CiTY CiNDERELLA
Cast: Kim Jong Woon / Yesung, Kim Ryeowook, Seunghyun, Jiyoung, Eunhyuk, Donghae, Kyuhyun, Sungmin and other.
Genre : Romance, Family, Friendship, etc.
Declaimer : FF ini adalah cerita remake dari sebuah novel berjudul "City Cinderella (Cinderella Modern)" dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh Catherine George dan diterjemahkan oleh Khamsa Noory F. dengan beberapa perubahan untuk kebutuhan FF.
Dan semua cast di FF ini milik semua orang yang memiliki mereka, author hanya meminjam nama mereka untuk kebutuhan cerita dan 'kebutuhan hidup' reader pencinta FF khususnya FF YeWook... xD
Warning : Yaoi/BL, M-Preg, some Typho(s).
Don't Like? Don't Read!
HAPPY READING‼!^^
CHAPTER 3…
"Park Taehyun." Ryeowook duduk lagi. "Keluargaku tidak setuju. Mereka tidak menyukainya."
"Aku juga."
Ryeowook tertawa. "Kau bahkan belum bertemu dengannya."
"Aku tak perlu bertemu dengannya." Yesung mengernyit. "Ryeowook, aku punya nama, tapi kau sama sekali belum menyebutnya. Kupikir kita sudah membereskan masalah itu."
Ryeowook memandang Yesung dengan sedikit marah, lalu langsung berdiri. "Baiklah—Yesung! Aku akan mulai beres-beres sekarang."
"Jangan pergi dulu! Jebal?" Yesung memandang Ryeowook dengan sorot memohon hingga Ryeowook tak mampu menolaknya.
"Aku akan tetap melanjutkan kegiatan," tegas Ryeowook sambil mengangkat nampan kopi. "Tapi setelahnya aku akan tinggal beberapa menit lagi. Dan saat itu kau harus mencoba tidur."
"Aku bisa tidur saat sendirian," kata Yesung tak sabar.
Sementara memasukkan piring-piring ke dalam mecin cuci piring, Ryeowook berdebat dengan akal sehatnya. Ia sudah mencapai tujuannya untuk datang ke sini dan mengecek keadaan Kim Jongwoon, memberikan makanan, dan memastikan sakit pria itu tidak bertambah parah. Jadi seharusnya ia pulang setelah menyelesaikan seluruh tugas rutin di rumah ini. Tetapi rasanya menyenangkan sekali bagi ego Ryeowook yang terluka saat pria seperti Kim Jongwoon meminta ditemani olehnya. Lagi pula, ini akan membantu penelitianku, pikir Ryeowook ceria. Semakin sering melihat Yesung, pahlawan fiksinya akan muncul lebih jelas.
Ryeowook membereskan ruang tengah dengan berhati-hati, memastikan dapur bersih tanpa noda, lalu membersihkan kamar mandi di lorong agar setidaknya sebagian tugas rutin Senin-nya selesai. Setelahnya, ia merapikan rambut, memakai sedikit parfum, lalu kembali menemui Yesung—yang memandangnya dengan mata merah dan pandangan menuduh.
"Kupikir kau sudah pergi," kata Yesung, bibir bawahnya cemberut, begitu mirip Zhoumi kecil hingga Ryeowook harus menahan senyum.
"Apanya yang lucu?" tuntut Yesung.
"Kau mengingatkanku pada seseorang."
Yesung merengut. "Bukan Taehyun si orang yang sangat tidak disukai itu, kan?"
"Bukan. Aku sangat menyayangi orang yang ini."
"Siapa dia?"
"Anak laki-laki pemilik rumahku."
"Salah satu dari si kembar?"
"Kau ingat," ujar Ryeowook terkejut, lalu duduk di kursi berlengan.
"Aku ingat semua yang sudah kau ceritakan sejauh ini," Yesung meyakinkan Ryeowook. "Aku malas sekali membaca atau menonton televisi, jadi aku hanya berbaring di sini dan memikirkanmu."
