Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast: YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 3510
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
"Hyung," Hansol tersentak dari lamunannya, ia lalu memegang lengan Chan yang sudah lebih dingin karena demamnya sudah turun. "Chan sudah bangun? Syukurlah," Chan memandang ke sekeliling, tidak asing, ini pasti di rumah keluarga Hansol. Lelaki mungil itu menatap Hansol yang balik menatapnya dengan lembut.
Senyum polos khas anak-anak langsung merekah di wajah Hansol, "Aku baru sadar kau benar-benar tampan." Hansol mendengus, kemana saja anak ini baru tahu ia tampan. Kemudian Chan meremas-remas tangan mungilnya sendiri, Hansol mencoba menyelami pikiran anak itu namun tak mendapat jawaban apapun. Chan hanya melamunkan sesuatu.
Kemudian lelaki itu menatap lurus ke mata Hansol, "Hyung, ada yang ingin aku sampaikan padamu.." gumamnya, dan Hansol tahu itu bukan hal yang baik.
. . .
Seungkwan berlari cepat menaiki anak tangga rumahnya setelah makan malam, membuat nyonya Boo kebingungan dengan tingkah anaknya itu. "Seungkwannie! Kalau sudah selesai belajar matikan lampu tidurnya dan segera tidur!" nasihat ibunya itu, namun lelaki itu tidak menjawab.
Buku paket matematikanya terbuka dan menunjukkan halaman ke seratus dua puluh delapan namun pikirannya tidak pada buku tersebut, Seungkwan menatap ke jendela, banyak hal melayang-layang di pikirannya. Ia biasanya anak yang ceria tapi hanya satu orang yang dapat membuatnya seperti ini.
Benar kata Kim Taehyung.
Lupakan soal alien itu ngomong-ngomong ia jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Hansol. Dia tidak punya pemikiran kalau vampir itu nyata pada awalnya, hanya saja, delapan bulan yang lalu ia sedang memandang ke arah jendela kamarnya, namun tiba-tiba sesuatu –lebih tepatnya seseorang— berhenti di balkonnya, sontak Seungkwan hampir menjerit namun orang itu menahannya. Dan Seungkwan bersumpah ia tidak akan membiarkan jendela kamarnya terbuka saat malam hari lagi.
Orang itu melangkah santai ke dalam kamarnya, rambut cokelat keemasannya dan matanya membuat Seungkwan terpesona. Seperti aktor hollywood, sungguh-sungguh tampan, namun menyeramkan. Dan tiba-tiba saja, segalanya berubah menjadi gelap.
Esoknya ia terbangun dan tidak menemukan apa-apa, ia pergi ke sekolah dan tiba-tiba menemukan orang itu ada di kelas yang sama dengannya. Entah kenapa Seungkwan baru sadar itu adalah Chwe Vernon Hansol. Ia ingin bertanya pada lelaki itu apa yang ia lihat merupakan mimpi belaka, namun setiap bertemu dengan Hansol, Seungkwan tidak ingat apa yang terakhir kali ia bicarakan dengan lelaki itu.
Kejadian itu terus berlangsung berminggu-minggu hingga mencapai sebulan, memang pertemanannya dengan Hansol semakin erat, namun Seungkwan sadar ada yang tidak beres dengan Hansol. Dan di malam itu, Hansol bermain ke rumah Seungkwan berencana menginap untuk kerja kelompok. Namun Hansol menatap matanya, satu-satunya yang diingat Seungkwan adalah..
"Aku bukan manusia sepertimu, namun aku mencintaimu."
Ternyata dulu Hansol benar-benar tidak sengaja berakhir di balkon kamar Seungkwan setelah berburu, meski ia masih kenyang namun aroma Seungkwan tercium olehnya, dan tanpa sadar kakinya sudah membawanya kesana. Dan Hansol menampilkan dirinya dalam bentuk vampir, sudah menyangka Seungkwan akan berteriak, namun lelaki itu diam saja.. bahkan lebih ke arah terpesona? Ia tidak tahu Hansol menyihirnya atau bagaimana, ia hanya menerima lelaki itu, meski lelaki itu mengatakan ia sudah memiliki hubungan dengan seseorang sebelumnya. Dengan Lee Chan..
