Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast: YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 5466
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
Sinar matahari yang malu-malu seakan mendukung suasana romantis hari itu, Jisoo menatap Jeonghan yang menyembunyikan wajah cantiknya dengan masker, efek menjadi terkenal. Jisoo menggenggan telapak tangan Jeonghan dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya, Jeonghan mendongak menatap Jisoo. "Kau kedinginan," Jisoo memberi pernyataan kemudian menggenggam tangan Jeonghan yang tersembunyi sekarang.
Lelaki cantik itu tidak punya pandangan kemana Jisoo akan membawanya jadi ia diam saja dan berdandan sebaik mungkin untuk Jisoo, lelaki itu selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang, seakan takut bahwa Jeonghan akan terluka sedikit saja.
Mereka masuk di restauran Prancis yang cukup mewah, Jisoo sudah menyewa salah satu tempat dan duduk disana. Restauran ini restauran favorit Jisoo ngomong-ngomong, bahkan kencan pertama mereka Jisoo juga membawanya ke sini. Jisoo memanggil pelayan, dan wanita itu tersenyum ramah, cukup paham dengan pesanan Jisoo.
Ketika Jisoo sibuk dengan menu makanan Jeonghan lebih memilih memanang ke seluruh ruangan, interior restauran ini benar-benar cantik. Dan kebanyakan hanya kalangan tertentu saja yang bisa masuk ke restauran ini, Jeonghan merasa beruntung. "Kenapa kau tidak berhenti tersenyum daritadi?" tanyanya penasaran pada Jisoo, yang ditanya hanya menggeleng pelan.
"Aku jadi ingat kencan pertama kita," gumam Jisoo, Jeonghan mengangguk mengiyakan, ia benar-benar mengingatnya. Di musim semi, Jisoo menjemputnya dari suatu pemotretan dan tanpa berkata apa-apa 'menculik'nya ke restauran mewah ini. Dan restauran ini sepi, hanya ada lilin yang ditata di atas meja, makanan, dan cincin. Sampai saat ini meski ia berhubungan dengan Seungcheol, ia masih mengenakan cincin pemberian Jisoo.
Makanan mereka datang dan Jeonghan makan dengan tenang, membiarkan Jisoo yang hanya memandanginya. "Tidak ingin coba? Ini enak lho," goda Jeonghan namun Jisoo hanya tersenyum, "Lebih enak kalau ada tambahan darahmu," bisiknya, Jeonghan mendengus, membahas darah ketika ia makan benar-benar bikin mual.
Setelah makanan Jeonghan habis, Jisoo menggenggam tangannya. Tatapan matanya yang lembut membuat pemuda Yoon itu lupa sejenak kalau yang di depannya ini vampir yang bisa membunuh kapan saja. "Ippeuda," gumam Jisoo, kemudian Jeonghan tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu yang dingin di tangan kanannya, ada gelang perak disana.
Jisoo membiarkan Jeonghan mengagumi gelang tersebut, "Astaga, terima kasih, cantik sekali." Ia tersenyum senang, Jisoo masih memegangi kedua tangannya. "Yoon Jeonghan," panggilnya lembut, Jeonghan mendongak menatapnya.
"Ayo kita akhiri segalanya sampai disini,"
Apa?
Mungkin kalau hati Jeonghan terbuat dari crystal maka bisa dipastikan akan hancur berkeping-keping saat itu juga, Jeonghan langsung berinisiatif menarik tangannya tapi Jisoo menahannya lebih kuat. "Dengarkan aku dulu," pinta Jisoo, Jeonghan terdiam, tapi matanya sudah berkaca-kaca saat ini. "Bukan berarti aku tidak mencintaimu, aku sangat mencintaimu dan kau tahu itu. Karena—karena aku terlalu mencintaimu, aku ingin kau bahagia. Dan aku tahu kau lebih bahagia bersama Seungcheol,"
"Tapi Jisoo.."
"Jeonghan, aku tahu pikiranmu. Kau tidak bisa berbohong ketika kau bersama Seungcheol, kau bahagia. Pertemuan kita memang lebih awal, tapi itu tidak menjamin kau lebih mencintaiku. Kalau kau mencintaiku, maka kau tidak akan menerima Seungcheol bukan? Ini sama seperti halnya dengan hubungan Chan dan Hansol, tidak akan pernah bisa diselamatkan."
Lelaki yang berasal dari Amerika itu memandang jari Jeonghan yang ada dalam genggamannya, "Aku akan melepaskanmu untuk Seungcheol, aku ingin orang terdekatku bahagia. Tapi bila nanti.. kau tersakiti olehnya, aku tidak akan pernah melepaskanmu kembali. Aku melepaskanmu hanya untuk dia, dan aku hanya ingin memudahkanmu memilih, tapi perasaanku padamu tidak akan pernah berubah." Jeonghan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha menahan air mata yang bisa jatuh kapan saja.
Lelaki di hadapan Jeonghan ini benar-benar baik, lembut, dan pengertian. Bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi dua orang terdekatnya. Bahkan memutuskan hubungan pun Jisoo menyiapkannya sebaik mungkin, "Jeonghan-ah, meski antara aku dan kau berakhir, aku ingin kau tetap menyimpan segala yang kuberikan padamu." Jeonghan hanya mengangguk gamblang, tidak tahu ia menyetujui apa.
Keduanya meninggalkan restauran tersebut, Jeonghan kembali mengenakan maskernya. Kali ini berusaha menutupi ekspresi wajahnya yang sedih, pelayan menatap keduanya bingung utamanya Jeonghan namun memilih diam saja. Jisoo sendiri masih memperlakukan Jeonghan senormal mungkin, seperti memeluk pinggangnya, karena selain hubungan keduanya yang berakhir, segalanya masih sama bagi Jisoo.
