[HONEY]

Luhan tidak pernah berharap memiliki kekasih seperti Oh Sehun. Lelaki yang memiliki banyak kelebihan –kelebihan tampan, kelebihan materi, kelebihan pesona, dan berbagai kelebihan lain. Luhan juga tidak menyangka Oh Sehun mampu meliriknya, seorang gadis biasa yang tomboy, ceroboh, dan tidak secantik rekan-rekan Sehun sesama model. Tapi Luhan juga tidak bisa melewatkan 'kesempatan' yang ditujukan kepadanya saat Sehun menunjukkan ketertarikan untuknya hingga mereka resmi menjalin kasih selama satu bulan lamanya. Luhan tidak menampik bahwa dirinya menyukai Sehun. Well, siapa yang tidak terjebak oleh pesona Oh Sehun? Bahkan mungkin para ahjumma akan menerima ungkapan cinta dari pria itu. Tetapi tentu saja Sehun tidak tertarik pada ahjumma.

Sekilas Luhan merasa sama seperti gadis-gadis lain yang menjadi pemuja –atau istilah kerennya fangirls- Sehun. Ia akan berubah gugup, jantungnya berdetak cepat, dan wajahnya menghangat saat di tatap oleh mata setajam elang dan dingin milik Oh Sehun. Sedangkan Luhan juga berbeda dari fangirls Sehun, dimana ia bisa melihat Sehun sepuasnya ketika pria itu mengunjungi apartmennya, mendapatkan perlakuan special, dan tentu saja panggilan sayang yang di khususkan Sehun untuk Luhan.

"Honey…Honey…Honey…"

Luhan sangat menyukai saat Sehun memanggil namanya dengan sebutan itu. Hatinya terasa sejuk dan pipinya menghangat. Seandainya bisa, Luhan ingin merekam panggilan itu untuk ia dengarkan setiap bangun tidur ataupun suara pengantar tidur. Ia yakin tidurnya akan sangat nyenyak mendengar suara Sehun dan panggilan yang Sehun berikan hanya untuknya.

Namun ada kalanya Luhan merasa jengah, terutama saat Sehun memanggilnya di saat yang tidak tepat. Seperti kemarin siang dimana Luhan sedang berbincang dengan dosennya –Mr. Kim. Mereka sedang berbincang serius dan tiba-tiba Sehun datang dari belakang Luhan dan memanggil Luhan dengan sebutan 'Honey'. Bayangkan! Di depan dosen pengajarnya, Sehun melakukannya. Antara malu dan merasa tidak sopan, Luhan meninggalkan Sehun setelah selesai berbincang singkat –karena interupsi Sehun- dengan Mr. Kim. Entah kenapa mood Luhan tiba-tiba memburuk, alhasil Luhan mencueki Sehun pada sisa hari kemarin. Meskipun demikian Sehun sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf berulang kali, hingga akhirnya Luhan luluh untuk memaafkannya.

"Lu, habiskan makananmu. Sebentar lagi ujian dimulai.", suara Yoona menginterupsi Luhan dari setumpuk bukunya. Ia harus ujian tetapi belum sempat belajar karena moodnya yang buruk.

Luhan mendengus dan merapikan buku-bukunya yang sempat ia baca. Sementara itu, setangkup roti gandum memasuki mulutnya dan ia kunyah dengan cepat.

"Hmm. Kau duluan saja. Aku ingin ke toilet sebentar.", balas Luhan dan langsung pergi ke salah satu bilik toilet.

Saat sudah selesai dan akan membuka pintu, Luhan justru mengurungkan niatnya. Ia mendengar suara ribut dari luar, ia yakin beberapa mahasiswi tengah bergosip di wastafel. Sebenarnya ia tidak perduli, tetapi lain cerita kalau subyek yang di gosipkan adalah kekasihnya sendiri.

"Kyaaa! Kau tau, Sehun Oppa sudah resmi memberikan nama untuk fans-nya!

"Benarkah? Apa namanya?"

"Coba tebak dan aku yakin kau akan terkejut! Ah, aku tidak menyangka Sehun Oppa memilih nama itu untuk kita!"

"Ya! Cepat beritahu! Ini gara-gara eomma yang menyita ponselku, aku jadi tidak bisa update berita Sehun Oppa."

"Dia memberi nama HONEY! Argghh! Aku ingin pingsaaan!"

DEG

"Honey?", ulang Luhan dalam suara kecil.

