CiTY CiNDERELLA

Cast: Kim Jong Woon / Yesung, Kim Ryeowook, Seunghyun, Jiyoung, Eunhyuk, Donghae, Kyuhyun, Sungmin and other.

Genre : Romance, Family, Friendship, etc.

Declaimer : FF ini adalah cerita remake dari sebuah novel berjudul "City Cinderella (Cinderella Modern)" dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh Catherine George dan diterjemahkan oleh Khamsa Noory F. dengan beberapa perubahan untuk kebutuhan FF.

Dan semua cast di FF ini milik semua orang yang memiliki mereka, author hanya meminjam nama mereka untuk kebutuhan cerita dan 'kebutuhan hidup' reader pencinta FF khususnya FF YeWook... xD

Warning : Yaoi/BL, M-Preg, some Typho(s).

Don't Like? Don't Read!

HAPPY READING‼!^^

CHAPTER 2…

"Angkat teleponnya, Ryeowook. Aku tahu kau ada. Kita harus bicara. Angkat teleponnya." Lalu jeda sesaat diikuti tawa pelan. "Jangan bersikap kekanakan. Telepon aku."

Ryeowook memelototi mesin penjawab telepon itu. Mendengar suara Taehyun saja masih membuatnya gugup. Tapi kali ini gugup karena kesal. Dulu, Ryeowook memang tertarik pada suara lembut Taehyun yang seksi. Sama seperti, menurut Taehyun, suara Ryeowook membuat pria itu tertarik padanya. Tetapi, semua itu hanya terjadi di awal hubungan mereka, ketika Taehyun berupaya sekuat tenaga mengajaknya tinggal bersama. Ryeowook mengepalkan tangan. Saat mengingatnya kembali, ia benar-benar tak percaya dirinya pernah bersikap sebodoh itu.

Ryeowook sudah bekerja cukup lama di perusahaan konsultan properti saat Taehyun bargabung di perusahaan tersebut, dan hampir sejak hari pertama bekerja pria itu mengejar Ryeowook tanpa lelah. Karena tidak menyetujui hubungan romantis dengan rekan sekerja, awalnya ia menolak Taehyun. Tetapi pria itu membuat Ryeowook tersanjung, ia juga kesepian tanpa Sungmin, dan akhirnya, setelah berbulan-bulan dibujuk, pria itu menang. Namun, ketika akhirnya mereka tinggal bersama, kontribusi Taehyun sangatlah minimal. Pada malam hari, saat Ryeowook memasak makan malam mereka, berkutat menyelesaikan tugas rumah tangga dan cucian, Taehyun hanya bersantai di sofa, mengisi tenaga dengan duduk di depan TV. Satu-satunya waktu santai bagi Ryeowook hanyalah Jumat malam saat Taehyun mengajaknya makan malam di luar.

Bagaimana aku bisa sebodoh itu? pikir Ryeowook, kesal pada diri sendiri. Tinggal bersama menunjukkan betapa sedikitnya persamaan mereka, dan ketika Taehyun mulai sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya setelah bekerja, Ryeowook sangat menikmati malam hari—tak perlu memasak makan malam dan dengan televisi dimatikan. Ia tidur lebih awal dengan ditemani buku, dan itu berarti ia sudah tertidur atau pura-pura tidur saat Taehyun pulang.

Ketika semakin jelas bahwa tidur nyenyak pada malam hari jauh lebih baik daripada bercinta dengan Taehyun—yang menurut Ryeowook mengecewakan—ia sadar sudah saatnya melanjutkan hidup. Karena Ryeowook ingin mengatakannya secara langsung, ia menunggu pria itu pulang dari rutinitas malam bersama teman-teman prianya. Dan ia jadi tahu mengapa Taehyun selalu mandi sebelum tidur. Dari tubuh pria itu tercium parfum asing dan aroma-aroma lain yang langsung dikenali Ryeowook dengan marah.

Telepon berbunyi, menyentakkan Ryeowook kembali ke kenyataan. Ia menegang, menatap telepon dengan waspada, tapi ternyata kali ini Kim Jongwoon yang meninggalkan pesan.

Ryeowook meraih telepon, "Aku di sini," sahut Ryeowook terengah. "Ada masalah? Bagaimana keadaanmu?"

"Tidak luar biasa, tetapi berkat kau, Kim Ryeowook, aku masih punya kesempatan untuk bertahan hidup. Sekarang aku bisa menyatukan dua kata tanpa menggeram seperti anjing pemburu, dan aku menelepon untuk berterima kasih."

