[COOKIES]

Mentari baru saja kembali ke peraduannya. Semilir angin gugur menutup hari yang tidak terlalu cerah sembari menerbangkan dedaunan kering berwarna oranye. Langkah gemerisik daun terinjak menjadi melodi di halaman luas universitas, berasal dari sepatu kets seorang gadis berkemeja kuning bernama Xi Luhan. Menenteng tas punggung, memeluk dua buah buku tebal dengan tangan kiri, serta menempelkan ponsel pintar di telinga kanan. Terlihat sangat merepotkan terutama untuk gadis mungil seukuran Xi Luhan. Ia tampak kacau dengan kemeja lusuh dari tadi pagi dan rambut berantakan tertiup angin. Belum lagi ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat, tak urung menimbulkan pertanyaan bagi beberapa mahasiswa yang kebetulan berpapasan dengannya. Well, Luhan tidak perlu sekacau itu untuk ukuran gadis semester tiga yang masih belum dipusingkan dengan tugas akhir.

"Sialan!", umpatnya di tengah usahanya menelpon seseorang yang sayangnya harus suara wanita yang ia dengar –suara operator-. Kendati demikian, untuk kesekian kalinya Luhan menghubungi nomor yang sama dan kembali menggerutu tatkala ia tidak bisa mendengar suara yang ia inginkan. "Sehun bodoh! Kau sedang ngapain? Sok sibuk!", umpatnya lagi dan sedetik kemudian ia menyadari bahwa Sehun tidak 'sok sibuk', melainkan namja itu memang sedang sibuk dengan pekerjaannya di Paris. Membuat pria itu tidak leluasa melakukan atau menerima panggilan di tengah jadwal padatnya.

Entah harus senang atau sedih, Luhan mendapat kabar dari Sehun bahwa kekasihnya itu mendapat pekerjaan di negeri fashion –Paris- untuk memperagakan busana musim dingin disana. Bukan jenis pekerjaan yang menyita banyak waktu memang, namun waktu dua minggu bagi sepasang kekasih yang baru resmi dua bulan, bukanlah menjadi perkara mudah. Awalnya Luhan sempat tidak setuju dengan tawaran itu, hanya saja setelah ia berfikir semalaman dengan menilik perjalanan karir Sehun sebagai model, tentu saja ia tidak kuasa menolak. Meskipun perasaan sedih sedikit merambatinya, tapi Luhan tetap pada pendiriannya. Sehun adalah prioritasnya. Dan semua demi keinginan Sehun.

Dan hari ini berjalan tujuh hari semenjak Sehun terbang ke Paris dan Luhan masih bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Makan, tidur, kuliah, mengerjakan tugas, dan aktivitas lain. Toh selama di Korea-pun Sehun sering meninggalkannya.

"Ughh!" Di percobaan panggilan ke enam belas, Luhan menyerah. Ia memasukkan ponsel pintarnya di saku coat panjangnya setelah mengangkat sedikit kaki kirinya untuk menyangga buku tebal yang ia peluk. Menyusahkan, tapi mau bagaimana lagi? Parkiran masih cukup jauh dan tidak ada Sehun yang membawakan semua bukunya.

Ups! Sehun lagi!

Luhan menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan Sehun dari fikirannya. Ini bukan saatnya ia memikirkan Sehun di tengah halaman universitas yang sunyi dan sepi. Menyadari hari yang semakin gelap dan suhu udara yang jauh dibawah angka normal, Luhan bergegas menuju mobilnya di parkiran untuk segera pulang. Mungkin berendam air hangat ditemani lilin aromateraphy bisa mengobati rasa lelahnya.

Luhan meletakkan setoples cookies sebagai teman menonton TV di atas meja dan sekilas melirik jam dinding yang memperlihatkan pukul tujuh malam. Tangannya sibuk mengeringkan rambut cokelat sebahunya setelah berhasil merealisasikan keinginannya untuk berendam di air hangat. Rasanya sungguh menyegarkan untuk tubuh yang tidak bergerak selama berjam-jam di atas bangku kuliah.