Mobil milik Jisoo berhenti di halaman, dan Jeonghan buru-buru memasuki rumah mereka. Syukurlah Seungcheol belum pulang, "Jeonghan!" Jeonghan menoleh pada Jisoo yang tiba-tiba ada di belakangnya, "J—Jisoo, tinggalkan aku sendiri. Kumohon?" pinta Jeonghan, dan Jisoo hampir membunuh dirinya sendiri karena melihat air mata di wajah cantik itu. "Baiklah, istirahatlah, aku akan berburu dulu. Sudah lama sekali,"
Jeonghan mengangguk dan hampir menapaki anak tangga sebelum Chan menghadangnya, "Eomma? Kau kenapa?" Jeonghan menggeleng dan meneruskan langkahnya menuju kamarnya, Chan mengikutinya terus, "Kau menangis eomma," anak ini memang senang sekali memanggilnya 'ibu' mungkin baginya Jeonghan adalah pengganti ibunya yang telah tiada.
"Chan.. mainlah dengan Soonyoung atau Mingyu, aku sedang ingin sendiri, mianhae." Pinta Jeonghan lembut, Lee Chan jadi tidak enak dan mengangguk saja. Jeonghan menutup pintu kamarnya begitu Lee Chan pergi, dan tubuhnya merosot ke bawah sambil bersandar pada pintu kamarnya, ia menangis dalam diam.
. . .
Mingyu menemani Wonwoo mengerjakan tugasnya, ia sendiri seperti biasa sudah selesai dari awal. Sebentar-sebentar Wonwoo meminum jus jambu merah yang sengaja ia beli beberapa hari ini, Mingyu merasa bersalah, karena sepertinya Wonwoo minum jus itu untuk membuat eritrositnya naik.
Lain kali Mingyu akan menimang-nimang apa ia perlu minum dari Wonwoo lagi, kalau seperti ini jadinya ia tidak enak sendiri. "Mingyu," Wonwoo memanggil pelan namun matanya masih fokus pada buku paketnya. "Hm?" balas Mingyu dengan gumaman, Wonwoo mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke meja, bimbang.
"Bisa tidak kau baca pikiran Jihoon?"
Alis Mingyu mengkerut heran, "Daritadi Jihoon kelihatan gusar, hari ini kan ada mata kuliah yang sama dengannya, tapi menyapaku saja tidak. Dia terlalu tenggelam dalam pikirannya, aku takut ada masalah." Mingyu diam saja, bukannya tidak mau, tapi takut Soonyoung mengamuk. "Akan kulakukan kalau aku bertemu dengannya."
Wonwoo melipat bukunya dan memasukkannya ke tas, "Ayo antar aku pulang." Pintanya, Mingyu mengangguk saja, "Mau nonton film?" tawar Mingyu, "Tentu saja! Jarang sekali aku nonton film ketika kuliah," Wonwoo mengangguk semangat seperti anak kecil, Mingyu jadi gemas dan mencium pipinya.
Namun langkah Mingyu langsung berhenti beberapa meter dari lapangan fakultas, Wonwoo bingung, "Ada apa?" tanyanya. "Wonwoo, bisakah kau keluar lewat gerbang belakang saja?" tanya Mingyu setengah mengusir, "Kenapa?" Wonwoo malah bertanya dengan polosnya.
Terlambat!
Mingyu benar-benar ingin menjerit dalam hati, seorang gadis cantik lebih dulu mendatanginya. Wonwoo menatap gadis itu bingung, siapa dia? Kenapa tiba-tiba berhenti di hadapannya dan Mingyu?
"Annyeong, Mingyu." Mendengar sapaan itu Mingyu makin mengeratkan genggamannya di tangan Wonwoo, mata gadis itu menatap genggaman itu lekat-lekat. Wonwoo sendiri dikejutkan dengan sapaan dalam bahasa Korea yang kurang fasih itu. "Mau apa kau datang ke sini Tzu Yu?" Wonwoo makin tidak punya bayangan tentang siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Mingyu.
Yang jelas wanita di depannya ini sangat-sangat cantik, sampai terasa menyilaukan karena kecantikannya. "Ngomong-ngomong, bau darah," Wonwoo tersentak, ternyata yang di depannya ini vampir. "Jangan coba-coba," Mingyu berdiri di hadapan Wonwoo, menutupi tubuh lelaki itu.
"Oh, jadi dia tahu siapa kau sebenarnya?" sindir Tzu Yu, suaranya terdengar begitu dingin. Harusnya Mingyu tidak bereaksi apa-apa kalau lelaki di sampingnya itu tidak tahu kalau ia vampir, tapi reaksi lelaki tinggi itu malah menunjukkan kalau ia sudah melanggar aturan. Tubuh Mingyu mengejang, "Lalu kau mau apa?!" sentak Mingyu, Tzu Yu tersenyum licik, "Melaporkan keluargamu pada Leo oppa mungkin?"
Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Leo adalah sapaan akrab dari Abramo Fidelio, dia juga menguasai bahasa Korea dengan baik, dan sempat tinggal di Korea pula. Nama Koreanya adalah Jung Taekwoon. Dan membayangkan berita klannya sampai ke tangan lelaki dingin itu, tidak, ia tidak ingin itu terjadi.
Mingyu menggertakkan giginya, berusaha menahan suara karena masih ada di kampus saat ini. "Jangan macam-macam Tzu Yu!" gertak Mingyu, "Sayang sekali, kau sudah membuatku sedih, aku masih ingat penolakanmu saat itu Mingyu. Dan lagi, apa ini, kau menyukai laki-laki? Menjijikan." Ejeknya. "Lagipula, kau lebih memilih manusia, sangat bodoh."
Wajah cantik Tzu Yu sepertinya begitu menyimpan kebencian yang dalam, apa kiranya yang membuat ia begitu benci? Bukankah ia pasti lahir menjadi manusia sebelumnya?
"Tzu Yu, aku bisa saja membuat kepalamu terpisah dari tubuhmu saat ini, tapi aku tidak ingin melakukannya di tengah umum. Tapi kalau berita ini sampai ke tangan Leo, aku tidak segan melakukannya." Tzu Yu tertawa nyaring, "Apa ini? Kim Mingyu mengkhawatirkan orang lain? Lucu sekali,"
Dan itu membuat Mingyu harus ekstra menahan sisi vampirnya agar tidak muncul lebih dulu, "Pergilah." Usir Mingyu, dia bahkan tidak perduli wanita di depannya ini masih menyimpan perasaan kepadanya. Dan lagipula ada apa gerangan Tzu Yu datang ke Korea? Biasanya ia hanya berputar-putar di Taiwan dan China saja, pertemuannya dengan Tzu Yu terakhir kali sudah hampir dua puluh lima tahun yang lalu.
