Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(
asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 4771
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

"Wonwoo hamil… anakmu,"

"A—APA?!"

Teriakan Mingyu menggema ke seluruh ruangan, anggota keluarga yang lain sampai ikut masuk karena terkejut dengan perkataan Seungcheol, Seungcheol terduduk dan meletakkan stetoskopnya sembarangan. Mingyu memijit pelipisnya, kalau saja vampir bisa sakit kepala, ia yakin ia sudah merasakannya dari tadi.

Masalahnya Seungcheol saja tidak memberi pilihan lebih lanjut, dan apa pula itu? Hamil? Wonwoo bisa hamil? Ini di luar akal sehatnya, padahal keberadaan vampir saja sudah jauh di luar akal sehat manusia. Tapi yang ini lebih jauh karena yang pertama, Wonwoo laki-laki, dan kedua Mingyu itu vampir yang seharusnya tidak dapat memberi keturunan. "Kita tidak bisa mengoperasinya, itu akan membahayakan Wonwoo dan janinnya sekaligus. Tidak juga dengan merubahnya menjadi vampir, karena kalau Wonwoo menjadi vampir maka kita tidak bisa mengeluarkan janin itu karena tekstur tubuhnya mengeras."

Jadi Mingyu hanya mengacak rambutnya, "Lalu bagaimana? Apa kita akan membawa Wonwoo ke rumah sakit?" tanyanya panik, Seungcheol menggeleng. "Tidak bisa, medis akan menyadari Wonwoo hamil, dan gen ini murni bukan berasal dari manusia. Intinya kita harus menunggu sampai Wonwoo sadar dari koma, dan selama itu, aku akan merawatnya di rumah." Jelas Seungcheol.

Mata Mingyu menatap ke arah perut datar Wonwoo, masih datar. Tapi, bagaimana bisa Wonwoo yang luka parah tetap selamat dan janin itu juga baik-baik saja? "Aku rasa kandungan Wonwoo cukup kuat, anakmu membuatnya kuat." Seungcheol menjawab pikiran Mingyu, sementara lelaki itu diam saja.

Kemudian Seungcheol terdiam, "Aneh sekali karena kandungannya jadi lebih kuat daripada kandungan pada umumnya, seperti ada pelapis yang lebih tebal. Untuk saat ini ia baik-baik saja, Tapi bisa berbahaya untuk ke depannya, kau tahu, ia tidak cukup kuat untuk mempertahankannya."

"Kalau begitu gugurkan saja." Putus Mingyu pada akhirnya, Seungcheol mengangguk. "Aku juga berpikiran hal yang sama, tapi kita harus menunggu Wonwoo bangun dan menyerahkan keputusannya padanya. Kau tahu itu, lagipula dari tadi kau menyalahkan dirimu? Sebenarnya apa yang terjadi?"

Ingatan Mingyu melayang pada wanita itu, ia bahkan lupa kalau wanita itu memaksanya melaporkan pada kerajaan. "Biarkan saja, aku rasa Leo sudah tahu banyak hal." Seungcheol menenangkan, walau tidak menjamin apa-apa meski ia cukup dekat dengan Leo.

Dan Mingyu yakin ia tidak pernah diberi beban seberat ini selama ia hidup.

. . .

Sudah beberapa hari baik Mingyu dan Wonwoo tidak masuk kuliah, bahkan Jungkook merasa kebingungan karena kakaknya tak kunjung pulang. Telepon dari ibunya di Changwon ia abaikan, bahkan tak terhitung berapa kebohongan yang ia buat karena ibunya tidak dapat menghubungi Wonwoo.

Yang mengetahui keadaan keduanya pun hanya memilih menutup mulut, termasuk Jihoon dan Soonyoung –Jisoo tidak termasuk karena dosen itu tidak pernah ditanyai apapun— jadi Jihoon saat ini makan di kantin hanya berdua saja dengan Soonyoung, padahal biasanya cukup ramai karena ada Mingyu dan Wonwoo yang bergabung.

"Jihoon! Kau disini rupanya," keduanya menoleh, Hanbin dan Seokmin berdiri di hadapan mereka dengan masing-masing satu nampan di tangannya. Jihoon mempersilahkan mereka duduk di sampingnya.

Namun Seokmin sepertinya tak sabaran, "Jihoon, kau tahu kenapa Wonwoo tidak masuk? Begitupula Mingyu, kau sahabatnya bukan? Dan sunbae adalah kakak Mingyu," tanya lelaki tinggi itu, Jihoon berpikir sebentar. "Wonwoo kecelakaan," jawabnya pada akhirnya.

"APA?!" Seokmin dan Hanbin bertanya bersamaan, terkejut tentu saja. "Kecelakaan? Dimana? Boleh kami menjenguknya?" tanya Hanbin penasaran, Jihoon diam, tentu saja tidak boleh, karena kalau mereka menjenguk mereka pasti sadar ada yang tidak benar mengenai Wonwoo, kehamilannya.

