All about love
.
.
Kaihun^^
.
.
Warning : Sedikit lebih serius dari chapter2 lainnya. typoo bermekaran, boys love, dkk.
.
.
"Its Ending bro".
.
Hope you like it.
.
Don't like don't read.
/
/
/
8. Jealous and... (Park eh, Part II) –End-
.
.
Hari yang muram bagi Jongin. Oh, Luhan juga.
Dua hari sudah mereka diacuhkan oleh Sehun. Dan dua hari pula mereka menjadi bahan bully-an Baekhyun dan Kyungsoo karena dianggap telah menyakiti Sehun kecil mereka.
Kalau Jongin sih sudah terbiasa, tapi bagi Luhan?
Hell! Biasanya Luhan-lah yang selalu membully Jongin dengan sadis bin narsis(?) tapi kali ini dia mendapat karma yang berkali lipat-menurutnya-
Luhan kini sedang berada di cafe bersama Baekhyun dan Kyungsoo. Mendengarkan ceramah dari dua orang yang dua hari ini sangat di jengkeli olehnya.
"Sekarang kau ingat-ingat dengan otak tumpulmu itu, apa yang kau lakukan hingga membuat Sehunnie memusuhimu?" tanya Baekhyun.
"Ah, mana mungkin dia bisa mengingatnya. Mustahil." Tambah Kyungsoo dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Mengejek mungkin.
"Benar, Kyung. Si Cumi-cumi ini mana punya ingatan yang kuat." Balas Baekhyun. Matanya yang dihiasi eyeliner memandang Luhan kasihan. "Ish ish ish..." gumamnya kemudian.
"Hey! Berhentilah mem-bully-ku! Apa kalian tidak ingat jasa-jasa ku dalam melindungi Sehun dari si hitam pesek itu? Renungkanlah baik-baik!" kini gantian Luhan yang berkoar-koar. Setelah sekian lama terus direndahkan dengan tidak keren.
Baekhyun dan Kyungsoo hanya menatap malas Luhan. Mereka sebenarnya jengah juga. Selama masa pem-bully-an Luhan –Jongin tidak masuk hitungan, karena pem-bully-an Jongin akan berlangsung hingga akhir hayat- Luhan tak henti-henti mengekori mereka dan merengek untuk membantunya berdamai dengan Sehun.
Luhan bahkan mengatakan dengan nada sedih yang menurut mereka menjijikkan karena tidak sesuai dengan umurnya.
"Aku tidak bisa kalau tidak mendengar suara Sehunnie yang memanggilku. Aku bisa lemas dan tak berdaya menghadapi siksaan dunia."
Ucapnya kala itu. Hei, bahkan Luhan tidak menyadari kalau dirinya-lah yang biasanya menjadi penyiksa orang-orang disekitarnya.
Baik dengan omelannya atau nada tinggi yang membuat telinga berdengung. Dan rengekan seorang Luhan sama sekali tidak lebih baik dari pada bentakan khas-nya itu.
Dengan modal keyakinan tersebut dan untuk menghindarkan Baekhyun dan Kyungsoo dari kekurangan cairan karena terlalu banyak muntah. Dua orang itu memutuskan untuk membantu Luhan.
"Baiklah, kita mulai saja tuan kijang. Kau harus mengingat apa yang kau perbuat pada Sehunnie tiga hari lalu." Ucap Baekhyun seolah menjadi detektif berkekuatan super.
Luhan menggerutu, panggilannya itu Rusa bukan Kijang. Tapi dia tidak membantah si muka eyeliner itu atau dipastikan mereka tidak akan mendapat jalan keluar secepatnya. Dan Luhan tidak akan dapat mencubiti pipi Sehun lagi dalam jangka waktu dekat ini.
"Aku benar-benar tidak tahu. Ku rasa aku tidak pernah melakukan hal yang aneh."
"Lalu maksudmu Sehun marah tanpa alasan?" tanya Kyungsoo yang telah menandaskan teh-nya.
"Oh, kau menuduh Sehun yang aneh, begitu?" kini Baekhyun yang bertanya dengan nada menuntut.
