Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast: YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 4989
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
Bruk!
"Sebentar saja," kedua lengan Jisoo memenjara tubuh Wonwoo dalam pelukannya, Wonwoo hanya terdiam. Jisoo sendiri hanya menyesapi aroma manusia dari tubuh Wonwoo, sedikit berbeda dengan milik Jeonghan, tapi tidak apa-apa. Karena setelah ini, ia pasti tidak bisa merasakan hangatnya suhu badan Jeonghan seperti biasanya.
Suara langkah kaki berat meninggalkan mereka, Wonwoo melirik dari celah tubuh Jisoo, Mingyu meninggalkannya. Apa.. apa Mingyu marah padanya? Pikirnya dalam hati bingung. Namun Jisoo tak kunjung melepaskan tubuhnya, bahkan sampai tubuh tinggi Mingyu menghilang dari balik pintu halaman belakang mereka.
Wonwoo masih mematung di tempatnya, ragu di antara dua pilihan, mendorong tubuh Jisoo dan mengejar Mingyu, atau membiarkan Jisoo yang sepertinya butuh tempat untuk bersandar.
Beberapa detik kemudian Jisoo melepaskan pelukannya, tanpa sadar Wonwoo menghela nafas lega. "Kejarlah dia," gumam Jisoo, Wonwoo tersentak sedikit. "A—apa ssaem?" tanyanya, "Bukankah aku sudah bilang panggil aku hyung di luar area kampus? Kim Mingyu, kejarlah dia. Dan bersabarlah sedikit, dia memang seperti itu tapi ini pertama kali, kurasa dia benar-benar cemburu haha."
Lelaki itu tidak menyadari arah pembicaraan Jisoo namun langkah kakinya bekerja lebih cepat, kakinya membawanya menuju ke halaman belakang, mencari apakah Mingyu masih ada disana. Namun nihil, tidak ada siapapun di halaman rumah belakang itu. Wonwoo mendesah kecewa.
Ia berbalik dan masih menemukan Jisoo berdiri di tempatnya, mansion ini jadi tampak lebih sepi. Hansol dan Soonyoung memilih meninggalkan rumah ke kampus atau sekolah mereka, Mingyu menghilang dari halaman rumah belakang –kemungkinan besar berlari ke hutan- Seungcheol masih sibuk dengan Jeonghan, dan Jisoo yang berdiri sudah mirip seperti patung.
"Dia tidak ada hyung, aku rasa aku pulang saja."
"Aku antar,"
Namun Wonwoo menggeleng, tidak ingin Mingyu makin berpikir macam-macam, padahal ia bukan siapa-siapanya Mingyu meski lelaki tinggi itu sering mengatakan dirinya itu 'miliknya' atau 'kekasihnya' itu hanya omongan belaka. "Dia hanya berburu tidak jauh dari sini Wonwoo, menenangkan pikirannya, aku masih bisa mendengar pikirannya." Wonwoo mengangguk lega, lalu membungkukkan dirinya pamit.
Jisoo menahan lengannya sekilas, "Wonwoo," panggilnya, "Ya hyung?" dosennya itu menggeleng, "Gumawo, dan maaf, gara-gara aku Mingyu jadi seperti itu. Aku benar-benar tidak bermaksud," Wonwoo menggeleng dan mengatakan baik-baik saja.
Nyatanya memang Jisoo tidak salah, karena tidak ada apa-apa di antara mereka. "Ah dan satu lagi Wonwoo, sebaiknya kau tidak datang ke rumah ini sampai.. tiga hari ke depan mungkin? Err," Jisoo menahan kata-katanya, Wonwoo mengkerutkan dahinya bingung, apa ia diusir? "Tidak-tidak, bukan seperti pikiranmu Wonwoo, hanya saja kita punya orang baru untuk ditaklukkan. Kau tahu ada manusia di dekat vampir baru itu tidak begitu baik,"
Ah..
Wonwoo baru paham.
Jadi ia mengangguk saja lalu pamit pada Jisoo, kalau Jisoo sudah berbicara seperti itu berarti benar Jeonghan akan baik-baik saja. Dan perubahan yang dilakukan Seungcheol berhasil, jadi penasaran seperti apa Jeonghan ketika ia bangun nanti. Kakinya menyusuri sepanjang halte—ia baru saja turun dari bis yang mengantarnya dari rumah Mingyu— dan memandang gedung rumahnya yang tidak jauh darinya.
Rumah..
Rasanya sudah lama sekali tidak menginjakkan diri di tempat itu, malah sekarang rumahnya lebih terasa asing daripada rumah Mingyu. Jelas saja, keluarganya tinggal di Changwon, jadi ia tinggal hanya bersama Jungkook di rumah. Sekarang ia seperti punya keluarga baru, jadi ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah Mingyu, lagipula vampir dengan tinggi raksasa itu sering menculiknya setelah pulang kuliah.
Adiknya Jeon Jungkook sendiri tidak keberatan kalau ia menginap di rumah Mingyu, itu artinya anak itu bebas mengajak teman-temannya menginap di rumah. Dasar anak kecil, pikir Wonwoo.
Pintu rumahnya terbuka, Jungkook yang sedang memutar acara Inkigayo menoleh. "Oh hyung, tumben?" tanyanya, Wonwoo tersenyum kecil. Sudah bertahun-tahun menjadi saudara kandung, Jungkook tahu Wonwoo sedang punya hal yang disembunyikan. Dan itu tidak ingin ia bagi dengan orang lain, jadi Jungkook tidak bertanya panjang lebar.