Sedikit membuatnya terkejut juga, tapi entahlah, Seungkwan tidak membantah jantungnya berdebar keras ketika berhadapan dengan lelaki itu. Dan malam itu pertama kalinya Hansol mengungkap identitasnya, dan minum dari Seungkwan dalam keadaan Seungkwan sadar. Dan tidak menghapus pikiran lelaki itu seperti sebelum-sebelumnya.
Tok.. tok..
Melamun membuatnya tidak mendengar ketukan itu, Seungkwan menatap jendela kamarnya dan menyakini Hansol yang berdiri di situ. Ia membuka jendelanya, dan Hansol langsung masuk sambil menubruknya. "H—Hansol?" tanyanya bingung, apa yang terjadi, kenapa Hansol tiba-tiba memeluknya seperti ini? Bukankah tadi siang mereka..
"Maafkan aku.." gumam vampir itu, Seungkwan meletakkan dagunya di atas bahu Vernon, kemudian melingkarkan lengannya di punggung lelaki itu, ia mengangguk meski tidak mengerti apa maksudnya. Lagipula 'Maafkan aku?' Hansol tidak pernah mengungkapkan kata itu secara langsung. "I love you, Boo." Dan Seungkwan harus menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit, karena tiba-tiba saja Hansol menancapkan giginya di lehernya.
Dan lelaki itu menyedot darahnya lebih lama dan lebih banyak dari biasanya, sampai Seungkwan harus mendorong dada lelaki itu namun Hansol tidak menghentikannya. Seungkwan rasa pandangannya menjadi blur dan berkunang-kunang, kakinya tidak mampu menahan tubuhnya lagi. "Aku juga—cinta padamu," ia masih sempat menggumamkan kata itu sebelum pandangannya berubah gelap.
.
..
Bau obat, Jeonghan benci itu, namun ia tetap memaksakan dirinya memasuki ruang kerja Seungcheol yang lebih kecil di antara seluruh kamar yang ada di rumah mereka –Jeonghan memutuskan tinggal di sana, jadi ia bisa menyebutnya seperti itu—
Lelaki dengan bahu bidang bernama lengkap Choi Seungcheol itu nampak fokus pada beberapa obat di hadapannya, memang pekerjaan utamanya adalah dokter. Namun karena eksistensi panjangnya sebagai vampir, Seungcheol pernah mengikuti kuliah jurusan farmasi dan sudah bisa menjadi apoteker, sehingga ia dapat mengolah obat sendiri.
Yang lebih pendek memilih melingkarkan lengannya di pinggang Seungcheol, membuat Seungcheol menoleh dan menyingkirkan beberapa kapsul obat dan meletakkannya di dalam laci dalam gerakan cepat. Jeonghan penasaran, biasanya Seungcheol tidak pernah seperti itu, lagipula harusnya lelaki itu sudah tahu ia akan memasuki ruang kerjanya bukankah ia memiliki indera pendengaran super dan kemampuan membaca pikirannya? tapi kenapa ia membuat gerakan yang mencurigakan saat Jeonghan masuk ke ruangannya?
Kepala Jeonghan bergerak melewati bahu Seungcheol, berusaha mengintip obat apa yang disembunyikan lelaki itu. "Apa itu?" tanyanya tak tahan, "Untuk Chan," Jeonghan diam, seratus persen sadar Seungcheol sedang berbohong. Ia memang sudah meminta alih pengasuhan Chan pada bibi dan pamannya yang tentu saja langsung disetujui dua orang jahat tersebut, sehingga Chan benar-benar tinggal di rumah ini. Tapi benar-benar deh, Chan itu hanya sakit biasa, ia sudah sembuh bahkan sudah bermain dengan Mingyu di bawah.
