All about love

.

.

Kaihun^^

.

.

Warning : typoo bermekaran, boys love, lil bit lemon, dkk.

.

.

Ngga tau juga kenapa jadi seperti ini. Dan ini lil'bit lemon, ngga pake banyak. Tapi tetep aja, dosa ditanggung pembaca ^_^ .

.

.

So, hope you like it.

.

Don't like don't read.

/

/

/

6. Surprise.

.

.

.

"Sehun!"

Sehun menoleh ke belakang mendengar namanya dipanggil. Dia memutar arah begitu orang yang memanggilnya telah berada beberapa langkah darinya.

"Tao hyung? Ada apa?" tanya Sehun.

"Itu, apa nanti malam kau ada waktu?" tanya Tao.

"Luhan hyung mengajakku pergi nanti malam, dan aku baru menyetujuinya tadi." Jawab Sehun. Binar di muka Tao menghilang, melihatnya Sehun jadi merasa bersalah.

"Tapi setelah pulang kuliah aku tidak ada acara kok, hyung. Persiapan festival sudah di tangani mahasiswa sosial." 'sepertinya' lanjut Sehun dalam hati. Binar itu datang lagi.

"Ah, aku sebenarnya ingin mengajakmu pergi ke taman kota malam ini, tapi bagaimana kalau kita pergi ke kedai bubble tea saja?" ajak Tao.

"Baiklah." Jawab Sehun. Mungkin tidak apa-apa pergi bersama Tao, toh hanya menghitung hari dia mungkin tidak akan bertemu dengan Tao lagi.

"Kalau begitu aku pergi dulu, nanti aku akan tunggu di depan gerbang, oke?" pamit Tao dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Tanpa menunggu jawaban Sehun dia berlari dengan sesekali melompat kecil.

"Dia kenapa? Kekanakan sekali." Ucap sebuah suara disampingnya.

"Itu tadi aku-..." Sehun menolehkan kepala kesamping, tersentak setelah menyadari jarak mereka yang cukup –sangat- dekat.

"Jongin! Aku terkejut." Gerutu Sehun dengan tangan yang mengelus dadanya, meredakan degupan jantungnya.

"Kau kenapa tadi?" tanya Jongin kembali.

"T-tidak, hanya saja, Tao hyung bertanya tentang persiapan perpisahan." Jongin menatap Sehun penuh selidik.

"Yang be-..."

"Thudah dulu ya Jongin, Thehun dipanggil Jung thaem tadi." Sehun berlalu dengan cepat. Sudut bibir Jongin terangkat. Sehun-nya hanya akan bicara cadel saat dia sedang gugup atau menyembunyikan sesuatu. Tanda yang manis sekali.

"Kau ingin main-main denganku eh, Kim Sehun?" gumamnya dengan nada berbahaya.

:-p:-p:-p:-p

"Kupikir tidak apa-apa jika aku mengatakan seperti itu, aku tidak melakukan apa-apa kok, aku tidak merasa berdosa karena hal itu, karena pada dasarnya aku hanya berteman dengannya, itu tidak bisa disebut penghianatan dan-..."

"Hei Sehuna! Ka-..."

"Aku tidak sejahat itu untuk menolak permintaannya di saat waktu tinggal sedikit-..."

"Hei! Bumi kepada Sehun! Bumi kepada Sehun, halo~."

"Tapi tetap saja, Jongin bukan tipe orang yang bisa menerima seperti itu, bagaimana mungkin aku pergi bersama Tao hyung tanpa memberitahu Jongin?-..."

"Sehunna, kau bisa bicara dengan jel-..."

"Mungkin aku bisa membelikan beberapa bubble tea padanya, atau ku batalkan?"

"Oh Sehun! Seorang pemuda manis nan pintar memanggilmu! Enyahlah segala roh jahat yang merasukimu wahai kawanku!"

"Aduh~ hyung berisik sekali. Aku sedang berpikir." Sehun menoleh pada Baekhyun yang duduk disampingnya dengan muka siap menerkam makhluk cadel itu.