"Sudah saatnya aku pergi," kata Ryeowook cepat-cepat, lalu berdiri, tapi Yesung tiba-tiba bangun dan menahan tangannya.
"Aku bukan sedang merayumu. Maksudku, kau menarik perhatianku."
Alis Ryeowook terangkat. "Apakah itu pujian?"
"Itu kebenarannya," jawab Yesung singkat, lalu melepaskan tangan Ryeowook.
Lega, Ryeowook kembali duduk. "Ngomong-ngomong, nomor telepon yang kemarin kuberikan padamu tidak terdaftar. Keluargaku tahu tentu saja, dan hanya teman-teman dekat—"
"Tapi Taehyun tidak," sambung Yesung, mengangguk.
"Itulah masalahnya. Entah dari mana, Taehyun mendapatkan nomor itu. Dia meneleponku semalam."
Yesung menyipitkan matanya. "Kau bicara padanya?"
"Tidak. Aku hanya mendengarkan waktu dia meninggalkan pesan. Entah bagaimana dia berhasil menemukan nomor teleponku. Sekarang aku khawatir dia bisa menemukan alamat tempat tinggalku." Ryeowook gemetar memikirkan kemungkinan itu.
Yesung mengernyit. "Ryeowook, apakah kau takut pada pria ini?"
"Jelas tidak. Aku hanya tidak mau bertemu dengannya lagi."
"Kenapa kau meninggalkannya?"
Bibir Ryeowook terkatup rapat. "Alasan biasa."
"Orang ketiga?"
"Satu yang kukenal, tapi mungkin lebih banyak lagi yang tidak kukenal." Ryeowook mengangkat bahu. "Cerita lama yang membosankan."
Yesung bersandar lebih santai ke bantal. "Kalau begitu ceritakan tentang keluargamu."
Meskipun siap berbohong mengenai beberapa fakta, Ryeowook ragu-ragu. Kim Jongwoon menikmati kebersamaan mereka. Dan Ryeowook merasakan hal yang sama. Tapi ia tidak boleh membayangkan lebih daripada itu. Jika pria itu tidak terserang flu, semua ini takkan terjadi.
Mata Yesung yang sayu menyipit saat menatap Ryeowook. "Sepertinya kau akan mengatakan kau tidak bisa tinggal lebih lama. Kau harus segera pergi ke rumah keluarga Heechul hyung?"
"Tidak, tidak hari ini. Tapi aku memang harus segera pulang."
"Jangan bilang kita kembali membicarakan soal 'atasan-bawahan' omong kosong itu lagi," keluh Yesung kesal.
"Kau harus istirahat."
"Aku bisa melakukannya setelah kau pergi." Yesung memandang Ryeowook dengan tajam. "Aku juga bisa membayar uang lemburmu."
"Tentu saja tidak perlu," tukas Ryeowook.
Yesung tersenyum lebar hingga matanya yang terlihat hanya segaris. "Aku memang mengira komentar itu bisa membuatmu tinggal lebih lama. Baiklah kalau begitu. Tinggallah beberapa saat lagi. Mengobrol denganku."
Dikejutkan senyuman Yesung, akhirnya Ryeowook menyerah, dan sesuai permintaan pria itu, Ryeowook menceritakan ringkasan singkat kisah hidupnya—ayahnya pensiunan karyawan perusahaan swasta, ibunya punya peran penting dalam komunitas sejarah lokal dan sangat menyukai novel kriminal. "Kombinasi yang jelas punya kekurangan," kata Ryeowook datar. "Ibuku sebenarnya tidak setuju aku pindah ke Seoul. Aku juga punya saudara laki-laki," lanjut Ryeowook. "Kangin kepala departemen olahraga di sekolah tempatnya berkenalan dengan Seunghyun hyung, pemilik tempat tinggalku sekarang. Sejak saat itu mereka jadi sahabat, dan alasan itulah yang membuat Seunghyun hyung menawariku tinggal di rumahnya setelah aku meninggalkan Taehyun."