Dua alis Jeonghan bertautan, menatap Seungcheol curiga. "Baiklah kau menang," lirih Seungcheol entah pada siapa, ia melepaskan pakaian putih jas lab dan menyampirkannya di gantungan. "Itu adalah obat yang aku teliti selama bertahun-tahun, aku sebenarnya paling ingin memberikannya untukmu. Tadi aku hampir menemukan racikan terakhirnya namun kau datang lebih dulu jadi ya, begitulah. Obat itu adalah obat untuk ya katakanlah memperpanjang umur manusia, membuatnya sehat, semacam.."
"Seungcheol!" jerit Jeonghan tiba-tiba, ia paling tidak suka ide ini. Ide bahwa Seungcheol akan mempertahankannya sebagai manusia, ia sadar lelaki itu selalu menghindar, menolak, dan lain sebagainya ketika ia menagih janji untuk dirubah menjadi vampir. Sebenarnya ia bisa saja minta pada Jisoo, toh ia mengenal Jisoo lebih awal daripada Seungcheol, namun Jisoo atau anggota keluarga lainnya tidak akan merubahnya tanpa persetujuan Seungcheol sebagai ketua klan tentu saja.
Lagipula apa bedanya? Tentu saja ia akan lebih kuat jika ia menjadi vampir kalau yang Seungcheol takutkan ia akan sakit. Dan ide konyol apa itu membuat obat panjang umur? Apa dia gila? Oke ia tahu vampir itu jenius tapi tetap saja.. Jeonghan tak mau ia jadi terlihat tua dan ringkih dibanding seluruh anggota keluarga ini, Seungcheol bisa saja mencintai orang lain kalau itu benar terjadi.
Tangan kekar Seungcheol mencengkram lengannya, "Dengar.. aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu, meski kau tua atau sakit sekalipun sayang. Hanya saja, eksistensimu sebagai manusia terlalu indah, aku bisa memandangimu setiap hari. Aku ingin melihatmu tumbuh dewasa, bertambah anggun dan indah.."
"Seungcheol hentikan! Apa susahnya menggigitku dan merubahku?" Seungcheol menggeleng, "Kau ingat kata Jisoo bukan, kau akan masuk neraka ketika melakukannya dengan sengaja. Kau harus punya alasan khusus kenapa kau menjadi vampir, dan kau dalam keadaan baik-baik saja, dan aku menjamin kau tetap akan baik-baik saja karena aku menjagamu jadi.."
"Apa kau ingin aku bunuh diri di depanmu? Sehingga kau akan menyelamatkanku dan merubahku menjadi vampir?" tanya Jeonghan sarkastis, Seungcheol menggeram tidak suka dengan pikiran Jeonghan yang itu. "Aku mohon mengertilah dan pahamilah keinginanku yang ingin menjagamu, Choi Jeonghan." Seungcheol terduduk dan bertumpu pada lututnya, tangannya melingkar di pinggang Jeonghan.
Setetes air mata dari lelaki yang mendapat julukan cheonsa itu menetes dan membasahi rambut hitam kelam Seungcheol, Seungcheol mendongak. "A—aku minta maaf, aku hanya ingin kita bersama selamanya." Jeonghan tahu, vampir tak semudah kelihatannya, mereka punya aturan sendiri. "Kalau begitu beri aku waktu untuk berpikir,"
"Lima bulan. Waktumu kurang lima bulan lagi Choi, aku harap kau akan memberiku kepastian yang menyenangkan." Seungcheol tersentak, teringat akan batasan waktu yang Jeonghan berikan padanya dulu.
. . .
"Wonu!"
Ia benar-benar hampir tertidur kalau saja suara Jihoon yang diimut-imutkan tidak mengagetkannya, "Aku cari ke kelasmu kau tidak ada, ternyata kau tidur disini." Wonwoo memandang sekeliling, benar, ia masih ada di perpustakaan. Jihoon mengambil kertas folio yang ada di meja Wonwoo dan menatapnya bingung. "Kenapa kosong?"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya dua kali, "Aku tidak bisa, kau tahu kan aku ini sedikit buta nada. Mana bisa profesor itu menyuruhku membuat komposisi nada, main piano saja aku tidak bisa." Jihoon terkekeh, ia tahu itu. "Sini aku bantu, asal kau juga harus membantuku di akting!" Wonwoo mengangguk saja lalu membiarkan Jihoon menggores kertasnya dengan pensil, supaya mudah dihapus ketika salah.