Memang benar pada saat itu Tzu Yu yang notabenenya adalah perempuan cantik dan sangat digilai para lelaki menyatakan cinta padanya, namun Mingyu tidak terlalu perduli. Ia tidak menyukai gadis itu, jadi ia diam saja. Tzu Yu sendiri yang masih terhitung vampir baru dan tak terkendali hampir mencelakainya karena ia tidak terima, untung saja Mingyu bisa menghindar karena baginya melawan perempuan itu tidak baik.
Ia mencoba menyelami pikiran perempuan itu, apa yang membawanya ke Korea? Bukankah klannya yang dipimpin oleh Jackson baik-baik saja? Atau ada masalah? Dan lagi membawa-bawa nama Leo, memang ia pernah bertemu dengan Leo? Karena jujur saja, Mingyu belum pernah bertemu.
Tzu Yu balas menatapnya dengan mata sendunya yang cantik, perempuan itu dan klannya memang tidak dianugerahi kemampuan membaca pikiran jadi Mingyu tenang-tenang saja. Tapi anehnya, pikiran Tzu Yu sedang kosong saat ini. Wanita itu hanya menyunggingkan senyumnya sekilas.
'Kau ingin selamat dari Leo? Kenapa tidak merubahnya saja,' itu adalah pikiran Tzu Yu, dan perempuan itu benar-benar pergi. Mingyu terkejut dan menatap wajah ketakutan Wonwoo, "Tidak apa, semua baik-baik saja." Bisik Mingyu menenangkan.
Merubah..
Tidak semudah itu untuk menyakinkan Seungcheol.
. . .
Ranjang yang ditempati Jeonghan berderit pelan, tanda ada beban lain yang menaikinya. Jeonghan yang baru saja terlelap mengerjapkan matanya pelan, "Maaf membangunkanmu." Suara berat Seungcheol tidak mengejutkannya sama sekali, lelaki tampan itu duduk di headboard ranjang mereka, Jeonghan sedikit menegakkan tubuhnya dan bersandar di dada bidang kekasihnya itu.
Rahang Seungcheol menegang karena melihat jejak air mata di wajah Jeonghan, tentu Jeonghan berusaha menyembunyikan jejak itu namun ia tidak dapat menutupi indera pengelihatan vampir yang berkali lipat lebih tajam dari manusia. "Ada sesuatu yang terjadi?" selidiknya, Jeonghan mau tak mau langsung terbayang kejadian tadi siang, sekarang ia berharap Seungcheol tidak bisa membaca pikirannya. Wajah Seungcheol berubah menjadi tanpa ekspresi, namun lelaki itu mencengkram seprai kasur yang ia tempati.
Pantas saja ia tidak menemukan Jeonghan di kamar Jisoo, padahal seharusnya hari ini adalah hari milik Jisoo dan Jeonghan, itu sebabnya Seungcheol memilih menyibukkan diri di rumah sakit –seperti biasa, berusaha menghindari Jeonghan dan Jisoo-. Jangan nilai Jeonghan sebagai murahan, karena memang begitulah bagaimana hubungan mereka berjalan.
"Aku tidak apa-apa." Jeonghan berusaha menjawab dengan normal, namun sayang suaranya terlalu parau karena ia kebanyakan menangis. Seungcheol tidak habis pikir dengan Jisoo, apa yang ia lakukan, memutuskan hubungan? Bukan berarti Seungcheol tidak senang karena Jeonghan saat ini menjadi miliknya seutuhnya, hanya saja, bagaimanapun Jisoo menyakiti hati Jeonghan.
"Kenapa kau baru pulang Seungcheol? Apa kau sangat sibuk? Aku daritadi menunggumu—"
Perkataan Jeonghan langsung terputus karena Seungcheol melumat bibirnya lebih dulu, lelaki yang badannya lebih besar dari Jeonghan itu langsung mendorong Jeonghan sehingga posisinya menjadi berbaring, Seungcheol sendiri tidak memutuskan ciuman mereka, tangannya memenjara sisi tubuh Jeonghan.
Jeonghan tidak tahan dengan ciuman itu jadi ia mendesah sedikit, hal itu dimanfaatkan Seungcheol untuk memasukkan lidahnya ke mulut Jeonghan, menginvasinya. Telapak tangan Seungcheol membelai rambut panjang kekasihnya yang lembut itu.
Air mata Jeonghan menetes sedikit, ia tidak tahu mengapa. Seungcheol menggeram kemudian menghapus air mata itu dengan kedua ibu jarinya, "Jangan menangis ketika aku menciummu, aku tidak suka." Jadi Jeonghan berusaha menahannya, kemudian membiarkan Seungcheol kembali mendominasinya.
Sudah hampir empat jam berlalu namun Seungcheol belum berhenti menggerakkan miliknya di lubang Jeonghan, lelaki di bawahnya sendiri sudah pasrah karena tenaganya hampir terkuras habis. Seungcheol tersenyum melihat tubuh polos Jeonghan yang mengkilap karena keringat, cantik, sangat cantik, dan lelaki cantik ini adalah miliknya.
Ia sengaja melakukannya pada Jeonghan, karena ia ingin membuat Jeonghan kelelahan karena sentuhannya, dan ia berharap Jeonghan akan melupakan masalahnya dengan Jisoo. Semacam pengalihan, karena ia yakin Jeonghan tidak akan mampu berjalan besok jadi ia tidak perlu melihat Jisoo untuk beberapa saat.
.
..
