.
.
Main pair : Kaihun
.
Warning : fluff (maybe), typoo bermekaran, Boys Love, mohon dibaca sampai selesai ^_^
.
.
Disclaimer : semua cast milik Tuhan, jie jie hanya nyewa ^.^ but, this story is mine :-P
.
Kim jie ya present
.
All about love.
.
Enjoy
.
.
.
5. I Hate This
.
.
Jongin menatap dingin pemuda milky skin di hadapannya yang tengah menundukkan kepalanya. Geraman marah meluncur dari tenggorokkannya. Tatapannya semakin menajam setelah mereka terjebak dalam keheningan tanpa ada niatan dari pemuda dihadapannya untuk mengakhirinya.
"Aku akan pergi." Jongin berhenti melangkah saat merasakan tarikan di pergelangan tangannya. Disentaknya tangan itu kasar agar terlepas dari tangannya.
"Jjongin, apa yang terjadi p-padamu?" tanya Sehun.
"Tidak ada dan menjauhlah dariku!" Sehun tersentak mendengar kata kata tajam Jongin.
"A-apa aku berbuat salah, Jongin?"
"Kau menghirup udara yang sama denganku saja sudah salah! Sekarang menyingkir!"
Jongin mendorong tubuh ramping Sehun hingga terjerembab ditanah yang kotor dan berlalu begitu saja tanpa sedikitpun melirik pemuda yang selama beberapa tahun belakangan telah menemaninya.
Sehun sendiri hanya menatap punggung tegap Jongin dengan pandangan sendu, sudah satu bulan lebih Jongin tidak mengakui keberadaannya ah, lebih tepatnya, memperlakukannya kasar. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuat kekasih yang selama ini mengasihinya menjadi seperti itu.
Dirinya terlalu lelah dengan keadaan ini, lelah tentang tugasnya yang semakin banyak, lelah akan pekerjaan part time nya, dan lelah akan Jongin. Tidak, Sehun masih mencintai Jongin. Tapi Jongin yang bersikap seperti itu membuatnya putus asa.
Sehun pernah berpikir jika Jongin bersikap seperti itu karena cemburu. Tapi pikiran itu segera ditepisnya. Mereka sudah saling terbuka dan tidak akan cemburu buta seperti tempo silam.
Mungkin Jongin sudah bosan dengannya.
Entahlah, Sehun semakin pusing. Dengan itu, Sehun bangkit berdiri dan menepuk bajunya yang kotor akan debu tanah, meringis kecil saat merasakan kulitnya yang tergores kerikil cukup –sangat- dalam mengingat seberapa kasar Jongin mendorongnya tadi.
"Sehun!" Sehun mendongak dan menyembunyikan lengannya dibelakang badannya saat melihat pemuda yang memanggilnya mulai mendekat.
"Baekhyun hyung." Ucap Sehun sambil tersenyum.
"Kau sedang apa disini? Ayo pergi, bukankah kau ada kelas?" Baekhyun menggapai tangan Sehun sebelum si empu mengelak.
"Emm, Baekkie hyung pergi dulu saja, A-aku masih ada urusan." Baekhun mengernyitkan alisnya, kemudian menarik lengan Sehun dan terpekik kecil sesudahnya.
"Sehun, luka ini sangat dalam, ayo ke ruang kesehatan."
"Tidak perlu, hyung. Aku bisa sendiri, lebih baik hyung segera pergi, hyung kan ada kelas setelah ini." Ucap Sehun sembari menarik perlahan lengannya.
"Tidak bisa, aku akan menemanimu."
"Tapi Baekhyun hyung ada kelas, dan aku tidak ingin merepotkan hyung." Ucap Sehun melemah di akhir.
"Ya ampun Sehunnie~ kau sudah seperti adikku sendiri, tidak perlu merasa sungkan. Sekarang ayo." Dan berakhirlah Sehun ditarik oleh pemuda pendek itu ke ruang kesehatan.
