Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(
asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, M-Preg, Vampir-fict, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 5813
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

Brakk!

Beberapa pegawai perusahaan entertainment ternama di Korea itu menunduk terkejut, juga sedikit takut. Bos mereka sedang marah besar, "Bagaimana bisa saham kita turun habis-habisan seperti ini?!" bentaknya, beberapa pegawai perwakilan dari divisi masing-masing memilih diam.

Lelaki muda bernama Kim Jiwon itu memijit ujung hidungnya kesal, ya ia merupakan CEO dari KJ&W entertainment, walaupun umurnya masih terbilang muda, namun ia sudah mendapat jabatan sebagai pemimpin perusahaan karena otaknya yang cemerlang.

Suara heels menggema cukup keras memecah keheningan yang ada di dalam ruangan Bobby –nama akrab bos tersebut— para pegawai langsung meminta izin keluar begitu wanita cantik yang sudah mereka kenal masuk ke dalam ruangan. "Chagi, ada apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.

Bobby menyandarkan badannya di kursi kerjanya, "Enyahlah, aku tidak ingin diganggu." Seolhyun yang merupakan wanita tadi mendelik sedikit, Bobby tidak pernah menolak kedatangannya. "Apa katamu?memangnya ada apa?"

Jemari Bobby menunjuk berkas-berkas di lantai yang ia lemparkan begitu saja tadi, "Saham perusahaan menurun, semua ini karena Yoon Jeonghan sakit, tapi kita bahkan tidak menemukannya dimanapun. Tidak ada yang tahu apa Jeonghan baik-baik saja atau bagaimana, lalu bagaimana dengan nasib kontraknya?" memang setelah kejadian itu, Jeonghan seakan hilang ditelan bumi. Nomornya tidak aktif, dan mereka tidak tahu rumah Jeonghan. Hanya tahu alamat apartemen milik Jeonghan yang dibiarkan kosong.

Seolhyun tersenyum miring, "Bukankah itu bagus? Kau tidak perlu repot-repot memecatnya dan memberinya gaji lagi, lagipula.. bukankah sudah ada aku?" dengan berani Seolhyun duduk di meja kerja lelaki itu, dan menggodanya sedikit. Jiwon tidak habis pikir, ada kejadian genting seperti ini dan Seolhyun masih santai? Padahal seingatnya Seolhyun ada di depan lelaki itu pada kejadian tersebut.

"Bagus darimana? Jeonghan adalah aset perusahaan ini, aku tidak tahu mau meletakkan wajahku dimana ketika pihak dari Paris menanyakannya, bahkan berniat memutuskan kontrak sepihak. Dan kau harus tahu Seolhyun, kejayaanmu sudah tidak lama lagi. Masyarakat mulai bosan dengan wajahmu dan beralih menyukai Jeonghan yang angelic."

"A—Apa?" tanya Seolhyun bingung, ia kira dengan perginya Jeonghan tawaran akan kembali padanya, dan ini agensi di Paris malah memutuskan kerjasama. "Awalnya aku kira aku bisa mengalihkan posisi Jeonghan untukmu, tapi aku salah, mereka hanya mau Jeonghan. Dan tawaranmu semakin berkurang, aku bisa saja menghentikan kontrakmu dan mengalihkannya pada trainee yang kumiliki."

Wajah cantik Seolhyun menegang, setelah apa yang ia berikan pada Jiwon. "Kau tidak bisa memecatku Jiwonnie, tidak akan pernah." Jiwon menyeringai, "Memang yang punya perusahaan siapa? Aku tahu siapa saja yang kau goda, dasar murahan. Kau bahkan berniat menggoda ayaku Kim Jiyong, keterlaluan sekali."

Tanpa disadari tangan mulus Seolhyun sudah berlabuh di pipi Jiwon, suara tamparan yang begitu keras menyadarkannya. "Berani sekali kau menampar bosmu?!" Jiwon emosi, Seolhyun diam terkejut sendiri. "Biar saja! Kau tidak bisa memecatku setelah apa yang aku berikan padamu!"

"Memangnya kau memberi aku apa? Aku yang menggajimu dan kau memanfaatkanku sebagai lumbung uang, bahkan semua pekerjaanmu kau dapatkan karena kau merayuku untuk membujuk rekan-rekanku, tanpa aku kau bukan apa-apa Kim Seolhyun. Kau tidak seperti Jeonghan yang datang seperti pundi-pundi uang untukku," Seolhyun makin naik pitam, "Jeonghan tidak akan kembali! Dia sudah mati, aku yang membunuhnya!"

Tanpa sadar ia membuka kartu kejahatannya sendiri, Jiwon terdiam, ia tidak tahu soal hal itu. Ia memang tahu Seolhyun ada di tempat kejadian Jeonghan keracunan, namun tidak ada yang tahu dialah pelakunya. Sebab dari keterangan yang tersedia, sang cheflah yang memasukkan racunnya menurut kamera pengintai. "Apa kau bilang? Kau pembunuhnya?" peluh langsung timbul dari dahi Seolhyun.

Ia mengeleng, "Tidak, bukan aku." Gumamnya linglung, "Bagus kau menambah alasan satu lagi bagiku untuk mencampakkanmu, aku tidak pernah mencintaimu, kau hanya boneka mainanku. Dan satu lagi, menjauhlah karena aku sudah menyukai orang lain. Trainee bernama Kim Hanbin," Seolhyun menganga, ia dikalahkan oleh trainee laki-laki? Orang-orang pasti sudah gila.

Cklek!

Keduanya menoleh menatap pintu yang baru saja terbuka, dan Seolhyun merasa ada yang mencabut nyawanya dengan paksa. Yoon Jeonghan berdiri dengan anggunnya di depan pintu. "Selamat siang, sajangnim" berkebalikan dengan Seolhyun yang terkejut, Jiwon malah memekik senang. "Kau baik-baik saja Jeonghan? Syukurlah, aku sudah takut-takut kalau aku akan bangkrut saat ini,"

Jeonghan mendesis dalam hati, ia hanya dianggap sebagai robot uang oleh bosnya itu. Tapi tidak masalah, "Ya, aku baik-baik saja." Seolhyun menunjuk wajahnya dengan jari lentiknya, "Kau.. bagaimana bisa kau masih hidup?" tanyanya.