Soonyoung sedikit ragu memasuki kamar Jihoon, padahal ibu Lee sudah mengizinkannya. Entah kenapa sejak ia menginjakkan kaki di pintu rumah Jihoon dan mendengar pikirannya perasaannya jadi tidak enak, lagipula jarang sekali Jihoon akan langsung pulang seperti ini ketika pulang sekolah.
Jadi ia memilih mengunjunginya, tapi tidak tahu apa ia harus menyesali perbuatannya atau tidak. Soonyoung mengetuk pintu bercat krem tersebut, "Jihoon?" panggilnya ragu. "Masuklah!" sahut Jihoon ceria dari dalam, Jihoon berbaring di ranjangnya dengan novel di tangannya dan televisi yang menyala memutar acara Music Core.
Soonyoung duduk di kursi kecil tempat Jihoon biasa bekerja dan menciptakan musik-musiknya, Jihoon menatapnya bingung, dari pikirannya sih Jihoon terdengar ceria-ceria saja. Tapi.. ada sesuatu yang pastinya ditutupi lelaki mungil itu, jadi ketika sesuatu itu hampir muncul di pikirannya, Jihoon buru-buru memikirkan hal lain, dan itu sangat ketahuan karena pikirannya menjadi random.
"Earth to Soonyoung! Earth to Soonyoung!" Jihoon menyadarkannya dari lamunan, candaan itu ia pasti mempelajarinya dari Hansol. "Soonyoung kenapa kau melamun? Ada apa kau mampir kesini?" tanyanya, Jihoon sendiri tampaknya sudah mandi dan mengenakan pakaian rumahnya. Soonyoung menggeleng, ia sendiri tidak tahu kenapa ia ke rumah Jihoon saat ini.
Mata sipit Soonyoung beralih pada novel dengan cover orange-kecoklatan itu, kemudian ia melebarkan matanya terkejut. "Kau baca novel apa?" Jihoon menatap novelnya dan mengangkatnya, "Ah ini, Twilight. Kenapa?" Soonyoung menggeleng-geleng, "Seingatku kau tidak tertarik dengan cerita romansa seperti itu."
Bibir Jihoon mengerucut sebentar tanda berpikir, "Hanya ingin, tadi aku lihat ada di perpustakaan, jadi kubaca saja." Soonyoung diam, apa jangan-jangan Jihoon tahu mengenai jati dirinya? Bagaimana ia harus menjelaskan? Tahu darimana dia? Seingat Soonyoung ia tidak pernah melakukan hal mencurigakan dengan Jihoon, kalaupun diam-diam meminum darahnya, ia pasti langsung menghapus ingatan Jihoon, ingat ia punya kekuatan bukan? Simpel saja, tapi bagaimana ini? Apa Jihoon mulai curiga?
Tidak, ia bukannya takut pergi ke neraka, atau dibunuh oleh Leo ketika Jihoon mengetahui siapa dirinya. Hanya saja, ia takut Jihoon membencinya ketika tahu ia bukan manusia biasa. Ia sudah terlalu mencintai Jihoon, kalau Jihoon takut padanya besar kemungkinan lelaki mungil itu akan meninggalkannya.
"Soonyoung!" kali ini Jihoon memanggil lebih keras, Soonyoung terkejut sesaat. "Kau melamun terus, ada masalah?" Soonyoung menggeleng pelan, "Bohong. Mau pergi ke taman?" tawar Jihoon, alis Soonyoung bertautan. Tumben? Apa ini kencan? Biasanya selalu Soonyoung yang mulai lebih dahulu.
Tapi Soonyoung mengangguk saja, "Tunggu sebentar," Jihoon meraih hoodie abu-abu oversized miliknya, lalu menggunakan beanie berwarna senada pula. Soonyoung jadi curiga sebenarnya Jihoon ini anak akselerasi atau apa, dia terlalu imut untuk jadi mahasiswa.
Cup!
Jihoon mendongak terkejut, Soonyoung mencium satu ciuman meski Cuma di pipi sih. Tapi tetap saja efeknya bisa membuat kulit seputih susu milik Jihoon jadi merona, "Ayo." Ajak Soonyoung tiba-tiba bersemangat, ia meletakkan tangannya di bahu mungil Jihoon, tinggi Jihoon sangat pas untuknya jadi ia bisa melakukan hal ini dengan mudah.
Setelah berpamitan pada ibu Lee, mereka berjalan ke taman yang letaknya tidak jauh dari komplek rumah Jihoon. Berjalan kaki, sebenarnya Soonyoung juga mau tampil angkuh seperti Hansol dan Mingyu yang selalu membawa mobil mewah mereka, dia juga punya. Tapi kalau ia melakukannya ia tidak bisa bebas memeluk pinggang maupun pundak Jihoon kan? Dan akan terasa cepat kalau naik mobil, sementara kalau jalan kaki bersama Jihoon, ketika lelaki itu mengeluh lelah ia bisa menggendongnya di punggung, toh tubuh Jihoon tak ada beratnya sama sekali bagi Soonyoung. Dasar modus.
Biar saja, awal-awal memang Soonyoung mengendarai mobilnya, lama-lama ia meninggalkan benda roda empat itu di rumahnya. Untung saja ia vampir, jadi ia kuat berjalan sekalipun itu memakan waktu berhari-hari, lagipula kalau ia mau, ia bisa berlari lebih cepat daripada mobil-mobil itu kok. Dan entah kenapa Jihoon mau-mau saja pulang jalan kaki bersama Soonyoung, jadi ia menyuruh supirnya untuk tidak menjemputnya sebelum kuliah. Kalau mereka jalan kaki, biasanya mereka akan mampir dulu beli kue di Myungdong atau di tempat lain, baru melanjutkan naik bis sampai rumah Jihoon. Sederhana tapi romantis.
Langit sudah berubah menjadi warna oranye, tapi masih banyak orang di sekitar taman. Mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Jihoon dan Soonyoung berjalan menyusuri jalanan panjang yang dikelilingi oleh pohon yang hanya tinggal rantingnya saja karena musim dingin. "Mau beli tteokbokki?" tawar Soonyoung, tapi Jihoon menggeleng, ia menunjuk bangku taman yang kebetulan kosong.