"Argh! Kau yang dari tadi berisik, menggerutu tak jelas, dan apa itu? Pergi dengan Tao tanpa memberitahu Jongin? Aku sedikit tidak mengerti di bagian itu, bisa kau jelaskan dari awal, tuan?" tanya Baekhyun dengan nada menuntut. Sehun mengangguk imut.

"Tadi pagi aku berangkat kuliah, aku mengendarai bis umum, aku duduk di baris terakhir nomor dua disamping kaca, sepertinya disebelahku duduk seorang ahjussi tua dengan badan subur yang menghimpitku, orangnya juga tidak terlihat ramah dan-..."

Baekhyun memasang derp face. Oh apakah otak Sehun menjadi sedikit rusak? Maksudnya bukan dari awal seperti itu.

"Intinya." Ucap Baekhyun dengan penekanan penuh.

"Taohyungmengajakkukeluardanjongintidaktahu."

Pletakk~

"Aduh~"

"Pelan bodoh." Kali ini pemuda bermata rusa yang menggetok kepala imutnya. Pemuda itu segera duduk disebelah Sehun.

"Hei Lulu hyung, sakit tahu." Sungut Sehun. Bibirnya dikerucutkan, membuat Luhan ingin menjepitnya dengan jepit jemuran yang selalu dia bawa di tasnya.

"Maka dari itu, bicaralah yang pelan." Ucap Luhan tak kalah kesal.

Sehun membuang muka. "Aku kan tadi bercerita pada Baekki hyung, bukan Luhan hyung. Kenapa hyung yang memukulku."

"Iya, iya. Hyung minta maaf, ya Sehun." Senyum Sehun mengembang.

"Permintaan maaf diterima." Ucap Sehun ceria seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya.

Baekhyun hanya memutar bola matanya malas. Ayolah, Sehun hanya perlu mengatakan sepatah dua patah kata dan mereka akan menemukan jalan keluarnya segera.

"Bisakah kau langsung bercerita, tuan cadel?" pinta Baekhyun dengan nada amat sangat bosan.

"Baiklah~"

Satu detik.

Sepuluh detik.

Dua menit.

Tujuh menit.

"BISAKAH KAU BICARA SEKARANG, OH SEHUUNNN!" jerit Baekhyun emosi. Sehun tinggal membuka mulut dan mengeluarkan suara berisi ceritanya dan tidak perlu membuat Baekhyun terkena hipertensi mendadak. Terlebih lagi, makhluk setengah rusa kanibal di sebelahnya malah tertidur begitu cepat dalam lima menit, dengan mulut menganga dan aliran liur yang lebih terlihat seperti sungai Han itu menempel dengan sangat menjijikkan di dagu dan meja dihadapannya.

"DAN BANGUNLAH, HEI KAU SILUMAN ONTAA!" niat Baekhyun sih, ingin meneriakkan siluman rusa, tapi setelah dipikir pikir, unta lebih mendekati kriteria.

Baekhyun mengacak rambutnya kesal saat Luhan hanya mengembang ngempiskan hidungnya, dan setelahnya kembali tertidur. Makin kesal, karena makhluk cadel yang membuatnya kehilangan kesabaran hanya menatapnya dengan mulut menganga.

'Kubur Baekhyun sekarang ya Tuhan.' Pinta batinnya dramatis.

"Baekki hyung yang sabar, nanti cepat tua loh." Ucap Sehun sok menggurui.

'Kau pikir siapa yang membuat nyawaku satu kilometer lebih dekat dengan malaikat maut, hah?!' itu pasti suara batin Baekhyun.

Dengan satu hembusan nafas, Baekhyun menarik kedua sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum mengerikan, yang malah di asumsikan Sehun sebagai senyuman manis.

"Baiklah, karena Baekki hyung telah kembali sabar, Sehun akan bercerita."

"Aku benar benar akan menenggelamkanmu kedalam sungai Han yang dibuat Luhan jika kau tidak bercerita dengan benar." Gumam Baekhyun.

"Hyung mengatakan sesuatu?" Baekhyun hanya menggeleng dengan gerakan kaku, mencoba meredam amarahnya.

