FLASHBACK

SEOUL

Saturday, June 14th 2014 [9.04 AM]

Xi Luhan. Ia hanyalah seorang gadis biasa yang terdampar di Negara tetangga yang memiliki jarak tidak terlalu jauh dari Negara kelahirannya. Bukan tanpa alasan ia meninggalkan Beijing –kota kelahirannya-, ia memiliki segudang prestasi membanggakan sejak SHS hingga ia di terima di salah satu Universitas terbaik di Negeri ginseng ini. Bukannya ia tidak mau melanjutkan pendidikannya di Beijing, keputusan ini ia ambil semata-mata untuk menambah daftar pengalamannya di dunia luar. Pernahkah aku menceritakan sifat Luhan yang keras kepala? Salah satu bukti kekeraskepalaannya adalah ia berhasil meyakinkan ayah dan ibunya untuk berkuliah di Negara asing yang selama hidup baru ia kunjungi sekali sewaktu masih bocah. Pada akhirnya ayah dan ibunya memberikan kebebasan penuh kepada Luhan asalkan gadis itu bisa menjaga dirinya karena bagaimanapun Luhan adalah seorang gadis.

Urusan menjaga diri, Luhan tidak perlu diragukan. Sifatnya terkesan manly dan cuek terhadap lawan jenis, namun ramah dan ceria pada teman-teman gadis seumurannya. Saat bersama lelaki, Luhan tidak akan banyak bicara, lebih memilih menyibukkan diri dengan hal apapun selama tidak membuatnya terjebak dengan para namja yang tertarik kepadanya. Ia tidak akan berbicara jika topic obrolan –menurutnya- tidak penting.

Meskipun demikian, tidak sedikit lelaki yang masih berusaha menarik perhatiannya. Ia memiliki daya tarik sangat kuat yang tidak dimiliki gadis manapun, walaupun ia tidak ahli dalam urusan merawat tubuh dan membubuhkan make-up. Point pentingnya, ia menjadi dirinya sendiri. Luhan adalah Luhan, gadis manly berotak cerdas dan kritis.

Tidak butuh lama bagi Luhan untuk mempelajari bahasa Korea secara penuh. Semenjak kecil Luhan sudah akrab dengan bahasa Korea terlebih tulisan Hangul yang bagi orang baru adalah tidak mudah. Berterimakasihlah pada tetangga di sebelah rumah keluarga Xi yang berasal dari Korea sehingga memudahkan Luhan untuk meminta bantuan dalam berbahasa Korea.

Kegiatan yang rutin Luhan lakukan selama di Korea adalah mengunjungi perpustakaan kota setiap hari sabtu tiba. Ia akan berada disana, di ruangan nyaman ber-AC dan memilih meja di sudut, ditemani dengan pepohonan rindang yang tubuh tinggi di halaman perpustakaan. Dengan kata lain, Luhan bisa melihat keluar saat bosan menghampirinya.

Hari ini adalah hari sabtu. Luhan merapikan pakaiannya sekali lagi sebelum berjalan menelusuri trotoar yang membawanya ke perpustakaan kota. Masih pukul Sembilan pagi, tak heran jika banyak orang-orang yang menghabiskan waktu di taman kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat tujuan Luhan. Keluarga piknik, anak-anak bermain, atau muda-mudi yang sekedar menghirup udara bebas setelah lima hari berkutat dengan bangku kuliah ataupun sekolah.

Sesampainya di perpustakaan, Luhan mengambil tempat favoritnya yaitu di dekat jendela besar. Sudut perpustakaan itu hampir tidak tersentuh oleh pengunjung karena selain terlalu di sudut, suasana sunyi yang ada justru terasa mencekam. Bagi Xi Luhan si gadis cuek luar biasa, tempat ini menjadi tempat favoritnya sejak pertama kali ia datang kemari. Setidaknya Luhan bersyukur karena ia seperti menjadi penghuni satu-satunya di meja itu tanpa harus mendapat berbagai gangguan dari pengunjung lain.

Meletakkan di atas meja, Luhan lantas mengambil sesuatu dari dalam tas mungilnya. Sebuah kotak bekal berisi tuna sandwich buatan tangannya sendiri.

Satu point lagi, ia pintar memasak. Namun akhir-akhir ini ia masih belajar memasak khusus masakan Korea. Ia benar-benar jatuh cinta pada makanan Korea setelah ia tidak bisa menemukan makanan China dengan mudah di sini.