Keduanya duduk di bangku kayu yang alasnya sudah dingin itu, Soonyoung membersihkan sisa-sisa salju di bangku itu sebelum membiarkan Jihoon duduk di atasnya. Jihoon menggosok-gosok telapak tangannya yang kedinginan supaya jadi lebih hangat, dan dalam hal ini Soonyoung meminta maaf karena dirinya adalah vampir, yang ada kalau ia memegang tangan kekasihnya, kekasihnya itu jadi makin menggigil.
Jadi Soonyoung menawari Jihoon untuk pulang atau sekedar menghangatkan diri di sauna, tapi Jihoon menggeleng.
"Soonyoung-ah!" seru Jihoon, Soonyoung menatap manik berbinar Jihoon lekat-lekat. "Aku tahu siapa dirimu,"
Deg!
Kalau saja jantung Soonyoung masih berfungsi senormal milik manusia, mungkin jantungnya langsung berdetar tak karuan. Sayang jantungnya memang berdenyut, namun denyutnya sangat rendah di bawah normal. "Apa maksudmu?" tanya Soonyoung sekalem mungkin, berusaha mengendalikan ekspresi terkejutnya.
Namun ia menyesal ketika membaca pikiran Jihoon, pikiran lelaki itu sedang membayangkan sesosok vampir dan jujur saja itu membuat Soonyoung terkejut. Secepat ini Jihoon mengenalinya? "Kau tahu apa yang aku pikirkan bukan? Apa kau masih ingin menyangkalnya tuan vampir?" Soonyoung lupa, biar begini Jihoon adalah sosok yang menakutkan, apalagi ketika ia sedang tegas.
"Darimana kau mengetahuinya?" tanya Soonyoung pada akhirnya, merasa tidak memiliki jalan untuk kabur dari Jihoon. "CCTV, aku lihat Vernon menggigit Seungkwan." Ingatkan Soonyoung untuk tidak menoyor kepala Hansol keras-keras ketika pulang nanti, seenaknya saja minta 'jatah' di komplek sekolah dan kampus.
"Lalu kau akan meninggalkanku?" tanya Soonyoung sendu, ia tidak berani menatap Jihoon dan memilih menatap jalanan berbatu di taman. "Ha? Kau ini bicara apa?" Jihoon kembali dalam mode polosnya, "Aku bukan manusia Jihoon, apa kau tidak takut padaku? Aku sering meminum darahmu diam-diam kalau kau mau tahu, tapi aku bisa membaca pikiranmu sebaik aku menghapus pikiranmu. Itu sudah bisa jadi alasan kuat agar kau membenciku, aku tidak pernah mengungkapkannya karena aku takut kau membenciku,"
Jihoon mendengus, "Soonyoung kau tidak keren." Sebelah alis Soonyoung naik, dahinya mengkerut, "Harusnya kau tunjukkan kemampuanmu, atau kau menggigitku, atau apalah seperti yang di novel. Tapi kau.. malah sedih seperti ini, mana mungkin aku takut padamu?"
"A—apa?"
"Soonyoung, dua bulan bersamamu aku baik-baik saja, jadi tentu saja aku percaya. Aku hanya kecewa kau membohongiku, pantas saja kau jarang makan di kantin, pantas saja tubuhmu jadi sedingin es. Tapi kau tidak seperti vampir Soonyoung, kau terlalu konyol, dan aku tidak pernah lihat kau punya taring?"
Mungkin Jihoon sungguhan anak TK, pemikirannya sederhana sekali. Soonyoung sudah menyiapkan seribu alasan untuk mempertahankan Jihoon tapi kenyataannya malah pertanyaan 'apa kau punya taring?' yang keluar dari mulut Jihoon. Duh, rasanya Soonyoung ingin membenturkan kepalanya di bangku taman. "Oh iya Soonyoung, bukankah vampir itu jenius? Kalau seperti Mingyu sih aku percaya dia vampir, dosen Hong juga, tapi kau.. kan bodoh?"
"Hey aku ini pintar! Aku hanya menyamar! Aku sudah masuk kuliah hampir empat puluh kali, jadi kali ini aku bosan jadi anak pintar, dan hanya memilih jadi ketua BEM!" Soonyung menaikkan suaranya tak terima, "Ya mana aku tahu, kan kau tidak menunjukkannya sunbae." Goda Jihoon, Soonyoung ingin pergi ke kerajaan Leo dan meminta dipenggal sekarang, ia tidak tahan.
"Aku tidak membencimu Soonyoung, tidak akan. Lagipula perasaan itu tidak mungkin berubah dengan cepat, ya kecuali kau benar-benar berniat membunuhku, itu beda lagi, aku bisa membunuhmu balik!" Soonyoung makin bingung, "Dengan apa kau akan membunuhku?"
"Bawang putih!"
Demi Choi Seungcheol yang semalaman membuat kegaduhan dengan suara desahannya, perkataan macam apa ini? "Tapi terima kasih Jihoon, aku lega. Kupikir akan susah menjelaskannya padamu, ternyata tidak, terima kasih telah mempercayaiku. Saranghae," Soonyoung memeluk tubuh Jihoon dan mengecupi surai pink keunguan pemuda itu.
"Soonyoung.."
"Apa?"
"Jangan minum darahku diam-diam lagi ya, aku ingin tahu rasanya digigit, jangan hapus pikiranku lagi."
Terkutuk kau novel sialan dan terkutuk pula otak polos Jihoon! Racau Soonyoung dalam hati, namun ia mengangguk dan menjawabnya dengan gumaman saja. "Hm, kalau aku ingat."
. . .
Jeonghan memastikan penampilannya sekali lagi di cermin, ia terlihat cukup baik. Kemudian ia menoleh menatap Seungcheol yang memakai kemeja biasa, keuntungan menjadi dokter yang selalu memiliki jas putih sehingga bisa menggunakan pakaian apa saja di baliknya. Berbanding terbalik dengan model seperti Jeonghan yang dituntut selalu tampil sempurna, bisa dikritisi ahli mode ia kalau berpenampilan sembarangan.