Wonwoo masuk dan mengistirahatkan tubuhnya di ranjangnya. Nyaman, tapi menjadi asing karena tidak ada aroma Mingyu. Tapi masa bodoh, memikirkan Mingyu akan membuatnya semakin menyesal, jadi Wonwoo mencoba tidur saja.
Ia tertidur untuk beberapa saat, rasanya begitu nyaman sekedar bergelung di kasur dengan penghangat ruangan yang menyala. Sampai Wonwoo menyadari sepertinya ada sesuatu yang memperhatikannya, "Mingyu?" suara Wonwoo masih parau khas orang bangun tidur, "Uhm, hai?" sapa Mingyu, tiba-tiba lelaki itu sudah duduk di tepi ranjangnya.
Jadi Wonwoo buru-buru bangkit, "Sejak kapan kau ada di sini?" tanyanya, "Belum lama, Jungkook membukakan pintu." Jawab Mingyu singkat, Wonwoo bersyukur, ia kira Mingyu lewat jendela atau bagaimana. Ia merangkak dan mendekati tubuh Wonwoo, dahinya mengernyit kesal. Wonwoo bingung, ada apa dengan lelaki itu.
"Kenapa?"
Vampir itu menggeleng, "Apa kau akan membiarkanku tetap menunggu?" tanya Mingyu dengan suara beratnya, "Maksudmu?" terlambat, Mingyu sudah mendorong kedua pundak Wonwoo lebih dulu, sampai lelaki itu berbaring di bawahnya. "Kim Mingyu?"
"Diam!"
Mingyu memukul ranjang tempat Wonwoo berbaring, Wonwoo buru-buru menutup matanya, baru pertama kali ia dibentak seperti ini.
Suara bentakan itu mengejutkan Wonwoo, ia menutup mulut dan hanya memandang kepala Mingyu yang tepat ada di atasnya. "Kau menyukai Jisoo hyung bukan?" tanya Mingyu dengan suara mirip geraman, "Apa maksudmu? Hei aku kira kau bisa membaca pikiranku?"
"Aku bisa membaca pikiranmu, tapi aku tidak bisa membaca perasaanmu Jeon Wonwoo." Suara Mingyu terdengar seperti frustasi? Tapi Wonwoo lebih frustasi, jadi ia memalingkan pandangannya, kemanapun asal tidak ke mata Mingyu yang menatapnya dengan emosi memuncak. "Tatap aku, Wonwoo."
Telapak tangan pemuda yang lebih tinggi itu memegang pipi Wonwoo dan menahannya agar menghadap dirinya. "Anniya, aku dan Jisoo hyung tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya dekat sementara karena malam itu aku menolongnya, percayalah." Akhrinya Wonwoo membuka suara kembali. Diam-diam Mingyu menghela nafas lega.
Matanya kini beralih pada bibir merah yang cukup ranum milik Wonwoo, tidak bisa dicegah, namun bibir itu benar-benar mencuri perhatiannya sedari awal. "Jangan berpikir untuk mencintainya," gumam lelaki itu, belum sempat Wonwoo membuka mulut untuk menjawab Mingyu lebih dulu merendahkan kepalanya dan memagut bibir Wonwoo dalam ciuman hangat.
Lelaki berambut hitam kelam itu sedikit terkejut, ia tidak langsung menutup matanya namun malah mengagumi wajah seolah pahatan sempurna milik lelaki di hadapannya ini. Mingyu memiringkan kepalanya dan bergerak mencari posisi lebih baik, jadi Wonwoo mengikuti permainannya. Ia merangkulkan kedua lengannya pada leher Mingyu.
Bukan hanya sekedar ciuman, karena Mingyu melesakkan lidahnya ke mulut hangat milik Wonwoo, ia juga mulai membuka kancing baju lelaki yang dicintainya itu. Wonwoo membalas ciuman Mingyu malu-malu, ia tidak tahu apakah Mingyu pernah berciuman sebelumnya karena ia begitu lihai, namun ciuman pertama Wonwoo adalah milik Mingyu jadi ia merasa sedikit malu karena tidak begitu pandai.
Tangan Wonwoo beralih pada kemeja Mingyu, menarik lelaki itu mendekat dan berusaha mengimbanginya. Mingyu tersenyum kecil karena ia tahu Wonwoo juga menginginkannya, ia tidak menginginkannya seorang diri.
Mingyu melepaskan pagutannya, sesuatu di bawah sana telah mengeras tanpa ia sadari. Apalagi melihat wajah Wonwoo yang terengah-engah berusaha menarik nafas, kali ini Mingyu mengalihkan bibirnya pada leher Wonwoo, mata sipit Wonwoo menutup, meski tidak akan terasa apa-apa setelahnya, tapi ketika gigi Mingyu menancap disana masih terasa sedikit sakit.
"Kenapa kau menutup matamu?" Mingyu bertanya di perpotongan leher Wonwoo, pemuda Jeon itu membuka matanya sekilas, "Kukira kau akan menggigitku?" lelaki berkulit tan itu terkekeh, "Tidak akan kulakukan di saat seperti ini, bolehkah?" tanya Mingyu, sebenarnya Wonwoo tidak paham apa maksudnya.
Lelaki yang lebih kurus menahan Mingyu, "Mingyu, ada Jungkook," gumamnya, Mingyu tersenyum. "Tidak apa-apa, Jungkook sudah tidur." Jawab Mingyu membungkam mulut Wonwoo.