"Disini kau rupanya, ayo makan siang!" bibir Jihoon mencebik imut ketika Soonyoung memeluk lehernya, lelaki itu mencium pucuk kepala Jihoon berulang-ulang. Wonwoo kaget sendiri, Soonyoung berani sekali, atau mereka sudah berpacaran? "Sebentar, baru juga aku mau membantu Wonwoo dengan tugasnya. Kau pergilah duluan,"
Soonyoung menggeleng, "Kau kan tahu Jihoonie aku tidak bisa makan kalau tidak bersamamu." Jihoon mengetuk dahi Soonyoung dengan pensilnya, Wonwoo mendengus. Memang secara teknis Soonyoung tidak akan makan. Soonyoung mengedipkan sebelah matanya pada Wonwoo ketika Jihoon tidak sadar, "Lagipula.. sudah ada yang akan menemani sekaligus mengajari Wonwoo."
Mereka mengikuti arah pandang Soonyoung dan menemukan Mingyu sedang berdiri di antara rak-rak buku sambil membaca buku di tangannya, "Mingyu! Temani Wonwoo ya, bye! Ayo Jihoonnie!" Jihoon tentu saja tidak mampu melawan tarikan tangan Soonyoung, dan lelaki bermata sipit itu benar-benar pergi sebelum dimarahi penjaga perpustakaan.
Tidak punya pilihan Wonwoo membiarkan Mingyu melangkah mendekat dan duduk di sampingnya, "Tugasmu sudah selesai?" tanya Wonwoo berbasa-basi, Mingyu mengangguk. "Sudah, bagaimana denganmu? Masih butuh bantuan?" Wonwoo mengangguk pasrah. Mingyu melihat kertasnya yang masih terisi lima baris saja –itupun gara-gara bantuan si jenius Jihoon—.
"Kau bawa laptop?" tanya Mingyu, Wonwoo mengangguk dan mengeluarkan laptop dari tasnya. Lelaki itu menancapkan flashdisk miliknya ke laptop Wonwoo, menginstall sebuah aplikasi, kemudian menjalankannya. "Ini, kalau kau belum mahir benar, kau bisa menggunakan aplikasi ini. Caranya adalah.."
Mingyu menjelaskan panjang lebar, dan Wonwoo mengangguk, sesekali ia melaksanakan apa yang ditunjukkan oleh Mingyu dan perlahan kertas kosongnya mulai terisi. "Wah, gumawo! Kau baik sekali, tak kusangka aku mampu menyelesaikannya sendiri." Wonwoo tersenyum sambil mengangkat kertasnya.
Lelaki yang lebih tinggi balas tersernyum saja, Wonwoo menolehkan kepalanya menatap wajah tampan Mingyu. Tiba-tiba telapak tangan lebar Mingyu menyentuh pipinya, mengusapnya pelan. "Waeyo?" tanya Wonwoo bingung, pemuda Kim itu menggeleng, "Bohong jika aku tidak mencintaimu.."
Apa lelaki itu sedang menyampaikan perasaannya? Jantung Wonwoo berdebar tak karuan, mungkin dia penasaran, yang jelas euforia aneh itu tidak mengusiknya, meskipun perutnya geli seolah-olah banyak kupu-kupu di dalamnya. Mingyu merendahkan kepalanya supaya sejajar dengan kepala Wonwoo, ia menangkup kedua pipi pucat milik Wonwoo dan menempelkan bibirnya di bibir lelaki itu.
Mingyu menciumnya!
Dan Wonwoo tidak tahu harus berekspresi bagaimana, matanya masih membuka lebar namun ia lihat mata Mingyu terpejam erat. Jadi ia juga memejamkan matanya dan meletakkan tangannya pada dada Mingyu, lelaki itu menekan tengkuknya, memperdalam ciuman mereka.
