Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(
asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Vampire-fict, Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 3001
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

PRANGG!

Mingyu menoleh menatap vas bunga yang dilempar di sampingnya, seandainya ia manusia, ia pasti sudah terluka terkena pecahan vas tersebut. "Apa yang kau lakukan Seungcheol-ah?!" Jeonghan menahan Seungcheol yang tampak berapi-api, "Kau tanyakan saja pada dia, apa yang membuatku begitu murka!" Jeonghan menatap Mingyu yang tak bergerak dari posisinya.

Sementara itu yang lain tidak ada yang berani melawan atau memisahkan mereka, hanya menjadi penonton di antara kedua vampir yang sedang berseteru tersebut. Apalagi ketika Seungcheol marah, dia adalah ketua klan mereka, jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku yakin aku sudah menghapus ingatannya, lagipula.. lagipula saat itu dia terkena anemia parah, tensinya hanya 80, dia harusnya tidak berada pada kesadaran seutuhnya." Mingyu mencoba membela diri, namun Seungcheol malah menggebrak meja menyebabkan retakan di meja tersebut.

"Sekali lihat saja aku dapat menilai kalau dia berbeda, kau tidak bisa menghapus ingatannya seperti yang kau lakukan pada orang lain meskipun kau bisa menghapus jejak gigitanmu. Tapi bukankah kau sudah berjanji kalau tidak akan meminum dari manusia di tempat umum? Dia temanmu, kau mau klan kita terbongkar?"

Jisoo yang melihat hal itu menarik Jeonghan mundur, tidak baik ada manusia di tengah-tengah vampir yang berkelahi. "Ayo ke taman belakang," ajaknya, namun Jeonghan masih khawatir menatap Mingyu. "Gwaenchana, Mingyu sudah dewasa." Akhirnya keduanya memilih meninggalkan tempat tersebut. "Lalu aku harus apa?! Darahnya menetes-netes, aku sudah memperingatkannya untuk menjauh tapi dia tetap datang padaku! Selama ini aku selalu bisa melihat orang yang berdarah di depanku, tapi kali ini.. mianhae, aku tidak akan melakukannya lagi."

Mendengar Mingyu seperti itu, akhirnya Seungcheol mengusap wajahnya kasar. "Geurae, kalau begitu kau punya dua pilihan. Pertama, jauhi dia hingga dia melupakanmu. Kedua, kau boleh mendekatinya tapi kau harus yakin dia tidak akan mengkhianati kita."

Kemudian Seungcheol pergi dari hadapannya, Mingyu sudah bertekad dalam hati, pilihan pertama pasti lebih baik untuknya.

"Heol, untung saja Jihoon sepertinya tidak ketakutan padaku." Gumam Soonyoung.

. . .

Masa orientasi sudah berakhir, kali ini tahun ajaran yang baru benar-benar dimulai. Rasanya jadi mahasiswa ternyata benar-benar berbeda dari masa SMA. Ini awal kau menjadi seseorang yang dewasa.

Sejak saat itu pula dengan berbagai upaya Wonwoo berusaha menjauhi Mingyu, namun tak hanya dirinya, lelaki itu juga melakukan yang sama. Mingyu yang sempat perhatian padanya pada masa awal orientasi hanya memasang wajah dingin ketika bertemu dengannya.

Seseorang berambut pink mendekati Wonwoo yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja, mengabaikan makanan di hadapannya. "Eo? Kau belum makan? Bukankah setelah ini kita ada kuliah umum?" Wonwoo menoleh sedikit, Jihoon rasanya lama tidak bertemu dengannya. "Kau sakit ya? Aku dengar kemarin kau kecelakaan?"

Ia hanya mengendikkan bahunya, "Cuma jatuh dari tangga." Jawabnya. Ponsel Jihoon berdering tiba-tiba, sementara Wonwoo memilih memakan jatah makan siangnya meski dengan ogah-ogahan. Jihoon memilih mengabaikan panggilan tersebut dan menyimpan ponselnya kembali. "Kenapa tidak diangkat?"

"Paling dari si rambut kuning itu lagi, bosan aku mendengarnya mengatakan rindu." Alis Wonwoo bertautan, rambut kuning? Siapa teman Jihoon yang rambutnya kuning? Tunggu.. jangan bilang si ketua BEM itu? "Soonyoung-ssi?" Jihoon mengangguk-angguk, "Sudah tersebar ya? Padahal aku kan belum berpacaran."