Sebelum tangannya memencet tombol on pada TV, ia lebih dulu meraih ponselnya yang tiba-tiba berdering keras. Tidak perlu waktu lama bagi Luhan untuk menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya di telinga kanan.

'Bonjour madame Oh!'

Luhan terkikik geli mendengarkan suara bass di seberang sana tengah mencoba berbahasa asing. "Apa aku perlu bicara dalam Chinese?"

'Yak! Jangan coba-coba!'

Luhan tertawa keras saat mendengar teriakan Sehun dan ia lantas teringat sesuatu yang konyol di masa lalu.

'I miss you, Honey.'

Luhan memutar bola matanya, bentuk protes karena Sehun kembali memberinya panggilan itu. Setelah kejadian lalu soal 'panggilan sayang' itu, Luhan tidak mempermasalahkan panggilan Sehun untuknya lagi. Karena setelah dipikir-pikir, itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan hingga kepala pening.

"Me too." Luhan memainkan rambut basahnya. "Kau tidak menjawab panggilanku, Oh!"

'Sorry, Honey. Joonmyeon-hyung membawa ponselku dan dia sendiri pergi tanpa mengabariku. Dia baru memberitahu kau menelpon beberapa menit sebelum ini.'

Luhan mengangguk-angguk mengerti. Tangan kirinya bersusah payah memutar tutup cookies seraya menjepit toples itu diantara kedua pahanya. Lalu tersenyum lega setelah berhasil menggigit sebuah cookies yang renyah menimbulkan suara.

Sehun yang mendengar kunyahan Luhan dari seberang telepon lantas berbicara,'Cookies?'

"Hm!"

'Jangan terlalu banyak makan cookies, Sayang. Gigimu akan berlubang nantinya.'

"Ya Tuhan, aku baru makan satu gigit Sehun. Ugh!"

'Satu gigit dan akan habis satu toples kemudian. Awas saja kalau gigi cantikmu itu berlubang, aku bersumpah akan membuang semua cookies-mu itu!'

"Silahkan saja," Luhan menantang. "Aku bisa membeli satu truk cookies selama aku mau."

'Dan akan kupastikan untuk menggulingkan truk itu di sungai Han.'

"Kau mengerikan, Tuan Oh."

'Dan kau keras kepala, Nyonya Oh!'

"Sehun!"

Sehun tergelak di seberang sana setelah mendengar umpatan Luhan. Jarak yang cukup jauh tidak membuat Sehun berhenti menggoda kekasihnya, justru kini dengan menggoda Luhan –dan mendengar pekikan tidak terima setelahnya- adalah salah satu sumber energy Sehun setelah terkuras untuk pekerjaannya.

'Sudah makan?'

"Belum. Tapi aku akan baik-baik saja selama masih ada cookies-ku."

'Ya! Nona Xi, kau harus tetap makan! Apa aku harus mengorder makanan untukmu dari sini, hm?'

"Coba saja kalau kau tidak mau disangka orang gila."

'Serius! Siapa yang akan merawatmu kalau sakit? Demi Tuhan, kau harus menjaga pola makanmu sayang.',ujar Sehun gemas menghadapi kenakalan kekasihnya. Gadis itu terlalu keras kepala, kadang Sehun tidak bisa memahami isi kepala Luhan yang sekeras batu itu.

"Arasseo." Mengalah, Luhan menutup toples cookiesnya. Ia beranjak menuju dapur masih dengan ponsel yang menempel di telinga –untuk mendengar malas omelan Sehun tentang makan- dan membuka lemari pendingin disana. Mencari-cari makanan yang kira-kira bisa perutnya cerna sehingga tidak kelaparan di tengah malam nanti.

Mata rusanya berbinar saat menemukan satu cup ramen yang masih tersegel, "Bagaimana kalau ramen? Aku sudah lama tidak memakannya!"

"Tidak ada sayur?"

Luhan melongok ke dalam kulkas kembali. Mencari-cari adanya sayuran tetapi nihil. "Tidak."

"Telur?"

"Ugh aku belum sempat ke supermarket."

"Kimchi?"

"Dihabiskan Tiffany kemarin malam."