-Ka'ihun-
"Cih, dasar lemah!" maki Jongin. Mata onyxnya menyorot tajam dua orang dibawah sana. Mendudukkan dirinya bersandar pada pagar pembatas atap.
Dia mengeluarkan sebungkus rokok. Mengambil sebatang dan menyalakan pemantik yang ada di sakunya. Suara decit pintu atap yang terbuka membuatnya menghentikan kegiatannya yang akan menyalakan rokok.
"Berhentilah merokok, kkamjong." Pemuda itu berjalan dan duduk disamping Jongin.
"Dan berhentilah menyuruhku berhenti merokok." Pemuda yang baru datang itu merebut putung rokok Jongin yang belum tersentuh dan membuangnya begitu saja, pun dengan bungkus rokok yang diletakkan Jongin disamping kakinya.
"Kembalikan rokokku!"
"Teruslah berkata seperti itu, dan aku tidak akan menyerahkannya padamu. Jika kau masih ingin merokok lebih baik sulut saja bibirmu dengan pemantik itu dan hisap asapnya. Terasa lebih alami kan, kkamjong?" ujarnya cuek. Jongin terkekeh pelan.
"Ide bagus." Jongin tidak se idiot itu untuk menyulut bibirnya sendiri, tentu saja. Malah sebelum itu terjadi, pemuda disampingnyalah yang akan dia sulut dan dijadikan rokok.
"Apa masih lama, Jongin?"
"Yeah, aku masih ingin bermain-main dengannya."
"Kau serius hanya bermain-main? Ini sudah enam tahun kurasa?" pemuda dengan tidik di telinganya itu menyalakan rokok dari bungkus yang tadi direbutnya dari Jongin. Dan Secepatnya Jongin merebutnya dan membuangnya.
"Hei!" protesnya tak terima.
Mengabaikan protes kawannya, Jongin menjawab pertanyaan dari pemuda itu. "Entahlah, tapi sepertinya aku sudah mulai bosan dengannya."
"Ini rekor muri, seorang Kkamjongin mampu bertahan selama enam tahun bersama 'mainannya'" ucapnya sarkastik.
"Kau pikir apa? Selama enam tahun itu aku juga mencari mangsa baru, dan sepertinya baru ku temukan kali ini."
"Pencarian yang panjang, kawan." Ucap pemuda tadi dramatis.
Jongin memutar bola matanya bosan. Menyelonjorkan kakinya yang sedari tadi dia tekuk. Tangannya dia lipat didepan dada.
"Well, sepertinya aku penasaran." Lanjutnya
"Dia sahabatnya."
"Tunggu, maksudmu? Kau akan mengencani sahabatnya setelah kau berakhir?"
"Kenapa tidak?" tanya Jongin aneh.
"Kau sungguh kejam, Jong."
"Kurasa kau lebih tahu tentangku." Ucap Jongin tak peduli. Pemuda disampingnya memutar duduknya menghadap Jongin.
"Lalu, siapa yang beruntung menjadi mangsamu selanjutnya?"
"Do Kyungsoo, tentu saja. Dia adalah sasaran empuk. Tinggal merebutnya dari si ketua osis dan voila, aku mendapatkannya." Ucap Jongin dengan tawa kecil yang terasa ganjal.
"Dan kau bisa mendapatkan 'bekasku'." Lanjutnya.
"Whoo~ itu tidak perlu Jong." Ucapnya dengan gerakan menolak.
"Bukankah kau menyukainya?" tanya Jongin heran.
"Tidak sama sekali, aku hanya memeperlancar aktingmu, kawan. Kenapa kau tidak peka? Sia-sia saja semuanya."
"Jangan mendramatisir, itu memuakan."
"Heh, lalu apakah kau perlu bantuanku dalam menaklukan mangsamu kali ini?"
"Aku akan sangat berterima kasih akan itu-..."
"...- Tao."
^3^
"Ahh..."
"Ssstt.. apa sakit Sehunnie?"
"Ttidak, hyung. L-lanjutkan saja."