Mendengar itu Jeonghan mengejek, "Memang kenapa kalau aku masih hidup? Kau takut kehilangan pekerjaanmu?" ejeknya, raut wajah Seolhyun berubah merah padam. "Kau harusnya mati keracunan dan masuk ke neraka saat ini Yoon Jeonghan! Aku sudah meracunimu, harusnya kau mati!"

Tiba-tiba pintu terbuka dan sekitar lima orang polisi masuk ke ruangan Jiwon, lalu menangkap satu-satunya perempuan disana. "A—apa ini? Kenapa kalian memborgolku? Lepaskan!" ia meronta, "Maaf, tapi kami sudah tahu kejadiannya. Kami juga mendengar percakapan anda sebelum ini, silahkan jelaskan semuanya di kantor polisi." Walau masih meronta Seolhyun tetap dibawa paksa oleh polisi-polisi tersebut.

Beberapa wartawan langsung menyambut mereka dari luar ruangan, sudah dipastikan akan menjadi headline hari ini. "Matilah kau Yoon Jeonghan!" jeritnya, namun Jeonghan diam saja, masih beruntung ia tidak menancapkan giginya di leher wanita itu dan mencabik-cabik tubuhnya hingga darahnya habis.

Kemudian ia beralih menatap Jiwon yang masih terpaku, "Maaf aku harus melaporkan kekasih anda sajangnim," Jiwon beralih menatap Jeonghan, "Tidak apa-apa, sebenarnya aku sudah jengah karena dia hanya memanfaatkan jabatanku saja. Kau baik-baik saja? Syukurlah, karena kepergianmu saham agensi hampir turun drastis."

Jeonghan tersenyum misterius, "Aku bisa mengembalikan posisi agensi ini, asalkan.." Jiwon diam, "Asalkan kau menandatangani kontrak kerjasama dengan agensi JM, dan bergabung menjadi anak perusahaannya. Kalau anda menolak, aku akan meninggalkan agensi ini dan bergabung dengan JM,"

Untuk info saja, JM merupakan agensi milik Jun sepupu keluarga Seungcheol. Dan agensi itu cukup besar karena pusat pasarnya ada di dua negara, yaitu; Korea dan China. Sebenarnya KJ&W dan JM merupakan rival di industri hiburan, namun JM ingin memiliki perusahaan KJ&W, apalagi dengan saham agensi itu yang menurun JM pasti dengan mudah memiliki agensi tersebut.

Lagipula Jun tentu saja akan menguntungkan Jiwon, karena ia pasti akan mengangkat nama perusahaan Jiwon dengan cepat bukan? Tidak ada alasan bagi Jiwon menolak tawaran ini.

Suara pintu dibuka sedikit mengejutkan mereka, seorang laki-laki masuk dan terlihat meminta maaf karena datang di saat yang tidak tepat. "Hanbin-ssi?" panggil Jeonghan, Hanbin nampak kebingungan. Darimana laki-laki cantik itu mengenalnya? Kalau Hanbin tentu saja mengenal seniornya tersebut dengan baik.

Hanbin mengulurkan tangannya ragu, membalas jabatan tangan Jeonghan. "Kau mahasiswa Jisoo bukan? Aku pernah melihatmu bersama Jisoo di ruangannya," Hanbin mengingat-ingat, waktu itu ia memang menyerahkan berkas ke ruangan Jisoo dan ada sosok perempuan membelakanginya, ternyata itu Jeonghan, rambut panjangnya membuat Hanbin salah mengira ia sebagai perempuan.

"Ah, ya. Maaf kalau aku salah waktu," ia berkata canggung, ia menerima pesan dari Jiwon untuk menemui lelaki itu saat jam makan siang, namun banyak wartawan dan polisi membuatnya curiga dan memasuki ruangan tanpa berpikir. "Tidak apa-apa, Hanbin-ssi, kebetulan aku juga akan segera pergi."

Diam-diam Hanbin curiga, ada apa sebenarnya? Wajah Jeonghan terlihat santai saja padahal dia merupakan korban kejahatan, sementara Jiwon nampak begitu panik. "Baiklah, aku akan menentukan waktu untuk berbicara dengan J&M. tapi aku pastikan kau tidak akan meninggalkan kontrakmu, Jeonghan."

Mendengar itu Jeonghan tersenyum simpul, "Senang bekerjasama dengan anda. Aku tunggu kabar baiknya," dengan itu Jeonghan melangkah meninggalkan ruangan dengan langkah ringan. Begitu pintu tertutup Hanbin menatap Jiwon bingung meminta penjelasan.

"Tidak apa-apa," jelas lelaki itu.

. . .

Suara 'Plung' keras menjadi satu-satunya suara yang terdengar, ada dua orang laki-laki yang satu berwajah manis sementara yang satu memiliki wajah ala Amerika dan melipat kedua lengannya di dada. Si lelaki manis melemparkan batu lagi ke sungai Han yang tidak membeku.

Kemudian lelaki manis tersebut tersenyum lebar, seperti anak kecil. Lelaki dengan wajah kebarat-baratan itu mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan tawa lembut kekasihnya tersebut. "Aku pasti berdosa karena mengotori sungai," gumamnya, namun masih tidak menghentikan kegiatannya.

"Shoot!" Pekik Seungkwan kegirangan saat batunya melambung jauh, ia hampir saja berjoget ala Shake It milik Sistar, untung ia sadar kalau mereka ada di tengah publik. Hansol tertawa kecil melihatnya.

Mereka berdiri di bawah pohon yang kehilangan daunnya dan mungkin menjadi satu-satunya pasangan yang rela berdiri di ruang terbuka dalam suhu minus empat derajat celcius seperti saat ini. Bibir lelaki manis itu saja sudah hampir membiru karena kedinginan.

Akhirnya lelaki lain yang awalnya sibuk mencuri foto diam-diam melangkah mendekat, meraih tudung hoodie milik kekasihnya dan memakaikannya. "Kau bisa kedinginan kalau tidak memakainya, tidak membawa earmuff?" tanya lelaki itu, sementara yang lebih pendek merona sedikit dan tidak menjawab. "Boo?" panggilnya lagi.

Boo Seungkwan menggeleng, "Gumawo," bisiknya, Vernon tersenyum tipis. Dan kekasihnya kembali melemparkan batu ke dalam sungai. Sudah lama sekali semenjak terakhir mereka menginjakkan kaki di tempat ini. Akhir-akhir ini mereka tidak memiliki waktu berdua.