"Apakah Seunghyun masih terikat pernikahan dengan ibu si kembar?" Tanya Yesung santai.
"Masih. Tapi pernikahan mereka sedang bermasalah. Jiyoung tinggal bersama anak-anak di rumah mereka di Mokpo sedangkan Seunghyun hyung tinggal sendirian di Seoul. Seunghyun hyung sangat ingin kehidupannya bersama Jiyoung seperti dulu lagi. Seunghyun hyung bisa menghabiskan waktu bersama si kembar pada akhir minggu, setiap dua minggu sekali, tapi dia benar-benar hancur setiap kali harus berpisah dengan mereka. Ngomong-ngomong, Seunghyun hyung adalah rekan kerja Heechul hyung." Ryeowook tersenyum kecil. "Seunghyun hyung menginterogasi Heechul hyung dengan cermat sebelum mengizinkan aku bekerja di sini."
Yesung memandang Ryeowook dengan sorot sinis. "Kau yakin laki-laki ini masih mencintai istrinya?"
"Seunghyun hanya menggantikan peran Kangin hyung, memastikan kau atasan yang sesuai untuk adiknya." Ryeowook tersenyum malu. "Untungnya kau lolos."
Yesung tertawa, memegangi kepalanya, mengernyit. "Aku senang bisa lolos."
"Kepalamu masih sakit?" tanya Ryeowook simpatik.
"Hanya saat tertawa."
"Aku akan memberimu beberapa tablet obat, setelah itu kau harus segera tidur."
"Kalau aku tidur, kau akan pergi." Yesung memandangi Ryeowook dengan sorot membujuk. "Kalau akau janji untuk tidur beberapa saat, apakah kau mau menemaniku minum teh sore ini? Sementara itu, kau bisa bersantai menonton televisi, atau membaca. Ambil apapun yang kau butuhkan dari lemari. Lain waktu, " tambah Yesung ganjil, "kau bisa membawa laptopmu dan bekerja di sini."
"Tidak akan ada lain kali, kau akan segera sembuh."
"Tidak, tidak akan secepat itu," jawab Yesung segera. "Sakitku sangat parah."
"Kalau begitu, sebaiknya kau memanggil dokter."
"Aku tak perlu dokter. Aku hanya ingin kau tinggal beberapa saat lagi. Walaupun aku takkan menyalahkanmu jika kau ingin segera pergi dari sini," tambah Yesung dengan nada jijik pada diri sendiri.
Ryeowook memandangi pria itu beberapa saat, lalu mengangguk terpaksa. "Oh, baiklah. Aku akan menemanimu sampai jam enam, tapi setelah itu aku benar-benar harus pergi, kalau tidak tak ada gunanya pergi. Besok pagi aku harus ke rumah keluarga Heechul hyung. Besok mereka pulang."
"Kau tak perlu pulang. Menginap saja di kamar tamu. Aku sungguh-sungguh," tambah Yesung cepat-cepat. "Dengan senang hati aku akan membayar uang lemburmu."
Ryeowook memandangnya dengan kesal, mengambil dia tablet obat dari lemari di samping tempat tidur, menuangkan air ke gelas, dan menyerahkan pada Yesung. "Habiskan setiap tetesnya."
Yesung mematuhi perintah Ryeowook, lalu memberikan senyum yang sepertinya membuat lutut Ryeowook lemas seketika. "Terima kasih, Ryeowook. Aku janji takkan menyebut-nyebut soal uang lagi."