'Jangan lagi.' Batin Luhan nelangsa.
"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku-..."
"Halah, jangan banyak alasan. Aku tahu isi otak kotormu itu. Ayo Kyungsoo. Kita tinggalkan Cumi premium ini." Ajak Baekhyun.
"Luhan, ternyata kau tak lebih dari Cumi eceran!"
'hei, mereka kira aku bensin?' tau kan, itu suara batin siapa.
"Ayo pergi."
Dan mereka berdua meninggalkan Luhan dengan mulut menganga.
Oh, sepertinya Luhan harus menahan dirinya untuk menendang dua orang itu. Katanya ingin membantunya? Bantuan seperti apa?
Mereka sama sekali tidak membantu. Malah menambah bebannya. Apalagi dua curut itu tidak membayar minumannya?!
"KEMBALI KALIAN! KALIAN BELUM MEMBAYAR, HOI!"
Ucapkan selamat tinggal pada uangmu, tuan.
-000-
Jongin memandang benda didepannya nelangsa.
Apa yang akan dilakukannya dengan benda ini? Sehun bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda merindukannya.
Kini Jongin duduk di depan sebuah cafe sambil meringkuk. Tidak berniat untuk beranjak dari posisi gembelnya itu. Sesekali mengusap ingus yang ada di kepalanya- eh?
"Hai manusia buluk, apa yang kau lakukan disini?"
Jongin mendongak dan memasang wajah derp. Oh si onoh, si onoh itu lho yang jadi partnernya dalam dikacangin oleh Sehun. Yoi, si rusa beijing.
"Janganlah memandangku seperti itu anak muda, sesungguhnya kita ada dalam satu lingkaran takdir yang sama." Ucap Luhan.
Jongin ingin muntah.
"Marilah kita bekerja sama agar dapat keluar dari takdir yang menggembelkan ini, lagian GUE UDAH BOSEN DI BULLY MULU BARENGAN SAMA ELU!"
Jongin terjengkang ke belakang karena teriakan dahsyat Luhan. Anak ini kalau teriak tidak pernah tanggung-tanggung, seampas-ampasnya, bung! Apalagi si Luhan abis sarapan sambel stroberi sama jus terasi. That's amazing, man~
"Hyung bicara apa sih?" Jongin yang sedari tadi melongo semakin melongo saat pemuda china ini berceloteh panjang lebar. Jelas saja, omelan Luhan lebih mirip dengan shinkasen. Cepaaaat hingga rambut Jongin bergoyang karena hembusan angin dari mulutnya.
"Kau tidak mengerti?" tanya Luhan kesal. Dia ikut duduk di sebelah Jongin dan ikut-ikutan juga meringkuk seperti gembel dengan wajah nelangsa.
"Tak apa kalau kau tidak mengerti, yang jelas. Kita harus mencari cara untuk berbaikan dengan Sehun."
Nah kalau begini kan Jongin mengerti. Tidak perlu berlibet-libet sampai sampai menyemburkan nafas naganya ke muka ganteng jongin juga kan jadinya.
"Tapi hyung, kita bahkan tidak tahu kenapa Sehun marah pada kita." Ucap Jongin pelan. Agaknya sedikit frustasi dengan keterdiaman Sehun yang membuatnya merana hingga susah BAB.
Luhan mulai mengorek lantai dibawahnya dengan ganas, "Aku tidak mengerti, pesek." Ucap Luhan. "Seharusnya kau yang lebih tau! Kau kan selalu menempel pada Sehunnie kecilku."
Jongin diam diam mendelik pada Luhan yang masih dengan kegiatan mengoreknya, hallooo ada yang tidak sadar diri disini~
"Jelas-jelas kau yang selalu menempel pada Sehun." gumam Jongin pelan. Beruntung Luhan masih dalam keadaan galau, jadi bebatuan mulia di telinga penuh sehingga pendengarannya tidak setajam biasanya. Bersyukurlah kau Jong!
"Aku sudah tidak betaaaah~" rengek Luhan.