Ya, Tiffany dan Yoona kompak menggrebek apartment Luhan tadi malam. Setibanya di apartment Luhan –yang sempat dikonfirmasi bahwa pemiliknya ada disana- Tiffany dan Yoona lekas mengubek-ubek segala sesuatu yang bisa mereka jangkau, termasuk kulkas dua pintu yang berisikan makanan cukup banyak untuk Luhan seorang. Kedua teman gilanya itu mendadak tuli dengan omelan serta gerutuan Luhan seperti Dasar tamu tidak diundang atau Dasar gadis popular berperut karet setelah Luhan melihat snack, soda, buah, telur rebus, dan berbagai pengisi perut yang lain tandas dalam waktu satu seperempat jam. Bahkan kimchi lobak favorit Luhan berhasil di cerna perut Tiffany dan Yoona tanpa perasaan bersalah –sedikitpun-. Beruntung Luhan sempat menyembunyikan green tea ice cream –makanan favoritnya yang lain- dari mereka.

Eh? Green tea ice cream?

"Hmm, Es krim Green tea-ku masih ada." Mata Luhan berbinar melihat cup es krim dengan ukuran tidak kecil. Meskipun cukup banyak namun nyatanya Luhan tidak sudi membaginya kepada siapapun.

"Es krim?" Terdengar decakan dari bibir Sehun. "Astaga! Makanan manis lagi? Baiklah, baiklah. Kau boleh makan ramen instant, tapi untuk kali ini saja!"

"Ouh Yehett!", sorak Luhan senang. Memang sulit mendapat izin pada seseorang yang telah diajari pola hidup sehat sejak kecil baik di lingkungan keluarga ataupun keharusannya di dunia modeling. Berbohongpun Luhan rasa percuma jika setiap saat Sehun menelpon ia selalu menanyakan Kau sudah makan? Makan apa?. Dan Luhan tidak memiliki keberanian untuk tidak jujur.

"Tapi jangan makan es krim malam-malam seperti ini. Lagipula kau sudah makan banyak cookies. Aku tidak mau badanmu membengkak dan gigimu sakit. Arasseo?"

Luhan memutar bola matanya malas seraya mendengus. "Arasseo!"

"Ugh gadis pintar! Oh, mian Joonmyeon hyung memanggilku. Nanti aku telfon lagi, huh?"

Luhan baru sadar zona waktu mereka cukup jauh, jadi kemungkinan besar Sehun kembali melanjutkan pekerjaannya disana entah apa itu. Luhan ingin bertanya namun Sehun lebih dulu menyela, "Aku tutup telfonnya. Ingat, jangan lupa makan, bawa syalmu kemanapun kau pergi, istirahat yang cukup, dan-"

"Sehun!"

"Ya?"

"Kau juga. Jangan hanya menceramahiku."

Sehun masih sempat tertawa. "Arasseo. Dan yang paling penting, jangan melirik pria manapun selama aku tidak bisa mengawasimu."

"Kalau itu aku tidak berjanji.", kekeh Luhan disambut pekikan oleh Sehun.

"Jangan coba-coba!"

"Hahahaha! Oke, oke. Cepat tutup telfonnya dan hampiri Joonmyeon Oppa sebelum taringnya keluar. Haha!"

"Okay. Aku tutup. Bye!"

Sambungan terputus. Luhan menatap layar ponselnya beberapa saat. Berhubungan telfon dengan Sehun selama beberapa menit nampaknya tidak cukup bagi Luhan. Buka hanya untuk mendengar suara khas Sehun yang dirindukannya, tetapi Luhan juga ingin bertanya tentang aktivitas Sehun selama di sana. Apa saja yang pria itu lakukan, apakah melelahkan, bagaimana kondisi kesehatannya, berapa lama ia tidur, atau pertanyaan lainnya. Tapi nyatanya, Sehun tidak pernah memberi kesempatan Luhan untuk bertanya, dan justru Luhan-lah yang mendapat pertanyaan serupa di tambah ceramah panjang Sehun yang –terkadang- membosankan.

Luhan tentu senang karena Sehun memperhatikannya. Tapi ada kalanya ia sedikit kesal juga. Ia juga ingin memperhatikan Sehun terlepas dari kecuekannya yang sudah menjadi khas dari seorang Xi Luhan. Setidaknya Luhan ingin memberikan perhatian kepada kekasihnya, bukan begitu?