"Aku senang sekali bisa membantu," Ryeowook meyakinkan Jongwoon, alisnya terangkat mendengar perubahan sikap pria itu.

"Aku menghangatkan supnya sesuai petunjukmu," lanjut Jongwoon. "aku bahkan memotong sedikit roti, tapi aku masih terlalu lemah untuk bergulat dengan mesin pembuat kopi sehingga akhirnya membuat teh. Aku tak tahu aku punya teh di rumah…"

"Aku yang membelikannya untukmu."

"Kalau begitu, aku berutang padamu, Ryeowook-ah."

"Kau bisa membayarnya besok, Tuan Kim. Apakah kau butuh hal lain?"

"Hanya surat kabar pagi, kalau kau tidak keberatan membawakannya. Bagaimana caramu sampai ke sini?"

"Berjalan kaki."

"Di mana rumahmu?"

"Yeoksam-dong. Apakah kau mau dibuatkan makan siang?"

"Jangan khawatirkan soal itu. Mendengar suara manusia lain saja sudah sangat membantu. Berkubang sendirian dengan virus ini lama-lama mulai membosankan."

Ryeowook mengernyit. "Keluarga Kim Heechul memang sedang pergi, tapi tentunya kau punya teman lain yang bisa diminta berkunjung?"

"Mereka berdua pasti lebih dulu menyerah pada virus ini sebelum aku…" Kalimat Jongwoon dihentikan oleh batuknya, dan Ryeowook menunggu sampai ia berhenti batuk sebelum bertanya apakah ada hal lain yang diperlukannya.

"Aku bisa membelinya dalam perjalanan ke rumahmu Tuan Kim."

"Panggil aku Yesung. Atau Yesung hyung."

"Itu tidak pantas," jawab Ryeowook tegas.

"Kenapa?"

"Karena alasan-alasan yang sangat jelas."

"Kalau maksudmu karena kau bekerja padaku, itu omong kosong," dengus Yesung. "Menurutku sekarang ini tak ada lagi kelas-kelas sosial dalam masyarakat."

"Ini tidak ada hubungannya dengan kelas sosial," balas Ryeowook kesal.

"Kau bilang aku bisa memilih panggilan apa pun," Yesung mengingatkan.

"Maksudnya hanya namaku…" Ryeowook terdiam, berpikir kenapa dirinya harus berdebat soal ini. "Oh, baiklah, terserah kau saja."

"Bravo. Kalau begitu sebentar lagi aku bisa tidur dengan tenang."

"Seharusnya kau sudah ada di tempat tidur sekarang."

"Itu hanya ungkapan. Selain berjalan sempoyongan ke dapur untuk membuat makan malam, aku tidak meninggalkan tempat tidur seharian ini." Yesung terbatuk lagi. "Apakah kau bersimpati padaku?"

"Tentu saja. Beberapa waktu lalu aku juga terjangkit penyakit yang sama, ingat? Selamat malam. Kuharap kau bisa tidur nyenyak. Aku akan menemuimu besok pagi."

Ryeowook belum benar-benar meletakkan gagang telepon ketika teleponnya berbunyi lagi.

"Akhirnya, sayang," kata Ny. Kim. "Aku berusaha menghubungimu selama sepuluh menit terakhir."

"Hai, eomma. Ada apa?"

"Taehyun menelepon kemari setengah jam lalu, meminta alamat rumahmu."

"Jangan!" erang Ryeowook. "Eomma tidak memberikannya, kan?"

"Tentu saja tidak," jawab ibu Ryeowook kesal. "Eomma bahkan tidak bicara dengannya. Appa-mu yang menjawab telepon dan memberikan peringatan keras padanya, appa-mu menyuruhnya untuk tidak mengganggumu lagi."

"Bagus sekali, appa!" seru Ryeowook, lalu diam. "Sebenarnya, Taehyun juga baru meninggalkan pesan di teleponku. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan nomor telepon baruku."

"Oh, Sayang. Memangnya kau pernah memberikan nomor telepon pada seseorang yang dikenal Taehyun?"

"Hanya pada Sungmin. Tapi dia tidak mungkin memberitahu Taehyun."

"Aku yakin itu benar. Bagaimana kabar Sungmin?"