Jongin memegang perutnya yang mendadak mual.
"Aku tidak tahan jauh dari Sehunnieku yang manis, yang imut, yang merengek dan yang-..."
"Baiklah, hyung." Jongin memotong ucapan Luhan yang semakin lama semakin menjijikkan dengan aegyo yang lebih menjengkelkan.
Luhan menyedot ingusnya yang menggantung hingga papua dan menatap Jongin –sok- imut.
Jongin tersenyum terpaksa dengan wajah yang telah membiru, ah meskipun itu tidak mungkin karena warna hitam lebih mendominasi, tapi mari anggap wajahnya membiru agar si pesek bisa melanjutkan cerita dengan ceria. Dia rasa isi perutnya telah bergejolak bagaikan lava.
"Janji?" kata Luhan dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
Dan saat itu, yang terlihat hanya Jongin yang berlari menuju toilet.
==KaiHun==
"Sehunnie, ayo makan siang!" ajak Baekhyun pada Sehun yang tengah menelungkupkan kepala ke meja taman. Kepala Sehun menggeleng, menandakan penolakan.
"Tapi kau akan sakit jika tidak makan. Tadi kan Sehun juga tidak sarapan." Bujuk Baekhyun. Tapi Sehun kembali menggeleng.
"Sudahlah Baek." Ucap Kyungsoo yang membawa dua bungkus roti dan meletakkannya di atas meja. Tangannya mengelus kepala Sehun pelan.
"Ayo nak, makan dulu."
Baekhyun semakin menganga ketika dengan mudah Sehun bangkit dan menerima roti yang dari Kyungsoo.
"Ba-bagaimana kau melakukannya?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo hanya memandangnya malas, "Kau memperlakukannya seperti anak anjing, pendek." Sembur Kyungsoo.
"Yaa! Aku tidak-..." Baekhyun berhenti sejenak, sepertinya ada yang aneh dengan panggilan Kyungsoo untuknya tadi, tapi Baekhyun hanya mengangkat bahu tidak tahu. "...-aku tidak memperlakukannya seperti anak anjing, kau yang memperlakukannya begitu." Protes Baekhyun.
"Yaa yaa! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Luhan yang langsung mendudukkan diri di samping Sehun.
Sehun yang melihat Luhan disampingnya memilih meletakkan rotinya dan beranjak tanpa suara dari sana. Membuat Kyungsoo dan Baekhyun menatap Luhan sengit.
"Kali ini apa, tuan Lu?" tanya Baekhyun.
"Kau membuat anakku pergi tanpa menghabiskan makan siangnya." Ratap Kyungsoo, mata bulatnya menatap nelangsa roti yang tadi dimakan bayi kecilnya.
Baru saja akan membuka mulut, Baekhyun kembali menyela.
"Sudahlah, kau sudah tidak cocok berada dikelompok kami, lohan. Karena kau telah menyakiti Sehun." ucap Baekhyun dramatis dan pergi mengikuti Sehun.
Kini Luhan gantian memandang Kyungsoo penuh permohonan. Berharap maknae di kelompok pembullyan mereka-dulu- bersedia membantunya.
"Kyung-..."
"Kau menyakiti bayi kecilku." Rengek Kyungsoo dan pergi menyusul partnernya sekarang.
"Oh Tuhan, setan setan kecil itu." gumam Luhan frustasi.
-0000-
Jongin kali ini berjongkok kembali. Namun dia berada di tengah lapangan basket outdoor. Tidak apa apa sebenarnya jika Jongin tidak malu, tapi masalahnya adalah lapangan itu tengah digunakan.
Para mahasiswa yang kebetulan lewat melongo ditempat karena pemandangan mengganggu itu. para penonton jengah, tahu jika ada yang salah dengan hubungan Jongin-Sehun-Luhan, tapi Jongin jika sedang galau tidak perlu melibatkan semua warga kampus secara tidak langsung juga kan?