Sekilas ingatan mengenai Soonyoung terbayang di otaknya, tunggu.. Soonyoung, Mingyu, dan dokter bernama Seungcheol itu bersaudara? Kalau begitu.. mereka semua bukan manusia? "Ya! Lee Jihoon, kau harus menjaga jarak dengan Kwon Soonyoung, d-dia dan semua anggota keluarganya.."

Dahi Jihoon mengkerut, "Kenapa dengan Soonyoung dan keluarganya?" tanyanya bingung, "A-Anni, mereka bukan orang baik." Tidak mungkin kan Wonwoo mengatakan mereka vampir? Bisa-bisa Jihoon menertawainya, "Mereka baik kok. Kau harus kerumahnya, rumahnya sangat luas, dan kau tahu? Keluarganya sangat rupawan, mungkin hanya Soonyoung yang paling jelek."

Apa mungkin Jihoon sudah tahu kalau mereka bukan manusia? Ke rumah Soonyoung? Keluarganya? Apa rumah untuk keluarga besar? Yaampun, ia harus bisa menyelamatkan Jihoon. "Jihoon, aku duluan."

"Ya! Ya! Ya! Makananmu! Aish dasar kau Jeon.."

Tidak memperdulikan teriakan Jihoon, Wonwoo hanya melangkah dengan cepat, ia berpapasan dengan Mingyu di koridor, namun tampaknya lelaki itu hanya memalingkan wajahnya, berpura-pura tak mengenalnya. 'Apa benar semua hanya halusinasiku? Namun kenapa segalanya begitu jelas?'

Bruk!

Wonwoo terjengkal ke belakang, kenapa hari ini ia menabrak orang lain sih? Ia melihat sebuah tangan berniat membantunya berdiri, "Joisonghamnida." Gumam Wonwoo, "Oh? Jeon Wonwoo?" ia mendongak dan mendapati itu adalah Soonyoung, darimana lelaki itu tahu namanya? Dari Jihoon? Sepertinya tidak mungkin.

"Ne, aku Wonwoo. Darimana kau mengenalku?"

"Eo?" Soonyoung membeo, ia diam. "Ah, anni, lupakan saja. Maaf aku tadi terburu-buru." Soonyoung meninggalkannya, bagaimana lelaki itu mengenalnya? Apa mungkin.. ia sudah jadi perbincangan di keluarga Mingyu? Apa ia akan jadi santapan makan malam keluarga mereka selanjutnya?

Ah Wonwoo bisa gila kalau memikirkan ini, ia tahu di dunia tidak hanya ada manusia tapi ada makhluk-makhluk lain juga, tapi vampir kan karakter fiksi bagaimana bisa ia hidup bersama vampir-vampir sih?

Mungkin masuk kelas profesor Ha Min Jae membuat otaknya lebih waras, ya.. daripada harus memikirkan vampir-vampir.

. . .

"Oh hyung, kau sudah pulang?" Wonwoo mengangguk sekilas, adiknya rupanya sedang kedatangan tamu. Ada si bule Vernon, temannya Seungkwan, dan satu anak lagi kalau tidak salah namanya Junhoe atau siapa itu. "Kemarilah hyung, kita nonton film bersama!" ajak Jungkook.

Kakaknya hanya melangkah menuju dapur, "Kalian nonton dulu saja, aku mau makan. Sudah makan?" keempatnya mengangguk, syukurlah Wonwoo tidak harus berbagi Jajangmyeonnya ini. Ia memutuskan membawa Jajangmyeonnya ke depan ruang televisi, ada popcorn yang sedang dinikmati keempat orang tersebut.

Wonwoo mengalihkan pandangannya ke layar televisi, namun terkejut begitu mendapati film yang sedang ditonton adiknya. "Jeon Jungkook! Apa-apaan kenapa kau nonton film seperti ini?" Wonwoo menunjuk layar televisi dengan sumpitnya, "Seperti ini? Memang kenapa hyung, inikan Cuma serial Twilight yang keempat?"

"Tapi kan film ini tentang vampir—" Wonwoo buru-buru menutup mulutnya, "Memangnya kenapa?" tanya Jungkook lagi, oke adiknya tidak bodoh, adiknya hanya tidak tahu kalau Wonwoo takut setengah mati mungkin fobia vampir. "A—Anni, jangan lupa skip adegan panasnya. Kau masih anak-anak,"

Jungkook menatap kakaknya bingung, "Kita sudah delapan belas tahun hyung!" jeritnya, namun Wonwoo tak perduli. "Kakakmu kenapa?" tanya Junhoe, Jungkook menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu deh, Seungkwan kenapa kau diam saja?"

