas di tanganku.

"Oh ya, aku ada tugas untuk mencari artikel tentang kebun binatang di koran. Tou-san punya koran sisa?" tanya pria manis itu menggemaskan.

"Nanti Tou-san bantu cari, ya. Sekarang kerjakanlah tugas yang lain." ucapku berusaha membuatnya pergi.

"Terima kasih, Tou-san."Aki menganguk bersamangat dan berlari ke kamarnya di lantai dua. Anak penurut itu entahlah menurun dari siapa, tak ada satu pun diantara aku dan Hinata yang memiliki watak lembut. Kami sama-sama keras kepala. Mungkin karena ia masih kecil dan terlalu polos untuk mengerti kondisi keluarganya? Hah…

Haruno Sakura.

Sudah lama sekali sejak kami berdua terakhir bertemu.

»«

.

»«

Malam sudah menjelang, namun belum ada tanda-tanda Hinata akan pulang malam ini. Aku memutuskan menyalakan laptop di kamar dan membuka akun salah satu media sosialku.

Dia sedang online.

UchihaSasuke: Konbanwa.

Pinky_Haruno: Konbanwa, Sasuke-san.

Panggilan asingnya membuatku seakan bertemu sosok lain dari gadis itu.

Aku menimbang-nimbang apa yang mungkin sebaiknya aku ucapkan. Atau mungkin seharusnya aku akhiri saja? Sebelum terjadi sesuatu.

Surat darinya membawa sejuta kenangan lalu itu menyeruak. Menyesakkan rongga dada. Aku tidak merasa menyesal, aku hanya teringat. Senyum Hinata yang tidak semanis senyuman Sakura. Ketulusannya yang bahkan tidak kudapat bahkan dari istriku sendiri.

Pinky_Haruno: Ada apa seorang Uchiha Sasuke malam-malam mengirimkanku chatting yang hanya berisi sapaan 'selamat malam'?

Aku mendengus.

Rasanya indera penciumanku menghadirkan memori akan aroma cherry yang mungkin akan kurasakan saat kami bertemu. Aroma yang selalu berhasil membuatku tenang.

Kebahagiaan yang kurasakan saat melihat tawa gadis itu tidak sama ketika aku melihat tawa Hinata.

UchihaSasuke: Tidak ada apa-apa.

Pinky_Haruno: Baik, kalau tidak ada apa-apa, aku pamit, Uchiha-san.

Kini bahkan panggilannya jauh lebih formal lagi. Tanpa kusadari rahangku mengeras membaca panggilannya padaku.

UchihaSasuke: Tunggu.

Entah kenapa aku menuliskan kata itu. Seharusnya aku membiarkannya log out. Namun ada sebuah sudut di hatiku yang seakan enggan. Memaksa untuk menolak kelogisan bahwa aku sudah menikah.

Pinky_Haruno: Ada apa? Berhentilah bermain-main. Aku memiliki perasaan. Aku bisa saja berpikiran macam-macam dengan perlakuanmu ini.

UchihaSasuke: Aku tidak melarangmu untuk 'tidak berpikiran macam-macam'.

Gemuruh itu seakan semakin menggila. Otakku yang masih bisa berpikiran logis seakan menampar pipiku. Berusaha membuatku menghentikan ini.

Jeda panjang membuat pikiranku melayang-layang dan membalas lagi chatting dengan asal-asalan.

UchihaSasuke: Aku tidak bisa.

Pinky_Haruno: Aku tidak mengerti. Apa yang tidak bisa Uchiha-hebat lakukan?

Rasanya kepalaku berputar. Kedua mataku memandang putus asa. Menyakitkan. Bahuku seakan merasakan tekanan yang tinggi. Aku meremas rambutku hingga berantakan. Penat.

Yang tidak bisa kulakukan? Aku tidak bisa mengartikan ribuan emosi yang selalu datang silih berganti. Berlalu-lalang seenaknya. Aku tidak bisa mendefinisikannya. Menganalisa apakah itu masuk ke dalam emosi apa yang diproduksi oleh hormon apa. Aku tidak bisa. Semuanya tidak sesederhana satu ditambah satu sama dengan dua. Sama sekali jauh berbeda dengan ilmu pasti.

Pinky_Haruno: Kau tidak selemah Haruno menyedihkan ini.

UchihaSasuke: Mungkin aku pernah melakukan kesalahan dulu.

Pinky_Haruno: Ya, kau melakukan kesalahan karena sempat berhubungan denganku.

Aku menggeleng kuat. Bukan. Bukan itu. Aku menghela napas berat. Rasanya aku memang sempat melakukan sebuah kesalahan fatal.

Aku kembali meremas ravenku. Membuatnya semakin berantakan.

UchihaSasuke: Maafkan aku sempat melukaimu.

Pinky_Haruno: Sejak kapan kau peduli?

Aku mendengus kasar. Tentu saja! Sejak kapan aku peduli? Seharusnya aku bisa dengan tenang mematikan laptop dan terbawa tidur lelap dan mimpi indah. Lalu kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku bahkan sulit sekali menekan tombol log out di pojok kanan atas? Atau setidaknya menutup laptopku dengan kasar dan menaruhnya asal di atas meja.

Kenapa rasanya aku enggan? Hatiku terasa tercubit.

Pinky_Haruno: Berhentilah bercanda, Uchiha. Mungkin seharusnya aku tidak pernah mengirimi surat itu. Aku tahu kau sudah bahagia dengan Hinata di sampingmu.