"Baik. Kemarin kami bertemu dan bersenang-senang. Walaupun Sungmin menghabiskan sebagian besar waktu untuk menceramahiku." Ryeowook menjelaskan tentang Kim Jongwoon yang sakit flu.

Karena sejak awal Ibu Ryeowook memang tak bisa mengerti kenapa Ryeowook mau jadi pembersih rumah Kim Jongwoon, apalagi sekarang harus menjaga pria itu saat sakit, dengan sepenuh hati ia menyetujui pendapat Sungmin. "Demi Tuhan, Ryeowook. Belum lama ini kau sendiri terserang flu. Itu hanya salah satu dari banyak alasan lain."

"Tenanglah, Eomma."

"Dan kau masih harus menyingkirkan Park Taehyun. Kuharap Seunghyun tidak memasang namamu di pintu rumahnya!"

"Tentu saja tidak! Seunghyun hyung akan memberitahuku jika memerlukanku saat dia di rumah. Sungmin akan meneleponku dulu sebelum berkunjung, lalu aku turun dan membukakan pintu untuknya."

"Benar-benar harus selalu waspada dan menyamar—seperti tinggal di rumah aman untuk melindungi saksi."

"Rumah Seunghyun hyung memang aman."

"Kau kan mengerti maksudku."

"Eomma terlalu banyak membaca novel kriminal. Aku perlu tempat tinggal di Seoul untuk menenangkan diri. Dan Seunghyun hyung menyediakannya. Aku sangat berterima kasih padanya."

"Sayang." Kata Ibu Ryeowook setelah diam beberapa saat, "Seunghyun memang tampan, tapi—"

"Oh, Eomma! Seunghyun hyung teman Kangin hyung, sama sekali bukan seperti itu, sungguh. Seunghyun hyung juga masih menikah dengan Jiyoung, dan ayah si kembar. Memangnya Eomma pikir aku ini apa?"

"Sekarang ini, kau adalah seseorang yang sangat rapuh," ujar Ibu Ryeowook blakblakan.

"Aku sudah kapok, percayalah."

"Maksudmu, tak ada pria lagi?"

"Tentu saja bukan. Maksudku kapok pada Taehyun, ibuku tersayang, bukan bukan semua pria."

Namun, setelah selesai bicara dengan ibunya, Ryeowook merasa sangat tidak tenang. Kalau Taehyun sudah tahu nomor teleponku, mungkin dia juga bisa menemukan alamatku, pikir Ryeowook, bahkan mungkin sudah. Meskipun, jika Taehyun cukup tak punya malu untuk muncul, pria itu harus melewati Seunghyun dulu, dan mungkin juga Donghae, sebelum bisa menemui Ryeowook.

Ryeowook baru saja akan mengerjakan novelnya ketika telepon berbunyi untuk ketiga kalinya. Ryeowook mengerang frustasi, namun suara familier Sungmin membuatnya mengangkat telepon meskipun mesin penjawab telepon sudah mulai merekam pesan dari Sungmin.

"Tahan sebentar, aku di sini."

"Ryeowook, syukurlah. Sejak tadi teleponmu sibuk terus. Kau takkan menyangka siapa yang datang malam ini!"

Ryeowook menghela napas. "Aku yakin aku tahu—Taehyun."

"Benar. Dari mana kau tahu?"

"Taehyun menelepon orangtuaku sebelumnya, tapi ayahku memberinya peringatan yang tidak terlalu mencerminkan nilai-nilai agama, kata ibuku."

"Luar biasa! Dia pasti menelepon sebelum datang ke rumahku. Aku sedang mandi waktu dia datang, jadi Kyuhyun meninggalkannya di lorong supaya dia lebih tenang sampai aku mau menemuinya."

"Bagus. Dia mau apa?"

"Nomor telepon dan alamatmu, tentu saja."

"Kau tidak—"

"Tentu saja tidak. Walaupun dia terus-menerus bilang bahwa ini masalah hidup-mati, bahwa dia harus menghubungimu."

Ryeowook mendengus. "Enak saja."

"Persis dengan jawabanku. Dia sama sekali tidak mau terima," jelas Sungmin puas. "Dia pasti kesal sekali."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Kyuhyun mengusirnya."

Ryeowook terkekeh. Biasanya suami Sungmin yang bertubuh tinggi itu bersikap tenang, kecuali ada orang yang cukup bodoh untuk membuat 'istri'nya marah.