"Seungcheol kau benar tak bisa mengantarku?"
Kekasihnya itu menampilkan raut wajah menyesal, "Aku benar-benar minta maaf Jeonghan, aku ada operasi jam sepuluh ini, aku harus bergegas. Lagipula kenapa kau tiba-tiba punya jadwal seperti ini? Manajermu tidak bilang kau punya jadwal," Seungcheol mengemasi barang-barangnya, kemudian berdiri di depan Jeonghan. "Aku sudah minta Jisoo mengantarmu, kebetulan ia tidak ada kelas hari ini." Jeonghan menatap Seungcheol terkejut.
"Aku bisa naik taksi saja—"
Seungcheol membungkam mulut Jeonghan dengan ciuman, "Jangan menghindarinya, tidak baik menghindarinya. Kalau kau tidak mencintainya lagi, kau tidak akan menghindarinya. Dan kalau kau masih mencintainya, gunakan kesempatan ini untuk berbicara dengannya. Aku tidak keberatan kalau kau kembali bersamanya, asal kau bahagia." Seungcheol berbicara di sudut bibir Jeonghan, kemudian mengecup bibir pink yang menjadi candunya itu kembali setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Aku duluan, aku tidak boleh terlambat untuk operasi ini. Sampai nanti!" Seungcheol memeluk tubuh Jeonghan dan bergegas meninggalkan kamarnya, Jeonghan masih mematung sebelum ketukan menginterupsinya. "Sudah siap?" Jisoo muncul dari balik pintu, dengan mantel abu-abu yang kelihatan sangat hangat sekali, ia jadi ingin berlari ke pelukan Jisoo. Tapi itu sudah berakhir, mereka bukan siapa-siapa lagi.
Jadi Jeonghan hanya mengangguk, Jisoo mengantarnya ke pertemuan dengan teman modelnya. Well lebih pantas disebut rival sih sebenarnya. "Kau gugup? Kau bisa batalkan pertemuannya? Aku rasa kau tidak menginginkannya, atau mau kutemani masuk?" gumam Jisoo memecah keheningan, "Tidak perlu, mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan berdua denganku."
Tapi Jisoo tak percaya begitu saja, yang akan Jeonghan temui ini adalah orang paling licik yang Jisoo kenal dari semua teman-teman Jeonghan. Tapi ia diam saja, mungkin kali ini memang berbeda. Jisoo menatap pergelangan tangan kanan Jeonghan, tersenyum kecil karena Jeonghan tidak melepaskan gelang yang ia berikan.
"Terima kasih Jisoo, sampai nanti! Akan kutelepon kalau sudah selesai," Jisoo tersenyum ramah, Jeonghan segera masuk dan menemui resepsionis. Resepsionis itu menunjukkan tempat yang sudah dipesan, di sana duduklah wanita yang tidak asing bagi Jeonghan.
Wanita cantik di hadapan Jeonghan membenarkan topinya, menata rambut hitam bergelombangnya yang terurai. Cantik sekali, seperti bidadari, dan merupakan model nomor satu yang sangat digilai di Korea. Bahkan tawaran bermain drama pun berdatangan padanya, wajahnya tak pernah absen dari billboard yang ada di jalan-jalan besar kota Seoul.
Namun Jeonghan tahu, orang itu tak pernah merasa puas dengan posisinya. Jisoo pernah mengingatkannya dahulu, Jisoo membaca pikiran wanita itu dan fakta bahwa ia sudah menyimpan dendam padanya sejak lama. Apalagi dengan karir Jeonghan yang perlahan naik, meski Jeonghan tak menerima tawaran bermain di layar lebar karena Seungcheol tidak menyetujuinya.
Dan kemarin Jeonghan baru saja mendapatkan tawaran untuk menjadi tamu khusus di Paris Fashion Week yang akan dilaksanakan minggu depan, sekaligus tawaran tiga majalah yang akan menggunakan dirinya sebagai cover, well siapa yang tak mau menerima tawaran dari kota paling romantis di dunia itu?
Yang Jeonghan sadari, wanita di depannya ini terlalu sibuk dengan karirnya sebagai aktris pendatang baru, sehingga pihak agensi di Paris tidak menghubunginya. Oh iya, nama wanita di depannya itu Kim Seolhyun ngomong-ngomong. Senyum cantik seolah sudah menjadi tato di bibirnya, tidak pernah luntur, namun palsu.
"Kenapa kau tegang sekali, Yoon Jeonghannie?" jangan panggil aku dengan nama sok akrab itu Seolhyun, batin Jeonghan. Ia benar-benar menyesal menolak tawaran Jisoo yang akan menemaninya, ataupun mengabaikan peringatan Seungcheol yang melarangnya keluar rumah. Karena ia tahu Seolhyun tidak pernah menjadi baik terhadapnya.
Memang benar Jeonghan adalah pria, namun ia beberapa kali mengambil kesempatan menjadi model androgini –seseorang yang berdandan seperti wanita dalam pemotretan, namun ia adalah laki-laki tulen— dan wajah cantiknya yang natural menjadi favorit para fotografer. Itu sebabnya kenapa Seolhyun iri padanya meski mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda. "Kau tidak berniat pergi ke Paris, bukan?" senyum itu mengembang kembali, keadaan keduanya yang sedang duduk di dalam restauran mewah dengan pengunjung yang tidak banyak serta jarak kursi yang berjauhan membuat orang-orang tak akan menyangka Seolhyun sedang mengancamnya.
Tentu saja Seolhyun berani mengancam agar Jeonghan tidak mengambil tawaran tersebut, baginya ketika ia tidak dapat mendapatkannya maka yang lain juga tidak boleh. Lagipula ia cukup dekat dengan bos agensi mereka, dalam artian yang buruk, jadi dengan perkataan yang menyakinkan dan sedikit 'bumbu' maka Jeonghan yakin karirnya akan berakhir.
Tapi ngomong-ngomong ia punya Jisoo dan Seungcheol, oh jangan lupakan Jun sepupu mereka yang memiliki salah satu agensi Korea-China yang terkenal, tak kalah besar dengan agensinya yang sekarang. Jadi untuk apa ia takut? "Aku akan tetap mengambilnya, Seolhyun-ssi."