Tapi ia lupa kancing bajunya telah terbuka hampir sepenuhnya, dan tangan dingin milik Mingyu meraba pinggang telanjangnya. "Aku hanya akan melakukannya kalau kau membalas perasaanku," gumam Mingyu lagi, lelaki itu mencium lehernya dan meninggalkan tanda merah disana. "Shit Wonwoo, sepertinya kau harus beli ranjang baru yang lebih besar," geram Mingyu, Wonwoo tertawa kecil.
Sentuhannya benar-benar memabukkan, Wonwoo makin menenggelamkan kepalanya di bantal. Sialan, mungkin Mingyu dilahirkan dengan nama Kim-Seksi-Mingyu atau bagaimana, "Apa aku masih harus nghh—menjelaskannya?" Wonwoo mendongak setengah kesal, memangnya Mingyu kurang peka atau bagaimana? "Benarkah?" Mingyu menyunggingkan senyum manisnya, "Saranghae, Wonwoo."
"Na do." Dan Wonwoo membiarkan Mingyu memilikinya sepenuhnya malam itu.
. . .
Pemuda mungil dengan surai pink itu menyandarkan punggungnya di pintu bertuliskan 'RUANG BEM' itu. Pintunya terbuka lebar tapi ia tidak ingin masuk ke dalam, tidak selama pacarnya masih dikelilingi wanita-wanita yang berebut minta perhatiannya. Pemuda bernama Jihoon itu menghela nafas berat.
Susah memang punya kekasih seorang ketua BEM pasti terkenal, dan satu fakultas tidak ada yang tidak mengenalnya. Tidak masalah sih sebenarnya, toh wanita-wanita itu hanya minta tanda tangan persetujuannya untuk kegiatan fakultas bulan depan. Masalahnya adalah kenapa harus wanita? Memang tidak ada anggota laki-laki atau bagaimana?
Ya setidaknya anggota yang tidak akan memandang Soonyoung dengan pandangan kagum begitu, bikin kesal saja. 'Awas kau Kwon Soonyoung' ancamnya dalam hati. Soonyoung yang memegang map berisi surat pernyataan tertawa kecil, menertawai pikiran Jihoon, untung saja lelaki itu tidak sadar kalau ia tertawa.
Jadi ia memilih santai dan tetap meladeni pertanyaan-pertanyaan dari anggotanya tersebut. "Sunbae, kenapa tidak ingin ikut di malam keakraban? Kami pergi ke Busan," Soonyoung memasang tampang berpikir –kamuflase- dia tidak ingin ikut karena itu ada di musim semi, dekat ulang tahun Mingyu, lagipula ia mau menemani Jihoon jalan-jalan.
"Aku ada rencana pribadi,"
"Kencan ya? Dengan siapa? Kyaaa!" Soonyoung mengulum senyum, ia memandang Jihoon yang berdiri di pintu ruangannya, beberapa pasang mata di depannya sontak ikut menoleh, Jihoon yang diperhatikan menjadi salah tingkah. "Ah, jadi sunbae dengan lelaki imut itu? Hatiku sakit, tapi hwaiting! Semoga langgeng!"
"Bicara apa kau Oh Hayoung? Sudah sudah Soonyoung sunbae sudah ditunggu, terima kasih waktunya." Kim Namjoo membungkukkan badannya diikuti Hayoung dan beberapa juniornya yang lain, Soonyoung mengangguk. Jihoon minggir sedikit memberi jalan pada wanita-wanita itu yang menatapnya dengan pandangan menggoda.
Setelah wanita-wanita itu pergi tiba-tiba saja Soonyoung sudah ada di sampingnya, "Menunggu lama ya?" tanya lelaki itu, Jihoon menggeleng, memang ia baru sekitar lima menit disana. "Kajja, aku antar pulang." Soonyoung langsung merangkul pundak Jihoon mesra, "Soonyoung-ah, aku main ke rumahmu ya?"
Soonyoung tersenyum senang dan hampir mengangguk, sebelum ia ingat Jisoo menceramahinya tadi pagi. 'Jangan bawa manusia ke rumah ini sampai tiga hari ke depan!' dan ia bergidik ngeri, Jihoon-nya yang imut-imut bisa celaka nanti. "E—Eh tidak boleh hari ini!"
"Kenapa?"
Duh, itu pertanyaan hanya satu kata tapi Soonyoung butuh beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. "Pokoknya jangan," jawabnya pada akhirnya, berdebat dengan pacar mungilnya butuh kekuatan ekstra. "Tapi aku kan ingin, tidak boleh ya? Pelit!"
Mati-matian Soonyoung menahan dirinya supaya tidak mencium bibir mungil yang sedang pouting di hadapannya itu. "Bukan begitu, kau tidak akan ingin ke rumahku di saat-saat seperti ini." Ia menjelaskan kembali dengan sabar. "Memangnya kenapa sih? Jangan-jangan kau punya simpanan ya di rumahmu?! Ayo jawab Kwon!"
Si dancer menggaruk tengkuknya, "Bukan! Di rumahku ada vampir," Soonyoung memelankan suaranya di akhir kalimat, "Loh, memang sejak kapan di rumahmu ada manusia selain Jeonghan hyung?" Jihoon memang belum tahu kalau Dino pindah ke rumahnya, dan urusan Seungkwan dan Wonwoo mereka berdua kan hanya sekedar main. Belum tahu juga kalau Wonwoo sering menginap di sana.
"Justru itu masalahnya, Jeonghan hyung bukan manusia lagi."