Kontras dengan suasana kaku dan minimalis yang disukai keluarga Kim Heechul, selera Kim Jongwoon cenderung nyaman. Karena gedung ini merupakan gudang yang dialihfungsikan menjadi apartemen, tempat tinggal pria itu memiliki ruang yang luas, tetapi memiliki sedikit tempat penyimpanan barang. Karena itulah dia menyiasatinya dengan membeli beberapa lemari berlaci—sebagian bergaya modern, sebagian terbuat dari besi, dan sebagian lagi bergaya antik. Di beberapa bagian, dinding bata merah madu dibiarkan tanpa plester, sedangkan di beberapa bagian lagi dindingnya diplester dan dicat keemasan. Beberapa lukisan yang menghiasi apartemen itu bergaya modern, dengan warna-warna cerah. Meskipun belum lama bekerja di tempat ini, Ryeowook sudah mencintai setiap sudutnya.
Biasanya, ia hanya ke area tempat tinggal yang luas itu untuk merapikannya, bagian dari tugas. Tetapi sekarang, sementara mesin cuci mulai mengeringkan cucian, Ryeowook duduk di salah satu sofa empuk yang menggoda dan mulai membaca. Tak lama kemudian, kata-kata dalam bukunya tampak berkejaran dan akhirnya ia menyerah, melepaskan sepatu, dan bergelung, kepalanya di salah satu lengan sofa. Ia mengingatkan diri untuk bangun setengah jam lagi agar bisa memeriksa si sakit, tapi ternyata ia terbangun dan melihat Yesung memandanginya.
"Aku minta maaf," kata Ryeowook menyesal, kakinya berusaha mencari-cari sepatu.
"Tadi suasananya sepi sekali sampai-sampai kupikir kau sudah pulang, jadi aku keluar untuk memeriksa."
"Seharusnya kau tidak turun dari tempat tidur," omel Ryeowook sambil menggenggam tangan Yesung dan membimbingnya ke tempat tidur. Tetapi ia melepaskan genggamannya dengan terkejut ketika merasakan panas kulit Yesung menguar dari balik baju pria itu.
"Lakukan lagi," kata Yesung sambil tersenyumlebar. "Aku menyukainya."
Ryeowook memandang Yesung dengan kesal. "Kalau kau kembali ke tempat tidur, aku akan membuatkan teh untukmu."
"Teh untuk dua orang," kata Yesung tegas, lalu berbalik karena batuk.
"Nah, kau lihat, kan? Sekarang kembalilah ke tempat tidur—Yesung hyung, jebal," Ryeowook memohon dan tersipu saat menyadari tatapan pria itu.
"Untukmu, Ryeowook, apa pun," Yesung meyakinkan Ryeowook, masih sambil terbatuk, lalu beranjak ke kamar.
Ryeowook pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan memanggang roti yang tadi ia beli. Ketika ia membawa nampan ke kamar, Yesung sudah menunggu, duduk bersandar pada tumpukan bantal yang tersusun rapi di tempat tidur yang baru dibereskan. Wajahnya yang pucat agak merah karena demam, membuat Ryeowook sangat khawatir, namun ia tetap tersenyum saat meletakkan nampan.
"Merasa lebih baik?"
"Tidak juga," Yesung mengakui, lalu melihat roti panggangnya tanpa semangat. "Aku tak suka bersikap tidak berterima kasih, Ryeowook, tapi aku tidak lapar."
"Arasseo," kata Ryeowook langsung. "Tehnya saja kalau begitu."
Yesung menghabiskan tehnya karena haus, lalu kembali bersandar di bantal seakan meminum teh saja sudah membuatnya kelelahan. "Rasanya tubuhku lemah sekali. Apakah kau juga seperti ini waktu sakit?"
"Ya. Waktu itu ibuku memanggil dokter. Dia memberiku antibiotik untuk mengobati infeksi di dadaku. Jadi aku cepat pulih," tambah Ryeowook. "Begini, Yesung hyung, suhu tubuhmu naik dan aku bisa mendengar napasmu dari sini. Kau butuh dokter. Apakah ada dokter yang bisa kuhubungi?"
"Ini hanya flu—" Yesung terbatuk lagi dan Ryeowook memberinya sekotak tisu, lalu menatapnya dengan sorot bertanya ketika telepon berbunyi.
