All about love
.
.
Kaihun^^
.
.
Warning : typoo bermekaran, boys love, dkk.
.
.
.
.
Hope you like it.
.
Don't like don't read.
/
/
/
7. ONLY YOU
.
.
"Sehunna, kau ingin pergi denganku nanti sore?"
Sehun mengangkat kepalanya dari deretan kalimat yang terpampang di buku fisikanya. Menatap orang yang baru saja melontarkan pertanyaan kepadanya.
"Kemana Tao-hyung?" tanya Sehun.
"Emm... entahlah, aku juga belum tahu ingin mengajakmu kemana. Mungkin kita akan mendapatkan tempat yang pas jika kita berkeliling nanti. Lagipula, besok aku akan izin ke China." Jawab Tao kikuk. Bagaimana tidak, bekas gigitan nyamuk terlihat dengan jelas di sela kemeja biru Sehun. Mari tidak menyebutnya kissmark, karena Tao bersikeras tentang itu. Ups.
"Aku juga entahlah, hyung." Jawab Sehun aneh.
"Maksudmu?"
"Aku ada masalah dengan Jongin kemarin, dan aku tidak ingin masalah kami jadi semakin buruk." Jelas Sehun.
"O-oh begitu." Ucap Tao putus asa. Sehun mengangguk imut.
"Iya, kata Kyungsoo hyung aku harus mengatakan hal itu jika Tao hyung mengajakku lagi."
Bruuukk
Dengan itu, Tao terjengkang dari kursi kantin dengan posisi mengenaskan.
Poor Tao.
"Sehun!"
"Ya?" Sehun berhenti melangkah dan menatap orang yang memanggilnya.
"Oh, Baekki hyung."
"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun. Mulutnya penuh dengan permen yang didapatnya dari Chanyeol. Pemuda tinggi itu tiga hari absen karena membantu pamannya memanen lobak. Dan syukurlah dia kembali dengan sekantung besar permen strawberry, jika tidak, bisa dipastikan pemuda pendek bermarga Byun yang adalah partner kelompoknya itu akan menguburnya hidup hidup karena absen saat akan di adakan presentasi bab fluida dan induksi elektromagnetik sekaligus. Oh, betapa beruntungnya kau, Park.
"Aku akan ke perpustakaan, materi presentasi ku belum selesai, hyung." Jawabnya sembari mengangkat buku tugasnya.
"Aku iku-..."
"Aku akan menemani mu." Baekhyun melotot pada Jongin yang memotong ucapannya. Oh, mungkin tidak hanya karena ucapannya. Tapi juga karena tindakan pelecehan yang dilakukan pemuda berkulit french fries gosong itu kemarin.
"Tidak. Kau tidak akan menemani Sehun, kkamjong." Ucap Baekhyun tegas.
Jongin merengut tak suka. Bagaimana ti-...
"Baekhyun benar. Aku dan Baekhyun yang akan menemani Sehun. Kau tidak boleh ikut." Ucap Luhan yang tiba tiba muncul disana.
Inginnya sih Jongin berteriak, tapi pipi kanannya masih nyeri. Sudahkah Jongin bilang kalau dia benci saus tar-tar karena di film spongebob kesukaannya, saus tar-tar dapat melepuhkan(?) segalanya? Dan oh, terimakasih juga kepada duo macan itu sehingga Jongin jadi tahu kalau dia alergi pada saus jenis itu. Terimakasih juga untuk siraman saus tar-tar di pipinya yang mulus. Hingga pipinya yang semula hitam menjadi memerah dan amat-sangat-sungguh gatal.
Bukan salah mereka juga sih sebenarnya, salahnya juga yang menggaruk pipinya hingga terluka. Tapi hey! Jika saja mereka tidak menyerangnya secara membabi buta kemarin, pipinya tidak akan diberi plaster yang bahkan berwarna lebih cerah dari kulitnya. Jongin lebih gondok dengan plaster itu, jika boleh jujur.
Jongin mengumpati jiwa binatang liar semacam anoa dan cacing besar alaska yang bersarang indah di tubuh duo melati(?) itu.
"Ayolah hyung, aku tidak sengaja kemarin." Bela Jongin.
"Tidak sengaja yang seperti apa, hah?! Kau dengan tangan tangan dekilmu itu seenak hidung kutilmu menyentuh Sehun!" marah Luhan. Si rusa beijing ini memang tidak bisa nyantai jika sedang marah. eh, tidak hanya jika marah saja deh. Setiap hari hobby Luhan memang berteriak seperti itu sih.
"Bahkan Sehun telah memaafkanku, hyung." Jongin tidak menyerah.
