Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast: YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 3510
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
Cuaca di Korea Selatan sedang dalam kondisi dingin-dinginnya, suhu bahkan sempat menyentuh angka minus empat belas derajat celsius. Mungkin hanya orang yang tidak normal saja yang masih bermain-main di sungai di dalam hutan, yang airnya saja sudah hampir membeku dan membentuk es-es bening yang mirip dengan kaca.
Dan dua orang yang tidak normal itu adalah Kwon Soonyoung dan Chwe Hansol, baiklah mereka memang bukan manusia normal, bahkan bukan manusia. Keduanya memilih duduk di batu hitam yang berukuran hampir dua kali tinggi badan mereka dan menatap ke arah sungai. Beristirahat sejenak melihat pemandangan sebelum kembali berburu.
Tapi daritadi hanya Soonyoung yang hiperaktif, ia menggunakan kecepatan supernya dan berlari dari puncak batu ke sungai dan menenggelamkan kakinya di air yang belum membeku. Air yang bagi manusia normal sangat dingin, terasa hangat di kulit abadinya.
Lelaki blonde itu juga sempat memainkan bongkahan es mirip cermin tembus pandang dan menertawakannya entah apa yang lucu. Sementara Hansol yang ia paksa menemaninya berburu masih terduduk di atas batu dengan pandangan lurus ke depan. Apa yang salah dengan anak itu hari ini?
Soonyoung menatap Hansol curiga, ia mencipratkan air sungai yang dingin ke wajah blasteran Hansol. "Mau sampai kapan kau melamun?" Hansol tak bergerak pikirannya masih merekam jelas kata-kata Chan malam itu.
"Hyung kita putus saja."
"Kenapa?"
"Hubungan antara kita dan hubunganmu dengan Seungkwan hyung jauh berbeda hyung, kita hanyalah adik-kakak, aku tidak ingin membebanimu maupun menyakiti Seungkwan hyung lagi."
Dan Hansol tak punya pilihan selain diam kemudian meninggalkan Chan ke rumah Seungkwan, ia butuh pelarian.
"Dia mengatakan semuanya?" Soonyoung duduk di samping Hansol yang tenggelam pada pikirannya, Hansol mengangguk pelan. Soonyoung menepuk bahu Hansol, berlagak seperti orang yang berpengalaman. "Apa yang Chan bilang, itu benar. Kau lebih dewasa darinya, tapi kau tidak tahu hatimu sendiri." Ia menyemangati adiknya itu, Hansol diam, apa benar kata Soonyoung ia tak tahu dirinya sendiri?
Pemuda bermarga Kwon itu menatapnya, "Kau tidak mencintai Lee Chan. Dia benar, hubungan kalian hanya sebatas kakak dan adik. Kau punya tempat tersendiri untuknya, tapi ada tempat yang lebih lebar untuk orang lain." Sahut Soonyoung penuh teka-teki, entah kenapa bayangan wajah manis Seungkwan merayapi pikirannya, 'Benarkah?' batin Hansol bingung, kemudian memilih mengangguk pelan.
Hansol mengingat kenangannya dengan Seungkwan, dan ada sesuatu yang hangat dan menyala-nyala di dalam dadanya. Apa mungkin.. benar takdirnya seperti ini, "Nikmati saja man," Soonyoung bercanda sambil menyenggol lengannya dengan siku tajamnya, sialan anak itu, di keluarga kan ia terhitung vampir kuat selain Seungcheol dan Mingyu, eh itu artinya hanya Hansol yang lemah? Tidak bukan begitu, ia Cuma vampir newborn, bukan serigala muda yang butuh bimbingan. Tapi bukannya vampir muda harusnya jadi yang terkuat? Atau karena dia dirubah oleh Jisoo jadi sifat lemah lembutnya menurun padanya, masa bodoh lah.
"Hei Hansol! Lihat singa itu, itu milikku!" Soonyoung berlari cepat ke dalam hutan,sambil tertawa mengejek, Hansol mendengus, "No way! Itu milikku!" dan ia mengejarnya, berusaha merebut hewan buruan itu.
Berpikir membuat keduanya lebih lapar.
. . .
Mungkin hanya Jeon Wonwoo satu-satunya orang yang fokus pada apa yang diajarkan, bukan siapa pengajarnya. Karena hampir delapan puluh persen penghuni kelas sedang terpesona pada dosen Hong Jisoo, dan ia memilih menatap fokus pada buku catatannya.