"Bisakah aku membayangkan Kyuhyun benar-benar melemparnya keluar?" tanya Ryeowook penuh harap.

Sungmin tertawa. "Hampir. Aku ragu Taehyun akan mengunjungi kami lagi. Sebaiknya kita berharap dia juga tidak berniat mengunjungimu. Dia pernah bertemu Seunghyun hyung?"

"Belum. Semoga tidak akan pernah."

Pemikiran bahwa Taehyun melacak keberadaannya membuat Ryeowook terjaga beberapa saat, tapi akhirnya ia bisa tidur nyenyak dan bangun pagi dengan rasa antisipasi yang kini bisa ia kenali—dengan was was—sebagai rasa gembira karena akan bertemu Kim Jongwoon lagi. Tidak boleh, Ryeowook mengingatkan diri sendiri saat akan mandi.

Ketika Ryeowook ke lantai bawah, Seunghyun sudah ada di ruang tengah dan siap berangkat. Seunghyun tampak lelah dan pucat, tetapi tidak sedepresi biasanya saat berpisah dengan si kembar.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Ryeowook khawatir. "Kemarin aku sengaja tak mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan."

"Si kembar langsung memeluk Jiyoung, dan sebelum Jiyoung sempat mengucapkan sepatah kata pun, mereka memintaku minum teh bersama." Seunghyun tersenyum miring. "Yang membuatku terkejut, Jiyoung mengabulkan permintaan anak-anak. Cukup lancar sebenarnya, terutama karena si kembar mendominasi seluruh acara tersebut dengan teh dan kue-kue." Seunghyun mengangkat bahu. "Siapa tahu Jiyoung akan mengajakku makan malam pada kesempatan berikut."

"Oh, hyung. Aku juga berharap begitu. Omong-omong," tambah Ryeowook, "mantan kekasihku meninggalkan pesan di teleponku semalam."

Mata Seunghyun menyipit. "Dari mana dia mendapatkan nomor teleponmu?"

"Tidak tahu. Aku hanya berharap dia tidak berusaha mencari alamatku juga."

"Jangan khawatir, Ryeong. Aku yang akan mengurusnya kalau dia ke sini. Berikan fotonya padaku."

"Tidak bisa, sudah kubakar semua."

"Ciri-cirinya, kalau begitu."

"Kira-kira tingginya sama denganmu, tapi lebih kurus. Mata dan rambut gelap, dengan senyum lebar seperti iklan pasta gigi, dan angkuh sekali hingga kau akan langsung mengenalinya saat bertemu."

Seunghyun tersenyum lebar. "Berarti kau masih marah padanya."

"Sangat!" Ryeowook melirik jam tangan. "Aku harus pergi."

"Hari ini penampilanmu lebih special," komentar Seunghyun, memandangi Ryeowook dengan seksama.

"Ada beberapa hal yang harus kulakukan setelah sesi membersihkan rumah pada hari ini," Ryeowook berbohong. "Tapi aku aka membersihkan rumahmu sore harinya.

"Baiklah. Aku juga harus berangkat sekarang." Seunghyun tersenyum jahil. "Dan jangan khawatir, jika Park Taehyun datang, aku akan melemparnya keluar, tanpa basa-basi."

Ryeowook memulai hari kerjanya dengan antisipasi yang sekuat tenaga berusaha ia hilangkan, menganggapnya sebagai hal yang tidak masuk akal. Yesung sedang sakit dan butuh teman; dan Ryeowook hanyalah seseorang yang bersedia berurusan dengan penyakit itu. Untuk membuat hari Yesung lebih ceria, Ryeowook mengenakan sweater biru muda yang masih baru dengan celana jeans. Tidak berlebihan.

Saat pintu lift membuka di lantai teratas, tempat kediaman Kim Jongwoon, Ryeowook sudah siap. Ia hanya pembersih rumah. Kim Yesung yang membayar gajinya. Saat ini Yesung sedang sakit cukup parah dan butuh bantuan seseorang. Jadi ia akan bekerja dengan efektif dan efisien, menyerahkan surat kabar pagi, menyelesaikan rutinitas kerja, membuatkan makan siang, dan segera pulang.

Ryeowook menekan tombol panggil, membuka kunci pintu, dan menyebutkan namanya. Kali ini Yesung langsung muncul, berantakan, matanya yang merah dihiasi lingkaran hitam, namun menyambutnya dengan senyuman yang yang sangat berbeda dibandingkan kemarin sehingga ketetapan hati Ryeowook langsung hancur.