"Jongin, aku tidak menyangka kau melakukan tindak pidana itu. Ku kira aku telah mendapatkan orang yang tepat untuk Sehunku. Tapi ternyata, kau tidak lebih dari seorang anak bangau dengan rupa tiga dimensi." Iya sih, suara Baekhyun tidak berteriak seperti Luhan. Tapi gayanya itu loh, sudah seperti orang tua yang telah hidup selama hampir tiga puluh abad.
"Hyung! Tidak cukupkah kalian menyiramku dengan saus tar-tar?! Mengikatku dan menaruhku di gerobak dan kalian tarik menggunakan mobil?! Tidak cukupkah membuatku malu dengan menarikku berkeliling Seoul?!" ucap Jongin kesal. Oh, dia tidak sadar jika dia menambah asupan kemaluan(?)nya dengan berteriak tentang hal hal tersebut diatas. Lihatlah, banyak orang yang memandang mereka aneh.
"HEY ANAK DUREN! BERANINYA MEMBENTAK KAMI?! JIKA SAJA KAU BUKAN KEKASIH SEHUN, SUDAH KU TEKAN HIDUNGMU HINGGA MENYENTUH OTAK BELAKANG!" bentak Baekhyun. Giginya bergemeletuk, eh bukan giginya, tapi permen yang di kempolnya(?) di mulut tadi.
"Sudahlah Baek, tidak ada gunanya memarahi Jongin." Baekhyun melongo, Jongin melongo kuadrat, Sehun? Dia sudah ngacir duluan sejak Baekhyun mengatakan bahwa Jongin tidak boleh menemaninya, good job lah, hun.
Luhan? Itu tadi Luhan? Dimana nada tingginya? Apakah nada tingginya diberi alamat palsu? Ataukah si nada tinggi ingin fokus UN?
"Lebih baik... KITA IKAT DAN TARUH DIA DI GEROBAK KEMARIN!" teriak Luhan.
"IDE BAGUS, LUHAN! DAN SERET DIA MENGGUNAKAN MOTOR JONGDAE KELILING KOREA! KELILING KOREAAAA!"
"TIDAAAAKKKK!" oh, itu pasti teriakan Jongin.
"YACK! JANGAN LARI KAU, BISUL ONTA!" teriak Luhan. Kini dia berlari mengejar Jongin. meninggalkan Baekhyun yang tertawa setan.
"Aduh, perutku sakit." Ucapnya sembari memegang perutnya.
"Eh, Luhan kenapa lari begitu? Dia mengejar siapa?" ucap Baekhyun bermonolog.
Baekhyun hanya mengangkat bahunya acuh dan mulai membuka sebungkus permen dari saku celanannya. Dan tepat saat permen itu akan bersarang di mulutnya. Luhan berlari kesetanan dan menariknya. Membuat permen tak berdosa itu jatuh dan terkontaminasi dengan kejahatan dunia luar.
"PERMENKUUU~" ratap Baekhyun penuh penyesalan.
"KAU KENAPA SIH LUHAN? APA SALAH PERMENKU?"
"KAU YANG BODOH, BODOH!" umpat Luhan. Dia menarik Baekhyun untuk berlari menyusuri jalannya tadi.
"KITA MAU KEMANA?!"
"MENGEJAR MAKAN MALAM KITA!"
"AKU TIDAK LAPAR! DAN AKU BUKAN MANUSIA PURBA, DEMI TUHAN, LUHAN! KITA BISA MEMBELI MAKAN MALAM DAN BUKAN MEMBURUNYA." Luhan menghentikan langkahnya dan menaruh kedua tangannya di pundak Baekhyun. Dia menghela nafas lelah, jika sisa umurnya ditukarkan dengan kiloan bawang, mungkin dia hanya akan mendapatkan satu siung. Itupun jika bawang itu tidak berlubang dimakan rayap.
"Dengar kawan, kita akan mengejar Jongin dan mengikatnya dan menaruhnya di gerobak dan menyeretnya menggunakan motor vespa milik Jongdae yang mengeluarkan asap tebal bak ledakan gunung meletus dan mengikat Jongin di belakang vespa Jongdae dan membiarkannya terkena asap tebal bak ledakan gunung meletus milik vespa Jongdae dan membiarkan muka hitam Jongin tercemar oleh limbah asap knalpot vespa Jongdae dan menariknya mengelilingi Korea. Arrachi?" jelas Luhan dengan bahasa khusus Baekhyun.
"LALU UNTUK APA KAU DIAM DISINI, HAH?! AYO KEJAR JONGIN, BODOH!"
"KAMPRETTTTT!"