Oke, dia mengakui, entah kenapa Jisoo cukup attractive hari ini. Biasanya ia juga tampan, duh siapa sih keluarga Choi yang tidak tampan? Tapi hari ini Jisoo hanya mengenakan kemeja putih dibalik mantel merah maroonnya, ditambah rambut orangenya yang diatur ke belakang dengan sedikit gel –mungkin?- dan kacamata dengan frame hitam bertengger di telinganya.
Selamat Jisoo sukses menghancurkan konsentrasi mahasiswanya –umumnya mahasiswi- dan membuat mereka lebih mengagumi wajahnya daripada pelajarannya. Mungkin profesor Hoon harus menegur penampilannya lain kali, jelas sekali Jisoo sengaja tampil lebih tampan.
Tiba-tiba mata Jisoo terayun padanya, Wonwoo diam memasang wajah datar, sedikit malu karena lupa Jisoo bisa mencuri dengar pikirannya. Jisoo tersenyum mengejek sekilas, dan Wonwoo menundukkan kepalanya. Dasar, dosen sialan.
Ia jadi berharap Mingyu ada di kelas ini bersamanya, jadi ia akan punya teman yang tidak mengagumi Jisoo. Eh tunggu, sama saja kalau begitu, karena Mingyu juga menyebalkan. Dan ia tidak yakin apa jantungnya bisa berfungsi secara normal kalau ada Mingyu di dekatnya.
Jisoo berdeham pelan, membuat mahasiswa-mahasiswa yang memperhatikan wajahnya kembali fokus. Ia meletakkan spidolnya di tempat spidol yang tersedia, "Kita akhiri kelas hari ini, siapa penanggung jawab mata kuliahnya?" Joy mengangkat tangan, "Tuliskan emailmu, aku akan mengirim tugasnya malam nanti. Selamat beristirahat," rasanya para mahasiswi enggan untuk meninggalkan kelas, Wonwoo sendiri berusaha menjadi yang pertama untuk meninggalkan kelas bersama Seokmin dan Hanbin, dua orang yang tidak pernah mau berdamai tapi selalu kemana-mana bersama –dan menggunakan Wonwoo sebagai penengah-
Lelaki emo itu mengikuti kedua temannya menuju ke kantin, dan di jalan saja mereka sudah berdebat akan makan sushi atau yakiniku untuk hari ini. Ia menggeleng-geleng, berusaha menghindar dari perdebatan antara Lee dan Kim itu. "Wonwoo, Mingyu mana? Kau sudah bilang kalau kita di kantin?" ya biasanya mereka berempat dengan Mingyu juga, tapi Mingyu kan ada di kelas sebelah. "Belum," jawabnya datar, namun ia mengeluarkan ponselnya, tak disangka ada pesan tak terbaca dari Mingyu, benar-benar peka.
From: Kim Mingyu (prince)
Aku di ruang administrasi sebentar, tunggu di kantin.
Wonwoo mendecih, sejak kapan Mingyu merubah nama kontaknya sendiri jadi prince? Benar-benar norak dan ketinggalan zaman, benar saja sih, ia lahir di tahun sembilan belas dua puluhan. Bahkan sebelum Korea Selatan merdeka. Pantas saja mainnya raja-rajaan. "Aku jaga tempat saja deh, samakan saja pesanan dengan kalian ditambah susu pisang." Ia malas memesan makanan bersama Hanbin dan Seokmin yang pasti akan berdebat dulu, dan baru menentukan pilihan di depan meja kasir, kenapa mereka tidak beli menu yang berbeda saja? Dasar.
"Kau tim apa? teamYakiniku atau teamSushi?" Seokmin bertanya nyalang, Hanbin menyenggolnya, Wonwoo memutar bola matanya kesal. "Yang mana saja deh." Jawabnya dan keduanya kembali berdebat sambil jalan, "Ingat! Susu pisang!" dan Wonwoo hanya dapat jawaban berupa ibu jari saja. Ia duduk dan mengeluarkan ponselnya kembali, sebelum bangku di sebelahnya tiba-tiba terisi.