"H—Hah?" Jihoon menatap Soonyoung penasaran, "Ada insiden kemarin, dan Seungcheol hyung merubahnya menjadi seorang vampir, dia vampir baru, dan bahaya." Akhirnya Soonyoung menjelaskan dengan benar.
Hening beberapa saat, sebelum Jihoon mendongak lagi, "Kalau begitu… aku jadi lebih penasaran, ayo ke rumahmu sekarang."
"Jihoon! Ya! Lee Jihoon! Hei kau kecil-kecil kuat juga! Aaa ampun, iya kau tidak kecil!" Soonyoung tetap saja meringis, meski ia vampir berkekuatan berkali lipat lebih banyak daripada manusia. Terang saja, Jihoon menariknya dengan kekuatan penuh ditambah saat ini menjambak rambutnya pula.
.
..
Telepon dari asisten Kim di rumah sakit baru saja berakhir, Seungcheol lagi-lagi harus memintanya untuk menggantikan dirinya di rumah sakit. Tentu saja, mana mungkin dia akan meninggalkan kekasihnya yang sedang dalam masa transformasi, menurut pengalaman ketika ia merubah Jisoo dan yang lain, rasanya sangat menyakitkan ketika racunnya menyebar ke seluruh sel darah manusia.
Dan pemberian obat penenang seperti morfin tidak akan memberikan efek apapun, Seungcheol jadi merasa bersalah. Setelah kurang lebih dua puluh lima jam tidak memberikan gerakan apapun, sosok yang terbujur kaku itu akhirnya membuka mata. Seungcheol melangkah perlahan, ia menahan Jisoo yang akan masuk melalui pikirannya, biar bagaimanapun ia harus mengecek keadaannya.
Mata Jeonghan berwarna seperti perunggu, gelap, namun bersinar seperti berlian. Warna yang diwariskan oleh klan Seungcheol tentu saja, dan warna itu tidak terlalu mencolok karena sekilas akan terlihat sama seperti milik orang Asia. "Jeonghan.. kau baik-baik saja?" tanya Seungcheol lembut, Jeonghan memfokuskan pandangannya pada Seungcheol.
'Benarkah dia Seungcheol? Mengapa ia terlihat berkali-kali lebih tampan?' batin Jeonghan. "Yoon Jeonghan?" tanya Seungcheol lagi, Jeonghan langsung duduk di ranjang pasiennya itu. "Ups, santai saja Jeonghan. Gerakanmu terlalu kilat,"
Seungcheol tersenyum dan menahan bahu Jeonghan, "Bagaimana keadaanmu?" Jeonghan nampak berpikir, apa yang terjadi dengan dirinya? Terakhir kali ingatannya ada di dalam mobil yang sama dengan Jisoo, lalu makan siang, dan.. minuman? Oh astaga, Kim Seolhyun. Batinnya dalam hati.
Lelaki di depannya menatap dahi Jeonghan yang berkerut, menyelami pikiran lelaki itu, ada kenangan terakhir sebagai manusia yang tidak menyenangkan menjalari pikirannya. "Jeonghan apa kau haus?" tanya Seungcheol dengan sabar.
Haus?
Iya haus, saat ini Jeonghan merasa sangat haus, tenggorokannya seolah kering, ia dehidrasi. Air.. ia butuh air! Atau sesuatu yang lebih kental dari air, lebih harum aromanya daripada sirup, dan lebih memabukkan daripada wine. Apa ini? Apa yang ia inginkan? "Oke, berjanjilah padaku kau akan rileks. Kau tidak butuh air lagi Jeonghan, kau saat ini bagian dari kami, vampir. Kau butuh darah,"
Mata Jeonghan terbuka lebar, pantas saja ia janggal dengan tubuhnya sendiri. Ini tubuhnya tapi tidak terasa seperti miliknya, "Jisoo—dimana dia?" tanya Jeonghan tiba-tiba, berusaha menyingkirkan rasa haus dari pikirannya. Sebelum Seungcheol sempat mencegah, pintu ruangannya terbuka lebih dahulu.
Jeonghan menatap Jisoo, dan ia cinta dengan mata vampirnya. Jisoo juga jauh terlihat lebih tampan daripada sebelumnya, ia turun dari ranjang dan berniat berjalan ke arah Jisoo. "Ugh!" erang Jisoo pelan, tiba-tiba Jeonghan sudah menabrakkan dirinya di tubuh Jisoo. Seungcheol memandang terkejut, well cemburu tepatnya. Ia yang merubah Jeonghan dan segalanya, tapi Jisoo yang dapat pelukan.
"M—Mian." Jeonghan melepaskan tubuhnya dari Jisoo, belum beradaptasi dengan tubuh vampirnya. Jisoo terkekeh, "Well, welcome back?" sapanya, Jeonghan tersenyum. "Terima kasih telah menolongku saat itu Jisoo," ucapnya, ia kira ia tidak bisa mengucapkannya kembali karena hidupnya akan berakhir.
Tapi ternyata ia masih ada disini, di rumah ini. "J—Jeonghan, kau ingat?" Jisoo terkejut, ia kira Jeonghan tidak sadar. "Sedikit, tapi aku tetap yakin itu kau." Jisoo tersenyum senang ia memeluk tubuh Jeonghan, berterima kasih karena lelaki ini kembali. Pelukannya kali ini, lebih ke arah persahabatan? Jisoo tidak menyesal memutuskan Jeonghan, begitu pula dengan lelaki itu sepertinya.