Jadi Soonyoung memilih menjawab pertanyaan itu, "Wonwoo dibawa keluarganya ke Changwon, dan Mingyu ikut kesana. Lebih baik jangan menjenguknya dulu, tunggu keadaannya membaik saja." Kedua teman Wonwoo itu mengangguk, walau Hanbin sempat tidak percaya karena pengobatan di Seoul pasti lebih baik, kenapa harus ke Changwon?

"Sampaikan salamku pada mereka," kata Seokmin, "Pasti," Jihoon menanggapi sekenanya, meja itu jadi hening tanpa ada obrolan apapun. Jihoon juga tak berani buka suara karena takut salah berbicara.

Dan keempat orang itu akhirnya berpisah karena jadwal masing-masing, Jihoon membiarkan Hanbin dan Seokmin pergi terlebih dahulu. "Bagaimana ini Soonyoung, pasti akan banyak yang curiga, kalaupun harus izin kuliah tidak mungkin selama itu," Soonyoung menepuk pundak Jihoon menenangkan.

"Tenanglah, kita hanya bisa bergantung pada kewenangan Jisoo hyung dan Seungcheol hyung."

Sementara itu di lain tempat Jungkook nampak berpikir keras, ponsel kakaknya sudah mati selama tiga hari ini. Biasanya kalau menginap Wonwoo akan mengirim pesan pada adiknya namun kali ini tidak. Ibunya saja sudah memberi tanda akan menjenguk ke Seoul kalau sampai Wonwoo tidak menerima teleponnya lagi.

Ia merasa bertanggung jawab, dan itu menjadi beban pikirannya sekarang. Padahal tugas akhirnya harus ditampilkan minggu depan, Taehyung yang menjadi kelompok Jungkook menatapnya bingung. Bahkan ketika bekerja kelompok saja Jungkook lebih banyak melamun, padahal biasanya anak itu begitu teliti dan selalu mengomeli kesalahannya.

Lelaki bermarga Kim itu menepuk pundak Jungkook pelan, hingga si bungsu Jeon itu tersadar dari lamunannya. "Melamun terus, nanti kau bisa kerasukan." Canda Taehyung, namun Jungkook tak ikut tertawa. Ia malah meluruskan kakinya dan mengelap keringat di keningnya. "Ada sesuatu yang terjadi?"

Dan Jungkook menimbang-nimbang apa ia harus bercerita pada Taehyung atau tidak, masalahnya Taehyung ini sedikit ehem—bodoh—ehem, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk berpikir biasanya. Tapi Jungkook rasa tidak ada teman untuk bercerita lagi selain lelaki ini. "Kakakku hilang," akhirnya ia buka suara, Taehyung menampilkan ekspresi terkejut sedikit.

Hilang? Wonwoo itu sudah sembilan belas tahun harusnya tidak mungkin hilang. "Sepertinya ibuku curiga, tapi aku tidak bisa bilang begitu saja kalau Wonwoo hyung hilang. Dan ibuku malah rela jauh-jauh dari Changwon datang kemari untuk memastikan hyungku baik-baik saja tau tidak, aku harus bagaimana?"

Jadi Taehyung kembali menepuk bahu Jungkook, menenangkan orang yang diam-diam ia sukai itu. "Sudah mencari kemana saja?" tanyanya, Jungkook menggeleng. "Aku tidak punya gambaran apapun, ponselnya saja mati, bagaimana aku melacaknya?" Taehyung mendesah pelan, ikut bingung, Jungkook yang cemerlang saja jadi tumpu pikirannya.

Ia memandang ke taman di depan tempat mereka duduk-duduk, memang mereka sedang kerja kelompok di gazebo sekolah jadi langsung berhadapan langsung dengan taman. Rambut pirang kecokelatan milik Hansol tampak mencolok di antara warna hijau dedaunan dan salju yang menumpuk. Itu dia jawabannya.

"Jeon Jungkook," panggilnya pelan, Jungkook yang lagi-lagi melamun tersadar dan memberikan pandangan bingung. "Kau bilang kakakmu dan kakak Hansol itu punya hubungan spesial? Jadi kenapa tidak kau tanya pada dia," Taehyung mengarahkan jari telunjuknya pada sosok Hansol, Jungkook menjentikkan jarinya. "Tumben kau pintar Taetae!"

Tapi bukannya langsung berlari, Jungkook malah sempat-sempatnya menggandeng tangannya dan mengajak Taehyung menemui Hansol. Taehyung jadi heran sendiri, walau tidak dipungkiri dia senang. Tanpa mereka sadari Hansol sudah tahu mereka akan menanyakan soal Wonwoo, masalahnya ia tidak tahu akan menjawab apa.