Memberi suapan pertama pada mulutnya, Luhan beruntung perpustakaan ini tidak memberi larangan bagi pengunjung untuk membawa makanan atau minuman asalkan kebersihan tetap di jaga pada setiap sisinya. Dengan begitu Luhan masih bisa memberikan perhatian terhadap perutnya yang seakan protes minta diisi.

Selesai. Luhan meletakkan kotak bekal kembali kedalam tas. Dua potong sandwich berhasil mencapai perutnya. Luhan menyisakan dua potong yang lain untuk ia makan nanti. Setidaknya perutnya sudah terisi setelah tadi malam ia tidak sempat memakan apapun.

Kemudian Luhan beranjak, mencari beberapa buku yang akan menemaninya hingga nanti. Toh sekarang hari sabtu, Luhan bisa seharian penuh di perpustakaan sampai perpustakaan tutup jam lima sore nanti.

Rak yang menjulang tinggi menampilkan buku-buku yang tersusun rapi sesuai dengan jenisnya. Entah kenapa Luhan sedang tidak berminat dengan buku bertema hukum sesuai dengan jurusan yang ia pilih di Universitas. Luhan malah melangkahkan kaki menuju rak bertuliskan karya sastra klasik. Ada satu judul karya sastra yang menjadi incaran Luhan sejak pertama membaca judulnya, terletak di rak kedua dari atas. Dan itu artinya, terlalu tinggi untuk gadis semungil Luhan.

Luhan berusaha meraihnya tanpa berniat menyerah sedikitpun meski ia harus berjinjit diatas sepatu flatshoesnya. Ketika tangannya sudah berhasil menyentuh tepi buku itu, keseimbangan tubuhnya justru hilang membuatnya spontan menarik beberapa buku sebagai pegangannya. Sayang sekali, buku-buku itu tidak bisa menyelamatkannya.

BRUK! BRUK! BRUK!

Dan pantat Luhan sukses menyentuh dinginnya lantai kayu perpustakaan –dengan tidak elitnya. Disambut dengan buku-buku berjatuhan disekelilingnya.

"Awwh! Aduh.", keluhnya, dan dilanjutkan dengan umpatan-umpatan tidak jelas dalam bahasa China. Salah satu kebiasaannya, Luhan akan 'mengingat' bahasa aslinya saat dirinya kesal. Yah, meskipun ia kesal dengan kecerobohan dirinya sendiri.

"Nona, kau oke?"

Seseorang menyadarkan Luhan dari acara mari-mengumpat-untuk-kecerobohan-diriku-sendiri.

"Aku tidak apa-apa. Maaf aku membuat keributan.", ucap Luhan masih dalam bahasa China. Ia sungguh tidak sadar dengan ucapannya bahkan hingga membuat seseorang yang menanyainya mengernyit tidak mengerti.

Selanjutnya seseorang yang ternyata bergender namja itu hanya tersenyum dan tanpa suara memunguti buku-buku tidak bersalah di dekat kakinya.

"Aku bisa membereskan sendiri. Kau tidak perlu repot-repot."

Kernyitan kembali muncul di dahi namja itu. Ia bingung sekaligus tidak mengerti. Mungkin gadis itu benar-benar tidak bisa bahasa Korea. Lalu bagaimana si namja bisa berbicara sementara dirinya tidak bisa berbahasa China? Ouh, ini pertama kalinya ia menyesal tidak mengikuti pelajaran tambahan bahasa China sewaktu SMP dulu.

Sementara itu, Luhan sama sekali tidak perduli dengan wajah kebingungan namja dihadapannya. Ia sibuk membersihkan debu lantai yang melekat di celananya dan mulai memberesi buku-buku yang diberantakannya. Tanpa izin mengambil buku dari tangan namja itu lalu meletakannya kembali ke rak hingga serapi mulanya.

"Terima kasih sudah membantuku." Luhan memberikan ucapan terima kasihnya seraya menunduk singkat. Ia mulai terbiasa dengan budaya Korea ternyata. Dan, kali ini dengan bahasa Korea.

"Kau bisa Korea?"

Luhan mengangguk. Ia tersenyum sekilas sebelum meninggalkan si namja yang menampilkan wajah linglungnya.

"Sial. Memalukan sekali!"