"Kau yakin? Kita bisa menghentikannya dan pergi ke temp-..."
"T-tidak perlu hyung, aku bisa menahannya."
Jangan berfikir yang 'iya-iya' dulu, kali ini dua orang pemuda yang kita ketahui bernama Oh Sehun dan Byun Baekhyun tengah berada diruang kesehatan dan mengobati luka di lengan Sehun.
"Maafkan hyung ya Sehun." Ucap Baekhyun setelah memasangkan perban di area siku dan tangan Sehun.
"Maaf untuk apa, hyung?" tanya Sehun heran kepada Baekhyun yang tengah duduk di kursi dihadapannya sedangkan dirinya duduk di atas ranjang.
"Seharusnya hyung bisa datang lebih awal dan menarikmu dari si brengsek itu." Ucap Baekhyun dengan nada menyesal.
"Eum? Si brengsek siapa?"
"Sehun, cukupi saja sampai disini, tidak perlu bersandiwara." Baekhyun bangkit dan berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap langsung ke lapangan basket.
"A-aku tidak sedang bersandiwara, hyung." Ucap Sehun pelan.
"Kau pikir kau apa? Super hero? Kau sudah mengetahui kenyataannya, Hun. Dan kau tetap menutup matamu dan meyakinkan diri jika itu semua tidak benar-benar terjadi."
"Lalu aku harus apa, hyung? Aku masih begitu mencintainya."
"Hun, lupakan saja Jongin, dia tidak baik untukmu. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya." Sehun beranjak dari kasur dan berjalan menuju samping Baekhyun.
"Aku tidak tahu, hyung." Baekhyun memperhatikan wajah Sehun dari samping. Kantung matanya menghitam, dan tidak perlu seorang pakar untuk menyimpulkan bahwa Sehun kurang tidur karena memikirkan Jongin.
Grep~
"Apapun keputusanmu Hun-ah, hyung akan mendukungmu. Tapi jika sampai si brengsek itu membuatmu terluka, aku benar-benar akan menendangnya ke neraka."
"Terima kasih banyak, Baekhyun hyung." Dan air mata Sehun mengalir pada pundak baekhyun.
../../../
"Kau yakin tidak ingin ku tunggu?"
Entah sudah berapa kali Baekhyun melontarkan pertanyaan yang sama dalam sepuluh menit. Dan itu membuat orang yang sabar seperti Sehun jengah.
"Hyung, aku baik baik saja. Hyung pulang saja." Dan entah berapa kali Sehun menjawab dengan jawaban yang sama.
"Tapi Sehunnie, ini sudah jam setengah tujuh, pasti perpustakaan sudah sepi. Bagaimana jika ada hantu?"
"Oh, ayolah Baekki hyung, ada mahasiswa sosial yang akan menyiapkan keperluan untuk acara lusa, dan kampus akan ramai."
"Tapi Hunnie, tidak akan seramai denganku, jadi biarkan aku menemanimu ya?" Sehun memutar bola matanya.
"Aku tahu hyung sedang sibuk akhir-akhir ini, apalagi tugas hukuman karena membolos bersamaku tadi? Aku tidak ingin hyung sakit."
"Sehun, mahasiswa sosial akan datang jam delapan, dan-..." Sehun tidak mendengar apa yang dikatakan Baekhyun karena dirinya telah dengan sigap menutup mulut Baekhyun dan mendorongnya, juga berlari setelahnya, menghindari pekikan bombastis dari Baekhyun.
Dia berjalan pelan melewati koridor yang sepi. Seperti kata Baekhyun, masih setengah jam lagi sebelum kampus menjadi pasar dadakan dan itu lumayan lama. Sehun bukanlah tipe orang yang takut akan hantu dan semacamnya, dia mempercayai hal hal seperti itu, tapi bukan berati dia harus takut kan?
Sret~
Sehun menghentikan langkahnya. Tengkuknya merinding seketika. Apanya yang tidak takut, hei tuan Oh?