"Selamat pagi, Ryeowook-ah. Baik sekali kau bersedia datang."

"Aku memang selalu kemari setiap Senin." Ryeowook menyerahkan surat kabar yang dibawanya kepada Yesung.

"Tetap saja aku berterima kasih," kata Yesung sambil bersandar di pintu. "Tidak perlu mengganti seprai dan memaksaku menelan obat. Aku sudah melakukan keduanya sendirian."

"Bagus kalau begitu," Ryeowook melepaskan jaket dan menaruhnya di lemari. "Bagaimana keadaanmu?"

"Tidak terlalu baik. Tapi lebih baik daripada kemarin."

Dan itu telihat jelas dari semangat Yesung saat melihat kedatangan Ryeowook.

"Kembalilah ke tempat tidur," kata Ryeowook tegas. "Baca surat kabarnya sementara aku membereskan rumah."

"Lupakan saja. Aku butuh ngobrol. Kemarilah dan mengobrol sebentar denganku—" Kata-kata Yesung terpotong karena batuk, dan Ryeowook memberi isyarat agar ia segera kembali ke kamar.

"Kembalilah ke tempat tidur." Ryeowook berjalan medahului Yesung untuk menumpuk bantal-bantal dan menurunkan selimut yang baru diganti. "Seharusnya kau menungguku dan tak perlu mengganti seprainya sendiri," kata Ryeowook tegas. "Sekarang keadaanmu tidak terlalu bagus, kan?"

"Tidak," aku Yesung, dan menyelusup masuk ke balik selimut dengan erangan lega.

"Kau sudah makan sesuatu hari ini?"

"Aku minum sedikit susu."

"Lebih baik dibandingkan tidak makan apa-apa," ujar Ryeowook sambil tersenyum setuju.

"Lesung pipimu manis," komentar Yesung.

"Kau ingin makan apa?" tanya Ryeowook, mengabaikan komentar pria itu. "Telur pasti bagus. Makanan yang ringan sebagai permulaan."

"Sekarang ini sepertinya aku terlalu lemah untuk mengangkat garpu. Mungkin nanti. Setelah tenagaku terkumpul lagi." Yesung memandangi Ryeowook dengan sedikit kesal. "Sekarang duduk saja dan mengobrol denganku."

Ryeowook tetap berdiri, tak suka mendenar nada perintah dalam suara pria itu, tapi akhirnya duduk di kursi di samping tempat tidur. "Oh, baiklah. Aku haru bicara soal apa?"

"Dirimu."

Ryeowook menyeringai. "Topik membosankan."

"Aku tidak setuju." Yesung masuk lebih dalam ke balik selimut. "Ceritakan apa pekerjaanmu sebelum bekerja jadi pembersih rumah seperti sekarang."

"Aku bekerja di agen retail komersial—sudah kubilang, ceritanya membosankan."

"Ryeowook, kau bisa membacakan isi buku telepon dengan suara seksimu itu, dan aku takkan bosan." Yesung mengangkat tangan sebagai tanda menyerah ketika Ryeowook mendengus tajam. "Maaf, maaf. Silahkan lanjutkan. Ceritakan kenapa kau berganti karier."

Ryeowook mengangkat bahu. "Aku tinggal bersama dengan pria yang bekerja di agensi yang sama selama beberapa waktu. Ketika kami putus, aku pindah rumah dan berhenti bekerja."

Yesung berbaring sambil memperhatikan Ryeowook, matanya yang redup tampak tertarik. "Bukan perpisahan yang baik, tampaknya. Kapan itu terjadi?"

"Baru-baru ini. Nah, bagaimana kalau sarapan?"

Mulut Yesung langsung cemberut. "Aku sedikit hati-hati dengan makanan. Rasanya mengerikan sekali kalau aku harus terus-menerus lari ke kamar mandi setiap kali akan muntah."

Ryeowook mengangguk simpatik. "Ibuku memberikan pamflet mengenai flu ketika aku sakit. Pamflet itu menyarankan agar penderita flu berusaha makan sebisanya. Jadi, maukan kau mencoba makan?"

"Dengan satu syarat—kau menemaniku saat akku makan."

"Baiklah, kalau kau memaksa."

"Sama sekali tidak. Aku memintamu dengan sopan."