"Ehem!" Seungcheol berdeham, Jisoo melepaskan pelukannya. "Kau bilang kau haus Jeonghan, ayo kita keluar." Ajaknya, Jeonghan mengangguk patuh, kemudian Seungcheol dan Jisoo berdecak pelan. "Jisoo, kau tidak memperingatkan mereka ya?" Seungcheol menggandeng pergelangan tangan Jeonghan, mencoba menahannya.
Jisoo mendengus, "Sudah, tapi tidak didengarkan." Begitu pintu terbuka mereka langsung terhubung ke ruang tamu, dan disana ada beberapa sosok yang sedang berdiri. Jeonghan mengejang tiba-tiba, rasa lapar membuncah di benaknya, haus dan lapar tidak tahu apa bedanya.
Seungcheol mengunci pergerakan tangan Jeonghan, "Jeonghan, sadarlah.. itu keluarga kita," kali ini Jisoo mengingatkan. Disana ada Vernon yang berdiri di depan Seungkwan dan Dino, jujur ia lupa ada Jeonghan yang bukan manusia lagi, lagipula Dino kan memang selalu pulang ke rumah ini.
Dan ada Mingyu yang berdiri di depan Wonwoo, ia penasaran jadi ia menarik Wonwoo juga ke rumahnya. Dasar pasangan aneh, Jisoo sampai kesal sendiri, bukannya ia sudah memperingatkan seluruh orang?
Jeonghan menggeram, dan Seungcheol menggelengkan kepalanya mengingatkan. "Tidak Jeonghan, tidak boleh. Lihat, itu Dino, Seungkwan, dan Wonwoo." Jeonghan menstabilkan tubuhnya, ia diam saja, namun dalam hati merapal bahwa ia tidak boleh melukai mereka. "Kau bisa minum darahku dulu kalau kau tak tahan,"
Tiga manusia itu tidak berani bergerak, namun Jeonghan menatap Seungcheol dengan tatapan tak percaya. Minuman pertamanya tidak boleh merupakan darah vampir, ia ingin yang lebih hangat. "Lebih baik aku minum darah Seolhyun sampai habis." Gumamnya, Jisoo terkekeh, "Kau tenanglah, aku sudah menggunakan cara hukum dengannya."
"Tidak, aku mau ia tersiksa sampai ia tidak sanggup menahannya lagi." Geram Jeonghan, sepertinya insting vampirnya saat ini jauh lebih kuat. "Dimana Jeonghan yang kalem hm?" Jisoo mengingatkan, akhirnya Jeonghan terdiam dan mengikuti Seungcheol ke tempat penyimpanan kantung darah.
Seungcheol mengambil satu dan meletakkannya di dalam gelas berwarna silver, setidaknya Jeonghan bersyukur karena itu bukan gelas tembus pandang. Biar bagaimanapun dia kemarin masih manusia, belum terlalu terbiasa. Mata Jeonghan berbinar menatap gelas itu, tanpa ia sadari insting vampirnya sudah mengambil alih.
Ia mencengkram gelas itu kuat-kuat dan meminumnya dengan rakus, tidak perduli dengan sedotan yang baru saja akan diberikan Jisoo. Bahkan ada darah yang menetes dari ujung bibirnya, ketika darah dalam gelas itu habis Jeonghan menjilat bibirnya. "Err, mau lagi?" tanya Seungcheol, Jeonghan menggeleng, dahaganya sudah cukup terpuaskan.
Dua vampir lain merilekskan tubuh mereka lega, "Jeonghan hyung!/eomma!" Seungkwan, Wonwoo, dan Dino bersahut-sahutan mendekat. Jeonghan menoleh, biar bagaimanapun aroma darah mereka masih membuatnya lapar. "Jeonghan, tenanglah." Peringat Jisoo, ia menahan tangan Jeonghan, sepertinya butuh waktu untuk menjinakkan Jeonghan.
Jadi Jeonghan diam, ia menahan langkahnya. "Syukurlah kau baik-baik saja," Seungkwan buka suara, Vernon masih berusaha menghalangi langkahnya. "Y—Ya, terima kasih." Jawab Jeonghan kikuk, ia bahkan tidak bisa membedakan mana suara manusia yang sebenarnya dan mana suara pikiran mereka. "Tidak ada makan malam bersama lagi," rajuk Chan.
Jeonghan tersenyum meminta maaf, "Aku masih bisa membuatkannya untukmu Chan," jawabnya, mulai lebih santai. Meski ia belum dibiarkan bergerak bebas oleh dua lelaki di kiri dan kanannya.
"Seungcheol.." gumam Jeonghan.
"Ya?"
"Bau keju," Seungcheol mengusap wajah tampannya kesal, ia tidak tahu harus apa hari ini. "Itu Jihoon, aku tidak tahu kenapa kau bilang dia bau keju, selama ini menurutku dia bau strawberry." Jeonghan sendiri juga heran, kenapa jadi bau keju? Padahal ia tidak ingin keju, tapi kalau diumpamakan dengan makanan bau Jihoon seperti keju.
Sementara Dino seperti bau kentang goreng kalau kau mau tahu, ia juga tidak tahu kenapa indera penciumannya jadi berubah. Seungkwan bau bunga, dan Wonwoo bau seperti bulgogi yang dipanggang. Mungkin Mingyu berpikiran sama jadi dia menyukai Wonwoo, batin Jeonghan.
Tapi serius, dia tidak menyangka bau darah akan terdeteksi jadi seperti ini. Ia kira bau darah akan tetap seperti bau besi pada umumnya, memang vampire cukup aneh. Memikirkan keju, bunga, bulgogi, kentang, kenapa Jeonghan jadi lapar lagi..
"Jihoon! Awas!"
