Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(
asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 3090
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

Setelah merasa cukup aman, Wonwoo mendorong tubuh Hanbin menjauh darinya. "Kau mau kemana?" tanya lelaki bermarga Kim itu bingung, "Ke loker, ambil catatan. Aku duluan ya!" yang lebih tinggi berjalan menuju daerah lokernya, menukar beberapa buku yang tidak ia gunakan dengan buku yang ia perlukan.

Jam makan siang tiba, kali ini ia semeja dengan Jihoon, Seokmin, Hanbin, dan Soonyoung. Well, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Soonyoung di mejanya. Tapi bukankah vampir tidak makan? Rasa-rasanya Wonwoo pernah sekali melihat Soonyoung makan, walaupun tidak banyak, dan walaupun ia lebih sering beralibi pada Jihoon 'Melihatmu makan saja aku sudah kenyang.' –atau sesuatu yang lain yang bisa membuat wajah Jihoon memerah sampai ke telinga.—

Seorang lagi bergabung dengan mereka dan duduk di depan Mingyu, Hanbin langsung melakukan highfive dengan orang itu. "Tsk, kau kenal atau sok kenal dengannya Hanbin?" ejek Seokmin, Hanbin mendengus. "Aku dan Mingyu kan ada di klub basket yang sama, memangnya kau?" Seokmin mendelik, "Hei aku ini kenal sejak masa orientasi dulu, benar kan?" katanya tak mau terima dibilang sok kenal dengan anak terkenal.

Hanbin lebih mengejek, "Aku dan Wonwoo bahkan sekelompok dengannya, dia kan ketua masa orientasi kami!" Seokmin diam takut kalah, Mingyu tertawa kecil. "Aku kenal semua yang ada di meja ini kok hehe." Wonwoo merasa tak nyaman, ia ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya. "Geurae! Kau benar-benar anak terkenal yang tidak sombong!" tukas Seokmin, dan Seokmin-Mingyu-Hanbin nampak berbincang-bincang seolah Hanbin dan Seokmin tidak habis bertengkar sebelumnya.

Wonwoo menatap nampang aluminium milik Mingyu yang masih penuh, 'Benar, dia tidak memakannya.' Batinnya, sampai Jihoon meraba-raba di depan wajah Wonwoo. "Kau masih lapar? Kok melirik tempat makan Mingyu seperti itu?" bisik Jihoon, Wonwoo menggeleng. "Ah—tidak kok, aku hanya.." dan Mingyu menyuapkan sumpit ke mulutnya sendiri, dia memakan ayam kecap itu. 'Jadi dia juga makan?' batin Wonwoo lagi.

Makan siang itu selesai dan mereka berpisah sesuai jurusan masing-masing, maksudnya hanya Soonyoung sunbae dan Jihoon yang berpisah kelas, kalau Wonwoo, Hanbin, Seokmin, dan Mingyu ya masih pergi ke kelas yang sama. Kelas perkuliahan mereka memang cukup luas, karena berisikan empat puluh murid di dalamnya. Maklum, departemen yang diambil Wonwoo banyak diminati sehingga membuka kuota yang besar di setiap tahunnya.

Kali ini profesor Ha Min Jae mengadakan kuis, Wonwoo cuek walaupun akhir-akhir ini ia kurang belajar, tapi mau bagaimana lagi, untung saja ia cukup memperhatikan kelas profesor itu. Tidak seperti Seokmin dan Hanbin yang merutuk di belakangnya. Giliran kuis deretan pertama akan selalu lengang, sehingga profesor akan meneriaki anak-anak yang duduk di deretan belakang agar mengisi deret paling depan terlebih dahulu. Paling-paling hanya anak-anak rajin seperti Sana dan Joy yang mengisinya, sisanya lebih memilih cari tempat aman.

Ia sendiri sudah dapat tempat aman di deretan nomor dua, well baik pelajaran biasa maupun ulangan ia tidak suka ada di deretan paling depan, terasa terintimidasi. Seseorang bangkit dan dengan bijak duduk di depan kursi pengawas, itu Kim Mingyu, si anak cerdas –mahasiswa lain menyebutnya-. Tentu saja tidak takut duduk di depan pengawas.

Soal pun dibagikan dan kelas mendadak berubah senyap, suara-suara hilang dan tergantikan oleh suara bolpen yang beradu dengan kertas. Tak sampai setengah jam Mingyu berdiri dan mengumpulkan tugasnya.

Super sekali.

. . .