Si lelaki vampir nampak ragu, Seungkwan sudah membungkus tubuhnya dengan hoodie ditambah dengan mantel tebal. Namun ujung hidung mancung lelaki itu masih memerah karena kedinginan, "Boo, kalau dingin kita pulang saja ya?" namun yang ditanya menggeleng pelan. "Gwaenchana Vernon-ie, dengan segelas cokelat panas aku akan baik-baik saja." Ia menyakinkan.

Ia kembali merasa ragu, ada keinginan mendekap Seungkwan di pelukan, tapi itu mungkin akan memperburuk suhu badan kekasihnya itu. Jadi ia memilih mengawasi Seungkwan dari jauh saja. Ia memperhatikan Seungkwan menepuk-nepuk kedua tangannya, membersihkan debu disana. Kemudian berjalan mendekap ke arahnya.

"Kajja, kita cari cokelat hangat!" ajaknya semangat, lelaki imut itu menabrakkan dirinya di tubuh Hansol dan memeluk pinggangnya dari samping begitu erat. "Kau bisa kedinginan memelukku," Hansol berniat menjauhkan diri, namun Seungkwan menahannya. "Kata siapa? Kau cukup hangat bagiku,"

Mereka berjalan sambil berpegangan tangan, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang dengan payung di tangan mereka, berusaha menghindari hujan salju. Namun Seungkwan malah bersikeras tidak ingin menggunakan payung, dan daripada harus berdebat dengan Seungkwan, Hansol memilih mengalah.

Lelaki dengan wajah blasteran itu membuka pintu dan menahannya untuk kekasihnya, setelah sampai di dalam sebuah kedai, Seungkwan membuka mantel dan tudung hoodienya. Dengan inisiatif sendiri Hansol membersihkan sisa-sisa salju yang ada di rambut cokelat lelaki manis itu. "Lihat, hidungmu sampai seperti ini," alis Hansol bertautan, ia membersihkan wajah Seungkwan lembut dengan ekspresi khawatir di wajah tampannya.

Tapi Seungkwan senang-senang saja, toh Hansol akan jauh lebih perhatian ketika ia sakit hehe. Mereka duduk dan segera memesan cokelat panas. Seungkwan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan melihat seorang ibu sedang kesusahan, anaknya yang ada di kereta bayi menangis keras, namun sepertinya ibu itu sedang berusaha menyingkirkan salju-salju yang ada di mantel dan rambutnya. Jadi Seungkwan tanpa berkata apapun mendekati wanita tersebut.

"Agassi, gwaenchanayo?" tanyanya. Sang ibu menatapnya bingung, "Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja anakku menangis terus, aku terjatuh di depan sehingga jadi berantakan seperti ini, tapi aku harus membersihkan diri sebelum menggendong dan memberinya minum." Jelasnya.

Seungkwan beralih menatap balita di kereta tersebut, lalu menampilkan mimik wajah lucu dan bermain peek a boo untuk menggodanya. "Gakkung!" ucap Seungkwan dengan suara diimut-imutkan, bayi itu memandang Seungkwan yang membuka-menutup kedua tangannya di depan wajah.

Dan berhasil, bayi itu terdiam dari tangisannya. "Gakkung!" ucap Seungkwan lagi, "Ehehe nyaan~" dan bayi itu nampak tertawa kecil, "Agassi, aku bukan orang jahat. Namaku Boo Seungkwan, Aku masih sekolah kau bisa minta alamat sekolah dan alamat rumahku kalau tidak percaya. Tapi, kalau kau tidak keberatan kau bisa membersihkan badanmu sejenak dan menitipkan anakmu padaku, bagaimana?" tanya Seungkwan dengan nada ramah, ia tidak tega kepada wanita tersebut.

Wanita itu nampak ragu, namun berusaha menyakinkan dirinya. Dilihat dari manapun, Seungkwan tidak punya raut wajah yang jahat. "Apakah tidak apa-apa, Seungkwan-ssi?" Ia bertanya. "Tidak apa-apa, kebetulan aku juga sedang menunggu pesanan, silahkan berbenah dulu."

Mendengar itu wanita tadi tersenyum dan bergegas menuju ke toilet, Seungkwan mengalihkan perhatiannya pada balita tadi. "Kwannie, kau tidak minum?" suara Hansol menginterupsinya, namun Seungkwan hanya menunjuk balita tadi. "Nanti saja, tunggu ibunya kembali. Kasihan,"

Sang balita beralih menatap Hansol, lalu wajahnya yang baru saja ceria berubah dan ia kembali menangis. Hansol gelagapan sendiri, karena ia kan tidak melakukan apa-apa! Seungkwan terkekeh dan menggoyangkan kereta bayi itu perlahan sambil berusaha menghibur, "Gwaenchana, hyung dan hyung yang itu bukan orang jahat." Hiburnya, dan bayi tersebut kembali terdiam seolah-olah mengerti perkataan Seungkwan.

"Aku bahkan tidak mengatakan apapun, anak kecil susah dimengerti," keluh Hansol. "Ya! Makanya wajahmu jangan seram begitu," Hansol mendelik, bagian mana dari wajahnya yang seram? Wajahnya kan tampan dan sempurna seperti DiCaprio.

Seungkwan mengabaikan Hansol, kemudian teringat sesuatu. "Mungkin, kalau anak Wonwoo hyung lahir, kau orang pertama yang digigitnya." Ia bercanda, Hansol bergidik ngeri, mungkin saja bukan? Karena anak Wonwoo dan Mingyu setengah vampir, tidak, Hansol masih sayang nyawa dan tidak ingin mati mengenaskan di tangan bayi vampir.

Ibu tadi kembali, "Ah, terima kasih Seungkwan-ssi, dan—" ia menatap ragu pada lelaki tampan di sebelah Seungkwan, Vernon menjulurkan tangannya. "Hansol," ia mengenalkan diri dengan nama Koreanya. "Ah, ya. Terima kasih pada kalian, ngomong-ngomong aku Lee BoYoung. Terima kasih sudah menjaga anakku, dan maaf sempat meragukanmu."

Mereka tersenyum maklum, "Tidak apa-apa, sampai jumpa jagoan!" pamit Seungkwan pada bayi tersebut, "Sampai jumpa hyungdeul~" ibu tadi berkata dengan nada anak kecil dan melambaikan tangan bayinya, sehingga seolah-olah bayinya lah yang mengatakannya. "Terima kasih sekali lagi, ngomong-ngomong kalian berdua cocok."