Ia menoleh terkejut, "Ssaem? kau teleportasi ya? Sejak kapan kau ada disini?!" pekik Wonwoo, Jisoo terkekeh kecil. "Well, kami punya kemampuan untuk tidak menimbulkan suara gaduh seperti manusia yang ceroboh, Won." Jisoo menjawab sambil tersenyum, "Terima kasih sekali atas pujiannya." Ia menanggapi sarkas, Wonwoo tersinggung sedikit, memang manusia se-ceroboh apa?
Yang disindir kembali tersenyum, "Maafkan aku. Ngomong-ngomong kau mau ini?" Jisoo mengeluarkan usb berwarna putih, Wonwoo melirik curiga. "Ada tugas yang akan aku berikan pada kalian, beserta jawabannya." Jelas Jisoo, disuap dengan cara seperti ini? "Tidak trims,"
Tiba-tiba Jisoo tertawa lebih keras, "Astaga Wonwoo aku tidak menyuapmu, hanya menawarkan saja kita kan keluarga, tidak ada untungnya pula buatku. Yang untung malah kau bukan? Kau kan tidak terlalu jago soal pembuatan melodi," namun Wonwoo tetap menggeleng, "Yasudah aku tidak memaksa, ternyata kau polos juga, kalau aku tawarkan pada yang lain pasti diterima begitu saja. Kalau kau kesusahan kau bisa minta bantuanku, aku pergi dulu karena dua temanmu mencurigaiku sebagai pacarmu. Bye!" Jisoo memelankan suaranya di akhir kalimat sampai menyerupai bisikan, dan meninggalkan tempatnya, seperti biasa tentu saja tidak makan siang.
"Hei kau benar-benar pdkt dengan dosen itu?!"
"Hei ada hubungan apa kau dengan Jisoo hyung?!"
Wonwoo menutup kedua telinganya, begitu Hanbin dan Seokmin berbicara bersamaan. Hanbin melirik Seokmin curiga bercampur jijik, "Hyung?! Sok dekat sekali kau dengan ssaem!" Seokmin nyengir kuda –mukanya makin mirip kuda ketika begitu-. Keduanya meletakkan nampan di meja. "Bukan aku dan Jisoo ssaem tidak dekat seperti itu, aku dekat karena.."
"Karena Jisoo ssaem kakak tiriku."
Ketiganya menoleh pada Mingyu yang datang tanpa isyarat, kebiasaan vampir sekali. "Ya! Darimana kau?" Seokmin bertanya, "Tunggu kakak tiri?!" Mingyu mengangguk, lalu langsung mengambil duduk di samping Wonwoo dan seenaknya meletakkan tangan di bahu ramping lelaki itu.
"Aku heran kalian diadopsi siapa, tapi yang jelas keluargamu benar-benar keren, sampai jadi ketua BEM segala, dan tampan." Seokmin mengakui jujur, kali ini Hanbin menyetujui. "Biasa saja, orangtua kami sangat disiplin, jadi begitulah."
Pasti yang dimaksud Seungcheol dan Jeonghan.
.
..
Suara grusak-grusuk menyambut Wonwoo yang lagi-lagi bertamu ke mansion Mingyu, itu Dino yang berlarian ke segala ruangan dengan Soonyoung, bertengkar, siapa yang sebenarnya anak kecil di antara mereka?
Hansol lagi-lagi sibuk dengan Mtv nya, Boo Seungkwan yang rela membiarkan Hansol tidur berbantalkan pahanya, Jisoo dengan korannya, Jeonghan tidak terlihat, dan Seungcheol yang sepertinya ada di rumah sakit.
Soonyoung benar-benar heboh sampai hampir beberapa kali menggunakan kekuatan vampirnya untuk menerkam Soonyoung yang mengambil ponselnya tapi tidak jadi. Jadi Wonwoo dan Mingyu masuk saja tanpa mengucapkan salam, toh sepertinya tidak akan digubris oleh mereka.
Keduanya bersiap menaiki tangga sampai bertemu dengan Jeonghan di anak tangga, rapi sekali, dengan coat silver dan topi fedora hitamnya. "Mau.. kemana?" tanya Mingyu bingung, biasanya kalau ada pemotretan Jeonghan hanya berpakaian kasual namun pakaiannya ada di dalam mobil atau sudah disiapkan di tempat pemotretan. "Ada urusan sedikit, aku duluan, jangan lupa makan Wonwoo, kalian juga Chan, Seungkwan!"