Kemarin, Jongin mengganggu kelas matematika dengan menyalakan lagu galau di pojok ruangan, dan berakhir dengan diusir secara tidak hormat oleh dosen saat itu. lalu, Jongin juga membuat pohon pohon di taman kampus keropos karena tangannya yang tanpa henti menggoreskan ukiran hati yang patah-yang sebenarnya buruk sekali, percayalah.
Tapi setelah di usir oleh satpam, hingga diberi tanda 'Kim Jongin dilarang masuk' Jongin tidak juga mereda.
Seperti hari ini, saat dia berjongkok di tengah lapangan, menghalangi latihan club basket. Mungkin itu masih bisa ditolerir, tapi tidak setelah Jongin bangkit dan malah menggambari lantai dengan bentuk hati yang patah-lagi- dari ujung ke ujung. Terlebih lagi, seragam para pemain tidak lepas dari sasaran Jongin.
Para penonton bersorak girang saat Jongin menjauhi pemain terakhir yang seragamnya tak jauh dari yang lain, dikira si Jongin akan pergi meninggalkan lapangan tersebut, ternyata tidak. Jongin kembali duduk ditengah setelah menyalakan lagu Because I Miss You-nya Jung Yonghwa, dan merebahkan diri disana.
Dan adegan hari itu berakhir karena para pemain yang tadi dicoret-coret Jongin berubah menjadi bar-bar dan menyeret Jongin keluar dari lapangan.
Intinya, Jongin kacau balau dan gila!
-KAIHUN-
"Sehun, kumohon tunggu sebentar." Ucap Jongin sambil mencoba memegang lengan Sehun yang berjalan cepat di depannya. Dan Jongin menarik Sehun untuk berhadapan dengannya setelah berhasil meraih lengannya.
"Apa lagi?" gumam Sehun pelan. Matanya enggan menatap Jongin.
"Maafkan aku jika aku salah Sehun, tapi aku tidak mengerti dimana salahnya."
Sehun mendadak mendongak dan menatap Jongin sengit.
"Kau tidak tahu?! Kau anggap aku apa, Jongin!" seru Sehun, membuat pegangan tangan Jongin meregang dan itu kesempatan Sehun untuk melepaskan lengannya.
"Kau! Setidaknya putuskan hubungan denganku sebelum berhubungan dengan orang lain!"
Jongin melangkah mendekati Sehun tapi Sehun dengan sigap berjalan dua langkah lebih cepat untuk mundur.
"Sehun, aku tidak mengerti. Ap-..."
"Tentu saja kau tidak mengerti! Kau tidak jujur padaku! Kau bohong, kau bilang akulah satu satunya! TAPI KAU MALAH MEMBELI CINCIN UNTUK LUHAN!"
"Se-sehun, aku bisa jelaskan." Ungkap Jongin.
"TIDAK! MENJAUHLAH DARIKU, KIM!" jerit Sehun dan berlari meninggalkan Jongin.
"Ya Tuhan, Sehun! kau salah paham." Ucap Jongin frustasi. "Aku harus cepat menjelaskannya!" Jongin berbalik hendak kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya, sebelum terdorong karena sebuah pukulan bersarang di rahangnya.
"Baekhyun hyung?" ucapnya bingung. Pukulan pemuda kecil itu lumayan juga, ngomong ngomong.
Baekhyun kembali ke arahnya dan memukul kembali pipinya hingga membiru.
"TERNYATA SEPERTI ITU, HAH?! KAU BERKENCAN DENGAN LUHAN! APA YANG KALIAN BERDUA PIKIRKAN?! JIKA KAU INGIN MENYAKITI SEHUN, BUKAN DENGAN INI CARANYA. BRENGSEK!"
Setelah memberikan pukulan terakhir, Baekhyun bangkit dan pergi dengan emosi memuncak. Meninggalkan Jongin yang terengah kaget.
-KAIHUN-
'Aku tidak mengerti kenapa kau marah padaku, Sehunna. Aku telah berulang kali mengirimmu pesan, menelponmu, bahkan selalu mengunjungi rumahmu untuk mengucapkan maaf. Sekali lagi, maafkan aku. Jika kau tidak ingin menemuiku lagi, aku akan terima. Tapi aku mohon. Datanglah sekali saja di cafe tempat biasa kita kencan. Aku mohon, sekali saja. Aku akan menunggumu hingga kau datang. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku mencintaimu, Kim Sehun.'
