.
.
Main pair : Kaihun
.
Warning : fluff (maybe), typoo bermekaran, Boys Love ^_^
.
.
Disclaimer : semua cast milik Tuhan, jie jie hanya nyewa ^.^ but, this story is mine :-P
.
Kim jie ya present
.
All about love.
.
Enjoy
.
.
.
5. sick
.
.
.
"Hattchii~" seorang pemuda bersurai coklat terduduk di kursi taman tak jauh dari kampusnya. Hidung dan matanya memerah. Suara bersin tak henti-hentinya keluar da-
"Haatchii~"
Intinya, pemuda bernama Sehun ini tengah dilanda flu. Dan dia dengan keras kepala bersikukuh menunggu kekasihnya –Jongin- dari kampus. Kekasihnya itu memang sedang membahas tentang festival yang akan di adakan kampus untuk akhir tahun nanti untuk perpisahan angkatannya.
Tidak terasa memang, sudah empat tahun dia bergelut diantara peningnya tugas, menyebalkannya dosen, serunya persahabatan dan manisnya cinta.
Sehun sendiri belum berpikir tentang dimana dia akan bekerja nantinya. 'orang-orang masih terus sakit dan rumah sakit tidak akan sepi' itulah yang dipikirkan Sehun. Tidak salah memang, mengingat keberadaan dokter masih sangat dibutuhkan. Dan inilah pertama kalinya Sehun bersyukur menjadi mahasiswa kedokteran.
Dan bicara tentang sakit, Sehun sudah merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya sejak kemarin. Tapi hari ini teman-temannya mengadakan acara kecil di kampus. Sehun tentu tidak ingin di cap sebagai teman yang tidak ingin berkumpul bersama saat waktu tinggal sedikit. Oh, jangan lupakan Luhan, hyung sekaligus sahabatnya dari jurusan perfilman yang pasti akan mengomelinya sepanjang yang dia bisa jika Sehun tidak datang.
Dan demi apapun, ocehan seorang Xi Luhan lebih membosankan daripada nasihat dosen tua menyebalkan berkacamata tebal dengan kepala botak yang menggunakan kemeja berkancing hingga lehernya. Memikirkannya saja membuat Sehun bergidik.
"Jongin benar benar akan membunuhku jika dia tidak segera da... Hatchii~"
Sehun benar benar menggerutu saat itu. Bahkan setelah dia merasakan sebuah jaket tebal menyampir di sekeliling pundaknya, pun dengan sepasang lengan yang merengkuhnya dari belakang.
"Jongin~"
"Hm? Ayo segera pergi, kau mulai membeku, Hunnie." Ucap Jongin. Tangannya menggenggam jemari Sehun yang telah dingin. Dia berpindah untuk duduk disamping Sehun saat dirasa kekasih imutnya itu tidak merespon.
"Ada apa? Kenapa diam saja?" tanya Jongin heran.
"Jongin kenapa lama sekali?" tanya Sehun sembari memainkan jemari Jongin digenggamannya.
"Maaf ya, tadi Profesor Jung menahanku, ada beberapa barang yang seharusnya tidak disana, jadi aku harus memindahkannya. Kau menunggu lama?" tanya Jongin kembali.
"Jongin memindahkan barang? Jongin lelah? Lebih baik Jongin pulang, kita tidak perlu jalan jalan hari ini." Ucap Sehun mendongak menatap Jongin.
Mata Jongin melebar melihat wajah Sehun yang memerah.
"Kita memang tidak jalan jalan hari ini, le-..."
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Jongin juga segera pulang ya." Sehun beranjak berdiri, sebelum kemudian oleng dan ditahan Jongin yang entah kapan telah berdiri dibelakangnya.
"J-jongin."
"Kita tidak jalan jalan, tapi kita pergi ke apartementku. Aku tidak ingin pemuda bodoh ini ambruk di jalan karena flu dan ditemukan pemuda lain."
"Dasar posesif." Gerutu Sehun, dia berjalan mendahului Jongin. Baru beberapa langkah, dia berhenti dan mengernyitkan alis saat melihat Jongin berjongkok dihadapannya.
"Jongin mau poop?" tanya Sehun aneh. Orang orang yang kebetulan berlalu lalang langsung menoleh dan ikut ikutan memandang Jongin aneh.
Jongin?
Mukanya memerah menahan malu dan kesal. Bagaimana mungkin Sehun menjadi sedikit gila hanya karena flu?
"Naik." Ucap Jongin dengan penekanan penuh.
Menyadari nada suara Jongin, Sehun segera naik ke punggung Jongin dan memeluk leher kekasihnya erat.
"Maaf."
Jongin melirik kesamping, dimana Sehun mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jongin.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena mempermalukan Jongin. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu."
Jongin menghela nafas maklum. Sehun memang sangat sensitif dan manja saat sedang sakit.