Tapi Wonwoo tidak salah lihat kok kalau rona pipi Jeonghan memerah sedikit, begitu pula dengan Mingyu. Mereka melihat Jisoo melipat korannya, dan berjalan di belakang Jeonghan dengan kunci mobil di tangannya. "Jadi—" Mingyu menggeleng, "Nanti saja." Awalnya Wonwoo kira mereka akan masuk ke kamar Mingyu kembali, namun lelaki itu malah mengajaknya naik ke lantai tiga.
Ada pintu berwarna hijau dengan corak keemasan Mingyu memasukkan kunci dan membukanya, rahang Wonwoo hampir jatuh. Itu perpustakaan! Cukup besar, dengan tumpukan buku yang sepertinya hasil koleksi bertahun-tahun, atau mungkin memang sengaja didatangkan dalam jumlah banyak. Phew, bahkan yang di kamar Jisoo bukan apa-apa.
"Atas dasar apa kau kira aku akan tertarik menghabiskan waktu di perpustakaan?" Wonwoo bertanya bingung namun tetap mengikuti Mingyu melangkah, bisa tersesat ia di dalam perpustakaan ini. Luar biasa sekali yang membangun mansion ini, lebih mirip istana.
Buku-buku di bidang kedokteran maupun kesehatan dan musik adalah yang paling banyak. Koleksi Seungcheol dan Jisoo tentu saja, siapa lagi, seingat Wonwoo juga Mingyu tidak terlalu suka membaca. Mingyu terdiam menatap rak yang cukup tinggi, berisi buku-buku tebal, namun ada beberapa yang ditulis dalam bahasa Inggris –kebanyakan sih memang koleksi disini berbahasa Inggris— ada pula dalam bahasa yang Wonwoo tidak mengerti.
Lelaki jangkung itu melompat dengan mudahnya sambil berpegangan pada rak dan mengambil salah satu buku bersampul biru gelap, tangannya mengisyaratkan Wonwoo agar duduk di meja baca bersamanya, ingatkan Wonwoo ini bukan Hogwarts, karena damn seram sekali bukunya.
Adattamento, Immortalità, Vittoria
-1879-
King Abramo Fidelio.
"Igeo mwoya?" tanya Wonwoo penasaran, Mingyu membuka satu halaman dengan tepat, seolah ia terbiasa membukanya. "Bacalah," Mingyu menunjukkan buku tersebut, namun Wonwoo menggeleng, bahasanya aneh, ia tidak mengerti. "Ini buku bahasa Italia milik Seungcheol hyung, aku rasa beberapa ketua klan vampir pilihan akan mendapatkannya. Dan Abramo adalah raja kami,"
Wonwoo makin tidak mengerti, raja? Jadi vampir punya pemerintahan sendiri? "Sumber dari segala aturan, dan Abramo sendiri bertangan dingin, siapa yang melanggarnya akan mati di tangannya. Tapi Seungcheol hyung mengenalnya ketika ia awal menjadi vampir, jadi Abramo seperti pamannya. Buku ini artinya adalah 'adaptasi, keabadian, dan kemenangan' keren bukan? Semuanya ia tulis untuk vampir,"
Dan di halaman itu ada tiga kalimat yang dibingkai dan diletakkan di tengah halaman. "Itu, adalah aturan utama bagi vampir." Mingyu membacanya dengan suara pelan.
1.Vampir dilarang merubah manusia menjadi newborn dengan sengaja tanpa sepengetahuan klan atau kerajaan.
2.Dilarang untuk membocorkan jati diri maupun terungkap keberadaannya di antara manusia
3.Vampir adalah mesin pembunuh, bukan pemaaf. Karena kita tidak bodoh seperti manusia.
"Jadi?"
Mingyu berdeham kemudian menutup buku itu, "Ini menjawab pertanyaanmu tempo hari. Tentang bagaimana jika keberadaan kami diketahui manusia," mulut Wonwoo membulat membentuk huruf 'O' sempurna yang terlihat lucu bagi Mingyu, lelaki itu gemas dan mengecup bibir itu sekilas. "Aku tidak akan membocorkannya, kau ingat itu." Mingyu tersenyum lalu mengacak surai Wonwoo gemas.