Sampai kemudian ia melepasnya, Wonwoo berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya, jujur saja ia kesulitan bernafas tadi. Mingyu mengecup dahinya sejenak, "Aku tahu kau tidak akan memberikan jawabannya sekarang, aku akan menunggu, Jeon Wonwoo." Bisiknya, kemudian lelaki itu berdiri dan membawa barang-barangnya, meninggalkan Wonwoo yang terheran-heran sendirian.
.
..
Jungkook mendengus, kemudian berlari secepat mungkin, ia tidak suka diikuti. Ia benar-benar tidak suka! Akhirnya ia berhenti di depan practice room lalu masuk ke dalamnya, bersyukur ruangan itu lagi-lagi sepi. Dan bersyukur pada kecepatan kakinya, ia bisa kabur dari sosok aneh itu. Namun ia mendengar lagu Michael Jackson diputar, dan suara hentakan kaki.
Sebenarnya dari musik yang diputar saja ia sudah tahu siapa orang yang sedang menari, pasti Lee Chan, tuh kan benar. Lee Chan tampak meliukkan tubuhnya dan tidak sadar ada Jungkook yang memperhatikannya, sampai ia menangkap siluet Jungkook di cermin dan mematikan lagunya. "Kookie? Kenapa diam saja? Mau berlatih?" tanyanya, Jungkook menggeleng lalu duduk di lantai.
Ia mengusap peluhnya, Lee Chan melemparkan botol minuman isotonik ke arahnya. "Kenapa kau terlihat kelelahan seperti itu? Kau kabur dari pelajaran ya?" sindir Dino, "Enak saja, kelasku kosong dan bukannya semua guru hari ini rapat? Aku hanya habis menghindari seseorang, ngomong-ngomong terima kasih." Jungkook meminum minuman itu dan mengeluarkan suara lega.
Dino duduk di sampingnya, "Sudah berlatih untuk tugas akhir?" Jungkook menggeleng, "Tidak." Tentu saja tidak, mana mau ia berlatih dengan alien itu –ngomong-ngomong ia baru saja kabur dari Kim-alien-Taehyung tadi— "Kau sendiri? Tumben tidak bersama Hansol?" tanya Jungkook hati-hati, takut menyinggung Dino, namun tanpa disadari Dino tersenyum.
Lelaki di sebelahnya menautkan kedua alisnya, "Hansol hyung tentu saja bersama Seungkwan hyung," sebenarnya Dino ini anak akselerasi, ia harusnya ada satu tingkat di bawah mereka, tapi hanya pada Hansol dan Seungkwan saja ia memanggil 'kakak', "Kau.. tidak cemburu?"
Lagi-lagi Dino menggeleng, "Tidak, sebenarnya hubungan antara aku, Hansol, dan Seungkwan itu adalah kesalahan. Dari awal Hansol hyung itu tidak cinta padaku, dia hanya menganggapku adik. Kau tahu kan, aku dulu diselamatkannya ketika bibiku memukuliku, jadi ia begitu posesif padaku. Kalau ia mencintaiku, ia tidak bakal mencintai Seungkwan hyung, jadi aku akhiri saja." Jelas Dino, baru kali ini Jungkook tahu ia menceritakan masalahnya.
Tangan Jungkook berayun pada dahi Chan, Lee Chan mengaduh. "Hei bodoh, lalu bagaimana denganmu? Hansol tidak mencintaimu tapi kau mencintainya bukan? Jangan sok kuat Chan," Lee Chan menunduk, "Pada awalnya aku memang mencintainya, bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi aku sadar itu karena aku terlalu bergantung padanya, ia tetap sosok kakak bagiku, dan sekarang aku merasa baik-baik saja. Aku malah senang melihatnya bahagia bersama Seungkwan hyung, jadi aku sudah mengatakannya pada Seungkwan hyung, aku ini keren kau tahu? Jadi aku pasti akan dapat yang baru hehe, jangan khawatir!"