"Sebenarnya, aku diajak pergi setelah pulang kuliah oleh Tao hyung."

What the?!

Sehun hanya mengatakan itu? Membuat pemuda bermarga Byun itu menunggu hingga hampir sepuluh menit?! Gigi Baekhyun saling bergemeletuk.

"OH SE-!"

"AAPPPAAA?!" itu suara pekikan Luhan yang mendadak bangun, meninggalkan genangan air seperti danau toba di atas meja.

"Bagaimana ini, hyung?" tanya Sehun.

"KAU MENERIMANYA?" tanya Luhan masih dengan suara bombastis.

"I-iya, dan aku tidak memberitahu Jongin. apa aku batalkan saja?" suaranya terdengar gusar.

"JANGAN DIBATALKAN, HAHAHA, PERGI SAJA DAN JANGAN BERI TAHU JONGIN! BIAR DIA TAHU RASANYA MELIHATMU PERGI BERSAMA ORANG LAIN! BIAR DIA SENDIRIAN DAN KESEPIAN DAN BIAR DIA MERASA MENJADI LELAKI PALING HITAM. HOHOHO." Teriak Luhan berorasi dengan tawa sinterclause.

"Menurut hyung begitu?" tanya Sehun polos.

"TENTU SAJA! WEKAWEKAWEKA." Jawab Luhan, kali ini seperti tawa seorang alay yang mengidap penyakit alayers(?)

"Eum, baiklah. Aku pergi menemui Tao hyung dulu ya, hyung." Pamit Sehun yang mendadak menjadi penurut. Luhan menganggukkan kepalanya dengan semangat hingga terantuk meja dan membuat benjolan sebesar bola bowling(?) bersarang indah di dahinya. Tapi dia tidak peduli.

"Luhan senang sekali, mama~" ucap Luhan dengan cengkok dangdut. Dan Luhan meninggalkan tempat itu dengan goyang itik, eh?

-/-

Tao kini bersandar –sok- keren di dinding sebelah pintu gerbang. Dia harus bersikap keren, karena ini –menurutnya- kencan perdananya dengan Sehun. Berkali kali dia melongokkan kepalanya kedalam untuk melihat apakah makhluk imut nan cadel bernama Oh Sehun sudah terlihat. Kini dia terlihat seperti siput.

Dan begitu dia melihat Sehun berjalan keluar, buru buru dia membenahi posisinya.

Satu tangan di saku celana, satu kaki diangkat dan ditekuk ke tembok, dan satu tangan mengacak rambutnya –lagi lagi sok- sexy.

Sehun sendiri mengernyitkan dahi saat melihat Tao sedang –yang menurut penglihatan Sehun- menggaruk rambutnya.

"Apa Tao hyung berkutu?"gumam Sehun.

"Tao hyung!" panggilnya.

Tao menoleh dan memasang senyum sejuta watt. "Hai, Sehunnie."

"Apakah Tao hyung menunggu lama?" tanya Sehun khawatir.

'Pasti Tao hyung menunggu lama, hingga dia tidak tahan untuk menggaruk rambutnya yang berkutu. Tao hyung baik sekali sampai menahan kegiatan menggaruknya jika didepan orang lain. Tuhan, hilangkanlah kutu Tao hyung.' Batin Sehun.

'Sehun khawatir padaku? Dia pasti sudah mulai menyukai ku, aww~ manis sekali~' batin Tao.

Isi hati yang bertolak belakang, ternyata.

"Tidak, aku tidak menunggu lama." Sehun menanggukkan kepalanya imut.

"Ayo, kita pergi."

Dan Jongin keluar dari persembunyiannya saat dua orang itu telah menghilang dari pandangannya. Dia berjalan menuju motornya dengan dua tangan berada didalam saku dan seringai di bibirnya.

"Lihat saja Sehun, aku akan menghukummu."

-...-.-

Kita kembali ke taman. Jika kalian bertanya kenapa, karena seorang makhluk ber-eyeliner masih duduk terpaku dengan mulut terbuka disana.

Berkali-kali Baekhyun berkedip. Mencoba memproses kejadian sekitar tiga menit yang lalu terjadi disana.