SEOUL

Tuesday, June 17th 2014 [11.40 AM]

"Hai, Hun!"

Oh Sehun memberikan senyuman atas sapaan seorang gadis yang berdiri di barisan antrian. Sehun yang telah mendapatkan Iced Americano-nya lantas menghampiri gadis itu.

"Kau tidak ada jadwal hari ini?"

"Tidak untuk kali ini. Tapi dua jam lagi."

Si gadis bernama Yoona itu tergelak dan mengarahkan tinju kecilnya ke arah namja itu. Yoona sudah sering 'menyiksa' teman satu perjuangannya itu, jadi ia tidak perlu takut jika fansgirl Sehun akan mengamuk sebentar lagi.

"Untunglah, jatah liburku masih tersisa." Yoona menyombongkan diri sekaligus 'memanas-manasi' Sehun yang memang tidak memiliki waktu kosong selama beberapa hari seperti dirinya. Sehun memang mendapatkan job yang semakin menumpuk akhir-akhir ini.

"Bilang saja kau sudah tidak 'laku'."

"Enak saja!" Yoona mengurungkan tinjuan keduanya saat pesanannya sudah selesai dan ia tinggal mengambilnya.

"Kau duduk dimana?", tanya Yoona seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafetaria. Suasana sangat ramai oleh mahasiswa yang menikmati makan siang dan ditambah lagi banyak fansgirl Sehun –dan Yoona sendiri- berkeliaran. Hampir tidak ada kursi kosong selain kursi yang ditempati Yoona sebelum ia memesan minuman tadi.

"Mau bergabung?"

"Dengan teman wanita-mu? Tidak, terima kasih." Tentu saja Sehun menolak halus. Dia adalah seorang namja, dan tidak ada namja yang betah duduk dengan para yeoja yang kebanyakan membicarakan hal tidak penting –menurut namja-. Apalagi Yoona masih tergolong mahasiswi baru, bisa saja teman-temannya akan menjadi fansgirl dadakan Sehun nanti. Dan Sehun tidak berniat duduk bersama fansgirl-nya yang pasti akan sangat berisik.

"Tenang saja. Dia tidak seperti yang kau bayangkan. Ayo!"

Sehun tidak bisa menolak saat Yoona mulai menariknya ke tempat duduk. Gadis yang juga berprofesi sebagai model itu menarik tangan Sehun dengan tangannya yang bebas. Tidak bisa dipercaya, tenaganya mamu menarik Sehun hingga namja itu mau-tidak-mau mengikutinya.

"Kapan lagi kau memiliki teman sebaik diriku?", tanya Yoona sambil mengambil tas tangannya yang semula berada di kursi dan membiarkan Sehun duduk disana.

Sehun memutar bola matanya malas. Yoona memang terlalu percaya diri. Tanpa sengaja Sehun melirik sebelah kirinya, tempat seorang gadis tengah focus dengan Macbook-nya. Gadis itu berada satu meja dengannya, jadi tidak perlu ditanyakan lagi apakah ia teman Yoona apa bukan.

"Oh ya, Hun! Perkenalkan, dia temanku. Namanya Luhan.", ucap Yoona membuat gadis yang sempat dilirik Sehun menoleh. "Dan dia Sehun, Lu."

Gadis bernama Luhan itu hanya memberikan senyum singkat dan mengulurkan tangannya tanda perkenalan. "Luhan."

Sehun menjabatnya dengan senyuman pula. "Sehun."

Sehun tersentak seraya memandang wajah Luhan kembali. Sepertinya ia pernah melihat wajah Luhan beberapa waktu lalu. Tidak, bukan sepertinya, tapi Sehun benar-benar pernah melihatnya. Sekedar informasi, Sehun memiliki kemampuan mengingat yang sangat baik-

"Kau yang berbahasa China itu kan?"

-Nah! Sehun berhasil mengingatnya.

Luhan memberikan tatapan bingung yang seolah bertanya 'apa maksudmu?'. Dirinya memang dari China namun jarang menggunakan bahasa China saat di Korea. Itulah yang membuatnya terkadang disebut sebagai gadis asli Korea, dilihat dari garis wajahnya yang serupa gadis Korea pada umumnya.

"Perpustakaan. Kau menjatuhkan bukumu, dan berbicara dengan bahasa China yang tidak kumengerti."