Jungkook mengetuk dahi Dino lagi, "Kau itu benar-benar bodoh Chan," meski begitu ia membiarkan Lee Chan memeluknya. "Memang hyung, tapi ini yang terbaik." Jungkook mengusap rambut lucu Dino, "Kau orang paling baik yang aku kenal, semoga kau juga segera mendapatkan kebahagiaanmu."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya yang lebih muda balik, Jungkook heran, "Kapan kau bahagia dengan dia?" Chan menatap ke luar pintu ruang latihan, Jungkook mengikuti pandangannya, ternyata Kim Taehyung sedang berdiri disana.
"Ya! Sembunyikan aku!" Jungkook berteriak, sementara Lee Chan tertawa lebar.
. . .
Sebuah tangan yang suhunya sekitar dua derajat di bawah suhu badan manusia pada umumnya menepuk pundak Wonwoo, yang ditepuk mengernyit dan menoleh. Ia memang kembali main ke rumah Mingyu, "Aku pergi berburu dulu dengan Soonyoung hyung," jelasnya. "Eo, memang siapa yang perduli?" tanya Wonwoo cuek, telapak tangan lebar Mingyu menyentuh pipi lelaki itu. "Itu artinya, kau harus tetap tinggal sampai aku datang, bye!"
Lelaki yang lebih tinggi meninggalkannya, sementara Wonwoo menyentuh pipinya terkejut. Barusan… lelaki itu menciumnya lagi? Sial, wajah Wonwoo memanas, mungkin nanti ia akan memberi hadiah bogeman di wajah lelaki itu.
Ia terdiam dan mengagumi rumah yang lebih mirip mansion milik klan Choi Seungcheol ini. "Kau sudah makan Wonwoo-ya?" suara lembut membuat ia mendongak, itu Jeonghan –lelaki paling cantik yang pernah ia lihat- sedang menata beberapa piring di atas meja, hidangan yang tersaji di atasnya cukup menggoda. Ia menggeleng pelan menjawab pertanyaan lelaki cantik itu, "Kalau begitu duduklah, dan ayo makan bersama, Seungkwan! Chan-ah!"
Dua maknae –yang sudah berbaikan—itu duduk di meja makan dan mengambil tempat yang sama dengannya, seseorang berjalan dari arah dapur dan memeluk pinggang Jeonghan dari belakang. "Bau apa ini? Enak sekali," Jeonghan terkikik kecil karena Seungcheol membuatnya geli, "Bau makanan. Tadi aku dan Mingyu memasaknya,"
"Tapi baumu yang lebih enak," Seungcheol mengambil kesempatan dan mencium bibir Jeonghan, ah tidak—melumatnya yang benar. Wonwoo mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak ingin dianggap memperhatikan. "Aku pindah ke depan televisi saja, ayo Chan!" ajak Seungkwan, Wonwoo kaget karena tiba-tiba ditinggalkan, "Kalau begitu aku ke taman belakang saja."
Lelaki kurus itu membawa piringnya ke taman belakang dan hendak duduk di bangku taman, berniat memberi kau tahu, —space—untuk pasangan yang sedang bercumbu tersebut. Sampai kemudian ia dikejutkan dengan suara debuman yang cukup keras, ia mengasumsikannya sebagai suara benturan. Wonwoo meletakkan piringnya dan berjalan ke sumber suara tersebut, ia mengintip dari balik pohon dan.. astaga itu Jisoo ssaem.
Dosennya tersebut sedang memukuli pohon dengan diameter yang cukup besar berulang-ulang, namun tak ada teriakan maupun tanda bahwa ia kesakitan yang keluar dari bibirnya. Dengan cepat ia melangkah mendekati lelaki itu, "Ssaem!" Wonwoo menahan tangan Jisoo, "Kau kenapa ssaem?" tanyanya khawatir, Jisoo menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya terkejut kalau Jisoo sedang dalam mode vampirnya. Iris mata merah gelap seolah dibalut oleh amarah dan kekesalan, kuku yang meruncing, dan taring yang terlihat.