Hansol tersenyum lebar, Seungkwan menggaruk tengkuknya bingung, biasanya ia tipe orang yang percaya diri tapi kadang-kadang malu kalau membicarakan urusan pribadinya. Mereka pamit dan duduk di meja mereka, kemudian meminum cokelat panas mereka yang untungnya masih hangat.

Tiba-tiba ponsel Hansol berdering, lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, nama Mingyu tertera disana. "Halo hyung?" sapanya, "Ya! Chwe Hansol! Aku minta tolong," ucap Mingyu dengan nada yang sama sekali tidak pantas untuk digunakan sebagai nada minta tolong, Hansol memutar kedua bola matanya kesal.

"Apa?" tanyanya singkat. "Wonwoo ingin ke supermarket, tapi hanya bersama kau dan Seungkwan. Aku tidak habis pikir," Hansol mendesah kemudian terkekeh kecil, ini benar-benar aneh, setelah sadar dari koma Wonwoo memang hanya mau berdekatan dengan; Hansol, Jisoo, Seungkwan, dan Chan. Selalu menghindari Mingyu dan tidak jelas apa mereka sudah berbaikan atau belum, menghindari Seungcheol karena takut disuntik dan disuruh menggugurkan bayinya, menghindari Jeonghan karena lelaki itu selalu memintanya mengonsumsi makanan sehat untuk bayinya yang aromanya bikin mual, menghindari Soonyoung yang kebanyakan tingkah karena takut membuatnya keguguran.

Orang hamil memang luar biasa aneh dan sensitif. Jadi seperti dua hari lalu Mingyu sempat membantah Wonwoo, namun berakhir dengan Wonwoo yang menangis diam-diam. Dan harus Jisoo yang mengalah untuk memeluk Wonwoo semalaman, membuat Mingyu pergi dari rumah karena cemburu. Benar-benar kekanakan, jadi apa mereka kalau anak Wonwoo lahir?

"Sol?" Hansol terlonjak, ia melamun sehingga melupakan Mingyu yang masih berada di ujung sambungan. "Oke, aku akan pulang dengan Seungkwan." Seungkwan melebarkan matanya imut, Hansol menggeleng dan membisikkan kalau mereka harus segera pulang, kemudian menggandeng Seungkwan pelan.

Mereka sampai di rumah dan sudah dikejutkan dengan suara orang berdebat, Hansol melangkah dengan cepat ke ruang keluarga dan menemukan Seungcheol yang mengangkat kedua tangannya tanda tak perduli. Jeonghan juga sepertinya sudah lelah melerai, "Baiklah, silahkan saja pergi." Gumam Mingyu dingin.

Manik hazel Hansol memandang ke seluruh ruangan, dan menatap Wonwoo yang menatap balik dirinya dengan pandangan memelas, meminta Hansol segera membawanya pergi. "O..kay," ia menjawab begitu mendengar isi pikiran Wonwoo yang ingin meninggalkan rumah. Soonyoung menjelaskan lewat pikirannya kalau Mingyu melarang Wonwoo keluar karena keadaannya belum sehat benar, sekaligus perut Wonwoo sudah membesar sekarang bagaimana bisa mereka menyembunyikannya? Tapi pemuda Jeon itu ngotot kalau ia sudah bosan hanya di rumah dan berbaring saja.

Jadi Jisoo yang baru saja pulang dari bekerja mendekat, kemudian menyampirkan selimut kecil namun tebal ke tubuh Wonwoo, selimut itu menutupi bagian perut Wonwoo sampai ke kakinya. Sehingga akan menutupi bentuk tubuh lelaki itu yang berubah. "Kajja hyung!" ajak Lee Chan semangat, berusaha mengalihkan suasana. Ia mendorong kursi roda Wonwoo ke dalam mobil, karena agak susah menaiki mobil sedan Hansol dengan kursi roda, akhirnya Jisoo membawa mereka dengan mobil yang lebih besar.

Sepanjang perjalanan Wonwoo hanya diam saja, "Hyung, sebenarnya kenapa?" tanya Seungkwan hati-hati, "Tanyakan saja pada anak tidak bertanggungjawab dan menyebalkan itu," balas Wonwoo pedas, Seungkwan langsung menutup suara. "Apa hyung sudah baikan? Maksudnya, tulangmu patah," tambah Hansol.

Wonwoo mengangguk mantap, "Tidak sakit lagi, sudah baikan." Jawabnya sedikit riang, mereka sampai di supermarket terdekat dan segera membantu Wonwoo naik ke kursi rodanya kembali. Chan mendorong kursi rodanya, "Hyung mau beli apa?" tanyanya.

"Cuma mau beli ramyun instan," maksudnya ramyun dalam cup yang bisa langsung dihidangkan kalau minta air panas di supermarketnya, yang mengantar Wonwoo langsung berpandangan bingung. Minta ramyun instan sampai bertengkar dulu? Yaampun.

Mereka pun memilih duduk di bangku kecil sambil menunggu ramyun instan mereka matang, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menatap mereka terkejut.

.

..

"Akhirnya selesai juga!" yang lebih tinggi mengangguk menyetujui, "Aku sudah lelah kau marahi terus, Kookie." Yang dipanggil Kookie hanya tertawa hingga menunjukkan gigi kelincinya yang imut. "Mian, Tae-hyung!"

Ya, mereka baru saja menyerahkan tugas akhir mereka kepada Park seonsaeng tinggal menampilkannya saja minggu depan. Tapi mereka sudah jauh lebih dari siap untuk menampilkannya. Jadi mereka bisa bersantai sejenak.

Tiba-tiba gerimis turun, dan tetesan air itu segera berubah menjadi hujan yang agak deras. Keduanya yang memang berjalan kaki segera berlari menuju halte terdekat dan berteduh di sana, berdesak-desakan dengan beberapa orang karena memang saat ini jamnya pulang kantor, keduanya seharusnya pulang dari tadi seperti Hansol dan Seungkwan namun Jungkook ingin menyelesaikan tugasnya terlebih dulu sampai selesai. Taehyung dengan peka menarik badan Jungkook supaya lebih masuk ke dalam halte, dan merapatkan tubuh pemuda yang harusnya lebih muda darinya itu ke tubuhnya sendiri.

Sialnya mereka lupa membawa payung maupun mantel hujan, Jungkook mendesah kecewa, hari santainya langsung berubah menjadi buruk. Apalagi ditambah dengan petir yang bersahut-sahutan. "Jadi tidak bisa pulang cepat," gumamnya. Taehyung menatap Jungkook yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena kedinginan, ia mengeluarkan hoodie dari ranselnya dan memakaikannya pada Jungkook.