Mata rubah Wonwoo menatapnya penasaran, "Jadi bagaimana kau dirubah? Dan bagaimana Seungcheol hyung jadi ketua klan kalian?" Mingyu mendorong buku itu kemudian matanya menatap lurus ke rak-rak perpustakaan, lebih tepatnya ia tidak memandang apapun dan hanya melamun. "Seungcheol hyung tidak ingat bagaimana ia menjadi seorang vampir, kemungkinan ia bisa saja sudah menjadi vampir dari lahir, tapi yang Seungcheol hyung ingat ia tumbuh sebelum benar-benar berhenti tumbuh di umur dua puluh lima tahun. Ketika kecil kelakuannya mirip dengan anak-anak imortal lain, yang ketika lapar bisa membunuh orang satu desa. Kau tahu anak kecil tidak dapat berpikir dengan baik,"
Wonwoo mengangguk, anak imortal adalah anak yang seharusnya tidak lahir karena hasil dari hubungan vampir dengan vampir. Tapi anak-anak itu tidak tumbuh, membeku selamanya, tapi Seungcheol tumbuh. "Sampai akhirnya ketika remaja Seungcheol hyung mulai bisa mengendalikan nafsu vampirnya, dan ia belajar. Ia juga sempat belajar di Italia dan dekat bersama Abramo, lalu bertemu dengan Jisoo hyung yang digigit vampir hingga hampir mati tapi Seungcheol hyung memilih merubahnya."
Lelaki jangkung itu memberi jeda sejenak, sebelum melanjutkan "Lalu Soonyoung hyung yang menjadi pasiennya, karena Seungcheol membaca pikiran Soonyoung hyung yang akan mengikuti kompetisi dance demi ayahnya, ia merubah Soonyoung hyung. Kemudian aku kecelakaan tapi aku tidak tahu kenapa Seungcheol hyung merubahku, ia sendiri juga tidak memberitahu apa yang aku pikirkan sebelum akhirnya aku dirubah. Dan Jisoo hyung merubah Hansol."
Jadi itu kenapa klan ini bisa terbentuk ternyata, dan Seungcheol benar-benar menaati peraturan untuk tidak menciptakan vampir tanpa berpikir. "Wonwoo," panggil Mingyu pelan, Wonwoo yang masih mencerna kata-kata Mingyu tadi mendongak bingung.
Mata Mingyu menatap ke arah leher Wonwoo, Wonwoo diam, apa kali ini.. ia bersedia memberikan darahnya untuk lelaki itu? Tapi buru-buru Mingyu mengalihkan pandangannya, "Abaikan saja. Aku akan ke bawah dulu," Mingyu berdiri, namun Wonwoo menahannya. "Kau boleh mendapatkannya."
Ekspresi terkejut langsung tampak di wajah Mingyu, Wonwoo mengizinkannya? Apa ini artinya.. shit Mingyu bahkan tidak sempat memikirkan perasaannya karena insting vampirnya bekerja lebih dulu, tubuhnya sudah berubah menjadi mode vampir, dan tanpa ragu Mingyu menarik tengkuk Wonwoo seolah akan menciumnya, namun gigi taringnya yang panjang menancap ke leher lelaki itu.
Rasanya pedih, dan kepalamu berubah menjadi pening. Wonwoo mencengkram erat lengan Mingyu, membiarkan lelaki itu meminum darahnya dengan banyak, dan Mingyu sendiri tidak tahu kapan harus berhenti darah Wonwoo begitu adiktif untuknya.
"Jangan dekat dengan orang lain selain aku terutama dengan Jisoo."
. . .
Jihoon mendengus, ia kehilangan ponsel kesayangannya. Dicari ke setiap sudut kelas dan ruang latihan vokal juga tidak ada. Ia tidak bisa hidup tanpa ponselnya, kau tahu mana ada orang di jaman sekarang yang bisa hidup tanpa ponsel?
Seingatnya ia juga tidak pergi kemana-mana selain ke dua tempat tersebut. Ia menjentikkan jari dan menemukan ide mengapa tidak pergi ke ruangan CCTV, daritadi kan ponselnya ia pegang, siapa tahu ia meninggalkannya di suatu tempat.