"Pergilah Jeon Wonwoo." Sentak Jisoo yang lebih menyerupai geraman, "Y—yah! Kau berdarah ssaem." Wonwoo terkejut ada sesuatu yang mengucur keluar dari buku-buku tangan lelaki itu, meski tidak seencer milik manusia dan warnanya lebih pekat dan pucat daripada milik manusia. "Aku bilang pergilah! Aku baik-baik saja,"
Harusnya Wonwoo takut atau mundur beberapa langkah, atau harusnya malah berlari meninggalkannya. Tapi entah kenapa Wonwoo tahu Jisoo pasti memiliki masalah. "Berhentilah melakukannya ssaem, itu akan menyakitimu, ayo aku akan memanggil Seungcheol hyung."
Wonwoo menarik pergelangan tangan Jisoo, namun lelaki itu menahannya. "Tidak salah Mingyu menggigitmu ketika pertama kali kalian bertemu, kau benar-benar keras kepala. Jangan panggil Seungcheol, aku bisa mengatasinya sendiri." Jisoo melepaskan tangan Wonwoo dan melangkah pergi, namun entah mengapa ia ingin mengikuti lelaki itu.
Langkah lelaki itu berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna cokelat, ketika pintu itu terbuka tampaklah sebuah kamar yang cukup luas dengan desain minimalis. Cukup berbeda dengan kamar Mingyu yang lebih anak-anak, ada beberapa gitar yang sepertinya merupakan koleksi Jisoo, piano di sudut kamar, dan buku-buku di atas rak. Wonwoo menganga, benar-benar tipe kamar seniman. "Kenapa kau mengikutiku?" Wonwoo tersentak, "M—Mungkin, kau butuh bantuan?"
Jisoo mengendikkan bahunya lalu duduk di sofa berwarna cokelat muda, berjalan dengan kecepatan tidak wajar ke sudut-sudut kamarnya meraih beberapa alat yang bisa ia gunakan. "Gwaenchana?" tanya Wonwoo khawatir. Jisoo terkekeh pelan, "Dengar ya Jeon Wonwoo, aku ini vampir. Harusnya kau menanyakannya pada pohon tersebut, aku memukulnya terlalu keras,"
"Tapi kau berdarah."
"It's okay, tidak perih sama sekali, aku hanya terlalu keras melakukannya hingga rantingnya menusuk tanganku. Tapi aku tidak merasakan apa-apa, aku lega bisa menyalurkan kekesalanku." Jelas Jisoo sambil menyiram lukanya dengan cairan antiseptik. "Kesal? Kenapa kau kesal?" tanyanya balik. Jisoo mematung, lalu menggeleng, "Annio, lupakan saja."
Lelaki yang berhenti menua di umurnya yang ke dua puluh dua tahun itu jadi menerawang ketika ia melihat Seungcheol mencium Jeonghan di ruang makan tadi, bukannya tanpa sengaja mereka melakukannya. Tapi Jisoo yakin Seungcheol pasti tahu ia ada di sudut ruangan namun tetap melakukannya. "Ssaem?" panggil muridnya itu ketika ia ketahuan melamun, Jisoo menggelengkan kepalanya lagi, Wonwoo kemudian menempelkan plester luka ke buku tangan Jisoo.
Membuat Jisoo yang memperhatikannya jadi bingung, "Jangan melakukannya lagi, kalau kau punya masalah kau harusnya bercerita pada keluargamu, atau menyelesaikannya dengan kepala dingin. Tidak baik menyalurkannya seperti itu, kalau begitu aku keluar dulu, maaf sudah lancang ssaem." Wonwoo membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di depan Jisoo dan berniat keluar dari kamar tersebut. Namun Jisoo menahan pergelangan tangannya, Wonwoo menolehbingung. "Panggil aku Jisoo hyung saja, umur kita tidak terlalu jauh." Ya kalau mau mengabaikan eksistensi Jisoo di dunia vampir yang sudah lebih dari delapan puluh tahun, ia kan masih seperti mahasiswa lain, masih muda.