"Tolong angkat teleponnya," pinta Yesung, kehabisan napas.
Ryeowook mengangkat telepon dan menjawabnya dengan hati-hati.
"Ini Kim Taemin," terdengar suara menarik di ujung sana. "Apakah Yesung ada?"
Ryeowook menyerahkan gagang telepon kepada Yesung yang berbaring, di dahinya muncul butir-butir keringat saat ia berusaha mengontrol batuk. Yesung menyapa dengan geraman serak yang tidak jelas, lalu terbatuk keras hingga ia menyerahkan kembali telepon itu kepada Ryeowook. "Saudara perempuanku—jelaskan," katanya terkesiap.
"Sayang sekali saudaramu sakit parah Taemin-shi ," jelas Ryeowook.
"Kedengarannya dia sekarat. Apakah dia sudah ke dokter?"
"Dia menolak dipanggilkan dokter," kata Ryeowook sambil menantang tatapan si sakit. "Padahal aku cukup yakin dia terkena infeksi."
"Baik. Tolong berikan telepon padanya."
Ryeowook menyerahkan telepon pada Yesung dan memandang geli ketika melihat pria itu memprote saudara perempuannya dengan berlebihan, lalu mengembalikan telepon kepada Ryeowook. "Dia mau bicara denganmu," ujarnya serak.
"Dengan siapa sebenarnya aku bicara?" tanya Taemin dengan sopan.
"Kim Ryeowook, pembersih rumah saudara lelakimu," jawab Ryeowook langsung, tidak menghiraukan tatapan marah dari si sakit. "Aku tinggal lebih lama sore ini karena mengkhawatirkan keadaannya."
"Kau baik sekali!" Jadi begini, Kim Ryeowook-shi—"
"Panggil Ryeowook saja."
"Baik. Aku baru saja bilang pada Yesung bahwa jika dia tidak bersikap baik, aku akan meminta ibu kami menjaganya. Dengan kondisi ibu kami, tentunya beliau akan terserang flu juga. Dan Yesung jelas tak mau itu terjadi. Aku ingin sekali bisa datang, tapi sekarang ini aku menelepon dari Italia. Bisakah kau menghubungi dokter dan menjaganya sampai dokter datang?"
Ryeowook menjawab tanpa ragu. "Tentu saja, Taemin-noona. Jika menurut dokter diperlukan, aku bisa menginap untuk menjaganya malam ini."
"Oh, kau baik sekali. Terima kasih. Itu benar-benar membuatku tenang, tolong sambungkan aku lagi pada Yesung, dan aku akan memberitahunya soal ini."
Kali ini Yesung mendengarkan dengan patuh, pandangannya terpaku ke arah Ryeowook. "Kau sungguh-sungguh waktu bilang akan menginap?" tuntutnya ketika mengembalikan telepon.
"Tentu saja." Ryeowook mengangkat nampan. "Dimana nomor telepon doktermu?"
"Di buku telepon, di mejaku di galeri." Yesung menyeka keringat di dahinya. "Aku baru mengunjunginya sekali. Mungkin dia tidak akan melayani kunjungan rumah."
"Sebaiknya dia melakukannya," kata Ryeowook muram.
Ryeowook menjelaskan kondisi Yesung kepada resepsionis, memberikan arah jalan menuju apartemen, dan kembali menghampiri pria itu, yang tampak sangat pucat.
"Dokter akan datang sebentar lagi," Ryeowook memberitahu pria itu.
"Dokter Shin?" tanyanya serak.
"Mereka tidak bilang. Mungkin siapapun yang bertugas." Ryeowook menatap pria itu dengan prihatin. "Bagaimana perasaanmu?"
"Tidak baik. Rasanya sakit saat bernapas," jawab Yesung serak. "Aku tidak mengerti. Tadi aku merasa jauh lebih baik daripada ini."
Ryeowook beranjak ke kamar mandi, mengambil handuk, membasahinya, dan kembali menghampiri si sakit. "Biar kuseka keringat di dahimu," kata Ryeowook teras.