Jihoon ditarik Soonyoung menjauh sebelum Jeonghan menjangkaunya, lagipula salah Seungcheol dan Jisoo yang tiba-tiba lengah. Mereka jadi harus menahan tubuh Jeonghan lebih kuat dari sebelumnya, Jeonghan sadar dari kesalahannya. "Maaf Jihoon, aku benar-benar tidak sengaja, diluar akal sehatku rasanya."
"O—oh ya, tidak apa-apa hyeong. Aku Cuma terkejut, kau makin cantik setelah berubah." Puji Jihoon berusaha ceria, padahal ia sudah deg-degan dari tadi. Sepertinya lain kali ia harus menuruti perkataan Soonyoung, Jeonghan mengangguk.
"Benar-benar berbeda ketika sudah menjadi vampir." Gumam Mingyu, sebenarnya sangat pelan, Wonwoo di sebelahnya saja tidak kedengaran, tapi telinga Jeonghan kan sudah menjadi sangat peka. "APA KATAMU?!"
"MAAF!"
. . .
Pelajaran yang diterangkan Profesor Minjae sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam otak Wonwoo, sungguh, ada yang salah mungkin tetapi ia benar-benar merasa tidak enak badan. Badannya terasa pegal dari ujung rambut hingga kaki, kepalanya juga pening mendadak.
Seingatnya ia tidak melakukan aktifitas berat minggu ini, kecuali pergi jalan-jalan dengan Mingyu. Tentu saja, karena hampir tiga minggu penuh ia tidak pergi ke rumah Mingyu, takut Jeonghan masih akan lepas kendali. Dino saja harus tidur di rumah Seungkwan, kadang bermain di rumahnya, yang jelas rumah itu disterilkan dari manusia. Dan Mingyu mengajaknya pergi jalan-jalan agar tidak kebosanan.
Kadang Mingyu juga menginap di rumahnya, dan tak terelakkan mereka menghabiskan malam dengan berhubungan intim, dan Mingyu akan membuatnya jalan terseok-seok selama beberapa hari.
Jadi Wonwoo tidak tahu bagian mana yang membuat tubuhnya serasa lelah seperti dipaksa mengangkut batu berkilo-kilo, Seokmin saja menyadari keanehan yang terjadi padanya, tidak seperti Wonwoo yang biasanya –selalu mencatat materi di setiap jam— Wonwoo jadi lebih diam dan membiarkan buku catatannya kosong. "Psst, Wonwoo, kau baik?" bisik Seokmin, Wonwoo mengangguk kecil.
Hanbin yang tiba-tiba penasaran juga menoleh, "Anemiamu kambuh?" Wonwoo menautkan alisnya, sepertinya sih tidak. "Entahlah, tapi kurasa tidak." Bisik Wonwoo, kedua teman anehnya itu mulai berspekulasi secara berlebihan. "Kau belum sarapan?" tanya Seokmin lagi.
Sepertinya sudah, telur dan daging bacon buatan Mingyu tadi pagi. Eh tunggu, telurnya setengah matang ya? Jadi mual sendiri memikirkannya..
Tiba-tiba raut wajah Wonwoo berubah, ia mengangkat tangannya, "Y—Ya! Mau apa kau?" cicit Hanbin, Wonwoo menggeleng, ia bersyukur profesor memperhatikannya. Wonwoo menunjukkan raut wajah kesakitan dan berlari keluar kelas, Seokmin dan Hanbin hanya berpandangan bingung.
Wonwoo berlari sekencang-kencangnya menuju toilet, ia masuk ke salah satu bilik dan membuka tutup closet kemudian berusaha memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Namun nihil, tidak ada sesuatupun yang keluar. Jadi Wonwoo menegakkan tubuhnya dan bersandar di dinding bilik, sial, di saat seperti ini Mingyu malah absen.
Dan buruknya lagi, di kampus tidak ada ruangan seperti UKS ketika SMA. Masa ia harus menyelinap ke bagian SMA dan beristirahat disana? Ada sih sebenarnya di fakultasnya, tapi itu klinik, dan Wonwoo hanya perlu berbaring bukannya diberi obat-obatan. Jadi ia memutuskan membolos kelas dan duduk di taman, untung saja ia sudah absen tadi.
Ketika jam menunjukkan jam ganti pelajaran, Wonwoo kembali ke kelas dan menemukan Hanbin dan Seokmin yang masih setia menunggunya. "Hei, kau baik? Wajahmu benar-benar pucat," Wonwoo mengangguk lalu memilih mengemasi barang-barangnya. "Kau mau kemana?" Hanbin bertanya khawatir.
Mendengar itu Wonwoo menjawab dengan senyuman, "Aku rasa aku butuh pulang, aku akan ke dokter, titip absen saja ya. Kalian kan teman yang baik," dan dengan santainya Wonwoo melangkah pergi, Seokmin menyenggol siku Hanbin, "Kau saja ya, aku tidak berani, tanda tangan Wonwoo susah."
"Dasar pengecut!" ledek Hanbin kesal, padahal dalam hati ia masih mengkhawatirkan teman dekatnya tersebut. Biar bagaimanapun, ia ini setia kawan.
Sementara itu Wonwoo berjalan cepat meninggalkan gerbang universitas dan menghentikan taksi pertama yang lewat di depannya. Ia berharap semoga Seungcheol ada di rumah dan Jeonghan sudah cukup jinak, ini sudah tiga minggu, jadi Wonwoo harap semua sudah baik-baik saja.