"Keras kepala sekali kau rupanya," pelayan datang mengantarkan minum, Seolhyun memberi senyum cantiknya pada pelayan itu sementara Jeonghan tetap pada wajah datarnya, pelayan itu pasti menganggapnya sebagai sang tokoh antagonis atau wanita jahat. Padahal ia bukan wanita. "Terserahmu saja, lagipula.. aku tidak akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi padamu selanjutnya,"
Seolhyun memang tidak tahu Jeonghan bertahan sejauh ini selain karena bakatnya juga karena dukungan keluarga barunya, walaupun ia masuk ke agensi atas usahanya sendiri, tapi jujur saja.. ia bisa jadi lebih modis dan lebih keren juga gara-gara keluarganya utamanya Soonyoung, Hansol, Seungkwan, dan Jisoo. Mereka suka mengkritisi penampilannya dan membuatnya lebih modis.
Muak rasanya berbicara lama-lama dengan nenek sihir ini, Jeonghan meraih coctailnya dan meminumnya. Tanpa sadar Seolhyun memasang senyum mencurigakan di wajah tirusnya, tak sampai sepuluh detik tiba-tiba Jeonghan merasa lehernya tercekik. Ia bahkan hampir tidak bisa bernafas, wajah Seolhyun berubah kabur di pandangannya.
Praangg!
"O—Omo! Jeonghannie, kau kenapa? Jeonghan!" Seolhyun pura-pura menolongnya, membiarkan orang-orang mengerubungi mereka, namun ia tahu ternyata Seolhyun adalah penyebabnya. Meski begitu, ia tidak dapat berubah apa-apa, hanya ada satu nama yang sempat ia ucapkan.
"Seungcheol.. tolong—aku.."
Jeonghan sempat mendengar seseorang meneriakkan namanya dengan keras, menyuruhnya bertahan, namun Jeonghan tidak tahu itu siapa.
.
..
"Seungcheol, waktumu tidak banyak! Kau tidak bisa menolongnya!" baru kali ini Soonyoung menggunakan banmal padanya, Seungcheol tampak berpikir keras, ia melirik tabung kecil berisi obat yang berhasil ia buat kemarin, ia rencananya benar-benar akan memberikan obat tersebut pada Jeonghan namun kejadian ini terjadi lebih dulu. Tuhan benar-benar mengujinya.
"Ya Tuhan! Kau masih berpikir menggunakannya?!" Mingyu memekik tak percaya, "Fuck off! Kau bisa coba itu pada orang lain, namun kau tidak dengar denyut jantungnya melemah?" yang kali ini Vernon, Seungcheol melirik orang yang paling ia cintai di dunia –bahkan meski maut memisahkan, ia masih yakin bahwa ia mencintainya—
Sang dokter menggeram, "Diamlah kalian bertiga! Atau pergilah sebelum aku melempar kalian keluar jendela!" geramnya, Soonyoung, Hansol, dan Mingyu terdiam. Ia menatap ke ranjang dan Jeonghan terbaring lemah disana, alat bantu pernafasan terpasang di hidungnya, dan infus di tangan kanannya. Jisoo yang tak disangkanya masih menyimpan perasaan pada Jeonghan menciumi punggung tangan lelaki itu berulang kali, ia melirik marah pada Seungcheol.
Brakkk!
Seungcheol terhempas sampai punggungnya menabrak dinding ruang kerjanya yang dingin, "Rubah dia sekarang Seungcheol! Kalau tidak.. aku yang akan merubahnya, atas persetujuanmu atau tidak, aku tidak perduli. Medis tidak akan menyelamatkan hidupnya, kau mau melihatnya mati hah?!" selama berkawan dengan Jisoo maupun menjadi keluarganya, baru kali ini Seungcheol melihat Jisoo marah, lelaki itu bahkan langsung berubah dalam mode vampirnya.
Lelaki bermarga Choi itu menghela nafas berat kendati ia tidak harus bernafas secara harfiah, "Menyingkir semuanya, aku akan merubahnya." Putus Seungcheol, meski berat di dalam hatinya. Tapi benar kata Jisoo, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya kalau ia sampai kehilangan Yoon Jeonghan. Seungcheol berjalan mendekati tubuh Jeonghan, merobek pakaian rumah sakit yang menempel di tubuhnya, memeriksa tekanan jantungnya, tanpa banyak berpikir, Seungcheol menancapkan giginya di leher Jeonghan.
Kali ini ia tidak meminum darah kekasihnya itu, namun memasukkan racunnya pada tubuh Jeonghan. Tubuh Jeonghan tersentak pelan, berusaha menetralisasi sesuatu yang masuk pada pembuluh darahnya, kemudian alat pendeteksi jantung itu berbunyi makin lemah dan lemah, hingga akhirnya berhenti..
Soonyoung terkesiap, layar monitor yang awalnya menunjukkan garis tak beraturan itu sekarang membentuk garis lurus. Namun Seungcheol tak berhenti, ia bahkan berjalan kesana-kemari dan menimbulkan gigitan baru di tubuh Jeonghan, "Hyung!" Mingyu berseru, Jisoo menggeleng, ia tahu Seungcheol melakukan semampu yang ia bisa, Jisoo menggiring ketiga orang itu keluar dari ruang kerja Seungcheol.
Ia menarik meja yang menyimpan alat-alat kedokterannya, kemudian meraih sebuah tempat mirip mangkok namun berukuran lebih lebar, menyedot ke salah satu pembuluh darah Jeonghan kuat-kuat dan memuntahkannya ke mangkok tersebut. Ya.. itu adalah racun sianida yang masuk ke dalam tubuh Jeonghan dan membuat keadaannya seperti ini, ia berhasil mengeluarkannya, dan hanya menunggu Jeonghan bertransformasi.
Kembali ia menjilati seluruh bagian tubuh Jeonghan dan membuat luka-luka yang ia buat tertutup.
. . .