Jadi Hansol pura-pura tidak melihat dan fokus pada Seungkwan yang berusaha mencerna pelajaran bahasa Inggrisnya, sedikit lucu karena ia memilih belajar sendiri daripada minta tutor kepada Hansol. "Chwe Hansol!" panggil Jungkook, Hansol menoleh dengan tatapan dinginnya –bukannya dia mau, wajahnya memang tercipta seperti itu—.

Memandang wajah Jungkook yang manis sekaligus tampan membuat Hansol sempat berpikir, makan apa nyonya Jeon sampai bisa melahirkan anak-anak dengan gen yang baik seperti Wonwoo dan adiknya ini? Tapi lagi-lagi ia menggeleng pelan, mengusir pikiran anehnya. "Ya.. anu, kau tahu dimana hyungku?" tanya Jungkook, suaranya terdengar frustasi. Tentu saja, mana ada adik yang tenang mengetahui kakaknya menghilang?

Mingyu juga kenapa jadi bodoh, harusnya dia mengabari Jungkook atau bagaimana, bukannya menyesali perbuatannya dan tidak beranjak dari kamar Wonwoo, bahkan tidak berburu sekalipun. Seungkwan menatap tiga orang di depannya, memilih berusaha fokus pada bukunya, tidak ingin menanggapi karena merasa tidak berwenang.

Jadi Hansol menatap Jungkook lama, "Kakakmu baik-baik saja," memang Hansol bisa menjawab apa? Bilang kalau Wonwoo kecelakaan? Bisa-bisa Jungkook lari ke rumahnya, dan itu tidak boleh. "Dimana dia sekarang?" mati kau Chwe Vernon Hansol, mau menjawab Wonwoo di Changwon juga tidak mungkin, karena Jungkook pasti tahu itu bohong.

Ia sampai harus memikirkan jawabannya berdetik-detik, "Liburan bersama Mingyu," jawabnya pada akhirnya. "Syukurlah kalau begitu, tolong katakan padanya agar cepat pulang dan mengaktifkan ponselnya, ibu khawatir." Sumpah Hansol tidak tega, ia berbohong banyak pada si bungsu Jeon ini. "Ya, mungkin mereka tidak mendapat sinyal. Akan aku kabari kalau aku bisa menghubungi Mingyu hyung, kami juga kesusahan menghubunginya,"

Jungkook tersenyum sekilas, "Terima kasih Hansol," Hansol mengangguk seadanya, "Ya, sama-sama, Jungkook." Berusaha mengabaikan tatapan tajam Taehyung yang sepertinya menaruh curiga padanya.

.

..

Pukul 10 PM KST, dan Mingyu masih setia duduk di samping katil kekasihnya. Suasana benar-benar hening dan suara bedside monitor* terdengar cukup nyaring. Tapi lagu yang Mingyu putar berkali-kali dari ponselnya itu meredam suara monitor tersebut, setidaknya Mingyu tidak merasa benar-benar kesepian karena ada lagu itu.

Lagu itu sepertinya cukup cocok menggambarkan keadaannya saat ini, kesepian. Well ia memutar lagu Baby Baby milik Winner kalau kalian mau tahu. Seungcheol sibuk, Jisoo juga, Jeonghan ada di rumah ini tapi seperti tidak ada, Dino lebih sering main di ruang tv bersama Hansol dan Soonyoung, jadi singkatnya ia hanya sendirian dengan Wonwoo.

Berjuta kata maaf terukir di batinnya, ia ingin mengucapkannya ketika Wonwoo bangun. Oleh karena itu ia benar-benar berharap Wonwoo akan bangun dan mendengar permintaan maafnya, ia tidak meminta Wonwoo menerima maafnya atau bahkan membalasnya, tapi ia ingin Wonwoo tahu kalau ia benar-benar menyesal.

Ia genggam tangan kurus Wonwoo, mencium punggung tangannya lembut. Bahkan ia harus hati-hati menggenggam tangan Wonwoo karena pergelangan tangannya yang retak, Wonwoo benar-benar lemah. Kalau saja, kalau saja tidak ada janin di dalam perutnya, Mingyu sudah akan merubah Wonwoo menjadi vampir sepertinya dari kemarin-kemarin.

Tapi ia sudah berjanji untuk bertanya pada Wonwoo terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, lagipula, sedikit di dalam hatinya mengharapkan sesuatu di dalam tubuh Wonwoo itu baik-baik saja. Meski ia tidak mengakuinya, tapi ia masih lebih menyelamatkan Wonwoo daripada 'sesuatu' itu. Ugh, susah sekali menyebutnya sebagai 'calon anak'.

"Uhuk—uhuk.."