Yang ditanyai menggeleng pelan, "Tidak apa-apa kok." Seungkwan meremas tangan Vernon, "Aku tahu.." bisik Vernon.

Sementara itu Wonwoo memilih menghabiskan Jajangmyeonnya di kamar, ia jadi teringat pada lukanya, sudah hampir sembuh. Oh ayolah, kenapa wajah Kim-Sialan-Mingyu itu menghantuinya? "Ah, michigettda jinjja."

Malam itu setelah menghabiskan seporsi Jjajangmyeonnya, Wonwoo memilih berkutat dengan partitur musiknya. Mempelajari hal yang kemungkinan akan diujikan oleh profesor Han minggu depan. Ia memutar musik klasik berjudul 'Prelude in C Major No. 1' karya Bach. Lagu klasik itu ia putar dengan volume pelan, dan mengantarnya ke alam mimpi.

Tempat apa ini? Gelap, pengap, seperti tidak ada udara. Wonwoo menatap ke sekeliling, dia terkunci? Bagaimana bisa dia terkunci di tempat seburuk ini? Apa kemarin pulang kuliah ia tidak langsung pulang? "Halo? Ada yang mendengarku? Ada yang bisa mengeluarkanku dari sini?"

Samar-samar suara tawa memasuki indera pendengarannya, suara tawa itu terasa bergema, makin lama makin keras. "Hei! Yang disana! Tolong! Keluarkan aku!" jeritnya, namun tak ada balasan.

Hembusan angin mengganggunya, akhirnya ada sedikit udara. Tapi tunggu.. apa itu, sepertinya ada yang barusan lewat, tapi sungguh cepat. "Mencari siapa?" Wonwoo mendongak, Vernon? Kenapa dia ada di atas sana? Sesuatu menabrak tubuhnya dari belakang hingga Wonwoo terpaksa terseret beberapa langkah.

Sosok itu ia tidak mengenalnya, namun senyumnya sangat lembut, berbanding terbalik dengan taring yang mengintip di balik bibirnya. "Welcome?" Wonwoo memegangi belakang kepalanya yang terasa perih, ia merasa cairan aneh keluar dari kepalanya. Darah?

"Arrgh!" Wonwoo baru sadar ia terluka, tapi yang barusan bukan teriakannya, sungguh. "Tunggu apalagi Mingyu?" Dokter yang ia temui di rumah sakit tempo hari melipat lengannya di dada, Mingyu tampak menakutkan. Iris matanya berubah warna menjadi merah gelap, kuku tangannya memanjang, dan jangan lupakan taringnya.

Ia tidak bisa diam seperti ini, ia mundur beberapa langkah sampai merasakan tembok menghentikan langkahnya. "Mau kemana hm?" dengan langkah tegas Mingyu semakin menyudutkannya, "Mingyu-ya, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya takut-takut. "Menurutmu? Tentu saja memakanmu bukan? Kau tahu Wonwoo, darahmu membuatku ketagihan, aku tidak bisa kalau hanya sekali saja meminumnya."

"Kami juga ingin merasakannya."

"APA?! Andwae!"

. . .

"ANDWAE!"

"Dasar gila, hyung kau tahu jam berapa ini? Bukankah kemarin kau mengingatkan untuk membangunkanmu pagi-pagi setiap hari Kamis karena ada kelas pagi huh? Palli ireona!" Jungkook menatap hyungnya yang masih bergerak-gerak tak karuan di atas tempat tidurnya hingga seprainya kusut.

Jeon bungsu itu memilih memutar kedua bola matanya kesal, 'Mimpi apa sih dia?' pikirnya dalam hati, "Ya! Jeon Wonwoo!" panggilnya tanpa embel-embel kakak, merasa menyerah Jungkook meraih gelas berisi air mineral dan mengguyurnya di atas wajah kakaknya.

Byur!

"AAAA! Jangan makan aku—Jungkook?" mata sipit Wonwoo terbuka sedikit, sementara itu Jungkook berdecak sebal. "Sudah sepuluh menit aku berusaha membangunkanmu, ayo bangun. Lagipula siapa yang mau memakanmu? Kau habis baca novel seram atau bagaimana?"

Wonwoo berdiri dengan cepat lalu meletakkan kedua lengannya di masing-masing bahu adiknya itu, "Dengar baik-baik ya, hati-hati kalau bergaul, terutama dengan temanmu yang bule itu. Di dunia ini tidak hanya manusia saja, bisa saja kau berakhir menjadi santapan makan malam mereka, camkan kata-kataku! Astaga aku terlambat!"