Sehun menghembuskan nafas lega. Dirinya telah berhasil melarikan diri dari pertarungan tiga buah kuaci tadi. Kini, dia bisa dengan tenang mengerjakan tugasnya.
Sehun melangkah ke rak rak tinggi untuk mendapatkan buku tentang ISPA. Materi yang dijelaskan dosennya dua hari yang lalu. Dia menjinjit untuk menggapai buku yang terletak di rak atas.
Ayolah, Sehun juga termasuk tinggi dan dia tidak bisa meraih buku itu?
Tiba-tiba sebuah tangan terjulur untuk mengambil buku incarannya. Sehun refleks berbalik dan membuatnya menyesal saat itu juga. Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dengan bibir orang tadi. Baru kemudian Sehun bernafas lega karena si empunya menarik diri, sedikit memberi ruang.
"Ini." Ucapnya Singkat.
"Uh-oh. Terimakasih." Ucap Sehun tulus. Dia tersenyum memperlihatkan eye smile yang cantik.
Orang itu gugup di buatnya.
"Y-ya."
Sehun memilih berjalan kembali ke bangku yang disediakan. Pemuda manis ini membuka buku tadi dan mulai menulis dengan serius. Bahkan tak terganggu saat terdengar suara kursi yang digeser dan seseorang yang duduk di hadapannya.
"Umm, hai."
Sehun mendongak dan tersenyum. "Oh, annyeong." Balasnya.
"Kau Sehun kan?"
"Iya?" jawab Sehun bingung. Bagaimana bisa pemuda di hadapannya ini tahu namanya?
"Ah, kau pasti bingung. Aku Wu Yifan, semester delapan, fakultas farmasi. Salam kenal, Sehun." Ucap Pemuda tadi.
"Ne, salam kenal Kris-sunbae."
"Bagaimana kau tahu nama panggilanku?" kali ini Kris yang bingung.
"Tentu, kan sunbae kemarin mendapat piala di olimpiade farmasi nasional kan? Aku tahu nama sunbae tapi tidak dengan orangnya. Hehehe." Kris tersenyum. Betapa manisnya pemuda dihadapannya ini.
"Kau dari fakultas kedokteran, kan?" tanya Kris memecah keheningan.
"Iya, fakultas kedokteran, semester enam, Oh Sehun imnida." Jawab Sehun ceria. "Sunbae sedang apa di sini?"
"Aku sedang ingin sendiri saja." Sehun yang merasa mengganggu pun pamit.
"Ah, maaf jika aku mengganggu sunbae, aku akan per-..."
"Tidak." Potong Kris cepat. "Maksudku bukan begitu, aku ingin sendiri, tapi denganmu. Eh, tidak seperti itu, hanya saja..."
"Aku mengerti." Ucap Sehun. Dia mendudukkan dirinya kembali. "Tidak apa-apa kok kalau Kris-sunbae mengatakan yang sebenarnya. Aku memiliki sahabat yang blak-blakkan, jadi Kris-sunbae tidak perlu sungkan."
Jantung Kris dag-dig-dug sendiri mendengar ucapan Sehun. Rasanya seperti 'Tidak apa-apa kalau sunbae menyatakan cinta padaku, aku memiliki sahabat yang blak-blakkan, jadi aku tidak akan kaget'
"Baekhyun-hyung juga tidak suka kesepian, sama seperti sunbae."
Eh, tunggu. Jadi maksudnya?
"Tidak Sehun, aku bukan tidak suka kesepian, memang aku tidak suka kesepian, tapi bukan berarti aku kesepian, maksudku..."
Ucapan Kris terhenti karena tawa renyah dari Oh Sehun. Junior yang dia sukai.
"Tuh kan, sunbae kikuk sekali. Aku bukan dari kalangan bangsawan kok, sunbae. Jadi tidak perlu sebegitunya."
Aduh, tidak taukah Sehun kalau Kris merasakan jantungnya akan segera naik ke kerongkongan? Dia benar-benar gugup.
"Sehun." Panggil Kris.
"Iya, ada apa Kris-sunbae?"
Kris memutar otaknya. Bagaimana caranya dia bisa berbicara lebih lama dengan Sehun. 'Ayolah otak, bekerjalah sekarang. Dan aku janji nanti malam kita akan makan pecel.' Batin Kris.
"Kau sedang apa?"
'Loser!' Kris mengumpati dirinya sendiri. Pertanyaan standard yang biasa digunakan remaja labil saat sedang pendekatan. Apakah kau tidak bisa lebih baik dari ini?
"Mencari materi, sunbae. Minggu depan akan ada presentasi dari Mr. Kang." Kris menyeringai, dia mendapatkan pancingan.
"Materi apa memang?"