Krrryuuukkk…

Luhan tersadar dan sedikit terkejut mendengar suara aneh dari perutnya. Tanpa sadar ia mengelus perutnya yang entah kenapa tiba-tiba lapar. Menghela nafas sejenak, Luhan memulai kegiatannya untuk memasak ramen instan yang sedari tadi ada di genggamannya.

Sebelum itu Luhan sempat terdiam menatap kulkasnya. Di otaknya tiba-tiba terlintas sesuatu yang mampu membuat liurnya nyaris menetes.

"Es krim satu cup kecil mungkin tidak akan berpengaruh. Mian, Sehun-a~"

Deringan telepon dari ponsel canggih buatan Korea itu masih saja berdering keras seolah melarang si empunya untuk mengabaikannya. Sudah hampir setengah jam ponsel itu tidak berhenti berkedip dan Luhan sama sekali tidak mengangkatnya. Dari Sehun, Luhan sempat melihat nama itu di layar ponselnya sebelum ia kembali meringkuk pada ranjangnya.

"Sehun menelpon. Tidak kau angkat?",tanya Yoona yang baru saja datang bersama semangkuk bubur di tangannya. Sedangkan Tiffany tidak disana karena saudaranya dari Amerika mengunjungi rumahnya.

Masih meringkuk, Luhan menggeleng. "Suaraku pasti aneh. Aku tidak mau Sehun menjadi khawatir.", jawab Luhan menunjukkan suara parau seperti orang menangis. Sebenarnya tidak, hanya saja pipinya yang membengkak tidak wajar di kedua sisi wajahnya membuat Luhan tidak bisa bicara dengan normal.

"Kau tidak mengangkatnya justru membuat Sehun tambah khawatir." Yoona meletakkan nampan berisi bubur di meja nakas, lalu mengambil ponsel Luhan untuk di bawa ke hadapan gadis itu.

"Luhan…"

"Tidak mau! Bagaimana kalau –arrghh!"

"Gwaenchana?", sergah Yoona khawatir. Kadang Yoona jengkel tetapi ia juga khawatir dengan kondisi Luhan saat ini. Bahkan gadis itu tidak kuliah hari ini.

"Bagaimana kalau Sehun menyadari ada yang aneh?"

"Mudah saja. Kau hanya perlu jujur apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu."

"Kalau Sehun marah?"

"Itu konsekuensi -mu Luhan. Siapa suruh memakan es krim yang manis di tengah malam pula!"

"Tapi…"

Yoona kehilangan kesabaran. Dengan lugas ia menggeser layar ponsel Luhan hingga tersambung dengan nomor yang sedari tadi tidak lelah menelpon Luhan. "Hallo?"

"Yoona!", pekik Luhan seraya melotot garang pada Yoona dan tentunya tidak digubris oleh si gadis bintang iklan itu.

"Luhan, kau disana? Kenapa berteriak?"

Yoona memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. Luhan meraihnya ragu, namun tatapan tajam Yoona yang seolah berkata jangan dimatikan dan cepat katakan! Setelah itu Yoona keluar dari kamar Luhan untuk memberi privasi kepada Luhan dan kekasihnya, Sehun.

"Ha-halo?"

"Luhan? Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak dan kenapa suaramu aneh seperti itu?"

Celaka! Sehun bahkan menyadari keanehan suara Luhan di kata pertama gadis itu.

"Luhan? Ya! Ada apa sayang? Jangan membuatku khawatir."

"Se-sehun, aku…"

"Ya?"

"Mian, aku tidak bisa bicara. Aku…"

"Kenapa tidak? Cepat katakan."

"I-itu, gigiku sakit sekali dan- dan sekarang membengkak."

"APA?!"

Luhan harus menjauhkan telinganya sebentar agar tidak tuli setelah mendengar pekikan Sehun di seberang sana. Oh, Luhan harus cepat-cepat mencari solusi!