Tadi dia diajak makhluk cadel yang sialnya imut kesini, lalu makhluk setengah onta bisulan yang juga sayangnya calon sutradara datang. Dan lebih sialnya, mereka berdua sahabatnya.

Lalu, lalu, Sehun-

"OH SEHUUUNN!" jeritnya dengan nada tinggi. Membuat burung burung berterbangan seperti di adegan salah satu anime favorit author.

Tapi kemudian dia terdiam.

Tunggu, tunggu.

Tadi Sehun bercerita, kalau Sehun akan pergi dengan Tao dan tidak memberitahu Jongin. Dan Luhan berteriak seperti kesetanan dan mengatakan kalau Jongin hitam.

"Bukankah Jongin memang hitam, ya?" Baekhyun kembali mengingat apa solusi yang dikatakan Luhan tadi.

Seingatnya, Luhan tadi tidur dengan liur bak bengawan solo, lalu Luhan berteriak, dan kemudian Luhan tertawa seperti sinterclause, lalu kemudian dia menyuruh Sehun untuk tetap pergi tanpa memberitahu Jongin.

"Lalu apa yang salah? Luhan menyuruh Sehun pergi dengan Tao dan tidak perlu memberitahu Jongin. pergi dengan Tao dan tidak memberitahu Jongin? Tidak memberitahu Jongin? Hhmm~ apa ya?" dia bergumam.

Loading.

10%

40%

70%

90%

90,1%

90,2% (Readers : kelamaan woy!)

100% - connected.

"SSEHUUUN! JANGAN DENGARKAN LUHAN DAN JANGAN PERGIII!"

Oke, kita tinggalkan saja Baekhyun dengan segala kelemotannya hari ini.

=.==.==.==.==.=

"Akhirnya sampai juga. Lelah sekali, padahal hanya mengobrol dengan Tao hyung." Gumam Sehun saat dia berada didepan apartemennya.

"Setelah ini aku akan ke apartemen Jongin saja." Ucapnya saat melihat bubble tea yang dibelikannya pada Jongin.

Dia segera memasukkan nomor nomor yang telah dihapalnya pada alat keamanan di samping pintu apartementnya. Dan mendorong pintu itu pelan.

Sehun masuk dan berjalan menuju kamarnya setelah sebelumnya melepas sepatu dan kaos kakinya. Bubble tea yang akan diberikan pada Jongin diletakkan di nakas sebelah tempat tidur. Sekarang Sehun hanya akan berbaring sebentar baru kemudian pergi ke apartement Jongin.

Dia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup mata, merasakan hembusan angin sore yang menyusup masuk melalui jendela.

Uh~ segarnya angin sore.

Eh, tunggu.

Sehun membuka matanya dan bangkit dengan cepat. Seingatnya dia tidak membuka jendela saat pergi tadi pagi. Lalu kenapa bisa terbuka?

Dia berjalan mendekati jendela itu dan berhenti didepannya.

"Tidak mungkin itu angin, jendela ini kan selalu ku kunci. Atau mungkin pencuri?" monolog Sehun.

"Mungkin benar itu pencuri, ap- AAA-..."

"Ssstt..."

Sehun terpekik saat merasakan sepasang lengan melingkari tubuhnya dari belakang, tapi kemudian merengut karena menyadari siapa yang memeluknya.

"Aish, Jongin! kenapa tidak memberitahu jika kau datang, ku kira tadi pencuri." Sungut Sehun. Dia menyamankan diri dalam rengkuhan Jongin. tanpa tahu seringai mulai tumbuh di bibir kekasihnya.

"Aku memang pencuri hatimu, Sehunnie." Bisik Jongin seduktif pada telinga kiri Sehun.

"Emm, Jongin." panggil Sehun saat Jongin mulai meniup niup telinganya.

"Hmm?" Jongin hanya menggumam, mulutnya sibuk menjilat dan menggigit kecil cuping telinga kekasihnya itu.

"Jongin oke? Atau lapar? Akan aku bawakan bubble teanya." Ucap Sehun cepat saat alaram tanda bahaya mulai berdenging di kepalanya. Dia tidak mengerti kenapa, yang jelas dia harus sesegera mungkin menjauh dari jangkauan Jongin.