Jungkook masih memproses kata-kata kakaknya itu, "Dia bicara apa sih? Dasar tukang khayal,"

Beberapa menit kemudian Wonwoo berhasil sampai di halte bis, kebetulan sekolah Jungkook libur sehingga mereka tidak bisa berangkat bersama. Sial sial.. kelas profesor Joon mulai dua puluh menit lagi, dan ia tidak mentolerir keterlambatan sama sekali. Hah, bisnya tidak datang-datang pula.

Tiin!

Sebuah sedan putih berhenti di hadapannya, kaca depan mobil itu terbuka. Oh sial, itu makhluk aneh yang ada di mimpinya semalam. "Ayo naik?" Wonwoo menunjuk dirinya, menyakinkan kalau ajakan itu memang ditujukan padanya. Tapi, rasa takut menahannya untuk naik ke mobil laki-laki itu. "Atau kau mau absenmu diblokir hm?"

Tidak punya pilihan Wonwoo masuk ke mobil tersebut namun memilih duduk di belakang, Mingyu menoleh dan menatap Wonwoo sebal. "W-Wae?" tanya lelaki berkulit putih itu bingung, "Kau kira aku supirmu? Duduk di sampingku," tidak ingin mengulur waktu akhirnya Wonwoo pindah dan duduk di depan.

Namun berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, bahkan punggungnya menempel di pintu. "Oh ayolah, aku tidak akan menghabisimu disini." Mingyu kesal karena Wonwoo tampak sangat ketakutan, dan mendengar perkataan itu Wonwoo makin takut. Tapi si lelaki tinggi tidak memperdulikannya dan tetap menjalankan mobilnya.

Kemudian mobil itu melaju cepat, Wonwoo lebih memilih memandangi jendela daripada harus beradu pandang dengan Mingyu. Ia merasakan suhu mobil Mingyu biasa saja, air conditionernya bekerja dengan baik. Bukankah harusnya.. hangat? Bukannya vampir kedinginan?

"Ada apa dengan air conditionernya, kau kedinginan?" Wonwoo tersentak, darimana Mingyu tahu ia sedang memikirkan tentang pendingin udara tersebut? Apa dari tadi ia kedapatan memandangi benda itu terus-menerus?

Ya Tuhan, Wonwoo benar-benar berharap kampusnya tidak jauh lagi.

Sampai di kampus ia berlari secepat mungkin menjauhi Mingyu, tapi malah berpapasan dengan Soonyoung dan Jihoon. "Eo? Wonwoo-ya!" panggil Jihoon, aduh kenapa keluarga Mingyu ada dimana-mana? "Sampai jumpa di kelas Jihoon!" Jihoon menautkan alisnya. "Dia itu kenapa?"

Soonyoung hanya memilih diam, ini masalah Mingyu, tidak sepantasnya ia ikut campur. "Masuklah Jihoonie, nanti kau terlambat." Soonyoung mendorong bahu mungil Jihoon, "Ya! Yang minta ditemani dari tadi siapa? Dasar!" Jihoon menghentak-hentakkan kakinya dan melangkah ke arah kelas.

Ia mengambil duduk di samping Wonwoo yang tampak tidak sehat, terbukti dengan lingkaran hitam di bawah matanya. "Wonwoo?" panggil Jihoon, "Hei Jihoon, kau tahu tidak kalau bisa saja.. pacarmu—ah anni Soonyoung sunbae itu mungkin tidak seperti kita?" Jihoon menatap Wonwoo dengan tatapan polosnya, "Tidak seperti kita? Bagaimana? Aku tidak paham hehe,"

Wonwoo mencengkram telapak tangannya sendiri, "Kau tahu kan, di cerita fiksi, ada manusia, ada manusia serigala, dan juga ada vampir?" ucap Wonwoo tak yakin, pipi Jihoon yang tembam menggembung sedikit. "Kau sedang mendongengiku ya?" astaga, jadi Jihoon tidak tahu jati diri kekasihnya?

Lalu, Soonyoung sunbae menipunya? Lalu Wonwoo harus bercerita pada siapa? Ia kira Jihoon tahu, "Dwaesseo." Jihoon menatap Wonwoo prihatin, "Kau pasti punya masalah, istirahatlah kau tampak sangat tidak sehat." Saran Jihoon, namun Wonwoo hanya mengangguk ringan.