"T-tapi jangan khawatir Sehun. Aku sudah minum obat dan yah… obatnya bereaksi meskipun pipiku tetap membengkak dan gigiku sedikit nyeri. Hanya sedikit, sungguh! Dan aku tidak merasakan sakit yang lain, kok! Ah, sebenarnya badanku sedikit hangat. Mungkin itu karena sakit gigiku, ehm… aduh, bagaimana ini? Aku bingung menjelaskannya. Tapi intinya-"

"Luhan." Sehun menghentikan acara mari-menjelaskan-apa-yang-terjadi oleh Luhan yang sangat belepotan. Terlihat sekali Luhan ketakutan atau entah apa itu.

Mendengar kata Sehun yang lebih mirip geraman itu nyaris membuat Luhan kehilangan nafasnya.

"Luhan?"

"I-iya Sehun? A-aku masih disini.", cicit Luhan.

"Menurutmu apa yang membuatku berbicara hingga berbusa-busa waktu itu? Kau tidak mendengarku ternyata. Tidak apa-apa, mungkin aku harus mencari orang yang tepat yang bisa mendengar ucapanku dengan baik."

"Se-sehun, aku… aku mendengarmu dan aku-"

"Katakan itu pada seseorang yang mengabaikan ocehanku dan menganggap ocehanku tidak berguna."

KLIK!

Terputus. Telpon yang hanya berjalan dalam hitungan detik itu terputus tanpa ada kalimat penutup.

Sehun marah. Ya, Luhan sangat menyadari itu. Sehun belum pernah semarah ini sebelumnya, dan saat ini Luhan benar-benar dibuat menyesal.

Seharusnya ia mendengarkan Sehun. Bukan malah memakan es krim green tea dan setoples cookies untuk menjadi teman menonton film hingga tengah malam.

Seharusnya ia mendengarkan Sehun. Sehingga giginya tidak akan berlubang –menurut dokter gigi yang memeriksa Luhan tadi pagi- dan tubuhnya tidak akan meriang seperti sekarang.

Luhan ingin menangis, maka Luhan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut untuk meredam tangisannya. Itu terjadi sebelum seseorang mengguncang bahunya yang bergetar.

"Makanlah dulu. Aku harus berangkat kuliah dan memberikan izinmu kepada Ahn saem."

Luhan masih enggan membuka selimutnya. Ia tidak memiliki nafsu makan sedikitpun, meskipun Yoona sudah membuatkan bubur yang bisa Luhan makan tanpa menimbulkan rasa sakit pada giginya.

"Berangkatlah, Yoon. Akan aku makan nanti." Suara sumbang Luhan teredam di dalam selimut.

"Lu-"

"Berangkatlah, Yoon. Aku janji akan makan buburmu. Tapi biarkan aku tidur sebentar, oke?", ucap Luhan keluar dari persembunyiannya sekilas, untuk meyakinkan Yoona.

Yoona menghela nafas berat. Menghadapi Luhan yang normal saja sangat sulit, apalagi kini si Luhan keras kepala itu sedang sakit dan sepertinya sedang ada masalah dengan kekasihnya. Yoona sempat melihat wajah Luhan memerah dan tidak perlu bertanya ia yakin Luhan merasa menyesal pada kekasihnya.

"Arasseo, aku pergi dulu. Makanlah, kau sudah berjanji padaku."

Yoona meraih tasnya dan melirik jam tangannya sekilas sebelum berlalu.

Luhan berjalan sempoyongan ke arah dapur layaknya orang mabuk. Perutnya yang berteriak minta diisi membuatnya harus bangkit dari tempat tidurnya setelah satu jam bergelung di dalam selimut. Membuka pintu kulkas, Luhan tidak menemukan makanan yang bisa langsung ia makan kecuali bubur di dalam mangkuk dan ditutup dengan plastik wrap. Yoona yang menyiapkannya.

Luhan mengambil makanan itu dan meletakkannya pada microwave untuk dihangatkan sebentar. Sembari menunggu, ia mengambil segelas air dan meminumnya pelan untuk menghindari rasa ngilu yang menyerang giginya. Luhan kemudian membaringkan kepalanya di meja makan, menunggu buburnya yang masih berputar di mesin microwave sedangkan perutnya tidak bisa di ajak menunggu lebih lama.