Sehun mengembalikan surat itu kedalam lokernya. Dadanya berdenyut sakit. Dikhianati seperti ini sakit. Batinnya berujar.
"Hai Sehun." Sehun terlonjak dengan tepukan di pundaknya dan segera berputar untuk melihat si pelaku.
"Ah, Leeteuk hyung?"
,-,-,-,-,-,-,-,-,-====================-
"Kau ada masalah." Itu bukan pertanyaan, itu adalah sebuah pernyataan. Dan Sehun tidak bisa mengingkarinya.
"Geunyang..." ucap Sehun ragu.
Leeteuk menyesap kopinya sebentar dan menyandarkan tubuhnya di kursi kantin.
"Kau tidak ingin memesan?" tawar Leeteuk.
"Tidak, aku kehilangan nafsu makan." Ucap Sehun dengan cengiran. Dan Leeteuk tidak tahan untuk tidak memukul kepala anak ini.
"Kehilangan nafsu makan bukan hal yang bisa dibanggakan, bodoh." Ucap Leeteuk santai, mengabaikan Sehun yang mengusap kepalanya yang berdenyut.
"Arra arra." Ucap Sehun malas. "Hyung tidak ada kelas hari ini?" lanjutnya.
"Bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran dengan tenang jika kekasihmu itu selalu membuat masalah."
Sehun menyetujuinya dalam hati, dia juga mendengar segala kegilaan Jongin selama belakangan ini. tapi...
"Dia bukan kekasihku." Ucap Sehun pelan.
"Aaah, I see." Ucap Leeteuk dengan nada mengejek. Sehun cemberut mendengarnya.
Leeteuk kembali menyibukkan diri dengan kopinya. Dan itu membuat hening mengambil alih. Sehun tidak tahan, ngomong-ngomong.
"Hyung, kenapa tiba-tiba mengajakku mengobrol?"
"Waktu waktu sebelumnya aku begitu sibuk, makanya tidak ada waktu mengobrol. Kau jangan salah paham, aku tidak sekejam itu datang padamu ketika aku butuh, dasar naif."
Walaupun Leeteuk sering mengejekknya, tapi Sehun tahu itu bentuk perhatian Leeteuk yang memang tidak begitu baik mengungkapkan kasih sayangnya.
Leeteuk meletakkan gelas kopinya yang telah kosong, dan memandang Sehun perhatian.
"Kau tau, kalian sudah berhubungan sangat lama. Akan sangat menyesalkan jika kalian berakhir karena kesalah pahaman ini. paling tidak, sebelum membuat keputusan. Kau harus mendengarkan pihak lain juga, dengan begitu kalian akan semakin dewasa. Percaya padaku, dia orang yang baik."
Setelah itu seniornya beranjak dan menghilang di balik tikungan tembok kantin.
"Aku mengerti, hyung." Ucap Sehun sambil tersenyum dan berlari menuju cafe.
"Kau harus membayar waktuku, Kim –dark-in! Jika nilaiku turun karena membolos, akan ku bakar kau hidup hidup. Seenaknya sendiri menyuruh membolos, apa dia tidak ingat aku berada di tingkat akhir! " Geram Leeteuk setelah mendapat pesan dari temannya untuk menemui dosen Im karena membolos.
Ini semua karena permintaan junior hitam yang sialnya andalan club sepak bola yang dipimpinnya. Dan Leeteuk harus dengan sangat terpaksa mengorbankan jam pelajaran kuliahnya. Senior yang satu ini termasuk siswa kelewat rajin sebenarnya.
"Ah, paling tidak aku tidak akan merasa malu lagi karena kegilaan Jongin." ucapnya senang dan berlari menuju ruang dosen sambil melompat senang.
Masalah Leeteuk, clear!