"Tidak apa apa." Jawab Jongin singkat.
"Tuh kan, Jongin marah ya?" Sehun memiringkan kepalanya kearah Jongin.
"Tidak, aku tidak marah. Bagaimana mungkin aku marah pada kekasihku yang manis, pintar dan rajin menabung ini?"
"Kalau begitu belikan aku es krim ya, Jongin?" pinta Sehun.
"Tidak boleh." Tolak Jongin.
"Kenapa~ Jongin aku ingin es krim~"
"Kau sedang flu, Sehun. Flu mu bisa bertambah parah."
"Satu cup es krim tidak akan membunuhku Jongin." Jongin hanya menghela nafas. Sepertinya syaraf otak kekasihnya telah sedikit konslet. Saat Jongin sakit, Sehun terus saja mengomeli tentang minum dingin dan sebagainya. Sekarang?
"Jonginnie~" ok, Jongin tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan untuk tidak segera membawa Sehun ke hotel terdekat dan 'memakannya' disana.
"Baiklah, baiklah."
"Yeay, Jongin yang terbaik!"
x.x.x.
"Jongin, kepalaku serasa mau pecah. Lepaskan kepalaku~"
Jongin hanya menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya yang tengah terbaring di atas ranjang birunya. Sehun semakin 'tepar' setelah dia bersikeras membeli es krim dalam keadaan flu. Apanya yang tidak akan membunuhnya? Sehun terlihat seperti mayat hidup sekarang.
"Salahmu sendiri." Ucap Jongin cuek.
"Jongin jahat! Sudah tidak mencintaiku lagi!" helaan nafas kembali keluar dari bibir pemuda bermarga Kim itu.
"Iya, iya. Maafkan aku." Emosinya harus benar-benar ditekan. Menghadapi Sehun yang sedang sakit lebih menyebalkan daripada menghadapi serangan mammoth purba yang kehilangan ibunya. Atau bahkan berpuluh puluh kali menyebalkan. Berlebihan memang, tapi itulah yang dipikirkan Jongin.
"Hattchii~"
"Kau harus minum obat, Hun." Ucap Jongin.
"Aku tidak bisa, tenggorokanku sakit, Jonginnie."
"Kau tidak akan sembuh jika tidak minum obat."
"Jongin saja yang minum obat." Ucap Sehun sewot sembari membelakangi Jongin.
Seringai setan terbit di kurve Jongin. Di ambilnya sebungkus obat, memasukkan sebuah pil ke mulutnya dan memberikan air kedalamnya.
Dia beranjak ke atas kasur dan bergerak menindih Sehun yang telah terlentang menatapnya heran. Jempol tangannya mengelus sudut bibir Sehun sejenak sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun.
"J-jong hmppftt..."
Jongin melumat bibir bawah Sehun yang refleks terbuka, dia mentransfer obat yang ada dimulutnya ke mulut Sehun. Mendorongnya dengan lidahnya agar tertelan, membuat Sehun tersedak kecil.
Lidahnya dengan lihai mengabsen satu per satu benda yang ada di rongga manis milik kekasihnya itu. Melumat keras bibir bawah Sehun sebelum mengakhiri 'kegiatannya'
"Jjongin?" ucap Sehun. Mukanya memerah karena demam dan malu, nafasnya terengah mencari pasokan oksigen sebanyaknya.
"Tidurlah." Jongin mengangkat tubuhnya dari atas Sehun sebelum tarikan di kerah kemejanya membuatnya kembali menimpa tubuh Sehun yang hangat.
"Temani aku, aku takut~" pinta Sehun manja.
"Oh, kau mengundang singa kelaparan, Hunnie."
"Mana ada singa hitam?" jika ini ada dalam manga, telah muncul perempatan siku siku di dahi Jongin. Uh, kekasihnya ini saat sakit benar benar menyebalkan.
"Terserahmu sajalah." Ucap Jongin, dirinya menggulingkan badannya ke samping Sehun.
"Jongin marah? maafkan Sehun." Ujar Sehun. Tubuhnya dimiringkan menghadap Jongin yang terlentang disampingnya. Jongin tidak bergeming.
'Cuupp'
"Jangan marah." ucap Sehun, dia memeluk tubuh Jongin dari samping. Tubuh Jongin tersentak. Karena ciuman Sehun dan karena suhu tubuh Sehun yang panas.
"Pantas saja dia bertingkah seperti itu." Gumam Jongin. "Aku harus secepat mungkin menikahinya." Lanjutnya dengan nada yang lebih pelan.
"Sehun?" panggil Jongin. Sehun hanya menggumam aneh. Peluh membasahi dahi, pelipis dan lehernya, memberikan kesan sexy di mata Jongin.
"Ugh, berhentilah berpikiran kotor Kim Jongin." Ucapnya pada diri sendiri. Dia menyeka peluh yang membanjiri tubuh kekasihnya.