Ia mendengar suara loker yang dibuka, Kim Mingyu berdiri tidak jauh darinya. Tiba-tiba suasana jadi tidak aman lagi, Wonwoo buru-buru menyudahi kegiatannya dan menutup lokernya, memastikannya terkunci dengan benar. Ia memeluk buku-bukunya itu di dada dan nampak berpikir, 'Tapi selama ini, tidak pernah ada laporan vampir yang menyerang penduduk di kota, atau tidak juga ada murid-murid yang mencemaskan keadaan keluarga Mingyu. Bahkan mereka cukup berpengaruh, Ketua BEM, dosen, dokter utama, dan si anak baru yang terkenal.'

Lelaki itu memperlambat langkahnya saat lewat di belakang Mingyu, menatap punggung bidang yang membelakanginya itu. 'Tapi aku seratus persen yakin, mereka bukan manusia..'

Tiba-tiba Mingyu berbalik dan karena lorong tempat dimana loker-loker diletakkan sedang sepi, Mingyu langsung menyudutkan Wonwoo ke dinding. Memenjarakan lelaki yang setengah kepala lebih pendek darinya itu dengan kedua tangannya, "W—Wae geuraeyo?" tanya Wonwoo bingung. "Bisa tidak kau simpan pertanyaan dalam kepalamu? Aku jadi harus memikirkan jawabannya sekarang tahu." Wonwoo tersentak, "Jangan bilang kau.." Mingyu menoleh, "Wae? Ya, ya kau bisa percaya pada film-film itu, aku memang membaca pikiranmu. Dasar,"

Wonwoo menutup mulutnya dengan telapak tangan reflek, Mingyu makin merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah Wonwoo. "Kenapa? Kau takut?" ejeknya, Wonwoo berusaha mengabaikan smirk yang terpasang di wajah tampan lelaki itu. "Jadi.. kalian menoleh karena mendengar pikiranku?" tanyanya lirih. "Begitulah,"

Detik kemudian Wonwoo mendorong tubuh Mingyu, "Maaf, aku ada keperluan. Sampai jumpa, Kim Mingyu-ssi." Wonwoo menekankan suaranya ketika menyebut partikel 'ssi' seolah memberi isyarat pada lelaki itu agar menjauhinya, agar tetap seperti orang asing. Namun telapak tangan lebar Mingyu menahan lengannya.

"Baiklah, baiklah.. aku akan minta maaf dan menjelaskan semuanya setelah kelas terakhir. Temui aku di rooftop oke?" dan lelaki itu meninggalkannya, Wonwoo kebingungan. Ia memilih masuk ke kelas selanjutnya yaitu kelas sejarah musik.

Pelajaran sejarah musik itu berjalan dengan tertib, hanya saja pikiran Wonwoo sama sekali tidak disana. Begitu profesor Joon mengakhiri kelasnya Wonwoo sudah bersiap-siap akan menuju ke rooftop namun Jihoon yang biarpun kecil punya kekuatan sangat besar sudah lebih dulu menariknya ke kantin.

"Jihoon aku tidak bisa berlama-lama di kantin aku harus—"

Tapi Jihoon malah mengajaknya mengantri dan membeli susu strawberry, Wonwoo mengusap wajahnya frustrasi, ia punya segudang pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Mingyu tapi si kecil ini menahannya. Akhirnya mereka duduk di salah satu meja yang kosong, Jihoon berdecak melihat Wonwoo hanya meminum susu strawberry tanpa pesan makanan apapun. "Wonwoo-ya, kau ini dari kemarin, kau harusnya perhatikan pola makanmu. Tubuhmu itu sudah kurus, mungkin hanya tersisa kulit yang membalut tulang."

Wonwoo menghela nafas panjang lalu tersenyum berusaha menyakinkan Jihoon, "Aku ada urusan, nanti kalau sudah selesai aku akan makan."well disaat seperti ini ia butuh Soonyoung untuk mengalihkan perhatian Jihoon, sungguh.

"Jihoonnie," suara panggilan yang dimanja-manjakan itu menginterupsi mereka, Jihoon langsung berdecak tapi tetap menoleh. 'Terima kasih pada vampir dan kemampuan mereka,' batin Wonwoo, Soonyoung tersenyum kecil. "Karena sudah ada Soonyoung, aku pergi dulu ya Jihoonnie!"