-==-KAIHUN-==-
Sehun terengah karena berlari, badannya menunduk untuk mengambil nafas ketika seorang pelayan memberikannya selembar kertas. Sehun membukanya perlahan.
'Masa lalu ada di belakang, tapi kita tidak akan bisa seperti ini tanpa masa lalu. Tempat kita menyalurkan cinta kita pertama kali, temukan aku sayang.'
Pemuda berambut coklat madu ini membacanya kembali sebelum tersenyum dan berlari menuju tempat yang tak asing dengannya.
Belakang, dan pertama kali. Jongin terlalu membuatnya mudah bagi Sehun. itu jelas sekali, yang dimaksud Jongin adalah belakang cafe yang merupakan sebuah taman kecil tempat pertama kali Jongin menyatakan cintanya. Saat itu mereka masih terlalu naif, tapi sanggup bertahan sampai sekarang.
Sehun berdiri diam setelah menghadap Jongin yang tersenyum didepannya, seolah telah mengetahui jika Sehun akan datang.
"Jo-jongin." ucap Sehun.
Jongin terlihat begitu tampan dengan kaos hitam dengan rompi jeans tanpa lengan dan celana jeans hitam. Terlihat badboy tapi mempesona sekaligus. Di tangannya terdapat banyak tali yang terhubung dengan begitu banyak balon warna warni. Untuk apa semua itu? batin Sehun.
"Sebelumnya, tolong dengarkan aku." Ucap Jongin serius. Suaranya dalam namun menenangkan. Seolah menghipnotis Sehun untuk tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Jongin.
"Pertama, aku minta maaf. Atas semua hal yang terjadi enam tahun ini. sejak kita baru menjalin hubungan, aku tahu aku begitu menyebalkan."
"Tidak, Jongin, aku-..."
"Jangan memotong dulu, Sehun." ucap Jongin dengan senyum. Dan itu membuat Sehun terdiam.
"Dan juga, untuk kesalahpahaman ini, aku akan menjelaskan semuanya."
Jongin mengambil nafas dan menghidupkan senyumnya kembali.
"Semua yang kau lihat antara aku dengan Luhan hyung, kau salahpaham. Aku tidak pernah sekalipun terpikir dan tidak akan pernah untuk meninggalkanmu. Apalagi menjalin hubungan dengan orang itu."
Ucapan Jongin membuatnya geli juga.
"Aku tidak akan menyerah tentangmu, Sehun. tidak setelah semua perjuanganku. Sebenarnya, saat aku pergi ke toko cincin itu, aku meminta tolong pada Luhan hyung. Karena ukuran jari kalian sama. Dan semua itu untuk ini."
Jongin memindah balon itu ke tangan kanannya, dan membiarkan bagian bawah tali yang disimpul itu terlihat. Sehun melihat sesuatu yang berkilau disana. Oh, Tuhan!
"Jadilah pendamping hidupku, Sehun. aku akan berjanji demi hidupku, aku akan membahagiakanmu."
Ucap Jongin, mengulurkan tangannya yang menggenggam sekumpulan balon tadi.
"Aku mohon Sehunna." Gumaman terakhir Jongin sebelum melepaskan balon tadi yang terbang menuju Sehun tak jauh darinya.
Beberapa detik saja. –Jongin memejamkan matanya.
Jika Sehun tidak meraihnya, semua usahanya akan berakhir. Semuanya. Semua dari awal hingga saat ini tidak akan ada gunanya.
Beberapa detik lagi, balon balon itu akan terbang menjauh darinya, dari Sehun. dan membawa harapan dan cintanya menjauh.
Jongin mulai membuka matanya perlahan. Senyumnya luntur, tidak menyangka.
Cinta Sehun tidak sebanding dengannya.
"Terima kasih, Sehun." ucapnya sendu. Hatinya berdenyut sakit karena Sehun berdiri di hadapannya tanpa rangkaian balon itu, yang terlihat hanya balon yang terbang menjauh dan semakin mengecil hingga tak terlihat.
"Kau mau kemana?" tanya Sehun dengan suara geli saat Jongin membalikkan badannya.