Mingyu tersentak, Wonwoo sadar! Demi Tuhan! Setelah hampir empat hari, Wonwoo sadar! Ia tidak tahu harus menjerit bahagia atau memanggil Seungcheol, ia hanya sangat senang. Mata sipit Wonwoo mengerjap beberapa kali, jadi Mingyu berdiri dan mendekat pada ranjang kekasihnya itu. "Gwaenchana? Aku ambilkan minum,"

Lelaki itu bergerak dengan kecepatan tinggi dan kembali tiga detik setelahnya dengan segelas air mineral, Wonwoo tidak bergerak, seluruh tubuhnya seharusnya sakit tapi ia malah mati rasa. Mungkin Seungcheol memberinya obat atau mungkin rasa sakitnya terlalu berlebih sehingga tidak terasa apa-apa lagi atau mungkin hatinya lebih sakit.

Mengingat kejadian sebelum ia kecelakaan membuat Wonwoo ingin mengalihkan pandangannya dari sosok Mingyu, tapi lelaki itu malah sudah menghampirinya dan menahan tengkuk Wonwoo lembut dengan lengannya. Membantu lelaki itu minum, namun beberapa tegukan Wonwoo langsung mendorong gelas itu menjauh. Ia tidak ingin minum lebih banyak, jadi Mingyu kembali membaringkannya dan meletakkan gelas itu di meja.

Wonwoo memandang langit-langit kamar rawat ini, Seungcheol mendesainnya sedemikian rupa sehingga mirip dengan kamar rumah sakit tapi lebih nyaman. Sepertinya Mingyu sengaja mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu ruangan saja, suasana jadi sedikit lebih gelap. Wonwoo meletakkan kedua tangannya ke atas perut, reflek saja, tapi sepertinya ada yang ganjil.

Tapi ia tidak kunjung menemukan jawabannya jadi dia diam saja, mengabaikan tatapan Mingyu yang sedari tadi tidak teralihkan darinya. "Wonwoo, aku minta maaf sayang," bisik Mingyu, lirih sekali, sampai Wonwoo hampir tidak mendengarnya karena teredam lagu yang diputar Mingyu.

Tapi ia mendengarnya dengan jelas, permintaan maaf ya? Tapi susah rasanya karena bayangan Mingyu yang berciuman dengan Tzu Yu tidak kunjung lepas dari pikirannya, Mingyu saja cemburu ketika ia sekedar berpelukan dengan Jisoo, bagaimana dengannya yang melihat Mingyu berciuman di depan matanya?

Lelaki itu mengelus punggung tangannya, Wonwoo tidak bergerak, tidak sanggup juga karena ia sadar beberapa tulangnya patah. "Wonwoo, jawab aku.." pintanya, matanya terlihat tulus, seolah tidak ada kebohongan disana. Tapi Wonwoo tidak bisa, jadi ia menatap ke sisi yang berlawanan dengan Mingyu.

"Najunge(later)—" Wonwoo menggantung kalimatnya, "Urineun, najunge yaegihaja.(we'll talk about it later) saat ini aku ingin tidur lagi, mataku terasa berat." Kilah Wonwoo, Mingyu tahu lelaki itu berbohong, tapi mana bisa ia melarangnya? Mana bisa ia memaksanya? Dan.. mana bisa ia membicarakan soal kehamilan Wonwoo?

Sedangkan meminta maaf saja ia diabaikan, dan kali ini Wonwoo benar-benar memunggunginya. Itu pasti tidak nyaman sekali, Mingyu akan membenarkan posisi kekasihnya itu kalau ia sudah terlelap. Tapi ia lihat punggung Wonwoo bergetar sekilas, apa Wonwoo menangis?

Astaga, Mingyu makin susah memaafkan dirinya. Dan ia harus mati-matian menahan diri untuk tidak merengkuh Wonwoo dalam pelukannya, karena ia tahu Wonwoo ingin ia berpura-pura tidak sadar. Jadi karena tidak mau makin dibenci, Mingyu hanya terdiam di tempatnya. Ia benar-benar merasa kesepian, sakit, dan bersalah secara bersamaan.

Suasana kembali hening, dan lagu dari ponselnya belum berhenti berputar.

Baby, I hate this night,

Baby, I hate being alone,

Let's spend this lonely night together,

Let's forget everything..

(Winner – Baby Baby)

. . .

"Berburulah, kau butuh hiburan," Seungcheol tiba-tiba sudah hadir di sampingnya, ini baru pukul sembilan pagi, matahari bahkan baru bersinar malu-malu. Mingyu menggeleng, kembali menunggu Wonwoo terbangun. "Aku sudah cukup kenyang," Seungcheol menjitak kepala Mingyu main-main.