Lelaki itu langsung berlari sambil membawa susu strawberrynya, Jihoon berniat menghalangi tapi dicegah Soonyoung. "Biarkan saja, dia ada hal yang harus dibicarakan dengan Mingyu." Jelasnya. "Mingyu? Adikmu yang setinggi tiang itu? Ada hubungan apa mereka berdua?" Soonyoung mencubit hidung Jihoon gemas, "Kalau tanya satu-satu. Entahlah, hanya mereka yang tahu."

Sementara itu dengan berlari kecil Wonwoo menaiki anak tangga hingga lantai lima tempat dimana rooftop fakultas mereka. Biasanya tempat itu sepi, karena memang tidak ada apa-apa di tempat tersebut. Dan benar saja Wonwoo langsung melihat punggung bidang seseorang yang ia kenal. "Kukira kau tidak datang?" gumam orang tersebut.

Mendengarnya Wonwoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "M—Maaf, aku tadi ke kantin dulu." Mingyu mengangguk tanda ia sudah mengetahuinya, "Jja, tanyakan hal-hal yang ingin kau tanyakan padaku." Lelaki itu bersandar, namun dalam gerakan cepat ia sudah ada di belakang Wonwoo dan menutup pintu yang menghubungkan ke rooftop.

"Kau benar bukan manusia? Lalu kenapa kau menghisap darahku hari itu? Tapi kenapa aku belum juga meninggal?"

Iris tajam Mingyu menatap Wonwoo, "Kau sudah tahu siapa aku, dan sejujurnya kalau boleh dibilang kejadian hari itu adalah kesalahanmu. Aku sudah memperingatkanmu untuk pergi, tapi kau tetap melangkah mendekat. Dan, keluargaku bukan seperti vampir-vampir dalam cerita, kami tidak akan menghisap darah apalagi darah manusia hingga habis. Kami punya etika,"

Lelaki yang lebih pendek nampak berpikir keras, "Bukankah itu terlarang bagi vampir apabila keberadaan mereka diketahui manusia? Jihoon bahkan tidak tahu Soonyoung sunbae adalah vampir, tapi aku tahu, apa kau akan membunuhku?" tanyanya takut, seketika suaranya mengecil. "Ya, benar. Seharusnya manusia sepertimu tidak mengetahui siapa kami, sudah hampir tujuh puluh tahun aku hidup dan tak seorangpun dapat menebak jati diriku, tapi kau.."

Alis Wonwoo bertautan tanda tak mengerti, "Keluargaku punya beberapa kemampuan yang tidak masuk akal mungkin bagi manusia. Kami bisa membaca pikiran dan menghapus ingatan seseorang, tapi bagimu tidak berlaku! Kejadian tempo hari itu memang benar kau tidak hanya kecelakaan tapi aku juga menggigitmu, sayangnya kau anemia jadi kau langsung pingsan. Tapi kau seharusnya tidak ingat apapun ketika bangun, tapi kau ingat dan marah-marah."

Mingyu mencengkram pagar pembatas, Wonwoo mundur dua langkah karena takut-takut Mingyu akan menyerangnya kembali. "Kau tenang saja, Seungcheol hyung bisa membunuhku kalau aku kedapatan meminum darahmu secara paksa lagi. Lagipula aku baru saja makan kemarin." Jelas Mingyu berusaha meredakan rasa takut Wonwoo, sial bagaimanapun ia menutupinya lelaki itu kan bisa membaca pikirannya. "Lalu lukaku? Aku ingat kau meninggalkan bekas gigitan yang besar, tapi kenapa tidak ada?"

"Di liur kami ada dua hal, racun dan penangkalnya. Aku menjilat lukamu, dan luka itu tertutup dengan sendirinya, aku bisa saja menyembuhkan luka goresmu tapi itu akan membuatmu semakin curiga nantinya. Tapi sebenarnya, kami, para vampir masih bisa melihat bekas luka itu." Wonwoo mengangguk-angguk, Mingyu berjalan dengan kecepatan manusia normal ke samping lelaki itu. "Kau tidak takut?"

Buru-buru Wonwoo menggeleng, "Asal kau dan keluargamu tidak berniat menjadikanku santapan makan malam maka aku akan baik-baik saja, dan tenanglah aku tidak akan membocorkan keadaan kalian." Lirihnya, "Ya, kau sebaiknya tidak membocorkannya, karena kami akan benar-benar menjadikanmu hidangan kalau kau membocorkannya."

Seketika bulu kuduk Wonwoo merinding, "Hahaha, aku bercanda. Tenanglah, itu murni kecelakaan, seharusnya aku tidak minum darah manusia. Tapi kau makan apa huh? Darahmu benar-benar menggiurkan," Mingyu mencondongkan tubuhnya ke leher Wonwoo, mengendus sesekali, kemudian berusaha mengalihkan pandangannya begitu melihat nadi lelaki itu bekerja. "Sepertinya Seungcheol akan mengirimku ke neraka karena aku melawannya, siapa perduli?"