"Jongin~ aku mencintaimu, tapi aku ingin bubble tea emm, tidak, tidak. Aku ingin pergi ke..." dan gumaman aneh Sehun membuat Jongin terkekeh pelan.
"Sepertinya tidak ada cara lain."
Pemuda tan itu melucuti pakaian atasnya, begitupun Sehun. Dia menyusup ke dalam selimut dan menyelimuti tubuh keduanya. Memeluk Sehun posesif, membiarkan suhu tubuh Sehun berpindah ke tubuhnya. Walaupun besok dia sakit, setidaknya ada Sehun yang akan mengurusnya.
Sehun menyamankan diri dalam pelukan Jongin. Tangannya melingkari pinggang Jongin dan kepala yang ditenggelamkan pada leher Jongin.
Oh, muka Jongin memerah. Merasakan deru nafas hangat Sehun menerpa kulit telanjangnya dan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan tubuh Sehun yang halus. Dia mengusap surai Sehun dan semakin memeluknya erat. Dikecupnya pucuk kepala kekasihnya itu, menyalurkan kasih sayang.
Betapa dia menyukai sifat manja Sehun.
"Aku mencintaimu, Oh Sehun."
.../...
"Haatchii~"
"Tuh kan, Jongin jadi sakit. Seharusnya kemarin tidak perlu melakukan hal itu." Ucap Sehun meletakkan semangkuk bubur di atas nakas tak jauh dari kasur.
"Habisnya suhu tubuhmu panas sekali." Bela Jongin dengan suara sengau.
"Terserah Jongin saja, sekarang makan dulu. Aku membuatkanmu bu-..."
"Aku tidak mau bubur." Ucap Jongin dengan nada tidak mau dibantah. Tapi bukan Sehun namanya jika takut dengan itu.
"Jongin ini jangan seperti anak kecil, aku suapi ya?"
"Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu, Kim Sehun."
Muka Sehun memerah, namanya terdengar imut dengan marga Kim.
"Apa maksud Jongin? Aku tidak meminta Jong-..."
"Apa kau tidak ingat telah menggoda dengan menciumku kemarin? Dan kau membiarkanku memelukmu dengan keadaan seperti itu? Hingga aku sakit sekarang."
"T-tapi-..."
"Kau harus bertanggung jawab, Kim Sehun." Tangan tannya menarik tangan putih Sehun sehingga si empu tangan terjatuh di atas tubuh Jongin. Dengan sekali gerakan, Jongin membalik posisi sehingga Sehun lah yang berada dibawah tubuhnya.
Seringai mesum terpampang nyata di bibir penuh Jongin.
"Bersiaplah mendapat balasanmu, baby."
"JONGIINN!"
t.b.c
holla,, haaii,, alloha,,
ada orang disini?
Apa jiejie udah bilang kalau jiejie mau segera menamatkan fic ini?
Gimana kalau satu chapter lagi? Minta sarannya ya, chingu.
Jangan tanya tentang adegan jongin mau poop tadi, jiejie ngga tau, beneran ^.^
Oh ya, jiejie minta pendapat dong tentang gender switch dan male pregnant?
Soalnya jiejie sepertinya mau buat fic yang kaya gitu, kira kira gimana? Soalnya, takut kalau banyak yang ngga suka ^.^
Jiejie ngga ada koment buat chapter ini, rasanya kok ancur gitu. Jiejie lagi keserang flu -.- dan begitu sangat super neomu(?) tersiksa akan hal itu. Pasti banyak typoo nantinya.
Thanks buat review chapter sebelumnya, jiejie merasa berdosa liat review kalian semua, bikin nangis lagi. eh, tapi ngga dink #ditonjok. Hehehe, bikin jantungan? Kayanya ngga kok, jiejie kan masih pemula.
Dan jangan timpuk jiejie,kok reviewnya pada sadis amat -_- :-D
Thanks for kaihun krisho shipeer, urikaihun, kireimozaku, PurpleGyu, izz. Sweetcity, xxx, rinirhm30, dheardd94, park minggi, citaoris, kim xiuxiu hunnie, evi. Rahayu. 52, lovekaihun, zelobysehuna, rizkaanindyaP, babywolf jonginnie'kim, sayakanoicinoe, nagisa kitagawa, haesya wu, guest, kim seo ji, utsukushiio2, dia. Luhane, syakilashine, hijklmnosh, leeyol, fernandafeby, choi fai fai, maknaeEXO, ayanesakura chan, snow07, daddykaimommysehun, yunacho90, diraleexioh, youngchanbiased, istrinya sehun bininya kai, kin ocean, mr jongin albino, ohhhrika.
And for all silent readers. Kalian tau ngga? Yang silent silent tu ngga asik lho, jadi ayo review ^_^ #Orasi mode : on.
Akhir kata.
Mind to review?