Dokter muda itu baru saja pulang berburu subuh tadi, dan rasanya sangat menyenangkan. Ia menahan kebutuhan vampirnya itu berhari-hari dan hanya minum dari kantong darah, namun tentu saja rasanya berbeda ketika kau mendapatkannya sendiri. Apalagi ia sempat minum darah manusia, sedikit kok, dan langsung menghapus ingatan manusia tersebut sebelum kembali pergi. Saat ini ia tidak bisa minta dari Jeonghan, bisa tapi tidak terlalu banyak karena Jeonghan sudah menjadi vampir, walaupun rasa darah Jeonghan tetap membuat dahaganya tersulut. "Minum dari kantong darah maksudmu? Tidak, itu berbeda, jangan menyalahkan dirimu sendiri dan terus terdiam disini. Kau perlu berpikir dan menjadi kuat, jadi makanlah, dan aku akan menunggui Wonwoo terbangun sekaligus menjelaskan segalanya padanya. Kurasa ia akan lebih mempercayaiku saat ini daripada kau,"

Mingyu tampak ragu, namun Seungcheol mengangguk menyakinkan. "Beri dia waktu Mingyu," ucapnya, "Aku janji mengatakan yang terbaik." Tambah Seungcheol sekaligus berjanji, mungkin Seungcheol benar, ia harus memberi Wonwoo waktu agar kejadian semalam tidak terjadi lagi. Jadi ia bangkit, "Oh kurasa kau harus mandi setelah berburu nanti, kau kelihatan.. berantakan," goda Seungcheol.

Masa bodoh dengan lelaki tua itu, ia berjalan menuju luar ruangan. Sedikit berburu mungkin bisa menyegarkan pikirannya? Sementara itu Seungcheol berjalan dan mengganti infus milik Wonwoo. Rambutnya bahkan masih basah karena ia baru mandi, Seungcheol tidak mengenakan jas dokternya, ia hanya memakai kemeja santai yang lengannya ia gulung sampai siku.

Sudah hampir delapan jam, harusnya Wonwoo terbangun. Karena ia juga tidak sabar memeriksa perkembangan Wonwoo dan perkembangan janin yang ada di perutnya. Ia bersyukur Wonwoo benar-benar membuka matanya, "Pagi Wonwoo," sapanya ramah, Wonwoo diam dan memandang ke seluruh ruangan. "O—Oh pagi hyung," jawabnya dengan suara serak.

Seungcheol tersenyum sekilas, "Mencari Mingyu?" tanyanya, namun Wonwoo tidak menjawab, tapi sudah pasti jawabannya iya. "Aku menyuruh Mingyu berburu sebentar, ia hampir tidak makan apapun tiga hari ini kecuali sekantong darah yang bahkan Soonyoung harus memaksanya untuk minum." Wonwoo terkejut sedikit, biasanya Mingyu paling rajin makan.

Dokter tampan itu mendekatinya, "Sudah merasa baikan?" Wonwoo mengangguk sekilas, tapi tidak jadi, ia masih pusing dan nyeri di beberapa tempat. "Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, beberapa hal lebih tepatnya, aku ragu kau siap mendengarnya atau tidak."

Alis Wonwoo bertautan, ia bingung. "Ada apa hyung?" tanyanya halus, padahal maksudnya 'Katakan saja semuanya' Seungcheol memandang Wonwoo lembut. "Kau koma hampir empat hari, orangtuamu mencari, tapi yang paling parah adikmu. Tapi kau tidak boleh pergi dari pengawasanku dulu, jadi hubungi adikmu setelah ini dan katakan kau baik-baik saja."

Ah iya, Jungkook, bagaimana adiknya itu hidup sendirian? Maksudnya, Jungkook memang terbiasa sendiri, tapi beda ceritanya kalau Wonwoo tidak memberi kabar. Adiknya itu sering khawatir berlebihan, bahkan ibunya saja sampai terasa kalau ada hal yang menimpanya. Wonwoo harus memberi kabar secepatnya, "Dan juga, selamat Wonwoo," timpal Seungcheol kembali, selamat? Apanya?

Pria bermarga Choi itu menyadari wajah bingung Wonwoo, "Kau akan jadi ibu dari janin yang ada di perutmu, oh mungkin ayah maksudku," dan rahang Wonwoo hampir jatuh, maksudnya.. ibu.. janin? Astaga, apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia hamil? Dia kelainan atau bagaimana? Dan hamil? Kecelakaan itu? Apakah calon anaknya baik-baik saja?

Segera ia meraba perutnya, masih datar, tapi jelas bentuknya berubah sedikit. Perutnya yang biasanya kurus itu kini sedikit menonjol. "Aku juga tidak tahu mengapa kau bisa, karena Mingyu adalah vampir kalian seharusnya tidak punya anak. Tapi aku lahir dari peristiwa sepertimu, jadi kurasa aku tidak perlu heran? Dan bayimu sangat kuat Wonwoo, kurasa kau selamat dari kejadian itu juga karena dia. Lihat, tidak ada memar maupun retak di bagian perutmu,"

Tanpa sadar Wonwoo menyingkap pakaian rumah sakitnya, benar, tidak ada luka apapun disana. "T—Tapi hyung, bagaimana bisa?" tanyanya pada akhirnya, "Entahlah Wonwoo, tapi aku sendiri tidak menyarankan agar kau mempertahankannya. Itu sedikit berbahaya, seharusnya kau sudah menjalani operasi untuk pemulihan kondisimu, atau kami merubahmu menjadi vampir. Tapi tidak bisa melakukannya sekarang, terlalu berbahaya bagi kalian berdua, jadi aku dan Mingyu menyarankan untuk menggugurkannya saja."