"Nngghh~ bberhentii." Kini Sehun semakin takut. Hei, jangan lupa Sehun adalah orang dengan rasa penasaran tinggi,maka dari itu dia putuskan untuk mendatangi sumber suara itu.
"Jj-janngan, hhh~"
Selangkah lagi dan Sehun akan melihat sumber dari suara suara aneh itu. Tapi sepertinya Sehun merasa familiar dengan suara itu.
"Jjonginhh~ ccukupphh~"
"Kkyungsoo~"
'Deg'
Matanya terpaku pada dua orang pemuda yang tengah berciuman ganas di sebuah koridor. Matanya membulat kaget. Jika seperti ini, lebih baik dia melihat hantu saja. Kakinya bergetar dengan mata memanas, buliran air sudah mengalir turun membasahi pipinya. Kini dia menyesal, kenapa dia menolak tawaran Baekhyun. Mungkin Baekhyun bisa mewakili satu pukulan darinya. Karena seberapapun Sehun berusaha, dia tetap tidak bisa. Sehun terlalu mencintai pemuda dihadapannya yang tengah berciuman dengan sahabatnya sendiri.
Yang membuat Sehun semakin sakit adalah Jongin tahu jika dirinya tengah berdiri disana, dan dia tidak peduli, Jongin mengabaikannya. Seberapa pentingkah dirinya dimata Jongin? Mungkin ucapan Baekhyun tempo lalu memang benar adanya. Jongin tidak baik untuknya. Tapi dia telah mengambil resiko dan harus bertanggung jawab.
Kakinya membawa Sehun lari dari tempat itu, meninggalkan Jongin yang mendadak merasa aneh dan Kyungsoo yang menangis karena telah mengecewakan sahabatnya.
/^,^\\
Jongin menguap bosan untuk kesekian kalinya. Setelah melihat Sehun dia jadi kehilangan selera untuk 'menghabisi' kyungsoo tadi. Padahal kesempata seperti itu sangat jarang jika melihat seberapa lengket pasangan Suho-Kyungsoo.
'Sehun sialan!' makinya dalam hati.
Kini dia terjebak dalam kegiatan rutin mahasiswa sosial. Setiap lima bulan sekali mereka akan mengadakan santunan ke panti asuhan atau sejenisnya. Jongin sendiri merasa sangat malas hari ini. Hatinya pun merasa tidak nyaman. Serasa ada jarum tak kasat mata yang sedari tadi menusuk jantungnya.
Dering ponsel menyadarkan Jongin dari lamunan sepersekian detik tadi.
"Ha-..."
"BODOH KAU! CEPAT KEMARI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!" maki seseorang diseberang saluran telepon.
"Hei, siap-..."
"CEPAT KESINI SEKARANG! DAN SIMPAN PERTANYAANMU! JIKA KAU TIDAK SEGERA DATANG, KUPASTIKAN KAU TIDAK AKAN MELIHAT MATAHARI TERBIT LAGI."
Sambungan tertutup setelahnya. Jongin sendiri tidak mengerti, itu nomor baru dan dia merasa tidak kenal dengan nomor itu. Dia kembali menyamankan diri di kursi yang sedang dia duduki di pinggir lapangan. Mencoba tidak peduli akan telepon aneh yang beberapa detik lalu diterimanya. Bahkan setelah pesan masuk tentang sebuah alamat yang pun dia tetap bergeming dan melanjutkan melihat mahasiswa lain yang tengah berdiskusi.
/-aaa-/
"Hei, kkamjong!" sapa seorang pemuda yang diketahui bernama Tao.
"Hm~" gumam Jongin.
"Kau ta-..."
"Apa kau melihat Sehun?" potong Jongin cepat.
"Tum-..."
"Cepat jawab saja." Desak Jongin.
"Entahlah, sudah tiga hari dia tidak masuk, begitupun mangsamu dan juga Baekhyun-sunbae." Jongin terdiam mendengarnya.