Jungkook menoleh, "Eh, hyung pakai saja, memang Tae-hyung tidak dingin?" Taehyung tersenyum lalu menggeleng, ia senang hari ini Jungkook memanggilnya dengan 'hyung' berkali-kali. Biasanya anak itu menggunakan banmal atau memanggilnya alien. Jungkook tersenyum senang dan mengenakan hoodie itu. Hujan di musim dingin memang yang paling buruk.

Kruukk

Mendengar suara aneh itu Taehyung menatap Jungkook, "Hehe." Yang ditatap menggaruk surainya sendiri karena malu, "Belum makan lagi?" selidik Taehyung dengan suara beratnya, Jungkook mengangguk malu-malu. Memang setelah berhari-hari Wonwoo tidak pulang ia jarang makan di rumah. Wonwoo memang tidak bisa memasak, tapi lelaki itu selalu berinisiatif menelpon layanan delivery maupun membawakan Jungkook makanan kalau dari luar. Dan Jungkook punya sedikit gangguan, ia tidak suka makan sendirian. Jadi ia akan berangkat pagi-pagi dan makan di sekolah, kemudian sebelum sampai apartemen akan makan terlebih dahulu.

Taehyung menatap supermarket yang tidak jauh dari halte, "Ayo kesana, kita pasti bisa menemukan makanan disana. Kau keberatan tidak harus menerobos hujan?" Jungkook menggeleng, sejujurnya sisi kanak-kanaknya membuat ia suka hujan-hujanan. Taehyung melepas blazer sekolahnya dan menyisakan kemeja putihnya, ia memakai blazer tersebut sebagai payung dan memayungi tubuh mereka berdua. Keduanya berlari dengan cepat dan memasuki tempat perbelanjaan itu dengan tubuh sedikit basah.

Jungkook sih masih sedikit terlindungi karena menggunakan pakaian berlapis, tapi Taehyung tidak. Kemeja seragamnya sedikit transparan karena basah, apalagi rambutnya. Taehyung menggoyangkan rambutnya hingga air di rambutnya nyiprat kemana-mana, mirip seperti anjing peliharaan Jungkook dulu kalau kebasahan. "Kau ini hyung, jadi kedinginan kan? Harusnya kau tidak meminjamkan hoodiemu padaku, kau bisa sakit karena kau bukan superhero."

Tapi Taehyung tidak membalas dan malah melangkah mendahului Jungkook ke sektor makanan, "Ya! Ya! Taetae!" Jungkook membuntutinya, Taehyung diam dan nampak memilih menu yang pas buat orang yang diam-diam ia sukai itu. "Kau harus banyak makan sayur, dan protein. Jangan makan yang aneh-aneh,"

Jungkook diam saja dicereweti oleh Taehyung, ia menerima makanan yang diserahkan lelaki itu padanya. Mereka berniat mencari tempat duduk sampai mata Jungkook menangkap beberapa orang yang tidak asing baginya. "H—Hyung?" panggilnya, dan ia hampir berteriak melihat kakak yang berhari-hari tidak ditemuinya duduk di atas kursi roda dengan beberapa perban dan gips di tubuhnya.

Ia mengindahkan teriakan Taehyung yang berusaha menahannya dan mendekati kakaknya itu, sontak orang-orang yang duduk di sekitar kakaknya terkejut, namun kakaknya yang paling terkejut. "Hyung, apa yang terjadi? Hyung kau baik-baik saja?" ia menghambur ke pelukan hyungnya, berusaha pelan-pelan karena tubuh kakaknya yang terluka. "K—Kookie.."

Mata Taehyung mengunci pandangan Hansol sebal, beraninya anak itu membohongi Jungkook. Hansol diam dan berusaha melarikan pandangannya ke arah lain. Tangan lemah Wonwoo balik memeluk adiknya, "Jaljinaeyo?(are you allright?)" tanyanya lembut, Jungkook terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi. Aroma tubuh kakaknya berubah jadi seperti bau obat. "Bogoshippeo hyung, kenapa kau tak bilang kalau kau seperti ini, pantas saja eomma tidak tenang hyung,"

Wonwoo menatap adiknya dengan tatapan menyesal, "Maafkan aku Kookie," namun tubuh Jungkook menegang, ada yang ganjil ketika ia memeluk kakaknya, seperti ada sesuatu yang menonjol di bagian perutnya. Mata Wonwoo berubah horror, Jungkook menatapnya penuh selidik. "Apa ini hyung?" ia berniat menyingkap selimut di perut kakaknya, namun Wonwoo menahannya. "H—Hyung bisa jelaskan, t—tapi tidak disini."

Dan Jungkook tidak bodoh untuk tahu kakaknya sedang hamil, "Maaf Jungkook-ssi, sebaiknya biarkan kakakmu makan terlebih dahulu, dan setelahnya kau bisa ikut ke rumah kami. Kau belum makan juga bukan?" yang berwajah paling kalem memanggilnya, lelaki itu tampan sekali. Jungkook memandang teman-temannya satu-persatu, baik Hansol, Seungkwan, maupun Chan menunduk.

Mereka makan dalam hening dan Jungkook pikir rasa laparnya sudah menguap entah kemana.

. . .

Ini pertama kalinya Jungkook menginjakkan kaki di rumah Hansol temannya itu, sekaligus rumah dimana kakaknya tinggal akhir-akhir ini. Rumah itu luas sekali, pantas saja dapat memuat banyak orang di dalamnya.

Pemuda bernama Jisoo –yang memperkenalkan diri sebagai dosen Wonwoo— tadi mendorong kursi rodanya masuk, kakaknya nampak meremas tangannya sendiri bingung. Mingyu pun juga ikut bingung karena tiba-tiba adik Wonwoo datang. Jungkook menatap lelaki berkulit tan itu dengan pandangan menusuk.

"Jadi hyung tidak liburan?" tanyanya langsung. "Tidak, hyung sebenarnya kecelakaan dan sempat koma. Lalu karena tidak tega memberitahukannya padamu dan eomma, Hansol mengabarkannya seperti itu." Jawab kakaknya jujur, bisa dimengerti alasan Hansol membohonginya.

Namun, mengapa?