Gugurkan?

Astaga, itu tindakan yang sangat kejam. Bagaimana bisa Mingyu menyarankan menggugurkannya? Sementara Mingyu dapat dipastikan adalah anak dari bayi yang ada di perutnya ini, "Tidak bukan Mingyu tidak menginginkannya, tapi itu yang terbaik Wonwoo, kau harus sehat sepenuhnya."

"Tidak, aku akan mempertahankannya. Tidak perduli aku harus pulih lebih lama," Wonwoo bersikukuh, Seungcheol terkejut. "Apa?" tanyanya bingung, "Selamatkan dia Seungcheol hyung, kumohon. Tidak apa-apa aku harus sembuh lebih lama, bahkan kalau kalian harus memilih, pilih saja anak ini daripada aku."

Mata lebar Seungcheol makin terlihat lebar, apa-apaan Wonwoo ini? "Wonwoo!" Seungcheol menaikkan nada bicaranya berusaha menyadarkan lelaki itu, "Tidak boleh egois hyung, anak ini tidak salah, ia berhak hidup." Wonwoo menyakinkan Seungcheol sekali lagi.

Seungcheol mengacak rambutnya frustasi, "Aku tidak yakin Wonwoo, sama sekali tidak yakin. Kalau begini, kau jadi harus mengorbankan kuliahmu juga." Wonwoo mendesah bingung, kuliah, tujuannya pindah dari Changwon ke Seoul awalnya memang untuk menuntut ilmu bersama adiknya. Kenapa jadi malah terjebak dan jatuh cinta pada vampir?

Pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya bingung, "Bagaimana keadaannya hyung?" ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka, Seungcheol jadi bersemangat tiba-tiba dan mengabaikan topik 'pengguguran' yang tadi sempat ia bahas. Lelaki itu kembali menyalakan alat USG nya dan memeriksa keadaan Wonwoo.

Melalui layar Wonwoo dapat melihat sebuah gerakan, 'Jadi seperti ini alat USG itu, sekarang sudah lebih jelas daripada waktu aku melihat foto bibi ketika melakukan USG saat hamil Somi,' Jeon Somi itu sepupunya, berbeda enam tahun dengannya, dulu bibinya menunjukkan foto itu padanya namun hanya hitam-putih dan tidak cukup jelas, saat ini masih hitam putih tapi kualitasnya jauh lebih baik.

"Aku bukan dokter kandungan, tapi ini aneh, seharusnya kehamilanmu baru memasuki usia tiga minggu atau empat minggu. Tapi perkembangannya sudah seperti tiga bulan," jelas Seungcheol, menunjuk gambar organ yang mulai terbentuk meski terlihat masih abstrak, juga denyut jantung yang lambat namun terdengar kuat.

Sementara Seungcheol menganggap ia dan anak di perutnya sebagai bahan penelitian, Wonwoo masih dalam proses mengaguminya. Ada seseorang lagi yang harus ia perjuangkan disini, namun apakah ia akan berjuang sendiri? Mingyu sepertinya tidak menginginkannya, dan ciuman itu, apa Mingyu akan meninggalkannya?

Ia terlalu tenggelam pada pikirannya sampai tidak menyadari Seungcheol memperhatikannya, sebenarnya Seungcheol tahu apa yang mengganggu pikiran Wonwoo, tapi ia rasa lebih baik Mingyu menjelaskannya secara langsung.

Pintu dibuka perlahan, sosok Jeonghan muncul dari balik pintu. "Wonwoo, makan?" Wonwoo mengerjap bingung, Jeonghan sudah menyesuaikan dirinya dengan manusia ternyata. Jadi pemuda itu mengangguk, kebetulan ia sedang sedikit lapar. Pemuda cantik yang membawa nampan itu meletakkannya di meja nakas di samping ranjang.

Namun yang sedang sakit menatap bingung karena ia tidak mampu menggerakkan tangannya, Jeonghan paham kemudian mengambil sendok dan menyuapi seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Wonwoo makan meski harus pelan-pelan, Jeonghan menatap ke layar pemeriksaan USG dan berdecak kecewa, pemeriksaannya sudah berakhir ternyata.

Kemudian Seungcheol menyerahkan kertas putih seperti hasil foto kamera polaroid kepadanya, bedanya di foto itu ada gambaran janin yang masih belum sempurna. "Indahnya," gumam Jeonghan, ya itu aneh, memang mereka tidak dapat melihat wajahnya, tapi bagaimanapun janin itu indah. Wonwoo mengangguk menyetujui.