"Kau tidak harus melakukan itu," protes Yesung.
"Memang tidak," Ryeowook menyetujui. "Tapi kau akan merasa lebih baik jika aku melakukannya." Ryeowook menyeka keringatdi kening Yesung, mengeringkannya dengan lap basah, menuangkan air ke gelas, dan memberikannya kepada Yesung. "Habiskan minumannya."
"Nanti aku bisa mual lagi," protes Yesung.
"Kau berkeringat banyak sekali, kau bisa dehidrasi jika tidak minum banyak."
Yesung menyerah dan meminum beberapa teguk, lalu tersenyum datar. "Aku sangat yakin kau sangat menyesal karena tinggal di sini lebih lama Jumat lalu."
"Sama sekali tidak. Aku senang bisa membantu." Ryeowook menatap mata Yesung lurus-lurus. "Lagi pula, bagaimana kau bisa merawat diri sendiri?"
Yesung tersenyum menyesal. "Itu pertanyaan yang sudah seharian ini kutanyakan pada diri sendiri, Kim Ryeowook."
"Aku tak yakin berapa lama lagi dokternya sampai," kata Ryeowook. "Bagaimanapun, mengganti sepraimu lagi merupakan ide bagus. Atau mungkin sebaiknya kau tetap berbaring saja."
"Supaya dokter bisa melihat seberapa parahnya aku?" sindir Yesung.
"Tepat sekali." Nada suaranya santai, tetapi sebenarnya Ryeowook khawatir. Kening Yesung panas sekali sampai-sampai handuk basah yang digunakannya untuk menyeka tadi ikut panas, semakin membuatnya takut pria itu terserang pneumonia. Sejauh ini ia merawat pria itu hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, tapi jika harus menjaga semalaman, ia merasa perlu mendapatkan saran profesional.
"Yesung hyung," kata Ryeowook menyesal. "Mungkin aku satu-satunya kenalanmu yang tidak punya ponsel. Boleh aku meminjam teleponmu?"
"Tentu saja. Gunakan telepon ini atau salah satu telepon di luar kamar jika kau butuh privasi," kata Yesung, masih tampak sulit bernapas.
Ryeowook tersenyum berterima kasih dan menelepon Seunghyun dari telepon di kamar Yesung..
"Yeobeoseyo, ini Ryeowook. Aku hanya ingin memberitahu bahwa aku tak bisa datang sore ini, juga tidak akan pulang malam ini."
"Kau tak perlu mengabariku terus seperti itu, Wookie." Seunghyun meyakinkan Ryeowook.
"Aku tahu," kata Ryeowook, wajahnya memerah karena Yesung menatapnya sinis. "Tapi kupikir sebaiknya aku memberi kabar."
"Aku sangat menghargainya," jawab Seunghyun hangat. "Kalau begitu, sampai ketemu."
"Baiklah. Sampaikan permintaan maafku pada Donghae." Ryeowook menutup telepon, pandangannya membela diri. "Itu pemilik tempat tinggalku," jelas Ryeowook pendek.
"Kau yakin tidak ada apa-apa di antara kalian—?" Pertanyaan Yesung terhenti karena batuk, ia melambai meminta maaf pada Ryeowook. "Maaf… Maaf… bukan urusanku."
Ryeowook memelototi Yesung. "Aku harus meninggalkan tugas membersihkan rumah klien lain sore ini, dan baru kali ini aku menginap di tempat lain sejak tinggal di rumah Seunghyun hyung. Jadi, sepertinya aku harus mengabarinya demi kesopanan. Dan, ya, kau benar, ini bukan urusanmu."
Yesung berbaring kehabisan napas, matanya yang merah tampak geli. "Itu lebih baik!"
"Apa maksudmu?"
"Kau melupakan perbedaan status kita."
"Oh," gumam Ryeowook sambil merapikan bajunya. "Maaf," gumamnya.