"Tidak tidak, aku membutuhkanmu sekarang." Ucap Jongin. Meniupkan angin ke telinga kanan Sehun.

"Tidak." Sentak Sehun. Setelah terlepas dari kungkungan Jongin, segeralah dia berucap. "Biar aku ambilkan bubble tea." Ucap Sehun final. Kaki kakinya segera berlari meninggalkan tempat itu.

Sedangkan Jongin menyeringai dan memilih duduk di atas ranjang kekasihnya.

-...-

"Jongin." panggil Sehun. Kepalanya menjulur dari pintu. Mulai melangkahkan kakinya saat melihat Jongin tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.

Mukanya memerah saat melihat Jongin yang tidak mengenakan kausnya.

"Jongin kenapa tidak memakai baju!" pekik Sehun. Satu wadah bubble tea vanilla yang tadi dibelinya pun telah diletakkan di atas nakas samping ranjang.

Dalam satu tarikan, Sehun telah terbanting ke atas ranjang hingga memantul. Membuatnya terpekik kecil sesaat.

"Aduh~"

"Bagaimana tadi jalan-jalannya, sayang?" tanya Jongin yang kini berada di atasnya.

"Menyenangkan kok." Jawab Sehun. "Aku tadi banyak mengobrol dengan Tao hyung di kedai bubble tea yang sering kita kunjungi itu loh, Jongin. Sampai lupa waktu jika saja Luhan hyung tidak menelpon dan mengingatkan tentang janjiku bersamanya jam tujuh nanti." Sehun bercerita tanpa sadar. Ta-...

"Jongin kenapa berada diatasku?" tanya Sehun akhirnya.

"Aku memiliki beberapa pekerjaan disini." Hembusan nafas Jongin menerpa permukaan kulit wajah Sehun. Bagaimana tidak, wajah mereka begitu dekat, hidungnya saja bersentuhan.

"Pe-pekerjaan apa?" tanya Sehun gugup.

"Pertama, mengingatkan kekasihku bahwa dia memiliki aku untuk di ajak pergi. Kedua, mengingatkan kekasihku bahwa kekasihnya itu seorang pencemburu. Ketiga, mengingatkan kekasihku bahwa jangan lagi pergi dengan pemuda lain tanpa seijinku. Dan terakhir, karena kekasihku nakal, aku akan memberikannya sedikit hukuman."

Glek.

Oke, perasaan Sehun mulai tidak enak.

"Jong—hmmppffttt..." ucapan Sehun terbungkam oleh bibir tebal yang kini berada diatas bibirnya.

Jongin terus menggerakkan bibirnya, mencoba mencari posisi yang membuatnya lebih leluasa untuk menjelajahi benda kenyal milik keasihnya itu. Tangannya mengusap sisi wajah Sehun, mencoba membuat Sehun menghentikan perlawanannya.

Pemuda bermarga Kim itu mengigit pelan bibir bawah Sehun. Membuat mulut Sehun terbuka karena kaget. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Lidahnya segera melesat ke dalam rongga mulut Sehun. Mengabsen setiap hal yang berada di sana. Mengajak lidah Sehunnya saling membelit. Saking intensnya ciuman itu, hingga saliva yang entah milik siapa mengalir dari sudut bibir Sehun.

"Emmmpphh." Sehun terus berontak karena hampir kehabisan nafas. Tangannya mencengkeram bahu Jongin, mengisyaratkan agar pemuda tan itu mengakhiri kegiatannya. Tapi tampaknya Jongin benar-benar cemburu. Matilah kau, Oh Sehun.

Sementara Sehun masih kekeuh pada pemberontakannya. Jongin terus melancarkan aksi balas dendamnya. Lidahnya terus menginvasi bibir Sehun. Sesekali menghisap bibir bawah kekasihnya kuat. Yang dia yakini akan membengkak setelahnya. Persetan dengan hal itu, Jongin hanya menghukum kekasih nakalnya ini.