Tatapan Jeonghan beralih pada netra Wonwoo, "Kau oke? Ingin makan sesuatu? Barangkali kau—kau tahu, ngidam," Wonwoo nampak berpikir, ia tidak tahu mengidam itu seperti apa. Ini kali pertama ia merasakan hamil, tapi ia tidak ingin makan apa-apa. Tidak juga dengan hal aneh seperti mangga pedas atau tteokbokki rasa bulgogi.

Tidak juga dengan darah rasa jus oreo atau vanilla latte –terdengar mustahil, tapi tidak menutup kemungkinan bukan? Sebab anaknya setengah vampir— jadi Wonwoo menggeleng. "Belum ngidam ya," gumam Jeonghan. Sementara Seungcheol masih berkutat dengan laptop di hadapannya, dan buku di tangannya. Jeonghan tidak tahu kekasihnya berbuat apa, yang jelas sepertinya ketua klan itu sedang menghitung sesuatu.

"Gawat!" keduanya menoleh ke arah Seungcheol, "Aku baru saja menghitung waktu pertumbuhan janin ini, tetapi dari hasil perbandinganku dengan pertumbuhan janin pada umumnya, janinmu bertumbuh tiga kali lipat lebih cepat. Itu artinya, kau akan melahirkan dua bulan yang akan datang,"

Dahi Jeonghan berkerut, "Lalu dimana hal gawatnya? Bukankah itu bagus?" Seungcheol menggeleng, "Belum tentu, karena yang pertama aku belum yakin dengan perawatan medis tanpa bedah dan dengan jahitan sederhana yang kuberikan pada Wonwoo cukup membuatnya bertahan selama itu, dan.. jujur saja ini terlalu cepat, bagaimana jika orang-orang curiga?"

Kemudian Jeonghan diam, Wonwoo pun begitu. "Benar juga," tanggap kekasih Choi Seungcheol itu lirih. Kepala Wonwoo tiba-tiba pusing, ia tidak ingin memikirkan hal berat itu.

"Halo?" Hansol muncul tiba-tiba di balik pintu lengkap dengan seragam sekolahnya, sepertinya baru pulang. Melihat wajah Hansol mengingatkannya akan adik kecilnya, "Hyung, Jungkook-ie menanyakanmu terus. Aku bilang kau berlibur dan kesusahan sinyal, maaf, aku tidak bisa memikirkan jawaban yang lain." Terangnya.

Mendengar itu Wonwoo sedikit menghembus nafas lega, "Hyung,tolong ambilkan ponselku," Jeonghan mengambilkannya, Wonwoo langsung menekan nomor tiga speed dial untuk adiknya. Karena yang nomor satu adalah voicemail, dan nomor dua untuk Mingyu.

Hansol masuk dan berdiri di belakang punggung Seungcheol, penasaran mengenai apa yang diteliti kakak yang dianggapnya ayah itu. Sementara itu Wonwoo menunggu dengan sabar sampai nada sambung itu berhenti dan digantikan oleh suara Jungkook.

"Yeobboseyyo? Hyung? Benarkah ini kau?!" adiknya menyahut dengan nada terkejut, suaranya riang, Wonwoo jadi tiba-tiba merindukannya. "Y—Ya, ini hyung, Kookie." Wonwoo menjawab dengan suara serak. "Hyung, kau baik-baik saja? Dimana kau?"

Si sulung Jeon memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam, "Hyung sedang berlibur Kookie, kau ingin oleh-oleh apa?" tanya Wonwoo berusaha ceria, "Eyy, eomma marah karena tahu hyung berlibur, ini bukan saatnya liburan hyung! Absenmu bagaimana? Dan belikan aku apa saja, kau tahu benar seleraku hehe."

Bibirnya membentuk seulas senyum tulus, sekaligus getir, meminta maaf pada adiknya itu. "Absenku baik-baik saja." Tentu saja, Seungcheol kan mengirim surat dokter pada universitas. "Baiklah, aku percaya. Aku akan mengabari eomma, lainkali jangan matikan ponselmu! Selamat bersenang-senang hyung, bye!"

Jungkook memutuskan sambungannya, Wonwoo diam dan mencegah air mata mengalir dari matanya. Entah kenapa ia punya bayangan buruk bahwa ia tidak akan bisa melihat Jungkook lagi, dan itu membuatnya sedih, siapa yang akan menjaga adiknya itu? "Kau pasti melihatnya lagi, setelah yang di perutmu itu lahir mungkin?" Hansol menunjuk perut Wonwoo, lelaki itu meringis, semua di rumah ini tidak pernah menyebut anak dalam perut Wonwoo sebagai 'anak' atau 'bayi' selalu saja menyebutnya; janin, benda itu, sesuatu itu, dan lain-lain.

Sebenarnya mereka tidak ingin mengakuinya atau bagaimana? Baiklah silahkan saja mengabaikan anak tersebut, tapi Wonwoo tidak akan pernah menuruti keinginan mereka untuk aborsi, tidak sama sekali. Wonwoo kembali mengamati wajah tampan milik Hansol, benar-benar tidak memiliki struktur wajah khas Asia sama-sekali. Terlalu mirip orang barat, dan terlalu mirip aktor Hollywood.