"Tak perlu. Aku suka seseorang yang pemaksa."
"Kalau begitu, sekarang, semi kebaikanmu sendiri, dengarkan orang pemaksa yang satu ini dan tetaplah berbaring di sana sampai dokter datang."
Namu baru pada jam dua siang bel berbunyi, saat Yesung sudah tampak sangat sakit dan Ryeowook diam-diam panik.
"Saya Dr. Jung," kata wanita muda yang cekatan saat Ryeowook membukakan pintu. "Saya berusaha datang secepat mungkin, tap kami sibuk sekali. Bagaimana keadaan Tuan Kim?"
"Tidak terlalu baik. Terima kasih banyak sudah datang." Ryeowook berjalan lebih dulu ke kamar, mengarahkan dokter berpenampilan menarik itu masuk. "Dr. Jung sudah di sini, Yesung hyung," beritahu Ryeowook, menyembunyikan senyum saat Yesung kaget melihat kedatangan dokter perempuan itu.
"Maaf sudah meminta Anda datang, Dokter," kata Yesung serak, tapi wanita muda itu hanya mengangkat bahu sambil mengeluarkan stetoskop dari tas.
"Sudah tugas kami Tuan Kim. Duduklah sebentar."
Dokter itu mengangkat T-shirt Yesung untuk memeriksa dada dan punggungnya dengan cermat, memeriksa nadi, tekanan darah, telinga dan suhu tubuh pria itu. Lalu dia duduk di kursi di samping tempat tidur untuk menulis resep. Dokter itu menyobek kertas resep, mengambil satu strip pil dari tas, dan menyerahkan keduanya kepada Ryeowook.
"Saya memberikan beberapa antibiotik ini untuknya sekarang. Besok Anda bisa menebus obatnya."
"Apakah saya akan tetap hidup, Dokter?" desah Yesung.
"Ini hanya infeksi saluran pernapasan, jadi jika Anda mengikuti petunjuk saya, ya, Anda akan tetap hidup." Dokter itu berbalik menghadap Ryeowook. "Pastikan dia mendapat banyak cairan, kompres jika suhu tubuhnya bertambah panas, dan dia perlu meminum obat setiap empat jam sekali. Sepanjang malam ini jangan ada yang terlewat jika bisa. Besok dia bisa mulai meminum obatnya empat kali sehari."
"Terima kasih," kata Ryeowook. "Saya akan mengantarkan Anda keluar." Sesampai di ruang depan, jauh dari pendengaran Yesung, Ryeowook bertanya pada dokter itu. "Apakah ada kemungkinan dia terkena pneumonia?"
"Menurut saya tidak. Biasanya, kondisi Tuan Kim sangat fit, jadi setelah minum obat dia pasti akan cepat sembuh." Dr. Jung memperhatikan sekelilingnya dengan ingin tahu. "Apa pekerjaan Tuan Kim?"
"Bekerja di bank investasi."
"Ah. Jam kerja panjang, banyak tekanan. Hampir mirip pekerjaanku—hanya saja dengan bayaran lebih baik. Jelaskan padanya dia belum boleh kembali bekerja sebelum antibiotiknya habis."
Ryeowook tersenyum canggung. "Sebenarnya hubungan kami tidak sedekat itu. Aku pembersih rumahnya."
Dr. Jung tampak terkejut. "Oh—maaf. Apakah ada orang lain yang bisa menjaganya?"
"Untuk saat ini hanya saya." Ryeowook memandang Dr. Jung dengan sorot bertanya. "Apakah menurut Anda dia buth perawatan profesional?"
"Sama sekali tidak. Jika Anda bersedia merawatnya, dia pasti akan dapat sembuh. Sebaiknya saya pergi sekarang, masih banyak panggilan rumah yang harus sipenuhi." Dr. Jung tersenyum. "Semoga beruntung, kalau begitu."
"Mungkin memang saya butuh keberuntungan! Sampai jumpa, Dokter."