Luhan membulatkan matanya saat ia berhasil mengingat potongan-potongan kejadian beberapa hari lalu. Oh, jangan salahkan Luhan yang sudah melupakan kejadian yang menurutnya tidak penting. Baginya mengingat materi kuliah lebih penting dibandingkan kejadian bodoh dimana dirinya terjatuh karena kecerobohannya sendiri. Sial! Luhan jadi mengingat kejadian memalukan itu!

"Ah, ya. Aku ingat." Luhan menggangguk mengerti. Selanjutnya, gadis itu kembali fokus dengan Macbook-nya ditemani satu cup Bubble tea yang ia dapat dari Yoona.

Tanpa disadari, tanggapannya membuat Sehun melongo tidak percaya.

Hanya itu? Tidak berniat memekik atau bagaimana? Bukankah seharusnya gadis-gadis biasa akan menjerit setelah menyadari Sehun yang telah menolongnya? Oh oke, mungkin Luhan memang belum tahu soal Sehun yang merupakan model majalah yang cukup terkenal terutama di kampus, tapi apakah gadis itu sama sekali tidak menaruh perhatian pada wajah tampan Oh Sehun? Sedikitpun?

"Sudah ku bilang,kan?" Suara Yoona tiba-tiba menyahut dalam suara rendah, "Dia tidak akan perduli meskipun wajahmu setampan Daniel Radcliffe atau Brad Pitt. Kau bahkan beruntung bisa mendengar kata-kata dari bibir rusa manis ini, iya kan Lu?"

"Kau berlebihan, Yoon.", ujar Luhan acuh tanpa mengalihkan pandangan sedetikpun dari Macbook-nya dan disambut decakan kesal oleh Yoona.

Sehun kembali melongo tidak percaya. Benarkah hal itu? Sungguh, Luhan adalah spesies langka yang tidak tertarik dengan Oh Sehun bahkan dengan mudah melupakan wajah tampan itu. Perbandingan yang sangat kontras jika Sehun membandingkannya dengan para gadis penggilanya. Diberi senyum satu detik, akan disambut pekikan beberapa oktaf.

Well, Sehun tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal bodoh seperti apa ada yang salah dengan wajahku hari ini?. Tentu saja tidak ada. Yang ada hanya hidupnya seorang gadis yang tidak memiliki urat tertarik dengan lawan jenis dan lebih memilih acuh dengan layar bergambar buah apel dan bekas gigitan.

Setelah itu Sehun tampak sibuk dengan ponselnya. Tidak terdengar obrolan lagi di meja yang berisi tiga orang itu, meskipun sekelilingnya sangat ramai karena jam makan siang belum berakhir. Selesai berurusan dengan Manager pribadinya via ponsel, Sehun melirik bergantian pada dua gadis yang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Terlihat sangat sibuk dengan layar laptop menyala, kertas-kertas berserakan di meja, dan cup-cup kosong. Sepertinya memang terlalu banyak tugas untuk mahasiswa baru. Berbeda dengan Sehun yang sudah mencapai semester tiga, ia memiliki waktu luang sedikit lebih banyak akan tetapi harus ia relakan untuk memenuhi job-nya.

"Kurasa aku harus pergi." Sehun menyeruput Iced Americano-nya sekali lagi setelah melirik jarum jam dipergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi Managernya akan menjemput, dan Sehun masih sayang dengan telinganya jika dirinya sampai terlambat dan mendapatkan ocehan-ocehan dari Managernya itu.

"Yeah, selamat bekerja Sehun. Nikmati pekerjaan solo-mu sebelum bekerja denganku lagi nanti.", ucap Yoona dan ditanggapi decakan malas dari Sehun.

"Oke. Aku pergi dulu, Yoon. Dan," Sehun tampak ragu untuk menyapa Luhan yang –astaga- tidak terganggu atau sekedar melirikkan mata cantiknya. "Luhan-ssi."

"Ne."

Satu kata, padat, dan jelas. Seperti yang Sehun duga, gadis itu akan kembali menekuni Macbook-nya. Sehun sampai penasaran, apa sesuatu yang terpampang dilayar itu lebih tampan dari Oh Sehun?

Dan Sehun tidak mengucapkan apa-apa lagi. Entah jengkel atau gemas melihat kecuekan Luhan, Sehun-pun tidak tahu. Yang pasti Sehun hanya merasa asing saat seseorang tidak mengenal dirinya.