"Memangnya kenapa? Bukannya kau akan memutus-..."
"Aku akan memutuskan Sehun, tapi aku tak menemukannya dimanapun."
"Kau tidak menemui Sehun dirumahnya?"
"Untuk apa? Membuang waktu saja, aku tidak sudi. Lagi pula, Sehun sudah bukan siapa siapaku."
"Ku akui kawan, ucapanmu lebih kasar dari biasanya."
Jongin sendiri tidak tahu kenapa dia menjadi lebih kasar dari biasanya. Dia hanya merasa... takut?
"Hei, hei Jongin. Itu Baekhyun-sunbae kan? Sepertinya dia mencarimu."
Jongin berdiri dan berjalan menuju Baekhyun yang menghampirinya dengan cepat.
"Baekhyun-sunb-..."
Bbuuagghh~
Satu kepalan tangan melayang di rahang Jongin. Belum sempat Jongin bangkit kepalan tangan dari Baekhyun kembali menghantam dirinya bertubi-tubi. Walaupun kecil, tenaga Baekhyun perlu diwaspadai.
Tao mencoba melerai mereka, tapi sepertinya Baekhyun benar benar marah kali ini. Tidak menguntungkan lagi, mereka berada di taman belakang kampus yang jarang dikunjungi.
Buuaghh~ buaagh~
"KAU BODOH! SANGAT BODOH! KENAPA KAU TIDAK DATANG SAAT KU TELFON KEMARIN, HAH?" teriak Baekhyun dengan air mata yang mengalir, membuat kedua pemuda disitu heran. Tapi Baekhyun tidak sedikitpun mengurangi pukulannya.
"Baekhyun-sunbae, ada apa sebenarnya?" tanya Jongin yang masih mencoba menghindar dari amukan Baekhyun yang tengah ditahan Tao dari belakang.
"BAGAIMANA BISA KAU BERTANYA ADA APA SETELAH SEMUA INI? KAU BENAR BENAR BRENGSEK!"
"Sunbae, aku benar benar tidak mengerti."
"KAU MEMANG TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI! KENAPA KAU MEMILIH SEHUN UNTUK KAU PERMAINKAN? DIA BEGITU MENCINTAIMU!" ekspresi bingung Jongin luntur seketika, tergantikan oleh raut datar.
"Oh, tentang itu. Aku dan Sehun sudah tidak ada hubungan lagi. Dia sungguh mengganggu, menyuruhmu memukuliku dan bersembunyi selama tiga hari ini, cih, betapa pengecutnya dia."
Bagaikan minyak tanah yang disulut api. Amarah Baekhyun kembali meledak.
"KAU MEMANG SUDAH TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN LAGI DENGAN SEHUN KARENA SEHUN SUDAH BERADA DI ALAM BAKA, BRENGSEK!"
'Deg'
"Tak perlu bercanda seperti itu, benar benar murahan."
"KAU MEMANG TAK PUNYA HATI! BAGAIMANA MUNGKIN KAU SIBUK BERCIUMAN DENGAN KYUNGSOO SEDANGKAN SEHUN TENGAH BERJUANG MELAWAN MAUT? BAHKAN DI AKHIR NAFASNYA, KAU SAMA SEKALI TIDAK MEMBUATNYA BAHAGIA?" tubuh Baekhyun melemas dan jatuh diatas rerumputan dengan posisi berlutut. Tao yang berdiri dibelakangnya hanya terdiam, pun dengan Jongin yang menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Kkenapa Jongin? Kenapa Sehun begitu mencintaimu? Apa yang kau berikan padanya?" gumam Baekhyun dengan air mata mengalir.
"Seharusnya kau tidak mempermainkannya, seharusnya dia tidak datang ke perpustakaan, seharusnya dia tidak menemukanmu dengan kyungsoo berciuman, seharusnya dia tidak tertabrak mobil dan seharusnya dia tidak meninggalkanku." Baekhyun masih mengatakannya dengan lirih dan terisak.