Lelaki jangkung itu melangkah pergi, namun Wonwoo menahan pergelangan tangannya. "Kenapa?" Mingyu menoleh, ia hanya menggeleng. "Masih ada sedikit darah yang mengalir di tubuhku, jadi tubuhku tidak akan sedingin es kalau kau mau tahu. Ayo pulang,"

Wonwoo mengangguk dan hanya mengikuti Mingyu dari belakang, "Ah mattda, temanmu yang kecil itu sudah pernah berkunjung ke rumah kami. Apa kau mau berkunjung juga?"

'Berkunjung?'

. . .

"Seungcheol, please?"

Sang leader yang biasanya kalem itu menunjukkan tatapan tajamnya, "Hansol, berhenti jadi menyebalkan dan biarkan aku menanganinya. Kau bisa menunggu diluar tidak?" Joshua yang mengerti keadaan menarik Hansol keluar dan mendudukkannya di sofa. "Aku perlu melihatnya hyung,"

Joshua menjitak kepala Vernon pelan, "Dengar, Seungcheol lebih tahu banyak hal daripada dirimu oke? Aku rasa Chan hanya demam biasa, dia kelelahan." Pagi tadi memang Vernon tidak menemukan Lee Chan atau Dino di bangkunya, sampai ia mendengar kabarnya dari si Kim Taehyung itu. Dan itu menyebabkan Vernon memilih membolos dan mendatangi rumahnya.

Benar saja Chan memang benar-benar sedang sakit dan tidak ada yang mengurusnya, kedua orangtuanya sudah meninggal sejak lama, dan bibi dan pamannya yang dipercaya untuk menjaganya pun sering menyakitinya. Itu kenapa Hansol sering memaksa Chan tinggal bersamanya. "Sudah jam dua, bukankah ini saatmu menjemput Seungkwan?" Joshua mengingatkan, namun Hansol masih menatap ke arah kamar yang dijadikan Seungcheol tempat praktik kerjanya. Untung saja hari ini Seungcheol tidak bekerja di rumah sakit.

"Trust him, okay? Sekarang pergilah, kasihan Seungkwan kalau harus menunggu lama." Dengan perasaan tidak rela akhirnya Hansol pergi juga dengan membawa mobilnya. Di pintu keluar ia berpapasan dengan Mingyu dan Wonwoo, tanpa mengucap sapaan atau apapun Hansol pergi keluar.

Mingyu mengajak Wonwoo masuk sambil berbalik menatap kepergian adiknya itu, "Dia kenapa?" tanyanya pada Joshua, "Biasa. Kali ini Dino sakit saat ini sedang di dalam bersama Seungcheol, tapi ia harus bersama Seungkwan," Mingyu mengangguk-angguk, "Ah masalah cinta rumit lagi." Mingyu buru-buru menutup mulutnya, ia lupa Joshua juga memiliki hubungan yang rumit.

Ia menoleh pada Wonwoo, "Nah, ini Joshua atau Jisoo hyung. Kau pasti sudah menemukannya di kelas profesor Hoon bukan? Aku sengaja tak mengambil mata kuliah profesor itu karena tak ingin menemuinya." Membuat lelaki yang lebih pendek mengingatnya, Jisoo tersenyum ramah. "Selamat datang Jeon Wonwoo," Wonwoo membungkukkan badannya hormat, biar bagaimanapun Jisoo itu dosennya.

Mereka melangkah masuk dan Wonwoo baru sadar rumah itu sangat-sangat lebar, ia memandang ke sekeliling, tidak ada hal yang aneh. "Kau cari apa?" tanya Mingyu yang melihat Wonwoo menyapukan pandangan ke segala arah. "Tidak ada tempat pemenggalan, atau penyimpanan mayat bukan?" bisiknya, Jisoo yang tentu saja memiliki pendengaran super terkekeh sambil tetap fokus pada koran yang dia baca, Mingyu tertawa keras sampai harus memegangi perutnya. "Kau kira kami psikopat? Tentu saja tidak,"

"Ups mian." Gumam Mingyu entah pada siapa, Wonwoo menatapnya penuh tanda tanya. "Tidak, kata Seungcheol hyung Chan baru saja tertidur—kau tahu dia memikirkannya, dan aku mendengar pikirannya, dan tawaku bisa membangunkannya." Wonwoo mengangguk mengerti lalu berjalan menyusuri ruang keluarga keluarga Choi? Ah apapun itu, ia bingung harus menyebut keluarga ini seperti apa karena marga mereka berbeda-beda.