Well, Sehun memang terlalu percaya diri.

SEOUL

Wednesday, June 18th 2014 [5.58 AM]

Sehun menghampiri Manager Hyung-nya –Kim Joonmyeon- yang sudah stand by untuk menjemputnya. Pria berumur 34 tahun itu tengah berdiri di depan mobil sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau terlambat dua belas menit, tiga puluh tujuh detik. Seharusnya kita sudah sampai di studio kalau kau datang tepat waktu."

"Kau berlebihan Hyung! Siapa suruh memberitahuku secara mendadak.", sahut Sehun kesal. Pasalnya ia sedang menikmati roti bakar yang masih fresh dari roaster setengah jam yanglalu, kemudian tiba-tiba ia mendapat telpon jika jadwalnya yang kemarin di cancel (gara-gara ada kuliah dadakan nan penting) di ganti menjadi dua jam lagi. Bagaimana Sehun tidak kelabakan mencari baju handuk dan melesat ke kamar mandi serta mempersiapkan diri dalam waktu yang relative singkat.

"Sudahlah. Ayo kita berangkat!"

Sehun menyusul Joonmyeon dengan menempati bangku di samping kemudi. Lalu mobil hitam itu mulai membelah jalanan kota Seoul yang masih lenggang, mengingat sekarang masih pukul enam pagi.

"Hyung, bisakah kau membelikanku kopi terlebih dahulu?", tanya Sehun dan segera mendapat delikan tajam dari Manager Hyung-nya.

"Kau tahu kita sudah terlambat-"

"Belum, Hyung. Berhentilah di supermarket di sana sebentar. Mereka buka 24 jam."

"Sehun-"

"Ayolah, Hyung. Aku janji hanya sebentar. Hanya membeli sebotol kopi instan dan kita tidak akan terlambat.", paksa Sehun disertai suara yang dibuat (sok) imut. Joonmyeon yang sudah terbiasa dengan keinginan si Model dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi hanya bisa mendengus kesal. Sayangnya ia tidak bisa menolak keinginan Sehun di tambah lagi tingkah Sehun yang (sok) imut itu membuatnya mual.

"Ya. Ya. Ya. Aku tunggu di mobil, dan hanya lima menit!", ujar Joonmyeon memperingati. Ia lalu menuju supermarket yang menjadi tujuan Sehun.

"Oke. Lima-menit!"

Sehun membuka pintu mobil dan berlari ke dalam supermarket yang masih sepi itu. Ia lalu memutari rak-rak yang berjejer berbagai minuman dan makanan ringan untuk mencari benda yang diinginkannya. Oh ayolah! Kenapa susah sekali menemukan satu botol kopi instant saja?

"Aku bisa mengantarmu. Aku membawa mobil."

"Tidak. Terima kasih."

"Ayolah. Mumpung kita bertemu disini. Bukankah ini kebetulan yang menguntungkan?"

"…"

Samar-samar Sehun mendengar suara ribut di balik rak. Sehun tidak perduli, yang perlu ia fikirkan sekarang ialah bagaimana cara menemukan botol berjudul kopi instant sebelum waktunya yang berharga habis gara-gara mencari satu barang saja.

"Kalau begitu biarkan aku membawakan barang-barangmu."

"Tidak perlu."

"Jangan menolak! Barang-barang itu terlalu banyak untuk tubuh mungilmu."

"Aku bisa sendiri."

"Luhan-ssi!"

Sehun mendadak berhenti. Nama itu… terdengar tidak asing di telinganya. Sehun masih sibuk berfikir sementara seruan dari tempat yang sama menyadarkan Sehun akan suara itu. Dia pernah mendengarnya.

"Jin Woo-ssi! Berhenti mengikutiku dan aku tidak membutuhkan pertolonganmu. Maaf."

Sehun mengintip dari ujung rak untuk memastikan dugaannya tidak salah. Dan benar, Sehun pernah melihat gadis itu sebelumnya. Oh, Sehun bahkan mengenal gadis itu setelah Yoona memperkenalkannya. Dia Luhan.

"Tidak baik membuat keributan pagi-pagi, di supermarket pula!" Sehun memutuskan untuk mendatangi mereka, dengan tangan menyilang di dada dan menampilkan mata elangnya yang tajam siap menembus apapun yang mengganggunya.