Bahagia? Jika memang yang ia maksud bahagia adalah seperti kehidupanku, mungkin ia keliru. Tidak ada satu pun dari keluargaku yang ia tahu. Kami sama sekali tidak bisa dibilang bahagia.

Kami berdua jarang sekali bertemu.

Pinky_Haruno: Jadi sekarang berhentilah. Apa yang kau inginkan? Mencari yang lain setelah kau bosan dengan Uchiha Hinata?

Ah, ya… wanita itu menyandang nama keluargaku. Aneh rasanya kenapa Sakura menyebutkan nama lengkap istriku. Membuatku semakin tertohok.

UchihaSasuke: Kesalahanku adalah karena sempat melepasmu.

Pinky_Haruno: Berhenti bercanda, Uchiha. Aku sudah bilang aku memiliki perasaan. Aku tidak ingin kau bodohi dengan kata-kata lagi. Kita sudah dewasa dan kau sudah menikah. Semuanya sudah jelas. Sudah sangat jelas siapa yang terlihat menyedihkan di sini.

Aku menghela napas panjang. Apa ini yang dinamakan karma? Apa dulu Sakura merasakan sakit yang sama yang kini aku rasakan? Jantungku berdenyut nyeri di dalam tubuhku. Seolah setiap kali ia bergerak mengembang dan mengempis, ada ribuan jarum beracun yang menusuknya.

Pinky_Haruno: Aku akan melepaskanmu mulai sekarang, jadi sepertinya kita harus mulai bersikap seolah tidak mengenal sama sekali.

Seolah beban di bahuku bertambah, aku berusaha menyandarkan punggungku pada sandaran kayu di belakangku. Menopang tubuhku.

UchihaSasuke: Aku tidak pernah berhenti untuk peduli. Aku hanya terlalu bodoh untuk mengakui.

Dan kini aku mengakuinya—

Pinky_Haruno: Mengakuinya sekarang justru akan membuatmu terlihat bodoh.

meskipun sudah sangat terlambat.

Tanpa salam perpisahan, sebuah kalimat yang menandakan bahwa ia sudah log out muncul. Perkataannya justru semakin membuatku putus asa. Ini semua tidak baik. Ini tidak seperti Uchiha Sasuke yang aku tahu.

Ya. Sakura benar. Aku memang terlihat bodoh dengan mengakuinya sekarang.

Segera kututup laptopku saat layarnya berganti legam. Aku mematikan lampu dan berharap bisa jatuh terlelap secepat yang aku bisa. Mana Uchiha sombong yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan?

Kurasa ia sudah mati.

Rasa sombong itu kini membangun sebuah tembok ego yang terlampau tinggi hanya untuk mengatakan apa yang ia inginkan dulu. Kesalahannya melirik Hinata adalah hal terburuk yang mungkin ia lakukan dulu.

Kini sempurna sudah deritaku.

»«

.

.

.

»«

Aku menatap langit senja. Menghela napas pelan. Sasuke bodoh, ya? Ia seenaknya membolak-balikkan hatiku. Mengacaukan seenaknya.

Ini seharusnya menjadi langkah terbaik. Aku tidak ingin mengganggu rumah tangga orang lain. Apalagi jika itu Sasuke. Sosok yang terlalu jauh untuk kugapai. Terlalu sempurna.

Aku akan melepaskannya.

Mungkin sejak awal kita memang sudah ditakdirkan untuk tidak bersama. Dari balasan chatting-nya, ia terlihat memendam semuanya sepertiku. Mungkin ia memang sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan. Namun aku tahu ini salah. Semua ini tidak seharusnya terjadi.

Dan semuanya sudah sangat terlambat.

Jadi sudah keputusan finalku untuk merelakannya. Mungkin ini yang dinamakan cinta tak harus memiliki. Pertanyaanku kini, ada berapa macam jenis cinta di dunia ini? Apakah beberapa diantaranya ada cinta yang menyakitkan? Bukannya perasaan itu adalah perasaan yang seharusnya sederhana dan tidak menuntut apa pun?

Jadi apakah yang kurasakan ini adalah cinta atau rasa egois untuk memiliki? Obsesi semata?

Aku mendengus.

Sudah saatnya meninggalkan masa lalu itu di belakang, Sakura. Berlarilah menjauh dan jangan pernah menoleh ke belakang apa pun yang terjadi. Sekali pun Sasuke akhirnya menoleh. Memanggil namamu. Memohon kembali. Tidak lagi ada alasan yang akan menjadi benar kini.

Selamat tinggal masa lalu.

Karena semua itu hanya ada untuk menjadi kenangan kini, Haruno. Berpalinglah. Lihat bunga sakura yang mekar di akhir bulan Maret. Semuanya akan baik-baik saja, bisik mereka.

Aku tahu.

»«

.

.

.

»«

The End

»«

.

.

.

»«

Author's Note:

Heum… ok. Ini chap 2. Apa ada komentar? Jelek, idiot, nyebelin? Maaf kalau ada yang kecewa. XD T.T

Awalnya ini fic mau aku tamatin di chap 3, cuma kupikir makna dari dua chapter itu akan sama. Jadi, kutamatkan saja di sini. Bagaimana menurut kalian?

Menerima review dalam bentuk apapun (flame, pujian, kritik, saran, dll) ^^ Let me see your cruel, haha.

Review, please?