Lelaki mungil itu berlari kecil menuju ke ruang CCTV, tuan Jung Yoomin penjaga ruang CCTV itu mempersilahkannya, kebetulan ia sedang ingin ke toilet jadi menitipkan ruangan itu ke Jihoon sebentar. Jihoon membuka beberapa folder, terakhir kali ia membuka pesan dari Soonyoung di kelas dan jam menunjukkan pukul 12:53 siang, untung saja ia ingat.
Jadi kira-kira itu satu jam yang lalu, Jihoon membuka dan mulai memainkan beberapa video. Di video ia terlihat berjalan meninggalkan kelas masih dengan ponsel di genggamannya, kemudian berjalan menuju ruang latihan, dan ia ingat kalau ia ke toilet sebentar. Dan benar kan! Jihoon meninggalkan ponselnya di depan wastafel. Benar-benar pelupa.
Ia mengetuk dahinya sendiri, sebenarnya berniat langsung meninggalkan ruang CCTV tapi lebih baik ia menunggu tuan Jung datang. Iseng-iseng Jihoon memantau toilet yang sedang sepi, siapa tahu saja ada yang ia kenal dan bisa ia suruh mengambilkan ponselnya, hitung-hitung ia tak perlu berjalan terlalu jauh. Namun ia sedikit terkejut karena menemukan Hansol dan Seungkwan masuk ke toilet yang paling sepi di fakultasnya tersebut.
'Kenapa mereka masuk ke toilet anak kuliah?' pikir Jihoon bingung, memang di SMA mereka sedang rusak atau bagaimana? Walaupun satu komplek tetap tidak seharusnya mereka menyelinap masuk ke universitas tanpa izin. Hansol menarik Seungkwan masuk ke bilik paling pojok, Jihoon mengernyit, ingin memarahi Hansol. 'Jangan-jangan mereka mau melakukan yang iya-iya di toilet?!' batinnya panik.
Untung saja cctv dipasang lebih tinggi dari bilik, Jihoon bisa melihat Hansol memerangkap Seungkwan dengan kedua tangannya, dan mencium leher lelaki yang lebih pendek. Tunggu.. itu tidak seperti mencium?
Jihoon reflek menutup mulutnya ketika ia melihat Seungkwan hampir merosot dan Hansol bangkit, kemudian Jihoon yakin seratus persen Hansol mengusap bibirnya yang… dipenuhi darah.
Buru-buru Jihoon menutup video itu, ia tidak ingin berpikir tentang apapun saat ini. Tapi yang ia lihat.. 'Tidak mungkin yang dibilang Wonwoo itu benar bukan?'
"Hei Jihoon, kau tahu tidak kalau bisa saja.. pacarmu—ah anni Soonyoung sunbae itu mungkin tidak seperti kita?"
"Tidak seperti kita? Bagaimana? Aku tidak paham hehe,"
"Kau tahu kan, di cerita fiksi, ada manusia, ada manusia serigala, dan juga ada vampir?"
"Kau sedang mendongengiku ya?"
"Dwaesseo."
Tapi ia ingat dengan benar apa yang baru saja ia lihat, tidak akan ada manusia yang meminum darah manusia lain bukan?jadi apakah Soonyoung dan keluarganya benar-benar vampir? kenapa Soonyoung menyembunyikannya?
"Jihoon?" tuan Jung masuk, Jihoon berdiri kaku, mata lelaki itu menatap Jihoon heran. "A—ah, bapak sudah kembali, kalau begitu saya pergi dulu." Dan Jihoon berlari pergi, menimang-nimang ia perlu mengambil ponselnya atau tidak?
T B C
I need your review guys~ please review mau pake akun atau ngga gapapa^^
Udah update cepet, bales pake review ya eheheh /plak. Tapi serius review kalian itu bikin aku senyum2 sendiri, jadi give me a review jusseyo^^~
btw kok dari hp gaada pilihan buat bales review yang nanti jadi pm ya? Aku bingung, lama ga make fanfiction net ehehe. Adayang tahu caranya bales review biar jadi pm?^^
eh chapt ini kaya side chapt gitu sih sebenenrya, aku udah ngetik panjang tapi kepanjangan, di chapt depan kayanya banyak jisoo-jeonghan-seungcheol deh sama jihoon-soonyoung hehe.
p.s oiya ada yang nanya aku kuliah dimana, aku kuliah di universitas airlangga surabaya jurusan sistem informasi^^