Honey? Bukankah itu panggilan sayang dari Sehun hanya untuk Luhan? Jadi intinya, Honey bukan hanya panggilan untuk Luhan saja? Luhan termangu beberapa detik. Ia yakin telinganya masih berfungsi dengan baik meskipun ia mendengar dari dalam bilik toilet. Ia-pun tidak salah mendengar kata Sehun yang diucapkan salah satu gadis diluar. Perlahan Luhan keluar dari bilik toilet, disana sudah sepi tidak ada mahasiswi yang bergosip lagi. Luhan lalu keluar menuju kelasnya, dengan langkah pelan dan sedikit lemah.

Hey itu hanya sekedar nama, Luhan.

Batin Luhan berontak. Benar, itu hanya nama panggilan semata. Tapi mendengar kekasihmu memanggil ratusan gadis lain dengan sebutan yang sama, apakah Luhan tidak boleh kecewa?

"Honey!"

Panggilan itu, yang biasanya Luhan dengar saat Sehun berada di dekatnya. Yang biasanya mampu mengirimkan desiran aneh di hati Luhan. Ya, Sehun memang berada di dekatnya sekarang. Lelaki jangkung itu berdiri menghalangi langkah Luhan menuju kelasnya.

"I miss you…", kata Sehun sembari merentangkan tangannya berharap Luhan akan merengkuhnya.

Aku juga merindukanmu, Hun. Balas Luhan di dalam hati. Pada kenyataannya ia hanya terdiam memandang wajah tampan Oh Sehun dan tangan namja itu sekilas.

"Aku harus ujian, Hun."

"Don't you miss me, Honey?"

"Aku sedang sibuk Sehun. Aku harus masuk ke kelas. Bye!"

Sehun baru saja membuka mulutnya untuk berbicara, sebelum Luhan kembali menyela dan melenggang pergi setelah itu. "Ah ya, namaku Xi Luhan, bukan Honey."

Sehun berhasil dibuat bengong oleh tingkah aneh kekasihnya. Ada apa lagi? Sehun memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.

"Apalagi sekarang?", gumamnya berlalu menuju kelasnya sendiri. Ia pikir Luhannya akan kembali dan dirinya bisa menebus kerinduannya karena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Sehun berjalan lurus, mengabaikan sapaan-sapaan dari fangirls-nya yang tidak pernah lelah untuk meneriakkan namanya.

"Terima kasih sudah mengantarku, Hyung."

Sehun baru saja keluar dari sebuah mobil hitam dan sedikit menunduk demi berbicara dengan Manager Hyung-nya. Sehun tampak lelah dengan kemeja yang sudah kusut, mata berkantung, dan rambut acak-acakan. Jangan salahkan penampilannya saat ini karena ia harus bekerja sepulang dari kuliah tadi siang hingga menjelang pagi seperti sekarang.

"Eo! Sampaikan salamku pada Luhan. Sepertinya moodnya tidak baik hari ini." Manager Sehun yang bernama Kim Joonmyeon itu terkekeh mengingat ia berpapasan dengan Luhan saat menjemput Sehun tadi siang. Luhan yang kala itu terlihat murung dan tidak menyapa Joonmyeon seceria biasanya.

"Baiklah."

"Oh ya, sampaikan juga maafku karena mengusulkan nama HONEY untuk nama fans-mu. Aku takut Luhan akan marah mengetahui nama panggilan sayangnya darimu, malah dipakai untuk ratusan gadis lain di luar sana."

Sehun membalas dengan anggukan, meskipun otaknya mendadak berfikir keras memikirkan ucapan Joonmyeon barusan.

"Aku pergi, Hun. Besok jadwalmu jam setengah delapan. Aku akan menjemputmu dua jam sebelumnya. Bye!"

Setelah mobil Joonmyeon menghilang dari parkiran, Sehun melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai empat, tempat kekasihnya tinggal selama ini.

Seraya menunggu lift terbuka, Sehun memandang jam tangan di pergelangan tangan kirinya sembari menghela nafas kasar. Ia sangat lelah, tetapi entah mengapa pikirannya masih tidak bisa diam. Memikirkan banyak hal yang mampu membuat kepalanya pening. Salah satu hal yang menjadi pusat pemikiran Sehun adalah ucapan Joonmyeon barusan, mengenai Luhan dan panggilan untuk fans-nya yang baru diresmikan.

"Memangnya ada yang salah?", gumam Sehun ditengah kesunyian lorong apartment.

"Ah ya, namaku Xi Luhan, bukan Honey."

Sehun mendadak tegang dan langkahnya tiba-tiba berhenti.

"Aku takut Luhan akan marah mengetahui nama panggilan sayangnya darimu, malah dipakai untuk ratusan gadis lain di luar sana."