Bukankah itu akan bagus kalau lelaki blasteran itu memberi tahu yang sebenarnya? Dan kenapa Wonwoo tidak dibawa ke rumah sakit? Ya bisa dimengerti karena ada dokter terkenal Choi Seungcheol tersebut, tapi tetap saja. Dan apalagi itu? Hamil? Kakaknya hamil? Lucu sekali.

Seumur hidup Jungkook yakin laki-laki tidak bisa hamil, dan kakaknya bukan merupakan seorang transgender. Jadi keanehan apa yang bisa membuat kakaknya hamil? Dan itu berarti Mingyu pernah melakukan 'itu' pada kakaknya? Dasar kurang ajar!

"Y—Ya!" Mingyu menyela, Jungkook sadar dari pikirannya, namun lelaki itu diam, tentu saja, mana bisa dia bilang dia membaca pikiran si bungsu Jeon tersebut? "Kookie, jangan bilang pada eomma soal ini. Rencananya hyung mau bilang kalau anak ini adalah anak adopsi, jangan bilang siapa-siapa Kookie.."

Jungkook menghela nafas lelah, kakaknya memang paling jago soal menyembunyikan rahasia. Itu kenapa ia sering bercerita pada kakaknya, tapi tidak tahu kalau begini akhirnya. Ia tidak pernah bisa mengorek hal yang disembunyikan oleh Wonwoo.

"Lagipula Kookie, sepertinya anak ini tidak akan selamat." Wonwoo berucap pelan, membuat adiknya lega. Tentu saja, bagaimana mungkin kakaknya akan mengasuh anak sambil kuliah? "Baiklah kalau begitu hyung, aku harap kau segera pulang karena eomma akan datang bulan depan."

Mendengar pernyataan itu Seungcheol menjadi sedikit lega, bulan depan, kemungkinan anak Wonwoo sudah lahir kalau tidak begitu ia sudah kehilangan anaknya. Dan luka-luka Wonwoo dipastikan sudah sembuh. Wonwoo mengangguk lalu mengacak rambut adiknya, "Maafkan hyung Kookie, hyung menyayangimu, sekarang dan selalu."

Jungkook membalasnya dengan sebuah pelukan erat, ia tahu pasti ada alasan mengapa Wonwoo memilih tinggal di rumah ini. Akhirnya ia pamit karena matahari sudah terbenam dari tadi. Bersama Taehyung ia menolak untuk di antar dan memilih jalan kaki kemudian naik bis.

Taehyung bergidik mencurigakan, "Kau kenapa?" tanya Jungkook, "Tidak, kau tidak merasakan ada yang aneh apa?" Jungkook memicing bingung, "Apa memangnya?" jujur karena terlalu rindu pada kakaknya ia jadi tidak merasakan apa-apa. Memangnya Taehyung kenapa coba?

"Bulu kudukku merinding disana, seperti ada hantu. Lagipula, ketika aku menjabat tangan dokter berkulit putih itu, rasanya seperti memegang es balok. Aku tidak mau kesana lagi," protesnya dengan ekspresi horor, padahal yang meminta ikut juga dirinya sendiri. Jungkook mendecih pelan melihat kelakuan Taehyung, "Ya terserahmu. Lagipula aku tidak ingin kesana lagi, harus Wonwoo hyung yang pulang ke rumah ketika eomma datang."

.

..

"Bagaimana ini Mingyu-ya, Jungkookie tahu segalanya," untuk kali ini Wonwoo mengalah dan memilih berbicara berdua saja dengan Mingyu di kamar pemuda Kim itu. Ia frustasi dan mengusap wajahnya berulangkali, bimbang, tentu saja. "Kau tahu benar aku tidak akan pernah menggugurkannya, ini anak kita—maksudku anakku,"

Mingyu berjongkok di depan kursi roda Wonwoo, meletakkan kedua tangannya di paha lelaki itu. Wonwoo selalu berpikir Mingyu tidak menginginkan anak tersebut, padahal sebenarnya tidak. Mingyu juga menginginkannya, tapi seperti yang pernah ia bilang, ia lebih ingin keselamatan Wonwoo. "Keokjongma, aku akan menjaga anak kita juga." Lirihnya, Wonwoo menunduk menatap wajah Mingyu yang lebih rendah darinya.

Lelaki tan itu mengelus punggung tangan Wonwoo seperti kebiasaannya, melingkarkan lengannya di pinggang Wonwoo hati-hati, kemudian mengelus perutnya. "Kita bisa bilang ke Jungkook dan eommamu kalau anak ini keguguran, aku berbicara banyak pada Seungcheol dan dia bilang anak ini akan tumbuh dengan cepat. Jadi, ketika kau bertemu ibumu dan dia sudah lahir, kita bisa bilang anak ini adalah anggota keluarga baru yang kita adopsi. Bagaimana?"

Wonwoo terdiam sejenak, ada benarnya juga ide Mingyu tersebut. "Apa kau yakin itu berhasil? Bagaimana kalau nyatanya keluargaku akan curiga?" Mingyu mendongak lalu menangkup pipi Wonwoo yang semakin tirus, "Apa salahnya mencoba? Kalau tidak berhasil, aku bersedia mengungkap identitasku sebagai vampir. Semoga mereka tidak takut, atau aku bisa menghapus pikiran mereka, kau ingat kan?"

Benar, Mingyu punya kemampuan itu. Ia pasti akan menggunakannya di saat-saat terakhir. "Gumawo, sekaligus maafkan aku karena jadi menyebalkan akhir-akhir ini," Mingyu terkekeh lalu memainkan surai hitam lembut milik Wonwoo. "Tidak apa-apa, hei kau tahu sebenarnya aku menjauhimu beberapa kali karena sesuatu yang lain.."

"Lain? Apa?"

"Aromamu jadi tambah menggiurkan semenjak kau hamil, dan.. kau jadi kelihatan lebih seksi."

Wonwoo menjambak rambut kecokelatan Mingyu main-main, "Berbicara aneh-aneh sekali lagi, akan aku lindas kakimu dengan kursi roda ini." Ancamnya, jelas merupakan ancaman bodoh, dan membuat Mingyu tertawa. "Haha, arasseo, aku juga tidak akan memaksamu." Ia tertawa kecil.

"Mingyu," panggilnya, lelaki itu menyandarkan kepalanya ke tubuh Wonwoo, seolah-olah berusaha mendengar perkembangan janin di dalamnya. "Hm?" jawabnya singkat. Wonwoo nampak berpikir, dan pikirannya membuat Mingyu menegang seketika, insting vampirnya keluar tanpa bisa ia cegah. "Kau mau?" tawar Wonwoo.