Ryeowook tertawa dan pergi ke dapur. Ketika kembali ke kamar dengan nampan terisi penuh. Ryeowook melihat Yesung menunggu dengan tidak sabar, surat kabarnya masih tak tersentuh. "Maaf aku lama sekali," kata Ryeowook cepat. "Aku memang biasa membersihkan dapurmu, tapi tak terbiasa memasak di sana."

"Dan sebenarnya kau memang tak perlu melakukan itu," jawab Yesung mengesalkan.

"Tentu saja itu perlu kulakukan." Ryeowook memasangkan serbet bersih di dada Yesung. "Sebaiknya menggunakan ini, apalagi kau sudah berusaha keras mengganti seprai sendiri." Ia memberikan garpu dan piring berisi telur orak-arik di atas roti panggang, lalu merasa canggung dan memutuskan untuk duduk lagi, "Garam, merica?" tanya Ryeowook. "Aku sudah membumbui telurnya sedikit, tapi mungkin kau mau menambahkannya."

"Rasanya sempurna," jawab Yesung setelah mencicipi telur itu. "Sekarang, hibur aku sementara aku makan. Aku tahu kau bukan asli Seoul. Dari mana asalmu?"

"Ya. Busan."

"Ya ampun—daerah asal kita sama," kata Yesung sambil tersenyum lebar. "Kalau begitu kita sama-sama perantau gembel."

Sulit sekali membayangkan Kim Jongwoon sebagai perantau gembel. Bahkan saat pria itu berbaring di tempat tidur, tampak berantakan, dan sakit. "Itu kan menurutmu," jawab Ryeowook sekenanya, lalu menggigit bibir.

"Apalagi masalahnya sekarang?" tanya Yesung.

"Aku selalu lupa."

"Lupa apa?" mata Yesung meyipit. "Oh, benar, aku majikan dan kau budaknya."

Ryeowook memelototi pria itu. "Aku takkan menyebutnya seperti itu!"

"Dan aku jelas tidak berharap begitu," kata Yesung keras sambil memandang piring kosongnya dengan terkejut. "Makanannya enak. Terima kasih."

Ryeowook mengambil piring Yesung dan membawanya ke dapur, lalu kembali sambil membawa dua cangkir kopi. Ryeowook menyerahkan salah satunya kepada Yesung, lalu kembali duduk di kursi tadi. "Kau kelihatan lebih baik sekarang," kata Ryeowook.

"Aku memang merasa begitu." Yesung menyesap kopinya dengan nikmat, lalu kembali bersandar di bantal. "Jadi, ceritakan lagi, Ryeowook. Kau sedang mengikuti kursus apa?"

Ryeowook terkesiap. "Aku berbohong soal itu."

"Betulkah?" tanya Yesung, memandangi wajah Ryeowook yang memerah dengan geli. "Jadi sebenanya apa yang kaulakukan dengan laptopmu? Membajak rahasia negara?"

"Bukan hal menarik. Aku berusaha menulis novel. Aku membuat semacam draft awal dari cerita yang terpikir di benakku saat sedang membersihkan rumah, lalu draft itu akan kuketik di laptop. Kalau aku tidak sebodoh kemarin dan berbohong padamu waktu kau menangkap basah aku bekerja di laptop," tambah Ryeowook terus terang, "aku takkan menceritakan semua ini. Tak seorang pun tahu tentang semua ini, bahkan keluargaku."

"Mulutku terkunci rapat," Yesung meyakinkan Ryeowook, tangannya diletakkan di dada. "Tapi kena harus dirahasiakan?"

Dagu Ryeowook terangkat. "Baru-baru ini aku mengalami penolakan yang cukup memalukan. Jika—atau lebih tepat saat—manuskrip ini ditolak juga, aku lebih suka tak seorang pun tahu."

Yesung memandangi Ryeowook dengan rasa hormat ketika ia mengisi kembali cangkir kopi. "Kau seorang yang mengejutkan, Ryeowook."

Ryeowook menggeleng. "Tidak juga. Sepanjang hidupku, sampai baru-baru ini, aku melakukan segala sesuatu sesuai aturan."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Park Taehyun." Ryeowook duduk lagi. "Keluargaku tidak setuju. Mereka tidak menyukainya."

"Aku juga."

**To Be Continued**

I'm really sorry for too slow update and too short continuation..

I hope no one get disappointed here..

See you at next chapter..

And thank you for your time in reading my stories..

February 8th, 2016 14:17 WIB