Langkah kakinya membawanya ke dapur dan menemukan berbagai alat masak disana, cukup lengkap. "Kalian, masak juga?" tanya Wonwoo penasaran, "Antara tidak dan iya. Tapi semenjak dua tahun lalu sejak Jeonghan hyung 'bergabung' bersama kami, kami akhirnya menggunakan dapur. Dia manusia dan dia adalah kekasih dari.. aku tidak bisa menjelaskannya, maaf. Lagipula ada Lee Chan dan Seungkwan yang sering kemari, ada Jihoon juga, ada kekasih Junhui yaitu Minghao tapi mereka saat ini memilih tinggal di China, dan ada kau."

Wonwoo mengangguk, "Ah, kalau kau lapar aku bisa membuatkan makanan untukmu." Wonwoo menganga, memangnya Mingyu bisa masak? Jangan-jangan ia akan diberi kantong darah lagi atau.. "Bisa tidak kau hilangkan pikiran burukmu tentangku? Aku bukan pembunuh, harusnya saat itu aku benar-benar menahan diri dan tidak menggigitmu." Lelaki itu menatap Mingyu meminta maaf, ia yang buta soal memasak duduk saja memperhatikan Mingyu menyiapkan bahan masakannya.

Dengan terampil ia memecah telur dan mengocoknya dengan tangan kirinya, Wonwoo baru tahu Mingyu itu kidal. Kemudian merebus maccaroni dan setelah selesai memasukkannya ke dalam teflon. Tak lama Wonwoo mencium aroma sedap dari bawang bombai yang ditumis, makaroni yang dimasukkan dan disiram susu cair, keju yang dilelehkan, dan bahan-bahan lain. Hanya fettucini carbonara tapi Wonwoo rasa aroma dan tampilannya membuat perutnya tergelitik. "Ini,"

Mingyu memberikannya pada Wonwoo, ia menatap makanan itu tanpa berkedip. "Darimana kau belajar memasak?" tentu saja itu membuat Wonwoo penasaran. "Hanya iseng belajar, aku punya banyak waktu menganggur kalau kau mau tahu." Ia terkekeh, Wonwoo mengangguk saja.

Seseorang mendatangi mereka, "Aromanya enak sekali!" cantik, adalah satu kata yang terbesit di benak Wonwoo begitu melihatnya. "Oh Jenghan hyung, kenalkan, ini Wonwoo." Orang cantik yang ternyata lelaki itu mengulurkan tangannya pada Wonwoo sambil tersenyum ramah, Wonwoo yang awkward membalasnya saja. Tapi suhu tubuhnya hangat, jadi dapat diasumsikan dia adalah manusia.

Jeonghan mengambil kursi di samping Wonwoo yang menikmati makan siangnya, kemudian menatap Mingyu lama. Lelaki yang memilih berdiri itu balas menatapnya, "Sudah jauh lebih baik. Seungcheol hyung sekarang membiarkannya istirahat," mungkin lelaki itu memikirkan keadaan Chan dan Mingyu membaca pikirannya.

Dosennya masuk ke ruang makan dan memberikan sesuatu pada Jeonghan, tidak tahu itu apa, dibungkus dalam kotak kado berwarna merah dengan pita di atasnya. "Yaampun hyung," keluh Mingyu, Jisoo hanya tersenyum lembut, sudah kebiasaan memberi Jeonghan hadiah setiap lelaki itu pulang kerja. Ngomong-ngomong Jeonghan itu seorang model di salah satu agensi terkenal di Korea.

Mingyu yang tak tahan dengan dua hyungnya yang berlovey-dovey berinisiatif membawa Wonwoo yang sudah selesai makan naik ke lantai dua. "Ini kamarku," sebuah kamar dengan cat dinding bernuansa biru laut dan putih itu menghibur Wonwoo, ada banyak mainan dan miniatur di lemari sebelah kanan, tumpukan kaset film dan juga buku-buku juga memenuhi kamar itu. Ranjangnya luas mungkin ukurannya king size, dengan dua buah bantal dan selimut yang berwarna senada. Bagus dan sedikit kekanakan tapi tidak mengurangi daya tariknya.