Mingyu mundur dan mencengkram pegangan kursi roda tersebut, "Wonwoo, jangan bercanda! Kau tahu aku tidak mudah berhenti," Wonwoo mengangguk paham. "Tidak apa-apa, lakukan seperti biasanya. Aku tahu kau haus dan sudah lama tidak minta dariku," jawab Wonwoo menyakinkan. Mata Mingyu menatap manik hitam kelam kekasihnya itu, mencari keraguan namun tidak menemukannya.

Akhirnya akal sehatnya kembali kalah dengan insting vampirnya, ia bertumpu pada lututnya dan mendekatkan bibirnya ke leher Wonwoo. Hangat, dan suara nadinya yang bekerja terdengar seperti simfoni di telinga Mingyu. Ia mencium leher itu pelan, sebelum sedikit menancapkan giginya di sana, lalu meminum darahnya.

Rasa pedih itu kembali lagi, namun Wonwoo hanya menggigit bibirnya sendiri agar tidak berteriak. Baru dua tegukan Mingyu menarik diri, ia menjilat luka yang ia buat hingga lukanya tertutup kembali. "Kenapa berhenti?" tanya Wonwoo, Mingyu tersenyum hangat. "Aku sudah lega, darahmu jadi lebih manis dari sebelumnya, membuatku cepat kenyang."

Dan tentu saja berbohong, ia hanya tidak ingin memperburuk keadaan Wonwoo yang lemah. Namun untungnya, Wonwoo percaya akan hal itu.

. . .

Mingyu duduk di lantai sementara Wonwoo duduk di sofa, lelaki emo itu diam-diam saja ketika Chan menyuapinya cookies. Kue kering buatan Jeonghan itu jadi camilan favorit mereka ketika bersantai di dalam rumah. Chan sesekali fokus pada pekerjaan rumah yang diberikan oleh wali kelasnya.

Soonyoung ikut duduk di lantai, dia kali ini pulang cepat karena Jihoon sedang bepergian dengan ibunya. Jadi ia tidak punya acara apa-apa dengan kekasih mungilnya tersebut. Soonyoung menjahili Chan yang asyik belajar, dan berakhir dengan wajahnya yang ditimpuk bantal oleh adik kecil mereka itu.

"Seungcheol, mau kemana?"

Itu Jeonghan sedikit membuntuti Seungcheol yang berusaha memakai dasinya dengan baik, lelaki itu berinisatif membantu memakaikannya. "Kerja tentu saja, aku sering sekali mengalihkan pekerjaanku pada asistenku akhir-akhir ini. Tidak baik," bibir Jeonghan mencebik. "Kau ini sibuk terus, aku kangen,"

Mulai lagi Jeonghan merajuk, "Tapi tidak bisa Hannie, lagipula kita kan baru saja berburu bersama hm? Jadi biarkan aku ke rumah sakit, nanti malam aku akan pulang." Benar, mereka memang baru saja kembali berburu. Akhir-akhir ini Seungcheol mengajari Jeonghan cara berburu yang benar dan rapi.

"Astaga, hari ini saja, lagipula karena kita baru saja pergi jauh untuk berburu, apa kau tidak ingin beristirahat?"

"Aku tidak bisa, oke? Aku tidak boleh egois dan meninggalkan pekerjaanku terus," Seungcheol sedikit menaikkan nada bicaranya, Jeonghan terkejut, kemudian memilih diam. "Aku pamit dulu." Seungcheol berujar dingin dan melangkah melalui ruang keluarga dengan langkah lebar. Tidak perduli beberapa pasang mata memperhatikan mereka.

Jeonghan melipat kedua tangannya di dada, kesal, tentu saja. Seungcheol mungkin lelah akhir-akhir ini, tapi emosinya yang meningkat jadi menjengkelkan. Begitupula dengan Jeonghan yang jadi lebih manja.

"A—argh," Wonwoo tiba-tiba merosot, ia kehilangan kendali di sofanya. Untung saja Soonyoung yang ada di bawahnya tanggap dan menangkap tubuh kurusnya. "Jeon Wonwoo! Hei!" Soonyoung berteriak, Mingyu ikut mendekat, tiba-tiba mata Wonwoo hampir terpejam.

Seungcheol yang mendengar keributan ketika ia hampir menyalakan mesin mobilnya kembali masuk ke dalam rumah, Wonwoo mencengkram lengan Soonyoung erat-erat. "S—sakit sekali, perutku, tolong.." kemudian ia terkulai lemas, Soonyoung dan Mingyu membelalak, apa Wonwoo akan melahirkan sekarang? Tapi ini bukan jadwal yang diperkirakan oleh Seungcheol, dan tidak ada darah maupun air ketuban yang berceceran.

Sementara dokter itu kembali masuk lalu melemparkan tas kerjanya ke sembarang arah, "Tidak mungkin! Tidak mungkin secepat ini, ini belum waktunya, tapi tubuh Wonwoo sudah menunjukkan tanda-tandanya." Ia bergumam cepat, Mingyu menggendong Wonwoo dan lagi-lagi membawanya ke ruangan kerja Seungcheol.

"Lalu kita harus bagaimana?!" Seungcheol juga panik sendiri, namun untung saja ia pernah memperkirakan hal ini akan terjadi di masa lampau, "Caesar, tidak bisa dilakukan dengan persalinan yang normal, hanya itu satu-satunya cara."

Dengan cekatan Seungcheol memasang infus ke tubuh Wonwoo, kemudian memasang kateternya. Ia mengambil jarum suntik bius dan membius tubuh lelaki itu, bukan bius total, hanya bagian dada sampai kaki saja. Ia menutup tirai kecil seperti prosedur operasi caesar pada umumnya.

Mingyu membatu, ia hanya memandangi wajah Wonwoo yang tampak sedikit kesakitan meski lelaki itu tidak sadar. "Seungcheol hyung, kenapa lama sekali?" ia ingat operasi caesar umumnya hanya memakan waktu pembedahan sekitar lima belas sampai dua puluh menit, namun ia tidak kunjung mendengar tanda-tanda tangisan bayi sama sekali.

Seungcheol menggertakkan giginya, "Aku bekerja sendirian bodoh," tentu saja biasanya minimal dibutuhkan empat tangan untuk pembedahan, ia meraih scalper dan melakukan sayatan kecil sepanjang sekitar lima belas sentimeter. Dari tadi ia tidak berhasil menembus perut Wonwoo, entah kenapa lapisannya jadi terlihat lebih tebal daripada lapisan pada umumnya.