Tiba-tiba dia jadi ingin menonton film Leonardo DiCaprio yang terkenal itu, Titanic. Film yang hampir selalu diputar di akhir tahun menjelang Natal dan tahun baru itu. Wajah Hansol berubah curiga, "Are you serious?" tanyanya, "Temani aku nonton ya Hansol," pinta Wonwoo, baru kali ini Hansol mendengar Wonwoo meminta sesuatu padanya, dengan nada manja pula.

Mau tak mau Hansol mengangguk saja, jadi ia mendorong kursi roda yang ditempati Wonwoo ke depan televisi. Menyebabkan Chan dan Seungkwan sedikit curiga, Hansol mengangkat bahunya tanda tidak mengerti juga. Dua maknae itu mengalah dan membiarkan Wonwoo duduk di atas sofa dengan tiang infus di sisinya, dan mengalah acara musik mereka harus diganti dengan film jadul tahun sembilan puluhan yang kebanyakan dari mereka sudah menghafal plotnya dengan sempurna.

Hansol duduk di sisi Wonwoo dan membiarkan lelaki itu tenggelam dalam tontonannya, Soonyoung datang dengan camilan dan memeriahkan suasana. Ia sampai berulang kali memuji bahwa Hansol sangat mirip dengan sang pemeran utama tersebut, dan meminta Hansol menirukan dialognya. Wonwoo sendiri tak terganggu masih fokus dengan tontonannya dan menyender pada sofa dan lengan kiri Hansol, tidak berarti apa-apa hanya merasa nyaman saja dengan lelaki yang seumuran dengan adiknya itu.

.

..

Mingyu membuka pintu mansion keluarga mereka perlahan, penampilannya terlihat acak-acakan. Bajunya robek di beberapa sisi, dan darah mengotori pakaiannya di bagian dada. Beruntung saja ia lewat jalan pintas sehingga tidak banyak orang mencari tahu mengenai apa yang terjadi padanya.

Jisoo menyambutnya dengan tatapan heran, habis darimana anak ini sehingga datang dalam keadaan acak-acakan. "Kau habis kalap atau bagaimana?" tanyanya bingung, "Aku hanya membereskan beberapa hal," Jisoo memindai pikiran adiknya itu, menemukan fakta bahwa Mingyu baru saja menemui Tzu Yu dan berdebat banyak hal, kemudian lelaki itu pergi berburu.

Tapi dari raut wajahnya sepertinya Mingyu sedikit lebih baik dari sebelumnya, sepertinya masalahnya sudah membaik. "Mandilah," ia mengangguk dan berjalan melewati ruang keluarga, mengabaikan anggota keluarga yang lain, namun langsung menoleh begitu mendapati tubuh Wonwoo di sofa. Ia memandang dengan tatapan 'Mengapa-Wonwoo-tidak-di-ruangan?' apalagi Wonwoo dengan entengnya menyandar pada lengan Hansol.

"Tadi mengajakku menonton bersama, tiba-tiba ketiduran," jawabnya, Mingyu memandangi wajah Seungkwan yang biasa saja, jadi dipastikan Hansol berkata jujur. Ingin memindahkan Wonwoo ke ranjang, namun penampilannya masih acak-acakan. Jadi ia melangkah ke kamarnya dan memasuki kamar mandi.

Air dingin membasahi tubuhnya, meski begitu air itu terasa seperti air hangat di tubuhnya yang bersuhu rendah. Seungcheol menjelaskan segalanya, termasuk kemungkinan Wonwoo akan melahirkan dua bulan lagi, dan Ia sudah memantapkan pilihannya, ia akan mempertahankan calon anaknya itu, tetapi bila Wonwoo sakit dan tampak tidak kuat ia akan menyuruh Wonwoo menggugurkannya. Tidak ada penolakan.

TBC

Maaf update lama:( sebenernya aku udah update dari dua hari lalu harusnya, tapi ada acara dadakan di jkt dan aku gatau krn tiba2 ada tiket di mejaku. Aku bahkan baru aja menginap di rumah kakak dan harus kabur jam 5 pagi buat siap2 dan berangkat makanya aku gakepikiran bawa laptop/pindahin filenya ke hp:"( jadi aku lanjutin bagian terakhirnya cepet2 waktu nyampe rumah hehe.

Maaf buat yang gasuka mpreg, tapi banyakan vote yg suka._. aku jadi bingung, maaf aku mengikuti hasil voting._.v btw Seventeen is so extra di boss is watching ya haha, all hail daddy cheol! Dannn aku nulis ini sambil denger Baby Babynya winner jadi begitulah wkwk.

Ini fokus meanie lagi hehe, chapt depan insyaallah bakal ada; jeonghan balas dendam ke seolhyun, dan lahiran(?) terus verkwan. See you next chapt!^^

Last, review?