Sedikitnya Jongin kesal, emosi lebih tepatnya. Bagaimana mungkin Sehun bisa bertanya dengan nada seperti itu setelah menolak lamarannya?
Jongin berbalik dengan cepat, hendak memaki pemuda itu sebelum Sehun menubruknya dengan ciuman. Jongin membelalak. Terlalu kaget lebih tepatnya. Bagaimana mungkin?
Sehun melepaskan ciumannya dan mengembangkan senyum hingga matanya tertutup, tangannya menunjukkan cincin yang diikatkan Jongin di balon tadi sekarang telah tersemat di jari manisnya.
"Se-sehun." gumam Jongin tidak percaya.
"Habisnya, Jongin terlalu lama menutup mata." Ucapnya dengan nada menggemaskan.
Yang terjadi selanjutnya adalah Jongin yang memeluk Sehun erat sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali dan Sehun yang tertawa bahagia sambil mengecupi sisi pipi Jongin.
Masalah ini, clear!
-===-KAIHUN-===-
"Jongin yakin tidak apa-apa?" tanya Sehun kesekian kalinya karena luka diwajahnya tempo lalu akibat pukulan Baekhyun.
Jongin tak lelah tersenyum dari tadi, dia mengeratkan pelukannya pada Sehun di pangkuannya.
"Tidak, sayang. Ini hanya luka kecil." Jawabnya sambil mengecupi setiap centi wajah Sehun, membuat si empu terkekeh geli.
Kemudian Sehun merasakan tarikan yang membuatnya berdiri dari pangkuan Jongin.
"Baekhyun hyung?" panggil Sehun ketika mengetahui siapa yang menariknya. "Kyungsoo hyung, ada apa?" tanya Sehun pada Kyungsoo yang memeluknya protektif.
Baekhyun meraih kerah Jongin, "Ku kira kau mempunyai cukup rasa malu untuk kembali mendekati Sehun, ternyata tidak." Ucapnya tajam.
Sehun melepaskan diri dari Kyungsoo sebelum membebaskan kerah Jongin dari jemari Baekhyun dan berdiri diantara mereka.
"Hyung, jika ini tentang kemarin, aku bisa jelaskan."
"Baiklah." Ucap Baekhyun menyetuju, meskipun begitu matanya masih menatap tajam Jongin.
===-''''''';;;;;;;;;/...00000000
"Jadi begitu." Sehun mengakhiri ceritanya, masih dengan duduk dipangkuan Jongin. jongin sendiri hanya diam dan memainkan rambut belakang Sehun. sedangkan dua orang lain duduk dihadapan mereka, dibatasi oleh meja semen taman.
"A-ah begitu." Ucap Baekhyun yang entah kenapa mendadak gugup.
"Ba-baek, se-sepertinya kita salah sasaran." Kata Kyungsoo.
Baekhyun bangkit dari duduknya, "Sehun, kalau Luhan mencari kami. Bilang saja kau tidak tahu."
Kyungsoo ikut bangkit dan berujar, "Yayaya, jika perlu katakan kalau kami tidak berangkat, dan ki-..."
"Oh, itu Luhan hyung." Ucap Jongin dengan suara agar keras, membuat Luhan menghampiri mereka tergesa.
"AH, KAU HITAM!" bentak Baekhyun pada Jongin.
Jongin menjulurkan lidahnya jenaka. Dan itu adalah tantangan perang untuk Baekhyun jika saja pemuda pendek itu tidak dikejar bison kali ini.
"Kyung, aku but-..." Baekhyun melongo, Kyungsoo telah lari kalang kabut sejak tadi.
"JONGIN! PEGANG GADIS DESA ITU!" teriak Luhan dari jauh.
"SIAP, HYUNG." Jawab Jongin patuh, dia memegang dua tangan Baekhyun ke belakang.
"AH SIAL! INI PENGHIANATAN."
Sehun hanya berdiri bingung. Dia tidak tahu menahu tentang semua ini.
"Hai, Sehun." sapa Luhan sambil mencengkeram bahu Baekhyun.