"Tentang ISPA. Ini tugas individu, jadi aku mencari sendiri. Untung ada sunbae, jadi aku tidak sendirian." Jawab Sehun sambil tersenyum.
"Bisakah kau berhenti tersenyum tanpa alasan, Sehun? Sayangilah Jantungku." Gumam Kris.
"Sunbae mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Maksudku, kau sudah menyelesaikannya? Mr. Kang adalah dosen yang perfectionis, jika kau lupa. Beliau jarang mengatakan bagus kecuali memang benar-benar bagus." Kris memilih duduk dengan menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Memandangi Sehun dengan intens yang untungnya sama sekali tidak di sadari Sehun.
"Belum, sunbae. Aku baru akan mengerjakannya. Aku sedikit gugup tentang itu, Sunbae mau membantuku?"
"Tentu, mau mulai dari mana?"
"Dari mana saja lah, sunbae." Pasrah Sehun. Dia sudah sangat excited tentang privat dadakan Kris. Walaupun Kris dari fakultas Farmasi. Paling tidak mereka sama-sama dari bidang kesehatan.
"Baiklah, kau pasti sudah tahu kalau ISPA singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Tapi banyak juga yang menyalah artikan sebagai Infeksi Saluran Pernapasan Atas. ISPA ini meliputi saluran pernapasan atas dan juga bawah. ISPA ini penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat." Sehun dengan rajin mencatat di buku birunya.
"ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat, dapat menjadi pneumonia. Sehun tau jenis infeksi pernapasan?" tanya Kris.
"Yang aku tahu baru Influenza, Bronkitis, Sinusitis, Paringitis dan juga Bronchiliolitis, yang lainnya aku lupa, sunbae." Aku Sehun dengan cengiran.
"Kalau pneumonia?"
"Ah, infeksi di alveoli kan, eum, infeksi yang mengenai parenkim paru?"
"Benar, ada juga Laryngotracheobronchitis, Otitis externa dan Otitis media."
"Oh iya, aku lupa." Kris tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Etiologi sebagian besar penyakit jalan napas atas ini oleh virus dan tidak diperlukan terapi-..."
-.-.-.-.-
"-terapi antibiotik, gejala dan tanda umumnya seperti demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, hidung buntu, pilek, batuk, nafas cepat & dalam. Juga suhu tubuh meningkat, retraksi intercostals, gambaran paru abnormal dan pemeriksaan darah abnormal."
Mr. Kang mengangguk-angguk dan mencatat sesuatu di buku nilai. Sehun masih mempresentasikan materi yang didapatkannya minggu lalu dengan lancar.
"Patogenesisnya, ISPA ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotic. ISPA di klasifi-..."
"Cukup, Oh Sehun-ssi. Presentasi yang bagus. Selanjutnya."
Sehun kembali duduk di bangkunya sembari diam-diam menghembuskan nafas lega. Tangannya yang dia bawa ke bawah meja untuk mengetikkan pesan untuk Kris.
'Sukses, Sunbae. Terima kasih banyak.'
"Maaf Jongin, aku tidak bisa. Aku harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mrs. Cha." Ucap Sehun sekali lagi.
"Kau ini kenapa, Sehun? Sudah satu minggu lebih kau selalu menolak saat ku ajak. Lagipula tugas Mrs. Cha masih satu minggu lagi, Hunna." Ujar Jongin.
"Tapi Jongin, aku harus menyelesaikannya secepat mungkin."
Jongin terdiam. Kenapa sih dengan Sehunnya? Apa karena plester sialan ini tidak hilang-hilang dari pipinya? Kali ini, benar-benar salah duo nada tinggi itu. Mereka mengikatnya dan menariknya di atas gerobak dengan motor Jongdae lagi. Dan itu bisa dihitung sudah lima kali. Dan kemarin, Luhan dan Baekhyun yang mendadak gila-lagi- tidak sengaja terpeleset sebuah batu dan membuat mereka bertiga jatuh.
"Sehun, aku-..."
Ting~
Ponsel Sehun berbunyi. Dan Sehun segera bangkit meninggalkan Jongin.
"Aku pergi dulu, Jongin. daa~"
Jongin beranjak berdiri dan beranjak dalam diam.
"Sunbae sudah menunggu lama?" pertanyaan Sehun membuat Kris mengalihkan perhatiannya dari buku yang dari tadi digelutinya.
"Tidak kok, aku baru saja sampai." Pembohong besar. Kris bahkan membolos setengah jam pelajaran untuk menunggu Sehun disini.
"Syukurlah, ku kira sunbae menunggu lama." Sehun menggeser kursi dan mendudukkan diri di hadapan Kris.