Sementara itu, Luhan diam dengan keterkejutannya yang tersembunyi. Ia menatap Sehun yang juga menatapnya.

"Dan juga tidak baik memaksakan kemauanmu pada seorang gadis.", tambah Sehun yang tertuju untuk namja bernama Jin Woo.

"Kau tidak perlu mencampuri urusanku, Oh Sehun!"

"Ya. Tapi kau menggangguku. Aku tidak suka mendengar suaramu yang seperti sedang mengemis cinta itu. Apa kau kurang kerjaan hingga pagi-pagi sudah mengganggu ketrentaman pelanggan?"

Diam-diam Sehun meraih tangan mungil di sampingnya. Menggenggamnya hingga membuat si pemilik tangan mendongak.

"Luhan-ssi!"

Luhan tersentak. "Ya?"

Tanpa kata-kata Sehun menarik tangan Luhan yang sudah ada di genggamannya tanpa menghiraukan Jin Woo yang langsung pergi dengan tangan terkepal. Sehun menarik Luhan ke tempat awalnya ia berada untuk mencari kopi instant. "Bisakah kau menolongku?"

"Apa?"

"Aku membutuhkan satu botol kopi instant. Tapi aku tidak tahu dimana tempatnya. Bisakah kau mencarikannya untukku?"

Luhan terdiam sesaat sebelum menyanggupi permintaan Sehun. Ia-pun menyusuri barisan botol berbagai merk dan jenis. Kopi instant ya? Luhan tersenyum dan mendapatkan apa yang Sehun inginkan. Ia mengacungkan satu botol kopi yang entah bagaimana bisa ia temukan dengan mudah, sedangkan Sehun harus berputar di tempat yang sama hingga beberapa kali.

"Ini."

Sehun menghentikan aktivitasnya yang pura-pura ikut mencari barangnya, meskipun sebenarnya ia hanya ingin memastikan Jin Woo tidak ada disana untuk mengganggu Luhan lagi. jujur saja Sehun sempat melihat gurat ketakutan dari Luhan dan getaran samar yang Sehun rasakan.

"Darimana kau menemukannya?"

Luhan menunjuk rak bagian bawah, di samping minuman berkarbonasi. Ternyata Sehun hanya melihat bagian atas raknya saja.

"Terima kasih." Sehun tersenyum lebar setelahnya.

"Ya. Aku juga, terima kasih."

Senyum Sehun surut digantikan dengan raut keingintahuan yang tinggi. Ia sebenarnya ingin bertanya, kenapa bisa terjadi kejadian yang seperti tadi? Apa sebenarnya hubungan mereka? Dan Sehun harus merasa puas dengan pertanyaan-pertanyaan di otaknya saat menyadari Luhan bukanlah gadis dengan mulut lebar seperti gadis pada umumnya. Luhan adalah gadis dengan irit bicara, pikir Sehun.

"Aku pergi. Terima kasih sekali lagi." Luhan membungkuk dan mengambil keranjang belanjaannya kembali. Rupanya gadis itu sedang belanja bulanan, dan memilih pagi hari untuk mencegah antrian panjang di kasir.

Kemudian gadis itu tersenyum sekilas. Benar-benar sekilas hingga Sehun nyaris frustasi karena tidak bisa melihat senyuman itu lebih lama. Senyuman manis ditambah dengan binar mata rusa yang cantik. Senyuman yang mampu membuat jantung Sehun bekerja tidak normal.

Terlalu cepat dan membingungkan.

Sehun kembali ke mobil sepuluh menit kemudian. Selanjutnya adalah omelan dari Joonmyeon yang bosan menunggu si Model yang melebihi waktu yang ia janjikan.

"Hyung, kau pernah melihat wanita cantik tidak?", tanya Sehun sedikit nyeleneh dari topik pembicaraan.

"Tentu saja. Teman modelmu kan tidak ada yang jelek."

"Kalau begitu, bagaimana dengan gadis judes tapi sangat cantik saat tersenyum dan matanya sangat indah?"

"Hmm. Tidak. Memangnya ada yang seperti itu?"

"Ya. Tapi Hyung tidak boleh mengenalnya." Joonmyeon mendengus dan nyaris memberikan omelannya lagi sebelum-

"Karena dia terlalu menarik."

-sebelum Joonmyeon menyadari ada yang aneh dari Model ini.