Ternyata profesor Hoon tidak masuk, sia-sia ia berangkat bersama dengan Mingyu. Tahu begitu ia tadi menunggu bis saja, namun lelaki tinggi dengan senyuman lembut yang mampu membuat hati para wanita meleleh tiba-tiba masuk. Ia merasa tidak asing dengan lelaki berambut brunette tersebut.

Benar! Itu lelaki yang menabraknya dari belakang di mimpinya! Apa mungkin, lelaki itu, ah mungkin hanya kebetulan saja. "Hello, I'm Joshua Hong. Aku adalah dosen baru di Pledis untuk mata kuliah ini, tapi karena aku baru saja menyelesaikan studi Magisterku jadi aku belum dapat kewenangan untuk mengajar secara langsung. Aku baru bisa menjadi pendamping profesor Hoon yang kebetulan hari ini berhalangan untuk hadir, semoga kita bisa saling bekerjasama." Ia memperkenalkan diri secara singkat dan diakhiri senyuman kecil, beberapa mahasiswi memekik kecil menyambutnya. 'Jadi yang kali ini Joshua?' batin Wonwoo, 'Banyak sekali? Itu keluarga atau anggota boyband?' ia tak habis pikir.

Bisa saja bukan sebenarnya mereka adalah boyband atau bagaimana, dokter Seungcheol dan Joshua ssaem ini tidak terlalu tua wajahnya. Bahkan seperti seumuran dengan mereka semua.

. . .

Suara musik terdengar cukup keras dari ruangan practice berukuran sekitar 6x8 meter tersebut, seorang lelaki nampak asyik meliukkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Sementara seorang lagi memilih duduk di pojok dengan headset di kedua telinganya dan buku catatan di tangannya.

Yang menari memilih menyudahi aktivitasnya setelah keringat membasahi kaos hitamnya, kemudian duduk di samping lelaki dengan buku catatannya itu. Menulis lirik tentu saja, itu adalah kelebihan Hansol atau yang lebih dikenal dengan Vernon itu. Jungkook mendengus lagi-lagi merasa diabaikan oleh Vernon.

"Hei." Sapa Jungkook namun Hansol hanya membalas dengan gumaman kecil, dengan gemas si bungsu Jeon itu mencabut headset lelaki itu. Si pemuda bule itu menatapnya dengan tatapan kesal, "Aku disini itu bukan untuk diabaikan tahu," Jungkook memperingatkan dengan nada sassy, Hansol hanya menggumamkan 'whatever' dan masih fokus pada buku catatannya.

Jungkook menjentikkan jarinya, "Hei bagaimana kalau kita bekerja sama untuk projek ujian akhir? Kau tahu kan kau bisa menulis rap dan aku di bagian vokal, lalu aku bisa menari.."

"Aku sudah sekelompok dengan Seungkwan dan Dino." Jawabnya singkat, "Hah? Lagi?" Hansol mengangguk, tamatlah Jungkook, ia yakin pasti si alien itu akan mengejar-ngejarnya lagi. Maksudnya alien kelas sebelah bernama Kim Taehyung. Tapi grup maksimal terdiri dari tiga orang, dan Hansol-Seungkwan-Dino damn itu akan membuat grup yang sangat bagus, rap, menyanyi, dan dance.

Tiba-tiba ia jadi penasaran dengan ketiga orang tersebut, apa mereka benar-benar pacaran bertiga? Kalau iya? Memang Hansol yang serakah, atau ia yang tidak mengerti tentang cinta ya.. "Hansol-ah, memang kalian bertiga itu punya hubungan khusus? Um—maksudku— kau tahu, pacaran?"

Hansol menoleh, "Should I tell you, or not?" tanyanya dalam bahasa Inggris, Jungkook memutar bola matanya malas, "Bicara Korea saja bisa tidak?" tapi tentu saja tidak dapat jawaban, dasar kelewat dingin, Jungkook tahu Hansol sengaja punya dua pacar karena dia tidak punya hati! Benar! Pasti itu alasannya.

Suara gebrakan pintu karena dibuka tiba-tiba sedikit mengejutkan mereka berdua, "Eo kau disini Hansol?" ituKim Taehyung, sial rasanya Jungkook ingin kabur saja. "Memang kenapa?" tanyanya balik, Taehyung menggeleng lalu duduk di sebelah mereka. "Annio, tadi wali kelasku bilang Lee Chan tidak masuk tapi tidak ada alasan. Aku kira kau tahu alasannya,"

"Apa kau bilang?!" nada suara Hansol meninggi, "Apa? Memang aku bilang apa?" tanya Taehyung balik seperti orang bodoh, Jungkook menjitak kepala lelaki aneh itu, bagaimana mungkin Hansol tidak tahu? Pikirnya bingung. Ah.. jadi benar soal Lee Chan-nama asli Dino- yang tidak punya ponsel itu?