"Eh, dimana bukumu Sehun?" tanya Kris heran. "Katamu kau ingin di ajari tentang materinya Mrs. Cha?"
"Sebelumnya, Maaf sunbae." Ucap Sehun penuh penyesalan. Membuat Kris mengernyit bingung.
"Untuk apa?" tanya Kris lagi.
"Untuk semuanya. Aku terlalu bodoh untuk menyadari sikapku." Kris menutup bukunya dan memusatkan perhatiannya pada Sehun.
Jongin yang sedari tadi menguping pembicaraan Sehun dan Kris di balik rak mengernyitkan dahinya. Sehun seperti akan menyatakan cinta. Dan itu membuat Jongin ikut berdebar.
"Kupikir seharusnya memang tidak apa-apa. Tapi setelah dipikir lagi, ini semuanya salah. Kita tidak punya hubungan yang jelas tapi aku seenaknya meminta bantuan sunbae ini itu selama satu minggu ini. Maafkan aku sunbae."
"Sehun, demi apapun, jangan meminta Kris untuk jadi pacarmu." Ucap Jongin pelan.
"Kalau begitu, jadilah kekasihku Oh Sehun." Ucap Kris tegas.
Sehun tersentak, begitupun Jongin. dia tidak menyangka Kris menyukainya.
"Tapi sunbae, aku-..."
"Putuskan saja pacarmu, lihatlah aku Sehun. Aku berpuluh kali lipat lebih baik dari Kim." Bujuk Kris.
"Memang benar."
Deg.
Jongin merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia terlalu memfokuskan dirinya pada jantungnya hingga tidak melihat tatapan Sehun. Jongin memilih pergi dari sana. Dari pada mendengar ucapan Sehun yang pasti akan lebih memilih Kris.
Jongin terus melangkah tanpa mempedulikan Sehun yang memanggilnya. Sudah dua hari semenjak Pernyataan cinta Kris yang diterima Sehun, Jongin sama sekali tidak mau menatap Sehun. Hatinya sakit. Dia merasa terkhianati.
Apa perjuangannya melewati siksaan dua sahabat Sehun –Baekhyun dan Luhan oh dan juga Kyungsoo juga, Kyungsoo bahkan ikut mengikatnya kemarin- sama sekali tidak berkesan? Apa karena perbuatan Jongin atas Sehun tempo lalu? Apa Sehun masih belum bisa memaafkannya hingga dia memilih Kris? Dan masih banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepala Jongin.
"Jongin, Jongin kenapa sih? Aku salah apa?" Sehun masih berusaha mengejar Jongin. dia tersenyum begitu Jongin berhenti dan menatapnya.
"Berhentilah mengikutiku, Oh. Aku kecewa padamu. Dan berhenti mengganggu hidupku." Senyum Sehun luntur seketika.
"Apa maksud Jongin? sebenarnya ada apa?"
Cukup sudah.
"BERHENTI BERPURA-PURA BODOH, SEHUN!"
Ini kali kedua Jongin membentaknya. Dan berapa kali itupun, Sehun tetap tidak suka.
"JANGAN MENGGANGGU HIDUPKU LAGI!"
Jongin berjalan pelan menuju kantin. Sebenarnya dia sama sekali tidak lapar. Mengingat dia yang membentak Sehun kemarin membuatnya bersalah dan tidak nafsu makan. Tapi tentu dia tidak mau dirinya ambruk di tengah kuis dari Mr. Jung nantinya.
Langkahnya terhenti begitu dia melihat di sebuah bangku kantin. Terlihatlah Sehun yang tersenyum lemah kepada Kris. Dan Kris yang mengusap kepala Sehun penuh sayang.
Amarahnya kembali memuncak. Jongin menendang salah satu bangku kantin hingga menimbulkan suara terjatuh yang keras. Membuat semua pasang mata memandangnya, termasuk Sehun. Dia berjalan meninggalkan kantin diiringi teriakan Sehun.
"JONGIN! TUNGGU AKU!"
Jongin tidak mengindahkan Sehun. Dia malah mempercepat langkahnya menuju gerbang. Persetan dengan kuis nanti. Toh dia pun tidak akan mendapat poin jika memaksa ikut dalam kondisi hati yang seperti ini.
Segera dia mengambil kunci motornya di saku celana dan bersiap meninggalkan Kampus. tiba-tiba Sehun berlari ke arahnya dan menahan lengannya saat motornya akan berjalan. Membuatnya harus menekan rem kuat-kuat.
"APALAGI, HAH?!" Bentaknya.
"Jongin, kumohon. Dengarkan aku." Pinta Sehun.