Luhan merasakan aroma bubur menusuk hidungnya lantas membuat perutnya bereaksi akibat rasa lapar yang terus mengganggu. Mengangkat wajahnya, Luhan merasakan pegal di area lehernya. Oh ketiduran di atas meja dengan posisi duduk memang tidak nyaman sedikitpun.

Aroma bubur begitu terasa hingga membuat Luhan mengernyit heran. Bukankah buburnya masih di microwave? Walaupun aromanya wangi tetap saja tidak akan tercium sejelas ini.

"Sudah bangun, Tuan Putri?"

Luhan nyaris terjengkang ke belakang saat suara berat langsung menyentuh indera pendengarannya. Matanya melotot maksimal dan perlahan wajahnya menghadap ke samping, ke asal suara.

"Sehun?", ucap Luhan susah payah. Selain karena memang susah berbicara karena kendala gigi, tatapan tajam Sehun juga berhasil membuat Luhan mengerut takut. Terkejut, jangan di tanyakan lagi. Perasaan Luhan baru berbicara dengan namja itu satu jam yang lalu, tidak mungkin perjalanan Paris- Seoul hanya memakan waktu satu jam bukan?

"Ba-bagaimana k-kau…"

"Makanlah. Buburmu akan dingin nanti.",ujar Sehun dingin. Sedingin tatapannya yang enggan terlepas dari manic ketakutan Luhan meskipun namja itu menyodorkan mangkuk beserta sendoknya ke arah Luhan.

"S-sehun, aku-"

"Makan. Aku akan ganti baju dulu. Aku kembali kemari dan makananmu sudah harus bersih. Mengerti?"

Tanpa menunggu jawaban atau minimal anggukan kepala Luhan, Sehun beranjak pergi seraya membawa blazer kremnya di tangan kirinya.

Tidak perlu bertanya, Luhan tahu Sehun sedang marah. Marah karena apa, Luhan tidak tahu pasti. Yang jelas, Sehun marah karenanya. Karena Luhan.

"Sehun…", gumam Luhan seraya mulai menyuap sesendok bubur hingga suapan ke empat Luhan menjerit kesakitan. "Arghh…Mama…"

Sendok yang masih berisi bubur terjatuh di atas meja, sementara Luhan menangkup rahangnya dengan tangan kirinya. Luhan tidak bisa menahan rasa ngilu yang terasa saat sendoknya tidak sengaja menyentuh giginya yang baru di obati.

Luhan masih mendesis seraya memejamkan mata saat tiba-tiba sebuah telapak tangan menuntun kepalanya untuk bersandar ke tempat yang menurut Luhan sangat nyaman. Tempat yang membuat Luhan mampu mendengarkan debar jantung Sehun dengan jelas.

"Apakah sangat sakit?" Akhirnya setelah berusaha bersikap acuh dengan menampilkan wajah datar dan tatapan tajamnya, Sehun kembali luluh. Nyatanya Sehun tidak bisa mengacuhkan gadis itu –sebagai bukti kemarahannya-, melihat Luhan meringis sakit mampu membuat Sehun ikut meringis. Meskipun itu hanya sakit akibat gigi berlubang.

Luhan menjawab dengan lesakkan kepala di dada Sehun. Menyadari berpelukan di meja makan bukanlah opsi yang tepat, Sehun berinisiatif mengajak Luhan ke sofa di depan TV. Berusaha menjauhkan kepala Luhan dari kepalanya, Luhan justru semakin melesakkan kepalanya dan kedua tangannya menempel erat pada pinggang lelaki itu.

"Ayolah,Lu. Disini tidak nyaman."

"Sehun…"

Walaupun suaranya teredam, namun Sehun mampu mendengar Luhan yang sedikit bergetar. "Hm?"

"Maafkan aku. Jangan marah padaku, kumohon."

Sehun tersenyum menyadari Luhan yang benar-benar bersalah. Sebenarnya Sehun-pun tidak semarah itu hingga membuat Luhan nyaris menangis hanya agar dirinya tidak marah. Sehun hanya sedikit kesal dan gemas karena Luhan –dan batu dikepalanya- tidak mengiyakan perkataannya kemarin. Lagipula semarah apapun, Sehun juga tidak tega melihat Luhan yang menderita.