Jongin menyudahi kegiatannya setelah sebelumnya menghisap bibir Sehun kuat. Merasakan bahwa kekasihnya akan benar-benar mati kehabisan oksigen jika dia tidak segera melepaskannya.

"Haah, haah, Jongin, tunggu aku bisa jelas-..." kembali ucapan Sehun terpotong oleh ciuman Jongin. kini tangan Jongin yang bereaksi. Tangan kanannya turun dan membelai perut rata Sehun. Memasuki kaos yang dikenakan kekasihnya dan mencari tonjolan merah muda disana.

"Hmmmppff..." erang Sehun saat merasakan benda asing sedang memelintir nipple nya. Seluruh tubuhnya merasa merinding. Dia mendongak dan ciuman mereka terlepas.

Jongin berpindah pada leher putih Sehun. Menghisap area leher dan mengigitnya. Menciptakan ruam kemerahan yang pasti akan membekas beberapa hari kedepan. Tangannya masih sibuk menginvasi nipple Sehun. Sedangkan tangan kirinya menanggalkan kaos Sehun.

"Ennggh, Jongiinn. Ber-berhentii."

Jongin menulikan pendengarannya, memilih menghisap nipple Sehun yang telah terbebas dari kaos. Tangan kanannya mencubit gemas nipple kanan Sehun. Membuat si empu mengerang karena ulahnya. Kedua tangan Sehun mencengkeram sprei sisi kiri kanannya. Menyalurkan sebuah perasaan yang meledak ledak. Sehun sungguh takut.

"Jjjongiinhh~~"

Pemuda yang dipanggilnya tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan beranjak berdiri. Membuat Sehun menghela nafas lega. Matanya tertutup dan nafasnya terengah engah. 'Apa yang barusan Jongin lakukan?' Bingungnya.

"Aaah!" Pekik Sehun saat dia merasakan dada dan area perutnya yang tidak terbalut kain menjadi dingin. Matanya membuka dan membulat saat melihat bagian tadi basah oleh... air bubble tea?

Jongin duduk di samping ranjang dan mulai mengoleskan krim yang tadinya berada di atas bubble tea ke bibir, dagu, leher dan juga nipple Sehun. Membuat Sehun menatapnya kebingungan. Dan tatapan itu membuat Jongin gemas.

Anak ini benar-benar polos atau bodoh sih? Jelas jelas Jongin telah melakukan hal-hal seperti ini dan Sehun masih saja menatapnya heran?

Jongin yang gemas melempar gelas bubble tea itu sembarang arah dan mulai menjalankan aksinya. Bibirnya meraup bibir merah muda Sehun yang telah membengkak. Membersihkannya dari krim vanila yang tadi sengaja dia sebarkan.

"Emmhh~~" desahan Sehun teredam oleh ciuman Jongin. jongin sendiri merasa tubuhnya merinding saat mendengar suara Sehun tadi.' Sehun's voice is so damn sexy!' umpatnya dalam hati

Setelah krim di bibir Sehun habis, Jongin turun ke leher Sehun yang telah terdapat ruam-ruam kemerahan.

"Enngghh~ Jjjongin, Telephoonee..." ucap Sehun susah payah saat mendengar suara deringan dari ponsel di samping nakas.

"Angkat saja." Ucap Jongin cuek tanpa menghentikan kegiatannya.

Ya Tuhan, bagaimana bisa Sehun mengangkatnya jika bicara saja susah.

"Hhh~ hentikhaan dulhuu~~"

"Tidak mau."

Sehun hanya bisa pasrah dan meraih ponselnya.

"Hhaloohh?"

"OH SEHUN! KAU PIKIR INI JAM BERAPA, HAH? INI SUDAH JAM DELAPAN DAN KAU TIDAK JUGA DATANG? AKU HAMPIR MATI MENUNGGUMU DISINI!"

Mata Sehun yang memerah menatap jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya. Dan benar saja, jam telah menunjuk angka delapan.

"M-maaf hyuungghh. A-aku ttidak bisa datangghh."

"Sehun? Kau baik baik saja? Kenapa suaramu aneh sekali."