Tak sampai dua detik Hansol sudah meninggalkan ruang latihan itu dan mengabaikan panggilan dari Jungkook dan Taehyung. Ia melangkah cepat menyusuri koridor walaupun harus menabrak beberapa teman-temannya. "Hansol! Hansollie!" itu suara yang ia kenal tapi Hansol mengabaikannya, baginya Lee Chan lebih membutuhkannya saat ini. Lelaki itu pergi ke tempat kendaraannya diparkir dan meninggalkan kelas sebelum waktunya.

Sementara itu Seungkwan yang daritadi memanggil Hansol hanya diam dan menyandarkan punggungnya di dinding depan kelas, ia menatap alat tulis Hansol yang masih berserakan di mejanya. Memang Seungkwan sekelas dengan Hansol tapi Dino tidak, 'Bahkan kau sampai meninggalkan barang-barangmu seperti itu,' gumam lelaki manis itu dalam hati.

"Seungkwan! Kau kenapa? Eyyy, mukamu tidak ada pantas-pantasnya sedih seperti itu. Ya! Ya! Loh kok pergi? Beneran sedang sedih ya?" dasar Kim Taehyung penghancur suasana.

.

..

Jam akan siang tiba dan suasana di kanting fakultas seni tetap hiruk-pikuk seperti biasanya, kali ini Wonwoo makan sendirian, Jihoon ada di kelas lain dan Seokmin tidak bisa menemaninya. Lelaki berambut hitam itu menyantap makanannya di ujung kantin yang berhadapan langsung dengan taman.

Air mancur yang dibangun di tengah taman menjadi daya tarik tersendiri taman tersebut, dengan cat gedung yang didominasi warna ungu terang yang berarti keindahan sekaligus warna simbolik fakultas tersebut membuatnya lebih indah dilihat. "Hei, aku lapar!" datang tak diundang Kim Hanbin langsung mencomot tempura dari piringnya.

Mata sipit Wonwoo menatap lelaki itu kesal, "Tahu tidak kalau aku membencimu?" gumamnya kejam, tapi Hanbin malah pura-pura tidak mendengar. "Asal kau tahu ya, aku ini dibatasi uang sakunya setiap minggu, aku tersiksa. Sekali-sekali berbagilah denganku," tambah lelaki yang sebentar lagi bakal debut jadi artis itu. "Tidak mau lah, minta sana ke agensimu."

Hanbin mengerucutkan bibirnya sok imut, lelaki di depannya nampak tidak perduli dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi pandangannya malah bertabrakan dengan dosen barunya Joshua Hong atau Hong Jisoo itu yang sedang berbicara dengan.. Mingyu dan Soonyoung. 'Ah, jadi mimpiku benar? Tunggu dulu, mereka ada di gazebo dekat taman, terlindung dari sinar matahari dan selalu tidak makan di jam makan siang.. tentu saja.'

Namun entah bagaimana ketiga orang –well, ia sudah memastikan mereka benar-benar vampir- itu menoleh ke arahnya bersamaan, Wonwoo terkejut dan berusaha sembunyi di balik tubuh Hanbin. "Kau ini kenapa?" Hanbin mengikuti pandangannya, "Hei! Kau suka dengan Jisoo ssaem? Wonwoo, walaupun dia terlihat sangat-sangat muda tapi tetap saja dia dosenmu dan—"

"Bisa diam atau mau aku bantu untuk mendiamkan mulutmu, Kim Hanbin-ssi?"

Lelaki itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah secara main-main, tapi sungguhan Wonwoo benar-benar merasa 'diawasi' masa mereka mendengar apa yang ia pikirkan? Pikirnya dalam hati, heran.

TBC

Hehehe, sucked. Ngetik ulang chapter ini soalnya ngerasa banyak yg ga beres disana-sini, so, yeah, pasti kurang memuaskan. well, thanks yg welcome-in ke fandom ini hehe. I'm Meanie biased anyway, but Jisoo is my bae, oh Hoshi too, leader is daddy-able lmao, and i think maknae line is also cute, wait can i have them all?="))