"PERGILAH!" Jongin mendorong Sehun hingga Sehun terjatuh. Dan segera menarik gasnya.
Sehun sendiri bangkit dan mencoba mengejar Jongin meski nyatanya tidak berhasil. Dia berdiri di jalan dengan nafas terengah. Matanya menatap kecewa. Dia hendak berbalik sebelum-
.
Luhan dan Baekhyun tengah berdebat di halaman kafe dekat kampus mereka. Meski telah berjalan menjauhi kafe, perdebatan mereka tidak juga berhenti.
"Sudah kubilang, harusnya tadi kita memesan ramyeon saja." Ucap Baekhyun.
"Baek, jangan membuatmu terlihat makin bodoh. kita sudah makan ramyeon tadi pagi dan pilihanku sudah tepat dengan memesankan kita steak. Kau saja yang bodoh dengan berteriak di dalam tadi." Balas Luhan kejam.
"Enak saja, kau juga ikut berteriak hingga kita diusir tadi!" elak Baekhyun.
"Sudahlah, lain kali aku tidak mau kau ajak ke kafe itu."
"Kau sa-..."
BRRAKKK.
Keduanya sontak menoleh ke asal suara tadi. Tubuh pemuda yang ditabrak oleh sebuah mobil terpental ke depan. Eh, tunggu dulu. Mereka seperti mengenali si korban.
"SEHUN!" teriak Baekhyun. Mereka berlari menuju tubuh Sehun yang penuh luka.
"HUN, SEHUN, BANGUN." Baekhyun menepuk pipi Sehun yang terdapat luka. Matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Hunna, buka matamu, hey!" ucap Luhan dengan suara tercekat.
"Luhan, ayo bawa Sehun ke Rumah Sakit."
Hari ini, festival kelulusan akan dilangsungkan. Kerja keras perwakilan dari setiap fakultas merasa begitu bangga. Karena festival yang telah di garap mereka hampir satu bulan lebih telah berhasil dilaksanakan.
Begitupun Jongin, dia mengenakan kaos putih dengan leather jaket abu abu. Simple tapi keren. Dia sedang berkeliling untuk mengawasi properti festival. Takut takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Didepan sana dia bertemu Baekhyun. Pemuda bermarga Kim itu segera menghampiri Baekhyun yang sedang bersama dengan Chanyeol.
"Baekhyun hyung." Sapanya.
"Chanyeol, ayo pergi ke sana." Ajak Baekhyun pada Chanyeol. Pemuda tinggi yang kebingungan itu hanya menurut saat tangannya digeret paksa oleh Baekhyun.
Jongin menatap kepergian Baekhyun aneh. Kenapa sih dengan si- eh, itu ada Kyungsoo. Segeralah dia menghampiri Kyungsoo dan berniat menyapanya.
"Kyungsoo hyung." Panggilnya. Kyungsoo hanya memandangnya sekilas dan melanjutkan langkahnya. Jongin semakin uring-uringan. Ada apa sih sebenarnya?
Ah, itu Luhan. Luhan pasti tidak akan mengabaikan Jongin. mengingat sifat Luhan.
"Luhan hyung." Panggil Jongin. Jongin telah berbaik hati memanggil Luhan dengan embel-embel hyung, tapi malah dibalas dengan acuh. Kyungsoo lebih baik, dia memandang Jongin meski hanya sekilas. Tapi Luhan? Dia hanya melewati Jongin tanpa meliriknya sedikitpun.
Akhirnya Jongin memilih duduk di sebuah kursi di depan panggung. Dia merasa kesepian. Meski dia juga memiliki banyak teman. Tapi tidak seperti Baekhyun, Kyungsoo, Luhan dan juga... Sehun. Telah sepuluh hari Jongin sama sekali tidak melihat Sehun. Bohong jika Jongin tidak merindukannya. Di hari ke empat, Jongin bahkan memutari gedung fakultas Sehun. Tapi nihil.
Inginnya sih menanyakan pada sahabat Sehun. Tapi jangankan di tanggapi, di anggap ada saja tidak.
"Maafkan aku Sehun." Ucapnya pelan. Mungkin Jongin telah keterlaluan. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Sehun. Tapi nyatanya, ah sudahlah.
"Jongin."
Jongin menggelengkan kepalanya pelan, dia terlalu merindukan Sehun hingga berdelusi seperti ini.
"Jongin, Kim Jongin. Maafkan aku." Jongin mengangkat kepalanya dan matanya terpaku. Di atas panggung, Sehun berdiri disana. Tapi ada yang aneh dengan penampilan Sehun. Tak hanya dia yang kaget, semua orang yang ada di sana juga.