"Aaah..." Sehun memekik saat Jongin menggigit nipplenya dengan sengaja. Ya Tuhan, Sehun benar-benar malu. "Aakuuhh sakit, hyung." Jelas Sehun susah payah.

"Sakit? Apa aku perlu kesana?" suara Luhan terdengar khawatir. Sebuah bohlam imajiner menyala diatas kepala Sehun.

'Jika Luhan hyung kesini, Jongin pasti akan berhenti. Hahaha, kau memang jenius' batin Sehun.

"Iy-.. Aaawww, tidak perluuuh." Baru saja akan mengatakan iya, Jongin telah menggigit sisi perutnya. Dan itu pasti sakit.

"Kau yakin? Kau tidak terdengar baik, hunna."

"Iya. Sssttt... aah~"

"Baiklah, aku tutup teleponnya. Lain kali saja, kau beristirahatlah-..."

Sehun tidak begitu memperhatikan apa yang di ucapkan Luhan. Lidah Jongin yang menggelitik di bawah pusarnya membuatnya pusing.

"Okee." Dan sambungan dengan sepihak diputus oleh Sehun. Ingatkan Sehun untuk minta maaf pada Luhan setelah ini.

Kini Jongin berpindah pada cuping telingannya.

"Jangan dekati Tao lagi. Cukup hanya lihat aku." Peringatnya.

"Jongin, tolong hentikhaann~"

Jongin tidak mendengarkan ucapan Sehun. Tangannya bergerak turun ke celana Sehun. Meremas dengan kuat kemaluan Sehun yang terbalut celana.

"Joongginn~ ber-berhentii... hiks."

Seluruh kegiatan Jongin berhenti seketika ketika mendengar isakan Sehun. Seringai yang sedari tadi bersemayam di bibir Jongin luntur seketika. Tubuhnya serasa membeku. Satu yang dia lupakan, Hunnienya masih begitu polos.

"Hiks, hentikan Jongin. Sehun takut." Ucap Sehun pelan dengan tubuh gemetar. Dia benar-benar takut dengan Jongin yang seperti ini.

"Sehun, Sehun takut, Hiks. Jangan lanjutkan, jangan, jangan." Gumam Sehun. Sehun yang terlihat begitu ketakutan membuat Jongin merasa bersalah. Jongin memilih turun dari atas Sehun dan memeluk kekasihnya erat.

Apa yang barusan dia lakukan? Dia baru saja hampir menodai hunnienya?

"Ssstt... Sehun, maafkan aku, maaf. Aku terlalu cemburu tadi, maafkan aku."

Sehun hanya terus menangis tanpa menjawab. Membuat rasa bersalah Jongin semakin menjadi-jadi. Jongin beranjak dari kasur dan mengambil pakaian Sehun. Membawa Sehun untuk duduk dan memakaikannya pakaian.

"Sehunnie, jangan menangis. Aku benar-benar minta maaf. Kumohon, maafkan aku."

"Kenapa Jongin harus seperti itu padaku? Kenapa Jongin lakukan itu? Hiks, apa salah Sehun? Sehun hanya membeli bubble tea bersama Tao hyung, Sehun tidak mencium Tao hyung, juga tidak melakukan hal tadi bersama Tao hyung, tapi kenapa Jongin menghukum Sehun seperti ini?"

Ugh, polosnya kau Sehun.

"Ma-..."

BRRAAKK.

Suara pintu yang terbuka dengan kasar mengalihkan perhatian kedua orang itu. Di depan pintu terlihalah Luhan dengan wajah kaget. Mukanya perlahan berubah merah saat melihat Jongin tanpa atasan. Hal yang 'iya-iya' mulai berkeliaran di kepalanya.

"KIM JONGIN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA SEHUNKU?!" bentaknya.

"Lu-luhan, ak-aku bisa jelaskan." Jawan Jongin gelagapan. Luhan yang mengamuk akan sangat menyeramkan daripada Singa yang sedang terkena sariawan. Bahkan Luhan sembilan koma sembilan kuadrat lebih menyeramkan.