Yang membuat Wonwoo bingung, kenapa Mingyu membawanya kesini? "Mungkin kau penasaran dengan kamarku?" tanyanya sambil terkekeh, Wonwoo mendengus dan beralih pada koleksi gundam Mingyu. "Wah! Bukankah yang ini limited edition? Keren!" ia menyentuh salah satu gundam lelaki itu, "Hm, aku suka mengoleksinya."

"Andai aku vampir seperti dirimu, aku pasti juga akan kaya, aku mau mengoleksi banyak hal juga." Gumam Wonwoo random.

. . .

Seungkwan membantu Vernon membereskan barang-barangnya, dari sekali pandang saja Seungkwan tahu pikiran Vernon tak ada di situ, jarang sekali vampir berdarah campuran itu melamun bahkan menjatuhkan barang-barangnya sendiri. "Hansollie, ini catatanku. Guru Park bilang akan mengadakan ulangan minggu depan," Hansol menatapnya lalu mendorong buku itu kembali ke pemiliknya, Seungkwan menatap bingung. "Kau yang lebih butuh belajar."

Lelaki imut itu menepuk tangan Hansol, "Biarpun kau sudah masuk SMA bertahun-tahun, siapa tahu materi guru Park kali ini berbeda, ambillah, aku akan ambil besok." Berusaha ceria Seungkwan mengulurkan bukunya lagi, Hansol mengendikkan bahunya tak perduli dan memasukkan buku itu ke tasnya. "Seonsaengnim mencarimu tadi, aku jadi harus beralasan kau tidak enak badan, tidak enak rasanya berbohong. Oh iya bagaimana keadaan Chan?" tanya Seungkwan sambil mengoceh panjang lebar, ia membuntuti Hansol yang berjalan selangkah di depannya ke mobil.

Pemuda Chwe itu diam, "Mungkin baik-baik saja selama bersama Seungcheol hyung, kalau tidak aku akan menggigit si tua itu malam ini." Seungkwan terkekeh, "Jangan begitu, lagipula aku yakin Chan baik-baik saja kok." Hansol menoleh, Seungkwan menatap bingung.

Mata tajam namun dalam milik lelaki itu terasa begitu mengintimidasi bagi Seungkwan, "Tahu darimana kau?" desisnya, Seungkwan terdiam. Rasanya ada sesuatu yang menggores di hatinya, dan lagi.. kau? Hansol tidak pernah menggunakannya, ia biasanya menggunakan kata 'Kwannie' atau 'Boo' atau 'Seungkwan' atau yang mana sajalah selain kau. "M—Mian."

Mendengar Seungkwan terbata seperti itu, Hansol sepertinya menyadari kesalahan yang ia perbuat. Tanpa berkata apapun Hansol membawa Seungkwan ke pelukannya, kemudian membawa ransel lelaki yang lebih pendek darinya itu. "Ayo masuk mobil." Meski tidak mengucapkan maaf, Sungkwan tahu apa artinya. Hanya saja Seungkwan memilih diam namun mengangguk, ia tiba-tiba takut pada Hansol, takut Hansol akan membencinya, takut lelaki itu akan meninggalkannya.

Jadi ia diam saja dan duduk di bangku penumpang sambil menatap ke luar jendela, menahan sesuatu yang siap mengalir dari matanya. Hansol mengacak rambutnya frustrasi, akhirnya ia membelokkan mobilnya di kedai ice cream. "Kita turun dulu Kwannie," ingin menolak namun Hansol sudah membukakan pintu mobilnya.

Sebenarnya Seungkwan sadar ia sudah salah berkata soal Chan, lain kali ia akan menjaga perkataannya di depan Hansol. Lelaki itu dengan setia menemaninya memakan ice cream, membuat Seungkwan lupa sejenak soal masalahnya. Hansol benar-benar tahu cara memperbaiki moodnya. Lagipula menikmati waktu hanya berdua dengan lelaki itu…

Mungkin ia harus minta maaf pada Chan nanti.

TBC

Hehe lama sekali ya updatenya? Lagi kurang inspirasi, mianhae :(

Oh ya ada saran chapt depan ingin moment siapa dibanyakin? –padahal mau kasih kejutan couple buat chapt depan(?)
tapi gapapa, vote ya mau dibanyakin siapa selain Meanie.
1. JiHan
2. JeongCheol
3. VerKwan
4. HoZi
5. VerChan

Thanks buat yang udah review! i love you so much guysss!{}

Ayo seventeen stan temenan di line/ig/twitter sama aku, butuh temen 17stan nih ;_; add ya 'athiya064'

Last, Rcl?^^