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?" Wonwoo bertanya khawatir, Mingyu mengendikkan bahunya. "Kau tidak ingin tahu," gumam Mingyu, ia saja yang notabenenya seorang vampir merasa ngeri, bagaimana kalau manusia yang menyaksikannya?
Kemudian Mingyu menatap wajah Wonwoo yang menurutnya begitu sempurna, mata seperti rubah, bibir merah yang ranum, hidung mancung, dan kulit putihnya. Bagaimana kalau ia dihadapkan pada situasi yang sama? Apa ia mampu melakukan hal yang sama pada Wonwoo?
Pandangan Wonwoo beralih pada Jisoo yang berdiri di ujung ruangan, tepat di depan pintu ruang kerja Seungcheol. Tidak mengintip, namun juga tidak meninggalkan pintu tersebut. "Ssaem?" panggil Wonwoo, Mingyu menahan tangan kekasihnya itu agar tidak mendatangi Jisoo terlebih dahulu. Jisoo mendongak dengan mata sayunya, Wonwoo jadi tidak tega.
'Bahkan di akhir kesadarannya, yang ia ucapkan nama Seungcheol, dan ia mengira aku adalah Seungcheol.' Mingyu tersentak begitu mendengar pikiran Jisoo, Jisoo diam, sepertinya tak perduli Mingyu mencuri dengar pikirannya. Memang yang menyelamatkan Jeonghan adalah Jisoo, karena Seungcheol harus bekerja di rumah sakit. Jisoo yang mengantar Jeonghan juga merasa bersalah karena tidak dapat menyelamatkan Jeonghan lebih awal.
Biar bagaimanapun, Jeonghan tetap cinta pertamanya. "Gwaenchana, hyung. Itu bukan kesalahanmu," Mingyu berusaha menghibur Jisoo, "Mingyu benar ssaem, yakinlah Seungcheol hyung bisa menyelamatkan Jeonghan hyung." Wonwoo menambahkan.
Bruk!
"Sebentar saja," Wonwoo terkejut, namun Mingyu jauh lebih terkejut. Jisoo melingkarkan tangannya di tubuh ramping milik Wonwoo, dan Wonwoo diam saja membiarkan Jisoo memeluknya. Ayolah kalau kau jadi dia kau juga tidak akan mendorong dosenmu menjauh bukan? Bisa-bisa kau dapat E di mata pelajarannya.
Namun yang Wonwoo tidak sadari, kedua manik Mingyu menatap kedua orang yang berpelukan itu dengan pandangan geram, ia marah, Wonwoo hanya miliknya.
T B C
Hohohoho.. gimana gimana? Udah ngefeels? Lol pasti belum, mianhae.
p.s sebenernya aku nyari nama orang Italia yang mirip-mirip sama Leo VIXX(abis dia cocok jadi orang dingin wkwk), sampai googling gitu nyari nama bangsawan orang Italia, kan katanya pusat pemerintahan vampir disana –kata twilight maksudnya, dasar wkwk- jadi ya gitu, maaf ya namanya aneh. Kebanyakan yang punya nama Leo itu orang perancis, jadi gitudeh nyerempet dikit, lupa nerangin di chapt sebelumnya.
p.s.s maaf Tzu Yu aku bikin jahat, abis kebutuhan peran, aku kemarin mikir mau makai Eunha GF atau Jiho OMG atau siapa, yaudah nyari yang tingginya deket sama Meanie, mau pake Nana beda umurnya jauh, jadi ya Tzu Yu aja deh. Aku suka Twice kok tenang aja.
p.s.s.s Jisoo kok third-wheel banget sih jadi orang! Kesel kesel kesel! Lol, ya abis gimana dong XD gapapa Jisoo orang baik, dia orang alim, Jisoo bias ketiga, saya sayang Jisoo makanya dia dimunculin dimana mana lol.
p.s.s.s.s Jangan nyari meanie moment di chapt ini, karena sengaja aku fokusin ke Jeonghan dan Jihoon, terutama hubungannya Jeonghan. Nah buat yang benci cinta segitiga, udah aku hapusin kan hubungannya XD gimana? Sudah cukup puas? Oiya ngebayangin Jihoon kek gitu, oenyoe sangadh.
p.s.s.s.s.s berhubung belum ada gambaran buat chapt depan, ayo kasih aku saran cerita wkwk. Atau minimal minta pair siapa yang dibanyakin gitu, aku pengen memuaskan reader, kok ambigu, yaudah abaikan. THANKS FOR ALL REVIEWERS and for siders too. Tapi yang jelas aku masih menantikan review kalian, terima kasih banyak, dukung aku pake review kalian(?) hihihi XD
p.s.s.s.s.s.s oh iya aku mau ke Jogja imlek besok, ngga ngga bukan ngerayain imlek di Jogja, Cuma liburan keluarga aja. Eh gatau deh itu imlek apa bukan yang jelas tanggal 6 ituu, dan jarak surabaya-jogja kan jauh(?) aku kayanya ga bawa laptop (ganyambung) tapi ya gitudeh maaf kalau updatenya agak lama buat chapt depan2. Oiya adakah yang di surabaya? Meet up di unair kampus C yuk XD atau di mall mana gitu "Msyn"? hehe. Maafkan aku gabisa bales review, gatau caranya tampilannya tiba2 berubah di hp ;_;
p.s.s.s.s.s.s.s terakhir kokkk! Itu aku bikin adegan Jeonghan keracunan udah lama, aku kalo nulis itu nulis adegan fav aku dulu baru nulis adegan sambungan(?) waktu nonton tv ga nyangka ada kasus yang nyata ya lol, aku emang jarang—hampir gapernah nonton tv dari SMP jadi ya ga update gitu. Kebetulan nonton berita aja, yaudah aku ganti racunnya jadi sianida juga XD apasih, abaikan, tapi sumpah kaget aja ada kasus nyatanya. Yaudah aku berenti ngoceh, chapt ini udah panjang kan? Kasih review yang panjang juga ya /plak wkwkw. Review jusseyo, I LOVE YOU AND THANK YOU! :* -athiya064-