"Nanti, setelah kita pindah di sofa. Ayo."

Luhan kembali menggeleng. "Luhaaan."

"Gendong aku!"

"Ha?"

"Gendong aku, Huun!"

Luhan merengek dan Sehun hanya melongo dibuatnya. Serius! Ini pertama kalinya Luhan bersikap sangat manja kepadanya. Biasanya gadis itu akan berjalan tegak sendiri tanpa meminta bantuan dalam hal apapun. Terkadang Sehun sampai heran, apakah ada yang salah saat Mama Luhan melahirkan putrinya hingga putrinya sangat cuek dan tidak memiliki urat manja seperti gadis seumurannya.

Lalu apa Luhan harus sakit dahulu agar Sehun bisa melihat Luhan bermanja kepadanya?

Tentu saja tidak! Mengetahui Luhan sakit adalah pilihan terakhir Sehun.

"Sehun? Ya, kau memang sangat marah kepadaku. Maaf, aku bisa jalan sen-"

Sehun menghentikan ucapan Luhan dengan menggendong Luhan layaknya anak koala. Jika tadi dada Sehun, sekarang leher Sehun yang menjadi tempat berlabuh kepala Luhan hingga membuat Sehun sedikit kegelian oleh untaian rambut yang mengenai wajahnya.

"Sehun, maafkan aku."

Entah sudah keberapa kali Luhan menggumamkan kata yang sama saat perjalanan menuju sofa di ruang tengah. Sehun, maafkan aku. Sehun, maafkan aku. Sehun sampai terkekeh mendengarnya.

Setelah mendudukan Luhan di sofa dengan nyaman, Sehun meninggalkan Luhan dan langsung ditahan oleh gadis itu. "Mau kemana?"

"Mau pulang. Kau tidak membutuhkanku lagi kan?"

"Hun…" Mata rusa yang menyendu. Sehun tertawa dalam hati melihat perubahan ekspresi itu. Tapi sekali lagi, Sehun tidak tega jika harus melihat Luhan menjatuhkan air mata hanya karena jawaban bercandanya.

"Tenanglah. Aku hanya mengambil obatmu. Diminum setelah makan,kan?"

Sehun sempat tersenyum tipis sebelum berlalu menuju kamar untuk mengambil obat dan mampir ke dapur mengambil segelas air putih yang ditinggal Luhan bersama bubur buatan Yoona yang masih banyak. Sehun membiarkan, setidaknya Luhan sudah mengisi perutnya dengan bubur itu dalam beberapa suapan.

Sehun datang dan menyerahkan beberapa bulatan pipih pahit itu dan air putih ke tangan Luhan. Luhan langsung menelan obat itu dan langsung terdorong oleh segelas air putih di genggaman tangan kirinya. Sehun duduk disamping Luhan, meraih gelas Luhan dan meletakkannya di atas meja.

"Kemarilah." Luhan beringsut melingkarkan tangannya di sekitar perut Sehun dan menyandarkan kepalanya ke dada lelaki itu. Rasanya sangat nyaman, dan Luhan bisa saja terlelap saking nyamannya jika Luhan tidak merasa bersalah pada lelaki yang dipeluknya. Belum lagi rasa penasarannya tentang 'bagaimana Sehun sudah disini sedangkan tadi malam masih di Paris' masih belum ia tanyakan langsung.

Sementara pikiran Luhan sedang terbang entah kemana, Sehun membawa jari-jarinya menuju pipi bulat Luhan yang ia sadari semakin membulat akibat sakit giginya. Mengelus perlahan hingga membuat Luhan tersentak.

"Sehun-"

"Apakah sangat sakit?" Sehun mengulang pertanyaan yang sama seperti beberapa saat lalu.

Luhan menggeleng dalam kungkungan tangan kanan Sehun. "Ini tidak terlalu sakit. Tapi, aku lebih sakit melihatmu marah kepadaku."

Luhan menunduk dan Sehun mengeratkan pelukannya. "Apa ada orang marah yang memeluk orang yang membuatnya marah?"

Luhan menggeleng, tidak menyadari maksud pertanyaan Sehun.