"Oh astaga! Jadi gara-gara itu?!" pekikan Sehun menggema di lorong sunyi itu. Bodohnya otak jenius Sehun yang baru berfungsi di pukul dua pagi bukannya mengetahui dari awal mengapa Luhan bertingkah aneh setelah peresmian nama itu. Dengan cepat pria berkulit putih pucat itu menekan kombinasi angka password pintu yang sudah ia hafal diluar kepala dan memasuki apartment terburu-buru.

Melepas sepatu acak-acakan, Sehun lantas membuka kamar Luhan dan menemukan kekasihnya masih tertidur pulas di ranjang mungilnya. Perlahan Sehun mendekati sisi ranjang untuk melihat wajah cantik Luhan dengan lebih jelas. Sehun dapat mendengar dengkuran halus dari bibir mungil yang selalu menjadi candu itu. Dan juga mata yang sedikit berkantung, entah karena kurang tidur atau sesuatu yang lain.

Luhan menggeliat kecil saat tangan Sehun mengusap lembut pipinya. Gadis itu merubah posisinya menjadi menghadap ke sisi yang lain, memunggungi Sehun masih dalam kondisi tidur pulas.

Maka Sehun tersenyum, menyampirkan coat-nya di tepi ranjang dan ikut berbaring di belakang Luhan. Otaknya meminta untuk mengganti baju dan gosok gigi terlebih dahulu, tapi dirinya terlalu lelah dan butuh energy untuk kembali bekerja esok pagi. Energy yang ia dapat dari kekasihnya, dengan cara memeluknya hangat dan menghirup aroma yang menguar dari tubuh mungil itu.

"Mianhae, aku janji akan menjelaskan besok pagi. Jalja…"

Kecupan singkat hadir di kening Luhan bersamaan dengan sebuah lengan memeluh pinggangnya erat. Di depan kamera, mungkin Sehun tampak dingin dan sulit di taklukkan. Tapi kini, dihadapan gadis tomboy dan cuek bernama Xi Luhan, Sehun kembali menjadi lelaki normal. Bersikap romantis dan berusaha menjelaskan apa yang harus ia jelaskan untuk mempertahankan apa yang ia miliki.

"Eungghhhh…"

Terpaan sinar matahari dari gorden putih tipis memaksa jiwa Luhan kembali ke dunia nyata. Tubuh mungilnya merenggang otomatis hingga ia merasakan gerakannya tertahan oleh lengan yang memeluknya erat. Dari belakang. Dan Luhan tidak perlu berpikir lama untuk menyadari siapa pemilik lengan putih pucat itu.

"Sehuna~" Luhan berusaha melepaskan pelukan Sehun dari tubuhnya demi memandang pria itu lebih dekat.

"Sebentar lagi, Honey.",tolak Sehun kembali mengeratkan pelukannya. Menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Luhan yang beraroma khas.

"Kau pulang jam berapa tadi malam? Kenapa tidak membangunkanku? Aku bisa membuatkanmu cokelat panas atau-"

"Hmm aku tidak butuh itu my Honey."

"Tapi kau perlu –eh"

Sehun mengangkat wajahnya dan mengecup pipi Luhan sekilas. "Maaf. Nama itu adalah usulan Joonmyeon Hyung. Aku tidak tahu kau akan marah hanya gara-gara nama panggilanku untukmu harus dibagi untuk gadis-gadis lain. Maafkan aku."

Luhan mengerjapkan matanya berulang kali. Titik-titik merah menghiasi pipinya yang masih terlihat sembab gara-gara bangun tidur. "A-aku tidak marah, Sehun. Aku hanya…entahlah. Mungkin aku terlalu sensitive. Kau tidak perlu mempermasalahkannya."

"Tidak, itu salahku. Harusnya aku menolak saja kemarin."

"Aniyo!",pekik Luhan seraya bangkit dari tidurnya. "Itu sudah terlanjur. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Itu hanya panggilan bukan? Kau masih bisa memanggilku Luhan,kan?"

Sehun cemberut. Bangun dari posisi berbaring dan menghadap Luhan. "Aniyo! Kalau begitu apa bedanya aku dengan teman-temanmu? Aku harus memiliki panggilan khusus untukmu."

"Itu tidak penting."

"Tentu saja penting!"

"Tapi itu hanya nama Oh Sehun. Astaga!"

"Bagaimana kalau Bunny? Terdengar lucu kan?"

"Aku tidak suka kelinci."

"Pumpkins?"

"No!"

"Sweetie?"

"Hell no!"

"Chagiyaa?"

"Kuno sekali!"

"Oke oke! Ini adalah pilihan terakhir dan kau tidak boleh menolak sayangku!"

"Apa? Jangan aneh-aneh atau-"

"OH Luhan, itu adalah namamu sekarang. Get it, Nyonya Oh?"

"Ya! OH SEHUN!"

END OF THIS PART