Luhan telah bersiap menerkam Jongin, dan Jonginpun telah bersiap untuk lari. Sehun? Dia hanya melongo di tempat. Dan terjadilah kejar-kejaran di kamar apartement Sehun.

"JANGAN LARI KAAUU!"

"LUHAN, DENGARKAN AKU DULU. AKAN AKU JELASKAN."

"KAU BISA MENJELASKANNYA PADA MALAIKAT MAUT NANTI!"

"Ada apa sih berisik sekali?" tanya Baekhyun yang tiba-tiba datang. Luhan dan Jongin menghentikan kegiatannya sejenak.

"Byun Baekhyun, si Hitam Pesek ini telah melakukan tindakan pelecehan seksual pada Hunna!" profokasi Luhan.

"Pelecehan Seksual?" ulang Baekhyun. Matanya beralih pada Sehun. Sehun terlihat baik baik saja, selain terlihat ruam di lehernya. Kini giliran Jongin. Jongin juga baik-baik saja. Tapi, hey! Kenapa makhluk itu tidak memakai baju?

Matanya membulat kemudian.

"LUHAN! JANGAN-JANGAN, SEHUN TELAH MENJADI KORBAN PELECEHAN SEKSUAL?"

"KAMPRET!"

Luhan beralih menghampiri Baekhyun dan mengguncang guncangkan kepala makhluk yang mendadak begitu gila. Tak berhenti disitu, Luhan meraih sebotol air yang entah kapan berada di meja sampingnya. Berkumur dengan air itu dan menyembur Baekhyun tepat dimuka.

"PERGILAH KAU WAHAI ARWAH PENUNGGU POHON SEMANGKA! TINGGALKAN RAGA MAKHLUK JELEK YANG SERING MEMAKAI AILINER DENGAN CORAK NORAK INI!"

"Hey! Hey! Lepaskan Luhan! Kau bau! Dan itu eyeliner bukai ailiner! Ugh, baumu~" pekik Baekhyun. Padahal Baekhyun tadi hanya penasaran karena apartement Sehun yang berada di sebelah apartementnya begitu ramai. Tapi kenapa dia harus berakhir seperti ini?

Sehun tertawa melihat keduanya. Dan Jongin yang berada di sudut ruangan pun ikut tertawa kecil. Dia sadar akan tawa Sehun. Itu artinya dia telah di maafkan. Leganya~

"Hey makhluk hitam yang hidungnya tersamarkan(?)! berhenti tertawa mesum dan lawan kami!" ucap Luhan. Di sebelahnya ada Baekhyun. Dan entah sejak kapan wajah keduanya telah dihiasi corengan seperti akan berperang.

Glek.

"Mati aku." Gumam Jongin.

"HIIYAATTT..." dan pekikan Baekhyun memulai kejadian yang berhenti sebelumnya.

Mereka berlari keluar kamar meninggalkan Sehun yang tertawa hingga perutnya sakit. Bahkan semakin tertawa saat mendengar pekikan menakjubkan mereka.

"ADDUUHH! LEPASKAN AKU! KALIAN PSYCHOOO!"

"TERUSLAH BERMIMPI, KIM JONGOS!"

"AKU TIDAK SEDANG TIDUR, KIJANG! DAN NAMAKU JONGIN, LEPASKAAN!"

"ITU RUSA! BUKAN KIJANG, HIDUNG KUTIL."

"LUHAN! SIRAM DIA DENGAN SAUS TAR-TAR!"

"IDE BAGUS!"

"TTIIDAAAKKK!"

-TBC—

Yeay, selesai.

Di chapter sebelumnya jiejie pernah bilang mau menamatkan fic ini, kan?

Jiejie emang mau namat in, tapi entah kenapa feel nya buat chapter akhir belum keluar. Idenya juga belum bercabang panjang(?). jadi keputusan akhirnya, jiejie akan ngadat lagi buat nentuin akhirnya. Hehehe ^.^

Oh ya, jiejie mau buat drabble tentang pair all x Sehun. Mohon pendapatnya ^_^

Dan buat fic cita cinta, dua chapter lagi bakal tamaaatt~ #tiupterompet.

Thanks for suppot.

Akhir kata.

,

Mind to review?