"Ah, Hai Luhan hyung, kenapa wajahmu... buruk rupa?" tanya Sehun, terlalu jujur sebenarnya.
Luhan tertawa menyeramkan dan melirik Baekhyun, "Aku digigit tikus tanah, hun." Ucapnya.
Jongin melepaskan tangannya, membiarkan Luhan melaksanakan tugasnya.
"Oh, hyung. Aku pamit dulu." Luhan mengangguk semangat, karena mangsa makan malamnya telah tertangkap.
Jongin menggandeng Sehun menjauh setelah melihat Luhan berancang-ancang mencincang hidangannya.
"HYUNG! AKU BISA JELASKAN! SAAT ITU SEMUANYA SEDANG KACAU, AKU TIDAK TAHU MANA YANG BENAR DAN MA-AAARGHH! JANGAN GOSOKKAN TANGAN BAUMU PADA EYELINERKU, ONTA!" Lolong Baekhyun.
"BODO AMAT!" kini teriakan Luhan yang menggema, kemudian suara Baekhyun yang dahsyat kembali menyahut.
"Eh, ada apa?" tanya Sehun karena suara teriakan dari belakang.
Namun Jongin menahan kepalanya yang akan menoleh.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Jongin. "Bagaimana jika kita pergi menemui orang tuamu?"
Sehun mengangguk semangat dan memeluk Jongin erat, keduanya terlarut dalam ciuman tanpa terganggu raungan dari belakang.
"I love you, Sehunna."
"I love you more, Jongin."
Jongin menggandeng Sehun menuju motornya di parkiran. "Aku tidak percaya." Ucap Jongin.
"Eeeh? Kenapaaa?" rengek Sehun.
"Because, I love you most." Jawab Jongin dan mencuri kecupan di bibir tipis calon pendampingnya itu.
Wajah Sehun memerah hingga telinga. "Ish, aku malu, Jongin bodoh!" teriaknya dan berlari menjauhi Jongin untuk menyembunyikan semburat merah tadi.
Jongin gemas sendiri dengan tingkah manis Sehun, "Hey, tidak perlu malu Nyonya Kim!"
"BODOOH."
Dan Jongin tertawa semakin lebar karena teriakan Sehun tadi.
Ah, akhir yang indah bagi Tuan dan Nyonya Kim nantinya.
End.
Aaaaaaaaa... akhirnya update...
Maaf ya kalau ceritanya rada belok^^ ya abisnya, saya merasa kalau gaya menulis saya sedikit berubah sih, hehehe.
Dan adegan lamar melamar itu tiba tiba datang pas saya lagi bongkar bongkar video di laptop dan menemukan-ceileh- videonya superjunior yang no other. Terus saya kepikiran deh, hohoho
Thanks buat semua yang mendukung saya selama pembuatan ff absurd ini, sama kalian kalian yang udah review dan nungguin saya update. Ugh, jadi sedih ff ini udah tamat, hiks.
Makasih ya kawan, akan saya usahain update buat ff saya yang lain.
Oh, beberapa hari ini saya sering review tanpa login, males sekali soalnya :-D maklumi saya juseyoo~
Pokoknya, TERIMAKASIH BUAT DUKUNGAN, SEMANGAT, DAN PENANTIANNYA/? Hohoho
Terharu saya, sampe ditunggu. Hiks.
Akhir kata
Mind to review?
.
.
EH EH ADA PENGUMUMAN-sok penting deh-
Saya mau tanya pendapat, bagaimana jika saya melanjutkan ff ini tapi akan jadi lebih dewasa? –alah belibet sekali.
Pokoknya, aku mau ngelanjutin AAL tapi kontennya lebih dewasa, lingkungannya bukan kampus lagi tapi udah dunia kerja, bla bla bla. Terus ada konflik2nya gitu jadi nggak flat^^
Gimana?
Kek semacam sequel gitu ya kali ^3^ (ngomong sequel aja belibet amat elah!)
Ya gitu deh. Gimana?
.
Thanks broooo~
.
.