Ia takut pada dokter dan rumah sakit, tapi ia yakin Seungcheol bisa mengatasi ketakutannya. Jadi datang ke rumah Seungcheol juga tidak masalah bukan? Lagipula ia tiba-tiba merindukan Mingyu, anak itu pagi tadi ada di rumahnya, tapi kenapa tidak masuk kuliah dan tidak memberi kabar.
Memang Wonwoo dianggap apa? Sekedar teman tidur? 'Katanya kekasih tapi seharian tidak menghubungiku,' entah kenapa ia jadi emosi sendiri. Wonwoo membayar taksinya dan masuk ke halaman mansion luas milik Seungcheol itu, ia melihat Dino ada di taman. Jadi segalanya sudah membaik? Kenapa Mingyu tidak bilang apa-apa? "Dino, Seungcheol hyung ada?"
Dino menoleh, "Eh Wonwoo hyung, lama tidak bertemu. Tidak ada, dia kerja di rumah sakit. Kenapa kau butuh bantuan?" Wonwoo menggeleng, sedikit kecewa, tapi sepertinya ia sudah tidak mual lagi. Jadi ia merasa baik-baik saja. "Kalau Mingyu?" Dino terlihat sedikit panik.
Maknae itu akhirnya diam, "Ada di taman dekat sini," jawabnya pada akhirnya, "Ah terima kasih Dino," Wonwoo berlari meninggalkan halaman, mengabaikan Dino yang memanggil-manggil namanya. Jadi Mingyu ada di rumah seharian? Baguslah, Wonwoo kira ia pergi kemana.
Kebetulan ia ingin menghabiskan waktu di taman, jadi Wonwoo menyebrangi jalan raya yang cukup sepi, jalan inilah yang menghubungkan komplek rumah Mingyu dengan taman yang dimaksud. Wonwoo melangkah di jalan setapak, melihat bunga yang mekar –meski tidak semuanya karena masih musim dingin— membuat perasaannya membaik.
Tidak sulit juga menemukan sosok jangkung kekasihnya itu, apalagi keadaan taman yang sepi. Ia baru sampai di ujung taman saja Mingyu sudah menoleh, tapi ada wajah tidak asing di sampingnya. Itu perempuan yang tempo hari, Tzu Yu.. sedang apa mereka berdua di taman?
Memilih tidak menaruh curiga Wonwoo tetap melangkah mendekat, "Oppa!" seru Tzu Yu, Mingyu menoleh dan Tzu Yu sudah berjinjit sebelum mencium Mingyu tepat di bibir tebalnya. Wonwoo terkesiap, langkahnya membeku. "A—apa?" cicitnya, mungkin ia memang terlalu emosi hari ini, namun pemandangan itu jelas membuatnya terluka.
Apalagi Mingyu tak langsung mendorong Tzu Yu, sehingga membuatnya seolah juga menikmati ciuman tersebut. Wonwoo menutup mulutnya, ia memilih berbalik dan meninggalkan kedua orang tersebut. Ternyata—ternyata Mingyu tak masuk seharian karena wanita tersebut, ternyata Mingyu memilih berduaan dengannya.
Jelas saja Mingyu tak menghubunginya, jelas saja wajah Dino terlihat panik berlebihan tadi. Ternyata seperti ini.. apa ini alasan juga kenapa Wonwoo dilarang datang ke rumah Mingyu selama tiga minggu? Padahal Dino ada disana, apa karena.. astaga Wonwoo benar-benar tidak ingin memikirkannya.
Di sisi lain Mingyu mendorong tubuh Tzu Yu cukup keras, "APA YANG KAU LAKUKAN?!" bentaknya, Tzu Yu hanya menyunggingkan senyum, "Apa salahnya berbagi?" Mingyu mencengkram tangannya, menahan diri untuk tidak menampar pipi wanita di hadapannya tersebut.
Ia melangkah pergi namun Tzu Yu menahan pergelangannya, "Jangan tinggalkan aku! Atau kau mau.. semuanya sampai ke tangan kerajaan?" namun tidak fokus dengan ucapan Tzu Yu, Mingyu membelalak, "Lepaskan aku!" ia menghentakkan tangan Tzu Yu meski vampir itu mencengkramnya erat-erat.
"Tidak Wonwoo tidak.." Mingyu berlari, namun Tzu Yu kembali menghadangnya, "Tidak!" Mingyu menghindari Tzu Yu, sementara gadis itu sendiri bingung mengapa Mingyu begitu panik dan berlari dengan kecepatan tinggi. Sampai akhirnya Tzu Yu mendengar suara klakson.
"Wonwoo!"
Brakk!
Mingyu membelalak, di hadapannya sendiri, kekasihnya baru saja ditabrak oleh sebuah truck yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tentu saja jalanan itu biasanya sepi dan dijadikan sebagai jalan pintas bagi kendaraan yang tak ingin terjebak kemacetan, tapi masa bodoh dengan itu. Mingyu merasa seseorang sedang berusaha mencabut nyawanya secara paksa, Wonwoo bahkan tidak sempat menjerit ketika tubuhnya terhempas dan menabrak pembatas jalan.
Kalau saja.. kalau saja ia menghalangi Tzu Yu yang menciumnya, kalau saja ia menghempaskan Tzu Yu secepat yang ia bisa. Tzu Yu sendiri terlonjak kaget tidak menyangka ada kejadian ini, ia tahu Mingyu membaca pikiran Wonwoo dan sopir tadi dan ia sedikit merasa bersalah karena menghalanginya, namun insting vampirnya bekerja lebih dulu, tentu saja mana ada vampir yang tahan dengan darah sebanyak itu?