"Seharusnya aku mengucapkannya dari awal. Tapi kau sama sekali tidak mau mendengarnya." Ucap Sehun di depan mic.
"Maafkan aku, tapi sungguh, apa yang kau pikirkan tentangku itu sama sekali tidak benar. Aku tidak mencoba untuk memutuskanmu atau apapun itu. Aku tidak punya hubungan apapun dengannya." Jongin berdebar mendengar suara Sehun yang begitu di rindukannya.
"Bohong jika aku tidak kecewa denganmu, aku kecewa karena kau tidak mau mendengarkanku. Jika kau kembali padaku, ah, tidak, aku terlalu berharap akan itu –Jongin menggeleng tidak setuju, matanya memerah melihat keadaan Sehun, bahkan dengan mendengar Sehun tidak memanggilnya seperti biasa, melainkan dengan 'kau' sudah menjelaskan semuanya- jika kau memaafkanku lagi, tolong, saat aku melakukan kesalahan dengarkan penjelasanku dulu."
Sehun tersenyum begitu manis namun terkesan miris. Membuat siapapun yang melihatnya merasakan... sakit? Atau pedih? Entahlah.
"Maaf telah membuatmu salah paham, maaf tidak menjadi yang terbaik, maaf telah membuatmu marah padaku dan maaf telah berani muncul di hidupmu dalam keadaan yang mengenaskan."
Baekhyun yang berada di baris depan juga namun beberapa bangku di samping Jongin berdiri, hendak berteriak untuk membantah perkataan Sehun yang mengatakan bahwa keadaannya mengenaskan sebelum ditahan oleh Luhan dan Kyungsoo yang mengapitnya.
"Well, aku baru saja mengalami kecelakaan kecil, Jongin. Maafkan aku muncul dengan arm sling dan perban. Aku juga tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Yang jelas, aku ingin mengatakan kalau aku tidak melakukan hal-hal yang salah. Kau bisa mengeceknya di CCTV setelah ini. Terima kasih untuk semuanya, Kim Jongin. terima kasih pada Baekki hyung, Luhan hyung, Kyungsoo hyung dan juga Kris sunbae untuk menjagaku selama aku ada di Rumah Sakit."
Jongin merasa sangat-sangat-sangat bersalah dan menyesal. Dia bahkan tidak berada di dekat Sehun saat Sehun di rawat di Rumah Sakit. Kekasih macam apa dia?
"Aku tahu, kau dan para hyung kesayanganku merasakan sakit karenaku. Ku rasa, tidak adil jika aku tidak." Sehun melepas arm slingnya dan membiarkan tangannya terjatuh bebas. Semuanya bahkan bisa melihat ekspresi kesakitan Sehun saat melepas gendongan tangan itu. Jongin, Baekhyun, Luhan dan Kyungsoo hingga berdiri karenanya.
"JANGAN MENYAKITI DIRIMU, SEHUN!" teriak Luhan.
"Terima kasih hyung tapi aku harus." Ucap Sehun tegas.
"Dan lagu ini, untuk Kim Jongin. terima kasih untuk waktu yang sangat berharga. Ah, aku terlalu mendramatisir ya. Semoga kalian menikmati."
Alunan musik terdengar. Membuat semua orang makin memusatkan perhatiannya pada Sehun meski sudah dari awal.
Ah lagu ini, soundtrack dari drama 49 days, lagu dari shinjae.
Niga sumswinda niga salgoitda nae gaseumsogeseo
Kau bernafas, kau hidup, di hatiku
Simjangi ullinda niga geotgoitda nae gaseumsogeseo
Hatiku menangis, kau melangkah, di hatiku
Cheoeum naege watdeon nalbuteo geuriumi doeeo neon nareul bureunda
Semenjak kau disisiku, kau selalu dalam pikiranku, panggil aku
Tangan tan Jongin meremas dada kirinya, hatinya berdenyut ngilu
Jakku nunmuri nanda sirin nunmuri nanda
Air mata dingin terus terurai, jatuh tiada henti
Gaseum apaseo neo ttaemune apawaseo
Hatiku pedih dan terasa semakin pedih karenamu
Niga geurin naren itorok geuriun naren
Di hari-hariku, aku merindukanmu, hari hari seperti ini
Bogo sipeo tto nunmuri nanda
Karena aku merindukanmu air mataku jatuh lagi
Sehun berdiri disana, membiarkan rasa sakit terus menjalar dari tulang tangannya yang retak. Walaupun hanya retak dan tidak sampai patah. Itu tetap saja sakit.