"Arasseo, Jisoo hyung." Jawab Wonwoo disertai senyuman hingga mata sipitnya hanya membentuk garis, kemudian meninggalkan Jisoo. Jisoo tertawa kecil memandang pintu yang tertutup, "Ha.. lucu sekali,"
. . .
Ranjang yang ditempati lelaki manis itu berderit pelan, tanda seseorang sedang duduk di bagian yang lain. Orang itu masuk ke dalam selimut yang digunakan Wonwoo, dan memeluk pinggangnya dari belakang. Suhu dingin yang kontras dengan suhu badan normal manusia membuat Wonwoo mengernyit, lelaki itu membuka matanya perlahan. Tunggu, kenapa ia ada di kamar Mingyu? Perasaan tadi ia sedang menonton televisi dan..
"Maaf membangunkanmu, tidurlah lagi. Maaf juga aku dan Soonyoung hyung pergi terlalu lama sehingga kau harus menginap," Mingyu merapatkan pelukannya di pinggang lelaki itu, entah karena lelah atau bagaimana Wonwoo diam saja, meski ia harus merapatkan selimutnya karena suhu badan Mingyu yang mirip es, aneh kenapa ketika vampir kenyang tubuhnya jadi lebih dingin, harusnya kan panas karena ada darah yang baru ia minum.
Ia tahu Mingyu tidak tidur, namun ketika dia berbalik Wonwoo menemukan kedua mata Mingyu terpejam. "Apa klanmu tidur seperti manusia?" Mingyu menggeleng, dagunya yang ia tempelkan di pucuk kepala Wonwoo bergerak pelan. "Tapi aku sedikit lelah dan kau hangat, hei kau habis berbicara dengan Jisoo hyung? Baumu jadi bercampur dengan baunya,"
'Jisoo?' pikiran Wonwoo terbayang ke kejadian tadi petang, tiba-tiba ia merasakan badan Mingyu menegang. "Jangan terlalu perhatian padanya, kau tidak seperti itu padaku. Dan.. apa-apaan kenapa kau masuk ke kamarnya?" Wonwoo mendengus lalu menyikut rusuk Mingyu, "Jangan mencuri dengar pikiranku tanpa izin, Kim!" kemudian ia kembali mencoba menutup matanya, demi Tuhan ini jam dua pagi, besok ia ada kuliah jam delapan.
Mingyu membenamkan wajahnya di rambut hitam Wonwoo, menghirup aromanya. "Tidurlah, besok berangkat bersamaku saja."
T B C
Hahahahaha, ini apa-_-
tbh aku mau cerita, akhir2 ini aku ngerasa ga tenang bgt. pertama soal ip duhh ip pertama kurang memuaskan:( 3.5 msh dibawah ekspektasi:( akuharus apa T.T bego bgt emang aku di kalkulus, algoritma pemrograman dll dapet A masa kalkulusku C dan mat diskritku B yg suck cuma 2 matkul matematika ;_; :( sedih aku gapinter hitung2an bgt aaa:((((
terus yang kedua, kmrn waktu aku ngetik lanjutan ff ini.. masa tiba-tiba ada suara "SSTT!" gitu keras bgt, aku kira ayah atau mama. aku lari kedepan rumah liat pintu kekunci dan aku bener2 sendirian dirumah kan serem abis:((( dan waktu aku tadi mau upload, tetangga sebelah rumahku tepat, meninggal. yaallah temen dari kecil padahal :'( gatau kenapa bikin aku galau bgt, aku ngerasa bener2 ga tenang. harus apaaa?
btw momentnya udah aku banyakin nih. Ayo mana seventeen stan aku bener2 pengen kenalan XD apalagi sesama author XD yuk yuk kenalan di twitter/ig/line athiya064 nihhhh.
btw libur kuliahku lama banget, masuk 29februari enaknya ngapain ya._.
Review jangan lupa!^_^