Kemudian, pemuda pendek itu bangkit dan mengusap air matanya. Memandang Jongin tajam.
"Sekarang kau sudah bisa memilih siapa yang akan menjadi korbanmu selanjutnya. Kau tidak perlu khawatir akan Sehun. Dia sudah bahagia disana tanpamu. Cih, brengsek." Ucapnya sembari menabrak bahu Jongin.
Tao menatap Jongin nanar.
"Kuharap setelah ini kau sadar, kawan." Ucapnya sebelum mengikuti jejak Baekhyun pergi dari sana.
Jongin meremas surai hitamnya dan jatuh berlutut.
"Sehun... Sehun... Sehun..." bibirnya mengucapkan kalimat itu berkali kali.
"Kumohon maafkan aku, a-aku mencintaimu, jangan pergi, jangan pergi, kumohon jangan pergi." Kristal bening meluncur bebas dari matanya. Bibirnya yang bergetar menggumamkan kata maaf berkali kali. Sebuah teriakan menggema dari tenggorokannya.
"SSEHUUNN!"
.
.
.
T. B. C
(tinggal beberapa chapter)
(tuhkan belum celecai)
Holla~ terimakasih atas reviewnya.
Jie jie sangat sangat sangat berterimakasih atas dukungan dan semangatnya ^_^
Maaf, ngga bisa bales review, ini ngetiknya udah malem. Jadi ngantuk dan pasti banyak typoo. Ngga ada waktu sih :-P
Chapter ini ngga ada fluffy nya ya? Jiejie lagi kehilangan selera buat fluf tapi idenya makin numpuk, ya jadilah chapter gaje bin jega ini.
Dan buat 'BabyWolf Jonginnie'Kim' kalau bisa chapter depan ya, atau chapter depan lagi? Atau depannya lagi? Atau #ditimpuk
Big thanks for Mr. Jongin albino, Kin Ocean, DiraLeeXiOh, daddykaimommysehun, dheardd94, choi fai fai, ohhhrika, yunacho90, syakilashine, sayakanoicinoe, Guest, dia. Luhane, andrian. Stevano, istrinya sehun bininya kai, ayanesakura chan, nagisa kitagawa, LKCTJ94, citaoris, Guest, Babywolf jonginnie'kim, izz,sweetcity, kim xiuxiu hunnie, urikaihun, xxx, kim hyerim.
And for silent readers ^_^ I hope you want to mampir(?) what the?
Eh, ceritanya belum selesai...
#
"CUT."
Suara tepuk tangan bersahut sahutan.
"Acting yang bagus Kim Jongin, hohoho." Pemuda bermata rusa itu tertawa aneh.
"Cih, jika ini bukan karena Festival Film kampus, aku tidak akan sudi."
"Oh ayolah, aku hanya melihat potensi itu."
"Bilang saja jika kau masih belum merestui hubunganku dengan Sehun, jadi kau membuatku berpisah dengannya di film ini." Geram Jongin.
"Kau tahu saja." Dan pemuda bernama Luhan ini kembali tertawa. Jongin meninggalkan pemuda yang sibuk tertawa itu dan menghampiri Sehun yang tengah duduk disebuah kursi panjang sambil memegang botol air.
"Kerja bagus, Jongin sungguh berbakat." Ucap Sehun tulus.
"Tapi aku tidak suka." Ucap Jongin merengut.
"Loh? Ceritanya seru kan?"
"Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu, tidak di film, dan tidak di dunia nyata. Aku benci ini" Sehun tertawa mendengar gerutuan Jongin.
"Aku menunggu saat saat itu~ Oh, Sehuun, jangan tinggalkan aku. Maaf Jongin, aku lebih memilih Tao yang lebih tampan darimuu~" ucap Tao yang tiba tiba melintas dihadapan mereka sambil menirukan suara keduanya.
Oh, lihat. Sebuah sepatu sneakers melayang ke kepala Huang Zi Tao.
Poor Tao.
Really TBC.