Mogi meinda kkeutnae samkyeonaenda saranghandan geu mal
Aku tersedak dalam kata kata, meskipun mengulangnya, kata "Aku Mencintaimu"
Barame ttuinda meolli bonaebonda bogo sipdan geu mal
Pergi menuju angin, melayang jauh jauh pergi, aku merindukan kau mengucapkan kata itu
Chama jeonhal suga eopdeon mal gin hansumi doeeo gaseume heureunda
Kata yang tak bisa ku ungkapkan padamu, jadi desahan panjang dan mengalir di hatiku
Jakku nunmuri nanda sirin nunmuri nanda
Air mata dingin terus terurai, jatuh tiada henti
Gaseum apaseo neo ttaemune apawaseo
Hatiku pedih dan terasa semakin pedih karenamu
Niga geurin naren itorok geuriun naren
Di hari-hariku, aku merindukanmu, hari hari seperti ini
Bogo sipeo tto nunmuri nanda
Karena aku merindukanmu air mataku jatuh lagi
Jakku heulleonaerinda...
Jongin tidak tahan lagi. Dia berlari ke atas panggung dan memeluk Sehun erat namun tak menyakitkan. Jongin tidak bodoh untuk menyakiti tubuh Sehun.
"Maafkan aku, maafkan aku."
Semua orang disitu kini mengetahui sisi lain dari Sehun. Sisi dewasa yang tegar. Sisi yang mungkin tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun. Tentu mereka tahu, Sehun adalah pemuda yang ceria, lugu dan polos. Dan melihat sisi dewasa Sehun yang lain adalah hal yang menakjubkan.
Dan dengan itu, mereka menyanyi, meneruskan lagu yang tadi di bawakan Sehun. Mengiringi Jongin yang terisak untuk pertama kali. Pun mengiringi Sehun yang tersenyum lembut dan menepuk-nepuk bahu Jongin pelan, menenangkan.
"Aku tahu, aku juga minta maaf."
Tbc.
.
.
Epilog.
Jongin tersenyum sendiri di depan monitor ruang CCTV. Dia tidak menyangka Sehun mengatakan hal seperti itu. Dia merasa bodoh dengan menuduh Sehun yang tidak tidak. Oh, Sehun cheesy sekali. Dan Oh, Jongin bodoh sekali.
Ting~
'Jongin dimana? Aku sudah ada di kantin bersama dengan Kris-sunbae'
"APA?! Tidak akan ku biarkan tiang bergigi itu melangkahiku lagi."
Ting~
'Eh, Tao hyung juga ada disini. Dia baru sampai dari China dan langsung menemuiku.'
"APA-APAAN INIIII?! AWAS KALIAAANN!"
Jongin berlari meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru.
"Memang benar."
"-...Jongin memang tidak baik, tapi aku juga tidak lebih baik dari Jongin. aku tidak akan menjadi baik tanpa Jongin selama enam tahun ini. Jongin memang tidak sebanding dengan sunbae. Dengan sifatnya dan kecemburuannya yang konyol dan tidak masuk akal itu. Aku memang tidak tahu apakah hubungan ini akan bertahan atau tidak. Tapi semoga saja keputusanku saat ini benar. Aku tidak ingin memutuskan Jongin."
"Kenapa?" hanya itu yang dapat keluar dari tenggorokan Kris. Ini pertama kalinya dia ditolak. Dan itu melukai harga diri dan juga hatinya.
"Karena dia Kim Jongin. Karena dia Kim Jongin yang aku cintai. Karena dia adalah dia, dan bukan siapapun."
"Baiklah."
"Maafkan aku, sunbae." Ucap Sehun dengan air mata yang mulai turun. Sehun ini memang tidak tega-an orangnya.
"Hey, tidak apa-apa."
"Sekali lagi, maafkan aku sunbae. Tapi aku mencintai Jongin."
"Oke, lagipula kita masih bisa berteman, kan?"
"Tentu."
Really TBC..
Hehehe... jie ya lagi galau waktu ngetik chapter ini. Duit menipis dan ulang tahun sahabat jie ya berjejer kaya kereta api. 23 april, 20 mei dan 23 mei. Ucapkan selamat tinggal pada tabungan jie ya.
Oh, ini lebay nggak? Pasti iya. Soalnya jie ya rada gloomy gloomy gitu. Dan bagian ISPA itu, ya Tuhan... itu materi Semester jie ya kemaren yang bikin jie ya mendadak botak. Hafalan banyak dan bla bla bla #malah curhat.
Minta saran buat chapter kedepannya ya. Kalau ngasih saran akan update cepet kalau nggak ya... tunggu akibatnya, kekeke~ #ketawa psycho
Akhir kata.
Mind to review?
Mind dong!
Ya ya ya /^3^\\
*Booww*