Ryeowook kembali ke kamar tidur, menuangkan air ke gelas, dan memberikan antibiotik pertama pada Yesung.
"Bagaimana kalau aku muntah lagi?" Yesung menghela napas setelah meminum obatnya.
"Tidak akan," kata Ryeowook tegas. "Berpikirlah dengan positif."
"Ya, suster." Yesung berhasil tersenyum. "Dasar tukang perintah. Sama seperti Dokter tadi."
"Dr. Jung kelihatan lelah sekali," kata Ryeowook.
"Aku sangat berterima kasih padanya," gumam Yesung. "Kepadamu juga," tambah Yesung. "Bagaimana aku bisa membalasnya?"
Ryeowook tersenyum canggung. "Aku hanya membutuhkan uang untuk mengganti keperluanmu yang tadi kubelikan."
Yesung tampak terkejut. "Tentu saja. Ambil saja dompetku di laci lemari teratas. Ambil sebanyak yang kauperlukan."
Ryeowook cepat-cepat keluar, wajahnya memerah. Tak ada gunanya merasa gengsi meminta ganti uangnya. Ia memang bisa menjaga Kim Jongwoon selama beberapa waktu, tapi tentu saja ia tidak bisa membayari makanan pria itu juga. Ryeowook mengambil struk belanjanya dari tas dan kembali ke kamar tidur. "Ini jumlah yang kubelanjakan," ujar Ryeowook sambil menyerahkan struknya pada pria itu.
"Aku tak perlu melihatnya," geram Yesung, menepiskan struk itu. "Ambil sebanyak apa pun yang kau butuhkan."
Ryeowook berjalan ke arah lemari, mengambil beberapa lembar uang dari dompet pria itu, mengambil uang kembalian dari dompetnya, dan meletakkan dompet pria itu di atas lemari. "Aku akan meninggalkanmu supaya kau bisa tidur sebentar," katanya datar, langsung berbalik.
"Ryeowook," panggil Yesung.
Ryeowook berbalik. "Ya?"
Yesung tersenyum menyesal. "Maaf tadi aku marah."
Ryeowook menatap Yesung seksama, melihat bahwa wajah dan mata pria itu masih memerah karena demam. "Aku akan bersikap baik dan menyalahkan kondisimu yang sedang sakit. Aku berada di dapur jika kau butuh."
"Temani aku di sini saja, Ryeowook—" Yesung mulai terbatuk lagi, kali ini begitu keras sehingga Ryeowook cepat-cepat menghampirinya untuk mendudukkannya, lalu memberikan segelas air lagi setelah serangan batuk itu selesai. "Jebal?" Yesung menghela napas.
"Baiklah," jawab Ryeowook, napasnya hampir sama berat dengan Yesung ketika ia meyusun kembali bantal-bantal untuk sandaran pria itu. "Aku perlu minum secangkir teh. Tapu tehnya akan kubawa kemari sampai kau lebih tenang, jika kau lebih suka begitu."
Yesung mengangguk tanpa bicara, matanya memancarkan rasa terima kasih, dan Ryeowook menyerah lalu tersenyum kecil. "Kau butuh sesuatu?" tanya Ryeowook.
"Tidak. Buat saja tehmu. Kau jelas layak memperolehnya—lengkap dengan apa pun milikku yang menurutmu menarik."
"Teh saja, terima kasih."
"Ryeowook."
"Ya?"
Pandangan Yesung yang berat menatap Ryeowook lekat-lekat. "Taehyun si mantanmu itu pastilah orang gila mengerikan."
"Tidak juga." Ryeowook tersenyum, dan langsung memunculkan lesung pipinya. "Dia pria biasa, pria yang punya masalah."
**To Be Continued**
Hello everyone! Hopefully all of you are enjoying the story..
Sorry for much typos *I don't have enough time to correct it* See yaa next chapter.. But still can't promise to update it soon.. ^^And thank you for your time in reading the stories.. ^^
February 15th, 2016, 00:10 WIB