"Apa ada orang marah yang memberi perhatian kepada orang yang membuatnya marah?"

Luhan mulai bingung, namun ia tetap menjawab pertanyaan Sehun dengan gelengannya.

"Lalu apa ada orang marah yang mencium seseorang yang membuatnya marah?"

Luhan menggeleng lagi.

"Benarkah?"

"Hmm. Menurutku seperti it-"

CUP!

Hanya satu kecupan dan Luhan sukses membeku. Sehun sengaja hanya memberi kecupan karena takut akan kelepasan melumat bibir ceri itu disaat si pemilik sedang tidak dalam kondisi normal. Biarlah, yang penting Luhan tau apa yang dimaksud dalam setiap pertanyaannya.

"Sehun, kau-"

"Aku tidak marah Luhan, astaga! Aku hanya sedikit kesal karena kau mengabaikan titahku kemarin malam."

Luhan kembali menunduk. "Maaf-"

"Berhenti minta maaf atau aku akan benar-benar marah kepadamu."

Luhan terdiam seketika membuat Sehun kembali memberikan satu kecupan di bibir ceri dan bonus satu kecupan pada pipi yang membengkak.

"Cepat sembuh, Sayang. Tidak adanya gunanya aku marah karena ini sudah terjadi. Yang jelas, jangan mengulangi lagi! Aku kan tidak melarangmu memakan cookies itu selama tidak berlebihan. Dan memakan ice cream akan memperparah kondisi gigimu. Oh, aku sungguh tidak bisa membayangkan gigi cantikmu berlubang gara-gara makanan manis itu!"

"Aku tidak akan mengulanginya, Sehun. Aku janji!", seru Luhan namun masih dengan suara tertahan.

"Ahh, gadis pintar!" Sehun merengkuh Luhan kembali ke pelukannya, dan langsung disambut oleh ranting tangan melingkar kembali di perutnya.

"Tapi Sehun, aku masih penasaran."

"Hm?"

"Bukankah kemarin malam kau masih di Paris, lalu siang ini sudah di Seoul. Kau tidak habis berteleportasi,kan?"

Sehun tersedak oleh air putih sisa Luhan meminum obatnya tadi. Gadisnya itu sungguh sulit di tebak. Jadi melamun dari tadi itu karena memikirkan keberadaan Sehun yang tiba-tiba itu?

"Sebenarnya aku sudah di Seoul dari tadi pagi. Rencananya sih, membuat kejutan untukmu di kampus. Tapi ternyata kau tidak masuk dan aku terpaksa menelponmu. Dan ternyata kau sedang disini, dengan pipi menggembung sebelah seperti itu." Sempat mencuri satu kecupan di pipi yang sukses merona, Sehun melanjutkan, "Dan aku tidak bisa berteleportasi, Nona Xi! Mulai sekarang kau harus berhenti menonton drama-drama fiktif lagi!"

"Apa itu larangan?"

"Anggap saja begitu. Memangnya kau akan menurutiku?"

"Tergantung." Luhan mengambil remote dan menyalakan TV dihadapannya. "Kalau misalnya aktornya jelek aku akan menurutimu."

"Kalau tampan?"

"Maaf saja kalau begitu!"

"Yak! Xi Luhan!"

Luhan menghiraukan rengekan Sehun. Ups! Mode cueknya telah kembali.

_END OF THIS CHAPTER_

Keut! Sebenarnya aku nggak yakin story ini genre-nya apa. Rasanya terlalu fluffy banget. Kkkkk… ini karena aku nggak suka bikin story yang terlalu ribet atau menguras air mata, istilahnya sih yang happy-happy aja. Tapi entahlah, darimana aku bisa menulis genre-nya jadi Hurt/Comfort. Entah besok aku ganti genre atau bikin lanjutannya dengan genre Hurt/Comfort, aku juga nggak tau. Kkkkk… enaknya ganti genre atau nggak ya readers? Kkkkk…

Tapi aku harap reader-deul tetep baca story ini meskipun authornya aja gak jelas ^^v. thank you, jangan lupa review untuk memperbaiki tulisanku agar semakin baik dan baik!