Setelah beberapa kali berusaha ia berhasil membuka daging perutnya, dan bekerja terus hingga menemukan lapisan yang lebih dalam. Sial, cepat sekali, bahkan Seungcheol tidak sempat melakukan USG lanjutan untuk melihat jenis kelamin anak ini. Seungcheol memasukkan tangannya, dan menarik pelan kepala bayi itu. Bekerja sendirian membuatnya kepayahan, ia mengeluarkan bayi itu dan melepas plasenta yang melapisi tubuh bayinya. Dokter itu menggendong bayi yang masih diam tidak bersuara tersebut, lalu mengambil alat penyedot dan menyedot lendir yang masih tersisa di hidung maupun tenggorokan si bayi, dan berhasil mendengarkan suara tangisan bayi itu.

"Ya Tuhan.." gumam Seungcheol, tangannya dipenuhi darah. Mingyu mendekat penasaran, bayi itu putih sekali seperti Wonwoo, dan cantik. Meski jenis kelaminnya laki-laki, tapi tidak tahu lagi harus menggambarkan dengan kata apa selain cantik, cantik yang lebih menggambarkan keindahan.

Ia menyerahkan bayi itu ke ayahnya, kemudian membersihkan bekas bedahan itu dan mulai menjahitnya dengan rapih. Walau tidak terlalu rapih, karena ia tidak terlalu mendalami ilmu pembedahan sebelumnya. Jeonghan membantu Mingyu untuk membersihkan bayi itu, ketika memegangnya, Mingyu tahu jantung anaknya itu memang bekerja seperti milik manusia namun tidak terlalu cepat. Dan ada darah mengalir di dalam tubuhnya, darah itu lebih panas daripada yang dimiliki oleh bangsa vampir sepertinya.

Khas seorang setengah imortal.

Jeonghan membungkus anak itu dalam selimut berwarna kuning, karena mereka memang belum membeli peralatan untuk bayi sama sekali. Jadi ia mengusir Soonyoung ke mall untuk membeli perlengkapan bayi, dan Soonyoung bolak-balik menanyakan perihal jenis kelamin bayi tersebut. Awas saja kalau lelaki rambut biru pucat itu kembali dengan baju berwarna merah muda dan rok, Jeonghan akan mengulitinya.

Walaupun mereka sempat kecewa juga, awalnya mereka kira akan dapat keponakan perempuan yang cantik, tapi rasanya laki-laki tidak buruk juga. "KIM MINGYU!" jerit Seungcheol dari dalam ruangannya, Mingyu mempercayakan anaknya pada Jeonghan dan berlari masuk. Tubuh Wonwoo sudah bersih dari darah dan ada bekas jahitan baru di perutnya, tapi bukan itu masalahnya.

"Apa hyung?" tanyanya. Seungcheol menunjuk bed side monitor yang awalnya berkedip nyaring hanya menunjukkan garis lurus, "A—Aku terlalu fokus, aku tidak sadar, sepertinya itu sudah berhenti sedari tadi." Jelas Seungcheol panik, Mingyu ikut panik. Kenapa Seungcheol bodoh sekali? Itu artinya jantung Wonwoo tidak berdetak sedari tadi.

"Bagaimana bisa terjadi? Apa yang salah?" Seungcheol menggeleng keras, "Aku tidak tahu, kurasa tidak ada yang salah, sungguh. Kecuali kalau tadi bayi itu mencoba menekan rusuk Wonwoo untuk keluar, dan Wonwoo kesakitan sampai tidak sempat menjerit, dan tanpa kita tahu tekanan jantungnya melemah." Jelas Seungcheol. Meski ia menjelaskan begitu, tangannya menekan dada pasiennya itu dan melakukan kompresi dada sebanyak 100 kali dalam satu menit. Tapi itu sepertinya tidak berhasil.

Dan tentu saja alat seperti defibrilator tidak akan membuat garis lurus dalam monitor EKG itu akan membentuk garis vertikal lagi, ia tidak bodoh, alat kejut jantung itu tidak akan membuat jantung pasiennya kembali berdetak. Jadi harapan satu-satunya hanyalah Mingyu. "Kau ingin merubahnya bukan? Rubah dia sekarang, aku memberimu izin."

Manik Mingyu melebar karena terkejut, ia mengangguk lalu berjalan mendekat, namun ini kali pertama ia akan merubah manusia menjadi vampir. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau ia.. terlambat? "Lakukan saja bodoh! Gigit dia, tapi jangan hisap darahnya, masukkan racun ke dalam pembuluh darahnya. Kau jenius dan aku yakin benar kau bisa melakukannya,"

Tidak punya pilihan Mingyu melakukan apa yang diperintahkan Seungcheol, masih jelas dalam pikirannya bagaimana Seungcheol melakukannya kepada Jeonghan yang juga mengalami kejadian serupa seperti ini dulu. Ia mendekati leher Wonwoo dan menggigitnya disana, menahan nafasnya agar tidak ada aroma darah Wonwoo yang masuk ke indera penciumannya, kemudian memasukkan racun sebanyak-banyaknya kesana.

Ia mengulangi kegiatannya di beberapa bagian tubuh Wonwoo yang lain, memastikan racunnya masuk dalam jumlah cukup banyak, karena itu akan mempercepat perubahannya. Ia tidak boleh kehilangan Wonwoo, tidak boleh..

TBC

Hahahah, ampunn anak kedokteran atau kesehatan jangan hujat aku ;_; aku gatau proses lahiran itu gimana asdfghjkl. Aku sampai harus nahan diri liat video caesar loooollll.

Ket;

Scalper: pisau bedah

EKG/bed side monitor: itulo kaya di drama2 yang layarnya bentuk garis2 gambaran tekanan jantung

Defibrilator: alat kejut jantung yang biasanya bisa hidupin nyawa lagi kaya di drama(?)

Ya Allah maafkan saya hanya anak informatika, bukan anak kesehatan :") maaf penggambarannya absurd lol.

Btw emang last chapt terinspirasi dari twilight hehehehe ampuni, terinspirasi kok bukan plagiat._.v oiyaaa hayo ada yang bisa tebak anaknya siapa? Yang pasti bukan baby2 dari superman return kkkkk, babynya ini deket sama seventeen looh hayo siapa? XD

Last, review?^^