Kecuali Mingyu, karena ia sadar betul itu Wonwoo, dan terlalu terbiasa dengan darah Wonwoo. "Sial! Pergilah kau!" Wonwoo menghempaskan badan Tzu Yu sebelum berlari menuju tubuh kekasihnya yang masih terbujur di jalan raya. Sopir truck tadi keluar karena terkejut, tidak menyadari ia menabrak seorang penyebrang jalan. Mingyu menggeram kesal pada sopir tersebut. "SIALAN!" ia melayangkan tinjunya di rahang sopir itu sampai sopir itu terjatuh dan hampir pingsan.
Tapi Mingyu tidak perduli lagi, ia menggendong tubuh Wonwoo, darah menetes dari sekujur tubuhnya. Dan Mingyu sadar ada tulang yang retak atau mungkin patah disana, Mingyu berlari dengan kecepatan penuh ke arah rumahnya. Dino terlonjak melihat Mingyu yang menggendong tubuh Wonwoo yang penuh darah, "Dino! Telpon Seungcheol hyung, sekarang!" perintahnya, Dino mengangguk dan buru-buru menuju telepon.
Mingyu merutuk dalam hati, lupa ada Jeonghan disana. Jadi ia memanggil-manggil nama Jisoo berulang kali untung saja Jisoo mencuri dengar pikirannya, ia membuka ruang kerja Seungcheol. "Tenanglah, aku akan mengamankan Jeonghan. Seungcheol dalam perjalanan, aku akan membawa Jeonghan keluar."
Jisoo berkata panik, masalahnya ia juga minim pengetahuannya mengenai kedokteran. Ia ingin bertanya apa yang terjadi namun ia rasa ini bukan saat yang benar, "Jeonghan jangan masuk!" jerit Jisoo ia sadar ada Jeonghan di balik pintu, jadi Mingyu melindungi tubuh Wonwoo, ia tak henti memegang tangan Wonwoo yang terkulai.
"Tidak apa-apa.. a—aku bisa menahannya," Jeonghan bergumam, ia masuk hanya karena ingin melihat keadaan Wonwoo. Seungkwan yang baru pulang dari sekolah menjerit panik, keadaan Wonwoo benar-benar mengenaskan. Hansol dengan cepat menutup mata Seungkwan, "Jangan dilihat Boo, ayo pergi ke kamarku," Hansol menarik Seungkwan menjauh dari tempatnya.
Tak lama suara mobil Seungcheol memasuki halaman, Mingyu sedikit lega. Lelaki itu masuk dengan cepat, "Seungcheol hyung katakan apa aku harus merubahnya sekarang?!" tanya Mingyu panik, ia tidak ingin kehilangan Wonwoo, apalagi ia merupakan penyebabnya. "Sebentar, aku harus memeriksanya terlebih dahulu."
Seungcheol mengisyaratkan semuanya untuk menjauh, ia membersihkan luka Wonwoo dengan telaten, beruntung lelaki itu masih bernafas meski tidak sekuat manusia pada umumnya. Seungcheol melakukan sejumlah pemeriksaan, ia harus membawanya ke rumah sakit karena Wonwoo butuh dioperasi apalagi dengan luka sebanyak ini juga tulang-tulang yang patah.
Namun ada sesuatu yang mengusik Seungcheol, ia hampir menjerit, jadi ia mengambil alat USG dan mengusapkan krim di perut Wonwoo. Ini tidak boleh terjadi, kalau ini terjadi, ia tidak bisa melakukan tindakan selanjutnya. Tidak juga dengan merubah Wonwoo menjadi manusia.
Dan ketika layar menunjukkan gambar benda asing di dalam perut Wonwoo, Seungcheol menggeram marah. "KIM MINGYU!" Mingyu yang daritadi ada di balik pintu langsung masuk, "Ada apa? Aku bisa mengubahnya saat ini?"
"Ini gara-gara kau sialan! Kita tidak bisa melakukan tindakan apa-apa, tidak bisa merubahnya menjadi vampir, dan tidak juga mengoperasinya secara medis. Wonwoo koma,"
"Kenapa?!" tanya Mingyu frustrasi.
"Wonwoo hamil… anakmu,"
"A—APA?!"
TBC
So kalian suka m-preg apa engga? Lanjutannya tergantung review, karena jalan cerita bakal beda wkwk. Aku ambil yang terbanyak ya^^
Aku udah banyakin meanie disini, buat yang minta verkwan sabar ya hehe.
Welcome yang dari surabaya juga aku seneng ketemu banyak temen XD buat yang pernah ke unair halo halo adik adik ayo masuk unair lol XD becanda kok becanda.
ada yang inner circle juga? KYAAA MEREKA COMEBACK :") /salah fandom /bodoamat /aku nunggu dari kapan juga. winner ini boyband yang aku suka dari sebelum debut, sabar banget kan diphp in :") karena winner hiatus juga aku jadi suka seventeen lol. tapi rasanya bangga meski nyesek seunghoon kiss scene gapapa aku kuat, mereka udah dewasa. gasabar nunggu nanti malem :") ngarep aja winner bisa interaksi sama 17 secara my two fav boygroup huhuhu. kaya f(x) sama 2ne1 yang berinteraksi :") betapa senengnya aku kalo itu bakal kejadian hahaha /abaikan /apasih.
So, maaf buat late update aku gaenak badan hehe. Yang punya anemia itu aku bukan wonwoo lol :") tapi gapapa buat nambahin cerita aja XD jadi maaf ya :(
Review please?^^
